SKRIPSI
PERBANDINGAN EFEKTIVITAS MADU DAN BEE POLLEN DALAM PERBAIKAN LUKA BAKAR PADA MENCIT
BERDASARKAN DIAMETER LUKA BAKAR
Oleh:
ROMANTI DAHLIA TAMBA 130100032
FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
MEDAN
2016
PERBANDINGAN EFEKTIVITAS MADU DAN BEE POLLEN DALAM PERBAIKAN LUKA BAKAR PADA MENCIT
BERDASARKAN DIAMETER LUKA BAKAR
SKRIPSI
Diajukan Sebagai Salah Satu Syarat Untuk Memperoleh Kelulusan Sarjana Kedokteran
Oleh:
ROMANTI DAHLIA TAMBA 130100032
FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
MEDAN
2016
ABSTRAK
Pendahuluan: Luka bakar merupakan suatu jenis trauma yang dapat menimbulkan penderitaan, karena terjadi kerusakan dan perubahan sistem tubuh, sehingga menimbulkan berbagai masalah yang kompleks. Luka bakar juga merupakan kejadian yang menimbulkan angka kesakitan dan kematian yang tinggi dibanding cedera yang lainnya.
Dalam pengobatan tradisional, madu telah dimanfaatkan untuk mengobati luka- luka bakar yang terjadi pada kulit. Jika diusap pada daerah yang terbakar, madu akan mengurangi rasa sakit dan mencegah lepuhan. Oleh sebab itu, produk perlebahan seperti beepollen diduga mempunyai efek yang sama seperti madu untuk mengobati luka bakar.
Metode: Tujuan penelitian ini adalah untuk melihat produk perlebahan yang lebih efektif antara madu dan beepollen dalam perbaikan luka bakar. Penelitian eksperimental ini menggunakan desain randomized post test only control group menggunakan hewan coba yang dibagi menjadi dua kelompok penelitian. Hewan coba dilukai pada bagian punggung, lalu penanganan dilakukan beberapa saat setelah luka bakar dibuat. Madu dioleskan untuk satu kelompok mencit dan beepollen pada kelompok lainnya ke punggung mencit yang mengalami luka bakar hingga seluruh luka tertutupi selama 14 hari. Pengukuran diameter luka dilakukan setiap hari dalam satuan sentimeter. Data hasil penelitian diolah menggunakan uji hipotesis Mann-Whitney U.
Hasil: Hasil penelitian menunjukan rerata diameter perbaikan luka pada kelompok pemberian madu 0,311 sentimeter, dan rerata diameter perbaikan luka pada kelompok pemberian beepollen 0,333 sentimeter. Dari hasil uji hipotesis diperoleh nilai p sebesar 0,884 (p>0,05).
Kesimpulan: Hasil uji hipotesis tersebut menunjukkan bahwa tidak ada perbedaan efektivitas yang signifikan pada madu dan beepollen dalam perbaikan luka bakar.
Kata kunci: beepollen, diameter, luka bakar, madu
ABSTRACT
Introduction: Burn is a type of trauma that can cause distress, because there is damage and changes in the body's system, causing a variety of complex problems.
Burns also have higher morbidity and mortality rates than other injuries.
In traditional medicine, honey has been used to treat burns that occur on the skin.
When rubbed on the burned area, honey will reduce pain and prevent blisters.
Therefore, bee products such as bee pollen thought to have the same effect as honey to treat burns.
Method: The purpose of this study is to look at bee keeping products more effectively between honey and bee pollen in treating burns. The methode used in this experimental research is randomized designs post test only control group using experimental animals which were divided into two study groups. Animals were injured on the back, and the handling is done on the burn after some time.
Apply honey for one group of mice and bee pollen on the other group of mice which suffered from burns until the wounds are fully covered. Apply daily for 14 days. Measuring the diameter of the wound is done every day in centimeters. The data was processed using the Mann-Whitney U test hypotheses.
Result: The results showed a mean diameter of wound repair in the group treated with honey is 0,311 centimeters, and the mean diameter of wound repair in the group treated with bee pollen is 0.333 centimeters. Results from the hypothesis test obtained, p value is 0.884 (p> 0.05).
Discuss: The hypothesis test results show that there is no significant difference in the effectiveness of honey and beepollen in treating burns.
Keywords: bee pollen, burns, diameter, honey
KATA PENGANTAR
Puji dan syukur penulis panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa, yang telah melimpahkan Rahmat dan Anugerah-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi ini. Skripsi ini merupakan suatu syarat kelulusan pendidikan kedokteran agar dapat menuju jenjang profesi dan meraih gelar Sarjana Kedokteran. Skripsi dengan judul “ Perbandingan Efektivitas Madu dan Beepollen dalam Perbaikan Luka Bakar pada Mencit berdasarkan Diameter Luka Bakar” mengkaji apakah ada perbedaan yang signifikan terhadap efektivitas madu dan beepollen dalam mempercepat proses perbaikan luka bakar yang diteliti pada mencit.
Penulis menyadari bahwa banyak kekurangan dalam tulisan ini, baik dari segi materi, metode penelitian, serta penulisan. Untuk itu, penulis mengharapkan saran dan masukan yang membangun agar penulis dapat memperbaiki kesalahan dalam penulisan karya selanjutnya dan agar penelitian yang berkaitan dengan hal ini dapat dilakukan dengan lebih baik.
Terciptanya skripsi ini tidak terlepas dari peran banyak pihak. Pada kesempatan ini, penulis menyampaikan ucapan terima kasih kepada:
1. Keluarga tercinta penulis, terutama kedua orang tua, Drs. D. Tamba dan R.
Hutabalian serta kakak dan adik yang senantiasa mendukung dan membantu penulis dalam menyelesaikan Skripsi ini.
2. Dr. dr. Aldy Safruddin Rambe, Sp.S(K) selaku Dekan Fakultas Kedokteran Universitas Sumatera Utara.
3. dr. Sake Juli Martina, Sp.FK selaku Dosen Pembimbing I, dan dr. Edy Ardiansyah, Mked(OG), SpOG(K) selaku Dosen Pembimbing II yang senantiasa membimbing penulis dalam menyelesaikan skripsi ini.
4. Prof. Dr. A. Afif Siregar, Sp.A(K) Sp.JP(K) selaku Ketua Penguji dan Dr.
Selvi Nafianti, Sp.A(K) selaku Anggota Penguji, yang memberikan saran dan kritikan yang membangun untuk penulis dalam menyelesaikan tulisan ini.
5. Dr. Arya Tjipta, Sp.BP-RE selaku dokter ahli Bedah Plastik yang turut membantu dalam menyumbangkan ilmu yang dimilikinya untuk penulisan skripsi ini yang berkenaan dengan luka bakar.
6. Seluruh jajaran Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Sumatera Utara yang telah mengijinkan penulis menyelesaikan penelitian di Laboratorium Biologi Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Sumatera Utara.
7. Teman Seperjuangan penulis, M. Fariz Al Akbar, yang senantiasa membantu dan bekerjasama dengan penulis dalam menyelesaikan skripsi ini.
8. Sahabat-sahabat penulis, Annabell Siregar, Erpina Valentina Perangin- Angin, dan Riska Rina Barus yang senantiasa memberikan saran dan dukungan kepada penulis dalam menyelesaikan skripsi ini.
9. Semua pihak baik langsung maupun tidak langsung yang telah memberikan bantuan dalam penulisan skripsi ini.
Akhir kata penulis mengucapkan terima kasih atas segala bantuan yang diberikan kepada penulis. Semoga Skripsi ini dapat bermanfaat bagi banyak orang dan dapat diterapkan di masyarakat luas.
