• Tidak ada hasil yang ditemukan

HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1 Aspek Fisik dan Biofisik

4.1.1 Lokasi, Luas, dan Batas Tapak

Secara administratif Pesantren Ar-Raudhatul Hasanah berada di Jalan Setia Budi Simpang Selayang Kecamatan Medan Tuntungan, Kota Madya Medan Provinsi Sumatera Utara. Tapak pesantren dapat dilihat pada (Gambar 5). Luas Tapak Perencanaan (Pesantren Ar-Raudhatul Hasanah) saat ini adalah 7,5 Ha. Tapak perencanaan berbatasan dengan pemukiman masyarakat, sawah dan Jalan Bunga Pancur IX disebelah Utara, Sekolah Siti Hajar dan komplek perumahan Paya Bundung di sebelah Timur, Sekolah Telekomunikasi dan perumahan masyarakat di sebelah Selatan, serta Jalan Setia Budi dan pemukiman masyarakat disebelah Barat.

Perumahan yang terdapat disebelah timur tapak merupakan perumahan para tokoh masyarakat yang ikut berperan dalam proses pembentukan dan pengembangan pesantren Ar-Raudhatul Hasanah. Keberadaan perumahan para tokoh masyarakat hingga saat ini secara garis besar masih dimiliki oleh keturunannya, Dengan adanya lanskap perumahan para tokoh masyarakat ini pesantren masih dapat mempertahankan dan memperkenalkan ideologi pesantren terutama dari aspek sejarahnya.

Sekolah Siti Hajar yang berada disebelah timur tapak juga merupakan lanskap pendidikan Islam yang memberikan pengaruh positif terhadap pengembangan pesantren sebagai suatu lanskap pendidikan yang dapat saling mendukung. Untuk membatasi tapak dengan batas-batas tersebut saat ini pesantren dikelilingi oleh pagar seng yang kondisinya kurang mendapat perhatian dari pihak pengelola lanskap pesantren.

20 4.1.2 Aksesibilitas dan Sirkulasi

Pesantren Ar-Raudhatul Hasanah berada di Kecamatan Medan Tuntungan. Dari pusat kota medan, pesantren ini dapat diakses menggunakan angkutan kota dan memakan waktu kurang lebih satu setengah jam. Untuk memasuki kawasan pesantren, user dapat melalui jalan utama yaitu Jalan Setia Budi yang berada di sebelah barat pesantren. selain itu user juga dapat melalui Jalan Djamin Ginting Km 11 yang berada di sebelah Selatan pesantren Ar-Raudhatul Hasanah. User yang melalui Jalan Setia Budi dapat langsung memasuki kawasan pesantren namun untuk user yang melalui Jalan Djamin Ginting Km 11 harus terlebih dahulu melalui komplek perumahan Paya Bundung.

Pesantren Ar-Raudhatul Hasanah memiliki lima akses masuk, yaitu dua diakses melalui Jalan Setia Budi dan tiga lainnya diakses melalui Jalan Djamin Ginting Km 11. Kelima akses masuk ini tidak semuanya dapat digunakan oleh santri dan santriwati. santri, santriwati serta pengunjung hanya dapat keluar masuk pesantren melalui gerbang utama yaitu yang berada di sebelah Barat dan diakses melalui jalan Setia Budi. Adapun untuk staff pengajar dapat memasuki pesantren melalui setiap pintu.

Pada tapak terdapat jalur sirkulasi yang digunakan user dalam melakukan aktivitas sehari-hari. Sirkulasi ini dapat di klasifikasikan menjadi dua yaitu sirkulasi pejalan kaki dan sirkulasi kendaraan. Kendaraan yang dapat memasuki kawasan asrama dan kelas adalah kendaraan pengajar saja, adapun kendaraan pengunjung tidak dibenarkan memasuki kawasan asrama. Peraturan ini sengaja dibuat oleh pengelola pesantren untuk menjaga keamanan dan kenyamanan santri dalam melakukan kegiatan sehari-hari.

