KAJIAN PUSTAKA
2.1 Landasan Teori
2.1.6 Macam-macam Gaya Belajar
Gaya belajar merupakan sesuatu yang khas yang terdapat pada individu. Seorang anak yang memahami gaya belajarnya sendiri akan memperoleh manfaat dalam pembelajaran karena dia akan biasa dengan cara belajar yang cocok untuk dirinya sendiri. Demikian juga bagi para guru yang memahami gaya belajar dari setiap anak, akan mampu memilih metode pembelajaran yang bermakna dan bervariasi bagi siswanya.
Ada beberapa tipe gaya belajarr yang harus dicermati guru. Menurut Rusman (2012: 33-34), terdapat tiga tipe belajar yang harus dicermati oleh guru, gaya belajar tersebut yaitu gaya belajar visual, gaya belajar auditif, dan gaya belajar kinestetik. Gaya belajar ini memiliki ciri masing-masing, yaitu:
a. Tipe Belajar Visual
Visual learner adalah gaya belajar dimana gagasan, konsep, data dan informasi lainnya dikemas dalam bentuk gambar dan teknik. Siswa yang memiliki tipe belajar visual memiliki ketertarikan yang tinggi ketika diperlihatkan gambar, grafik, grafis organisatoris seperti: jaring-jaring, peta konsep, dan ilustrasi visual
lainnya. Beberapa teknik yang digunakan dalam belajar visual untuk meningkatkan keterampilan berpikir dan belajar, lebih mengedepankan peran penting mata sebagai penglihatan (visual). Pada gaya belajar ini dibutuhkan banyak model dan metode pembelajaran yang digunakan dengan menitikberatkan pada peragaan. Bahasa tubuh dan ekspresi muka gurunya juga sangat penting peranannya untuk menyampaikan materi pelajaran. Mereka cenderung untuk duduk di depan agar dapat melihat dengan jelas. Kemudian ketika di dalam kelas, anak visual lebih suka mencatat sampai detail-detailnya untuk mendapatkan informasi.
b. Tipe Belajar Auditif
Menurut Rusman (2012-34) auditory learner adalah gaya belajar dimana siswa belajar melalui mendengarkan. Siswa yang memiliki gaya belajar auditori akan mengandalkan kesuksesan belajarnya melalui telinga (alat pendengarannya). Anak yang mempunyai gaya belajar auditori dapat belajar lebih cepat dengan menggunakan diskusi verbal dan mendengarkan penjelasan apa yang dikatakan guru. Anak dengan tipe belajar auditori dapat mencerna makna yang disampaikan oleh guru melalui suara, tinggi rendahnya, dan kecepatan berbicara. Anak-anak seperti ini dapat menghafal lebih cepat melalui membaca teks dengan keras atau mendengarkan media audio.
c. Tipe Belajar Kinestetik
Tactual learner adalah siswa belajar dengan cara melakukan, menyentuh, merasa, bergerak, dan mengalami. Anak yang mempunyai gaya belajar kinestetik mengandalkan belajar melalui bergerak, menyentuh, dan melakukan tindakan.
Anak seperti ini sulit untuk duduk diam berjam-jam karena keinginan mereka untuk beraktivitas dan eksplorasi sangatlah kuat. Siswa yang bergaya belajar seperti ini belajarnya melalui gerak dan sentuhan. Oleh karena itu, pembelajaran yang dibutuhkan adalah pembelajaran yang lebih bersifat praktik.
