BAB V PENUTUP
5.2 Saran
Berdasarkan penelitian yang sudah dilakukan, peneliti menyadari bahwa
masih mempunyai banyak kekurangan dan jauh dari kata sempurna. Oleh karena
itu, peneliti mengajukan beberapa saran bagi peneliti selanjutnya terutama dalam
melakukan penelitian yang sejenis. Saran dari peneliti adalah sebagai berikut.
1. Bagi mahasiswa Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia atau
peneliti lainnya yang ingin meneliti topik yang sama, agar dapat mencari ide
baru untuk mengembangkan penelitian sejenis ini dengan menganalisis
subjek data yang berbeda, salah satu contohnya adalah implikatur percakapan
dalam tuturan orang tua dan anak pada media sosial whatsapp.
2. Bagi tetangga peneliti di Perumahan Pejuang Jaya, Kecamatan Medan Satria,
Kelurahan Pejuang, Kota Bekasi. Peneliti berharap dengan adanya penelitian
dengan topik tersebut, orang tua dapat membiasakan bertutur kata dengan
baik dan santun kepada anak, sehingga tuturan dapat tersampaikan dengan
lancar, nyaman, dan tidak menyinggung perasaan. Selain itu, anak pun dapat
menirukannya dengan bertutur kata yang baik, seperti tidak berbicara kasar
atau mengucap kata-kata negatif dengan orang di lingkungan sekitarnya.
3. Bagi masyarakat umum atau khalayak pembaca, penelitian terkait implikatur
percakapan dalam tuturan orang tua kepada anak untuk menanamkan
kesantunan berbahasa ini memberikan suatu informasi bahwa wujud
implikatur itu terdapat berbagai macam jenis, tergantung pada pemakaian
teori yang dipilih, khususnya dalam kajian pragmatik. Kemudian, cara orang
tua menanamkan kesantunan berbahasa, tentunya yang peneliti harapkan
sehingga tuturan dapat tersampaikan dengan lancar dan tidak menyinggung
perasaan. Terakhir adalah makna implikatur percakapan. Sama halnya seperti
wujud implikatur percakapan. Terdapat berbagai macam makna implikatur
percakapan yang peneliti temukan, tergantung pada pemakaian teori yang
dipilih, khususnya juga dalam kajian pragmatik. Oleh karena itu, peneliti
berharap, hasil penelitian ini dapat memberikan pengetahuan yang baru,
133
DAFTAR PUSTAKA
Afrizal. (2015). Metode Penelitian Kualitatif. Jakarta: Andalas University Press.
Alwi, H. (2010). Tata Bahasa Baku Bahasa Indonesia. Jakarta: Balai Pustaka.
Arifin, Z. (2008). Sintaksis. Jakarta: Grasindo.
Budiwati, T. R. (2017). Kesantunan Berbahasa Mahasiswa dalam Berinteraksi
dengan Dosen di Universitas Ahmad Dahlan: Analisis Pragmatik. Jurnal 5th Urecol Proceeding, 559. Diakses 12 April 2020 pada pukul 20.51.
Chaer, A. (2009). Pengantar Semantik Bahasa Indonesia. Jakarta: Rineka Cipta.
Chaer, A. (2010). Kesantunan Berbahasa. Ende Flores: Nusa Indah.
Cummings, L. (2005). Pragmatics A Multidisciplinary Perspective. New York:
Edinburgh University Press.
Cummings, L. (2007). Pragmatik Sebuah Perspektif Multidisipliner. Yogyakarta:
Pustaka Pelajar.
Dardjowidjojo, S. (2010). Psikolinguistik: Pengantar Pemahaman Bahasa
Manusia. Jakarta: Yayasan Obor Indonesia.
Dewi Nurhayati, R. H. (2017). Kesantunan Berbahasa Pada Tuturan Siswa SMP.
Jurnal Literasi, 3-4. Diakses 17 Juni 2020 pada pukul 19.00.