Medan, Desember 2016 Penulis
Romanti Dahlia Tamba 130100032
DAFTAR ISI
Halaman
LEMBAR PENGESAHAN ……….………... i
ABSTRAK………... ii
KATA PENGANTAR……….………….………... iv
DAFTAR ISI...……….………... vi
DAFTAR TABEL... viii
DAFTAR GAMBAR... ix
DAFTAR LAMPIRAN... x
BAB 1 PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang ... 1
1.2. Rumusan Masalah ... 3
1.3. Tujuan Penelitian ... 3
1.4. Manfaat Penelitian ... 4
BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Kulit... 5
2.1.1. Anatomi Kulit ... 5
A. Epidermis ... 6
B. Dermis ... 7
C. Hipodermis ... 7
2.1.2. Fisiologi Kulit ... 8
2.2. Luka Bakar ... 9
2.2.1. Defenisi Luka Bakar ... 9
2.2.2. Klasifikasi Luka Bakar ... 9
2.2.3. Luas Luka Bakar ... 11
2.2.4. Penyembuhan Luka ... 12
2.2.4.1. Fisiologi Penyembuhan Luka ... 12
2.2.4.2. Patofisiologi Luka Bakar... 13
2.2.5. Terapi Luka Bakar... 13
2.3. Madu ... 14
2.3.1. Karakteristik ... ... 14
2.3.2. Komposisi... ... 14
2.2.3. Manfaat Madu ... 15
2.4. Bee Pollen... 16
2.4.1. Karakteristik... 16
2.4.2. Komposisi... 17
2.4.3. Bioaktivitas... 17
BAB 3 KERANGKA TEORI, KERANGKA KONSEP DAN HIPOTESIS PENELITIAN
3.1. Kerangka Teori Penelitian... 19
3.2. Kerangka Konsep Penelitian ... 20
3.3. Hipotesis Penelitian ... 20
BAB 4 METODE PENELITIAN 4.1. Rancangan Penelitian ... 21
4.1.1. Jenis Rancangan Penelitian ... 21
4.1.2. Tempat Penelitian ... 22
4.1.3. Waktu dan Lokasi Penelitian ... 22
4.2. Populasi dan Sampel Penelitian ... 22
4.3. Pemeliharaan dan Persiapan Hewan Coba ... 23
4.4. Defenisi Operasional ... 24
4.5. Metode Analisis Data ... 25
BAB 5 HASIL DAN PEMBAHASAN PENELITIAN 5.1. Hasil Penelitian... 26
5.1.1. Deskripsi Lokasi Penelitian... 26
5.1.2. Karasteristik Sampel... 26
5.1.3. Analisa Deskriptif Hasil Penelitian... 27
5.2. Pembahasan Penelitian... 31
BAB 6 KESIMPULAN DAN SARAN 6.1. Kesimpulan Penelitian... 33
6.2. Saran Penelitian... 33
DAFTAR PUSTAKA... 34 LAMPIRAN
DAFTAR TABEL
Nomor Keterangan Tabel Halaman Tabel 2.1 Kandungan madu dan nilai nutrisi 15 Tabel 2.2 Komposisi dari Beepollen (kering) 17 Tabel 5.1 Tabel Perbaikan Diameter Luka Bakar 27 pada Kelompok Madu selama 14 Hari
dalam satuan Sentimeter
Tabel 5.2 Tabel Perbaikan Diameter Luka Bakar 28 pada Kelompok Beepollen selama
14 Hari dalam satuan Sentimeter
Tabel 5.3 Rerata Diameter Luka pada Kelompok 29 Madu dan Beepollen dalam Sentimeter
Tabel 5.4 Normalitas Data dengan Uji Shapiro-Wilk 29 Tabel 5.5 Uji Homogenitas Data pada Kelompok 30 Pemberian Madu dan Beepollen
Tabel 5.6 Uji Komparabilitas Data dengan menggunakan 30 Uji Hipotesis Mann-Whitney U
DAFTAR GAMBAR
Nomor Keterangan Gambar Halaman
Gambar 2.1 Anatomi Kulit 5
Gambar 2.2 Lapisan Epidermis Kulit 6
Gambar 2.3 Luka Bakar Derajat I 9
Gambar 2.4 Luka Bakar Derajat II 10
Gambar 2.5 Luka Bakar Derajat III 11
Gambar 2.6 Skema Pembagian Luas Luka Bakar 11
dengan Rule of Nine
DAFTAR LAMPIRAN
Lampiran 1 Daftar Riwayat Hidup Peneliti Lampiran 2 Ethical Clearance
Lampiran 3 Surat Izin Penelitian
Lampiran 4 Surat Izin Selesai Penelitian Lampiran 5 Data penelitian
Lampiran 6 Hasil Output SPSS
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Kulit merupakan organ terbesar dari tubuh manusia, dimana 15% dari berat badan manusia dewasa adalah kulit.1 Kulit seringkali mengalami trauma mekanis akibat benturan benda tajam maupun benda tumpul, sehingga menyebabkan diskontinuitas jaringan kulit (luka). Jenis luka yang paling sering dan berkembang luas di dunia adalah luka bakar.2
Luka bakar merupakan jenis trauma yang dapat menimbulkan penderitaan, karena terjadi kerusakan dan perubahan sistem tubuh, sehingga menimbulkan berbagai masalah yang kompleks.3 Luka bakar juga merupakan kejadian yang menimbulkan angka kesakitan dan kecacatan yang tinggi dibanding cedera lainnya.4
The National Institute of Burn Medicine mengumpulkan data-data statistik dari berbagai pusat luka bakar di seluruh Amerika Serikat mencatat bahwa sekitar 75% pasien luka bakar diakibatkan oleh perbuatan diri sendiri.5
Statistik menunjukkan bahwa 60% luka bakar terjadi karena kecelakaan rumah tangga, 20% kecelakaan kerja, dan sisanya 20% karena sebab lainnya, misalnya bom, gunung meletus, dan lain-lain.3 Menurut World Health Organitation (WHO), luka bakar menyebabkan 195.000 kematian tiap tahun hingga tahun 2012 di seluruh dunia terutama di negara miskin dan berkembang.
Luka bakar yang tidak menyebabkan kematian pun ternyata menimbulkan kecacatan pada penderitanya.6
Di Amerika Serikat pada tahun 1995-2000, sekitar 2,5 juta orang mengalami luka bakar setiap tahunnya. Dimana 200.000 pasien memerlukan penanganan rawat jalan dan 100.000 pasien dirawat di rumah sakit. Sekitar 12.000 orang meninggal setiap tahunnya akibat luka bakar dan cedera inhalasi yang berhubungan dengan luka bakar. Satu juta hari kerja hilang setiap tahunnya karena luka bakar.5
Di Indonesia, angka kejadaian luka bakar cukup tinggi, lebih dari 250 jiwa per tahun meninggal akibat luka bakar pada tahun 2004-2008, dimana anak-anak dan lansia yang paling sering mengalami cedera luka bakar. Penyebab terbanyak kejadian luka bakar di Indonesia disebabkan oleh ledakan tabung gas LPG sebesar 30,4%, diikuti dengan api 25,7%, dan air panas 19,1%. Rata-rata pasien dirawat selama 13,72 hari dengan angka kematian sebesar 34%.7
Kematian umumnya terjadi pada luka bakar dengan luas lebih dari 50% atau pada luka bakar yang disertai cedera pada saluran nafas, dan 50% terjadi pada 7 hari pertama perawatan.3 Namun, pada hampir semua pasien yang mengalami luka bakar hebat atau pengelupasan kulit lainnya, terjadi kehilangan plasma yang sangat banyak melalui daerah kulit yang terkelupas, sehingga volume plasma menjadi sangat menurun. Kehilangan volume plasma dari sistem sirkulasi secara nyata dapat menyebabkan syok.8
Saat ini, madu telah terbukti mampu berperan sebagai antibiotik seperti halnya obat topikal yang saat ini beredar di masyarakat, hal ini diperkuat oleh beberapa penelitian madu sebagai antibakteri dan mempercepat regenerasi sel-sel jaringan yang rusak.9 Kandungan flavonoid dan asam phenolik pada madu yang berfungsi sebagai antimikroba.10 Madu telah digunakan sejak zaman kuno untuk perbaikan luka.11 Pengobatan India menyatakan madu sebagai sumber kehidupan dan pengobatan.12 Madu juga telah digunakan untuk mengobati luka pada Perang Dunia I. Literatur lain juga telah menyatakan madu bermanfaat mengurangi tingkat infeksi13 dan telah diketahui bahwa madu mempunyai sifat antibakteri.14
Dalam pengobatan tradisional, madu telah dimanfaatkan untuk menahan luka-luka bakar yang terjadi pada kulit. Jika diusapkan pada daerah yang terbakar, madu akan mengurangi rasa sakit dan mencegah pembentukan lepuhan.15 Kandungan osmolaritas yang tinggi pada madu merupakan pencegah infeksi dan mempercepat waktu penyembuhan luka. Kandungan madu yang berperan sebagai antibiotik adalah hidrogen perioksida.11 Kandungan madu lainnya : air 17,1%, karbohidrat total 82,4%, dan 0,5 %, asam amino, vitamin, dan mineral.16
Oleh karena hal diatas, produk perlebahan seperti Beepollen diduga mempunyai efek anti bakteri dan dapat mempercepat waktu penyembuhan luka sama seperti madu. Sehingga, hal ini lah yang mendasari dilakukannya penelitian tentang perbandingan efektivitas Madu dan Bee Pollen terhadap proses perbaikan luka bakar.
