• Tidak ada hasil yang ditemukan

RANUB DAN PELAYANAN KESEHATAN

5.1. Mamoh Ranub

Ranub atau yang dikenal secara umum oleh masyarakat

Indonesia dengan Sirih sangat dimuliakan di Aceh. Hal ini lah yang menyebabkan seluruh upacara adat dalam siklus kehidupan masyarakat Aceh selalu menyertakan Sirih. Selain itu sirih juga digunakan untuk menghormati dan memuliakan orang lain. Pada zaman dahulu, untuk menyambut raja raja akan di persembahkan

ranub. Ranub bagi masyarakat Aceh tidak hanya sekedar

tumbuhan yang memiliki manfaat secara fisik semata. Namun di balik itu ada berbagai penafsiran poli-interpretasi, karena di dalam memahaminya ranub menjadi simbol yang multi rupa. Sehingga adat dan ranub menjadi dua hal yang tidak dapat dipisahkan di Aceh.

“Itu namanya kemuliaan dan sirih itu sangat dimuliakan disini. Misalnya ada acara pesta, itu disediakan ranub sebagai lambang kemuliaan” Yusna Dewi,

Ranub digunakan dan disajikan mulai dari melamar anak

gadis, Pernikahan, menyambut tamu penting, sebagai pemulya Jamee, hamil, melahirkan, turun mandi, peucicap hingga kematian. Pada saat kenduri kematian, tuan rumah akan mengeluarkan ranub, air, dan beberapa uang yang diletakkan di dalam talam.

Gambar 5.1.

Ranub untuk tahlilan

Sumber: Dokumentasi Peneliti 2014

Selain dalam tradisi kebudayaan dan upacara-upacara kehidupan masyarakat Aceh, Ranub juga digunakan sebagai salah satu pengobatan, baik itu dikonsumsi sebagai obat, atau digunakan sebagai media berkomunikasi dengan mahluk halus dan roh-roh leluhur. Ranub juga digunakan sebagai media katalisator doa doa yang dianggap dapat menyembuhkan penyakit.

“Ada kegiatan-kegiatan yang mengunakan sirih istilah Acehranub ada yang untuk dimakan, ada untuk kenduri (Pesta), melihat penyakit karena roh halus (seumapa), berdoa (meurajah) pengobatan tali pusar pada bayi, ada juga pada meninggal (sirih atam) untuk samadiah (tahllilan) ada ditaruk tembakau, sirih, uang semampunya..” Pak Keuchik

Jikalau seorang baru kembali dari menziarahi suatu kuburan, tiba-tiba mendapat sakit perut atau terduduk dan bingung, maka ia itu sudah "seumapa" kata orang Aceh yakni orang yang telah mati bicara dengan dia (Hoesin, 1970). Penyakit

Seumapah adalah penyakit yang diduga disebabkan oleh gangguan roh leluhur. Beberapa sakit perut diduga disebabkan oleh gangguan roh leluhur.

“Kalau anak sakit perut biasanya melihat seumapah misalnya sakit perut di rajah di daun sirih.” Kak Atun

Seumapah dilakukan dengan cara memotong daun sirih

menjadi potongan potongan kecil. Sekitar lima lembar daun sirih di persiapkan, dua diantaranya dipotong menjadi persegi kecil sebanyak delapa potongan. Kemudian sebgai alasnya di letakkan selembar kain. Sebelum melakukan seumapah, sirih dirajah terlebih dahulu dengan membaca doa:

Auzubillahminashaitan nirajeem, Bismillahirahmanirrahim

Qul Huw-Allahu Ahad Allah-us-Samad

Lam yalid wa lam yulad

Wa lam yakul lahu kufuwan ahad

Kemudian dihembuskan nafas ke dalam genggaman

ranubyang telah di potong tersebut. Kemudian diniatkan dalm

hati menyebut nama roh leluhur yang ‘dicurigai’ mengunjungi dan menjadi penyebab penyakit. Setelah itu ranub yang ada di tangan di jatuhkan ke atas kain. Jika ranub terbuka (bagian atas menghadap ke atas) artinya benar arwah tersebut yang mengunjungi jika tertutup artinya bukan arwah tersebut yang menjadi penyebab penyakit. Jika tidak ada potongan ranub yang terbuka diharuskan menyebut dalam hati nama roh leluhur lainnya yang diduga menjadi penyebab penyakit. Begitu berulang ulang hingga terdapat beberapa ranub yang terbuka.

