Dalam perkembangan kehidupan manusia, pendidikan mengambil peranan yang sangat menentukan untuk tercapainya tujuan hidup baik di dunia maupun di akhirat. Oleh karena itu pada penulisan tesis ini, penulis ingin menguraikan mengenai sejarah perkembangan pendidikan Islam hingga mencapai puncaknya pada masa Khalifah al-Ma’mun pada Dinasti Abbasiyah.
Sangatlah menarik sekali untuk diketahui, faktor-faktor apa sajakah yang telah mempengaruhi keberhasilan keberhasilan umat Islam pada masa itu sampai berhasil mencapai puncaknya dalam bidang ilmu pengetahuan dibandingkan dengan dunia barat.
Maka, Pada bab pertama ini akan diuraikan tentang latar belakang masalah, identifikasi masalah, perumusan masalah, penelitian terdahulu yang relevan, metodologi dan tujuan dari penelitian ini secara komprehensip untuk mendapatkan satu kesimpulan yang jelas.
A. Latar Belakang Masalah
Islam adalah agama yang memerintahkan kepada umatnya untuk selalu mencari ilmu, karena Islam sangat menjunjung tinggi orang-orang yang memiliki ilmu pengetahuan. Dengan ilmu penmgetahuan, seseorang akan menjadi mulia, terhormat dan mampu menghadapi segala permasalahan yang terjadi dalam kehidupan ini.1
Dalam pengertian yang seluas-luasnya, pendidikan Islam berkembang seiring dengan kemunculan Islam itu sendiri, dimana Islam lahir dan berkembang lengkap dengan usaha-usaha pendidikan untuk mentransformasikan ilmu pengetahuan.2
1
Lihat al-Qur’an, surat al-Muja>dalah,(22), 11
2
Azyumardi Azra, Pendidikan Islam Tradisi dan Modernisasi Menuju Milenium Baru (Jakarta: PT. Logos Wacana Ilmu, 2002), Vii.
Sedangkan tujuan akhir dari pendidikan Islam adalah terwujudnya kepribadian muslim, yang keseluruhan aspeknya merealisasikan atau mencerminkan ajaran Islam, dengan kata lain kepribadian yang seluruh aspek-aspeknya yakni baik tingkah laku lahirnya, kegiatan-kegiatan jiwanya, mau pun filsafat hidup dan kepercayaannya menunjukan pengabdian kepada Tuhan dan penyerahan diri kepada-Nya. Akhirnya kepribadian muslim itu tidak akan terlepas dari berpilihnya tiga hal yaitu; Iman, Islam dan Ikhsan.3
Dengan memperhatikan dasar, proses dan tujuan dari pendidikan yang sangat mulia itu, maka hemat penulis alangkah bahagianya kalau semua manusia di dunia ini mendapatkan pendidikan yang baik. Persoalannya, mampukah bangsa-bangsa di dunia ini menyelenggarakan pendidikan dengan baik. Kalau mampu kenapa masih banyak manusia yang tidak berpendidikan, kalau tidak bukankah dahulu Islam pernah meraih masa kejayaan di bidang ilmu pengetahuan. Untuk mengetahui itu semua, maka penulis mencoba untuk meneliti tentang sejarah pendidikan Islam pada masa awal pemerintahan Islam hingga mencapai puncaknya pada masa pemerintahan Khalifah al-Ma’mun
Pada masa awal perkembangan Islam, pendidikan Islam berlangsung secara informal, itu pun lebih berkaitan dengan upaya-upaya Dakwah Islamiyah, atau penyebaran dan penanaman dasar-dasar kepercayaan dan ibadah Islam. Proses pendidikan Islam pertama kali dilakukan di rumah sahabat nabi, yang paling terkenal adalah di rumah Dar al-Arqam, selanjutnya, setelah masyarakat Islam mulai terbentuk, maka proses pendidikan diselenggarakan di masjid. Proses kegiatan belajar di kedua tempat ini dilaksanakan dengan cara halaqah, membentuk lingkaran belajar.