Adapun untuk sirkulasi pejalan kaki menghubungkan antara asrama, ruang-ruang kelas, serta masjid pesantren Ar-Raudhatul Hasanah. Namun banyaknya pola sirkulasi pada tapak menyulitkan pengurus pesantren dalam mengontrol pergerakan santri dan santriwati. selain banyaknya pola sirkulasi, kondisi jalur yang rusak perlu menjadi perhatian pengelola lanskap pesantren sehingga kenyamanan user dapat diciptakan. Akses masuk pesantren serta pola sirkulasi pada tapak dapat dilihat pada Gambar 6.

22 4.1.3 Pembagian Zona

Pesantren Ar-Raudhatul Hasanah memiliki disiplin yang ketat terutama dalam pembagian area putra dan area putri. Disiplin ini dengan sendirinya membagi tapak menjadi dua zona, yaitu zona putra dan zona putri. Secara umum kedua zona ini dibatasi oleh masjid, sebelah Utara dan Timur masjid lebih didominasi oleh zona putri kemudian sebelah Barat dan Selatan Lebih didominasi oleh zona putra. Pembatas lainnya antara zona putra dan zona putri disebelah utara masjid adalah rumah tinggal guru. Tiap zona dapat diklasifikasikan lagi menjadi beberapa ruang aktivitas, yaitu ruang asrama, ruang edukasi, ruang olahraga. Pembagian ruang disetiap zona menyebar dengan tidak teratur dengan luasan masing-masing zona sebagai berikut; zona putra seluas 31.772 m2 atau 42,15% dari luas tapak, zona putri seluas 41.634 m2 atau 55,23% dari luas tapak, dan zona netral seluas 1976 m2 atau 2,62% dari luas tapak. Data luasan setiap zona dapat dilihat pada Tabel 4. Beberapa ruang edukasi berada berdekatan dengan ruang mukim dan ruang olah raga, begitu juga sebaliknya.

Tabel 4. Data Luasan Masing-Masing Zona

No Zona Luasan (m) Persentase Luasan (%)

1 Putra 31772 42,15

2 Putri 41634 55,23

3 Netral 1976 2,62

Total 75382 100

Zona santri dan santriwati dipisahkan oleh bangunan masjid sebagai zona netral atau zona yang digunakan oleh santri dan sasntriwati. Berdasarkan pengamatan dilapang santri masih memasuki zona santriwati saat berolah raga ke lapangan bola yang letaknya berada di zona santriwati. Hal ini dapat menyebabkan adanya interaksi antara santri dan santriwati. Maka diperluakan adanya sirkulasi yang mengatur santri menuju lapangan bola. Sehingga santri-santri yang menuju lapangan bola dapat dikontrol, pengontrolan ini diharapkan dapat menurunkan tingkat pelanggaran disiplin khususnya mengenai interaksi antara santri dan santriwati yang tertera pada Peraturan Tata Tertib Pesantren Ar-Raudhatul Hasanah Pasal VI No 2 mengenai kesalahan yang harus dihindari.

23 Kendala zonasi berikutnya adalah tidak adanya pemisah yang jelas antara zona yang ada, hal ini dapat dilihat pada zona putra dan zona putri yang tidak memiliki pemisah antara keduanya. Begitu juga dengan zona penerimaan yang berbaur dengan zona putra, hal ini dapat melanggar Peraturan Tata Tertib Pesantren Ar-Raudhatul Hasanah Pasal IV No 6 mengenai keamanan di dalam kampus yang menyatakan bahwa tidak dibenarkan pengunjung memasuki asrama baik santri maupun santriwati meskipun yang berkunjung adalah orang tua yang bersangkutan. Dengan demikian diperlukan adanya ruang pemisah antara zona, terutama zona putra, putri dan penerimaan. Peta analisis zonasi dapat dilihat pada Gambar 7.

Sedangkan peta kesesuaian zonasi dapat dilihat pada Gambar 8 dengan kriteria sesuai jika tata ruang tidak berhubungan langsung antar zona dan pemanfaatan ruang berada pada zona yang tepat. Dikatakan cukup sesuai jika tata ruang berhubungan langsung antar zona dan pemanfaatan ruang berada pada zona yang tepat. Dikatakan kurang sesuai jika tata ruang berhubungan langsung antar zona dan pemanfaatan ruang tidak berada pada zona yang tepat.

