BAB 5 HASIL DAN PEMBAHASAN PENELITIAN
5.2. Pembahasan Penelitian
Penelitian ini merupakan penelitian true experimental design dengan tujuan untuk membandingkan efektivitas antara madu dan beepollen dalam perbaikan luka bakar berdasarkan diameter luka bakar.
Berdasarkan nilai uji statistik pada Tabel 5.3, dapat dilihat bahwa rerata diameter luka pada kelompok madu lebih kecil dibandingkan rerata kelompok beepollen (0,311< 0,333). Hal ini sesuai dengan penelitian sebelumnya, Noori S. Al-Waili dkk, dimana dikatakan bahwa madu dapat mempercepat waktu penyembuhan luka bakar dangkal maupun luka bakar dalam.25
Hal ini mungkin dikarenakan pada penelitian sebelumnya, madu telah terbukti secara signifikan (p<0,001) pada uji prospektif, randomisasi, uji klinis, lebih cepat dalam menyembuhkan luka bakar superfisial. Pada penelitian sebelumnya yang dilakukan pada 52 pasien luka bakar yang diobati dengan madu, 91% luka sembuh dengan steril dalam waktu 7 hari. Molan P.C menemukan bahwa granulasi jaringan yang sehat lebih cepat pada pasien yang diobati dengan madu (mean 7,4 hari). Dalam waktu 7 hari, 84% luka yang diobati dengan madu menunjukkan proses epitelisasi yang memuaskan, dan sembuh 100% dalam waktu 21 hari.14
Perbaikan diameter luka pada kelompok madu pada tabel 5.3 juga dapat disebabkan oleh karena Madu memiliki kandungan gula dan juga osmolaritas yang tinggi, yang dapat menghambat pertumbuhan mikroba.26 Madu juga dapat mengurangi inflamasi, pembengkakan, dan nyeri pada luka bakar dengan cepat, mengurangi bau, mempercepat pelepasan jaringan nekrosis, mempercepat granulasi dan reepitelisasi dengan bekas luka yang minimal.27tanpa menyebabkan resistensi.25
Pada kelompok pemberian beepollen berdasarkan Tabel 5.3 didapati rerata diameter luka 0,333, yang nilainya lebih besar dari kelompok pemberian madu, namun tidak begitu jauh berbeda dengan kelompok pemberian madu.
Hal ini dapat disebabkan karena beepollen juga merupakan produk perlebahan yang komposisinya tidak jauh berbeda atau hampir sama dengan komposisi madu.
Peneliti tidak menemukan penelitian-penelitian sebelumnya yang secara khusus mencari perbandingan efektivitas antara madu dan beepollen dalam perbaikan diameter luka bakar.
Namun, pada penelitian sebelumnya oleh Vassev, dkk, menyatakan bahwa beepollen juga memiliki efek anti inflamasi yang tinggi yang dapat mencegah aktivitas dari siklooksigenase dan lipoksigenase, yaitu suatu enzim yang bertanggung jawab untuk mengubah asam arakidonat menjadi prostaglandin sehingga dapat meminimalisir ataupun menghilangkan rasa nyeri setelah hewan coba terkena luka bakar. Beepollen juga memiliki efek antibiotik yang tinggi yang terdapat pada flavonoid dan asam phenolic, yang dapat memperpendek waktu penyembuhan luka28.
Dikatakan oleh Harbone, J.B, flavonoid merupakan senyawa fenol yang dikenal mempunyai potensi sebagai antioksidan serta antiiinflamasi. Selain itu, flavonoid juga dapat menyebabkanrusaknya susunan dan perubahan mekanisme permeabilitas dari dinding sel bakteri sehingga mempercepat proses penyembuhan luka29.
