• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

4.2 Hasil Penelitian

4.2.3 Makna Implikatur Percakapan

Beberapa wujud implikatur percakapan berupa tindak tutur, yaitu: direktif,

representatif, ekspresif, deklaratif, dan komisif. Kelima wujud tersebut

masing-masing memiliki makna yang saling berkaitan. Berdasarkan data tuturan yang

telah dianalisis peneliti, peneliti menemukan makna implikatur percakapan

berdasarkan teori Searle (dalam Yule, 2006:92-94), yakni: menyuruh atau

memerintah, menasihati, meminta, mendesak, menyarankan, mengajak, bertanya,

melaporkan, memberitahukan, memberikan pernyataan atau menyatakan,

melarang, menawarkan. Peneliti akan menjabarkan mengenai makna-makna

implikatur sebagai berikut.

a. Makna Menyuruh atau Memerintah

No. Data Tuturan

26 OT : “Dek, ambilin mimik

dulu.”(Mimik=minum) AN1 : “Iya bu.” OT : “Makasih”

Konteks: Tuturan ini terjadi pada siang hari di ruang tamu. Keluarga ini

berasal dari suku Jawa-Sunda. Memiliki latar belakang profesi, yaitu seorang ibu rumah tangga. Tuturan dilakukan oleh OT (41 tahun) yang sedang duduk santai bersama anaknya yang paling kecil AN1 (11 tahun) sambil menonton televisi. Saat itu, OT haus dan ingin minum, sehingga OT meminta AN1 untuk pergi ke dapur mengambil minum.

27 OT : “Udah sana direbus sana”

AN1 : “Nanti aja.. Eh iya iya yaudah.” (sambil tertawa pelan)

Konteks: Tuturan ini terjadi pada pagi hari di ruang tamu. Keluarga ini

berasal dari suku Batak-Flores. Memiliki latar belakang profesi, yaitu seorang ibu rumah tangga. OT (47 tahun) dan AN1 (14 tahun) sedang duduk santai sambil menonton televisi. OT menyuruh AN1 untuk merebus mie instan. Dengan tertawa pelan AN1 mengatakan tuturan tersebut dan segera berdiri untuk merebus mie instan.

28 OT : “Aa lagi belajar apa aa.” AN1 : “Lagi belajar tematik.”

OT : “Ada yang perlu ditanyain gak ke mama?” AN1 : “Ada.”

OT : “Ayo ditulis. Ini tentang keselamatan di jalan. Kalo di jalan tuh gak boleh meleng.” Konteks: Tuturan ini terjadi pada sore hari di ruang tamu. Keluarga ini

berasal dari suku Sunda. Memiliki latar belakang profesi, yaitu seorang ibu rumah tangga. Saat itu, OT sedang mendampingi AN1 (8 tahun) yang sedang belajar tematik. Kemudian, OT menanyakan kepada AN1 apa

menyuruh AN1 untuk menuliskan penjelasan materi yang tidak dimengerti.

Makna implikatur percakapan pada data tuturan (26) adalah makna

menyuruh atau memerintah. Data tuturan (26) merupakan wujud implikatur

percakapan direktif, karena tuturan yang diucapkan OT bermaksud menyuruh atau

memerintah AN1 untuk mengambilkan minum. Penanda bahwa data tuturan (26)

memiliki makna menyuruh atau memerintah adalah OT menuturkan “Dek,

ambilin mimik dulu.” Dalam tuturan tersebut OT secara tidak langsung

memberitahukan kepada AN1 kalau dirinya haus, sehingga menyuruh atau

memerintah AN1 secara halus untuk mengambilkan minum dan AN1 menuruti

perintah OT. Hal ini sejalan dengan pendapat Yule (2006:93) yang menyatakan

bahwa direktif merupakan tindak tutur yang berfungsi mendorong pendengar

melakukan sesuatu. Memiliki makna misalnya: menyuruh, meminta, menasihati,

menyarankan, memohon, bertanya, mengajak, memerintah, memberi aba-aba, menantang, mendesak, menagih, memaksa. Pada tindak ujaran direktif, si

pendengarlah yang diharapkan untuk melakukan sesuatu.

