• Tidak ada hasil yang ditemukan

Majlis-majlis

Dalam dokumen Kebijakan al-makmun tentang pendidikan (Halaman 91-96)

BAB II HUBUNGAN NEGARA DAN PENDIDIKAN DALAM

A. Perkembangan Lembaga Pendidikan sebelum al- Ma’mun

4. Majlis-majlis

Majlis merupakan isim makan - kata yang menunjukan arti tempat– dari asal kata (fi’il) jalasa. Jalasa yang artinya duduk. Sinonim dengan kata qa’adah.

Jalasa mengacu kepada keadaan seseorang yang duduk setelah melakukan kegiatan yang lain, seperti tidur dan berbaring.191 Misalnya; pernyataan Khatib

al-190

Charles Michael Stanton, Pendidikan Tinggi dalam Islam, Sejarah dan peranannya dalam kemajuan ilmu pengetahuan(Jakarta: Logos, 1994), 163.

191

George Makdisi,The Rise of Humanism in Classical Islam and The Crystian West With Special Reference to Scholasticism (Endinburgh University Press, 1990), 11.

Baghdadi (w. 463 H./1071 M.) yang dikutip oleh George Makdisi: و ﺔ ﻌ ﻤ ﺠ ﻟ ا ا ﻮ ﺗ ا ﻢ ﺛ

(kemudian datanglah pada hari jum’at dan

shalatlah dua raka’at kemudian duduk belajar ilmu dan sunnah).

Istilah majlis telah lama dipakai oleh dunia pendidikan sejak abad pertama Islam. Awal mulanya ia mununjukan kepada arti tempat terjadinya proses

kegiatan belajar mengajar, seperti ungkapan.

(Fulan pergi kesuatu majlis yang mengajarkan hadits). Kata majlis ini juga bisa dipakai untuk menunjukan arti pelajaran, seperti ( Dia hanya mengajarkan satu atau dua hadits saja). Selain itu juga majlis bisa diartikan sebagai tempat duduk, yaitu kursi yang dipakai oleh seorang guru untuk mengajar, sepertiﻪ ﺴ ﻠ ﺠ ﻣ ﻰ ﻓ ه ﺪ ﻌ ﺑ ﻰ ﺴ ﻠ ﺟ ى ﺪ ﻟ ا و ﻪ ﺑ ﺎ ﺤ ﺻ ا ﻦ ﻣ م ﺪ ﻘ ﻤ ﻟ ا ﻮ ﻫ (Dia guru mengajar lebih dahulu dari pada teman-temannya). Bahkan majlis bisa dipakai untuk menunjukan orang-orang yang duduk di suatu majlis.192

Pada perkembangan selanjutnya - dimana dunia pendidika Islam mencapai zaman keemasannya – majlis berarti merupakan sesi dimana aktivitas belajar mengajar atau diskusi berlangsung, dan belakangan majlis di artikan sebagai sejumlah aktivitas.Majlis yang di-idhafah-kan kepada nama orang berarti menunjukan milik, misalkan majlis al-Nabi, itu menunjukan bahwa majlis yang diselenggarakan oleh Nabi, namun demikian tidak semua berarti milik ada juga yang bukan milik. Misalkan majlis al-Syafi’i ini bukan berarti menunjukan majlis yang diselenggaran di rumah al Syafi’i, tetapi ini merupakan satu kegiatan belajar mengajar yang diselenggarakan oleh al-Syafi’i. Jadi majlis yang disebutkan terakhir ini lebih condong sebagai kelas yang didalamnya dilakukan kegiatan belajar mengajar yang disampaikan mengenai Fiqih imam Syafi’i.193

Seiring dengan perkembangan ilmu pengetahuan dalam Islam, majlis banyak digunakan sebagai kegiatan transmisi keilmuan dari berbagai disiplin ilmu yang ada, sehingga pada perkembangannya majlis mengalami banyak ragamnya.

192

George Makdisi,The Rise of Humanism in Classical Islam and The Crystian West With Special Reference to Scholasticism,11.