Gambar5.2.

Memotong Ranub untuk Seumapah Sumber: Dokumentasi Peneliti 2014

Gambar 5.3.

Merajah Ranub untuk Seumapa Sumber: Dokumentasi Peneliti 2014

Ranub yang terbuka di kumpulkan, sedangkan potongan ranub yang tertutup dibuang. Kumpulan ranub yang terbuka di

kumpulkan, di letakkan di atas selembar ranub yang masih utuh kemudian di baca doa yang sama seperti di awal sebanyak 3 kali. Setelah itu ranub di oleskan kapur dan di makan oleh yang sakit. Jika yang sakit adalah anak-anak, maka yang mengunyah sirih (mamoh ranub) adalah ibunya kemudian ampas dari Mamoh

ranub tersebut diletakkan di perut dan kepala anak yang sakit

tersebut.

“Untuk melihat kenapa banyi nangis (Seumapa) lalu dikunyah dan di oles di kening, perut dan di kaki,” Laini

Penggunaan ranub lainnya adalah sebagai obat gatal. Masyarakat percaya, jika setelah pergi ke Alue masyarakat sakit, atau sakitya bertambah parah, itu berarti ia telah dicolek oleh jin

Alue.

“Seperti saya ini, luka kaki saya. Ke alue. Tambah besar lukanya, itu di colek jin. Bisa saya kunyah sirih saya taruh disini. Sembuh dia.” Yah Cot Dheng.

Selain dioleskan langsung, ranub juga digunakan sebagai media peramal (Keumalon), biasanya untuk beberapa penyakit berat yang tidak diketahui sebabnya. Keluarga akan membawa

ranub ke tabib atau dukun kampung. Kemudin dukun akan

membaca mantra (jampi) dan membaca dari ranub tersebut apa dan siapa yang menyebabkan penyakit tersebut. Kemudian keluarga akan membawa pulang ranub tersebut, mengunyah nya dan menyemburkan ranub tersebut ke orang yang sakit. Biasanya, dukun yang dapat melakukan hal ini adalah yang memiliki ilmu hitam.

“Eun Ranub (daun sirih) dan uang 10.000 dibawa oleh kita kalau keluarga sakit kita yang kesana dengan membawa daun sirih dan menjelaskan, sampaikan

keluhan sakit dan cara sakitnya dan yang datang kesana keluarga yang sehat kesana untuk mencari tahu kenapa sakitnya apakah meurampot (diganggu jin)” Umi Salamah

Jika penyebab sakit sudah diketahui, misalnya diganggu oleh jin yang berada di sungai maka proses pengobatan selanjutnya dapat dilakukan oleh keluarga yang sakit sendiri. Bilamana seseorang dengan tiba-tiba mendapat sakit perut, muntah-muntah, dikatakan bahwa ia sudah tersapa (meurampot). Supaya sembuh, maka perempuan-perempuan tua

merampotnya (mengipasnya) (Hoesin, 1970).

“Kalau kena gangguan jin atau di colek sama iblis/ di cukeh lee iblis (meurampot) di sungai kita datang kesungai dengan membawa gayung (mok) , api dan kemenyan di bakar. Kita ambil air dan bawa pulang. Minta sama air sungai tersebut untuk kesembuhan yang sakit ‘geu jak jok ubat ureung saket bek saket lee beu puleh’ (mau kasih obat untuk orang sakit semoga cepat sembuh) lalu air tersebut di percikkan (direutek) di tubuh orang sakit.” Umi Salamah

Pada beberapa kasus, penyakit ada yang berasal dari guna guna manusia. Artinya penyakit tersebut dikirimkan oleh orang lain. Biasaya untuk penyembuhan penyakit ini, dibawa kepada tabib atau tengku.

”Ada yang kena penyakit serbuk (didatangkan dari orang), kerasukan iblis (meurampot) dan akhirnya datang sama (ustad) teungku atau tabib dengan membawa sirih (untuk Keumalon) dan ditulis didaun sirih bolak balik biasanya demamnya jam 3 besoknya jam 3 lagi berulang-ulang dan datang kesungai membawa muk ( gayung) mengambil air dan meminta kepada

tuhan untuk obat lalu di minumkan kepda orang sakit. “ Cot dheng

Pada masyarakat Aceh Baro Paya pengobatan bisa juga dibantu oleh Teungku. Penyakit yang disebabkan mahluk gaib, jin, iblis dan lain lain akan di obati oleh teungku dengan cara merajah.