Dari hasil penelitian ternyata diperoleh bahwa tidak ada perbedaan efektivitas yang signifikan pada madu dan beepollen dalam perbaikan luka bakar, sehingga hal ini tidak sesuai dengan hipotesis awal. Maka dapat disimpulkan bahwa madu dan beepollen memiliki efektifitas yang sama dalam perbaikan luka bakar. Bagaimanapun, masih diperlukan penelitian lebih lanjut tentang madu dan beepollen yang berkaitan dengan perbaikan diameter luka bakar.
BAB 6
KESIMPULAN DAN SARAN
6.1. Kesimpulan
Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan mengenai perbandingan efektivitas Madu dan Beepollen dalam perbaikan luka bakar pada mencit berdasarkan diameter luka bakar, dapat ditarik beberapa kesimpulan sebagai berikut:
1. Rerata diameter perbaikan luka bakar pada kelompok pemberian Madu adalah 0,311 centimeter.
2. Rerata diameter perbaikan luka bakar pada kelompok pemberian Bee Pollen adalah 0,333 centimeter.
3. Tidak terdapat perbedaan yang signifikan antara rerata waktu perbaikan diameter luka bakar pada kedua kelompok karena diperoleh nilai p=0,884.
6.2. Saran
Beberapa hal yang dapat disarankan berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan antara lain:
1. Diharapkan agar dilakukan penelitian lebih lanjut tentang perbandingan efektivitas Madu dan Bee Pollen dalam perbaikan diameter luka bakar pada mencit dengan menggunakan sampel yang lebih banyak pada hewan coba.
2. Madu dan Bee Pollen dapat digunakan sebagai terapi alternatif dalam perbaikan luka bakar tanpa menyebabkan resistensi serta untuk menghindari efek samping.
DAFTAR PUSTAKA
1. Arisanty I.P. Konsep Dasar Manajemen Perawatan Luka. Jakarta: Penerbit Buku Kedokteran EGC. 2014. p.1-13.
Jakarta: Penerbit Buku Kedokteran EGC. 2002. p.1912
6. Muthoharoh, L. Gambaran Perilaku Masyarakat Terhadap Kejadian Luka Bakar Ringan di Perumahan Bagasasi Cikarang. [Skripsi]. Program studi Ilmu Keperawatan Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta. 2005
7. Pujisriyani, Aditya Wardana. Epidemiology of Burn Injuries in Cipto Mangunkusumo Hospital from 2009 to 2010.[ Internet]. Tersedia dari:
www.JPRJournal.com
8. Guyton A.C, John E.Hall. Buku ajar Fisiologi Kedokteran. Edisi 11.
Jakarta: Penerbit Buku Kedokteran EGC. 2008.
9. Kartini, M. Efek Penggunaan Madu dalam Manajemen Luka Bakar. Jurnal Kesehatan. Vol 2 No.2. 20 hlm. 2009
10. Gheldof, N., X.H. Wang and Engeseth, N.J. Identification of antioxidant components of honey from variuosfloral sources. J. Agricult. Food Chem.
50:5 870-5 877. 2002
11. Jull A.B, Rodgers, N. Walker. Honey as a Tropical Treatment for Wounds [Internet]. The Cochrane Library 2009. Tersedia dari:
http://thecochranelybrary.com
12. Vidianka, R. Potency of Honey in Treatment of Burn Wounds. J Majority 2015.
13. Rio Y, D. Aziz. Perbandingan Efek Antibakteri Madu Asli Sikabu dengan Madu Lubuk Minturun terhadap Eschericia Coli dan Staphylococcus aureus secara in vitro. [Internet]. Jurnal Kesehatan Andalas. 2012. tersedia dari Medical Value [Internet]. International Jurnal of Clinical Practice. 2007.
tersedia dari: http://www.researchgate.net
17. Perdanakusuma DS. Anatomi Fisiologi Kulit dan Penyembuhan Luka.
Plastic Surgery Department, Airlangga University School of Medicine.