Pendidikan masa masa awal ini dapat dibagi menjadi pendidikan pada periode Mekah dan periode Madinah. Pendidikan Islam pada periode Mekah pada intinya adalah mengajarkan ajaran tauhid, yang merupakan perhatian utama Rasulullah ketika itu. Menurut, Mahmud Yunus, menyatakan bahwa pembinaan pendidikan Islam pada masa ini meliputi:
3
a. Pendidikan keagamaan yang menitik tekankan kepada pendidikan tauhid. Hendaklah membaca dengan nama Allah semata-mata, jangan mempersekutukan dengan yang lain.
b. Pendidikan akliyah dan ilmiyah, yaitu mempelajari kejadian manusia dari segumpal darah dan kejadian alam semesta.
c. Pendidikan akhlak dan budi pekerti, sesuai dengan ajaran tauhid.
d. Pendidikan jasmani (kesehatan), yaitu mementingkan kebersihan pakaian, badan dan tempat kediaman.4
Sedangkan pendidikan Islam pada periode Madinah ini telah mengalami perkembangan, bukan hanya sekedar tauhid, tetapi telah berkembang kepada pembentukan dan pembinaan masyarakat. Adapun titik tekan pendidikan pada periode ini antara lain;
a. Pembentukan dan pembinaan masyarakat baru, menuju kepada satu kesatuan sosial dan politik. Antara lain yang dilakukan oleh Nabi dalam melaksanakan pendidikannya adalah;
1. Nabi mengikis habis sisa-sisa permusuhan dan pertengkaran antar suku, dengan mengikat tali persaudaraan di antara mereka.
2. Nabi mengajarkan untuk selalu berusaha dan bekerja sesuai dengan kemampuan dan pekerjaannya masing-masing, untuk memenuhi kebutuhan hidupnya sehari hari.
3. menjalin kerjasama dan tolong menolong dalam membentuk kehidupan masyarakat yang adil dan makmur
4. melaksanakan shalat jum’at sebagai media komunikasi seluruh umat Islam.
b. Pendidikan Sosial dan kewarganegaraan, yang meliputi; 1. Pendidikan ukhuwah (persaudaraan) antar kaum muslimin 2. Pendidikan kesejahteraan sosial dan tolong menolong 3. Pendidikan kesejahteraan keluarga kaum kerabat.
c. Pendidikan untuk anak dalam Islam, Nabi selalu mengingatkan kepada umatnya untuk;
1. Agar kita selalu menjaga diri dan angota keluarga dari Api neraka.
4
2. Agar jangan meninggal anak dan keturunan dalam keadaan lemah dan tidak berdaya dalam menghadapi tantangan hidup.
3. Orang yang dimuliakan Allah adalah orang yang berdoa agar dikaruniai keluarga dan anak keturunan yang menyenagkan hati.5
Sepeninggal Nabi, maka kepemimpinan dilanjutkan oleh al-Khulafa’ ar -Rasyidin. (11-41 H./632-661 M.), yang berdudukan di Madinah al-Munawarah, selama lebih kurang 30 tahun menurut kalender Hijriyah dan 29 tahun menurut kalender Masehi. Akan tetapi pemerintahan yang singkat ini sangat menentukan sekali bagi kelanjutan agama Islam, termasuk pendidikan Islam dan kekuatan Islam.
Pada masa khalifah Abu Bakar, masalah pendidikan nyaris tak tersentuh, karena Abu bakar lebih memfokuskan pemerintahannya kepada para pemberontak dan pembangkang terhadap Islam. Selain itu, Abu Bakar juga lebih memusatkan perhatiannya untuk mengirim pasukannya dalam rangka memperluas ekspansi wilayah Islam ke Syiria untuk melaksanakan niat Rasulullah yang telah dipersiapkan sesaat sebelum Rasulullah wafat.6
Pada masa Khalifah Umar bin Kaththab, kondisi politik dalam keadaan stabil, sehingga Umar banyak melanjutkan kebijakan yang telah diambil oleh Abu Bakar. Ekspansi Islam dilanjutkan, sehingga mencapai hasil yang cukup gemelang yang meliputi daerah kekuasaan semenanjung Arabia, Palestina, Syiria, Irak, Persia dan Mesir. Berkaitan dengan pendidikan, maka khalifah Umar memerintahkan kepada para panglimanya untuk selalu mendirikan masjid di daerah-daerah yang menjadi taklukannya, sebagai tempat untuk beribadah dan melakukan kegiatan pendidikan.7 Berkaitan dengan pendidikan pula, maka khalifah Umar banyak mengangkat dan menunjuk guru-guru untuk tiap-tiap daerah yang ditaklukkannya, yang bertugas untuk mengajarkan isi al-Qur’an dan ajaran Islam kepada penduduk yang baru Islam. Dia juga menganjurkan kepada
5
Zuhairini,dkk.,Sejarah Pendidikan Islam (Jakarta: Depag, 1986), 34-50.
