BAB II HUBUNGAN NEGARA DAN PENDIDIKAN DALAM
2. Perkembangan Pendidikan pada Masa Nabi
Setelah Nabi menerima wahyu yang pertama dan kedua,83 Nabi diwajibkan untuk memanggil (memberikan pendidikan, berdakwah) suatu umat yang telah begitu rusak kepercayaan dan akhlaknya,yang begitu fanatik atas adat
81
Ahmad Amin,Fajar al-Islam, 145
82
Musyrifah Sunanto,Sejarah Islam Klasik, 19-20
83
dan istiadat serta agama berhala nenek moyangnya,dengan berdakwah secara diam-diam diantara keluarga dan sahabat dekatnya.
Nabi telah mendidik umatnya secara bertahap,mulai dari keluarga dekatnya, seperti isterinya (siti Khadijah), saudara sepupunya (Ali bin Abi Thalib yang baru berumur 10 tahun), kemudian sahabat karibnya sejak masa kanak-kanak (Abu Bakar), zaed (bekas budak yang kemudian menjadi anak angkatnya) dan Ummu Aiman (pengasuh nabi sejak ibunya masih hidup) dan orang-orang terdekat lainnya.
Perjuangan yang Nabi lakukan bukan tanpa rintangan, seperti yang pernah dilakukanan oleh Abu Lahab, ia memprotes seruan Nabi, bahkan menuduhnya Nabi Muhammad saw. telah berubah ingatan. Ada juga yang menawarkan barter sesembahan dengan cara Muhammad boleh menyembah sesembahan yang mereka sembah dan mereka pun akan menyembah apa yang diserukan muhammad. Bahkan menurt Ibnu Ishaq, dalam Sirah Nabawiyah, diantara mereka,84 ada yang melemparkan isi perut domba,ada yang menaruh kotoran unta di pundak selagi Nabi salat, dan ada juga yang meletakkannya di periuk Nabi. Kejadian ini diketahui oleh Fatimah putri Nabi, yang kemudian menolong membersihkannya, sementara pelakunya hanya tertawa terbahak-bahak.85
Derita dan siksaan pun dialami oleh para pengikut Nabi yang dilancarkan oleh para penentangnya. Kekejaman yang dilakukan oleh kaum Quraisy Mekah terhadap kaum Muslimin itu, mendorong Nabi untuk mengungsikan sahabat-sahabatnya ke luar Mekah. Maka tempat yang dipilih adalah Habsyah (Ethiophia) sebagai negeri tempat pengungsian, karenaNegus (Raja) negeri itu adalah seorang yang adil.86
84
Mereka adalah Orang-orang yang terbiasa menyakiti Nabi selagi Nabi berada di dalam rumah, diantaranya Abu Lahab, al-Hakam bin Abul Ash bin Umayyah, Uqbah bin Abu Mu’aith,
Ady bin Hamra ats-Tsaqafy, dan Ibnul Ashda al-Hudzaly mereka semua merupakan tetangga dekat Nabi. Dan tak seoramng pun diantara mereka yang masuk Islam, selain al-Hakam Bin Abul Ash. Lihat, al-Mubarakfury, Sirah Nabawiyah, terj. Kathur Suihardi, (Jakarta: Pustaka al-Kautsar, 1999), 120.
85
Shaykh Shafiur Rahman al-Mubarakfury,Sirah Nabawiyah, 120.
86
Menguatnya posisi umat Islam, membuat reaksi kaum musyrikin Quraisy semakin keras,kemudian mereka mengambil keputusan untuk memutuskan segala hubungan yang berkaitan dengan Bani Hasyim, tindakan pemboikotan ini berlangsung selama tiga tahun, dan baru berhenti setelah beberapa pemimpin Quraisy menyadari bahwa apa yang mereka lakukan sungguh suatu tindakan yang keterlaluan.
Apa yang menyebabkan begitu dahsyatnya teror dan siksaan yang di lancarkan oleh kaum quraisy terhadap para pengikut Muhammad ini? Menurut Ahmad Shalabi, mencatat ada lima faktor penyebab;
Pertama, persaingan berebut kekuasaan. Kaum Quraisy mengira dengan tunduk kepada agama Muhammad berarti tunduk kepada kekuasaan Abdul Muthalib.
Kedua, persamaan hak antara kasta bangsawa dan hamba sahaya. Pelapisan sosial yang sudah berurat berakar di kalangan masyarakat arab sulit untuk di rubah, mereka menolak untuk disamakan statusnya antara bangsawan dan hamba sahaya, dan Islam datang justru melebur jurang perbedaan tersebut.
Ketiga, perasaan takut akan hari kebangkitan. Kaum Quraisy tidak bisa menerima agama Islam yang mengajarkan bahwa manusia akan dibangkitkan setelah kematiannya. Manusia akan dihidupkan kembali dalam keadaan tiada memiliki pengaruh apa-apa, terlebih lagi kekuasaan.
