• Tidak ada hasil yang ditemukan

Metode Dakwah Dalam Pengajian

TEMUAN DAN ANALISIS

B. Metode Dakwah Ustadz Abdul Hakim

2. Metode Dakwah Dalam Pengajian

Kesungguhan dan semangat yang berkobar sebagai pejuang Islam untuk meninggikan agama Allah dalam berdakwah, membuat ustadz Abdul Hakim dapat bertahan dan tidak pernah putus asa. Setiap hal yang menjadi aral rintangan dalam berdakwah dianggapnya sebagai sebuah tantangan untuk berdakwah di tengah kondisi yang ada pada masyarakat kampung Sudimampir. Dengan adanya hal tersebut, beliau pun semakin sering mengkaji dan membuat konsep dakwah yang sesuai

dengan mad’u, seperti melalui mimbar masjid dalam sholat jum‟at

maupun ceramah pada peringatan hari besar Islam dan juga acara-acara lainnya seperti dengan mengadakan pengajian bulanan, yang kemudian meningkat menjadi pengajian mingguan.

Dan berikut ini adalah salah satu teks ceramah ustadz Abdul hakim dalam pengajian bulanan yang menyampaikan materi tentang silaturrahim:

“Hadirin jama’ah majlis ta’lim Ar Rasyiidiyyah yang dirahmati Allah..

Allah SWT berfirman di surat Muhammad ayat 22-23;

                                 :د حم( 22 -22 )

22. Maka Apakah kiranya jika kamu berkuasa kamu akan membuat kerusakan di muka bumi dan memutuskan hubungan kekeluargaan? 23. Mereka Itulah orang-orang yang dila'nati Allah dan ditulikan-Nya telinga mereka dan dibutakan-Nya penglihatan mereka. (Muhammad: 22-23)

Kedua ayat tersebut yang juga saya sebutkan artinya tadi, berkaitan dengan salah satu perintah Allah SWT kepada manusia untuk menjaga silaturrahim, baik dengan keluarga, sahabat, tetangga serta orang-orang yang berada di sekitar kita.

Ngarti pak apa itu silaturrahim? Ibu ngerti bu?

Silaturrahim itu dalam bahasa arab berasal dari dua kata: yang pertama yaitu ص yang artinya hubungan dan yang kedua محرلا yang artinya kerabat/keluarga. Jadi, silaturrahim itu bisa diartikan sebagai hubungan keluarga/kerabat.

Hadirin Rahimakumullah..

Kita balik ke ayat yang tadi; ketika Allah nanya sama kita: “Apakah kalo jama’ah sekalian punya kekuasaan nanti bakalan bikin kerusakan

di bumi dan memutus hubungan kekeluargaan/kekerabatan?” Kira -kira mau jawab apa bapak/ibu sekalian kalo ditanya begitu? Iya apa nggak? Sudah pasti gak ada yang mau ngejawab iya! Betul kan?! Kenapa? Karena dilanjutkan dalam ayat selanjutnya hadiah yang pasti didapetin mereka yg melakukan kerusakan dan mutusin silaturrahim

ketika udah jadi penguasa: “mereka itu orang-orang yang dila’nati Allah dan dibikin budeg kupingnya serta dibikin buta matanya”

maksudnya, Alloh gak ngasih rahmat selama dia ngelakuin hal itu, Allah gak beri taufiq dan hidayahNya karena sebab hal itu dia betah ngerjainnya.

Sementara kalo kita liat jaman sekarang neh, berapa banyak orang-orang yang baru punya jabatan dikit aja udah belagunya ngalahin

fir’aun. Sampe sudaranya sendiri dijadiin korban kezholimannya. Tau

kan fir’aun siapa pak? Bu? Yang ditenggelemin di laut merah sono pas

zaman nabi musa.

