• Tidak ada hasil yang ditemukan

Macam-Macam Metode Dakwah

Al-Qur’an merupakan sumber utama rujukan dakwah, setelah itu

hadist, ijma, dan qiiyas. Sebagai sumber utama yang dijadikan

pedoman dalam berdakwah, al qur’an memberikan tuntunan cara yang

sesuai untuk para da’i menyampaikan pesan-pesan dakwah. Sebagaimana tercantum dalam firman Allah SWT, Q.S. An-Nahl :125:

سحأ يه يتَلاب م لداج نسحلا ظع لا حلاب كبر لي س لإ دا

Artinya : “serulah (manusia) kepada jalan TuhanMu dengan

Hikmah, nasehat yang baik dan debat mereka dengan cara yang baik.. Sesungguhnya TuhanMu Dialah yang lebih mengetahui orang-orang

yang mendapat petunjuk”.

Melanjutkan dari ayat ini, Imam Jalalain menafsirkan ayat tersebut

di dalam kitab “Hasiyah As Showi” yaitu :

رقلااب) حلاب ( هنيد ) كبر لي س لإ ( م س هي ع ها ص د حماي سانلا ) دا ( ( آ

) سحأ ه( تلا لداج لا أ ) تلاب م لداج ( قيقرلا قلا أ ظعا م ) نسحلا ظع لا هتاي ب ها لإ ءاعدلاك هججح لإ ءاعدل

“Serulah (manusia, wahai Muhammad) ke jalan Rabb-mu

(agama-Nya) dengan hikmah (dengan al-Quran) dan nasihat yang baik (nasihat-nasihat atau perkataan yang halus) dan debatlah mereka dengan debat terbaik (debat yang terbaik seperti menyeru manusia kepada Allah dengan ayat-ayat-Nya dan menyeru manusia kepada

hujah(”.30

Jika melihat ayat 125 surat an Nah dan tafsir hasiyyah Ashowi bahwa Allah memerintahkan untuk mengajak orang-orang yang belum

30

Ahmad Asshawi, Hasiyah A’lamatus Showi. (Bairut, Libnan: Dar al Fikr), juz 2 hlm. 411-412

berada dijalan Allah agar diajak supaya mereka dapat mendapatkan tujuan dari hidup.

Setelah Allah memberikan perintah dakwahnya, Allah memberikan pula cara dalam mengajak orang yang belum mau kembali pada jalan Allah. berdasarkan ayat dan tafsir tersebut ada tiga cara yaitu metode dakwah bil hikmah, metode mauizah hasanah dan metode dakwah mujadalah. Untuk lebih mengerti tentang metode tersebut, berikut penjelasan dari ketiga metode dakwah tersebut.

a. Metode Dakwah Al-Hikmah (Kebijaksanaan)

Kata hikmah banyak terdapat di dalam al-qur’an, sebanyak

20 kali dalam bentuk ma’rifat ataupun nakiroh.31

Hikmah

merupakan bentuk masdar yaitu “hukman” yang diartikan secara ma’na adalah mencegah.32

Jika dikaitkan dengan hukum berarti mencegah dari kezaliman, dan jika dikaitkan dengan dakwah berarti suatu ajakan yang mencegah seseorang untuk berbuat hal-hal yang dilarang oleh

syari’at Islam , seperti halnya mencuri, hal ini jelas di terangkan

dalam al-qur’an.

Kata al-Hikmah menurut artinya tali kekang pada binatang, seperti ada istilah hikmatul lijam (cambuk atau kekang kuda), itu

31

Wahidin Saputra, Pengantar Ilmu Dakwah.(Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada), cet. 1, hlm. 244

32

digunakan untuk mencegah tindakan hewan.33 Diartikan demikian karena tali kekang membuat penunggang dapat mengendalikan kudanya sehingga si penunggang ini mampu mengandalikan

kudanya untuk berlari dan berhenti.34 Dari kiasan ini ketika

seseorang mempunyai hikmah berarti orang tersebut mempunyai kendali terhadap dirinya yang dapat mencegah dirinya dari hal-halyang kurang bernilai atau menurut pendapat Ahmad bin Munir al-Muqri al-Fayumi berarti dapat mencegah dari perbuatan yang hina.35

Toha Yahya Umar mengartikan dakwah yaitu meletakan suatu pada tempatnya dengan berpikir, berusaha menyusun dan mengatur dengan cara yang sesuai keadaan zaman dengan tidak

bertentangan hal-hal larangan Tuhan.36

Al-Hikmah mempunyai banyak arti sebagai mana tercantum dalam kamus munjid berbentuk sebagai keadilan, kebenaran, kenabian, dan ajakan atau seruan.