Sejalan dengan Rusman, Deporter dan Hernacki (2015: 116-120) juga menjelaskan terdapat tiga macam tipe gaya belajar. Tiga tipe gaya belajar tersebut antara lain tipe gaya belajar visual, gaya belajar auditorial, dan gaya belajar kinestetik. Penjelasan selengkapnya adalah sebagai berikut:
a. Gaya Belajar Visual
Gaya belajar visual (visual learner) menitikberatkan ketajaman penglihatan. Artinya, bukti-bukti konkret harus diperlihatkan terlebih dahulu agar siswa paham. Menurut Deporter dan Hernacki (2015: 116) ciri-ciri orang yang memiliki gaya belajar visual diantaranya: (1) rapi dan teratur; (2) berbicara dengan cepat; (3) perencanaan dan pengatur jangka panjang yang baik; (4) teliti terhadap detail; (5) mementingkan penampilan, baik dalam hal pakaian maupun presentasi; (6) pengeja yang baik dan dapat melihat kata-kata yang sebenarnya dalam pikiran mereka; (7) mengingat apa yang dilihat, daripada yang didengar; (8) mengingat dengan asosiasi visual; (9) biasanya tidak terganggu oleh keributan; (9) mempunyai masalah untuk mengingat intruksi verbal kecuali jika ditulis, dan sering kali minta bantuan orang untuk mengulanginya; (10) pembaca cepat dan tekun; (11) lebih suka membaca daripada dibacakan; (12) membutuhkan pandangan dan tujuan yang menyeluruh dan bersikap waspada sebelum secara
mental merasa pasti tentang suatu masalah atau proyek; (13) mencoret-coret tanpa arti selama berbicara ditelepon dan dalam rapat; (14) lupa menyampaikan pesan verbal kepada orang lain; (15) sering menjawab pertanyaan dengan jawaban singkat ya atau tidak; (16) lebih suka melakukan demonstrasi daripada pidato; (17) lebih suka seni visual daripada musik; (18) seringkali mengetahui apa yang harus dikatakan, tetapi tidak pandai memilih kata-kata; (19) kadang-kadang kehilangan konsentrasi ketika mereka ingin memperhatikan.
b. Gaya Belajar Auditorial
Menurut Deporter dan Hernacki (2015: 118) gaya belajar auditori mempunyai kemampuan dalam hal menyerap informasi dari pendengaran. Anak yang mempunyai gaya belajar auditori dapat belajar lebih cepat dengan menggunakan diskusi verbal dan mendengarkan apa yang guru katakan. Ciri-ciri orang yang memiliki gaya belajar auditorial diantaranya: (1) berbicara kepada dirinya sendiri saat bekerja; (2) mudah terganggu oleh keributan; (3) menggerakkan bibir mereka dan mengucapkan tulisan dibuku ketika membaca; (4) senang membaca dengan keras dan mendengarkan; (5) dapat mengulangi kembali dan menirukan nada, birama dan warna suara; (6) merasa kesulitan untuk menulis, tetapi hebat dalam bercerita; (7) berbicara dalam irama yang terpola; (8) biasanya pembicara yang fasih; (9) lebih suka musik daripada seni visual; (10) belajar dengan mendengarkan dan mengingat apa yang didiskusikan daripada yang dilihat; (11) suka berbicara, suka berdiskusi, dan menjelaskan sesuatu panjang lebar; (12) mempunyai masalah dengan pekerjaan-pekerjaan yang
melibatkan visualisasi, seperti memotong bagian-bagian hingga sesuai satu sama lain; (13) lebih pandai mengeja daripada menuliskannya; (14) lebih suka gurauan lisan daripada membaca komik.
c. Gaya Belajar Kinestetik
Menurut Deporter dan Hernacki (2015: 118 ) gaya belajar kinestetik merupakan aktivitas belajar dengan cara bergerak, bekerja dan menyentuh. Siswa dengan tipe ini mempunyai keunikan dalam belajar selalu bergerak, aktivitas panca indera, dan menyentuh. Siswa dengan tipe ini sulit untuk duduk diam berjam-jam karena keinginan mereka untuk beraktifitas dan eksplorasi sangatlah kuat. Ciri-ciri orang yang memiliki gaya belajar kinestetik diantaranya: (1) berbicara dengan perlahan; (2) menanggapi perhatian fisik; (3) menyentuh orang untuk mendapatkan perhatian mereka; (4) berdiri dekat ketika berbicara dengan orang; (5) selalu berorientasi pada fisik dan banyak bergerak; (6) mempunyai perkembangan awal otot-otot yang besar; (7) belajar melalui manipulasi dan praktik; (8) menghafal dengan cara berjalan dan melihat; (9) menggunakan jari sebagai petunjuk ketika membaca; (10) banyak menggunakan isyarat tubuh; (11) tidak dapat duduk diam untuk waktu lama; (12) tidak dapat mengingat geografi, kecuali jika mereka memang telah pernah berada ditempat itu; (13) menggunakan kata-kata yang mengandung aksi; (14) kemungkinan tulisannya jelek; (15) ingin melakukan segala cara; (16) menyukai permainan yang menyibukkan.