1.2 Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang diatas, maka rumusan masalah penelitian ini adalah:
Apakah Beepollen lebih efektif dibandingkan Madu dalam proses perbaikan luka bakar?
1.3 Tujuan Penelitian 1.3.1 Tujuan Umum
Untuk mengetahui efektivitas Madu dan Beepollen dalam proses perbaikan luka bakar.
1.3.2 Tujuan Khusus
1. Mengetahui rerata diameter perbaikan luka bakar dengan menggunakan Madu
2. Mengetahui rerata diameter perbaikan luka bakar dengan menggunakan Beepollen
3. Membandingkan rerata diameter perbaikan luka bakar dengan menggunakan Madu dan Beepollen.
1.4 Manfaat Penelitian
Hasil dari penelitian ini diharapkan dapat bermanfaat untuk hal-hal berikut:
1. Bagi Peneliti
Dapat menambah informasi dan pengetahuan tentang penggunaan madu dan Beepollen dalam penyembuhan luka bakar derajat II.
2. Bagi Ilmu Pengetahuan
Sebagai salah satu referensi untuk peneliti lain tentang efektivitas Beepollen sebagai anti luka bakar derajat II.
3. Bagi Masyarakat
Sebagai terapi alternatif dalam proses perbaikan luka bakar derajat II, yang memiliki efek samping lebih sedikit dari antibiotik topikal.
BAB 2
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Kulit
2.1.1 Anatomi Kulit
Kulit terdiri atas dua lapisan utama, yaitu epidermis dan dermis. Kulit merupakan organ terbesar dari tubuh manusia dimana 15% dari berat badan total manusia dewasa adalah kulit, sekitar 2,7-3,6 kg dan dengan luas sekitar 1,5-1,9 meter persegi.17 Satu pertiga volume sirkulasi darah tubuh disalurkan untuk kulit dengan ketebalan yang bervariasi antara 0,5-6 mm. Fungsi utama kulit adalah sebagai pelindung. Satu inci (2,5 cm) kulit terdiri atas 650 kelenjar keringat, 20 pembuluh darah, 60.000 melanosit, dan ribuan ujung saraf tepi.1
Gambar 2.1. Anatomi Kulit
A. Epidermis
Epidermis merupakan lapisan paling luar dan paling tipis dari kulit, yang tidak memiliki pembuluh darah dan sistem persarafan. Epidermis berfungsi sebagai sistem pertahanan pertama tubuh manusia (First Skin Imun System). Sel utama epidermis merupakan sel epitel skuamosa berjenjang (keratinosit). Diantara epidermis dan dermis terdapat lapisan tipis yang berfungsi sebagai pembatas yang disebut Basement Membrane Zone(BMZ) atau Dermal Epidermal Junction (DEJ).
Epidermis memiliki ketebalan 0,4-0,6 mm dan memiliki 5 lapisan, yaitu : stratum korneum, stratum lusidum, statum granulosum, stratum spinosum, dan startum basale atau germinativum yang menempel pada dermis.1
Gambar 2.2. Lapisan Epidermis Kulit
Stratum Korneum
Terdiri dari 15-20 lapis sel gepeng berkeratin tanpa sitoplasma yang banyak mengandung keratin filamentosa yang mengandung enam macam polipeptida.
Stratum Lusidum
Hanya ditemukan pada kulit yang tebal, terdiri atas lapisan tipis translusen sel eosinofilik yang sangat pipih. Organel dan inti telah menghilang.
Desmosom masih terlihat diantara sel-sel yang bersebelahan.
Stratum Granulosum
Terdiri dari 3-5 sel poligonal gepeng yang berdiferensiasi ke terminal.
Sitoplasma berisi massa basofilik yang di sebut granul keratohialin.
Stratum Spinosum
Merupakan lapisan epidermis paling tebal. Terdiri dari sl-sel kuboid dengan inti ditengah dan nukleus dan sitoplasma aktif menyintesis filamen keratin.
Stratum Basale
Terdiri atas sel kuboid atau kolumnar basofilik yang terletak di atas membran basal pada daerah antara epidermis-dermis.1
B. Dermis
Dermis merupakan lapisan kedua kulit yang merupakan jaringan ikat, memiliki banyak pembuluh darah, dan memiliki sistem saraf dan kelenjar tubuh.
Dermis terdiri atas jaringan ikat, protein kolagen dan elastin, fibroblas, sistem imun (makrofag, sel mast, limfosit), dan sistem saraf. Dermis terdiri dari dua lapisan utama, yaitu papilaris dan retikularis, dengan tebal papilare satu perlima dari retikularis (melekat pada hipodermis).1
C. Hipodermis
Hipodermis atau lapisan subkutan merupakan lapisan paling tebal kulit, terdiri atas jaringan lemak, jaringan ikat, dan pembuluh darah. Hipodermis berfungsi sebagai penyimpan lemak, termoregulator, serta penyangga bagi organ sekitarnya.1
2.1.2 Fisiologi Kulit
Kulit merupakan organ yang memiliki fungsi spesifik seperti:
a) Kulit memiliki fungsi proteksi terhadap bahan kimia, bakteri, dan virus.
Fungsi proteksi dimulai dari kelenjar sebasea yang dikeluarkan dari akar rambut. Kelenjar ini mengandung protein dan lemak yang dapat mencegah kuman masuk melalui pori-pori rambut. Jika kelenjar sebasea tidak bekerja, sel Langerhans akan menangkap dan memproses penempelan limfosit T sehingga kuman dapat diatasi. Pigmen juga memiliki fungsi sebagai pelindung, terutama terhadap sinar UV.
b) Sensasi terhadap rasa sakit, sentuhan, tekanan, dan suhu. Sel Merkel memiliki fungsi utama sebagai mekanoreseptor karena merupakan sel penentu rasa. Sel lainnya, yaitu korpuskel Meissner bertugas menerima sentuhan, korpuskel Paccini bertugas menerima tekanan, getaran, dan tarikan, serta ujung saraf tepi yang berperan dalam menerima sentuhan, nyeri, dan suhu.
c) Sintesis vitamin D, yang mengubah sterol menjadi kolekalsiferol (vitamin D). Vitamin D diubah menjadi kalsitriol yang berfungsi sebagai prekursor penyerapan kalsium di usus halus.
d) Termoregulasi pada kulit memiliki mekanisme primer, yaitu melalui sirkulasi dan keringat. Sirkulasi pada kulit merupakan kegiatan reaksi vasodilatasi dan vasokonstriksi pada pembuluh darah dermis dan hipodermis. Pada saat vasodilatasi, terjadi reaksi pelepasan panas melalui konduksi, konversi, radiasi, dan evaporasi. Pada saat vasokonstriksi, terjadi reaksi fisik seperti rambut berdiri, perifer menjadi dingin dan pucat.
e) Ekskresi tubuh terjadi dari hasil keluaran keringat. Keringat menghasilkan 99% air, natrium, klorida, urea, sulfat, dan fosfat.18
2.2 Luka Bakar
2.2.1 Defenisi Luka Bakar
Luka bakar merupakan suatu cedera yang dapat menimbulkan angka kesakitan dan kematian yang tinggi dibandingkan dengan cedera yang lain. Luka bakar dapat ditimbulkan oleh berbagai hal, seperti terbakar api baik langsung maupun tidak langsung, terpapar suhu yang tinggi dan sinar matahari, bahan kimia, listrik, dan lain-lain.5
2.2.2 Klasifikasi Luka Bakar
Kedalaman luka bakar tergantung pada derajat sumber panas, sumber penyebab, dan lamanya kontak dengan tubuh penderita. Luka bakar dapat dibedakan berdasarkan derajat luka bakar, yaitu:
a. Luka Bakar Derajat I
Kerusakan mengenai lapisan epidermis, kulit merah, tidak dijumpai bullae, adanya rasa nyeri akibat ujung-ujung saraf sensorik mengalami iritasi. Penyembuhan dapat terjadi dalam waktu 5-7 hari secara spontan tanpa pengobatan khusus.3
Gambar 2.3. Luka Bakar Derajat I
b. Luka bakar Derajat II
Kerusakan mengenai epidermis dan sebagian dermis, berupa reaksi inflamasi disertai proses eksudasi. Terdapat bullae, nyeri akibat ujung- ujung saraf sensorik mengalami iritasi. Dibedakan atas dua bagian, yaitu:
Derajat II Dangkal/ Superficial (IIA)
Kerusakan mengenai bagian epidermis dan lapisan atas dermis.