Sering kali kata “hikmah” diartikan dalam pengertian

bijaksana yaitu suatu pendekatan terhadap objek dakwah diharapkan dengan pendekatan ini objek dakwah dapat menerima,

33

Ibnu Mandzur, Lisanul Arab, 12/14

34

Wahidin Saputra, Pengantar Ilmu Dakwah.(Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada), cet. 1, hlm. 244

35

Ahmad bin Munir al-Muqri’ al-Fayumi, al-Misbahul Munir, (Riyadh Maktabah al-Arabby, 19982), hlm. 157

36

kemudian menjalankan atas kemauan sendiri tanpa ada paksaan.37 Dari beberapa pendapat yang saya kutip diatas mengenai

penjelasan tentang kata “al-hikmah” masih global. Menurut mufasir

yang lain menafsirkan hikmah secara lebih rinci yaitu hujjah atau

dalil. Sebagian mensyarahkan hujjah itu harus bersifat qot’i atau

pasti, seperti pendapatnya imam Nawawi dalam tafsirnya hikmah yaitu hujjah yang pasti yang bermanfaat untuk mengguatkan

keyakinan.38

menurut Syeh Mustafa Al-Maroghi dalam tafsirnya mengatakan bahwa hikmah yaitu; Perkataan yang jelas dan tegas disertai dengan dalil yang dapat mempertegas kebenaran, dan dapat menghilangkan keragu-raguan.

Berdasarkan dari pada pendapatnya imam Nawawi yang mengatakan bahwa kata hikmah disini sebagai hujjah yang pasti dapat disimpulkan bahwa hujjah yang dimaksud disini adalah hujjah yang bersifat rasional yakni yang tertuju pada akal. Hujjah yang bersifat rasional yang dimaksud disini adalah argumentasi yang masuk akal dan yang tidak dapat dibantah.

Melihat dari sisi arti hikmah ini dapat diartikan menempatkan persoalan pada tempatnya dan bisa juga diartikan hujjah atau argumentasi. Tetapi jika melihat ayat kata hikmah

37

Hamka, Tafsir Al-Azhar, (Jakarta: Pustaka Panjimas, 1983). Hal 321

38

kurang tepat jika diartikan menempatkan persoalan pada tempatnya akan tetapi lebih tepatnya sebagai hujjah atau argumentasi.

Dengan demikian dakwah dengan cara bil hikmah ini umumnya diberikan kepada orang mau menerima dakwah jika akal mereka puas dan hatinya tentram.

b. Metode Dakwah Mau’izhatil Hasanah (nasehat yang baik)

Menurut bahasa Al-Mau’idzatil Hasnah merupaka gabungan

kata dari Mau’idzah dan Hasnah. Berdasarkan tinjauan bahasa kata “Mau’idzah” berasal dari bahasa arab yaitu wa’adza – ya’idzu –

idzatan yang mempunyai makna nasihat dan peringatan39,

sedangkan kata hasna berasal dari hasuna – yahsunu – husnan yang

berarti kebaikan.40

Menurut Imam Ahmad As-Showi menjelaskan dari pada

pendapat Imam Jalaluddin As-Syuthi dalam buku Hasyiyah

A’laamah As-Showi, al-mauidzhah Hasanah dua pengertian, pertama yaitu At-Targhib (bujukan, penyemangatan) dan At-Tarhiib (ancaman), maksud dari pada kedua makna ini adalah memotivasi seorang hamba untuk giat dalam menjalankan ibadah yang merupakan bagian ketaatan kepada Allah dan meninggalkan larangan Allah. Kedua yaitu Qowlun Rofiiqun (ucapan lembut, ramah) yaitu ucapan yang mengandung bahasa-bahasa lembut

39

Louis Ma’luf, Munjid Fil Logoh Wa A’lam,(Bairut: Darul Fikr,1986)h. 908

40

(ramah).41

Mauizah Hasanah dapatlah diartikan sebagai ungkapan yang mengandung unsur bimbingan, pendidikan, pengajaran, berita gembira yang bisa dijadikan pedoman dalam kehidupan agar

mendapat keselamatan dunia dan akhirat.42

Dari penjelasan di atas, bahwa metode mauizah hasanah ini merupakan sebuah nasehat yang mempunyai sentuhan kedalam hati

mad’u, sehingga dengan nasehat tersebut mad’u dapat menjadi

termotisivasi untuk menjalan ketaatnya.

c. Metode Dakwah Mujadalah

Dari segi bahasa (etimologi) lafadz mujadalah terambil dari

kata “jadala” yang bermakna memintal. Apabila ditambah alif

pada huruf jim yang mengikuti wazan Faa ala jaa dala” dapat

bermakna berdebat dan “mujadalah” perdebatan43.