Area yang berwarna biru merupakan zona yang sesuai pada tapak, asrama putra dan asrama putri berada pada zona sesuai karena tidak adanya interaksi antara putra dan putri pada tapak, sehingga zona ini perlu dipertahankan. Adapun zona yang cukup sesuai (berwarna hijau) adalah masjid dan jalur sirkulasi utama yang menuju pintu gerbang utama. Dikatakan cukup sesuai karena meskipun ada interaksi antara putra dan putri pada area ini namun santriwati yang melewati jalur ini adalah santriwati yang telah mendapat izin dari penegak disiplin (guru pengawas). Selanjutnya yang berwarna kuning adalah zona kurang sesuai sebab terjadi interaksi antara santri dan santriwati terutama pada sore hari pada saat santri melakukan aktivitas olahraga.

26 4.1.4 Penutupan Lahan Pesantren Ar-Raudhatul Hasanah

Pesantren Ar-Raudhatul Hasanah memiliki tanah wakaf seluas 7,5 Ha luasan ini ditutupi oleh penutupan yang dapat diklasifikasikan menjadi tiga tipe penutupan lahan. Pertama dengan jumlah luasan mencapai 28.990 m2 atau sebesar 38,46% tapak merupakan ruang terbangun, Ruang terbangun meliputi ruang-ruang kelas, asrama santri dan santriwati. Selanjutnya merupakan ruang terbuka non-hijau yang terdiri dari luasan tapak yang belum dimanfaatkan sebagai ruang terbangun maupun ruang terbuka hijau, luas ruang terbuka non-hijau mencapai 37.696 m2 atau sebesar 50,00% tapak. Dan yang terakhir dengan luasan terkecil adalah ruang terbuka hijau yaitu seluas 8696 m2 atau sebesar 11,54% tapak. Ruang terbuka hijau meliputi taman-taman di Pesantren Ar-Raudhatul Hasanah, Pemakaman komplek Pesantren Ar-Raudhatul Hasanah serta lapangan (Gambar 9). Data penutupan lahan dapat dilihat pada Tabel 5

Tabel 5. Data Penutupan Lahan Pesantren Ar-Raudhatul Hasanah

No Ruang Luasan (m2) Persentase Luasan (%)

1 Ruang Terbangun 28.990 38,46

2 Ruang Terbuka Hijau 8.696 11,54

3 Ruang Terbuka Non-Hijau 37.696 50,00

Jumlah 75.382 100

Menurut Simonds (2006) berdasarkan jumlah penghuni dalam unit sosial maka lanskap pesantren Ar-Raudhatul Hasanah tergolong dalam unit sosial ketetanggaan (1200 keluarga, 4.320 jiwa), unit ini membutuhkan luas minimum ruang terbuka sebesar 12.000m2 per 1000 penduduk yang disediakan untuk lapangan bermain sekolah, rekreasi atau taman (Simonds, 2003). Mengacu pada standar tersebut maka lanskap pesantren Ar-Raudhatul Hasanah memerlukan ruang terbuka seluas 36.000 m2. Berdasarkan tabel penutupan lahan maka diketahui luas ruang terbuka pesantren yang terdiri dari ruang terbuka hijau dan ruang terbuka non-hijau adalah 46.392 m2, luasan ini sudah dapat memenuhi kebutuhan ruang terbuka yang dikemukakan oleh Simond (2006) namun lanskap pesantren Ar-Raudhatul Hasanah harus tetap direncanakan dengan baik sehingga kebutuhan ruang terbangun tetap seimbang dengan kebutuhan akan ruang terbuka pesantren.

28 4.1.5 Penggunaan Lahan Pesantren Ar-Raudhatul Hasanah

Lahan pesantren Ar-Raudhatul Hasanah saat ini digunakan sebagai asrama, fasilitas pendidikan, tempat ibadah serta sarana olahraga. Beberapa asrama terdiri dari tiga lantai, lantai pertama digunakan sebagai ruang kelas dan lantai kedua dan ketiga sebagai kamar tidur. Penggunaan lahan pesantren saat ini dapat dilihat pada Gambar 10.