6
Hanun Asrohah,Sejarah Pendidikan Islam (Jakarta: Kalimah, 1999), 17.
7
setiap anak muslim untuk menghafal; al-Qur’an, dan kepada setiap bapak diharapkan mampu mengajarkan al-Qur’an kepada anak-anaknya sebelum mereka masuk sekolah.8
Pada masa Khalifah Usman bin Affan, Pelaksanaan pendidikan Islam tidak jauh berbeda dengan masa sebelumnya. Pendidikan pada masa ini hanya melanjutkan apa yang sudah ada. Belum terlihat ada usaha yang kongkrit yang dikembangkan oleh khalifah Usman dalam bidang pendidikan, kecuali satu usaha yang dianggap cemerlang dan cukup berpengaruh terhadap pendidikan Islam, yaitu melanjutkan usulan Umar kepada Abu Bakar untuk mengumpulkan tulisan ayat-ayat al-Qur’an, dan membukukannya. Kemudian khalifah Usman mengirimkan salinan al-Qur’an tersebut ke Makkah, Kuffah, Basrah dan Syam.
Sementara, Khalifah Ali Bin Abi Thalib, yang pemerintahannya penuh dengan pergolakan-pergolakan politik, kekacauan dan pemberontakan, membuat pemerintahannya nyaris tidak mempedulikan masalah perkembangan pendidikan Islam. Menurut Soekarno dan Ahmad Supardi, saat kericuhan politik dimasa Ali ini, hampir dapat dipastikan bahwa kegiatan Pendidikan Islam mendapat hambatan dan gangguan, walaupun tidak terhenti sama sekali. Khalifah Ali saat itu tidak sempat lagi memikirkan masalah pendidikan, karena seluruh perhatiannya ditujukan kepada masalah keamanan dan kedamaian bagi masyarakan Islam.9
Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa kegiatan pendidikan Islam pada masa keempat khalifah ini belum berkembang seperti masa-masa sesudahnya, dan pelaksanaanya tidak jauh berbeda dengan masa Nabi, yang menekankan pada pengajaran baca-tulis dan ajaran-ajaran Islam yang bersumber pada al-Qur’an dan Hadits Nabi.
Pada tanggal 20 Ramadhan 40 H. Ali terbunuh oleh anggota Khawarij, kemudian kedudukan Ali sebagai Khalifah digantikan oleh Anaknya Hasan,
8
Tedd D. Beavers, Arabic Contributions to Educational Thought, terj. Deny Hamdani, Paradigma Filsafat Pendidikan Islam (Jakarta: Riora Cipta, 2001), 18.
9
Soekarno dan Ahmad Supardi,Sejarah dan Filsafat Pendidikan Islam (Bandung: Angkasa, 1985), 68.
selama beberapa bulan, karena posisi Hasan semakin lemah, sementara Muawiyah semakin kuat, akhirnya Hasan mengambil keputusan untuk mengadakan perjanjian damai dengan Muawiyah. Perjanjian ini akhirnya dapat mempersatukan kembali umat Islam dalam satu kepemimpinan di bawah Muawiyah Ibn Abi Sofyan. Dengan demikian, berakhirlah apa yang disebut dengan masa al-Khulafa’ ar-Rasyidin, dan mulailah kekuasaan bani Umayyah (661–750 M.), dalam sejarah.
