BAB II: DOA BERSAMA DI LINGKUNGAN DAN KETERLIBATAN UMAT
A. Doa Bersama di Lingkungan
3) Macam- Macam Doa Bersama
Menanggapi berbagai kebutuhan serta situasi hidup mereka, yang menghadap Tuhan dalam doa. Kecuali doa pagi dan doa malam, berbagai bentuk doa selayaknya mendapat dukungan yang jelas, misalnya:
membaca dan merenungkan sabda Allah, menyiapkan penerimaan sakramen-sakramen, devosi dan persembahan kepada Hati Kudus Yesus, berbagai bentuk kebaktian kepada Santa Perawan Maria, doa sebelum dan sesudah makan, praktek devosi-devosi umat. Paus Yohanes Paulus II, dalam ajuran apostoliknya Rosarium Virginis Mariae, menegaskan bahwa:
Diantaranya layak disebutkan doa Rosario:
“Untuk melanjutkan gagasan para pendahulu kami, sekarang kami ingin menganjurkan dengan sangat supaya keluarga
dipandang termasuk doa bersama yang terbaik dan paling efektif, yang keluarga Kristen dihimbau untuk mendoakan. Kami suka berpikir dan dengan tulus mengharapkan, bahwa bilan pertemuan keluarga menjadi saat doa, Rosario merupakan cara berdoa yang kerap digunakan dan memang disukai (FC art 61).
b. Peranan Doa lingkungan
Pada dasarnya manusia adalah makhluk sosial yang suka berkumpul dan tidak dapat hidup sendiri. Manusia berkembang menjadi manusia utuh karena berkomunikasi dengan yang lain. Tanpa interaksi dengan manusia lain, kehidupan seseorang akan menjadi kerdil. Pengetahuannya akan sulit berkembang dan tingkat emosi menjadi tidak dewasa. Akibatnya, ia mudah terombang ambing oleh hal-hal di luar dirinya. Ia tidak bisa menghargai dirinya yang begitu indah dan dicintai Tuhan, dan akan tinggal di dalam istananya yang tertutup dan gersang. Orang seperti itu seringkali mengeluh dengan kebosanan dan rutinitas. Kehidupan yang monoton yang dijalaninya membuat kebosanan dalam hidupnya. Berbeda dengan orang yang membuka diri. Berkomunikasi dengan orang lain akan dilihat sebagai sesuatu yang indah. Ia melihat betapa dirinya tidak sempurna di tengah-tengah tantangan dunia yang begitu kompleks. Orang ini akan mampu menerima dirinya, merasakan keindahan, kedamaian bahkan kebahagiaan. Perasaan saya dibutuhkan di tengah kekurangan, sama halnya saya membutuhkan orang lain yang belum tentu sempurna seperti saya. Perasaan saling membutuhkan ini akan saling mengisi dan membuat diri masing-masing menjadi berharga.
Sebagai orang beriman, yang dikumpulkan dalam suatu komunitas rayon/ kring/ lingkungan, kita pantas bersyukur sebab telah diberkati Tuhan. Ia menjadikan kita manusia bebas, merdeka, dan bahagia. Rayon adalah salah satu sarana yang begitu penting, di mana kita dapat menggunakan kesempatan untuk
mengambil “angin segar” bagi kehidupan rohani. Dalam pertemuan Rayon, kita diajak keluar dari rutinitas yang menghimpit dan membelenggu. Sering kita
mendengar keluhan, “Tidak ada waktu”, “Ah, itu-itu saja, bosan”. Itu semua
muncul karena egoisme diri yang dalam. Padahal, bila kita meluangkan waktu mengikuti pertemuan rayon, kita bisa bertemu dengan saudara-saudari seiman, dari anak-anak sampai orang tua. Kita dapat melihat ternyata keadaan kita lebih baik, atau justru sebaliknya. Kita akan dapat merasakan orang-orang yang berkekurangan justru rela melayani umat. Dari sana kita lebih memiliki waktu untuk melihat diri sendiri (Salean, 1998: 9). Yang terpenting drai semua kegiatan itu adalah adanya siraman rohani.
Bila kita sendiri lebih tertarik melihat kekurangan walaupun sebenarnya sudah cukup, kita akan tetap merasa kekurangan. Kita melihat orang lain mempunyai sesuatu yang lebih dari diri kita justru apapun yang kita miliki tidak pernah akan dihargai dan syukuri. Bahkan untuk berdoa pun akan terasa sulit. Apalagi untuk membaca dan melaksanakan Firman-Nya oleh sebab itu, betapa besar manfaat pertemuan umat yang walaupun seringkali membosankan, monoton, dan itu ke itu saja. Suasana pertemuan umat, mengingat kita akan hidup rohani, hidup lurus menurut kehendak Ilahi. Apabila mulai dari dini anak-anak kita ajak, mereka bisa melatih diri dan melihat hal-hal yang baru
untuk menambah perbendaharaan diri. Mereka bisa belajar keluar dari dirinya sendiri. Mengalami bahwa ada dunia luar dari dunianya. Dari sanalah mereka bisa menangkap nilai kehidupan kerohanian yang lebih berakar untuk menjamin masa depan yang lebih baik. Bagi para remaja atau anak baru gede, bisa melatih diri untuk berkomunikasi dengan manusia lain di tengah masyarakat yang ternyata berbeda dan beragam pribadinya. Mereka dipersiapkan menghadapi masyarakat yang begitu kompleks dan harus pandai-pandai membawa diri bila mau berhasil dalam hidupnya. Bagi para orang tua, mereka akan mempunyai sarana untuk melihat perkembangan pribadi anaknya, dan melihat gaya/ tingkah laku anak-anak lain. Hal ini bisa menyegarkan diri mereka bila menghadapi dengan anak-anaknya sendiri yang ternyata banyak memiliki kekurangan.