Pesantren Ar-Raudhatul Hasanah saat ini telah memiliki rencana pembangunan sementara, rencana pembangunan ini masih pada tahap pelaksanaan. Rencana pembangunan pesantren dapat dilihat pada Gambar 11. Bangunan pada tapak saat ini terdiri dari asrama, ruang kelas, rumah guru, kamar mandi umum, dapur umum, gedung olah raga, masjid dll. Konsep dari master plan ini adalah memberikan fasilitas dan sarana yang baik untuk kemajuan pendidikan pesantren Ar-Raudhatul Hasanah.

Terdapat dua akses untuk memasuki pesantren, yaitu dari gerbang utama disebelah barat dan gerbang kedua disebelah utara. Kedua akses ini berpusat pada masjid pesantren Ar-Raudhatul Hasanah. Penggunakan akses ini dapat memudahkan pengurus pesantren dalam memobilisasi ataupun dalam memantau kegiatan santri dan santriwati.

Berdasarkan master plan yang ada dapat diketahui kondisi lanskap pesantren saat ini lebih dari 50% belum sesuai dengan acuan master plan yang ada. Masjid, gedung serba guna (GSG), dan beberapa asrama merupakan bangunan yang telah sesuai pembangunannya dengan master plan. hal ini disebabkan oleh pembuatan master plan dilakukan pada tahun 2005. Meskipun demikian kemungkinan pembangunan pesantren untuk mengikuti master plan masih dapat dilakukan sebab keberadaan bangunan khususnya pada zona santriwati masih terbuat dari kayu. Peta kesesuaian penggunaan lahan dapat dilihat pada Gambar 12. Dikatakan sesuai jika kondisi eksisting dan fungsinya sudah tepat, cukup sesuai jika fungsi sesuai namun eksisting belum tepat, dan dikatakan kurang sesuai jika kondisi eksisting dan fungsinya belum tepat.

32 4.1.6 Hidrologi

Sumber air bersih Pesantren Ar-Raudhatul Hasanah selain dari air hujan juga berasal dari sumur-sumur galian bawah tanah yang diambil menggunakan mesin pompa, dan kemudian dialirkan menggunakan pipa-pipa yang dihubungkan dengan tangki penampungan (Gambar 13a). Pemanfaatan air bersih ini digunakan untuk keperluan sehari-hari seperti mandi, mencuci, minum dll.

Kondisi topografi pesantren Ar-Raudhatul Hasanah tergolong relatif datar, kemiringan berkisar antara 0,5% hingga 4%. Dengan kemiringan yang relatif datar tersebut maka kemungkinan adanya genangan air pada saat hujan lebih besar, dengan demikian diperlukan adanya pemeliharaan yang baik terhadap drainase pesantren Ar-Raudhatul Hasanah.

Jenis saluran drainase utama pada tapak menggunakan jenis saluran drainase terbuka yaitu saluran drainase yang permukaan bawahnya berupa tanah sehingga masih menyerap air kedalam tanah. Saluran ini berada sepanjang tapak menuju saluran drainase yang berada pada jalan raya (Gambar 13b). Untuk air permukaan tidak seluruhnya dapat mengalir dengan baik menuju drainase yang ada, sehingga pada saat turun hujan dapat menimbulkan genangan air terutama pada area yang relatif datar (Gambar 13c). Begitu juga dengan penyerapan air ke dalam tanah, air tidak dapat diserap dengan baik karena sebagian besar tapak sudah diberikan perkerasan berupa paving block. Meskipun masih memungkinkan melakukan penyerapan namun kecepatan penyerapan berkurang. Peta hidrologi pesantren Ar-Raudhatul Hasanah dapat dilihat pada Gambar 14.

Gambar 13. a) Sumur dan Penampungan Air Bersih b) Saluran Drainase Terbuka c) Salah Satu Titik Genangan Air

a

c b

34 4.1.7 Iklim

Berdasarkan data iklim yang diperoleh dari BMKG Pusat yang mengacu pada stasiun klimatologi Polonia Medan dalam rentang waktu Januari 2011 hingga Desember 2011 tercatat suhu maksimum terjadi pada bulan May dan Juli yaitu 28,0°C, dan suhu minimum terjadi pada bulan Januari yaitu 26,5°C serta suhu rata-rata sebesar 27,3°C. Kisaran suhu tersebut berada dalam kisaran ideal menurut Laurie (1986) yaitu udara bersih pada suhu 27-28oC. Meskipun suhu masih berada pada kisaran ideal namun penambahan vegetasi masih tetap perlu dilakukan.

