• Tidak ada hasil yang ditemukan

Makna Kultural

Dalam dokumen BAB II HASIL ANALISIS DATA (Halaman 26-44)

Makna kultural adalah makna bahasa yang dimiliki masyarakat dalam hubungan dengan budaya tertentu (Wakit Abdullah, 1993: 3). Makna kultural dari istilah sesaji upacara Sadranan di kabupaten Boyolali adalah sebagai berikut:

1. Apem [apêm]

Makna kultural Apem bagi masyarakat dukuh Klinggen adalah kue yang terbuat dari tepung beras dan dicampuri tape. Apem sebagai simbol permintaan maaf (ngapura)/untuk payungan ‘tempat yang teduh’ (Mbah Marso dan Ibu Mujinem, 1 April 2016). Apem berasal dari kata afwam atau

afuan yang berarti permintaan maaf. Manusia diharapkan selalu bisa

Penyebutan makna akan berbeda berdasarkan pengalaman dan kepercayaan seseorang. Dalam sadranan Apem merupakan salah satu istilah sesaji. Oleh karena itu, kebudayaan yang dimiliki masyarakat Jawa tidak akan bisa lepas dari kebudayaan dan bahasa itu sendiri.

Apem dibuat untuk melambangkan adanya harapan suatu ampunan

akan kesalahan di masa lalu yaitu ngirim luhur, nyuwun donga keselametan ‘mengirim orang yang sudah meninggal, meminta doa keselamatan disana’ (Mbah Reso Dinomo, 1 April 2016). Apem berbentuk bundar atau bulat melingkar. Sebagai perlambang adanya kebulatan tekad dalam melaksanakan ritual, yakni kemantaban hati untuk mewujudkan rasa berbakti kepada leluhur bukan hanya sebatas ucapan dan kata-kata dalam doa. Lebih dari itu diwujudkanlah dalam sikap, tindakan, dan perbuatan nyata dalam kehidupaan sehari-hari, dalam hal ini kegiatan bersih-bersih meliputi jagad kecil dan jagad besar.

2. Bawang [bawaŋ]

Makna kultural bawang bagi masyarakat dukuh Klinggen adalah bahwa hidup tidak selalu mulus jalannya, bawang digambarkan sebagai bumbu hidup, supaya tidak terasa hambar. Warna putih bawang melambangkan kesucian dan kebaikan dalam menjalani hidup. Bawang mempunyai makna perbuatan manusia baik buruk yang selalu jadi pertimbangan.

Bawang juga bermakna supaya anget ‘agar hangat’ (Bapak

dingin. Hal ini dikaitkan dengan hawa nafsu, terutama nafsu amarah. Nafsu amarah adalah bujukan setan yang menjadi musuh utama bagi manusia. Dengan bawang ini diharapkan seluruh masyarakat dukuh Klinggen memiliki pikiran yang tenang dan tangkas setiap menghadapi masalah.

3. Brambang [brambaŋ]

Makna kultural brambang bagi masyarakat dukuh Klinggen adalah sebagai bumbu hidup, supaya tidak terasa hambar. Warna merah

brambang melambangkan dalam menjalani kehidupan dibutuhkan

keberanian walau banyak cobaan atau masalah. Brambang (bawang merah) yang melambangkan mempertimbangkan segala sesuatu dengan matang baik buruknya. Brambang mempunyai makna perbuatan manusia baik buruk yang selalu jadi pertimbangan.

Brambang juga bermakna supaya anget ‘agar hangat’ (Bapak

Rajiman, 1 April 2016) maksudnya agar tidak memiliki pikiran yang panas. Hal ini dikaitkan dengan hawa nafsu, terutama nafsu amarah. Nafsu amarah adalah bujukan setan yang menjadi musuh utama bagi manusia. Dengan brambang ini diharapkan seluruh masyarakat dukuh Klinggen memiliki pikiran yang tenang dan tangkas setiap menghadapi masalah.

