RANUB DAN PELAYANAN KESEHATAN
5.3. Mak Blien di Masyarakat Aceh
Mak blien adalah sebutan untuk dukun beranak bagi masyarakat Aceh. Mak Blien memiliki sebutan lain yaitu Mak Bidan dan Bidan Kampong. Sebutan ini dikarenakan tugas yang dilaksanakan oleh Mak blien seperti yang dilakukan oleh Bidan Desa atau bidan puskesmas, yaitu menolong persalinan.
Mak blien yang berarti yang menyambut bayi. Gampong Baro Paya sendiri tidak memiliki Mak blien. Jo Maneh, Mak blien Baro Paya baru beberapa tahun yang lalu meninggal.
Untuk menjadi seorang Mak blien ada yang berguru ada juga yang keturunan. Mak blien terdekat dari Gampong tetangga yang masih berada dalam satu mukim, yaitu gampong Mugo Cut. Namun Mak blien Mugo Cut jarang di pakai ketika melahirkan. Hal ini di karenakan Mak blien Mugo Cut masih mudah. Masyarakat menilai, beliau belum banyak pengalaman mengenai persalinan. Selain itu, Mak blien Mugo cut juga tidak sabar seperti Mak blien Alue Kuyun. Tidak mau menunggu kelahiran bayi yang tidak dapat di prediksi dengan pasti.
Mak-blien Alue Kuyun memiliki cakupan wilayah kerja yang luas dan tidak dibatasi oleh batas batas administratif. Mak blien
Sawami menyebutkan beberapa daerah yang biasanya ia bantu persalianan nya yaitu Gampong Baro, Baro Paya, Alue Kuyun, Gampong Keramat, Meutulang dll.
Cakupan wilayah kerja yang melampaui batas batas administrasi ini menjadikan puskesmas sulit menjalin kemitraan dengan Mak blien. Mak blien Sawami yang tinggal di Alue Kuyun yang termasuk kecamatan Woyla Timur tidak menjadi cakupan kemitraan oleh bidan d Puskesmas Meutulang. Sementara, sebagian besar persalinan di Gampong Baro Paya di tolong oleh bidan Sawami.
Posisi Mak blien di Masyarakat Aceh dianggap sebagai penolong. Seperti halnya disampaikan oleh Pak Zainal (Tuha
Peut) bahwa Mak blien mendapatkan rejeki dan pahala. Sadar
dengan posisinya itu, Mak blien Sawami tidak pernah mencari orang hamil dikarenakan takut dianggap mencari uang.
“Mereka suruh saya cari yang hamil, kan saya gak tau. Siapa yang datang ke sini, saya tolong, kalau tidak ya saya tidak tau, kita kan menolong.” Mak blien.
Beberapa alasan masyarakat masih menggunakan Mak blien sebagai penolong persalinan beberapa dikarenakan saran orang tua atau mertua, beberapa lainnya karena lebih percaya dan menganggap Mak blien lebih berpengalaman
“Nenek nenek kami juga dulu ke bidan kampung kalau anak kami sungsang ke bidan kampung bisa, bidan puskesmas kan gak bisa. Bidan kampung dikasi mandi 7 hari. Biaya bidan kampung Cuma 300 ribu 1 orang.” Mardiati, Kader.
Selain kepercayaan masyarakat, fasilitas pelayanan yang diberikan Mak blien sangat baik. Mak Blien merawat ibu
“3 hari (dikusuk), seminggunya itu datang lagi dia, atau 10 hari dimandiin kita sama dia, ada dikasi (Lampok) obat-obat itu diperut. Ada mamk kita yang cari dirumah, dia (Ma Blin) yang kasi. Kalau dia gak sempat dibantu mamak nanti.”
Selain Obat obatan untuk mengecilkan perut, Mak blien juga melakukan pijat untuk mengeluarkan ASI ibu. Hal ini diketahui Mak Blien karena mak Blien mengurusi ibu tersebut selama beberapa hari.
“Kayak gitu lah.. kalau dikampung kita diberikan obat tradisional dah itu dikusuk biar keluar air asinya biar badan kita normal kembali.”
Gambar 5.8.