Makna implikatur percakapan pada data tuturan (27) adalah makna

menyuruh atau memerintah. Data tuturan (27) merupakan wujud implikatur

percakapan direktif, karena tuturan yang diucapkan OT bermaksud menyuruh atau

memerintah AN1 untuk merebus mie instan. Penanda bahwa data tuturan (27)

memiliki makna menyuruh atau memerintah adalah OT menuturkan “Udah sana

direbus sana”, sesuai dengan konteks dalam tuturan “udah sana” memiliki arti

kalau OT menyuruh AN1 untuk segera dilakukan merebus mie instannya. Hal ini

sejalan dengan pendapat Yule (2006:93) yang menyatakan bahwa direktif

Memiliki makna misalnya: menyuruh, meminta, menasihati, menyarankan,

memohon, bertanya, mengajak, memerintah, memberi aba-aba, menantang, mendesak, menagih, memaksa. Pada tindak ujaran direktif, si pendengarlah yang

diharapkan untuk melakukan sesuatu.

Makna implikatur percakapan data tuturan (28) adalah makna menyuruh

atau memerintah. Data tuturan (28) merupakan wujud implikatur percakapan

direktif, karena tuturan yang diucapkan OT bermaksud menyuruh atau

memerintah AN1 untuk menuliskan penjelasan materi yang tidak dimengerti.

Penanda bahwa data tuturan (28) memiliki makna menyuruh atau memerintah

adalah OT menuturkan “Ayo ditulis. Ini tentang keselamatan di jalan. Kalo di

jalan tuh gak boleh meleng.” Kata “Ayo tulis” dalam tuturan tersebut OT

menyuruh atau memerintah AN1 untuk segera menuliskan penjelasan materi yang

belum dimengerti agar bisa mudah dipelajari dan dibaca kembali. Hal ini sejalan

dengan pendapat Yule (2006:93) yang menyatakan bahwa direktif merupakan

tindak tutur yang berfungsi mendorong pendengar melakukan sesuatu. Memiliki

makna misalnya: menyuruh, meminta, menasihati, menyarankan, memohon,

bertanya, mengajak, memerintah, memberi aba-aba, menantang, mendesak, menagih, memaksa. Pada tindak ujaran direktif, si pendengarlah yang diharapkan

b. Makna Menasihati

No. Data Tuturan

29 AN2 : “Kamu dapet nilai berapa?”

AN1 : “Gatau, kan bukan aku yang ngerjain.”

AN2 : “Ih, itu kan tugas kamu.”

OT : “Ye, jangan begitu sama aja itu tugas adeknya dibantuin sama kakaknya. Kerja sama yang baik, ya dek?”

AN1 : “Iya bu.

Konteks: Tuturan ini terjadi pada siang hari di ruang tamu. Keluarga ini

berasal dari suku Jawa-Sunda. Memiliki latar belakang profesi, yaitu seorang ibu rumah tangga. Ketika itu, AN2 (18 tahun) menanyakan kepada AN1 (11 tahun) terkait nilai tugas yang dikerjakannya. Namun, AN1 menjawab bahwa ia tidak mengetahui nilai tugasnya dan AN2 menyalahkan AN1 karena yang mengerjakan tugas tersebut adalah AN1. Jadi, seharusnya AN1 mengetahui nilai tugas yang diperolehnya. OT pun menyahut AN2 dan AN1 menasihatinya dengan mengatakan jika pada intinya seorang kakak dan adik harus saling bekerja sama yang baik.

30 AN1 : “Ih lagi makan sambil nari masa. Aku dengerin lagu ini terus masa sambil belajar” OT : “Nah ini lu sekarang dengerin juga sambil joget-joget.”

AN1 : “Hehehe.” (Sambil cengar-cengir) OT : “Makanya jangan suka ngatain.”