4. Besek [bese?]

Makna kultural besek bagi masyarakat dukuh Klinggen adalah untuk menggambarkan keadaan dukuh Klinggen sebagai tempat hidup

masyarakat yang memiliki macam-macam karakter, dan di dukuh Klinggen memiliki kekayaan alam yang beranekaragam. Segala keanekaragaman itu digambarkan melalui besek sebagai wadah sega go kondangan ‘tempat nasi untuk kenduren’ (Ibu Suprapti, 1 Apri 2016) dan segala macam makanan di dalamnya sebagai penggambaran keanekaragam masyarakat dan alam dukuh Klinggen.

5. Kembang [kǝmbaŋ]

Makna kultural kembang bagi masyarakat dukuh Klinggen adalah salah satu simbol untuk mencapai tujuan utama yaitu keselamatan warga desa dari mara bahaya. Bunga yang ada dalam sesaji yaitu bunga melati yang melambangkan simbol kesucian, bunga kantil yang berwarna kuning sebagai simbol kehidupan, bunga mawar merupakan simbol manusia yang berasal dari perpaduan darah merah dan darah putih. Secara keseluruhan merupakan simbol trimurti antara pencipta, makhluk, dan alam semesta atau antara Tuhan, manusia, dan kehidupan.

Selain makna tersebut kembang untuk sesaji juga mempunyai makna sebagai banyu panguripan ‘air kehidupan’, kembang berwarna merah, putih, dan kuning yang berada di air. Kembang berwarna merah dan putih melambangkan bapak dan ibu sedangkan air merupakan penghidupan. Sehingga secara keseluruhan kembang untuk sesaji

melambangkan bapak, ibuk yang hidup pada suatu kehidupan. Sehingga tersirat maksud untuk bisa menghormati orang tua.

Kembang juga melambangkan dukuh Klinggen akan selalu

memiliki bau harum maksudnya warga dukuh Klinggen tidak pernah terjadi perselisihan sehingga di kenang oleh masyarakat sekitar. Bau harum yang ada pada kembang melambangkan serius lan mulia ‘keseriusan dan kemuliaan’ (Ibu Waginah, 1 April 2016). Maksudnya adalah kita dengan serius dan dalam suasana hati yang tenang memohon agar doa-doa kami dikabulkan.

6. Kerupuk [kǝrupU?]

Makna kultural kerupuk bagi masyarakat dukuh Klinggen adalah jenis makanan ringan/lawuhan sega asahan ‘lauk pauk nasi putih’ (Mbah Waginah dan Bapak Rajiman, 1 April 2016), dilambangkan sebagai pengharapan masyarakat dukuh Klinggen supaya diringankan oleh Tuhan dalam menghadapi masalah-masalah kehidupan. Selain itu, kerupuk melambangkan dalam menjalani kehidupan jangan mudah patah/putus asa. Sesaji kerupuk dapat diambil suatu peringatan bagi manusia yaitu dalam menjalani hidup ini supaya tetap gigih dan tidak mudah putus asa.

7. Kinang [kinaŋ]

Makna kultural kinang bagi masyarakat dukuh Klinggen adalah. melambangkan sempurna ‘kesempurnaan’ (Ibu Suprapti, 1 April 2016). Maksudnya dalam kehidupan akan tercipta kesempurnaan hidup, hidup bahagia dunia dan akhirat.

Kinang memiliki makna dan tujuan supaya manusia menghormati

terhadap sumber kehidupan yaitu dunia seisinya ini, kinang biasanya diletakkan di atas pisang raja. Daun sirih dalam kinang yang berwarna hijau melambangkan kesempurnaan. Kapur sirih berwarna putih melambangkan kesucian ‘kesucian’ (Ibu Mujinem, 1 April 2016), gambir berwarna hitam melambangkan kecantikan dan tembakau yang berwarna hitam melambangkan kecocokan hati. Daun sirih yang diolesi sirih mempunyai maksud sebagai kesegaran dalam menjalankan upacara

Sadranan.

8. Lawuh [lawUh]

Makna kultural lawuh bagi masyarakat dukuh Klinggen adalah sebagai pelengkap dalam hidup dan pelengkap makanan utama, maka dalam hidup sebagai lambang penikmat salah satunya keluarga. Lawuh untuk lauk pauk sega asahan ‘nasi putih’ (Mbah Marso, 1 April 2016).