Jadi, kalo kita udah punya jabatan sedikit atau kekuasaan baik dalam pekerjaan maupun harta benda, jangan pake sok agul-agulan. Fir’aun

aja yang udah jadi raja Mesir terus ngagul, Allah langsung lelepin di laut bareng-bareng sama tentaranya. Lah elu udah jadi apaan sih? Apa yang mau diagulin? Punya banda cuma rumah atu doang, dah rombeng, tambah doyong pula, sukur kaga rebah tuh temboknya. Iye kan?! Punya jabatan cuma jadi ketua RT doang, paling banter jadi RW. Yang kalo rapat cuma ada gorengan bakwan, pisang goreng, tahu melotot sama sahi pucet. Apa yang mau dibanggain coba?

Alhamdulillah, di sini sih kaga ada yang kaya begitu.. Alhamdulillah.. Oleh karena itu, Rasulullah SAW ngingetin kite melalui sabda beliau:

“gak ada satu kebaikan yang balasannya paling cepet daripada

silaturrahim, dan gak ada satu dosa yang lebih pantas Allah berikan hukumannya di dunia dan juga di akhirat daripada pelacuran dan

memutus silaturrahim.” (HR. Ahmad)

Hadirin jama’ah Rahimakumullah..

Saya teringat cerita yang ada di dalam kitab Tanbihul ghofiliin, karya Abu Laits As Samarqandi. Boleh kan saya cerita?

Diceritakan bahwasanya dulu di Makkah ada seorang yang sholeh. Orang sholeh ini dipercaya oleh penduduk pada saat itu untuk dititipkan barang-barang mereka saat mereka bepergian ke luar Makkah. Kemudian datang seseorang yang ingin menitipkan hartanya sebanyak 10.000 dinar. Kalo diitung pake duit sekarang, kira-kira berapa triliun tuh jumlahnya? Tanah disini bisa dibeli semua tuh ama dia cuman dikedipin doang..

Singkat cerita, orang kaya tadi balik ke Makkah setelah dia pergi ngerjain urusannya di luar Makkah. Ketika si kaya ini datang ke rumah orang sholeh tersebut, ternyata beliau udah wafat. Nah, akhirnya dia minta sama anak dan keluarganya orang sholeh tadi, tapi gak ada yang tau sedikitpun tentang duit yang dititipinnya itu. Akhirnya si kaya ngadu sama ulama yang ada disana pada saat itu kebetulan mereka lagi ngumpul.

Kemudian si kaya cerita permasalahnnya, dan minta pendapat dari ulama. Mereka bilang: kami harap, orang sholeh itu termasuk dari ahli surga. Maka datanglah ke sumur zamzam ketika sepertiga malam dan panggil namanya fulan bin fulan! Kemudian tanyakan hartamu padanya. Akhirnya dikerjain tuh yang disuruh ulama Makkah, selama tiga malam. Tapi gak ada jawaban dari orang sholeh tersebut.

Besoknya si kaya ngadu ke ulama, bahwa gak ada jawaban dari orang sholeh itu. Mereka pun kaget, dan bilang: Innaa lillah wa innaa ilaihi

roji’un.. kami khawatir teman kamu ini termasuk ahli neraka. Maka pergilah ke daerah yaman, disana ada sumur burhut. Dan kerjakan seperti kemarin yang kami perintahkan.

Si kaya ini pun melakukan apa yang diperintahkan seperti kemarin. Dan saat pertama kali si kaya memanggil, orang sholeh itu langsung menjawab. Kagetlah si kaya, dan bilang: waduh, kamu kenapa bisa

disini? Bukankah dulu kamu orang baik?. Orang sholeh itu menjawab: iya, saya punya keluarga di kampung, tapi saya putus tali silaturrahim kepada mereka. Sehingga Allah menempatkan saya disini. Sedangkan hartamu masih dalam keadaan utuh. Aku kubur di dalam rumah. Mintalah kepada anakku dan tunjukkan tempatnya di bagian ini. Akhirnya, pulanglah si kaya dan mendapatkan hartanya dalam keadaan utuh.

