• Tidak ada hasil yang ditemukan

Makna dan Referen

A. Hasil Penelitian yang Relevan

5. Makna dan Referen

Makna merupakan unsur bahasa yang sangat dipengaruhi penggunaan bahasa oleh pemakai bahasa sehingga dapat saling mengerti dan terjadi komunikasi. Menurut Djajasudarma (2009: 7), makna adalah pertautan yang ada di antara unsur-unsur bahasa itu sendiri (terutama kata). Dalam hal ini, menyangkut makna leksikal dari kata-kata itu sendiri yang cenderung terdapat di dalam kamus, sebagai leksem (Djajasudarma, 2009: 7). Sementara itu, menurut Farida (2008: 40) makna merupakan hubungan bahasa dengan dunia dengan dunia luar sesuai dengan kesepakatan para pengguna bahahsa tersebut. Adapun Lyons (1977: 204) menyebutkan bahwa mengkaji atau memberikan makna suatu kata adalah memahami kajian kata tersebut yang berkenaan dengan hubungan-hubungan makna yang membuat kata tersebut berbeda dari kata-kata lain.

Pengertian makna di sini dapat dibedakan dari kata asalnya dalam bahasa Inggris, sense dan meaning yang keduanya berarti ‘makna’ di dalam istilah semantik. Kridalaksana (1993: 132) memberikan beberapa pengertian mengenai istilah makna (meaning, linguistic meaning, sense), yaitu (1) maksud pembicara; (2) pengaruh satuan bahasa dalam pemahaman persepsi atau perilaku manusia atau kelompok manusia; (3) hubungan, dalam arti kesepadanan antara bahasa dan alam di luar bahasa, atau antara ujaran dan semua hal yang ditunjuknya; (4) cara menggunakan lambang-lambang bahasa.

Dari pengertian-pengertian tersebut, jelas bahwa makna bahasa merupakan aspek terjadinya komunikasi di antara para penutur bahasa.

Seperti dijelaskan pada pengertian ketiga, makna merupakan penghubung antara bahasa dengan alam di luar bahasa, atau antara ujaran dengan semua hal yang ditunjuknya, sesuai dengan kesepakatan para pemakai bahasa sehingga dapat saling mengerti dan terjadi komunikasi.

Dengan demikian, makna memiliki tiga tingkat keberadaan dalam satuan kebahasaan. Pertama, makna menjadi isi dari suatu bentuk kebahasaan, kedua, makna menjadi isi dari suatu kebahasaan, dan ketiga, makna menjadi isi komunikasi yang mampu membuahkan informasi tertentu. Dari ketiga tingkatan makna tersebut, dapat dijelaskan bahwa tingkat pertama dan kedua, makna dilihat dari segi hubungannya

dengan penutur, sedangkan pada tingkat ketiga lebih ditekankan pada hubungan makna di dalam komunikasi.

Mempelajari makna pada hakikatnya berarti bagaimana setiap pemakai bahasa dalam suatu masyarakat bahasa dapat saling mengerti.

Dalam hal ini, untuk menyusun sebuah kalimat yang dapat dimengerti, sebagian pemakai bahasa dituntut agar menaati kaidah gramatikal, sebagian lagi tunduk pada kaidah pilihan kata menurut sistem leksikal yang berlaku di dalam suatu bahasa. Begitu juga makna sebuah kalimat sering tidak bergantung pada sistem gramatikal dan leksikal saja, tetapi bergantung pada kaidah wacana. Makna sebuah kalimat yang baik pilihan katanya dan susunan gramatikalnya sering tidak dapat dipahami tanpa memerhatikan hubungannya dengan kalimat lain dalam sebuah wacana.

Berkaitan dengan makna, Barthes (2011: 91) memfokuskan perhatiannya pada signifikasi dua tahap. Signifikasi tahap pertama merupakan hubungan antara signifier dan signified yang oleh Barthes menyebutnya sebagai denotasi. Singinifikasi tahap kedua yang menggambarkan interaksi yang terjadi ketika tanda bertemu dengan kenyataan atau emosi serta nilai-nilai budaya yang oleh Barthes menyebunya sebagai konotasi.

Makna denotatif adalah makna asli, makna asal, atau makna sebenarnya yang dimiliki oleh sebuah leksem. Jadi, makna denotatif ini sebenarnya sama dengan makna leksikal. Menurut Hasan (2012: 183) makna leksikal adalah makna yang sebenarnya, makna yang sesuai

dengan hasil pengamatan indra kita, atau makna apa adanya.

Disebutkan juga oleh Sudaryat (2004: 21) makna leksikal adalah makna unsur-unsur bahasa (leksem) sebagai lambang benda, peristiwa, objek, dan lain-lain. Makna leksikal cenderung mengacu pada makna yang ada di dalam kamus, yaitu makna mandiri seperti apa adanya (Pelawi, 2009:

149). Misalnya kata babi bermakna leksikal atau bermakna denotatif

‘sejenis binatang yang biasa diternakkan untuk dimanfaatkan daginnya”.

Kata kurus bermakna denotatif ‘keadaan tubuh seseorang yang lebih kecil dari ukuran normal’. Kata “rombongan” bermakna denotatif

‘sekumpulan orang yang mengelompok menjadi satu kesatuan’.