193

Sebagaimana yang dijelaskan oleh Muniruddin ahmed yang dikutip oleh Hanun Asrohah, bahwa majlis-majlis yang ada terbagi dalam 7 macam, yaitu;

ﻠ ﺠ ﻣ (tempat pengkajian hadits) ﻠ ﺠ ﻣ (tempat Pengajaran umum)

ﻠ ﺠ ﻣ

ة ﺮ ﻇ ﺎ ﻨ ﻤ ﻟ ا (tempat berdebat)ة ﺮ ﻛ ا ﺪ ﻤ ﻟ ا ﻠ ﺠ ﻣ (tempat diskusi)ى ر ﻮ ﺸ ﻟ ا ﻠ ﺠ ﻣ (tempat untuk mengambil keputusan) ب د ﻻ ا ﻠ ﺠ ﻣ (tempat para pujangga, sastrawan).

ﻠ ﺠ ﻣ ﻮ ﺘ ﻔ ﻟ ا danﺮ ﻈ ﻨ ﻟ ا ﻠ ﺠ ﻣ ١ ٩ ٤

Majlis al-hadits merupakan tempat dimana berlangsungnya proses kegiatan belajar mengajar hadits, majlis ini terbagi dua tipe, pertama, majlis hadits yang bersifat permanen, dilaksanakan oleh seorang guru/Ahli di bidang hadits dan berlangsung lama hingga 20 sampai 30 tahunan. kedua, majlis hadits yang dilaksanakan sewaktu-waktu, biasanya dilakukan sekali atau dua kali dalam setahun dengan jumlah peserta biasanya mencapai ratusan ribu peserta, seperti majlis yang disampaikan oleh seorang ulama yang bernama ’Ashim bin ’Ali di Mesdjid Al-Rusafa dihadiri oleh peserta lebih kurang mencapai jumlah antara 100.000 sampai 120.000 orang.195

Sementara majlis al-Munaz{arah pada awal mulanya merupakan tempat pertemuan,perdebatan bukan semacam lembaga pendidikan seperti majlis al-munazharah yang diselenggarakan atas perintah khalifah. Menurut Syalabi, Khalifah Muawiyah sering mengundang ulama-ulama untuk berdiskusi di istananya.196 Demikian juga pada masa Dinasti abbasiyah, khalifah al-Ma’mun sering mengundang ulama-ulama untuk berdiskusi di istananya.

Ada juga majlis al-munaz{arah yang lebih bersifat edukatif, yang dilaksanakan secara kontinyu. Dimana terjadinya proses belajar mengajar antara murid dan guru, yang dilanjutkan dengan tanya jawab.

Berdasarkan inovasi yang dilakukan oleh murid-muridnya yang belajar hadits, sebelum dimulainya pelajaran, biasanya mereka berkumpul untuk saling mengingat dan mereviw pelajaran yang sudah berlalu sambil menunggu kehadiran

194

Hanun Asrohah, Sejarah Pendidikan Islam,51.

195

Hanun Asrohah, Sejarah Pendidikan Islam, 51-52.

196

guru. Lama kelamaan majlis ini pun berkembang menjadi suatu lembaga pendidikan.197

Secara khusus, Majlis al-adab atau majelis sastra merupakan majlis yang teristimewa dibandingkan dengan majlis-majlis yang lain, oleh karena itu pada masa bani Umayyah dan Abbasiyah, majlis-majlis ini pada awalnya merupakan perkembangan dari majlis di masjid. Bahkan majlis-majlis ini menuai perkembangannya jauh lebih pesat bermula pada zaman Abbasiyah.

Menurut Mahmud Yunus majlis sastra yang ada pada masa Abbasiyah dihiasi dengan perhiasan yang sangat indah sekali, sesuai dengan kebesaran khalifah pada masa itu. Sedangkan waktu pelaksanaannya ditentukan oleh khalifah, begitu pula akhir dan selesainya majlis itu.198

Pada masa pemerintahan khalifah harun al-Rasyid (170 – 193 H./786 – 809 M.) majlis sastera menunjukan perkembangan kemajuan yang cukup signifikan, karena khalifah sendiri merupakan salah seorang ahli ilmu pengetahuan dan mempunyai cukup kecerdasan. Apalagi negara dalam keadaan tidak terlalu menghawatirkan (dalam keadaan tenang) dan pembangunan berjalan dengan lancar.