Hadirin rahimakumullah,

Dari cerita tadi, intinya adalah silaturrahim amat sangat penting! walaupun cuma dengan ngucapin salam. karena Rasulullah SAW bilang:

“Sambunglah hubungan kekeluargaan kalian walaupun dengan

ucapan salam”.

Karena di dalam silaturrahim juga banyak kebaikan yang bisa kita dapet, diantaranya: Allah ridho dengan kita, termasuk amal yang bikin bahagia orang lain, didoain malaikat karena mereka ikut senang, menambah keberkahan dalam rizqi dan umur serta macam-macam kebaikan lainnya.

Oleh karena itu, mari yuk kita semua jangan males-males buat nyambung silaturrahim.. dan mudah-mudahan kita semua Allah jadikan hambanya yang selalu melaksanakan perintahNya dan menjauhi laranganNya, serta selalu bersabar dan bersyukur atas setiap keadaan & permasalahan hidup..”

Pada teks ceramah di atas, nampak jelas metode bil-hikmah yang

digunakan ustadz Abdul Hakim ketika memberikan sebuah cerita tentang seorang sholeh dan orang kaya sebagai bahan perenungan, yang menjelaskan bahwasanya silaturrahim termasuk salah satu perintah Allah SWT yang memiliki keterkaitan dengan ibadah-ibadah lainnya, sehingga hal itu menjadi salah satu hal terpenting dalam kehidupan

juga dalam teks tersebut, saat ustadz Abdul Hakim memberikan nasihat-nasihat yang berupa ajakan untuk menjaga silaturrahim dan peringatan bagi yang memutusnya dengan berlandaskan firman Allah Ta‟ala dan hadits Nabi SAW.

Dalam ceramahnya tersebut, teknik yang digunakan oleh ustadz Abdul Hakim adalah memberikan sindiran halus melalui sebuah

nasihat-nasihat dan ajakan, dengan berdasarkan pada metode bil

-hikmah dan mau’izhah hasanah; beliau juga biasa memberikan contoh tingkah laku menyimpang yang diambil dari kebiasan yang ada pada masyarakat sebagai perumpaan dalam dakwahnya.

Selain itu juga, ustadz Abdul Hakim sering memberikan cerita-cerita ataupun riwayat yang ada di dalam kitab-kitab klasik sesuai dengan isi materi yang disampaikan dalam ceramahnya. Seperti yang

pernah diungkapkan beliau saat wawancara “iya, saya biasanya

memberikan cerita-cerita ataupun riwayat hadits yang berkenaan dengan satu materi, supaya masyarakat tidak bosen denger ceramahnya. Kan banyak tuh di kitab-kitab seperti al-kabaair, tanbiihul ghofiliin dan lain-lain. Malahan juga, kadang-kadang saya melakukan tanya jawab agar tidak terkesan kaku.”12

Dalam setiap kesempatan, ustadz Abdul Hakim juga mensisipkan tanya jawab agar tidak terkesan kaku dan menggurui.

12

Bahkan beliau pun sering melakukan tanya jawab saat berbincang-bincang dengan warga masyarakat. Hal itu membuatnya lebih mengerti tentang sejauh mana pemahaman jama‟ah (mad’u) setelah mendengarkan pesan-pesan dakwah yang disampaikan sehingga tidak

terjadi kekeliruan dalam pemahaman mereka, dan juga para jama‟ah

(mad’u) dapat bertanya secara langsung akan permasalahan keagamaan yang masih kurang difahami.

Dengan pengetahuan dan teknik berdakwah yang beliau miliki, ustadz Abdul Hakim secara perlahan dan terus menerus melakukan pendekatan kepada masyarakat setempat, dan hal itu memerlukan waktu yang tidak sebentar untuk dapat merubah perilaku negatif masyarakat yang sudah melekat menjadi positif.