9. Lombok [lOmbO?]

Makna kultural lombok bagi masyarakat dukuh Klinggen adalah salah satu bumbu dalam menjalani hidup supaya tidak hambar. Rasa pedas yang dihasilkan lombok sebagai lambang rintangan yang berupa masalah-masalah yang harus dihadapi dalam kehidupan. Selain itu, cabai yang pedas merupakan anasir api yaitu simbol adanya nafsu amarah pada diri manusia. Nafsu marah kalau bisa harus dikontrol jangan sampai tidak terkendali yang akan berakibat munculnya masalah.

Lombok mempunyai makna yang pada akhirnya akan muncul wani

lan tekat ‘keberanian dan tekat’ untuk manunggal dengan Tuhan Yang Maha Esa (Mbah Reso Dinomo, 1 April 2016). Lombok juga bermakna

ben gampang golek pangan ‘agar mudah mencari nafkah’ (Bapak

Rajiman,1 April 2016). Masyarakat dukuh Klinggen meyakini bahwa mengkonsumsi lombok dapat membuat tubuh kita menjadi panas dan dapat membuat pikiran menjadi cerah. Selain itu, lombok juga diyakini dapat menambah semangat dalam bekerja. Hal tersebut merupakan simbol untuk

ngajeni ‘menghargai’ para lelembut dengan cara seolah-olah meminta

restu agar mudah untuk mencari nafkah dan kesuksesan dunia.

10. Ingkung [iŋkUŋ]

Makna kultural ingkung bagi masyarakat dukuh Klinggen ingkang

kakung yang dimaksud adalah baginda Rasulullah SAW. Ingkung

merupakan masakan ayam yang disajikan secara utuh. Ingkung ini sebagai perlambangkan tutunan Rasulullah SAW. Dalam sebuah acara selamatan

ingkung ini dibagikan kepada orang-orang yang mengikuti selamatan. Hal

ini seperti tuntunan Rasulullah SAW yang berguna bagi umat manusia. Selain itu, ingkung menyimbolkan ajaran luhur dari nenek moyang, yaitu sifat pemberani demi membela tanah air, selalu menyerahkan segala masalah kepada Allah SWT, menjalankan perintah dan menjauhi larangan-Nya, tidak bergaya hidup mewah, selalu bekerjasama dalam menghadapi tugas yang dibebankan, dan ikhlas menjalankan apa yang telah ditakdirkan oleh Allah SWT serta mengajarkan bahwa manusia mempunyai

kemampuan yang terbatas. Ada kekuatan yang maha besar yang mengatur mengenai kehidupan manusia di alam ini yaitu Allah SWT.

Ayam jago (jantan) yang dimasak utuh (ingkung) dengan bumbu kuning/kunir dan diberi areh (kaldu santan yang kental) dinggo kenduren, ngirim/dongakke luhur e ‘buat kondangan, mengirim/mendoakan keluarga yang sudah meninggal’ (Mbah Waginah, 1 April 2016), merupakan symbol menyembah Tuhan dengan khusuk (manekung) dengan hati yang tenang (wening). Ketenangan hati dicapai dengan mengendalikan diri dan sabar (nge”reh” rasa). Menyembelih ayam jago juga mempunyai makna menghindari sifat-sifat buruk (yang dilambangkan warna merah) ayam jago, antara lain: sombong, congkak, kalau berbicara selalu menyela dan merasa tahu/menang/benar sendiri (berkokok), tidak setia dan tidak perhatian kepada anak istri.

Makna lain sebagai suatu pengorbanan secara tulus yang diperuntukkan kepada Tuhan maupun untuk kepentingan mengirim orang/para leluhur yang sudah meninggal supaya diberi keselamatan, perlindungan selama ini (Bapak Rajiman, 1 April 2016). Oleh karena itu, manusia berkewajiban untuk berterima kasih kepada Tuhan agar leluhurnya selamat.