Pada majlis Rasyid sering kali diadakan perlombaan sya’ir di kalangan ahli sya’ir, dan perdebatan-perdebatan diantara para fuqaha serta sayembara seni dan sastra diantara ahli-ahli kesenian dan kesusastraan.199

Pada masa Harun al-Rasyid ini lahirlah para pujangga dan ahli ilmu dalam bermacam-macam bidang kecerdasan. Di bidang pujangga ada nama-nama yang cukup terkenal diantaranya; Abu Nawas, Abul ’Atahia, Da’bai Muslim bin al -Walid, al-Abbas bin al-Ahnaf. Di bidang seni musik ada nama yang cukup terkenal yaitu Ibrahim al-Mausili dan anaknya yang bernama Ishak.

Sedangkan di bidang ahli bahasa, terdapat nama abu ’Ubaidah, al -Ashma’i, al-Kasai dan Sibawaihi, serta di bidang fiqh antara lain Abu Yusuf,

197

Hanun Asrohah, Sejarah Pendidikan Islam,53.

198

Mahmud Yunus,Sejarah Pendidikan Islam (Jakarta: Hidakarya, 1989), 86.

199

sahabat Abu Hanifah dan Muhammad (keduanya berada di Baghdad), yang bertempat di Madinah, yaitu; Imam al-Malik dan Imam Syafi’i sebelum hijrah ke Mesir.

Akhirnya majlis ini mencapai puncak keemasannya pada masa khalifah al-Ma’mun, karena beliau sendiri merupakan salah seorang sosok ulama besar. Oleh karena itu majlis al-Ma’mun selalu penuh oleh para ahli ilmu, ahli sastra, ahli sya’ir, ahli kedokteran dan ahli filsafat. Mereka diundang oleh al-Ma’mun dari segala penjuru dunia yang telah berkemajuan. Kadang-kadang al-Ma’mun sendiri turut larut dalam diskusi dan perdebatan tentang berbagai hal dengan mereka. Di samping itu banyak lagi guru-guru dan penerjemah-penerjemah ilmu filsafat ke dalam bahasa Arab.200

Demikianlah perkembangan lembaga-lembaga pendidikan islam yang ada pada masa itu, yang terus mengalami proses penyesuaian dengan kemajuan yang telah di capai pada saat itu, baik dari segi sarana dan prasarananya, kurikulum mau pun pembiayaannya.

Kurikulum,201 pendidikan Islam di masa klasik pada mulanya berkisar pada bidang studi tertentu, namun seiring perkembangan sosial dan kultural, maka materi kurikulum semakin di perluas. Pada masa Nabi di Madinah, materi yang diajarkan berkisar pada belajar menulis,membaca al-Qur’an,keimanan, ibadah, akhlak dasar ekonomi, dasar politik dan kesatuan.202

Pada masa kejayaan Islam, kurikulum sekolah tingkat rendah adalah al-Qur’an dan Agama, membaca, menulis serta syair. Dalam berbagai kasus ditambah dengan nahwu,cerita dan berenang. Di lain pihak di istana-istana biasanya di tegaskan pentingnya pengajarannya khitabah, ilmu sejarah, cerita

200

Mahmud Yunus,Sejarah Pendidikan Islam, 88.

201

Kurikulum adalah sejumlah mata pelajaran yang harus ditempuh atau dipelajari oleh siswa. Secara lebih luas kurikulum bukan hanya sekedar rencana pelajaran yang harus diselesaikan oleh siswa, akan tetapi, semua yang secara nyata terjadi dalam proses pendidikan di sebuah lembaga pendidikan. Lihat Ahmad Tafsir, Ilmu Pendidikan dalam persfektif Islam (Bandung: Rosdakarya, 1992),.53

202

Ahmad Tafsir, Ilmu Pendidikan dalam persfektif Islam(Bandung: Rosdakarya, 1992), 59-60.

perang, cara-cara pergaulan, disamping ilmu-ilmu pokok seperti; al-Qur’an, syair dan fikih.203

Dalam dokumen Kebijakan al-makmun tentang pendidikan (Halaman 91-96)