Perlengkapan Mak Blien untuk menolong ibu bersalin Sumber: Dokumentasi Peneliti 2014
Metode pembayaran dengan Mak blien di nilai tidak memberatkan masyarakat. Hal ini disebabkan, masyarakat dapat membayar dengan cara di angsur. Batas angsuran juga tidak ditetapkan secaa pasti oleh Mak blien.
Persalinan yang ditolong oleh bidan desa tidak membutuhkan biaya, sementara persalinan yang ditolong oleh Mak blien membutuhkan biaya sebesar Rp. 350.000 - Rp 450.000 setiap persalinan. Namun tidak semua uang itu dimiliki oleh Mak blien, sebagian akan diberikan Mak blien kepada ibu yang baru saja bersalin sebagai sedekah.
“Kalau saya biasanya RP. 450.000 yaitu untuk saya Rp. 400.000 Rp.25.000 untuk bayi dan Rp.25.000 untuk ibunya itu sedekah saya ibadah saya ke allah dan ini syarat yang harus saya lakukan.”
Masyarakat lebih memilih Mak blien daripada bidan desa meskipun dari segi jarak, untuk menjemput Mak blien dan bidan desa yang keduanya berada di kecamatan yang berbeda membutuhkan waktu yang hampir sama.
“Kalau menurut kakak disini lebih suka sama bidan kampung karena kan kalau bidan dari puskesmas pun kan jauh kan. Agak terasa jauh ke meutulang. Di Meutulang pun gak ada disitu, pulang ke kapung sophie kan, di Kaway kan.” Kak Aca, Ketua Kader
Ada banyak pilihan penolong pesalinan, menurut kak Dede, Mak Blien gampong tetangga selain masih muda juga agak sombong. Dikatakan agak sombong karena beliau tidak mau menunggui ibu yang proses melahirkannya cukup lama. Jika keluarga meminta Mak blien tersebut untuk menunggu, maka beliau akan meminta uang pengganti gaji selama menunggu ibu melahrkan, karena beliau juga bekerja di PT. Mopoli Raya.
“Mugo Maboo (agak sombong) tidak mau menginap di rumah. Bidan Alue kuyun sabar , udah tua, mau ngurut. Sudah tradisi disini pake bidan kampung alue kuyun. Jadi dikasi tau masyarakat.” Dede Sanawiyah.
Pihak puskesmas telah menyiapkan pos jaga untuk ditempati bidan agar bidan Puskesmas lebih mudah di jemput jika ada ibu melahirkan. Pos tersebut dijaga secara bergantian oleh bidan bidan yang ada di puskesmas Meutulang. Meskipun demikian, masyarakat tetap memilih Mak Blien.
“Kalau sama kami tidak mungkin menunggu 24 jam karena kami punya keluarga juga namun kami ada pos siang malam di lek-lek yang bisa dipanggil namun masyarakat merasa ketakutan tidak mau di rujuk kerumah sakit sekarang ada peraturan tidak boleh melahirkan dirumah kalau bidan di panggil kerumah biayanya mahal lebih baik di panggil bidan kampung saja padahal kalau di rujuk ke rumah sakit gratis.” Ujar bidan Sofi menjelaskan alasan masyarakat Gampong Baro Paya.
Masyarakat Mengeluhkan lamanya pertolongan persalinan yang diberikan oleh bidan puskesmas, seperti pengalaman kak Aca. Bidan Puskesma baru tiba saat pagi hari.
“Selama disini belum pernah menolong persalinan karena kan Kak sopi misalnya kan malam lahir, pagi dia baru datang.” Mardiati.
Mak blien memiliki 7 orang anak yang hidup hanya 2 orang. Namun demikian masyarakat tetap mempercayakan kehidupan ibu dan anak yang akan dilahirkan kepada Mak blien.
Puskesmas Meutulang sudah melakukan upaya kemitraan dengan Mak blien. Untuk proses melahirkan dan pemotongan pusat bayi di tolong oleh Bidan Desa. Hanya sedikit kelahiran yang di tolong oleh Mak blien melibatkan bidan Puskesmas.