Konteks: Tuturan ini terjadi pada pagi hari di ruang tamu. Keluarga ini

berasal dari suku Batak-Flores. Memiliki latar belakang profesi, yaitu seorang ibu rumah tangga. OT (47 tahun) dan AN1 (14 tahun) sedang makan sambil menonton acara musik di televisi. Kemudian, AN1 menegur OT dengan mengatakan tuturan tersebut. Lalu, OT balik menegur AN1 dengan tuturan tersebut. OT pun menasihati AN1.

31 AN2 : “Tapi bisa dapet orang Jerman gitu ya gimana caranya coba.”

OT : “Namanya nasib orang kan gatau.”

Konteks: Tuturan ini terjadi pada malam hari di ruang tamu. Keluarga

OT (59 tahun) dan AN2 (17 tahun) masih berbincang santai tentang Susi Pudjiastuti. AN2 masih penasaran dengan Susi Pudjiastuti yang bisa mendapatkan suami orang Jerman, sehingga bertanya kepada OT. Kemudian, OT meresponnya terkait dengan pertanyaan yang dituturkan AN2.

Makna implikatur percakapan data tuturan (29) mengandung makna

menasihati dalam wujud implikatur direktif. Hal ini dikarenakan dalam tuturan

yang diungkapkan OT bermaksud untuk menasihati AN1 dan AN2 kalau sebagai

adik kakak harus saling membantu dan bekerja sama satu sama lain. Penanda

makna menasihati adalah tuturan “Ye, jangan begitu sama aja itu tugas adeknya

dibantuin sama kakaknya. Kerja sama yang baik, ya dek?” Sejalan dengan

pendapat Yule (2006:93) yang menyatakan bahwa direktif merupakan tindak tutur

yang berfungsi mendorong pendengar melakukan sesuatu. Memiliki makna

misalnya: menyuruh, meminta, menasihati, menyarankan, memohon, bertanya,

mengajak, memerintah, memberi aba-aba, menantang, mendesak, menagih, memaksa. Pada tindak ujaran direktif, si pendengarlah yang diharapkan untuk

melakukan sesuatu.

Makna implikatur percakapan data tuturan (30) mengandung makna

menasihati dalam wujud implikatur direktif. Hal ini dikarenakan dalam tuturan

yang diungkapkan OT bermaksud secara tidak langsung untuk menasihati AN1

agar tidak suka mengatai orang lain. Penanda makna menasihati adalah tuturan

“Makanya jangan suka ngatain.” Sejalan dengan pendapat (Yule 2006:93) yang

menyatakan bahwa direktif merupakan tindak tutur yang berfungsi mendorong

pendengar melakukan sesuatu. Memiliki makna misalnya: menyuruh, meminta,

aba-aba, menantang, mendesak, menagih, memaksa. Pada tindak ujaran direktif,

si pendengarlah yang diharapkan untuk melakukan sesuatu.

Makna implikatur percakapan data tuturan (31) mengandung makna

menasihati dalam wujud implikatur direktif. Hal ini dikarenakan dalam tuturan

yang diungkapkan OT bermaksud merespon tuturan AN2 dengan menasihati

kalau yang namanya nasib seseorang itu tidak ada yang tahu. Penanda makna

menasihati adalah tuturan “Namanya nasib orang kan gatau.” Sejalan dengan

pendapat Yule (2006:93) yang menyatakan bahwa direktif merupakan tindak tutur

yang berfungsi mendorong pendengar melakukan sesuatu. Memiliki makna

misalnya: menyuruh, meminta, menasihati, menyarankan, memohon, bertanya,

mengajak, memerintah, memberi aba-aba, menantang, mendesak, menagih, memaksa. Pada tindak ujaran direktif, si pendengarlah yang diharapkan untuk

melakukan sesuatu.

c. Makna Meminta

No. Data Tuturan

32 OT : “Hape teruss!”

AN1 : “Iya bu hehehe” (sambil cengar-cengir)

Konteks: Tuturan ini terjadi pada siang hari di ruang tamu. Keluarga ini

berasal dari suku Jawa-Sunda. Memiliki latar belakang profesi, yaitu seorang ibu rumah tangga. OT (41 tahun) sedang duduk santai. Lalu, OT menengok ke arah AN1 (11 tahun) yang sedang duduk santai dengan asik bermain handphone. OT pun mengingatkan AN1 agar menyudahi bermain handphonenya.

