BAB II LANDASAN TEORI
C. Rasio Keuangan
2. Macam-macam Rasio Keuangan
Adapun rasio keuangan yang sering digunakan adalah:
1) Rasio Likuiditas : rasio likuiditas mengukur kemampuan perusahaan untuk memenuhi kewajiban finansial jangka pendek. Rasio likuiditas dapat dihitung berdasarkan informasi modal kerja dari pos-pos aktiva lancar dan hutang lancar (Arifin, 2004: 8). Beberapa jenis rasio likuiditas yaitu:
a. Current Ratio: digunakan untuk mengukur kemampuan perusahaan untuk membayar kewajiban yang harus segera dipenuhi dengan aktiva lancar yang dimiliki. Rumus untuk menghitungcurrent ratio adalah sebagai berikut:
= Aktiva lancar Kewajiban lancar
b. Cash Ratio atau Ratio of Immediate Solvency: digunakan untuk mengukur kemampuan perusahaan untuk membayar kewajiban yang harus segera dipenuhi dengan kas yang tersedia dan efek (surat berharga) yang dapat segera dicairkan. Rumus untuk menghitung cash ratio adalah sebagai berikut:
= Kas + efek Kewajiban lancar
c. Quick Ratio atau Acid Test Ratio: digunakan untuk mengukur kemampuan perusahaan dalam membayar kewajiban yang harus segera dipenuhi dengan aktiva lancar yang lebih likuid (liquid asset). Rumus untuk menghitung quick ratioadalah sebagai berikut:
= Kas + efek + piutang Kewajiban lancar
d. Working Capital to Total Assets Ratio: digunakan untuk mengukur likuiditas dari total aktiva dan posisi modal kerja (neto). Rumus untuk menghitungnya adalah sebagai berikut:
= Aktiva lancar − Kewajiban lancar Jumlah aktiva
2) Rasio solvabilitas: rasio ini menggambarkan kemampuan perusahaan dalam membayar kewajiban jangka panjangnya atau kewajiban-kewajibannya apabila perusahaan dilikuidasi. Rasio ini dapat dihitung dari pos-pos yang sifatnya jangka panjang seperti aktiva tetap dan utang jangka panjang (Harahap, 2007: 303).
a. Rasio Utang atas Modal: rasio ini menggambarkan sampai sejauh mana modal pemilik dapat menutupi utang-utang kepada pihak luar. Semakin kecil rasio ini semakin baik. Rasio ini disebut juga rasio leverage. Untuk keamanan
pihak luar rasio terbaik jika jumlah modal lebih besar dari jumlah utang atau miminal sama.
Rasio Utang atas Modal = Total utang Modal ( Equity)
b. Debt Service Ratio (Rasio Pelunasan Utang): rasio ini menggambarkan sejauh mana laba setelah dikurangi bunga dan penyusutan serta biaya nonkas dapat menutupi kewajiban bunga dan pinjaman. Semakin besar rasio ini semakin besar kemampuan perusahaan menutupi utang-utangnya. Perusahaan yang sehat mestinya laba yang diperoleh jauh melebihi kewajiban pembayaran/pelunasan utang.
= Laba ber sih + bunga + penyusutan + Biaya nonkas Pembayaran Bunga dan Pinjaman
c. Rasio Utang atas Aktiva: rasio ini menunjukkan sejauh mana utang dapat ditutupi oleh aktiva. Lebih besar rasionya, lebih aman (solvable).