“Kalau didalam persalinan lebih banyak tugas kami dari proses pemeriksaan melahirkan K1 sampai K4 dan IMD dan memotong tali pusatnya selanjutnya tugas bidan
kampung apakah mencuci baju ibu dan kusuk badan ibunya.”
Hal ini menyebabkan Mak blien cenderung enggan menghubungi bidan desa jika menemukan kasus persalinan. Mak blien si penyambut bayi harus berganti tugas menjadi mengurut dan mencuci kain kain pasca persalinan. Dengan begitu, tugas inti dari Mak blien yaitu menyambut bayi menjadi hilang. Meskipun dari dana Jampersa, Mak Blien akan memperoleh 50.000 setiap persalinan yang dilaporkannya kepada puskesmas seperti Kemitraan yang sudah dilaksanakan oleh puskesmas Meutulang,
“Jika mak blien membantu dapat uang 50 ribu.”
Mak WM, bidan desa yang menangani sebagian besar persalinan masyarakat Baro Paya adalah salah satu dukun kampong yang sudah memperoleh pelatihan. Mak Wami pernah mendapatkan pelatihan di Meulaboh, ibukota Aceh Barat. Sekarang, berbekal kotak pinsil kaleng berarna biru bergambar kartun, dua buah gunting yang salah satunya sudah berkarat, benang uang logam limaratus rupiah, kunyit yang telah mengering adalah perlengakapan yang di bawa Mak blien untuk memotong tali pusar. Sebenarya Mak wami sudah dilengkapi dengan masker dan sarung tangan, namun kedua hal itu tidak di gunakan. Menurutnya, untuk menyambut bayi, kulit harus menyentuh kulit sebab kulit bayi masih sangat tipis.
Pernah suatu kali Mak WM menolong persalinan, karena terjadi komplikasi, mak wami meminta agar Ibu tersebut di rujuk ke rumah sakit. Sesampainya dirumah sakit mak Wami dimarahin oleh petugas rumah sakit.
“Pernah saya rujuk ke Rumah sakit, dimarahin, katanya, kalau mau ngajarin ngapain di bawa kesini, saya bukan tidak bisa, saya kurang alatnya, makanya saya bawa ke rumah sakit.” Mak WM
Anehnya, meskipun program Jaampersal telah sampai di Baro Paya sehingga persalinan yang di tolong oleh bidan desa tidak dikenakan biaya sama sekali. Namun, masyarakat tetap memilih bersalin dengan Mak blien meskipun dengan Mak blien dikenakan tarif.
“Bidan desa gak ada bayar, kalau bidan kampung mau kaya miskin bayar 300 ribu.” Kak M (24 Tahun).
Selain menolong persalinan, Mak blien juga dapat menyembuhkan beberapa penyakit seperti Kayap (sejeis sariawan di kutit luar tubuh).
“Kalau demam demam itu bisa suruh rajahrajah sama Mak blien. Kayap kayap (kayak sariawan di luar) itu di rajah sama mak blien itu bisa sembuh.”
Tugas Mak blien tidak hanya menyambut bayi. Sejak Mak blien di beri kepercayaan, pada saat Jok Mak blien, untuk menolong persalinan. Tugas Mak blien pasca persalinan adalah mengurut Ibu Madeung, Melampok, menyiapkan makanan ibu
madeung hingga persiapan turun mandi, pecicap, dan Manoe 44
(Memandikan ibu madeung pasca nifas)
“Hubungan dengan mak blien ini sampai setelah 40 hari setelah melahirkan, turun mandi anak masih tanggung jawab mak Bidan. Kalo bidan pemerintahan kan nggak. Fitrah si anak itu, setahun pertama masih hak Mak Bidan. “ Pak Z
Namun, bidan koordinator puskesmas Meutulang menegaskan bahwa tidak ada pelatihan yang dilakukan oleh Puskesmas untuk melatih Mak blien dengan alasan, jika Mak blien sudah di latih, masyarakat akan memilih Mak blien sebagai penolong persalinan karena dianggap sudah disekolahkan.
“Ada program kita jangan di latih dulu karena masyarakat berpikir ‘Mak blien itu boleh (menolong persalinan) karena Sudah disekolahkan.’”