Pelaksanaan pendidikan Islam pada masa ini semakin meningkat dari masa sebelumnya..kalau sebelumnya pendidikan hanya dilaksanakan di kuttab, di rumah-rumah dan masjid, pada masa ini pendidikan dilaksanakan juga di Istana untuk mendidik anak-anak keluarga kerajaan, di samping itu para penguasa sering mengadakan majlis-majlis keilmuan. Pada masa ini juga mulai ada perhatian terhadap pembidangan ilmupengetahuan, seperti ilmu tafsir, hadis, fiqh dan ilmu kalam.
Di bidang ilmu kalam, dapat ditelusuri cikal bakal gerakan teologi Islam, yaitu Wasil Ibn ’Atha yang dianggap sebagai pendiri aliran Mu’tazilah. Aliran ini muncul sebagi reaksi terhadap aliran khawarij dan murji’ah yang telah berkembang dimasa itu. Di antara doktrin utama aliran Mu’tazilah adalah paham”kebebasan manusia” atau Free Will, yang pada masa sekarang dikembangkan oleh golongan Qadariyah yang merupakan lawan dari golongan Jabariyah.10
Walaupun perhatian terhadap pendidikan dan perkembangan pemikiran tidak sebesar pada masa Abbasiyah, namun usaha-usaha umat Islam pada masa ini sangat besar dan penting sekali pengaruhnya bagi perkembangan pendidikan dan pemikiran pada masa sesudahnya. Dinasti Umayyah telah meletakkan dasar-dasar bagi kemajuan pendidikan dan pemikiran di masa Dinasti Abbasiyah kelak. Karena usahanya inilah Philip K. Hitti mengatakan bahwa masa dinasti Umayyah merupakan ”inkubasi” atau masa tunas bagi perkembangan intelektual Islam.11
10
Fayyaz Mahmud,A History of Islam(London: Oxford University Press, 1960), 94.
11
Pada masa Dinasti Abbasiyah (750 M-1258 M), ilmu pengetahuan mengalami perkembangan yang sangat pesat dan sekaligus berhasil menyiapkan landasan bagi perkembangan filsafat dan ilmu pengetahuan. Seorang khalifah yang cerdas, bijak, santun dan bersifat pemaaf,12 serta pencinta ilmu, Al-Ma’mun bin Harun Al-Rasyid, menyadari benar bahwa kekuasaan yang dimilikinya merupakan amanat dari Tuhannya, sehingga ketika berkuasa Ia senantiasa memamfaatkan kekuasaannya itu untuk ilmu pengetahuan dan peradabannya.13
Di era kepemimpinannya, kekhalifahan Abbasiyah menjelma menjadi pemimpin adikuasa dunia yang sangat disegani. Wilayah kekuasaan dunia Islam terbentang luas mulai dari pantai Atlantik di barat hingga sampai tembok besar Cina di timur. Dalam dua dasawarsa kekuasaannya, sang khalifah juga berhasil menjadikan dunia Islam sebagai penguasa dalam Ilmu pengetahuan dan peradaban dunia.
Berkat inovasi dan gagasannya yang cukup brilian, Baghdad yang merupakan ibu kota Abbasiyah menjelma menjadi pusat kebudayaan dunia, khalifah sangat mendukung sekali terhadap pengembangan keilmuan dan seni. Perpustakaan Bait al-hikmah yang didirikan oleh Ayahnya, Harun al-Rasyid, disulapnya menjadi sebuah universitas virtual yang mampu menghasilkan sederet ilmuwan muslim yang melegenda.
Professor Dreiker sebagaimana dikutip Afif, dalam pengamatannya mengatakan :“ Arab moslims promoted ancient studies and researches to a great
extent and founded new field of knowledge which had not been known before”.14 12
Ia memaafkan al-Fadhl bin Rabi yang telah menggalang kekuatan untuk menentang Khalifah, Al-Ma’mun juga memaafkan Ibrahim bin Al-Mahdi yang telah melantik dirinya sebagai Khalifah di Baghdad pada saat al-Ma’mun berada di Merv, padahal al-Mu’tashim dan al-Abbas bin al-Ma’mun mengusulkan agar membunuh Ibrahim. Tidak hanya itu saja, Ia juga memaafkan
al-Husain bin Dhahhak , yang pernah mengatakan bahwa al-Ma’mun tidak akan merasa tenang dengan jabatannya karena Ia akan diburu oleh musuh-musuhnya. Lihat Didin Saefuddin Buchori, Sejarah Politik Islam (Jakarta: Pustaka Intermasa, 2009), 94.