Organ-organ yang ada di kulit seperti folikel rambut, kelenjar keringat,dan kelenjar sebasea masih banyak. Penyembuhan dapat terjadi secara spontan dalam waktu 10-14 hari tanpa terbentuk sikatriks.3
Derajat II Dalam/ Deep (IIB)
Kerusakan kulit hampir mengenai seluruh bagian dermis dan jaringan epitel tinggal sedikit. Organ-organ kulit seperti folikel rambut, kelenjar keringat, kelenjar sebasea tinggal sedikit.
Penyembuhan terjadi lebih dari satu bulan dan disertai parut hipertrofi.3
Gambar 2.4. Luka Bakar Derajat II
c. Luka Bakar Derajat III
Kerusakan meliputi seluruh kulit dan lapisan yang lebih dalam sampai mencapai jaringan subkutan, otot, dan tulang. Organ kulit mengalami kerusakan, tidak ada lagi sisa elemen epitel. Tidak dijumpai bullae, kulit yang terbakar berwarna abu-abu, lebih pucat hingga berwarna hitam kering. Terjadi koagulasi protein pada epidermis dan dermis yang dikenal sebagai eskar. Tidak dijumpai rasa nyeri dan hilang sensasi karena ujung- ujung saraf sensorik telah rusak. Penyembuhan terjadi lama karena terjadi epitelisasi spontan.3
Gambar 2.5. Luka Bakar Derajat III
2.2.3 Luas Luka Bakar
Luas luka bakar dinyatakan dalam persen terhadap luas seluruh tubuh. Pada dewasa, digunakan rumus 9, dimana luas kepala, leher, dada, punggung, perut, pinggang, dan bokong, ekstremitas atas kanan, ekstremitas atas kiri, paha kanan, paha kiri, tungkai dan kaki kanan, dan tungkai serta kaki kiri masing-masing 9%, sisanya 1% adalah daerah genital. Untuk anak, kepala dan leher 15%, badan depan dan belakang masing-masing 20%, ekstremitas atas kanan dan kiri masing-masing 10%, ekstremitas bawah kanan dan kiri masing-masing 15%. Untuk bayi digunakan rumus 10.4
Gambar 2.6. Skema Pembagian Luas Luka Bakar dengan Rule of Nine
2.2.4 Penyembuhan Luka
2.2.4.1 Fisiologi Penyembuhan Luka
Normalnya, tubuh dapat memperbaiki kerusakan jaringan kulit dengan sendirinya. Penyembuhan luka terdiri dari fase inflamasi, fase proliferasi, dan fase maturasi atau remodelling.
Fase inflamasi terjadi pada saat awal luka terjadi (hari ke-0) hingga hari ke-3 atau ke-5. Pada fase ini, terjadi respon vaskular dan respon inflamasi. Respon vaskular diawali dengan respon hemostatik tubuh selama 5 detik pasca luka.
Jaringan disekitar luka mengalami iskemia yang merangsang pelepasan histamin dan zat vasoaktif yang menyebabkan reaksi vasodilatasi dan vasokonstriksi, pelepasan trombosit, dan pembentukan lapisan fibrin. Lapisan fibrin selanjutnya akan membentuk scab (keropeng) diatas permukaan luka untuk melindungi luka agar terlindungi dari kontaminasi kuman.
Respon inflamasi merupakan reaksi non-spesifik tubuh dalam melindungi tubuh agar benda asing tidak masuk ke dalam tubuh. Respon ini diawali pada saat keluarnya darah ke sekitar luka yang mengakibatkan bengkak, kemerahan, demam, nyeri, dan penurunan fungsi tubuh.
Fase proliferasi, dimulai pada hari ke-2 sampai hari ke-24 yang terdiri dari proses destruktif (pembersihan), proses proliferasi atau granulasi (pertumbuhan sel-sel baru), serta epitelisasi (penutupan). Pada proses destruktif, sel polimorf dan makrofag akan membunuh bakteri dan terjadi proses penyembuhan luka.
Makrofag juga akan menstimulasi fibroblas untuk menghasilkan kolagen dan elastin sehingga terjadi proses angiogenesis. Kolagen dan elastin berfungsi untuk menutupi luka dengan membentuk ikatan jaringan yang baru. Proses ini dikenal dengan proses granulasi, yaitu tumbuhnya sel-sel baru. Proses epitelisasi terjadi setelah jaringan granulasi muncul dan dimulai dari tepi luka yang mengalami proses perubahan warna yang akan menutupi luka.
Fase remodelling atau maturasi terjadi pada hari ke-21 hingga satu atau dua tahun. Pada fase ini, terjadi sintesis matriks ekstraselular, degradasi sel, dan proses remodeling (aktivitas selular dan vaskular menurun). Aktivitas utama yang terjadi adalah penguatan jaringan bekas luka dengan aktivitas remodeling kolagen
dan elastin pada kulit. Kontraksi elastin dan kolagen menyebabkan penekanan ke permukaan kulit. Kondisi yang sering muncul pada fase ini yaitu gatal, serta penonjolan epitel pada permukaan kulit. 1
2.2.4.2 Patofisiologi Luka Bakar
Luka bakar disebabkan oleh perpindahan energi dari sumber panas ke tubuh.19 Efek utama saat mengalami luka bakar ialah syok. Pembuluh kapiler rusak dan permeabilitas meningkat akibat terpapar suhu yang tinggi, juga dapat terjadi anemia akibat terkenanya sel darah. Permeabilitas yang meningkat akan menyebabkan edema dan bullae yang mengandung banyak elektrolit sehingga volume cairan intravaskuler berkurang. Kehilangan cairan juga dapat terjadi pada luka bakar yang mengakibatkan kerusakan kulit akibat penguapan yang berlebihan pada kulit. Jika luas luka kurang dari 20%, maka tubuh masih dapat mengkompensasi, namun jika lebih dari 20%, maka akan terjadi syok hipovolemik dengan gejala khas, seperti gelisah, pucat, dingin, berkeringat, nadi kecil dan cepat, tekanan darah menurun, dan produksi urin berkurang.4
2.2.5 Terapi Luka Bakar
Upaya pertama saat terbakar yaitu menghentikan sumber api yang ada di tubuh, dengan cara menutupi atau menyelimuti bagian yang terbakar untuk menghentikan pasokan oksigen pada api yang menyala. Proses koagulasi protein sel di jaringan yang terpajan suhu tinggi berlangsung terus walaupun api sudah dipadamkan sehingga kerusakan jaringan masih terus terjadi. Pertolongan pertama setelah sumber panas hilang ialah merendam luka bakar di dalam air atau menyirami luka dengan air mengalir selama minimal lima belas menit.
Pada luka bakar ringan, penanganan yang utama ialah mendinginkan daerah luka dengan air, mencegah infeksi, dan membiarkan sisa-sisa epitel untuk berproliferasi, serta menutup luka. Pada luka bakar berat, selain penanganan seperti pada luka bakar ringan, perlu segera diberikan resusitasi cairan untuk mencegah terjadinya syok.