Dengan melihat perbandingan nyata, kita bisa bersyukur, di samping ada kekurangan dari anak sendiri, ada nilai positif yang mereka miliki. Waktu yang barangkali kurang dari 1,5 jam ternyata bisa kita pakai untuk saling memberikan informasi. Bahan-bahan yang disediakan begitu bernilai untuk perkembangan kehidupan rohani, waktu terasa berat dan sering tidak dimengerti, tetapi dalam perjalanan hidup baru nyata berarti. Membangun Gereja, haruslah dimulai dengan membangun diri sendiri dan rayon. Hal itu dapat dicapai, salah satunya dengan melakukan berbagai kegiatan walaupun penuh dengan walaupun penuh dengan kekurangan dan keterbatasan (Salean, 1998: 9).
c. Rancangan Struktur Doa Lingkungan : (Rm. Bosco da Cunha O. Carm, http. Blogspot.com)
Dalam doa lingkungan selalu ada rancangan struktur agar doa lingkungan atau ibadat dapat terlaksana dengan baik. Sehingga doa lingkungan ataupun ibadat lingkungan dapat dilaksanakan secara teratur dan seksama. Umat dapat mengikuti dengan baik tanpa ada yang mersa bingung. Dengan urutan atau struktur tersebut umat akan mengetahui jalannya ibadat serta umat mengetahui tugas-tugas yang telah diberikan kepada beberapa orang oleh pemimpin ibadat ataupun doa lingkungan. Dengan begitu doa lingkungan ataupun ibadat dapat berjalan dengan baik dan seksama sampai akhir. Adapun urutan atau struktur ibadat lingkungan sebagai berikut:
a) Sapaan Awal : dari ketua Lingkungan / wakil b) Lagu Pembuka : oleh petugas nyanyian
c) Tanda Salib dan kata pembuka : secara singkat tentang bacaan –
bacaan yang akan didengarkan.
d) Doa Pembuka : oleh pemimpin Doa
e) Bacaan I : oleh lector. Dapat diambil dari bacaan misa pada hari yang bersangkutan.
f) Lagu antar bacaan
g) Injil : dapat diambil dari bacaan misa pada hari yang bersangkutan h) Renungan
i) Mazmur – mazmur dari Puji Syukur
Saudara sekalian, dengan ini Ibadat Lingkungan ( pertemuan doa Lingkungan ) sudah selesai.
U : Syukur kepada Allah.
Semoga Tuhan memberkati kita, melindungi kita terhadap dosa dan menghantar kita ke hidup yang kekal
U : Amin (sambil setiap orang membuat tanda salib) k) Nyanyian Penutup
Penjelasan :
1. Praktis umat memakai buku Puji Syukur. Hanya pemimpin Doa memakai tambahan buku untuk Doa Pembuka dan Doa Penutup; tetapi lebih spontan lebih baik agar disesuaikan dengan situasi dan kepentingan.
2. Selama Masa Adven dan Prapaskah dapat ditambahkan pernyataan tobat setelah kata pembuka dan setelah absolusi dilanjutkan dengan Doa Pembuka. 3. Selama bulan Mei dan Oktober dapat dilanjutkan dengan Rosario setelah
”Renungan” singkat.
4. Dalam Doa Lingkungan hendaknya tugas-tugas dibagi-bagi kepada beberapa orang. Bahkan kotbah atau renungan boleh juga dalam bentuk sharing beberapa orang lalu dirangkum oleh pemimpin.
5. Pengumuman – pengumuman hendaknya dilaksanakan sesudah selesai Doa Lingkungan. Jangan pada awal atau pertengahan Doa sebab memecah belah konsentrasi doa.
d. Kegiatan Lingkungan
Banyak kegiatan yang selama ini sudah dilakukan di tingkat lingkungan. Kegiatan-kegiatan itu juga telah mendinamisir lingkungan. Memang antara lingkungan satu dengan yang lain kadang-kadang berbeda dalam identitas dan kreativitasnya.
Agar lingkungan bias berkembang menuju cara hidup sebagaimana tampak dalam Jemaat Perdana, beberapa kegiatan lingkungan yang bias dilaksanakan (Sugiyana, 2013: 74-78).