11. Menyan [mǝñan]

Makna kultural menyan bagi masyarakat dukuh Klinggen adalah untuk mengusir jin supaya tidak mengganggu jalannya upacara Sadranan.

yang dipakai sebagai dupa yang berbau harum, yang biasanya digunakan dalam upacara adat. Sesaji berupa menyan dengan cara dibakar sampai keluar asapnya.

Kukus (asap) dupa dari kemenyan yang membumbung ke

atasmelambangkan bahwa tujuan hidup manusia hanya 1 yaitu kepada Allah, tetapi terkadang dalam perjalanannya terjadi banyak rintangan/tidak selalu mulus, seperti mobat-mabit ‘berkobar’ ke kanan ke kiri (Ibu Suprapti, 1 April 2016), merupakan tanda sesajinya dapat diterima. Dengan perantara menyan diharapkan pelaksanaan upacara Sadranan dapat berjalan lancar dan permohonannya dapat dikabulkan oleh Tuhan. Kemenyan memiliki makna sebagai penghubung antara manusia dan Tuhannya, agar permohonannya terkabul.

12. Rempeyek [rêmpɛyɛ?]

Makna kultural rempeyek bagi masyarakat dukuh Klinggen adalah sebagai lambang kreatifitas masyarakat dukuh Klinggen dalam menciptakan berbagai jenis makanan, salah satunya rempeyek. Rempeyek yang melambangkan bersatunya kebudayaan dan masyarakat dalam mencapai tujuan bersama, dalam hal ini supaya terlaksana dengan baik upacara sadranan. Terlihat dalam adonan rempeyek yang diberi potongan kacang tanah. Kacang tanah sebagai simbol kebudayaan sedangkan adonan sebagai simbol kehidupan (Mbah Marso, 1 April 2016). Meskipun mempunyai budaya yang berbeda tetapi mempunyai tujuan yang sama yaitu hidup tentram dan bahagia tanpa mengganggu kebudayaan yang lain.

Rempeyek juga sebagai simbol untuk menghormati hari pasaran.

Masayarakat masih sangat dipercaya terhadap petungan Jawa dan petngan Jawa itu sendiri dihitung menggunakan hari pasaran, yaitu legi, pahing,

pon, wage, dan kliwon.

13. Rokok [rOkO?]

Makna kultural rokok bagi masyarakat dukuh Klinggen adalah sebagai sajian untuk makhluk halus laki-laki, supaya tidak merasa terganggu dan mengganggu. Rokok disandingkan dengan kinang. Tembakau yang terdapat dalam rokok melambangkan ati sing tabah ‘hati yang tabah’ (Mbah Reso Dinomo, 1 April 2016) dan bersedia berkorban dalam segala hal, karena tembakau memiliki rasa yang pahit.

14. Sudi [sUdI]

Makna kultural sudi bagi masyarakat dukuh Klinggen adalah untuk selametan keseluruhan yang ada di dukuh Klinggen, baik masyarakatnya maupun alamnya (Ibu Mujinem, 1 April 2016).

15. Takir [takIr]

Makna kultural takir bagi masyarakat dukuh Klinggen adalah untuk selametan keseluruhan yang ada di dukuh Klinggen, baik masyarakatnya maupun alamnya. Takir adalah semacam tempat untuk menaruh sesaji, takir dibuat dari daun pisang yang dirangkai seperti kapal.

Memiliki makna sebagai tempat/wadah segala sesuatu yang ada di dunia ini memiliki tempatnya masing-masing.

Selain itu, takir memiliki makna kultural supaya tatak pikir ee

manungsa ‘agar manusia memiliki tekad dan keyakinan yang kuat’ (Mbah

Waginah, 1 April 2016). Dalam upacara Sadranan terdapat tekad yang kuat dalam menjalankan tradisi tersebut dan ada keyakinan yang berpusat kepada Tuhan Yang Maha Esa melalui perantara dhayang dukuh ‘Mbah

Mondoroko’. Takir juga berfungsi sebagai tolak bala maksudnya adalah

untuk menolak bilamana ada roh yang menguasai tempat yang akan dijadikan tempat berlangsungnya upacara Sadranan. Dengan adanya takir ini bermaksud untuk meminta ijin secara baik-baik kepada makhluk halus yang terlebih dahulu menempati tempat tersebut.