33 OT : “Ngecatnya yang bener mas Pedro ya. Jangan belepotan.”

AN1 : “Iya ma. Udah noh, tuh.” (sambil menunjukkan hasil kuteksnya)

Konteks: Tuturan ini terjadi pada sore hari di ruang tamu. Keluarga ini

berasal dari suku Jawa-Flores. Memiliki latar belakang profesi, yaitu sebagai karyawan swasta. OT (48 tahun) meminta AN1 (16 tahun) untuk memakaikan kuteksnya dengan benar dan tidak berceceran dengan mengatakan tuturan tersebut.

34 OT : “Yang gak bisa ngitung ditinggal.”(Sambil tertawa)

AN2 : “Hahaha masa gitu.”(Sambil tertawa) OT : “Iya narik sampah aja.”(Sambil tertawa)

Konteks: Tuturan ini terjadi pada malam hari di ruang tamu. Keluarga

ini berasal dari suku Jawa. Memiliki latar belakang profesi, yaitu guru. OT (59 tahun) dan AN2 (17 tahun) sedang duduk santai dan saling mengobrol mengenai perbedaan antara mata pelajaran geografi dan matematika. OT memberitahukan kepada AN2 kalau tidak bisa ngitung ditinggal saja dan bekerja sebagai penarik sampah saja.

Makna implikatur percakapan data tuturan (32) mengandung makna

meminta dalam wujud implikatur direktif. Hal ini dikarenakan dalam tuturan yang

diungkapkan OT bermaksud secara tidak langsung untuk meminta AN1 agar AN1

berhenti memainkan handphonenya. AN1 pun hanya meresponnya dengan

cengar-cengir. Penanda makna meminta adalah tuturan “Hape teruss!” Sejalan

dengan pendapat Yule (2006:93) yang menyatakan bahwa direktif merupakan

tindak tutur yang berfungsi mendorong pendengar melakukan sesuatu. Memiliki

makna misalnya: menyuruh, meminta, menasihati, menyarankan, memohon,

menagih, memaksa. Pada tindak ujaran direktif, si pendengarlah yang diharapkan

untuk melakukan sesuatu.

Makna implikatur percakapan data tuturan (33) mengandung makna

meminta dalam wujud implikatur direktif. Hal ini dikarenakan dalam tuturan yang

diungkapkan OT bermaksud secara tidak langsung untuk meminta AN1 untuk

memakaikan kuteks pada kakinya dengan benar dan tidak berceceran. Penanda

makna meminta adalah tuturan “Ngecatnya yang bener mas Pedro ya. Jangan

belepotan.” Sejalan dengan pendapat Yule (2006:93) yang menyatakan bahwa

direktif merupakan tindak tutur yang berfungsi mendorong pendengar melakukan

sesuatu. Memiliki makna misalnya: menyuruh, meminta, menasihati,

menyarankan, memohon, bertanya, mengajak, memerintah, memberi aba-aba, menantang, mendesak, menagih, memaksa. Pada tindak ujaran direktif, si

pendengarlah yang diharapkan untuk melakukan sesuatu.

Makna implikatur percakapan data tuturan (34) mengandung makna

meminta dalam wujud implikatur direktif. Hal ini dikarenakan dalam tuturan yang

diungkapkan OT bermaksud secara tidak langsung untuk meminta AN2 supaya

berlatih menghitung agar mata pelajaran matematikanya mendapatkan nilai yang

maksimal, karena dalam kehidupan sehari-hari matematika sangat diperlukan.