Bila penanganan awal telah dilakukan, dan pasien sudah dalam kondisi yang stabil, maka kita perlu melakukan perawatan terhadap luka bakar untuk mencegah terjadinya infeksi akibat tidak dijumpai lagi antibodi pada daerah luka bakar, yang sangat baik untuk pertumbuhan kuman. Terapi antibakteri topikal tidak berfungsi mensterilkan luka bakar, namun hanya mengurangi jumlah bakteri agar meminimalisir terjadinya infeksi. Terapi topikal akan mengubah luka yang kotor dan terbuka menjadi luka yang tertutup dan bersih.5
2.3 Madu
Madu adalah produk alami dari lebah yang sifatnya lengket dan memiliki rasa yang manis.20
2.3.1 Karakteristik
Madu bersifat higroskopis, yakni kemampuan suatu bahan untuk menarik air dari udara sekitarnya hingga mencapai kesetimbangan. Sifat higroskopis ini dikarenakan madu merupakan larutan gula yang lewat jenuh (supersaturated solution) dan tidak stabil, sehingga disebut medium hiperosmotik. Sekitar 84%
padatan pada madu adalah campuran dari monosakarida, yakni fruktosa dan glukosa. Tekanan osmosis pada madu lebih besar dari 2.000 miliosmol.20
2.3.2 Komposisi
Madu mengandung glukosa, air, fruktosa, asam amoniak, asam lemak dan sukrosa. Madu juga mengandung mineral-mineral seperti fosfor, kalsium, potasium, sodium, besi, magnesium, dan tembaga. Jika seseorang kekurangan unsur-unsur ini, maka akan menyebabkan terjadinya anemia. Madu juga mengandung vitamin, seperti vitamin C dan B kompleks yang berfungsi untuk merangsang tubuh memproduksi protein dan hormon, serta meningkatkan daya tahan tubuh. Madu juga mengandung asam organik dan berbagai enzim, khususnya enzim anfirtis, yang berfungsi untuk membantu pengubahan sukrosa
menjadi glukosa dan fruktosa sehingga dapat diserap dan dicerna oleh tubuh dengan mudah. Madu juga mengandung enzim amilase dan enzim lisozim.20
Tabel 2.1. Kandungan madu dan nilai nutrisi
Unsur Kadar
Air 20 gr
Protein 0,3 gr
Karbohidrat 79,5 gr
Vitamin B1 0,04 mg
Asam Nikotinik 0,2 mg
Fosfor 0,16 mg
Asam panthotenik 0,2 mg
Kalsium 5 mg
Tembaga 0,2 mg
Vitamin C 4 mg
Besi 0,9 mg
Asam stearic 50 mg
Potasium 10 mg
2.3.3 Manfaat Madu
1. Sebagai Antimikroba
Madu dapat meningkatkan tekanan osmosis yang ada di permukaan luka, sehingga pertumbuhan bakteri akan terhambat. Beberapa peneliti melakukan penelitian tentang mekanisme dan efek madu terhadap bakteri.
Maka, ditemukan hal-hal berikut ini:
a) Madu mempunyai tekanan osmotik yang tinggi sehingga memiliki efek antibakteri.
b) pH madu rata-rata 3,5
c) adanya zat inhibin di dalam madu, yaitu hidrogen peroksid
2. Sebagai Antikanker
Lebah mengeluakan beberapa unsur yang mencegah pecahnya sel-sel serbuk sari yang ada di dalam madu. Hal inilah yang membuat orang- orang berpendapat bahwa madu dapat digunakn sebagai antikanker.
3. Sebagai Antiperdarahan 4. Mengobati Luka
Madu memiliki kandungan unsur-unsur gizi yang berperan dalam pembentukan jaringan yang baru. Madu meningkatkan kadar lendir pada luka sehingga membantu proses pengkapuran dan mempercepat proses penumbuhan sel-sel yang baru.20
2.4 Bee Pollen
Beepollen adalah bunga serbuk sari yang dikumpulkan dari tubuh lebah saat memasuki sarang.21 Menurut Campos, Beepollen merupakan hasil dari penggumpalan pollen.22Beepollen mengandung delapan asam amino penting yang setara dengan 5-7 kali makanan berprotein tinggi. Bee Pollen juga mengandung berbagai vitamin, seperti vitamin A,D,E,K,C, bioflavonoid, vitamin B kompleks, asam pantotenik (B5), dan niasin. Kadar vitamin B5 yang tinggi berfungsi untuk melindungi kelanjar adrenal dalam keadaan stress.21 Nutrisi lain yang penting dalam Bee Pollen adalah mineral, lemak, dan substansi lainnya.22
2.4.1 Karakteristik
Bee Pollen berbentuk biji-bijian yang berukuran 2,5-250 μm. Bentuk, warna, ukuran, dan berat dari Bee Pollen tergantung pada spesies tumbuhan yang digunakan. Bentuk Pollen yaitu bundar, silinder, segitiga, ataupun seperti duri.
Warna Bee Pollen juga bervariasi mulai dari kuning cerah hingga kehitaman.23 2.4.2 Komposisi Bee Pollen
Kandungan Bee Pollen terdiri dari 22,7% protein, dimana 10,4% nya merupakan asam amino esensial seperti metionin, lisin, leusin, histidin, treonin, valin, penilalamin, triptopan, dan isoleusin. Bee Pollen juga mengandung asam
nukleat seperti ribonukleat. Kadar karbohidrat yang dapat dicerna sekitar 30,8%, kadar glukosa dan fruktosa sekitar 25,7%. Dan kandungan lemak sekitar 5,1%.24
Tabel 2.2. Komposisi dari Bee Pollen (kering)22
Komponen utama Kandungan Minimum sampai maksimum (g/100g berat kering)
Protein Lemak
Karbohidrat total*
Serat, Pektin Ash
Tidak diketahui
10-40 1-13 13-55 0,3-20 2-6 2-5 11 (3.4)
*karbohidrat total diperoleh setelah determinasi protein dan lemak
2.4.3. Bioaktivitas
1. Anti oksidan/ Anti Penuaan
Kerusakan zat oksidatif menyebabkan peningkatan kadar zat radikal bebas. Radikal bebas yang berlebihan dalam tubuh merupakan faktor utama yang menyebabkan terjadinya penuaan dini. Antioksidan berfungsi untuk meningkatkan perlindungan tubuh terhadap radikal bebas. Beberapa penelitian menunjukkan bahwa Bee Pollen mampu menurunkan kadar lipoperoksida pada hewan coba.
Radikal bebas juga berperan terhadap lipofuscin,yang dikenal sebagai pigmen penuaan. Lipofusin sering terlihat berupa titik kecoklatan yang berada di tanagn maupun punggung pada tubuh orang tua. Jumlah lipofusin yang berlebihan dapat menghambat penyerapan nutrisi di dalam tubuh.
2. Meningkatkan sel darah merah dan hemoglobin
Pada ummnya, bee pollen dikonsumsi untuk meningkatkan energi. Bee Pollen dianggap mampu meningkatkan sel darah merah dan hemoglobin yang membawa oksigen untuk metabolisme. Hal ini yang memicu pemikiran adanya hubungan antara Bee Pollen dan energi.21
BAB 3
KERANGKA TEORI DAN KERANGKA KONSEP
3.1 Kerangka Teori
Suhu Tinggi
Matahari
Radiasi
Zat Kimia
Kulit Epidermis
Dermis
Subkutis
Luka bakar
Madu
Bee pollen Fase Inflamasi
Perbaikan
epidermis kulit Fase Proliferasi
Fase maturasi
3.2 Kerangka Konsep Penelitian
Berdasarkan tujuan penelitian yang telah diuraikan sebelumnya, maka kerangka konsep pada penelitian ini adalah:
Variabel Independent Variabel Dependent
3.3 Hipotesis
Dijumpai perbedaan efektivitas antara Madu dan Beepollen, dimana Madu lebih efektif dibandingkan Beepollen dalam proses perbaikan luka bakar.
Luka Bakar Perbaikan diameter luka
bakar
Madu dan Bee Pollen
BAB 4
METODE PENELITIAN
4.1 Rancangan Penelitian 4.1.1 Jenis Rancangan Penelitian
Penelitian ini merupakan penelitian true experimental dengan desain penelitian randomized post test only control group design. Penelitian menggunakan hewan coba yang dibagi menjadi 2 kelompok penelitian.
K1
K2
Keterangan :
S = Sampel R = Randomisasi
K1 = Kelompok perlakuan dengan pemberian Madu topikal selama 14 hari K2 = Kelompok perlakuan dengan pemberian Bee Pollen topikal selama 14 hari O1 = Hasil pengamatan kelompok perlakuan dengan pemberian madu
O2 = Hasil pengamatan kelompok perlakuan dengan pemberian Bee Pollen
R O1 S
O2
4.1.2 Tempat Penelitian
Penelitian akan dilakukan di Laboratorium Biologi Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA) Universitas Sumatera Utara.
4.1.3 Waktu dan Lokasi Penelitian
Penelitian direncanakan dimulai pada September - Desember 2016.
Penelitian akan dilakukan setelah mendapat persetujuan Ethical Clearance dari Komisi Etik Fakultas Kedokteran Universitas Sumatera Utara.