Keempat, taklid terhadap nenek moyang. Bagi kaum Quraisy amatlah berat untuk meninggalkan agama, adat istiadat, dan kebiasaan nenek moyang yang turun temurun.
Dan kelima, faktor ekonomi. Salah satu bisnis yang laku pada saat itu adalah pesanan pembuatan patung.87
Dengan keadaan seperti ini, tidak memungkin bagi Nabi untuk membangun sebuah pemerintahan Islam di Mekah, oleh karena itu,setelah banyak penduduk Yatsrib yang memeluk Islam, yang setia kepada Nabi dan telah mengikat diri dengan suatu perjanjian yang dikenal dengan perjanjian ”Aqabah pertama”.88
87
Ahmad Syalabi, Sejarah dan Kebudayaan Islam, terj. Mukhtar Yahya (Jakarta : Jayamurni, 1973), 62-63
88
Isi perjanjian itu antara lain berbunyi, atas nama penduduk Yatsrib, Kami meminta kepada Nabi agar berkenan pindah ke Yatsrib,mereka berjanji akan membela Nabi dari segala ancaman, dan Nabi pun menyetujui usul yang mereka ajukan, lihat, Badri Yatim, Sejarah Peradaban Islam (Jakarta: Radja grafindo Persada, 1998), 24.
Karena cobaan berupa tekanan yang dilakukan oleh kaum kafir Mekah demikian hebat, Nabi lalu diperintahkan untuk berhijrah ke madinah. Peristiwa hijrah ini terjadi pada tanggal 12 Rabiul awal atau 27 september 622 M. Setibanya Nabi dimadinah yang pertama ia lakukan adalah membangun masjid, mempersatukan kaum muhajirin dan kaum anshar, dan membuat perjanjian dengan penduduk non muslim yang isinya antara orang Islam dan non muslim saling melindungi dan menjamin keselamatan masing-masing.
Peristiwa tersebut, menurut Thamas W. Arnold, dinilai sebagai ”suatu gerakan strategi yang jitu”,89 yaitu suatu gerakan yang membebaskan kaum muslimin dari tindakan sewenang-wenang kaum quraisy. Di Madinah, Nabi diterima oleh penduduk Yatsrib, dan diangkat menjadi pemimpin mereka. Dengan demikian, Nabi sekarang bukan saja sebagai kepala agama, tetapi juga sebagai kepala negara. Dengan kata lain dalam diri nabi sekarang terkumpul dua kekuasaan, kekuasaan spiritual dan kekuasaan duniawi. Kedudukannya sebagai rasul secara otomatis merupakan kepala negara.90
Langkah pertama yang dilakukan nabi di Madinah dalam rangka pembentukan sebuah negara adalah membuat apa yang kemudian di kenal dengan nama”Piagam Madinah” (Mitsaq al-Madinah) pada tahun pertama Hijriyah.91 Piagam ini memuat tentang peraturan-peraturan dan hubungan antara berbagai komunitas dalam masyarakat Madinah. Dalam kaitan ini, Nabi bertindak sebagai kepala negara, dan piagam Madinah sebagai konstustisinya..
Fazlur Rahman, seorang tokoh neo-modernisme Islam, membenarkan bahwa masyarakat Madinah yang diorganisir Nabi merupakan suatu negara dan pemerintahan yang membawa kepada terbentuknya suatu umat Muslim. Pembentukan masyarakat baru ini ditantadi dengan sebuah perjanjian tertulis yang
89
Thomas W. Arnold,The Caliphate(London: Routledge & Keagan Paul, 1965), 23
90
Harun Nasution,Islam Ditinjau dari Berbagai Aspeknya(Jakarta: UI Press, 1985), 101.
91
Tentang pembuatan Piagam Madinah para sejarah sepakat bahwa Piagam Madinah dibuat pada permulaan periode Madinah atau tahun pertama hijriyah, demikian menurut Watt.sedangkan Well Husen, menetapkannya sebelum perang badar, sementara Hubert Grimne berpendapat bahwa piagam itu dibuat setelah perang Badar. Lihat. J.Suyuti, Prinsip-prinsip Pemerintahan dalam Piagam Madinah Ditinjau dari Pandangan al-Qur’an (Jakarta: Raja Grapindo Persada), 87-88.