Ghony, M., & Almanshur, F. (2014). Metode Penelitian Kualitatif. Yogyakarta:
Ar-Ruzz Media.
Haiko, M. K. (2017). Implikatur Percakapan dalam Talk Show Hitam Putih di
Trans 7. Jurnal Bahasa dan Sastra Volume 2 Nomor 1 , 79. Diakses 6
April 2020 pada pukul 22.29.
Kesuma, T. (2007). Pengantar Metode Penelitian Bahasa. Yogyakarta:
Kridalaksana, H. (2008). Kamus Linguistik. Jakarta: Gramedia Pustaka Media.
Kusno, A. (2014). Kesantunan Bertutur Oleh Orang Tua Kepada Anak di
Lingkungan Rumah Tangga. Jurnal Dinamika Ilmu Volume 14 Nomor 1,
16-19. Diakses 4 Desember 2019 pada pukul 12.56.
Leech, G. (1993). Prinsip-Prinsip Pragmatik. Jakarta: Universitas Indonesia.
Leech, G. (1993). Prinsip-Prinsip Pragmatik (edisi terjemahan dari M.D.D. Oka).
Jakarta: Universitas Indonesia.
Mahsun. (2005). Metode Penelitian Bahasa Edisi Revisi. Jakarta: PT.
Rajagrafindo Persada.
Markhamah. (2011). Analisis Kesalahan dan Kesantunan Berbahasa. Surakarta:
Muhammadiyah University Press.
Moleong, L. (2006). Metodologi Penelitian Kualitatif. Bandung: PT. Remaja
Rosdakarya.
Muhammad. (2014). Metode Penelitian Bahasa. Yogyakarta: AR-Ruza Media.
Mulyana. (2005). Kajian Wacana Teori, Metode dan Aplikasi Prinsip-Prinsip
Analisis Wacana. Yogyakarta: Tiara Wacana.
Nadar, F. (2009). Pragmatik dan Penelitian Pragmatik. Yogyakarta: Graha Ilmu.
Nurastuti, W. (2007). Metodologi Penelitian. Yogyakarta: Ardana Media.
Pranowo. (2009). Berbahasa Secara Santun. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.
Pranowo. (2012). Berbahasa Secara Santun. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.
Pranowo. (2015). Teori Belajar Bahasa. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.
Putrayasa, I. (2014). Pragmatik. Yogyakarta: Ardana Media.
Putry, R. (2018). Implikatur Percakapan Antara Orang Tua dengan Anak dalam
Rahardi, K. (2005). Pragmatik Kesantunan Imperatif Bahasa Imperatif Bahasa
Indonesia. Jakarta: Erlangga.
Rahardi, K. (2016). Pragmatik: Fenomena Ketidaksantunan Bahasa. Jakarta:
Erlangga.
Rahayu, I. (2018). Implikatur Percakapan dalam Dialog Interaktif Mata Najwa
Metro TV dengan Pejabat Publik Periode Januari-Juli 2017. Skripsi,
18-30.
Rani, A. (2006). Analisis Wacana Sebuah Kajian Bahasa dan Pemakaian.
Malang: Bayu Media.
Rizal, S. (2015). Pengaruh Pola Berbahasa OrangTua Anak Jalanan di Kota
Makasar: Analisis Sosio-linguistik. Jurnal Volume 1 Nomor 1 Tahun
2015, 19-22. Diakses 5 Desember 2019 pada pukul 23.17.
Sakoikoi, M. (2018). Implikatur Percakapan Antartokoh dalam Film
Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck Karya Buya Hamka. Skripsi.
Sugioyono. (2012). Metode Penelitian Kombinasi (Mixed Methods). Bandung:
Alfabeta.
Sumarsono. (2008). Sosiolinguistik. Yogyakarta: Sabda.
