TEMUAN DAN ANALISIS
B. Metode Dakwah Ustadz Abdul Hakim
1. Metode Dakwah Dalam Khutbah Jum’at
Dalam khutbah jum‟at yang rutin dilakukan ustadz Abdul Hakim di masjid yang ada di tempat tinggalnya, beliau biasa
mengedepankan metode dakwah bil-hikmah dan mau’izhah hasanah
seperti penjelasan di atas.
Pada saat khutbah jum‟at, ustadz Abdul Hakim biasa
menyampaikan materi berupa ilmu tauhid serta ilmu fiqh; dan
6
Hasil wawancara di kediaman ustadz Abdul Hakim, kampung Sudimampir 17 April 2013
7
pembawaan materi dalam dakwahnya biasa dibawakan dengan serius, tegas, dan tanpa humor maupun lelucon. Berbeda pada saat beliau menyampaikan ceramah di luar materi tersebut atau mengenai hukum Islam. Di bawah ini adalah salah satu khutbah yang pernah beliau sampaikan tentang hukum dan perintah melaksanakan shalat; yaitu: Kaum muslimin rahimakumullah..
“Shalat merupakan ibadah yang agung. Allah menjadikannya sebagai
rukun Islam yang kedua setelah kalimat syahadat, kalimat yang memasukkan seseorang ke dalam Islam.
Dari „Abdullah bin „Umarradhiyallahu „anhu, dia mengatakan
bahwasanya Rasulullah shallallahu „alaihi wa sallam bersabda:
هلإ ا أ دا ش ،س خ ع اـسإا ينب ، اصلا اقإ ،هل سر د ع اد حم أ ها اإ
. اضمر ص ، ي لا جح اكزلا ءاتيإ
“Islam dibangun atas lima (perkara): kesaksian bahwa tidak ada Tuhan yang berhak diibadahi selain Allah dan Muhammad adalah Rasulullah, mendirikan shalat, mengeluarkan zakat, haji ke baitullah, dan puasa Ramadhan.”
Namun, jika kita perhatikan dengan teliti, berapa banyak mereka yang menjadikan shalat termasuk di antara ibadah yang sering diremehkan oleh seorang muslim itu sendiri. Wal „iyaadzu billah.
Jama’ah sidang Jum’at rahimakumullah…
Seluruh ummat Islam sepakat bahwa orang yang mengingkari wajibnya shalat, maka dia dihukumi kafir atau keluar dari Islam. Tetapi, mereka berselisih tentang orang-orang yang meninggalkan shalat dengan tetap meyakini kewajiban hukumnya. Sebab perselisihan mereka adalah karena adanya sejumlah hadits Nabi shallallahu „alaihi wa sallam yang
menyebutkan orang yang meninggalkan shalat sebagai orang kafir, tanpa membedakan antara orang yang mengingkari dan yang bermalas-malasan mengerjakannya.
Sebuah hadits dari Jabir radhiyallahu „anhu, ia mengatakan bahwa Rasulullah shallallahu „alaihi wa sallam bersabda:
“Sesungguhnya (batas) antara seseorang dengan kesyirikan dan
kekufuran adalah meninggalkan shalat.”
Di lain hadits juga disebutkan, dari Buraidah, dia berkata, “Aku
mendengar Rasulullah shallallahu „alaihi wa sallam bersabda: .رفك دقف ا كرت ف ، اصلا م نيب اننيب لا د علا
“Perjanjian antara kita dan mereka adalah shalat. Barangsiapa meninggalkannya, maka ia telah kafir.”
Maka, setidaknya ketika kita selalu melaksanakan perintah shalat,tidaklah kita termasuk orang-orang yang disebut di dalam hadits tadi.