13
ketika pengangkatan Al-Ma’mun menjdi khalifah ke 7 pada tahun 813 A.D. Baghdad menjadi pelopor pusat pengajaran dan pendidikan dunia. Ia banyak menyediakan buku-buku,memanggil para sarjana (scholars) dengan sangat hangat sambutan dan kecintaanya terhadap mereka. Lih. Afif A Tabbarah,The Spirit of Islam: Doctrine & Teaching (New Delhi: Islam Book Service, 1998), 266-267.
14
Afif A Tabbarah, The Spirit of Islam : Doctrine & Teachin (New Delhi: Islam Book Service, 1998), 267.
Pemerintahan Islam pada masa Dinasti Abbasiyah ini merupakan puncak peradaban Islam (Klasik) terbesar abad pertengahan. Liberalisasi ilmu pengetahuan yang diformalkan oleh al-Ma’mun sebagai khalifah ke-7 dengan menjadikan Mu’tazilah sebagai madzhab resmi Negara, merupakan salah satu dari aspek pendukung kemajuan ilmu pengetahuan dan peradaban Islam pada masa itu. Sehingga perkembangan ilmu pengetahuan semakin nampak, ilmu-ilmu agama dan ilmu pengetahuan umum semakin banyak digemari orang-orang Islam.
Keberpihakan al-Ma’mun terhadap paham Mu’tazilah ini tampaknya tidak bisa dipisahkan dari kehausannya terhadap ilmu pengetahuan yang rasional dan kecintaannya terhadap filsafat.15
Para ulama dan cendikiawan bahu-membahu untuk mengadakan penelitian dan riset. Suasana ini nampak sekali ketika al-Ma’mun mengembangkan lembaga penterjemahan dan penelitian, bait al-Hikmah. Mereka bukan saja para pelindung ilmu pengetahuan melainkan para pelajar yang haus akan ilmu pengetahuan. Mereka, adalah para ilmuwan dari seluruh penjuru dunia yang sengaja datang untuk mengunjungi majlis-majlis ilmu, bahkan mereka mendapatkan penemuan-penemuan baru, laporan penelitian dan lain sebagainya.16
Pada masa (Abbasiyah) ini, fungsi politik masjid berangsur-angsur mulai ditinggalkan,semua urusan kenegaraan diselenggarakan di dalam istana. Selain untuk beribadah, Masjid mulai di pergunakan untuk kegiatan pertemuan ilmiah para sarjana dan ulama. Masjid memiliki andil yang cukup besar dalam megembangankan pendidikan dan ilmu pengetahuan dalam kebudayaan Islam, yang mencapai puncaknya pada masa dinasti tersebut.17 Pergeseran fungsi masjid ini sebatas pada bidang politik, yaitu masjid bukan lagi sebagai tempat untuk merumuskan dan memutuskan kebijakan-kebijakan pemerintah. Sebab telah digantikan dengan istana, tempat bertahtanya khalifah sekaligus memerintah.
15
Didin Saefuddin Buchori,Sejarah Politik Islam (Jakarta: Pustaka Intermasa, 2009), 95.
16
M. Atiqul Haq,Wajah peradaban (Bandung : Zaman, 1998), 51.
17
Namun demikian bukan berarti Istana hanya sebagai tempat bertahtanya khalifah dan pemerintahannya saja,tempat ini pun sering kali dijadikan tempat berkumpulnya para sastrawan,cendikiawan dan para ulama dari berbagai kota di bagdad,18 untuk melakukan diskusi-diskusi dalam rangka memecahkan berbagai persoalaan yang berkembang pada saat itu, baik persoalan pemerintahan maupun non pemerintahan, seperti perkembangan ilmu pengetahuan dan pendidikan Islam. Kegiatan tersebut sering kali dilakukan oleh khalifah al-Ma’mun ketika menjalankan roda pemerintahannya. Sehingga pada masa ini dikenal dengan sebutanthe golden age of Islam (masa keemasan Islam),19 periode klasik.