Penanda makna meminta adalah tuturan “Yang gak bisa ngitung ditinggal.”

Sejalan dengan pendapat Yule (2006:93) yang menyatakan bahwa direktif

merupakan tindak tutur yang berfungsi mendorong pendengar melakukan sesuatu.

Memiliki makna misalnya: menyuruh, meminta, menasihati, menyarankan,

mendesak, menagih, memaksa. Pada tindak ujaran direktif, si pendengarlah yang

diharapkan untuk melakukan sesuatu.

d. Makna Mendesak

No. Data Tuturan

35 OT : “Lagi. Ini lagi”

AN1 : “Gak ah, gak mau.”(sambil tertawa pelan)

OT : “Gak jadi tak beliin paket.” (sambil tertawa pelan)

Konteks: Tuturan ini terjadi pada sore hari di ruang tamu. Keluarga ini

berasal dari suku Jawa-Flores. Memiliki latar belakang profesi, yaitu sebagai karyawan swasta. Saat itu OT (48 tahun) masih ingin AN1 (16 tahun) memakaikan kuteks pada kakinya, sehingga OT menyuruh AN1 lagi. Tetapi, AN1 menolaknya dengan sambil tertawa pelan. OT pun juga ikut tertawa pelan sambil mengatakan kepada AN1 kalau ia tidak jadi membelikan kuota internet untuk AN1.

Makna implikatur percakapan data tuturan (35) mengandung makna

mendesak dalam wujud implikatur direktif. Tuturan tersebut mengandung

perintah OT yang ditujukan kepada AN1. OT mendesak agar memakaikan kuteks

pada kakinya dengan memberikan kuteksnya kepada AN1. Kalau tidak

dilaksanakan maka OT tidak akan menuruti keinginan AN1 untuk membelikan

paket intenet. Penanda makna mendesak adalah tuturan “Lagi. Ini lagi mas

Pedro”dan “Gak jadi tak beliin paket.” Hal ini sejalan dengan pendapat Yule

(2006:93) yang menyatakan bahwa direktif merupakan tindak tutur yang

berfungsi mendorong pendengar melakukan sesuatu. Memiliki makna misalnya:

menyuruh, meminta, menasihati, menyarankan, memohon, bertanya, mengajak, memerintah, memberi aba-aba, menantang, mendesak, menagih, memaksa. Pada

e. Makna Menyarankan

No. Data Tuturan

36 AN1 : “Iya-iya..Gaada sausnya tapi.”(sambil tertawa pelan)

OT : “Tuhkan..aduh apalagi nih. Tuh cabe banyak di situ.”

Konteks: Tuturan ini terjadi pada pagi hari di ruang tamu. Keluarga ini

berasal dari suku Batak-Flores. Memiliki latar belakang profesi, yaitu seorang ibu rumah tangga. AN1 (14 tahun) berdiri di depan OT (47 tahun) untuk memberitahukan kalau tidak saus. OT pun mengatakan kepada AN1 agar memakai cabe seadanya saja yang ada di dapur.

Makna implikatur percakapan pada data tuturan (36) merupakan makna

memberikan saran atau menyarankan dalam wujud tuturan implikatur percakapan

direktif. Tuturan diucapkan oleh OT kepada AN1. Tuturan OT secara tidak

langsung memberikan saran kepada AN1 untuk pakai cabe seadanya saja yang ada

di dapur sebagai pengganti saus. Penanda wujud direktif dengan makna

menyarankan adalah tuturan “Tuhkan..aduh apalagi nih. Tuh cabe banyak di

situ.” Hal ini sejalan dengan pendapat Yule (2006:93) yang menyatakan bahwa

direktif merupakan tindak tutur yang berfungsi mendorong pendengar melakukan

sesuatu. Memiliki makna misalnya: menyuruh, meminta, menasihati,

menyarankan, memohon, bertanya, mengajak, memerintah, memberi aba-aba, menantang, mendesak, menagih, memaksa. Pada tindak ujaran direktif, si

f. Makna Mengajak

No. Data Tuturan

37 AN2 : “Yuk mak ke dokter yuk.” OT : “ Yaudah tapi lihat kondisi ya.”

Konteks: Tuturan ini terjadi pada siang hari. Keluarga ini berasal dari

suku Jawa. Memiliki latar belakang profesi, yaitu seorang ibu rumah tangga. OT (55 tahun) dan AN2 (17 tahun) sedang tiduran santai sambil mengobrol. Saat itu, AN2 mengajak OT untuk pergi ke dokter.