Susrawan, I. (2015). Implikatur Percakapan dalam Komunikasi Antarsiswa di
SMP N 1 Sawan Singaraja. Jurnal Volume 5 Nomor 2. Diakses 6 April
2020 pada pukul 22.26.
Sutopo, H. (2002). Metodologi Penelitian Kualitatif: Teori dan Aplikasinya dalam
Ulumuddin, A. (2016). Menjadikan Santun Berbahasa Melalui Pengetahuan
Pemerolehan Bahasa Anak. Jurnal. Diakses 4 Desember 2019 pada pukul
23.42.
Wijana, P. (2009). Analisis Wacana Pragmatik. Surakarta: Yuma Pustaka.
Yule, G. (2006). Pragmatik. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.
Zamzani. (2007). Kajian Sosiolinguistik. Yogyakarta: Cipta Pustaka.
Zamzani. (2010). Pengembangan Alat Ukur Kesantunan Bahasa Indonesia dalam
Interaksi Sosial Bersemuka dan Non Bersemuka. Yogyakarta: Universitas
Negeri Yogyakarta.
TRIANGULASI DATA PENELITIAN
IMPLIKATUR PERCAKAPAN DALAM TUTURAN ORANG TUA KEPADA ANAK UNTUK MENANAMKAN KESANTUNAN BERBAHASA
Petunjuk Pengisian:
1. Triangulator dimohon untuk memberikan tanda centang () pada kolom (setuju atau tidak setuju) berdasarkan ketetapan wujud, cara orang tua menanamkan kesantunan berbahasa, dan makna implikatur percakapan dalam tuturan orang tua kepada anak untuk menanamkan kesantunan berbahasa. 2. Triangulator dimohon untuk memberikan kritik dan masukan pada kolom
keterangan triangulator.
Keterangan: OT = Orang Tua AN1 = Anak Laki-laki AN2 = Anak Perempuan
1. Wujud Implikatur No. Data Tuturan
Orang Tua Kepada Anak Wujud Implikatur Percakapan Kesesuaian Dengan Teori (Triangulator) Keterangan Triangulator Setuju Tidak Setuju 1
OT : “Dek, ambilin mimik dulu.”(Mimik=minum) AN1 : “Iya bu.” OT : “Makasih”
Konteks: Tuturan ini terjadi pada siang hari di ruang tamu. Keluarga ini berasal dari suku Jawa-Sunda. Memiliki latar
Direktif, karena adanya perintah dari penutur kepada mitra tutur untuk melakukan sesuatu. Tuturan “Dek, ambilin mimik dulu.” penutur menyuruh atau memerintah mitra tuturnya untuk mengambilkan minum karena dirinya haus. Analisis di atas berdasarkan teori Searle (dalam Yule, 2006:92-94). Yule (2006:93) menyatakan bahwa direktif merupakan tindak tutur
yang berfungsi mendorong
pendengar melakukan sesuatu.
Memiliki makna misalnya:
Menyuruh, meminta, menasihati, menyarankan, memohon, bertanya,
belakang profesi, yaitu seorang ibu rumah tangga. Tuturan dilakukan oleh OT (41 tahun) yang sedang duduk santai bersama anaknya yang paling kecil AN1 (11 tahun) sambil menonton televisi. Saat itu, OT haus dan ingin minum, sehingga OT meminta AN1 untuk pergi ke dapur mengambil minum.
mengajak, memerintah, memberi aba-aba, menantang, mendesak, menagih, memaksa. Pada tindak ujaran direktif, si pendengarlah yang diharapkan untuk melakukan sesuatu.
2
AN2 : “Kamu dapet nilai berapa?”
AN1 : “Gatau, kan bukan aku yang ngerjain.”
AN2 : “Ih, itu kan tugas kamu.” OT : “Ye, jangan begitu sama aja itu tugas adeknya dibantuin sama kakaknya. Kerja sama yang baik, ya dek?”
AN1 : “Iya bu.