16. Tambir [tambIr]

Makna kultural tambir bagi masyarakat dukuh Klinggen adalah untuk menggambarkan keadaan dukuh Klinggen sebagai tempat hidup masyarakat yang memiliki macam-macam karakter (Ibu Mujinem, 1 April 2016) dan di dukuh Klinggen memiliki kekayaan alam yang beranekaragam. Segala keanekaragaman itu digambarkan melalui tambir sebagai tempat dan segala macam makanan di dalamnya sebagai penggambaran keanekaragaman masyarakat dan alam dukuh Klinggen.

Makna kultural tumbu bagi masyarakat dukuh Klinggen adalah sebagai gambaran masjid sebagai tempat ibadah bersama untuk memohon keselamatan kepada Tuhan, dan Nabi Muhammad sebagai suri tauladan mereka (Ibu Mujinem, 1 April 2016).

18. Tampah [tampah]

Makna kultural tampah bagi masyarakat desa Klinggen adalah untuk menggambarkan keadaan dukuh Klinggen sebagai tempat hidup masyarakat yang memiliki macam-macam karakter (Ibu Mujinem, 1 April 2016) dan di dukuh Klinggen memiliki kekayaan alam yang beranekaragam. Segala keanekaragaman itu digambarkan melalui tampah sebagai tempat dan segala macam makanan di dalamnya sebagai penggambaran keanekaragaman masyarakat dan alam dukuh Klinggen.

19. Tahu [tahU]

Makna kultural tahu bagi masyarakat dukuh Klinggen adalah sejenis lawuhan ‘lauk pauk’ yang terbuat dari kedelai yang dihaluskan, dicampur bumbu garam, bawang putih, dan penyedap rasa yang dihaluskan, digoreng sampai matang. Halus yang ada pada tahu melambangkan agar kehidupan masyarakat dukuh Klinggen selalu mendapatkan kebaikan dari Tuhan (Mbah Reso Dinomo, 1 April 2016).

Makna kultural tebok bagi masyarakat dukuh Klinggen adalah untuk menggambarkan keadaan dukuh Klinggen sebagai tempat hidup masyarakat yang memiliki macam-macam karakter (Ibu Mujinem, 1 April 2016) dan di dukuh Klinggen memiliki kekayaan alam yang beranekaragam. Segala keanekaragaman itu digambarkan melalui tebok sebagai tempat dan segala macam makanan di dalamnya sebagai penggambaran keanekaragaman masyarakat dan alam dukuh Klinggen.

21. Tempe [tempe]

Makna kultural tempe bagi masyarakat dukuh Klinggen adalah sejenis lawuhan ‘lauk pauk’ yang terbuat dari kedelai yang kasar, dicampur bumbu garam, bawang putih, dan penyedap rasa yang dihaluskan, digoreng sampai matang. Kasar yang ada pada tempe melambangkan agar masyarakat dukuh Klinggen selalu tabah dan sabar dalam menghadapi semua cobaan-cobaan yang ada di kehidupan (Mbah Marso, 1 April 2016).

22. Wajib [wajIb]

Makna kultural wajib bagi masyarakat dukuh Klinggen adalah uang sebesar dua puluh ribu yang per orang. Uang yang terkumpul dibagi menjadi 2 bagian, bagian yang pertama diberikan pada moden/sesepuh

desa yang memimpin upacara Sadranan dan yang bagian kedua untuk

melengkapi sesaji yang kurang dalam upacara Sadranan (Bapak Rajiman, 1 April 2016), dan untuk mengukur sejauh mana yang memiliki hajat

mampu membiayai. Uang adalah sebagai alat pembayaran, yang dimaksudkan bila dalam sesaji terdapat kekurangan dan penyajiannya, sehingga diharapkan uang dapat digunakan sebagai pengganti sesaji yang kurang. Karena menurut masyarakat jika dalam suatu upacara tradisional terdapat kekurangan sesaji maka akan muncul beberapa bencana.