Makna implikatur percakapan pada data tuturan (37) merupakan makna

memberikan mengajak dalam wujud tuturan implikatur percakapan direktif.

Dalam tuturan tersebut penutur memerintah mitra tuturnya untuk melakukan

sesuatu. AN2 bermaksud mengajak OT untuk pergi berobat. Penanda wujud

direktif dengan makna mengajak adalah tuturan “Yuk mak ke dokter yuk.” Makna

mengajak dalam tuturan tersebut ditandai dengan penggunaan kata “yuk atau

ayo”, yang berarti suatu ajakan. Hal ini sejalan dengan pendapat Yule (2006:93)

yang menyatakan bahwa direktif merupakan tindak tutur yang berfungsi

mendorong pendengar melakukan sesuatu. Memiliki makna misalnya: menyuruh,

meminta, menasihati, menyarankan, memohon, bertanya, mengajak, memerintah, memberi aba-aba, menantang, mendesak, menagih, memaksa. Pada tindak ujaran

g. Makna Bertanya

No. Data Tuturan

38 OT : “Mau bikin apa, fi? Pedang apa fi?” AN1 : “Pedang satrio”

Konteks: Tuturan ini terjadi pada sore hari di ruang tamu. Keluarga ini

berasal dari suku Sunda. Memiliki latar belakang profesi, yaitu wirausaha kusen. OT (36 tahun) sedang santai sambil bermain lego bersama AN1 (8 tahun) dan anak perempuannya AN2. OT menanyakan kepada AN1 legonya mau dibentuk pedang seperti apa. AN1 pun merespon OT dengan menjawab pedang satrio.

Makna implikatur percakapan pada data tuturan (38) merupakan makna

memberikan bertanya dalam wujud tuturan implikatur percakapan direktif.

Tuturan diucapkan oleh OT kepada AN1 ketika sedang santai bermain lego.

Tuturan OT bermaksud untuk bertanya kepada AN1 mainan legonya mau

dibentuk seperti apa. Penanda wujud direktif dengan makna bertanya adalah

tuturan “Mau bikin apa, fi? Pedang apa fi?” Hal ini sejalan dengan pendapat

Yule (2006:93) yang menyatakan bahwa direktif merupakan tindak tutur yang

berfungsi mendorong pendengar melakukan sesuatu. Memiliki makna misalnya:

menyuruh, meminta, menasihati, menyarankan, memohon, bertanya, mengajak, memerintah, memberi aba-aba, menantang, mendesak, menagih, memaksa. Pada

h. Makna Melaporkan

No. Data Tuturan

39 OT : “Kamu dek, udah makan belum?” AN1 : “Udah bu.”

OT : “Makan pake apa?” AN1 : “Pake ayam.”

Konteks: Tuturan ini terjadi pada siang hari di ruang tamu. Keluarga ini

berasal dari suku Jawa-Sunda. Memiliki latar belakang profesi, yaitu seorang ibu rumah tangga. OT (41 tahun) menanyakan sudah makan atau belum kepada AN1 (11 tahun) yang sedang menonton televisi. AN1 pun menjawab sudah. Kemudian, OT menanyakan lagi makan pake apa? dan AN1 pun menjawab pake ayam.