Konteks: Tuturan ini terjadi pada siang hari di ruang tamu. Keluarga ini berasal dari suku Jawa-Sunda. Memiliki latar belakang profesi, yaitu seorang ibu rumah tangga. Ketika itu, AN2 (18 tahun) menanyakan kepada AN1 (11 tahun) terkait nilai tugas yang dikerjakannya. Namun, AN1 menjawab bahwa ia tidak mengetahui nilai tugasnya dan AN2 menyalahkan AN1 karena yang mengerjakan tugas tersebut adalah AN1. Jadi, seharusnya AN1 mengetahui nilai tugas yang diperolehnya. OT pun menyahut AN2 dan AN1 menasihatinya dengan mengatakan jika pada intinya seorang kakak dan adik harus saling bekerja sama yang baik.
Direktif, karena adanya tindak tutur yang berfungsi mendorong pendengar melakukan sesuatu. Tuturan “Ye, jangan begitu sama aja itu tugas adeknya dibantuin sama kakaknya. Kerja sama yang baik, ya dek?” tuturan tersebut
bermaksud menasihati
pendengarnya, yaitu AN1 dan AN2 agar saling bekerja sama yang baik sebagai kakak dan adik.
Analisis di atas berdasarkan teori Searle (dalam Yule, 2006:92-94). Yule (2006:93) menyatakan bahwa direktif merupakan tindak tutur
yang berfungsi mendorong
pendengar melakukan sesuatu.
Memiliki makna misalnya:
Menyuruh, meminta, menasihati, menyarankan, memohon, bertanya, mengajak, memerintah, memberi aba-aba, menantang, mendesak, menagih, memaksa. Pada tindak ujaran direktif, si pendengarlah yang diharapkan untuk melakukan sesuatu.
3 Direktif, karena adanya tindak
tutur yang berfungsi mendorong pendengar melakukan sesuatu. Ditandai dengan tuturan “Hape teruss ya dek!”. Tuturan tersebut mengartikan secara tidak langsung meminta AN1 untuk berhenti memainkan handphonenya.
OT : “Hape teruss ya dek!” AN1 : “Iya bu hehehe” (sambil cengar-cengir)
Konteks: Tuturan ini terjadi pada siang hari di ruang tamu. Keluarga ini berasal dari suku Jawa-Sunda. Memiliki latar belakang profesi, yaitu seorang ibu rumah tangga. OT (41 tahun) sedang duduk santai. Lalu, OT menengok ke arah AN1 (11 tahun) yang sedang duduk santai dengan asik bermain handphone. OT pun
mengingatkan AN1 agar
menyudahi bermain
handphonenya.
Analisis di atas berdasarkan teori Searle (dalam Yule, 2006:92-94). Yule (2006:93) menyatakan bahwa direktif merupakan tindak tutur
yang berfungsi mendorong
pendengar melakukan sesuatu.
Memiliki makna misalnya:
Menyuruh, meminta, menasihati, menyarankan, memohon, bertanya, mengajak, memerintah, memberi aba-aba, menantang, mendesak, menagih, memaksa. Pada tindak ujaran direktif, si pendengarlah yang diharapkan untuk melakukan sesuatu.
4
OT : “Lagi. Ini lagi mas Pedro”
AN1 : “Gak ah, gak
mau.”(sambil tertawa pelan) OT : “Gak jadi tak beliin paket.” (sambil tertawa pelan) Konteks: Tuturan ini terjadi pada sore hari di ruang tamu. Keluarga ini berasal dari suku Jawa-Flores. Memiliki latar belakang profesi, yaitu karyawan swasta. Saat itu OT (48 tahun) masih ingin AN1 (16 tahun) memakaikan kuteks pada
kakinya, sehingga OT
menyuruh AN1 lagi. Tetapi,
AN1 menolaknya dengan
sambil tertawa pelan. OT pun juga ikut tertawa pelan sambil mengatakan kepada AN1 kalau ia tidak jadi membelikan kuota internet untuk AN1.