“Sakit parah adalah sakit kena demam tidak sadarkan diri lalu tidak sanggup bangun, tidak sangup makan, tidak sangup minum dan di bawa ke orang pintar untuk di radjah, bisanya pulang dari kebun sudah demam, ada juga di rumah makin lama makin parah.” Yah Jamil, Mertua Pak Keuchik.

Rajah adalah membacakan beberapa doa dengan tujuan

untuk menyembuhkan seseorang. Media untuk merajah antara lain air dan ranub. Ranub yang digunakan untuk merdjah sama seperti ranub lainnya, hanya saja sebelum di kunyah ranub tersebut harus terebih dahulu di beri doa doa.

”Auzubillah minashaitan nirajeem, bismillahirahmanir-rahim, Astagfirullahal azim 3 X al lazi laa ilaha illa huwal hayyul qayyum wa atubu ilaih lahaula wala kuta illabillahilalim azim, Ashaduallah ilahaillallah wa ashaduanna muhammadurrosullah, Allahumma shalli ala sayyidina Muhammad wa'ala ali wa sah bihi wasalim 3x Auzubillah minashaitan nirajeem, bismillahirahmanirrahim neutulong ya allah neutulong ya rasullullah neutulong ya habillulah neutulong ya malaikatullah neutulang yaa jibrail, neutulong mikail, malaikit atib, ya ali neutulong abubakar rahmah pepimpin awalun shalihin cahaya baginda wali ya rasullullah sijuk ban ie leupi bantimah berkat kalimah lailahaillah lalu di sembur keorang yang sakit lalu

dilanjutkan bismillahirahmanirrahim”. lalu disembur 3 x ke muka orang yang sakit.

Kemudian sisa dari ranub akan dioleskan ke seluruh tubuh yang sakit mulai dari kepala hidung tangan kanan, tangan kiri, kaki kanan, kaki kiri. Hal ini bertujuan agar penyakit yang diderita di cabut dari kepala dan di keluarkan melalui kaki.

Gambar 5.4.

Pak Teungku Mengunyah ranub yang sudah dirajah Sumber: Dokumentasi Peneliti 2014

Proses merajah dilakukan oleh Teungku sore hari saat matahari mulai turun. Proses Merajah tidak boleh dilakukan pada saat pagi dan siang hari, sebab pada saat pagi dan siang hari maahari sedang beranjak naik dan berada pada puncak tertinggi, jika merajah pada saat tersebut, penyakit yang di derita juga akan meningkat keparahannya. Jika meradjah pada saat sore hari, matahari sedang dalam posisi turun untuk terbenam, penyakit akan turun juga.

Sebagai obat sehari hari, ranub digunakan dengan cara di kunyah (Mamoh) pula. Sebagai obat mencret dan masuk angin,

ranub di kunyah dan di semburkan airnya ke perut yang sakit.

Menurut masyarakat, ranub berkhasiat jika di kunyah (mamoh).

Gambar 5.5.

Pak Teungku Mengoleskan kunyahan ranub ke orang sakit Sumber: Dokumentasi Peneliti 2014

“Kalau ada anak-anak yang sakit mencret kunyah sirih dan pinang muda taruk di perutnya ( yang ada getahnya), hanya yang di kunyah yang berfungsi.” Umi Sa.

Penggunaan Ranub yang paling penting adalah sebagai penyembuh tali pusar bayi. Setelah Mak blien mengunyah ranub, air kunyahannya di semburkan di pusar bayi dan ampasnya di letakkan di pusat bayi tersebut. Selain untuk Bayi, air kunyahan

ranub juga dioleskan ke perut ibu yang baru bersalin.

“Makblin sering menggunakan sirih sambil cerita-cerita dalam membantu persalinan melalui kunyahan apakah mengandung kuman-atau tidak dan langsung dipakai di perut bayi, perawatan tali pusar dan di perut si ibu, malah ada juga yang dibalut kita lihat ketika dilapangan.” Pak Ha, Kepala Puskesmas Meutulang.

Gambar 5.6.

Mengoleskan air kunyahan ranub di perut bayi Sumber: Dokumentasi Peneliti 2014

Gambar 5.7.