23. Gorengan [gOrǝŋan]

Makna kultural gorengan bagi masyarakat dukuh Klinggen adalah sebagai penyemangat hidup. Seperti gorengan yang dapat dijadikan lauk untuk makan, hidup juga perlu adanya variasi dan berani mencoba hal baru apapun resikonya (Mbah Waginah, 1 April 2016).

24. Semuran [semUran]

Makna kultural semuran bagi masyarakat dukuh Klinggen adalah didalamnya terdapat macam-macam sayuran yaitu kacang panjang berarti pemikiran yang jauh ke depan/innovative dan kluwih berarti linuwih atau mempunyai kelebihan dibanding lainnya (Ibu Suprapti, 1 April 2016).

25. Sambel Goreng [sambêl gOrǝŋ]

Makna kultural sambel goreng bagi masyarakat dukuh Klinggen adalah dengan rasanya yang pedas, manis, dan gurih melambangkan betapa banyak yang dihadapi dalam hidup, ada duka dan bahagia, namun apapun yang sedang dihadapi dalam hidup, agar tidak lupa pada sang Pencipta. Selain itu, sambel goreng melambangkan dalam berjuang butuh

kesemangatan/keberanian dan persatuan (Mbah Reso Dinomo, 1 April 2016). Kesemangatan digambarkan bumbu dengan cabai (merah), sedangkan persatuan digambarkan dengan bersatunya krecek ‘kulit sapi’.

26. Endhog Jawa [EndOg jOwO]

Makna kultural endhog jawa bagi masyarakat dukuh Kilnggen adalah telur disajikan utuh dengan kulitnya tidak dipotong, sehingga untuk memakannya harus dikupas terlebih dahulu. Hal tersebut melambangkan bahwa semua tindakan kita harus direncanakan (dikupas), dikerjakan sesuai rencana dan dievaluasi hasilnya demi kesempurnaan. Piwulang jawa mengajarkan “Tata, Titi, Titis dan Tatas” (Bapak Rajiman, 1 April 2016), yang berarti etos kerja yang baik adalah kerja yang terencana, teliti, tepat perhitungan, dan diselesaikan dengan tuntas. Telur juga melambangkan manusia diciptakan Tuhan dengan derajat (fitrah) yang sama, yang membedakan hanyalah ketakwaan dan tingkah lakunya.

Telur sebagai lambang awal mulanya terjadi manusia. Manusia terbentuk dari sperma dan ovum. Kemudian berbentuk janin dalam rahim ibu. Rahim ibu sebagai perumpamaan cangkang telur. Ibu memegang peranan penting dalam kehidupan sang bayi. Maka tersirat pesan supaya kita berbakti kepada orang tua terutama ibu yang telah melahirkan kita.

Makna kultural sega ambengan bagi masyarakat dukuh Klinggen adalah sebagai lambang kebersamaan dan kerukunan antar warga. Dapat dilihat dari nasi yang ditata menjadi satu rapat dan padat.

Sega ambengan yaitu ngirim luhur, nyuwun donga keselametan

ning kono, nyaosi dhaharan sumupe/ambune ‘mengirim orang yang sudah meninggal, meminta doa keselamatan disana, memberi makanan berupa asap/baunya’ (Mbah Reso Dinomo, 1 April 2016).

Sega ambengan untuk ngirim donga, sebagai piranti ‘mengirim doa

dan sebagai alat kelengkapan’ (Bapak Rajiman, 1 April 2016). Selain itu,

sega ambengan bermakna dinggo kenduren, ngirim/dongakke luhur e

‘untuk kondangan, mengirim/mendoakan keluarga yang sudah meninggal’ (Mbah Waginah, 1 April 2016).

28. Sega Tumpeng [sêgO tUmpeŋ]

Makna kultural sega tumpeng bagi masyarakat dukuh Klinggen merupakan saos dhahar kyai/mbah Mondoroko ‘untuk makan kyai/mbah Mondoroko’ (Mbah Marso, 1 April 2016). Sega tumpeng yaitu untuk tahlilan (Mbah Waginah, 1 April 2016).