Direktif, karena adanya tindak tutur untuk mendorong pendengar melakukan sesuatu. Tuturan “Lagi. Ini lagi mas Pedro”dan “Gak jadi tak beliin paket.” Secara tidak langsung penutur mendesak mitra tutur, yaitu AN1untuk memakaikan kuteks pada kaki OT, kalau tidak, OT tidak akan menuruti keinginan AN1 membelikan kuota internet untuknya.
Analisis di atas berdasarkan teori Searle (dalam Yule, 2006:92-94). Yule (2006:93) menyatakan bahwa direktif merupakan tindak tutur
yang berfungsi mendorong
pendengar melakukan sesuatu.
Memiliki makna misalnya:
Menyuruh, meminta, menasihati, menyarankan, memohon, bertanya, mengajak, memerintah, memberi aba-aba, menantang, mendesak, menagih, memaksa. Pada tindak ujaran direktif, si pendengarlah yang diharapkan untuk melakukan sesuatu.
5 Direktif, karena adanya tindak
tutur untuk mendorong pendengar melakukan sesuatu. Tuturan “Ngecatnya yang bener mas Pedro ya. Jangan belepotan.”penutur bermaksud meminta mitra tutur, yaitu AN1 agar memakaikan kuteksnya dengan benar dan tidak
OT : “Ngecatnya yang bener
mas Pedro ya. Jangan
belepotan.”
AN1 : “Iya ma. Udah noh, tuh.” (sambil menunjukkan hasil kuteksnya)
Konteks: Tuturan ini terjadi pada sore hari di ruang tamu. Keluarga ini berasal dari suku Jawa-Flores. Memiliki latar belakang profesi, yaitu karyawan swasta. OT (48 tahun) meminta AN1 (16 tahun) untuk memakaikan kuteksnya dengan benar dan tidak berceceran dengan mengatakan tuturan tersebut.
berceceran.
Analisis di atas berdasarkan teori Searle (dalam Yule, 2006:92-94). Yule (2006:93) menyatakan bahwa direktif merupakan tindak tutur
yang berfungsi mendorong
pendengar melakukan sesuatu.
Memiliki makna misalnya:
Menyuruh, meminta, menasihati, menyarankan, memohon, bertanya, mengajak, memerintah, memberi aba-aba, menantang, mendesak, menagih, memaksa. Pada tindak ujaran direktif, si pendengarlah yang diharapkan untuk melakukan sesuatu.
6
AN1 : “Ih lagi makan sambil nari masa. Aku dengerin lagu ini terus masa sambil belajar” OT : “Nah ini kamu sekarang dengerin juga sambil joget-joget.”
AN1 : “Hehehe.” (Sambil cengar-cengir)
OT : “Makanya jangan suka ngatain.”
Konteks: Tuturan ini terjadi pada pagi hari di ruang tamu. Keluarga ini berasal dari suku Batak-Flores. Keluarga ini berasal dari suku Jawa-Flores. Memiliki latar belakang profesi, yaitu seorang ibu rumah tangga. OT (47 tahun) dan AN1 (14 tahun) sedang makan sambil menonton acara musik di televisi. Kemudian, AN1
menegur OT dengan
mengatakan tuturan tersebut. Lalu, OT balik menegur AN1 dengan tuturan tersebut. OT pun menasehati AN1.
Direktif, karena adanya tindak tutur untuk mendorong pendengar melakukan sesuatu. Ditandai dengan tuturan “Makanya jangan suka ngatain.” penutur bermaksud menasihati pendengarnya, yaitu AN1 agar jangan suka mengatai orang lain.
Analisis di atas berdasarkan teori Searle (dalam Yule, 2006:92-94). Yule (2006:93) menyatakan bahwa direktif merupakan tindak tutur
yang berfungsi mendorong
pendengar melakukan sesuatu.