Namun, pendapat yang kuat tentang maksud dalam arti kufur di sini adalah kufur kecil yang tidak menjadikan seseorang keluar dari agama Islam. Dan hal tersebut adalah hasil kompromi antara hadits-hadits tersebut dengan beberapa hadits lain yang berkaitan, di antaranya:
Dari „Ubadah bin ash-Shamit radhiyallahu „anhu, ia berkata, “Aku
mendengar Rasulullah shallallahu „alaihi wa sallam bersabda: ش نم عيضي مل ب تأ م ،داـ علا ع ها تك ا ص س خ قحب افاف تسا ا ي
إ ،د ع ها دنع هل سي ف ب أي مل م ، نجلا ه خدي أ د ع ها دنع هل اـك ءاش
.هل رفغ ءاش إ هب ع
“Lima shalat diwajibkan Allah atas para hamba. Barangsiapa mengerjakannya dan tidak menyia-nyiakannya sedikit pun karena menganggap enteng, maka dia memiliki perjanjian dengan Allah untuk memasukkannya ke Surga. Dan barangsiapa tidak mengerjakannya, maka dia tidak memiliki perjanjian dengan Allah. Jika Dia berkehendak, maka Dia mengadzabnya. Atau jika Dia berkehendak, maka Dia
mengampuninya.”
Oleh karenanya, kita dapat menyimpulkan bahwa hukum meninggalkan shalat masih di bawah derajat kekufuran dan kesyirikan. Karena
Rasulullah shallallahu „alaihi wa sallam menyerahkan perkara orang
yang tidak mengerjakannya kepada kehendak Allah. Sedangkan Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
فا دقف ه لاب رشي م ۚ ءاشي ل كلٰ د ام رفغي هب رشي أ رفغي ال ه لا إ ٰ رت
ا يظع ا ثإ
“Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik, dan Dia mengampuni segala dosa yang selain dari (syirik) itu, bagi siapa yang
dikehendaki-Nya. Barangsiapa yang mempersekutukan Allah, maka sungguh ia telah berbuat dosa yang besar.” [An-Nisaa’: 48]
Dari Abu Hurairah radhiyallahu „anhu, ia berkata, “Aku mendengar
Rasulullah shallallahu „alaihi wa sallambersabda, „Sesungguhnya yang
pertama kali dihisab dari seorang hamba yang muslim pada hari Kiamat adalah shalat wajib. Jika dia mengerjakannya dengan sempurna (maka ia selamat). Jika tidak, maka dikatakan: Lihatlah, apakah dia memiliki shalat sunnah? Jika dia memiliki shalat sunnah maka shalat wajibnya disempurnakan oleh shalat sunnah tadi. Kemudian seluruh amalan
wajibnya dihisab seperti halnya shalat tadi.”
Dalam hadits lain, dari Hudzaifah bin al-Yaman, dia mengatakan bahwa Rasulullah shallallahu „alaihi wa sallambersabda, “Islam akan lenyap sebagaimana lenyapnya warna pada baju yang luntur. Hingga tidak lagi diketahui apa itu puasa, shalat, qurban, dan shadaqah. Kitabullah akan diangkat dalam satu malam, hingga tidak tersisalah satu ayat pun di bumi. Tinggallah segolongan manusia yang terdiri dari orang tua dan renta.
Mereka berkata, „Kami dapati bapak-bapak kami mengucapkan kalimat: Laa ilaaha illallaah dan kami pun mengucapkannya.” Shilah berkata kepadanya, “Bukankah kalimat laa ilaaha illallaah tidak bermanfaat untuk mereka, jika mereka tidak tahu apa itu shalat, puasa,
qurban, dan shadaqah?”
Lalu Hudzaifah berpaling darinya. Shilah mengulangi pertanyaannya tiga kali. Setiap kali itu pula Hudzaifah berpaling darinya. Pada kali yang ketiga, Hudzaifah menoleh dan berkata, “Wahai Shilah, kalimat itulah
yang akan menyelamatkan mereka dari Neraka. (Dia mengulanginya tiga kali).”
Hadrin jama’ah sholat Jum’at yang berbahagia..