4.2 Populasi dan Sampel Penelitian
Pada penelitian ini akan digunakan mencit Duoble Distsch Webster, umur 2-3 bulan, berat badan 20-30 gram, sehat, belum pernah digunakan untuk penelitian lain. Jumlah hewan coba perkelompok diperoleh berdasarkan rumus Federer (1963), sebagai berikut:
Keterangan : n = besar sampel
t = jumlah kelompok hewan coba
Maka, besar sampel yang diperlukan adalah:
(t-1)(n-1)≥ 15
(t-1)(n-1) ≥ 15 (2-1)(n-1) ≥ 15
(n-1) ≥ 15 n ≥ 16
Pemilihan sampel dan pengelompokannya dilakukan menggunakan metode randomisasi sederhana (simple random sampling). Berdasarkan rumus Federer, sampel yang diperlukan sebanyak minimal 16 ekor hewan coba pada tiap kelompok. Dengan penambahan perkiraan drop out, maka tiap kelompok diperlukan hewan coba sebanyak 17 ekor mencit. Jadi jumlah hewan coba yang dibutuhkan untuk penelitian ini berjumlah 34 ekor yang memenuhi kriteria inklusi yang akan di beri nomor dan dibagi menjadi 2 kelompok. Untuk kelompok drop out, mencit yang mati selama masa penelitian akan dikeluarkan dari kelompok sampel penelitian.
4.2.1 Kriteria Inklusi
1. Mencit galur Duoble Distsch Webster, umur 2-3 bulan, berat badan 20-30 gram.
2. Mencit sehat.
4.2.2 Kriteria Eksklusi
1. Mencit dengan luka bakar derajat I 2. Mencit dengan luka bakar derajat III 4.3 Pemeliharaan dan Persiapan Hewan Coba
Sebelum penelitian dilakukan, adaptasi hewan coba dilakukan selama 24 jam dengan diet standar yaitu makan dan minum ad libitum. Hewan coba dipelihara selama masa penelitian.
4.3.1 Cara Kerja
4.3.1.a. Pembuatan Luka Bakar Derajat II
Cukur bagian punggung mencit. Lakukan anastesi pada daerah punggung dengan dosis 0,2 cc Lidokain. Kulit dilukai dengan cara menetesi kulit mencit dengan air yang bersuhu 100o celcius dengan menggunakan spuit 5 cc selama 7 detik. Setelah 7 detik, kita sedot kembali air dengan menggunakan spiut. Agar
luka berbentuk lingkaran, kita batasi dengan besi atau logam yang berbentuk lingkaran dengan diameter 2 centimeter.
4.3.1.b. Prosedur Penanganan Luka Bakar Derajat II
Penanganan dilakukan sebanyak dua kali sehari yang selalu dibersihkan sebelum mengaplikasikan madu dan Bee Pollen ke mencit. Sebelum dilakukan pengolesan madu dan Beepollen, peneliti terlebih dahulu melakukan pengamatan terhadap luka bakar mencit untuk melihat perbaikan luka pada mencit setiap harinya. Setelah dilakukan pengamatan, peneliti mengukur diameter luka pada mencit untuk melihat apakah terjadi perbaikan diameter luka bakar. Pengukuran dilakukan dengan mengukur jarak yang terjauh dari satu sisi ke sisi luka bakar dengan menggunakan penggaris dalam satuan sentimeter. Pengukuran dilakukan hanya satu kali dalam sehari. Setelah dilakukan pengukuran diameter luka, lalu dilakukan pengolesan madu dan Beepollen. Olesi madu pada kelompok dengan pemberian madu (K1) dan Bee Pollen pada kelompok dengan pemberian Beepollen (K2) ke punggung mencit yang mengalami luka bakar hingga seluruh luka tertutupi. Pengamatan, pengukuran dan juga pengolesan madu dan Beepollen dilakukan setiap hari selama 14 hari dalam satuan sentimeter.
4.4 Defenisi Operasional
Judul Penelitian: Perbandingan efektivitas madu dan bee pollen dalam perbaikan luka bakar pada mencit berdasarkan diameter luka bakar.
1. Diameter Luka Bakar
a) Diameter merupakan jarak terjauh yang dibentuk oleh luka bakar b) Cara Ukur : two dimentional assesment (perhitungan panjang x
lebar)
c) Alat Ukur : penggaris/ mistar
d) Hasil Ukur : nilai dengan saruan sentimeter e) Skala Pengukuran : rasio
2. Perbaikan Luka Bakar
a) Perbaikan luka bakar merupakan pengecilan diameter luka bakar b) Cara Ukur : two dimentional assesment (perhitungan panjang x
lebar)
c) Alat Ukur : penggaris/ mistar
d) Hasil Ukur : nilai dengan saruan sentimeter e) Skala Pengukuran : rasio
4.5 Analisis Data
Data akan dianalisis dengan ANOVA jika data parametrik terdistribusi normal. Jika data tidak terdistribusi normal, maka data yang diambil non parametrik dan diuji dengan Mann-Whitney U.
BAB 5
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN 5.1. Hasil Penelitian
5.1.1. Deskripsi Lokasi Penelitian
Penelitian dilakukan di Laboratorium Biologi, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Sumatera Utara (FMIPA USU) Medan yang berada di Jalan Bioteknologi No. 1, Kampus Universitas Sumatera Utara, Kelurahan Padang Bulan, Kecamatan Medan Baru, Medan . Lokasi ini dipilih dengan mempertimbangkan kelengkapan sarana dan fasilitas pendukung yang baik untuk menunjang keberhasilan dari penelitian ini.
5.1.2. Karakteristik Sampel dan Analisa Hasil Penelitian
Dalam penelitian ini, sampel yang digunakan adalah 18 ekor mencit jantan galur Double Distsch Webster.
Tabel 5.1. Tabel Perbaikan Diameter Luka Bakar pada Kelompok Madu selama 14 Hari dalam satuan Sentimeter
Hari Mencit 1
Mencit 2
Mencit 3
Mencit 4
Mencit 5
Mencit 6
Mencit 7
Mencit 8
Mencit 9
1 2,0 2,0 2,0 2,0 2,0 2,0 2,0 2,0 2,0
2 1,5 1,7 1,9 1,6 1,8 1,7 1,6 1,6 1,8
3 1,5 1,6 1,8 1,6 1,7 1,6 1,6 1,5 1,7
4 1,5 1,5 1,8 1,3 1,5 1,5 1,4 1,4 1,5
5 1,4 1,5 1,7 1,3 1,4 1,5 1,4 1,4 1,5
6 1,3 1,4 1,7 1,3 1,3 1,4 1,3 1,2 1,4
7 1,3 1,3 1,7 1,2 1,3 1,4 1,2 1,2 1,3
8 1,3 1,3 1,6 1,2 1,3 1,4 1,2 1,1 1,3
9 1,2 1,2 1,6 1,1 1,3 1,2 1,2 1,1 1,3
10 1,2 0,8 1,6 1,1 1,2 1,1 1,1 1,0 1,2
11 0,9 0,6 1,5 0,9 0,9 0,8 0,8 0,7 0,8
12 0,5 0,5 1,5 0,5 0,8 0,5 0,3 0,6 0,5
13 0,0 0,5 1,5 0,0 0,7 0,0 0,0 0,5 0,0
14 0,0 0,5 1,4 0,0 0,7 0,0 0,0 0,2 0,0
Berdasarkan Tabel 5.1, dapat dilihat bahwa pada kelompok pemberian Madu terjadi perbaikan diameter luka bakar yang progresif pada mencit 1, 4, 6, 7, dan 9. Hal ini terlihat jelas karena pada mencit 1, 4, 6, 7, dan 9 mengalami penyembuhan total pada hari ke 14. Pada mencit 2, 3, 5, dan 8 juga terjadi perbaikan diameter luka bakar, namun perbaikan diameter luka bakar tidak sebaik pada mencit 1, 4, 6, 7, dan 9, terutama pada mencit 3 dimana diameter luka bakar pada mencit 3 setelah 14 hari pengolesan madu masih 1,4 sentimeter.