Memiliki makna misalnya:
Menyuruh, meminta, menasihati, menyarankan, memohon, bertanya, mengajak, memerintah, memberi aba-aba, menantang, mendesak, menagih, memaksa. Pada tindak ujaran direktif, si pendengarlah yang diharapkan untuk melakukan sesuatu.
7
OT : “Udah sana direbus sana” AN1 : “Nanti aja.. Eh iya iya yaudah.” (sambil tertawa pelan)
Konteks: Tuturan ini terjadi pada pagi hari di ruang tamu. Keluarga ini berasal dari suku Batak-Flores. Memiliki latar belakang profesi, yaitu sebagai ibu rumah tangga. OT (47 tahun) dan AN1 (14 tahun) sedang duduk santai sambil
menonton televisi. OT
menyuruh AN1 untuk merebus mie instan. Dengan tertawa pelan AN1 mengatakan tuturan tersebut dan segera berdiri untuk merebus mie instan.
Direktif, karena adanya tindak tutur untuk mendorong pendengar melakukan sesuatu. Tuturan “Udah sana direbus sana” penutur
bermaksud untuk
menyuruh/memerintah mitra
tuturnya, yaitu AN1 agar segera merebus mie instannya.
Analisis di atas berdasarkan teori Searle (dalam Yule, 2006:92-94). Yule (2006:93) menyatakan bahwa direktif merupakan tindak tutur
yang berfungsi mendorong
pendengar melakukan sesuatu.
Memiliki makna misalnya:
Menyuruh, meminta, menasihati, menyarankan, memohon, bertanya, mengajak, memerintah, memberi aba-aba, menantang, mendesak, menagih, memaksa. Pada tindak ujaran direktif, si pendengarlah yang diharapkan untuk melakukan sesuatu.
8
AN1 : “Iya-iya..Gaada sausnya tapi.”(sambil tertawa pelan) OT : “Tuhkan..aduh apalagi nih. Tuh cabe banyak di situ.” Konteks: Tuturan ini terjadi pada pagi hari di ruang tamu. Keluarga ini berasal dari suku Batak-Flores. Memiliki latar belakang profesi, yaitu seorang ibu rumah tangga. AN1 (14 tahun) berdiri di depan OT (47 tahun) untuk memberitahukan kalau tidak saus. OT pun mengatakan kepada AN1 agar memakai cabe seadanya saja yang ada di dapur.
Direktif, karena adanya tindak tutur untuk mendorong pendengar melakukan sesuatu. Tuturan “Tuhkan..aduh apalagi nih. Tuh cabe banyak di situ.” Secara tidak langsung penutur bermaksud menyarankan mitra tutur, yaitu AN1 untuk pakai cabe seadanya saja yang ada di dapur.
Analisis di atas berdasarkan teori Searle (dalam Yule, 2006:92-94). Yule (2006:93) menyatakan bahwa direktif merupakan tindak tutur
yang berfungsi mendorong
pendengar melakukan sesuatu.
Memiliki makna misalnya:
Menyuruh, meminta, menasihati, menyarankan, memohon, bertanya, mengajak, memerintah, memberi aba-aba, menantang, mendesak, menagih, memaksa. Pada tindak ujaran direktif, si pendengarlah yang diharapkan untuk melakukan sesuatu.
9
AN2 : “Yuk mak ke dokter yuk.” OT : “Yaudah nanti liat kondisi ya.”
Konteks: Tuturan ini terjadi pada siang hari. Keluarga ini berasal dari suku Jawa. Memiliki latar belakang profesi, yaitu seorang ibu rumah tangga. OT (55 tahun) dan AN2 (17 tahun) sedang tiduran santai sambil mengobrol. Saat itu, AN2 mengajak OT untuk pergi ke dokter.
Direktif, karena adanya tindak tutur untuk mendorong pendengar melakukan sesuatu. Tuturan “Yuk mak ke dokter yuk.” Secara tidak langsung penutur bermaksud mengajak mitra tutur, yaitu OT untuk pergi berobat.