Sega tumpeng adalah olahan yang berasal dari beras yang sudah

tanak.dimasak sehingga matang, untuk keperluan sesaji biasanya dikerucutkan. Memiliki makna sebagai simbol keberuntungan dan penyajian nasi tumpeng mengandung permohonan agar mendapat selamat dan mendapat rejeki. Makna nasi putih juga melambangkan kesucian

karena nasi yang berwarna putih. Dengan kesucian hati dalam memohon pada Tuhan akan semakin cepat terkabul permohonannya.

Selain itu, sega tumpeng merupakan sajian nasi kerucut khas Indonesia dengan aneka lauk pauk yang ditempatkan dalam tampah (nampan besar, bulat, dari anyaman bambu). Tumpeng merupakan tradisi sajian yang mungkin sering kita lihat dalam upacara selamatan atau pesta rakyat 17 agustusan. Sega tumpeng pasti selalu ada dalam setiap sajian.

Sega tumpeng memiliki makna mulai dari kerucut tumpeng yang berada

paling atas, badan tumpeng, lauk pauk, sayur sayuran hingga wadah tumpeng yang selalu terbuat dari wadah tradisional beralaskan daun pisang. Kerucut tumpeng berbentuk gunungan yang melambangkan tangan merapat menyembah kepada Tuhan yang Maha Esa. Bentuk gunungan ini juga bisa diartikan sebagai harapan agar kesejahteraan hidup kita pun semakin “naik” dan “tinggi”.

Tumpeng yang berbentuk mengerucut ke atas semakin ke atas

semakin lancip sebagai simbol keyakinan dan keteguhan iman kepada Allah. Dengan keyakinan hidup akan bisa berhasil dan sukses. Begitu pula dalam prosesi upacara sadranan akan berjalan semestinya tanpa halangan suatu apapun dan yang paling penting permohonan dapat dikabulkan Sang Maha Kuasa. Pada dasarnya fungsi dan makna sesaji-sesaji ini adalah sebagai ucapan terima kasih atas terkabunya permohonan-permohonan masyarakat melalui upacara Sadranan di dukuh Klinggen ini.

Makna kultural jajanan pasar bagi masyarakat dukuh Klinggen adalah sebagai simbol anggota masyarakat yang terdiri dari berbagai macam latar belakang sosial. Sehingga sebagai masyarakat harus bisa menyesuaikan sedemikian rupa sehingga diterima masyarakat sekitarnya. Masyarakat akan harmonis jika setiap komponen masyarakat bisa rukun dan kompak. Selain itu, Jajanan pasar adalah seperangkat makanan yang dibeli di pasar setempat, jajanan pasar mempunyai makna agar hubungan manusia selau baik dan harapan akan kemeriahan akan murah pangan (Ibu Mujinem, 1 April 2016).

30. Gedhang Raja Setangkep [gêDaŋ rOjO sêtaŋkêp]

Makna kultural gedhang raja setangkep bagi masyarakat dukuh Klinggen adalah pisang raja yang rasanya paling manis diantara pisang-pisang yang lainnya, sehingga bisa dianggap rajanya pisang-pisang. Gedhang raja yang digunakan sebanyak rong lirang ‘dua sisir’. Biasanya gedhang raja diletakkan bersama jajanan pasar.

Gedhang raja sebagai simbol pemimpin (raja) yang didukung

seluruh rakyatnya. Suatu masyarakat akan hidup tentram dan bahagia jika antara pemimpin dan rakyatnya akan saling mendukung dan saling melengkapi. Pemimpin (raja) tidak semena-mena pada rakyatnya tetapi

ngayomi pada rakyatnya. Sehingga kehidupan akan tentram, makmur, dan

bahagia.

Pemimpin (raja) yang dimaksud adalah Nabi Muhammad SAW sebagai perlambang pemimpin umat manusia di bumi. Nabi Muhammad

SAW menyebarkan Agama Islam sehingga dianggap sebagai penyelamat umat Islam di bumi ini. Jadi, gedhang raja ini memiliki simbol untuk menghormati Nabi Muhammad SAW dan sebagai teken/gocekan ‘buat pegangan’ (Mbah Marso dan Ibu Mujinem, 1 April 2016).

Dalam dokumen BAB II HASIL ANALISIS DATA (Halaman 26-44)

Dokumen terkait