Tabel 5.2 Tabel Perbaikan Diameter Luka Bakar pada Kelompok Beepollen selama 14 Hari dalam satuan Sentimeter
Hari Mencit 1
Mencit 2
Mencit 3
Mencit 4
Mencit 5
Mencit 6
Mencit 7
Mencit 8
Mencit 9
1 2,0 2,0 2,0 2,0 2,0 2,0 2,0 2,0 2.0
2 1,8 1,9 1,7 1,8 1,9 1,5 1,8 1,8 1,6
3 1,8 1,7 1,7 1,7 1,7 1,4 1,6 1,6 1,6
4 1,5 1,5 1,5 1,5 1,5 1,3 1,5 1,5 1,2
5 1,4 1,5 1,5 1,5 1,5 1,3 1,5 1,5 1,2
6 1,4 1,4 1,5 1,5 1,5 1,3 1,4 1,5 1,1
7 1,3 1,3 1,5 1,4 1,5 0,9 1,3 1,3 1,1
8 1,2 1,1 1,3 1,4 1,4 0,7 1,3 1,3 1,1
9 1,2 1,1 1,2 1,3 1,4 0,7 1,3 1,2 1,1
10 1,2 1,1 1,2 1,3 1,3 0,7 1,3 1,2 1,1
11 0,9 1,0 0,7 1,0 1,0 0,4 0,9 1,1 0,8
12 0,7 1,0 0,5 0,7 0,7 0,2 0,7 1,1 0,5
13 0,5 0,9 0,0 0,5 0,4 0,1 0,6 1,0 0,3
14 0,0 0,9 0,0 0,5 0,0 0,0 0,6 1,0 0,0
Berdasarkan Tabel 5.2, dapat dilihat bahwa pada kelompok pemberian Beepollen terjadi perbaikan diameter luka bakar yang progresif pada mencit 1, 3, 5, 6, dan 9. Hal ini terlihat jelas karena pada mencit 1, 3, 5, 6, dan 9 mengalami penyembuhan total pada hari ke 14. Pada mencit 2, 4, 7, dan 8 juga terjadi
perbaikan diameter luka bakar, namun perbaikan diameter luka bakar tidak sebaik pada mencit 1, 3,5, 6, dan 9.
Tabel 5.3. Rerata Diameter Luka pada Kelompok Madu dan Beepollen dalam Sentimeter
Kelompok Pemberian N Rerata Diameter
Standar Deviasi
Madu 9 0,311 0,4833
Beepollen 9 0,333 0,4213
Berdasarkan hasil penelitian pada Tabel 5.3 di atas, kelompok dengan rerata diameter terkecil adalah kelompok dengan pemberian Madu, yaitu 0,311±0,4833 sentimeter. Sedangkan kelompok dengan rerata diameter terbesar adalah kelompok dengan pemberian Beepollen, yaitu 0,333±0,4213 sentimeter.
A. Uji Normalitas Data
Pada penelitian ini, uji normalitas data yang digunakan adalah uji Shapiro-Wilk. Data dinyatakan terdistribusi normal jika p value > 0,05 dan dinyatakan tidak terdistribusi normal jika p value < 0,05. Hasil uji normalitas data dapat dilihat pada Tabel 5.4 berikut.
Tabel 5.4. Normalitas Diameter Perbaikan Luka dengan Uji Shapiro-Wilk Kelompok Pemberian Statistik Df Sig.
Madu 0,732 9 0,003
Beepollen 0,772 9 0,010
Berdasarkan Tabel 5.4, diperoleh nilai signifikansi untuk kelompok Madu sebesar 0,003 dan 0,010 untuk kelompok Beepollen. Karena nilai signifikansi kedua kelompok <0,05, maka dikatakan bahwa data berdistribusi tidak normal.
B. Uji Homogenitas
Uji homogenitas dilakukan untuk melihat apakah varian dari beberapa populasi adalah sama (homogen). Jika nilai signifikansi <0,05, maka dikatakan bahwa varian dari kelompok populasi data adalah tidak sama. Demikian juga sebaliknya.
Tabel 5.5. Uji Homogenitas Diameter Perbaikan Luka pada Kelompok Pemberian
Levene Statistic df1 df2 Sig.
0,000 1 16 1,000
Berdasarkan hasil uji homogenitas pada tabel diatas, diperoleh p value sebesar 1,000, yang nilainya >0,05. Maka diketahui bahwa kelompok populasi data pada penelitian ini memiliki varian yang sama (homogen).
C. Uji Komparabilitas
Uji komparabilitas bertujuan untuk membandingkan rerata diameter luka pada kelompok pemberian madu dan Beepollen. Analisis Komparatif yang digunakan adalah uji untuk data non parametrik, yaitu Mann-Whitney U.
Tabel 5.6. Uji Komparabilitas Data dengan menggunakan Uji Hipotesis Mann-Whitney U
Kelompok Pemberian Hari 14 Asymp. Sig. (2-tailed) 0,884
Setelah dilakukan uji hipotesis nonparametrik dengan metode Mann-Whitney U dengan tingkat kemaknaan 0,05 (α = 5 %,) diperoleh nilai p adalah 0,884 (p>0,05), yang berarti tidak ada perbedaan efektivitas yang signifikan pada madu dan beepollen dalam perbaikan luka bakar.
5.2 Pembahasan
Penelitian ini merupakan penelitian true experimental design dengan tujuan untuk membandingkan efektivitas antara madu dan beepollen dalam perbaikan luka bakar berdasarkan diameter luka bakar.
Berdasarkan nilai uji statistik pada Tabel 5.3, dapat dilihat bahwa rerata diameter luka pada kelompok madu lebih kecil dibandingkan rerata kelompok beepollen (0,311< 0,333). Hal ini sesuai dengan penelitian sebelumnya, Noori S. Al-Waili dkk, dimana dikatakan bahwa madu dapat mempercepat waktu penyembuhan luka bakar dangkal maupun luka bakar dalam.25
Hal ini mungkin dikarenakan pada penelitian sebelumnya, madu telah terbukti secara signifikan (p<0,001) pada uji prospektif, randomisasi, uji klinis, lebih cepat dalam menyembuhkan luka bakar superfisial. Pada penelitian sebelumnya yang dilakukan pada 52 pasien luka bakar yang diobati dengan madu, 91% luka sembuh dengan steril dalam waktu 7 hari. Molan P.C menemukan bahwa granulasi jaringan yang sehat lebih cepat pada pasien yang diobati dengan madu (mean 7,4 hari). Dalam waktu 7 hari, 84% luka yang diobati dengan madu menunjukkan proses epitelisasi yang memuaskan, dan sembuh 100% dalam waktu 21 hari.14
Perbaikan diameter luka pada kelompok madu pada tabel 5.3 juga dapat disebabkan oleh karena Madu memiliki kandungan gula dan juga osmolaritas yang tinggi, yang dapat menghambat pertumbuhan mikroba.26 Madu juga dapat mengurangi inflamasi, pembengkakan, dan nyeri pada luka bakar dengan cepat, mengurangi bau, mempercepat pelepasan jaringan nekrosis, mempercepat granulasi dan reepitelisasi dengan bekas luka yang minimal.27tanpa menyebabkan resistensi.25
Pada kelompok pemberian beepollen berdasarkan Tabel 5.3 didapati rerata diameter luka 0,333, yang nilainya lebih besar dari kelompok pemberian madu, namun tidak begitu jauh berbeda dengan kelompok pemberian madu.
Hal ini dapat disebabkan karena beepollen juga merupakan produk perlebahan yang komposisinya tidak jauh berbeda atau hampir sama dengan komposisi madu.
Peneliti tidak menemukan penelitian-penelitian sebelumnya yang secara khusus mencari perbandingan efektivitas antara madu dan beepollen dalam perbaikan diameter luka bakar.
Namun, pada penelitian sebelumnya oleh Vassev, dkk, menyatakan bahwa beepollen juga memiliki efek anti inflamasi yang tinggi yang dapat mencegah aktivitas dari siklooksigenase dan lipoksigenase, yaitu suatu enzim yang bertanggung jawab untuk mengubah asam arakidonat menjadi prostaglandin sehingga dapat meminimalisir ataupun menghilangkan rasa nyeri setelah hewan coba terkena luka bakar. Beepollen juga memiliki efek antibiotik yang tinggi yang terdapat pada flavonoid dan asam phenolic, yang dapat memperpendek waktu penyembuhan luka28.
Dikatakan oleh Harbone, J.B, flavonoid merupakan senyawa fenol yang dikenal mempunyai potensi sebagai antioksidan serta antiiinflamasi. Selain itu, flavonoid juga dapat menyebabkanrusaknya susunan dan perubahan mekanisme permeabilitas dari dinding sel bakteri sehingga mempercepat proses penyembuhan luka29.
Dari hasil penelitian ternyata diperoleh bahwa tidak ada perbedaan efektivitas yang signifikan pada madu dan beepollen dalam perbaikan luka bakar, sehingga hal ini tidak sesuai dengan hipotesis awal. Maka dapat disimpulkan bahwa madu dan beepollen memiliki efektifitas yang sama dalam perbaikan luka bakar. Bagaimanapun, masih diperlukan penelitian lebih lanjut tentang madu dan beepollen yang berkaitan dengan perbaikan diameter luka bakar.