disebut shahifat atau yang lebih dikenal dengan ”Piagam Madinah” (Mitsaq al-Madinah) atau dalam pandangan sekarang sering disebut dengan konstitusi Madinah.92
Menurut analisis Suyuti Pulungan, naskah perjanjian Madinah mengandung beberapa prisip, yaitu prinsip-prinsip persatuan dan persaudaraan, persamaan, kebebasan, tolong-menolong, dan membela yang teraniaya, hidup bertet6angga, keadilan, musyawarah, pelaksanaan hukum dan sangsi hukum, kebebasan beragama dan hubungan antar pemeluk agama, pertahanan dan perdamaian, amar ma’ruf dan nahyi mungkar, kepemimpinanh dan tanggung jawab pribadi dan kelompok, serta prinsip ketakwaan dan ketaatan93
Untuk memperlancar tugas-tugas kenegaraan, Nabi dibantu oleh beberapa orang sekretaris seperti, Zaid bin Tsabit dan Ali bin Abi Thalib.sementara untuk pemerintahan daerah, Nabi mengangkat para gubernur atau hakim. Salah satu diantaranya mengangkat Mu’adz bin Jabal menjadi gubernur Yaman. Sedangkan untuk hubungan internasional, Nabi mengadakan hubungan diplomatik dengan negara-negara sahabat. Ia mengirimkan surat dakwah kepada kepala negara lain, diantaranya Persia, Abbessinia, Oman, Yamamah, Bahrain, Syam dan Yaman.
Negara Madinah yang dipimpin Nabi merupakan model bagi hubungan antar agama dan negara dalam Islam94 Usaha Nabi segabagi”eksperimen Madinah” ini secara jelas menyajikan pola pendelegasian, wewenang dan kehidupan berkonstitusi.ide pokoknya adalah tatanan sosial-politik yang diperintah tidak oleh kemauan pribadi, melainkan secara bersama-sama serta tidak oleh prinsip-prinsip ad hoc (sementara) yang dapat berubah-ubah sejalan dengan kemauan peminpin. Melainkan dengan prinsip-prinsip yang dilembagakan dalam sebuah dokumen kesepakan dasar semua anggota masyarakat, yaitu konstitusi.
92
Badri Yatim,Sejarah Peradaban Islam II (Jakarta: Radja grafindo Persada, 1998), 26.
93
J. Suyuti Pulungan,Fiqh Siyasah (Jakarta: Rajawali, 2002), 85.
94
Robbert N. Bellah, Beyond Belief, terj. Rudi Harisyah Alam (Jakarta: Paramadina, 2000), 213. lihat kata pengantar Nurcholish Madjid dalam Muhammad Iqbal, Fiqh siyasah (Jakarta: Gaya Media Pratama, 2001)
Dalam hal pendidikan, yang mula pertama diupayakan oleh Nabi sebagai kepala Agama dan sekaligus sebagai kepala pemerintahan Madinah adalah membangun masjid. Melalui lembaga masjid ini, Nabi memberikan pendidikan pendidikan Islam. Dia juga memperkuat persatuan dikalangan kaum muslimin antara kaum Muhajirin dan Anshor, serta mengikis habis sisa-sisa permusuhan yang ada diantara keduan kaum tersebut.
Pada umumnya, materi pendidikan Islam yang diberikan pada periode Madinah ini lebih ditekankan kepada:
1. Pembentukan dan pembinaan masyarakat baru, menuju suatu kesatuan sosial dan pilitik. Wujud pelaksanaan pendidikan tersebut adalaha
a. Mengikis habis sisa-sisa permusuhan dan pertengkaran antar suku, dengan mengikat tali persaudaraan diantara mereka.
b. Mengajarkan bagai mana untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari dengan berusaha dan bekerja sesuai dengan kemampuan dan pekerjaannya masing-masing.
c. Menjalin kerja sama dan tolong-menolong dalam membentuk tata kehidupan masyarakat yang adil dan makmur.
d. Shalat jum’at sebagai media komunikasi seluruh umat Islam
2. Pendidikan sosial dan kewarganegaraan, yang mengambil bentuk pendidikan; a. Ukhuwah(persaudaraan) antara kaum muslimin.
b. Kesejahteraan sosial dan tolong menolong c. Kesejahteraan keluarga kaum kerabat.
3. Pendidikan anak dalam Islam.Rasulullah selalu mengingatkan pada umatnya antara lain;
a. Agar kita selalu menjaga diri dan keluarga dari api neraka.
b. Agar jangan meninggalkan anak dan keturunan dalam keadaan lemah dan tidak berdaya menghadapi tantangan hidup.95
Ada pun pendidikan anak yang dilakukan pada masa ini adalah dalam bentuk, pendidikan Tauhid, pendidikan salat, pendidikansopan santun dalam
95
keluarga, pendidikan sopan santun dalam masyarakat dan pendidikan kepribadian.96
4 Pendidikan Hankam dan Dakwah Islam, dalam rangka memperkokoh masyarakat dan negara baru.97
Setelah Nabi wafat, maka kepemimpinan umat Islam dilanjutkan oleh para sahabat Nabi, yaitu Abu Bakar, Umar, Usman dan Ali bin Abi Thalib, yang kemudian dikenal dengan sebutan al-Khulaf’ar-Rasyidin. Daulat al-Khulafa ar-Rasyidin ini memerintah selama 30 tahun dari tahun 11-41 H./632-661 M. Yang berkedudukan di Madinah al-Munawarah.