Kelembaban tercatat pada stasiun klimatologi Polonia Medan berada pada kisaran 77,6% hingga 83,0% dengan kelembaban maksimum sebesar 83,0% yang terjadi pada bulan Desember dan kelembaban minimum sebesar 77,6% yang terjadi pada bulan Februari. Kelembaban rata-rata sebesar 80.19%, persentase tersebut berada di atas kisaran nyaman menurut Laurie yaitu 40-75%. Sehingga perlu dilakukan perencanaan vegetasi yang tepat agar dapat menurunkan tingkat kelembaban pada tapak.

Kecepatan angin rata-rata 4 Km/Jam dengan kecepatan angin terendah 3.5 Km/Jam pada bulan Mai dan tertinggi 4.8 Km/Jam pada bulan Maret. Data iklim periode Januari 2011 hingga Desember 2011 dapat dilihat pada Tabel 6.

Temperature Huminity Index (THI) adalah indeks kuantitatif kenyamanan suatu area berdasarkan nilai suhu dan kelembaban udara relatif. Kondisi nyaman jika 21≤THI≤28. Untuk menghitung THI maka dapat digunakan rumus sebagai berikut:

THI = 0,8T + (RH X T)/500 Keterangan:

THI = Temperature Huminity Index RH = Relatif Huminity

T = Suhu Rata-Rata bulanan

Dengan menggunakan rumus diatas maka dapat diketahui bahwa THI dikawasan pesantren Ar-Raudhatul Hasanah adalah 26,17. Dengan demikian pesantren Ar-Raudhatul Hasanah masih berada dalam kisaran nyaman.

35 Tabel 6. Data Iklim Kota Medan Periode 2011

Bulan Suhu Rata2 (oC) RH (%) THI Kecepatan Angin

Km/Jam Arah Angin

Jan 26.5 80.2 25.45 4.3 Tenggara

Feb 27.2 77.6 25.98 3.7 Timur

Mar 27.1 79.8 26.01 4.8 Barat Daya

Apr 27.4 80.5 26.33 4.2 Barat

May 28 79.4 26.85 3.5 Barat Daya

Jun 27.9 79 26.73 4.3 Tenggara

Jul 28 78.5 26.8 4.1 Tenggara

Aug 27.1 81.4 26.09 3.6 Barat

Sep 27.3 79.8 26.2 3.6 Barat

Oct 27 80.9 25.97 3.6 Timur Laut

Nov 26.9 82.2 25.94 4.4 Barat Daya

Dec 26.6 83 25.7 4.1 Tenggara

Rata-Rata 27.26 80.19 26.17 4

Sumber: Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG)

4.1.8 Vegetasi

Pada tapak terdapat beberapa vegetasi dominan yang menyebar pada tapak yaitu pohon Mangga (Mangifera indica) sebanyak 41 batang, selanjutnya adalah pohon Glodongan tiang (Polyalthia longifolia) yang berjumlah 29 batang, kemudian tanaman Belinjo (Gnetum gnemon) yang berjumlah 22 batang. Untuk jenis vegetasi berikutnya dapat dilihat pada Tabel 7.

Luasan RTH pada tapak masih jauh lebih sedikit bila dibandingkan dengan luasan ruang terbuka non-hijau pada tapak. Penambahan RTH dapat memanfaatkan luasan ruang terbuka non-hijau, sehingga luasan RTH dapat lebih ditingkatkan. Selain kurangnya luasan RTH pada tapak, pemeliharaan terhadap taman yang ada masih dapat dikatakan kurang, hal ini dapat dilihat dari kondisi taman dan vegetasi yang tidak terawat dengan baik (Gambar 15).

Pada jalur masuk pesantren telah dilakukan penanaman vegetasi pengarah sehingga dapat memberikan kenyamanan dan keamanan pada tapak, namun penanaman ini masih berada pada beberapa jalur sirkulasi, belum ditanam secara menyeluruh. Selain itu, peningkatan pemeliharaan terhadap tanaman yang ada sangat diperlukan untuk menjaga dan mempertahankan keberadaannya. Peta analisis vegetasi dapat dilihat pada Gambar 16.