BAB 6
KESIMPULAN DAN SARAN
6.1. Kesimpulan
Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan mengenai perbandingan efektivitas Madu dan Beepollen dalam perbaikan luka bakar pada mencit berdasarkan diameter luka bakar, dapat ditarik beberapa kesimpulan sebagai berikut:
1. Rerata diameter perbaikan luka bakar pada kelompok pemberian Madu adalah 0,311 centimeter.
2. Rerata diameter perbaikan luka bakar pada kelompok pemberian Bee Pollen adalah 0,333 centimeter.
3. Tidak terdapat perbedaan yang signifikan antara rerata waktu perbaikan diameter luka bakar pada kedua kelompok karena diperoleh nilai p=0,884.
6.2. Saran
Beberapa hal yang dapat disarankan berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan antara lain:
1. Diharapkan agar dilakukan penelitian lebih lanjut tentang perbandingan efektivitas Madu dan Bee Pollen dalam perbaikan diameter luka bakar pada mencit dengan menggunakan sampel yang lebih banyak pada hewan coba.
2. Madu dan Bee Pollen dapat digunakan sebagai terapi alternatif dalam perbaikan luka bakar tanpa menyebabkan resistensi serta untuk menghindari efek samping.
DAFTAR PUSTAKA
1. Arisanty I.P. Konsep Dasar Manajemen Perawatan Luka. Jakarta: Penerbit Buku Kedokteran EGC. 2014. p.1-13.
2. Moenadjat. Luka Bakar Pengetahuan Klinis Praktis. Edisi 2. Jakarta:
Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia. 2003
3. Noer, M.S. Penanganan Luka Bakar. Surabaya: Airlangga University Press.2006. p.1-8.
4. Sjamsuhidajat R, Wim de Jong. Buku Ajar Ilmu Bedah. Edisi 2.Penerbit Buku Kedokteran EGC. 2005
5. Brunner dan Suddarth. Buku Ajar Keperawatan-Medikal Bedah. p:1912.
Jakarta: Penerbit Buku Kedokteran EGC. 2002. p.1912
6. Muthoharoh, L. Gambaran Perilaku Masyarakat Terhadap Kejadian Luka Bakar Ringan di Perumahan Bagasasi Cikarang. [Skripsi]. Program studi Ilmu Keperawatan Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta. 2005
7. Pujisriyani, Aditya Wardana. Epidemiology of Burn Injuries in Cipto Mangunkusumo Hospital from 2009 to 2010.[ Internet]. Tersedia dari:
www.JPRJournal.com
8. Guyton A.C, John E.Hall. Buku ajar Fisiologi Kedokteran. Edisi 11.
Jakarta: Penerbit Buku Kedokteran EGC. 2008.
9. Kartini, M. Efek Penggunaan Madu dalam Manajemen Luka Bakar. Jurnal Kesehatan. Vol 2 No.2. 20 hlm. 2009
10. Gheldof, N., X.H. Wang and Engeseth, N.J. Identification of antioxidant components of honey from variuosfloral sources. J. Agricult. Food Chem.
50:5 870-5 877. 2002
11. Jull A.B, Rodgers, N. Walker. Honey as a Tropical Treatment for Wounds [Internet]. The Cochrane Library 2009. Tersedia dari:
http://thecochranelybrary.com
12. Vidianka, R. Potency of Honey in Treatment of Burn Wounds. J Majority 2015.
13. Rio Y, D. Aziz. Perbandingan Efek Antibakteri Madu Asli Sikabu dengan Madu Lubuk Minturun terhadap Eschericia Coli dan Staphylococcus aureus secara in vitro. [Internet]. Jurnal Kesehatan Andalas. 2012. tersedia dari http://jurnal.fk.unand.ac.id.index.php/arsip-artikel/62.html
14. Molan P.C. Potential of Honey in the Treatment of Wounds and Burns.[internet]. Am J Clin Dermatol 2001;2(1):13-19.
15. Jarvis, D.C. Khasiat Sari Apel dan Madu. Jakarta: Penerbit Prestasi Pustaka. 2002
16. Khan F.R, Abadin U, N Rauf. Review Article: Honey: Nutritional and Medical Value [Internet]. International Jurnal of Clinical Practice. 2007.
tersedia dari: http://www.researchgate.net
17. Perdanakusuma DS. Anatomi Fisiologi Kulit dan Penyembuhan Luka.
Plastic Surgery Department, Airlangga University School of Medicine.
2007
18. Mescher AL. Histologi Dasar Junqueira: Teks dan Atlas. Edisi 12. Jakarta:
Penerbit Buku Kedokteran EGC.2012
19. Rohmawati, N. Efek Penyembuhan Luka Bakar dalam Sediaan Gel Ekstrak Etanol 70% Daun Lidah Buaya (Aloe vera L.) pada Kulit Punggung Kelinci New Zealand. [Skripsi]. Fakultas Farmasi Universitas Muhhamadiyah Surakarta. 2008
20. Al Fady, MF., Madu dan Luka Diabetik. Yogyakarta: Gosyen Publishing.
2015
21. Bruno G. Bee Pollen, Propolis & Royal Jelly. Dean of Academy, Huntington College of Health Science. 2005.[Internet]. Tersedia dari:
www.hchs.edu
22. Campos, M.,Stefan B, Ligia B. Pollen Composition and Standardisation of analytical methods. Jurnal of apicultural Research and Bee World 47(2):158-163 (2008).
23. Luthfi M. Perbandingan Efektivitas Aspirin, Propolis, dan Bee Pollen sebagai Antiplatelet Berdasarkan Waktu Perdarahan pada Mencit. [Skripsi].
Fakultas Kedokteran Universitas Sumatera Utara. 2015
24. Szczesna T. Long- Chain Fatty Acids Composition of Honeybee-Collected Pollen. Jurnal of Apicultural Science. 50(2), p.65-79. 2006.
25. Al Waili, Noori S., Khelod Salom, Ahmad Al Ghamdi. Honey for Wound Healing, Ulcers, and Burns: Data Supporting Its Use in Clinical Practice.
The Scientific World Journal. 11, p.766-787. 2011
26. Sell, Scott A., Patricia S.Wolfe, Andrew J. Spence, Isaac A. Rodrigues, Jennifer M. McCool, Rebecca L. Petrella, et al., a Premilinary Study on the Potential of Manuka Honey and Platelet-Rich Plasma in Wound Healing.
Hindawi Publishing Corporation. International Jurnal of Biomaterials.14 pages. 2012.
27. Lusby, PE., Coombes, JM.Wilikinson. Honey: A Potent agent for Wound Healing?. Wound Care. Vol 29 (6). 2002.
28. Vassev, KK., Pawel O, Justyna K, Lukasz M, Krystyna O., Bee Pollen:
Chemical Composition and Therapeutic Application. Hindawi Publishing Corporation. 6 pg. 2015.
29. Harbone, J.B., Metode Fitokimia : Penentuan cara Modern Menganalisis Tumbuhan. InstitutTeknologi Bandung. Vol 2, p.84-85.1987.
DAFTAR RIWAYAT HIDUP
Nama : Romanti Dahlia Tamba
Tempat, Tanggal Lahir : Medan, 31 Mei 1995
Agama : Kristen Protestan
Alamat : Jalan Perguruan Tinggi Swadaya Gang Rela No.
20 Medan Riwayat Pendidikan :
1. SD Negeri 060791 Medan (2001-2007) 2. SMP Negeri 23 Medan (2007-2010)
3. SMA Swasta Katolik Trisakti Medan (2010-2013) 4. Fakultas Kedokteran Universitas Sumatera Utara
Medan (2013- sekarang)
HASIL UJI STATISTIK
Statistics
madu maduhari14
N Valid 9 9
Missing 0 0
Mean 1,00 ,311
Std. Error of Mean ,000 ,1611
Median 1,00 ,000
Mode 1 ,0
Std. Deviation ,000 ,4833
Variance ,000 ,234
Range 0 1,4
Minimum 1 ,0
Maximum 1 1,4
Sum 9 2,8
Statistics
beepollen beepollenhari14
N Valid 9 9
Missing 0 0
Mean 2,00 ,333
Std. Error of Mean ,000 ,1404
Median 2,00 ,000
Mode 2 ,0
Std. Deviation ,000 ,4213
Variance ,000 ,178
Range 0 1,0
Minimum 2 ,0
Maximum 2 1,0
Sum 18 3,0