= Total Utang Total Aktiva
3) Rasio Aktivitas: digunakan mengukur seberapa efektif perusahaan menggunakan sumber daya yang dimiliki (Arifin, 2004: 11). Rasio aktivitas diantaranya sebagai berikut:
a. Total Assets Turnover: digunakan untuk mengukur kemampuan dana yang tertanam dalam keseluruhan aktiva yang berputar pada suatu periode atau kemampuan modal yang diinvestasikan untuk menghasilkan “revenue”. Rumus untuk menghitung Total Assets Turnover adalah sebagai berikut:
= Penjualan neto Total aktiva
b. Receivable Turnover: digunakan untuk mengukur kemampuan perusahaan dalam mengelola dana yang tertanam dalam piutang yang berputar pada suatu periode tertentu. Rumus untuk menghitung Receivable Turnover adalah sebagai berikut:
= Penjualan kredit Piutang rata − rata
c. Average Collection Period: digunakan untuk mengukur periode rata-rata yang diperlukan untuk mengumpulkan piutang (dalam satuan hari). Jika menghasilkan angka yang
semakin kecil menunjukkan hasil yang semakin baik. Rumus untuk menghitung Average Collection Period adalah sebagai berikut:
= Piutang rata − rata x 360 Penjualan kredit d. Inventory Turnover: digunakan untuk mengukur
kemampuan dana yang tertanam dalam persediaan yang berputar pada suatu periode tertentu. Atau, likuiditas dari persediaan dan tendensi adanya“overstock”. Rumus untuk menghitungnya adalah sebagai berikut:
= Harga pokok penjualan Persediaan rata − rata
e. Average Day’s Inventory: digunakan untuk mengukur periode (hari) rata-rata persediaan barang dagangan berada di gudang perusahaan. Rumus untuk menghitungnya adalah sebagai berikut:
= Persediaan rata − rata x360 Harga pokok penjualan
f. Working Capital Turnover: digunakan untuk mengukur kemampuan modal kerja (neto) yang berputar pada suatu
periode siklus kas (cash cycle) yang terdapat di perusahaan, dihitung dengan rumus sebagai berikut:
= Penjualan Neto
Aktiva lancar − kewajiban lancar
4) Rasio Profitabilitas atau Rentabilitas, menggambarkan kemampuan perusahaan mendapatkan laba melalui semua kemampuan, dan sumber yang ada seperti kegiatan penjualan, kas, modal, jumlah karyawan, jumlah cabang, dan sebagainya (Harahap, 2007: 304).
a. Margin Laba (Profit margin): angka ini menunjukkan berapa besar persentase pendapatan bersih yang diperoleh dari setiap penjualan. Semakin besar rasio ini, semakin baik karena dianggap kemampuan perusahaan dalam mendapatkan laba cukup tinggi.
= Pendapatan bersih Penjualan
b. Asset Turnover (Return On Asset): rasio ini menggambarkan perputaran aktiva diukur dari volume penjualan. Semakin besar rasio ini semakin baik. Hal ini berarti bahwa aktiva dapat lebih cepat berputar dan meraih laba.
= Penjualan bersih Total Aktiva
c. Retained Earning to Total Asset Ratio (Return On Equity/ROE): rasio ini menunjukkan berapa persen diperoleh laba bersih bila diukur dari modal pemilik. Semakin besar semakin bagus.
= Laba bersih
Rata − rata Modal ( Equity)
d. Return On Total Asset (ROA): rasio ini menunjukkan berapa besar laba bersih diperoleh perusahaan bila diukur dari nilai aktiva.
= Laba bersih Rata − rata Total Aset
e. Basic Earning Power: rasio ini menunjukkan kemampuan perusahaan memperoleh laba diukur dari jumlah laba sebelum dikurangi bunga dan pajak dibandingkan dengan total aktiva. Semakin besar ratio semakin baik.
= EBIT
Total Aktiva
f. Earning per Share: rasio ini menunjukkan berapa besar kemampuan per lembar saham menghasilkan laba.
= Laba bagian saham bersangkutan Jumlah saham
g. Contribution Margin: rasio ini menunjukkan kemampuan perusahaan melahirkan laba yang akan menutupi biaya-biaya tetap atau biaya-biaya operasi lainnya. Dengan pengetahuan atas rasio ini kita dapat mengontrol pengeluaran untuk biaya tetap atau biaya operasi sehingga perusahaan dapat menikmati laba.
= Laba kotor Penjualan
5) Rasio Penilaian Pasar (Market Based Ratio), rasio ini merupakan rasio yang lazim dan yang khusus dipergunakan di pasar modal yang menggambarkan situasi/keadaan prestasi perusahaan di pasar modal (Harahap, 2007: 310).
a. Price Earning Ratio (PER): rasio ini menunjukkan perbandingan antara harga saham di pasar atau harga perdana yang ditawarkan dibandingkan dengan pendapatan yang diterima. PER yang tinggi menunjukkan ekspektasi investor tentang prestasi perusahaan di masa yang akan datang cukup tinggi.
= Harga Pasar Saham Laba Bersih
b. Market to Book Value Ratio: rasio ini menunjukkan perbandingan harga saham dipasar dengan nilai buku saham tersebut yang digambarkan di neraca.
= Nilai Pasar Saham Nilai Buku