36 Tabel 7. Vegetasi Pada Tapak

No Nama Latin Nama Lokal Jumlah Letak

1 Acalypha microphylla The-Tehan 2 Taman Asrama 2 Annona muricata Sirsak 2 Menyebar 3 Araucaria heteropylla Cemara Jarum 1 Komplek

pemakaman 4 Areca catechu Pinang 15 Komplek

pemakaman 5 Artocarpus heterophyllus Nangka 2 Menyebar 6 Avverhoa bilimbi Belimbing Wuluh 5 Menyebar 7 Bougainvillea glabra chois Bugenvil 2 Taman kelas 8 Carica papaya Pepaya 9 Menyebar 9 Casuarina equisetifolia Cemara 8 Menyebar 10 Ceiba pentandra Bambu Apus 5 Belakang asrama 11 Ceiba pentandra Kapuk Randu 3 Menyebar 12 Cocos nucifera Kelapa 9 Menyebar 13 Desmanthus virgatus Asam-Asaman 6 Menyebar 14 Eugenia aquea Jambu Air 1 Depan asrama

putri 15 Ficus benjamina Beringin 6 Menyebar 16 Gnetum gnemon Melinjo 22 Komplek

pemakaman dan menyebar 17 Mangifera indica Mangga 41 Menyebar 18 Manilkara kauki Sawo Kecik 5 Menyebar 19 Morinda citrifolia Mengkudu 1 Depan asrama

putri 20 Nephelium lappaceum Rambutan 2 Menyebar 21 Phyllanthus acidus Cermai 2 Belakang kelas

putri 22 Polyalthia longifolia Glodogan Tiang 29 Komplek

pemakaman 23 Prunus apetala Ceri 1 Belakang kelas

putri 24 Psidium guajava Jambu Biji 4 Menyebar 25 Roystonea regia Palem Raja 10 Jalur sirkulasi 26 Syzygium oleana Pucuk Merah 3 Menyebar

Kebutuah RTH pada tapak dapat diketahui dengan menggunakan pendekatan Kebutuhan RTH di pesantren Ar-Raudhatul Hasanah berdasarkan jumlah santri dan santri wati, pengajar, serta pengunjung dengan mengacu pada standar kebutuhan RTH per individu (1,5 m2/orang, berdasarkan kebutuhan per individu untuk bermain dan berolahraga) adalah 16.691 m2. Dengan demikian RTH pesantren Ar-Raudhatul Hasanah yang saat ini seluas 8.696 m2 masih kurang

37 seluas 7.995 m2 untuk dapat memenuhi standar kebutuhan RTH tersebut. RTH pada tapak diaplikasikan dalam bentuk taman, jalur hijau, serta lapangan olahraga.

Gambar 15. Rumput Tidak Terawat

Untuk ketersediaan taman pesantren Ar-Raudhatul Hasanah berdasarkan standar yang dikeluarkan oleh Dirjen Penataan Ruang Departemen Pekerjaan Umum, 2008 (0,5 m2/orang) adalah 1750 m2 (skala 3500 santri dan santriwati. Saat ini luas taman pada tapak adalah 381 m2, dengan demikian kekurangan taman pada tapak adalah 1369 m2.

Berdasarkan pengamatan di lapang, beberapa kegiatan yang dilakukan di taman antara lain muhadatsah (latihan berbahasa), pramuka, olahraga, duduk-duduk, dan berdiskusi. Maka dari itu diperlukan beberapa vegetasi dengan fungsi arsitektural tertentu, diantaranya fungsi peneduh sehingga user dapat memperoleh teduhan, selain itu dengan adanya vegetasi dengan fungsi peneduh diharapkan dapat mengurangi pantulan cahaya matahari pada saat user berada di taman. Fungsi berikutnya adalah vegetasi dengan fungsi pembatas, sehingga fungsi ini dapat memperjelas area santri dan santriwati. Fungsi pengarah juga diperlukan agar dapat mengarahkan user saat melakukan pergerakan selain itu diharapkan fungsi ini dapat memberikan kesan aman pada pengunjung terutama yang menggunakan kendaraan. Fungsi terakhir adalah fungsi estetika untuk dapat memberikan keindahan pada pesantren Ar-Raudhatul Hasanah.