Penelitian yang juga dilakukan oleh Michael Grinder (dalam Karwati dan Priansa 2014: 189-191) tentang gaya belajar mengemukakan terdapat empat gaya belajar siswa. Empat gaya belajar tersebut adalah visual, auditorial, kinestetik, dan
digital auditori/ pembelajaran logis. Berikut penjelasan dari masing-masing gaya belajar yang dikemukakan oleh Michael Grinder:
a. Visual
Gaya belajar visual merupakan gaya belajar dengan cara melihat. Jika siswa didalam kelas, maka siswa tersebut lebih suka membaca buku dan memerhatikan ilustrasi yang ditampilkan oleh guru, maka siswa tersebut tergolong individu yang menyukai belajar dengan gaya visual. Selain itu, siswa yang menyukai gaya belajar visual suka membuat catatan-catatan yang sangat baik dan rapi. Selain ciri-ciri tersebut, beberapa ciri siswa bergaya visual adalah: (1) rapi dan teratur; (2) berbicara dengan cepat; (3) perencana dan pengatur jangka panjang yang baik; (4) teliti terhadap detail; (5) mementingkan penampilan, baik dalam hal penampilan maupun presentasi; (6) mengingat apa yang dilihat, bukan apa yang didengar; (7) mengingat dengan asosiasi visual; (8) lebih suka membaca daripada dibacakan; (9) lebih suka seni daripada musik.
b. Auditorial
Auditorial berasal dari kata audio yang berarti sesuatu yang berhubungan dengan pendengaran. Gaya belajar auditorial merupakan gaya belajar dengan cara mendengar. Jika siswa di kelas, maka ia lebih suka mendengarkan apa yang dikatakan oleh guru. Siswa yang bergaya belajar auditorial kadang-kadang kehilangan urutan-urutan materi pembelajaran yang disampaikan guru dalam bentuk ceramah, karena mencoba untuk mencatat materi selama presentasi berlangsung. Ciri siswa yang bergaya auditorial adalah: (1) sering berbicara
kepada diri sendiri; (2) mudah terganggu oleh keributan; (3) menggerakkan bibir mereka dan mengucapkan tulisan dibuku ketika membaca; (3) senang membaca keras dan mendengarkan; (4) lebih suka musik daripada seni; (5) suka berbicara, berdiskusi, dan menjelaskan sesuatu panjang lebar; (6) biasanya pembicara fasih.
c. Kinestetik
Menurut Michael Grinder (dalam Karwati dan Priansa 2014: 190) kinestetik berasal dari kata kinetik yang berarti gerak. Berarti gaya belajar kinestetik adalah gaya belajar dengan gaya bergerak, bekerja, dan menyentuh (praktik langsung). Jika siswa tersebut belajar dikelas, maka ia akan aktif bertanya dan berdiskusi dengan temannya. Ciri siswa yang bergaya kinestetik adalah: (1) berbicara dengan perlahan; (2) menanggapi perhatian fisik; (3) menyentuh orang untuk mendapat perhatian mereka; (4) berdiri dekat jika berbicara dengan orang; (5) selalu berorientasi pada fisik dan banyak bergerak; (6) belajar dengan manipulasi dan praktik; (7) menghafal dengan cara berjalan atau melihat; (8) menggunakan jari sebagai petunjuk ketika membaca; (9) banyak menggunakan isyarat tubuh; (10) tidak dapat duduk dalam waktu lama.
d. Digital Auditori/ Pembelajaran Logis
Siswa dengan gaya belajar seperti ini mempelajari sesuatu dengan mengeksplorasi pola-pola dan mencoba memahami bagaimana suatu kejadian saling berhubungan satu sama lain. Ciri siswa yang bergaya digital auditori adalah: (1) senang mengetahui bagaimana sesuatu bekerja; (2) dapat menerapkan logika berpikir di usia dini; (3) banyak mengajukan pertanyaan sehingga mereka kemudian dapat memahami bagaimana hal-hal saling berhubungan; (4)
menunjukkan kemampuan memecahkan problem matematis di usia dini; (5) tertarik dengan permainan dan strategi sejak usia dini.
Berdasarkan pendapat para ahli, maka dapat disimpulkan bahwa gaya belajar memiliki tiga tipe, yaitu (1) gaya belajar visual; (2) gaya belajar auditorial; dan (3) gaya belajar kinestetik. Pada penelitian ini, peneliti akan berfokus pada tipe gaya belajar yang dikemukakan oleh Deporter dan Hernacki. Sebab ketiga tipe belajar ini merupakan tipe dasar dari setiap gaya belajar.