Analisis di atas berdasarkan teori Searle (dalam Yule, 2006:92-94). Yule (2006:93) menyatakan bahwa direktif merupakan tindak tutur
yang berfungsi mendorong
pendengar melakukan sesuatu.
Memiliki makna misalnya:
Menyuruh, meminta, menasihati, menyarankan, memohon, bertanya, mengajak, memerintah, memberi aba-aba, menantang, mendesak, menagih, memaksa. Pada tindak ujaran direktif, si pendengarlah yang diharapkan untuk melakukan sesuatu.
10
OT : “Yang gak bisa ngitung ditinggal.”(Sambil tertawa)
AN2 : “Hahaha masa
gitu.”(Sambil tertawa)
OT : “Iya narik sampah aja.”(Sambil tertawa)
Konteks: Tuturan ini terjadi pada malam hari di ruang tamu. Keluarga ini berasal dari suku Jawa. Memiliki latar belakang profesi, yaitu guru. OT (59 tahun) dan AN2 (17 tahun) sedang duduk santai dan saling mengobrol mengenai perbedaan antara mata pelajaran geografi
dan matematika. OT
memberitahukan kepada AN2 kalau tidak bisa ngitung ditinggal saja dan bekerja sebagai penarik sampah saja.
Direktif, karena adanya tindak tutur untuk mendorong pendengar melakukan sesuatu. Tuturan “Yang gak bisa ngitung ditinggal.” Secara tidak langsung penutur meminta kepada mitra tutur, yaitu AN2 untuk berlatih menghitung agar mata pelajaran matematikanya mendapatkan nilai yang maksimal, karena dalam kehidupan sehari-hari matematika sangat diperlukan. Analisis di atas berdasarkan teori Searle (dalam Yule, 2006:92-94). Yule (2006:93) menyatakan bahwa direktif merupakan tindak tutur
yang berfungsi mendorong
pendengar melakukan sesuatu.
Memiliki makna misalnya:
Menyuruh, meminta, menasihati, menyarankan, memohon, bertanya, mengajak, memerintah, memberi aba-aba, menantang, mendesak, menagih, memaksa. Pada tindak ujaran direktif, si pendengarlah yang diharapkan untuk melakukan sesuatu.
11
OT : “Mau bikin apa, fi? Pedang apa fi?”
AN1 : “Pedang satrio”
Konteks: Tuturan ini terjadi pada sore hari di ruang tamu. Keluarga ini berasal dari suku Sunda. Memiliki latar belakang profesi, yaitu wirausaha kusen. OT (36 tahun) sedang santai sambil bermain lego bersama AN1 (8 tahun) dan anak perempuannya bernama AN2. OT menanyakan kepada AN1 legonya mau dibentuk pedang seperti apa. AN1 pun merespon OT dengan menjawab Pedang satrio.
Direktif, karena adanya tindak tutur untuk mendorong pendengar melakukan sesuatu. Tuturan “Mau bikin apa, fi? Pedang apa fi?” penutur bermaksud untuk bertanya kepada mitra tutur, yaitu AN1 mainan legonya mau dibentuk pedang seperti apa.
Analisis di atas berdasarkan teori Searle (dalam Yule, 2006:92-94). Yule (2006:93) menyatakan bahwa direktif merupakan tindak tutur
yang berfungsi mendorong
pendengar melakukan sesuatu.
Memiliki makna misalnya:
Menyuruh, meminta, menasihati, menyarankan, memohon, bertanya, mengajak, memerintah, memberi aba-aba, menantang, mendesak, menagih, memaksa. Pada tindak ujaran direktif, si pendengarlah yang diharapkan untuk melakukan sesuatu.
12
OT : “Aa lagi belajar apa aa.” AN1 : “Lagi belajar tematik.” OT : “Ada yang perlu ditanyain gak ke mama?”