Bahkan suatu waktu, ustadz Abdul Hakim pun secara langsung memberikan dakwah kepada masyarakat yang salah satu anggota keluarganya kerasukan jin. Mereka biasa memanggil orang pintar dan beranggapan bahwa keinginan orang yang kerasukan harus dipenuhi agar mau keluar dari tubuh yang dirasuki. Hal ini menurut ustadz Abdul Hakim dapat merusak „aqidah tauhid mereka, karena percaya akan kekuatan yang melebihi kekuasaan Allah. Maka pada saat itu pula,

beliau mengobati orang kesurupan tersebut dengan membaca dzikr yang

diniatkan untuk mendekatkan diri kepada Allah dan memohon pertolongan-Nya, dan kemudian memukulkan telapak tangannya

dipunggung orang kesurupan, sampai orang yang kesurupan tersebut

kembali sadar. “Gak ada kata kompromi dengan hal-hal yang kaya

begitu! Kita punya Allah yang Maha Kuasa, jadi gak usah takut dengan

begituan..” imbuhbeliau.13

Memang tidak mudah untuk mengubah kebiasaan seseorang, terlebih lagi jika kebiasaan itu sudah melekat dalam perilaku sehari-hari. Disamping itu, jarang sekali orang dengan mudahnya mau menerima nasihat, karena hal itu juga berkaitan pada pola fikir dan tingkat intelegensi individu. Namun demikian, niat ustadz Abdul Hakim menjadi kuat untuk berdakwah di tengah masyarakat kampung Sudimampir agar mereka tidak keliru dengan ajaran yang ada dalam agama Islam, baik aqidah maupun syari‟ah.

Dakwah ustadz Abdul Hakim pun juga mempunyai ciri khas, yaitu menggunakan teknik memahami kondisi psikologis masyarakat

yang menjadi mad’u-nya dan keadaan lingkungannya serta selalu

menekankan pada pengaplikasian materi dakwahnya dalam kehidupan sehari-hari.

Semua upaya ini dilakukan agar ustadz Abdul Hakim lebih

mengenal mad’u-nya dan diharapkan agar jama‟ah (mad’u) yang

menjadi objek dakwahnya dapat terbuka kepada beliau mengenai

permasalahan agama yang terjadi. “Terlebih lagi mayoritas anak muda

13

di kampung ini lebih tertutup dibanding para orang tua, sehingga dikhawatirkan para anak muda di kampung Sudimampir terjerumus kepada perilaku negative yang lebih parah dan semakin jauh dari norma-norma Islam karena kondisi psikologis mereka yang paling rawan dan labil pada usia tersebut.” ujar beliau.14

Dengan demikian menjadi jelas bahwa dakwah ustadz Abdul Hakim di kampung Sudimampir, Cimanggis, Bojong Gede ini bertujuan untuk berusaha membantu menyelamatkan masyarakat dari dekadensi moral dan intelektual serta membina pengamalan dan pemahaman ajaran agama Islam untuk bersama mendapatkan ridho Allah SWT.

Meskipun telah dirasa berhasil dan mengalami perubahan yang signifikan pada perilaku masyarakat kampung Sudimampir, namun ustadz Abdul Hakim tidak pernah berniat untuk berhenti berdakwah dan selalu berupaya untuk terus mengingatkan masyarakat agar istiqomah menjalankan perintah dan ajaran agama Islam dengan sebaik-baiknya dan memfilter pemahaman-pemahaman yang keliru.

14

56

PENUTUP

A. Kesimpulan

Setelah melakukan penelitian dan memaparkan sejumlah data-data yang didapat dari lapangan, maka kesimpulan yang dapat ditarik sebagai jembatan

dari rumusan masalah, adalah sebagai berikut:

Ustadz Abdul Hakim dalam misi dakwahnya lebih mengedepankan

metode bil-hikmah dan mau’izatul hasanah dibandingkan metode mujadalah.