40 OT : “Udah semua ya mas Pedro?” AN1 : “Udah ma”

Konteks: Tuturan ini terjadi pada sore hari di ruang tamu. Keluarga ini

berasal dari suku Jawa-Flores. Memiliki latar belakang profesi, yaitu sebagai karyawan swasta. Saat itu, AN1 (16 tahun) sedang membantu OT (48 tahun) memakaikan kuteks pada kuku kakinya dengan santai. Kemudian, selang beberapa menit AN1 menyudahi memakaikan kuteksnya, sehingga membuat OT bertanya kepada AN1, karena OT kurang yakin jika AN1 bisa memakaikan kuteksnya dengan waktu yang cepat.

41 OT : “Mama gak bisa lursu-lurus kakinya, keganjel perut.”

AN1 : “Yaa lagian mama gendut-gendut” (Sambil tertawa pelan)

OT : “Gabisa perutnya keganjel.”(Sambil ikut tertawa pelan)

Konteks: Tuturan ini terjadi pada sore hari di ruang tamu. Keluarga ini

berasal dari suku Jawa-Flores. Memiliki latar belakang profesi, yaitu sebagai karyawan swasta. AN1 (16 tahun) yang sedang membantu memakaikan kuteks pada kaki OT (48 tahun) menyudahinya karena dirinya pegal memakaikan kuteksnya dengan badan yang membungkuk. Sedangkan kaki OT tidak bisa menyelonjorkan kakinya lebih dekat ke arah AN1 karena perutnya yang buncit.

42 OT : “Wes rampung kamu?”(sudah selesai kamu?)

AN2 : “Udah ma.” OT : “Emang berapa?” AN2 : “Dua ma.”

Konteks: Tuturan ini terjadi pada siang hari di ruang tamu. Keluarga ini

berasal dari suku Jawa. Memiliki latar belakang profesi, yaitu seorang ibu rumah tangga. Saat itu OT (55 tahun) sambil makan dan AN2 (17 tahun) sedang duduk santai sambil makan juga. OT menanyakan kepada AN2 sudah selesai atau belum mengerjakan tugas sekolah secara online.

43 OT : “Masa SMP lebih mahal daripada SMA.” AN2 : “Emang iya?”

OT : “SMP Rp250.000” AN2 : “Gatau aku, pak.”

Konteks: Tuturan ini terjadi pada siang hari di ruang tamu. Keluarga ini

berasal dari suku Jawa. Memiliki latar belakang profesi, yaitu guru. AN2 (17 tahun) dan OT (59 tahun) sedang berbincang santai. Keduanya masih membahas mengenai pengurangan SPP. Saat itu, OT membandingkan kepada AN2 kalau SPP ketika SMP lebih mahal daripada SMA.

44 AN2 : “Ada lemburnya juga ya mak petani.” OT : “Kalo ngeliat..ih panenannya bener-bener.”

AN2 : “Terus gimana?”

OT : “Berlipat ih bener-bener. Sugih tenan.” Konteks: Tuturan ini terjadi pada siang hari di ruang tamu. Keluarga ini

berasal dari suku Jawa. Memiliki latar belakang profesi, yaitu seorang ibu rumah tangga. Saat itu, OT (55 tahun) sedang menceritakan mengenai panenan semangka yang ada di kampung halamannya jaman dulu kepada AN2 (25 tahun) dengan mengatakan tuturan tersebut.

Makna implikatur percakapan pada data tuturan (39) merupakan makna

memberikan melaporkan dalam wujud tuturan implikatur percakapan

representatif. Tuturan diucapkan oleh AN1 kepada OT. Tuturan AN1 bermaksud

untuk merespon pertanyaan OT dengan melaporkan kepada OT kalau dirinya

melaporkan adalah tuturan “udah bu” dan “pakai ayam”. Hal ini sejalan dengan

pendapat Yule (2006:92) mengatakan bahwa representatif merupakan jenis tindak

tutur yang menyatakan apa yang diyakini penutur kasus atau bukan, dalam artian

tindak tutur representatif berupa pernyataan suatu fakta, penegasan, kesimpulan,

dan pendeskripsian. Tindak tutur ini menjelaskan apa dan bagaimana sesuatu itu

Dokumen terkait