Memakan Ranub sebagai selingan sehabis makan Sumber: Dokumentasi Peneliti 2014

Masyarakat Baro Paya memliki kebiasaan mengkonsumsi

ranub sehabis makan. Jika ada jamua makan akan disediakan satu

piring ranub beserrta kapur dan pinangnya. 5.2. Rumah sakit, Pustu, atau Posyandu Plus

Gampong Baro Paya merupakan salah satu gampong yang letaknya berada di pinggir jalan lintas. Selain itu, Baro Paya merupakan salah satu dari dua gampong yang memiliki Posyandu Plus. Namun sebagian besar masyarakat menganggap Posyandu Plus tersebut adalah Puskesmas Pembantu yang dapat melayani masyarakat seperti puskesmas induk. Beberapa warga mengeluhkan tidak adanya tenaga kesehatan yang menjaga Posyandu Plus tersebut.

Masyarakat senang dengan adanya Posyandu Plus di baro Paya, seperti ungkapan Yah Cut Dheng, Namun masyarakat berharap lebih pada Posyandu Plus. Masyarakat baro Paya berpendapat dengan adanya fasilitas kesehatan di daerah tersebut, sehrusnya dilengkapi dengan pelayanan kesehatan yang siap sedia setiap hari.

“Pandangan masyarakat kalau rumahnya (bangunan pustu) bagus, suka masyarakat. Tapi doktornya gak ada, bidannya gak ada. Itulah rugi rumah itu. Buat apa pemerintah bikin gak ada orang duduk. Ini kalau ada orang lahir pergi ke meutulang. Dulu ada disitu gak berhenti, ndak pulang pulang, dia lakinya kerja di PT. Dia ada terus jam 1 pun ada dia Sekrang nggak. Pulang dia. Padahal pil sirop-sirop ada disitu kan sayang. Kan kalau demam demam ada mentri disitu kan dekat.“ Yah Cot Dheng

Sebelum Bidan Sofi yang bertugas di Posyandu Plus Baro Paya, ada Bidan Atun yang tinggal di Posyandu Plus. Karena

suami Bidan Atun bekerja di PT. Mopoli, bidan Atun dapat tinggal di Posyandu Plus. Namun, Bidan Atun meninggal beberapa tahun lalu dikarenakan penyakit seperti stress. Saat ini, masyarakat mengharapkan adanya tenaga kesehatan yang dapat menggantikan Bidan Atun.

Bidan Sofi yang hanya di notadinaskan untu membantu Posyandu Plus di Baro Paya hanya datang beberapa hari sekali. Selain itu masyarakat juga mengeluhkan waktu kehadiran bidan desa. Hal lainnya yang menyebabkan masyarakat enggan mengunjungi Posyandu Plus adalah obat yang tidak bervariasi. Seperti diungkapkan oleh Bang Husein,

“Masyarakat sudah malas ke situ (Pustu) sakit kepala, sakit perut, luka obatnya dikasi itu juga. Tugasnya kan melayani pasien-pasien, malas dia duduk duduk disini. Gak ada juga obat disini , disuruh ke puskesmas. Harapan saya ada yang disini kalau gak 24 jam pagi sampe sore aja. “

Kurangnya minat masyarakat menggunakan fasilitas kesehatan sebagai rujukan jika masyarakat sakit. Hal ini disebabkan oleh beberapa faktor, antara lain masyarakat masih lebih percaya dengan dukun, tabib dan tengku, selain itu masyarakat juga memiliki ketakutan terhadap pelayanan kesehatan, seperti diungkapkan oleh Kak Aca.

“Jaman dulu kayak gitu kan kalo udah datang ke puskesmas dimasukkan pipet ke dalam mulutlah katanya takut. Dulu kayak gitu, tapi sekarang sudah banyak berubah”

Masyarakat sangat beharap posyandu Plus di manfaatkan dengan baik. Anggapan masyarakat yang menganggap bangunan posyandu Plus sebagai bangunan Puskesmas Pembantu

menjadikan masyarakat mengharapkan suatu pelayanan kesehatan lebih yang seharusnya ada di posyandu plus tersebut.

“Sering-sering ke sini. Jangan ke puskesmas aja. Pigilah ke pustu. Seminggu Cuma sekali, padahal jatahnya dia 4 hari disini, jumat sabtu aja yang tidak disini harusnya, ini Cuma seminggu sekali.”Mardiati

Menurut warga, bidan yang diperbantukan belum banyak membantu dalam hal pelayanan kesehatan.

“Ndak banyak membantu bidan yang kesitu karena tidak disitu dia” Kak M, Kader.