Beliau adalah Abdullah abul Abbas al-Ma’mun yang dilahirkan pada tahun 170 H. di malam kemangkatan pamannya khalifah al-Hadi.20 Al-Ma’mun Bin Harun al-Rasyid merupakan seorang pemimpin (Khalifah) urutan ke tujuh dari khalifah-khalifah dinasti Abbasiyah yang didirikan oleh Abdullah al-Saffah bin Muhammad bin Ali bin Abdullah bin Al-Abbas,21dan mencapai puncak kejayaan serta popularitas pemerintahan dinasti ini pada masa khalifah Harun al-Rasyid (786-809 M) dan puteranya, al-Ma’mun (813-833 M).22
Al-Ma’mun yang memiliki nama lengkap Abu Ja’far al-Ma’mun bin Harun al-Rasyid, orang barat menyebutnya almamon, ia dilahirkan pada tanggal 14 september 786 M. Ayahnya adalah Khalifah Harun al-Rasyid, sedangkan ibunya seorang mantan budak yang bernama Marajil.
18
M. Masyhur Amin,Dinamika Islam (Yogya: LKPSM, 1995), 95.
19
M. Masyhur Amin, Dinamika Islam (Yogya: LKPSM, 1995), 95. Lihat juga, Didin Saefuddin Buchori,Sejarah Polotik Islam (Jakarta: Pustaka Intermasa, 2009), 77.
20
A. Syalabi,Sejarah Kebudayaan Islam I (Jakarta: Pustaka al Husna, 1993), 129. 21. Lihat juga, Badri Yatim,Sejarah Peradaban Islam (Jakarta: Raja Grafindo Persada, 2000), 49. Khalifa-khalifah Dinasti Abbasiyah yang pertama adalah Abu al-Abbas as-Saffah (132-136 H./750-754M.), kedua, Abu Ja’far al-Mansyur (136-158 H./754-775 M.), ketiga, Al-Mahdi (158-169 H./777-785 M.), keempat, al-Hadi (169-170 H./785-786 M.), kelima, Harun ar-Rasyid, (170-193 H./786-809 M.), keenam, Amin (193-198 H./809813 M.) dan ketujuh Al-Ma’mun (198-218 H./813-833 m.), as-Suyuti,Ta>rikh al-Khulafa>,Al-Mas’udi, Muruj, jilid III-IV, dan Boswort, Islamic, 24. lihat juga, Didin saefuddin, Sejarah Politik Islam (Jakarta: Pustaka Intermasa, 2009). 111-112.
22
Lantaran sang ibu bukan dari keturunan Abbasiyah, maka pada tahun 802 M. Sang Ayah mewariskan singgasana kekhalifahannya kepada putranya yang lain yang bernama al-Amin, sedangkan al-Ma’mun ditunjuk sebagai gubernur di Khurasan, dan sebagai khalifah setelah al-Amin. Setelah khalifah al-Rasyid wafat pada tahun 809 M. Hubungan ke dua saudara yang berlainan ibu itu menjadi kurang baik.
Konflik hubungan yang kurang baik itu semakin memburuk setelah al-Amin memecat al-Ma’mun dari posisi Gubernur di Khurasan, dan menunjuk putranya untuk menggantikan posisi pamannya di Khurasan. Al-Ma’mun menganggap bahwa keputusan itu sebagi pelanggaran terhadap wasiat yang diberikan Ayahnya Harun Al-Rasyid, sehingga keduanya melakukan perang saudara, dengan bantuan pasukan Khurasan yang di pimpin oleh Thahir bin Husain, akhirnya al-Ma’mun dapat mengalahkan pasukan al-Amin.
Al-Ma’mun dinobatkan menjadi khalifah, ketika beliau sedang berada di Rayy pada tahun 198 H./813 M., akan tetapi beliau tetap bertempat tinggal di Khurasan sampai tahun 204 H/819 M.23Beliau dikenal sebagai seorang khalifah yang sangat mencintai ilmu pengetahuan. Sehingga pada masa pemerintahannya, penerjemahan buku-buku asing menjadi salah satu kebijakannya.