AN1 : “Ada.”
OT : “Ayo ditulis. Ini tentang keselamatan di jalan. Kalo di jalan tuh gak boleh meleng.” Konteks: Tuturan ini terjadi pada sore hari di ruang tamu. Keluarga ini berasal dari suku Sunda. Memiliki latar belakang profesi, yaitu seorang ibu rumah tangga. Saat itu, OT (33 tahun) sedang mendampingi AN1 (8 tahun) yang sedang belajar tematik. Kemudian, OT menanyakan kepada AN1 apa yang ditanyakan terkait materi yang sedang dipelajari. Lalu, OT pun menyuruh AN1 untuk
Direktif, karena adanya tindak tutur untuk mendorong pendengar melakukan sesuatu. Tuturan “Ayo ditulis. Ini tentang keselamatan di jalan. Kalo di jalan tuh gak boleh meleng.” Secara tidak langsung
penutur bermaksud untuk
menyuruh atau memerintah mitra tutur, yaitu AN1 untuk menuliskan penjelasan materi yang tidak dimengerti.
Analisis di atas berdasarkan teori Searle (dalam Yule, 2006:92-94). Yule (2006:93) menyatakan bahwa direktif merupakan tindak tutur
yang berfungsi mendorong
pendengar melakukan sesuatu.
Memiliki makna misalnya:
Menyuruh, meminta, menasihati, menyarankan, memohon, bertanya, mengajak, memerintah, memberi aba-aba, menantang, mendesak, menagih, memaksa. Pada tindak ujaran direktif, si pendengarlah yang diharapkan untuk melakukan sesuatu.
menuliskan penjelasan materi yang tidak dimengerti.
13
AN2 : “Tapi bisa dapet orang Jerman gitu ya gimana caranya coba.”
OT : “Namanya nasib orang kan gatau.”
Konteks: Tuturan ini terjadi pada malam hari di ruang tamu. Keluarga ini berasal dari suku Jawa. Memiliki latar belakang profesi, yaitu guru. OT (59 tahun) dan AN2 (17 tahun) masih berbincang santai tentang Susi Pudjiastuti. AN2 masih
penasaran dengan Susi
Pudjiastuti yang bisa
mendapatkan suami orang Jerman, sehingga bertanya kepada OT. Kemudian, OT meresponnya terkait dengan pertanyaan yang dituturkan AN2.
Direktif, karena adanya tindak tutur untuk mendorong pendengar melakukan sesuatu. Tuturan OT merespon tuturan AN2 dengan menasihati kalau yang namanya nasib seseorang itu tidak ada yang tahu.
Analisis di atas berdasarkan teori Searle (dalam Yule, 2006:92-94). Yule (2006:93) menyatakan bahwa direktif merupakan tindak tutur
yang berfungsi mendorong
pendengar melakukan sesuatu.
Memiliki makna misalnya:
Menyuruh, meminta, menasihati, menyarankan, memohon, bertanya, mengajak, memerintah, memberi aba-aba, menantang, mendesak, menagih, memaksa. Pada tindak ujaran direktif, si pendengarlah yang diharapkan untuk melakukan sesuatu.
14
OT : “Dek, kamu tugas dari Gereja udah belum?”
AN1: “Udah bu”
OT : “Terus hapalin Bapa Kaminya udah?”
AN1 : “Udah bu” OT : “Salam Maria?” AN1 : “Udah bu”
Konteks: Tuturan ini terjadi pada siang hari di ruang tamu. Keluarga ini berasal dari suku Jawa-Sunda. Memiliki latar belakang profesi, yaitu seorang
Representatif, yang merupakan tindak tutur untuk menjelaskan apa dan bagaimana sesuatu itu adanya. Tuturan “udah bu” memiliki
maksud memberikan jawaban
berupa pelaporan kalau AN1 sudah mengerjakan tugas Gerejanya.