39 4.1.9 Kualitas Visual Lanskap

Pesantren memiliki beberapa sisi yang merupakan good view yang perlu dipertahankan dan sisi bad view yang perlu diberikan solusi agar dapat mendukung kegiatan yang ada dipesantren. Diantara sisi good view adalah jalur masuk pesantren (Gambar 17a). Saat memasuki kampus Pesantren Ar-Raudhatul Hasanah maka pengunjung akan disambut oleh jalur yang menjadi axis, axis pintu masuk ke pesantren merupakan salah satu good view yang dapat dipertahankan pada tapak.

Sesaat setelah melewati axis pintu masuk pesantren, sebuah bangunan yang menjadi tempat perkumpulan santri dan santriwati yaitu gedung serba guna (Gambar 17b). Bangunan ini merupakan salah satu bangunan yang menjadi pusat aktivitas santri pada sore hari. Selain sebagai tempat berkumpul bangunan ini juga terdiri dari dua buah lapangan badminton dan satu buah lapangan basket.

Bangunan masjid yang menjadi pusat aktivitas pesantren merupakan salah satu bangunan yang menjadi good view pada tapak (Gambar 17c) . Bangunan ini terdiri dari tiga lantai dimana lantai pertama digunakan sebagai pusat perkantoran dan lantai dua dan tiga digunakan sebagai tempat melakukan shalat berjamaah.

Bangunan berikutnya yang menjadi good view adalah gedung Al-Jihad (Gambar 17d). Bangunan ini merupakan bangunan yang ada di zona santri. Meskipun masih terbuat dari kayu bangunan ini termasuk bangunan yang memiliki nilai sejarah bagi pesantren, bangunan adalah asrama pertama yang dibangun di pesantren. Kemudian tepat di samping gedung Al-Jihad, berdiri sebuah rumah (Gambar 17e). Rumah ini adalah rumah direktur pesantren pertama yang sengaja dibangun pada saat berdirinya pesantren. Hingga saat ini rumah ini masih digunakan sebagai rumah wakil direktur pesantren Ar-Raudhatul Hasanah.

40

Gambar 17. Good view: a) Sirkulasi Masuk Pesantren, b) Gedung Serba Guna, c) Masjid, d) Gedung Al-Jihad, e) Rumah Direktur Pertama Selain good view, pesantren juga memiliki beberapa sisi yang perlu diperbaiki (bad view). Berikut beberapa sisi yang termasuk bad view. Minimnya tempat parkir mengakibatkan para pengguna kendaraan bermotor terutama pengajar memarkirkan kendaraannya di sembarang tempat (Gambar 18a). Pengguna kendaraan bermotor memarkirkan kendaraannya di depan kamar pengajar. Untuk menertibkan parkir disekitar pesantren, perlu disediakan lahan parkir.

Kamar mandi santri merupakan salah satu sisi yang memerlukan perhatian. Kamar mandi ini terlihat kumuh (Gambar 18b), selain itu lokasinya yang berada di samping rumah direktur pertama atau di samping bangunan yang memiliki nilai sejarah bagi pesantren dapat mengurangi nilai kesejarahannya.

Selain kamar mandi santri, kamar mandi santriwati juga merupakan bad view (Gambar 18c). Kamar mandi santriwati ini dipenuhi oleh tumpukan kain kotor dan ember yang berserakan. Saat memasuki zona santriwati maka pemandangan ini langsung terlihat, sehingga menciptakan kesan kumuh. Secara umum kondisi visual tapak dapat dilihat pada peta visual tapak (Gambar 19)

c

e

41 Gambar 18. Bad view: a) Parkiran Tidak Teratur, b) Kamar Mandi Santri, c)

Kamar Mandi Santriwati

a b

43 4.1.10 Fasilitas

Sebagai pesantren terbesar di Kota Madya Medan sudah selayaknya Pesantren Ar-Raudhatul Hasanah memiliki fasilitas yang menunjang kegiatan-kegiatan yang ada di pesantren. Pesantren memiliki fasilitas berupa fasilitas pendidikan, fasilitas praktikum, fasilitas umum, fasilitas ibadah, fasilitas

Dokumen terkait