Adapun metode bil-hikmah yang beliau maksudkan dalam dakwahnya di

kampung Sudimampir adalah kebijaksanaan dalam menyampaikan materi

dakwah dan menyikapi kondisi mad’u yang berbeda-beda, baik dari segi usia

maupun pendidikan yang didapat serta lain sebagainya; agar mereka tidak

merasa dikucilkan dari masyarakat tempat tinggalnya dan akhirnya mereka pun tersadar dan mau menerima dakwah yang disampaikan. Hal ini senada dengan

definisi bil-hikmah yang dikemukakan oleh Thoha Yahya Umar.

Adapun metode mau’izatul hasanah yang digunakan dalam

dakwahnya, ustadz Abdul Hakim lebih condong mengikut pendapat Imam Ahmad As-Showi dalam penjelasannya terhadap pendapat Imam jalaluddin

As-Suyuthi; bahwa mau’izatul hasanah adalah nasehat dengan tutur bahasa

yang lembut dan sopan untuk memotivasi seseorang dalam ketaatan beribadah dan meninggalkan larangan Allah SWT.

yang diinginkan, yaitu kesepakatan bersama terhadap masalah yang didiskusikan.

B. Saran

Setelah selesai memaparkan jawaban dari rumusan masalah, ada

beberapa hal yang perlu disampaikan peneliti, meskipun secara keseluruhan dari metode dakwah ustadz Abdul Hakim sudah cukup baik yang dibuktikan melalui adanya perubahan dari kebiasaan masyarakat yang dahulunya minim dalam pemahaman dan pengamalan ajaran agama Islam, menjadi masyarakat

yang paham serta mengerti dan mau menjalankan tuntunan agama. Oleh karena itu, ada berberapa hal yang sebaiknya menjadi bahan pertimbangan dalam aktivitas dakwah ustadz Abdul Hakim di kampung Sudimampir:

- Dalam dakwahnya, sebaiknya ustadz Abdul Hakim tidak hanya terpaku

dengan dakwah bil-haal dan dakwah bil-lisaan, akan tetapi bisa

dikembangkan dengan dakwah bil-qolam melalui tulisan-tulisan beliau

yang bisa dibaca oleh masyarakat luas.

Semoga metode dakwah yang digunakan ustadz Abdul Hakim mampu menjadi penuntun yang membantu masyarakat kampung Sudimampir desa Cimanggis, Bojong Gede dapat senantiasa mengamalkan ajaran-ajaran yang

58

Abdul Khair Sayid Abd. Rauf, Dirasah Fid Dakwahal-Islam iyah, Kairo:

Dar El-Tiba’ah al-Mahmadiyah, 1987

Al-Fayumi, Ahmad bin Munir al-Muqri’, al-Misbahul Munir, Riyadh:

al-Maktabah al-Araby, 1982

Al jawi, Syekh Muhammad Nawawi,Marah Labid Tafsir An Nawawi,tp, t-tp,

tt

Al-Jarisyah, Ali, Adab al-Hiwar wa al-Munazharah, Munawarah: Dar

al-Wifa, 1989

As-Shawi, Ahmad , Tafsir Hasyiyah Al-A’laamah As-Showi, Bairut: Dar

al-Fikr, 2002

Anten, Elyas, Ashi Injilizi Arabig, Mesir: Elyas Modern Press, 1951

Arifin, Psikologi Dan Beberapa Aspek Kehidupan Rohaniyah Manusia,

Jakarta: Bulan Bintang, 1976.

Arifin, M, Psikologi Dakwah Suatu Pengantar Studi, Jakarta: Bumi Aksara,

2001

_______, Ilmu Pendidikan Islam , Bumi Aksara: Jakarta, 1991

Arifin, Burhan, Pengantar Motode Kualitatif, Usaha Nasional: Surabaya,1992

Asshawi, Ahmad, Hasiyah A’lamatus Showi, Dar al Fikr: Bairut, tt

Aziz, Moh. Ali, Ilmu Dakwah, Jakarta: Kencana, 2004

Badruttamamam, Nurul, Dakwah Kolaboratif Tarmidzi Taher, Jakarta:

Grafindo, 2005

Bahtiar,Wardi, Metodologi Pendidikan Ilmu Dakwah, Jakarta: Logos, 1997

Danissalam, Ghazali, Ilmu Dakwah Islamiyah, Malaysia: Nur Niaga SON.