Untuk menerjemahkan buku-buku Yunani, beliau memberikan gaji yang cukup besar kepada penerjemah-penerjemah dari golongan kristen dan penganut agama lain yang ahli di bidangnya. Beliau juga banyak mendirikan lembaga-lembaga pengkajian ilmu pengetahuan dan penterjemahan, salah satu karya terbesarnya yang tercatat dalam sejarah adalah pengembanaganbait al-Hikmah,24
suatu lembaga dan perpustakaan untuk kegiatan penelitian dan penerjemahan pada tahun 830 H. Lembaga ini dijadikan sebagai basis pengumpulan
manuskrip-23
Ibrahim Hasan,Sejarah dan Kebuyaan Islam (Yogyakarta: Kota Kembang, 1989), 121.
24
Dalam Bait al-Hikmah terdapat sebuah observatorium astronomi, wacana-wacana yang menjadi objek penelitian dan penerjemahan adalah karya-karya tulisan Plato, Aristoteles, Hippocrates, Galen, Ptolemi dan lain sebagainya. Karya-karya mereka telah diterjemahkan ke dalam bahasa Arab. Lihat Hanun Asrohah,Sejarah Pendidikan Islam (Jakarta: Logos, 1999), 31.
manuskrip Yunani dan sekaligus merupakan pusat penterjemahan, dan juga berfungsi sebagai perguruan tinggi dengan perpustakaan yang besar.25
Pada masa pemerintahan al-Ma’mun inilah. Baghdad mulai dikenal menjadi pusat kebudayaan Islam dan ilmu pengetahuan.26 Meskipun pada masa-masa sebelumnya, yaitu Ja’far al-Mansyur dan Harun al-Rasyid, sebagai mendiang ayahnya telah banyak melakukan hal yang sama, akan tetapi belum begitu terkenal seperti apa yang diperbuat oleh al-Ma’mun.
Kemasyhuran dan kepopuleran al-Ma’mun dalam bidang ilmu pengetahuan dan kesusastraan pada masa pemerintahaannya terlihat jelas dalam karya penelitian yang dilakukan oleh Ahmad Syalabi, bahwa Al-Ma’mun merupakan salah satu diantara khalifah-khalifah terbesar dan orang-orang yang paling bijak. Dia menggunakan beberapa sitem dalam pemerintahannya, antara lain untuk mengembangkan pendidikan tentang ilmu filsafat dan studi sastra. Untuk itu, Al-Ma’mun menyuruh agar seluruh hasil karya dari penelitian atau sumber-sumbernya diterjemahkan ke dalam bahasa arab dan menerbitkannya. Dia juga menguasai Evclides (ilmu ukur), dan mempelajari ilmu pengetahuan tentang zaman purba (arkeoligi), serta mendiskusikan ilmu-ilmu pengetahuan lain dan melindungi orang-orang bijak yang akrab dengannya.27
Kehausan al-Ma’mun akan ilmu pengetahuan mendorong dirinya untuk menyibukan diri dalam mempelajari berbagai pemikiran sains dan filsafat. Sementara untuk mengurus pemerintahannya, ia mempercayakannya kepada Fadl bin Sahl yang di angkatnya sebagai panglima tertinggi.28
Hal senada diakui Langgulung, bahwa tampak ketika al-Ma'mun memerintahkan untuk mengumpulkan kitab-kitab yang ada di daerah-daerah kekuasaanya, seperti Syiria, Afrika, dan Mesir dalam menggantikan pajak-pajak, selalu terlihat unta-unta yang memasuki kota Baghdad dengan membawa kertas
25
Badri Yatim,Sejarah Peradaban Islam (Jakarta : Raja Grafindo Persada, 2000), 52.
26
Badri Yatim,Sejarah Peradaban Islam,52. lihat juga W Montgomery, 68.
27
Ahmad Shalabi,Sejarah Kebudayaan Islam I, (Jakarta: Pustaka al-Husna, 1993), 140.
28
Pujian dan sanjungan tentang sifat al-Ma’munoleh para sejarawan dapat dilihat
dan kitab-kitab. Sehingga di istana al-Ma'mun nampak seakan-akan menjadi sebuah tempat pertemuan ilmu dan sastera, bukan sebagai pusat pemerintahan dan Khalifah, sebab di sana berkumpul orang-orang yang terdiri dari guru-guru,