Shalat itu diwajibkan kepada setiap muslim yang telah baligh dan berakal,maka tidak menadi kewajiban bagi mereka yang tidak berakal. Sebagaimana hadits dari „Ali radhiyallahu „anhu, dari Nabi shallallahu „alaihi wa sallam, beliau bersabda:
ر نج لا ع ،م تحي تح ي صلا ع ،ظقيتسي تح مئانلا ع : ثاث ع م قلا عف
.لقعي تح
“Pena (pencatat amal) diangkat dari tiga orang: dari orang yang tidur
hingga terbangun, dari anak-anak hingga baligh, dan dari orang gila
Oleh sebab itu, maka wajib atas orang tua untuk menyuruh anaknya mengerjakan shalat sejak kecil; meskipun shalat tadi belum diwajibkan atasnya, agar ia terbiasa untuk mengerjakan shalat.
Sebagaimana dijelaskan dalam hadits, dari „Amr bin Syu’aib, dari
ayahnya, dari kakeknya, dia mengatakan bahwa Rasulullah shallallahu
„alaihi wa sallam bersabda:
شع ءانبأ مه ا ي ع مه برضا ، ينس ع س ءاـنبأ مه اصلاب مكدا أ ا رم ، ينس ر
.عجاض لا يف م نيب ا قرف
“Perintahkan anak-anak kalian untuk shalat pada usia tujuh tahun. Dan pukullah mereka karena meninggalkannya pada usia sepuluh tahun. Serta
pisahkanlah ranjang mereka.”
Jama’ah sholat Jum’at yang dimuliakan Allah..
Marilah kita semua selalu menjaga ketaatan kita dalam beribadah, terutama dalam melaksanakan shalat 5 waktu. Dan juga, mari kita bombing keluarga kita untuk selalu mendekatkan diri pada Allah dengan melaksanakan shalat.
Semoga Allah senantiasa memberikan kekuatan dan kesehatan dalam melaksanakan semua perintah-Nya dan menjauhi segala larangan-Nya.”
Pada materi yang disampaikan dalam teks khutbahnya di atas, bisa dilihat bahwa ustadz Abdul Hakim tidak hanya memberikan nasihat-nasihat untuk mengerjakan kewajiban shalat semata dengan
metode mau’izhah hasanah, tetapi juga dimasukkan di dalam materinya
mengenai penjabaran hukum kafir terhadap orang yang meninggalkan
shalat dengan metode bil-hikmah; yang diharapkan dapat mengajak
masyarakat yang belum tersentuh dakwahnya tanpa menyinggung perasaan mereka.
Pembawaan yang serius dan dakwah satu arah tersebut tidak lantas membuat ustadz Abdul Hakim jauh dari masyarakat, karena awal prinsip dasar metode dakwahnya adalah melakukan pendekatan kepada
masyarakat. “Tidak hanya kepada para orang tua, Ustadz pun berusaha untuk menjalin keakraban dengan para pemuda yang ada di sekitar dan juga para santrinya” ujar Agus, salah seorang jama‟ah
yang juga remaja sekitar.8
Ketika berkhutbah maupun berceramah, ustadz Abdul Hakim tidak biasa menggunakan muqaddimah yang terlalu panjang. Karena
menurutnya, “materi yang disampaikan kepada mad’u di kampung
Sudimampir ini lebih utama daripada muqaddimah itu sendiri. Jadi cukup rukun-rukun khutbahnya saja yang dipenuhi”.9 Begitu pula
dengan kemasan bahasa yang digunakan, tidak membuat sulit jama‟ah
dalam memahami materi khutbah yang disampaikan; hal itu juga serempak dengan penuturan salah seorang jama‟ah yang mengatakan “pak ustadz biasanya pas khutbah menggunakan bahasa yang ringan dan biasa digunakan di kampung, jadi lebih mudah difahami penduduk di sini.”10
Karena beliau sadar betul, bahwasanya objek dakwah beliau (mad’u) mayoritas berpendidikan rendah.11
8
Hasil wawancara bersama Saudara Agus, kampung Sudimampir, 20 April 2013
9
Hasil wawancara di kediaman ustadz Abdul Hakim, kampung Sudimampir 17 April 2013
10
Hasil wawancara bersama saudara Iyus, kampung Sudimampir 17 April 2013
11