BHD, 1996

Hamka, Tafsir Al-Azhar, Jakarta: Pustaka Panjimas, 1983

Hamzah, Ya’qub, Publisistik Islam Teknik Dakwah dan Leadership, Bandung: CV. Diponogoro, 1981.

Harjono, Anwar, Dakwah dan Masalah Sosial Kemasyarakatan, Jakarta:

Usaha Nasional, 1982

_________, Tinjauan Aspek Dalam Berdakwah di Indonesia, Jakarta: PT.

Pedoman Ilmu Jaya, Jakarta, 1996

Ibnu Taimiyah, Majmu Al-fatwa, Riyadh: Mathabi Ar-Riyadh, 1985

Imam Ahmad As- Shawi, Tafsir Hasyiyah Al-A’laamah As-Showi, Bairut,

Libanon: Dar al-Fikr, 2002

Irawan, Soehartono, Metodologi Penelitian Sosial, Suatu Teknik Penilaian

Bidang Kesejahteraan Sosial dan Ilmu-Ilmu Sosial Lainya, Bandung: PT. Remaja Rosdakarya, 2004

Latif, M. Nasarudin, Teori dan Praktek Dakwah Islam iyah, Jakarta: Firma, tt

Mansyi, Abdul Kadir, Metode Diskusi dalam Dakwah, Surabaya: al-Ikhlas,

1981

Manzhur, Ibnu, Lisanul Arab, Beirut: Daar al Shadr, tt

Ma’luf, Louis, Munjid Fil Logoh Wa A’lam, Bairut: Darul Fikr, 1986

Moleong, Lexy J, Metodologi Penelitian Kualitatif, Bandung: PT Remaja

Rosdakarya, 2006

Munawir, Warson, Kamus Al-Munawir, Surabaya: Pustaka Progresif, 1994

Munir, Syamsul, Ilmu Dakwah, Jakarta: Amzah, 2009

Munir. M, Ilahi. Wahyu, Manajemen Dakwah, Jakarta: Rahmat Semesta, 2006

Natsir, Mohammad, Fiqhud Da’wah, Jakarta: Media Da’wah, 2006

Saleh, Abd. Rosyad, Manajemen Dakwah Islam , Jakarta: PT. Bulan Bintang,

1986

Saputra, Wahidin, Pengantar Ilmu Dakwah, Jakarta: PT. Raja Grafindo

Persada, 2011

Shihab, Quraish, Membumikan Al-Qur’an, Fungsi dan Peran Wahyu Dalam

Kehidupan Masyarakat, Bandung: Mizan, 2001

Syukir, Asmuni, Dasar-Dasar Strategi Dakwah Islam , Surabaya: Al-Ikhlas,

Tasmara, Toto, Komunikasi Dakwah, Jakarta: Gaya Media Pratama, 1997.

Thantawi, Sayyid. Muhammad, Adab al-Khiwar Fil Islam , Mesir, Dar

al-Nahdiyah, diterjemah oleh Zuhairi Misrawi dan Zamroni kamal, Jakarta: Azan, 2001

Tim Penyusun Kamus Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa, Kamus

Besar Bahasa Indonesia, Jakarta: Balai Pustaka, 1998

Umar, Toha Yahya, Ilmu Dakwah, Jakarta: Wijaya, 1998

Umari, Barmawi, Azas-Azas Ilmu Dakwah, Solo: CV Ramdhani, 1987

Gambar 1.1 foto saat wawancara dengan ustadz Abdul Hakim

Dokumen terkait