Makna konotatif adalah suatu jenis makna yang stimulus dan respons mengandung nilai-nilai emosional. Makna konotatif sebagian terjadi karena pembicara ingin menimbulkan perasaan setuju-tidak setuju, senang-tidak senang dan sebaginya pada pihak pendengar. Di pihak lain, kata yang dipilih itu memperlihatkan bahwa pembicaraannya juga memendam perasaan yang sama (Kusumawati, 2014: 64)

Menurut Felicia (2013: 13) memilih konotasi adalah masalah yang jauh lebih berat bila dibandingkan dengan memilih denotasi. Oleh karena itu, pilihan kata atau diksi lebih banyak bertalian dengan pilihan kata yang bersifat konotatif. Bila sebuah kata mengandung konotasi yang salah, misalnya kurus-kering untuk menggantikan kata ramping dalam sebuah konteks yang saling melengkapi, maka kesalahan macam itu mudah diketahui dan diperbaiki. Hal yang sulit adalah perbedaan makna antara

kata-kata yang bersinonim, tetapi mungkin memunyai perbedaan arti yang besar dalam konteks tertentu.

Sering sinonim dianggap berbeda hanya dalam konotasinya.

Kenyataannya tidak selalu demikian. Ada sinonom-sinonim yang memang hanya mempunyai makna denotatif, tetapi ada juga sinonim yang mempunyai makna konotatif. Misalnya kata mati, meninggal, wafat, gugur, mangkat, berpulang memiliki denotasi yang sama yaitu ‘peristiwa di mana jiwa seseorang telah meninggalkan badannya’. Namun kata meninggal, wafat, berpulang mempunyai konotasi tertentu, yaitu mengandung nilai kesopanan atau dianggap lebih sopan, sedangkan mangkat mempunyai konotasi lain yaitu mengandung nilai “kebesaran”, dan gugur mengandung nilai keagungan dan keluhuran. Sebaiknya kata persekot, uang muka, atau panjar hanya mengandung denotatif.

Makna seperti yang telah disebutkan di atas, memiliki hubungan yang erat dengan referen. Dalam pandangan semantik tradisional, referensi diartikan sebagai hubungan yang ada antara kata-kata dan barang-barang. Kata-kata mengacu pada (refer to) barang-barang.

Pandangan ini dijadikan acuan dalam penyelidikan bahasa seperti semantik. Namun, belakangan Lyons (1977: 177) memodifikasi pengertian referensinya sebagai ‘penuturlah yang mengacu dengan menggunakan suatu ungkapan yang sesuai’. Hal ini sejalan dengan yang dikemukakan oleh Brown dan Yule (1996: 28) bahwa ‘mengacu’ atau referring bukanlah sesuatu yang dilakukan ungkapan; itu adalah sesuatu yang dilakukan oleh

seseorang dengan memakai ungkapan. Jadi, referensi diperlukan sebagai perbuatan penutur atau penulis.

Menurut teori yang dikembangkan dari pandangan Ferdinand de Saussure, makna adalah ‘pengertian’ atau ‘konsep’ yang dimiliki atau terdapat pada sebuah tanda linguistik. Tanda linguistik atau tanda bahasa sendiri terdiri dari dua komponen, yaitu komponen signifian atau ‘yang mengartikan’ yang wujudnya berupa runtunan bunyi, dan komponen signifie atau ‘yang diartikan’ yang wujudnya berupa pengertian atau konsep (yang dimiliki oleh signifian). Di sini, kalau tanda-linguistik itu disamakan identitasnya dengan kata atau leksem, berarti makna adalah pengertian atau konsep yang dimiliki oleh setiap kata atau leksem; kalau tanda linguistik itu disamakan identitasnya dengan morfem, berarti makna itu adalah pengertian atau konsep yang dimiliki oleh setiap morfem, baik yang disebut morfem dasar maupun morfem afiks. Hal tersebut menandakan bahwa setiap tanda bahasa (yang disebutnya penanda) tentu mengacu pada sesuatu yang ditandai (yang disebut petanda).

Konsep teori de Saussure ini dikembangkan lagi oleh Richard dan Ogdent (Ullmann, 2014: 66). Dalam sebuah bagan makna berupa segi tiga yang menghubungkan tiga komponen makna, yaitu bentuk, konsep, dan referen. Bagannya adalah sebagai berikut.

Konsep

Bentuk Referen

Bagan.1 segi tiga makna

Hubungan ketiganya dapat dijelaskan bahwa bentuk dan referen dihubungkan dengan garis putus-putus, sedangkan bentuk dan konsep, serta konsep dan referen dihubungankan dengan garis biasa. Hal Ini karena hubungan antara bentuk dan referen bersifat tidak langsung, sebab bentuk adalah masalah dalam bahasa, sementara referen merupakan masalah di luar bahasa yang hubungannya biasanya bersifat arbitrer. Sementara itu, hubungan bentuk dan konsep serta hubungan konsep dan referen bersifat langsung. Bentuk dan konsep sama-sama berada di dalam bahasa, begitu juga hubungan konsep dan referen, karena referen adalah acuan dari konsep tersebut. Selanjutnya menurut Kridalaksana (1993: 133) makna referensial (referential meaning) adalah makna unsur bahasa yang sangat dekat hubungannya dengan dunia di luar bahasa (objek atau gagasan) dan yang dapat dijelaskan oleh analisis komponen; juga disebut denotasi; lawan dari konotasi. Oleh sebab itu, dapat dinyatakan bahwa makna referensial adalah makna yang secara langsung memiliki hubungan dengan kenyataan atau referen (acuan). Makna referensial disebut juga makna kognitif, karena memiliki acuan. Makna ini memiliki hubungan dengan konsep, sama halnya

dengan makna kognitif. Makna referensial memiliki hubungan dengan konsep tentang sesuatu yang telah disepakati bersama oleh masyarakat pemakai bahasa.

Dokumen terkait