Mujadalah yaitu suatu cara yang digunakan melalui

berdiskusi untuk menemukan sebuah kesepakatan untuk

menemukan sebuah pahaman yang tidak menyimpang tentang sebuah permasalahan.

41

Ahmad As- Shawi, Tafsir Hasyiyah Al-A’laamah As-Showi, (Bairut Libnan: Darl Fikr, 2002), Juz II, h.412

42

Wahidin Saputra, Pengantar Ilmu Dakwah.(Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada), cet. 1, hlm. 252

43

Ahmad Warson al-Munawwir, al-Munawwir, (Jakarta: Pustaka Progresif, 1997), cet ke-14, h, 175

Dari segi istilah (terminologi) terdapat beberapa pengertian

al-mujadalah (al hiwar). Al-Mujadalah (al-hiwar) berarti upaya

tukar pendapat yang dilakukan oleh dua pihak secara sinergis, tanpa adanya suasana yang menimbulkan permusuhan diantara kedua

pihak.44

Menurut Ali al-Jarisyah dalam kitab Adab Hiwar wa

al-Munadzarah, mengaartikan bahwa “al-Jidal” secara bahasa dapat

bermakna “datang untuk memilih kebenaran” dan apabila

berbentuk kalimat isim “al-Jadlu” maka berarti pertentangan atau

perseteruan yang tajam”.45

Menurut Dr. Sayyid Muhammad Thantawi Mujadalah Billati Hiya Ahsan adalah suatu upaya yang bertujuan untuk mengalahkan pendapat lawan dengan cara menyajikan argumentasi

dan bukti yang kuat.46

Berlandaskan beberapa definisi diatas al-Mujadalah (al-Hiwar) merupakan metode dakwah yang digunakan lewat sebuah diskusi yang menjadi wadah untuk menemukan titik temu dan diharapkan dengan metode ini tidak ada perpecahan serta permusuhan diantara kedua pihak.

44

World Assembly of Muslim Yout (WAMY), Fii Ushulil Hiwar, MaktabivWahbah

Cairo, Mesir, diterjemahkan oleh Abdus Salam M. Dan Muhli Dahfir, dengan judul Terjemahan

Etika Diskusi. Era Inter Media, 2001, Cet ke-2, hlm 21.

45

Ali al-Jarisyah, Adab al-Hiwar wa al-Munadzarah, (al-Munawarah, Dar al-Wifa, 1989), Cet. Ke-1, h, 19.

46

Sayyid. Muhammad Thantawi, Adab al-Khiwar Fil Islam , Mesir, Dar al-Nahdiyah, diterjemah oleh Zuhairi Misrawi dan Zamroni kamal, (Jakarta: Azan, 2001), Cet. Ke-1, pada kata pengantar.

Setelah mengetahui metode dakwah yang terkandung dalam surat an Nahl ayat 125, imam Nawawi menjelaskan di dalam kitabnya tentang tiga golongan manusia yang menjadi sasaran dari tiga metode dakwah tersebut, yaitu :

1. Asshabul „uqul yaitu orang-orang yang mencari sebuah pengetahuan disertai dengan bukti-bukti tentang pengetahuan tersebut, golongan ini bisa disebut kaum intelek. Yang mereka harus dipanggil dengan kata-kata hikmah yakni dengan menggunakan argumentasi yang dapat diterima akal.

2. Asshabul nazhri assaliim yaitu orang-orang yang belum

mencapai tingkat kesempurnan pemikiran dan juga tidak berada pada tingkat pengetahuan dan pemikiran yang rendah. Golongan yang kedua ini tidak dapat diberikan pemahaman dengan menggunakan metode hikmah dan juga tidak dapat diberikan metode dakwah dengan mauizhah hasanah, akan tetapi golongan ini lebih tepat menggunakan metode mujadalah.

3. Orang-orang yang belum mencari suatu pengetahuan dan juga

belum dapat menguasi pertentangan. Yaitu orang awam yang bisa dikatakan tingkat pengetahuannya masih rendah serta belum dapat berpikir kritis. Golongan ini masuk kedalam

metode mau’izhahasanah.47

47

An- Nawawi Al jawi, Marah Labid Tafsir An Nawawi,(Serang Banten: Maktab Iqbal Haj Ibrahim), h. 469

Dokumen terkait