2007
18. Mescher AL. Histologi Dasar Junqueira: Teks dan Atlas. Edisi 12. Jakarta:
Penerbit Buku Kedokteran EGC.2012
19. Rohmawati, N. Efek Penyembuhan Luka Bakar dalam Sediaan Gel Ekstrak Etanol 70% Daun Lidah Buaya (Aloe vera L.) pada Kulit Punggung Kelinci New Zealand. [Skripsi]. Fakultas Farmasi Universitas Muhhamadiyah Surakarta. 2008
20. Al Fady, MF., Madu dan Luka Diabetik. Yogyakarta: Gosyen Publishing.
2015
21. Bruno G. Bee Pollen, Propolis & Royal Jelly. Dean of Academy, Huntington College of Health Science. 2005.[Internet]. Tersedia dari:
www.hchs.edu
22. Campos, M.,Stefan B, Ligia B. Pollen Composition and Standardisation of analytical methods. Jurnal of apicultural Research and Bee World 47(2):158-163 (2008).
23. Luthfi M. Perbandingan Efektivitas Aspirin, Propolis, dan Bee Pollen sebagai Antiplatelet Berdasarkan Waktu Perdarahan pada Mencit. [Skripsi].
Fakultas Kedokteran Universitas Sumatera Utara. 2015
24. Szczesna T. Long- Chain Fatty Acids Composition of Honeybee-Collected Pollen. Jurnal of Apicultural Science. 50(2), p.65-79. 2006.
25. Al Waili, Noori S., Khelod Salom, Ahmad Al Ghamdi. Honey for Wound Healing, Ulcers, and Burns: Data Supporting Its Use in Clinical Practice.
The Scientific World Journal. 11, p.766-787. 2011
26. Sell, Scott A., Patricia S.Wolfe, Andrew J. Spence, Isaac A. Rodrigues, Jennifer M. McCool, Rebecca L. Petrella, et al., a Premilinary Study on the Potential of Manuka Honey and Platelet-Rich Plasma in Wound Healing.
Hindawi Publishing Corporation. International Jurnal of Biomaterials.14 pages. 2012.
27. Lusby, PE., Coombes, JM.Wilikinson. Honey: A Potent agent for Wound Healing?. Wound Care. Vol 29 (6). 2002.
28. Vassev, KK., Pawel O, Justyna K, Lukasz M, Krystyna O., Bee Pollen:
Chemical Composition and Therapeutic Application. Hindawi Publishing Corporation. 6 pg. 2015.
29. Harbone, J.B., Metode Fitokimia : Penentuan cara Modern Menganalisis Tumbuhan. InstitutTeknologi Bandung. Vol 2, p.84-85.1987.
DAFTAR RIWAYAT HIDUP
Nama : Romanti Dahlia Tamba
Tempat, Tanggal Lahir : Medan, 31 Mei 1995
Agama : Kristen Protestan
Alamat : Jalan Perguruan Tinggi Swadaya Gang Rela No.
20 Medan Riwayat Pendidikan :
1. SD Negeri 060791 Medan (2001-2007) 2. SMP Negeri 23 Medan (2007-2010)
3. SMA Swasta Katolik Trisakti Medan (2010-2013) 4. Fakultas Kedokteran Universitas Sumatera Utara
Medan (2013- sekarang)
HASIL UJI STATISTIK
Test of Homogeneity of Variance
Levene Statistic df1 df2 Sig.
hari14 Based on Mean ,000 1 16 1,000
Based on Median ,011 1 16 ,918
Based on Median and with
adjusted df ,011 1 15,707 ,919
Based on trimmed mean ,012 1 16 ,916
Mann-Whitney Test
Ranks
kelompok N Mean Rank Sum of Ranks
hari14 madu 9 9,33 84,00
beepollen 9 9,67 87,00
Total 18
Test Statisticsa
hari14
Mann-Whitney U 39,000
Wilcoxon W 84,000
Z -,146
Asymp. Sig. (2-tailed) ,884 Exact Sig. [2*(1-tailed Sig.)] ,931b a. Grouping Variable: kelompok
b. Not corrected for ties.