Perkembangan yaitu sebuah proses mutlak yang akan dialami oleh makhluk hidup. Namun tidak hanya makhluk hidup, banyak juga hal lain yang dapat berkembang atau berubah seiring perubahan waktu. Dalam sadranan pasti juga ada sebuah perkembangan, dari macam-macam sesajinya atau alat yang digunakan untuk sesaji. Sesaji yang digunakan ada yang tetap dan ada yang berkembang. Adapun perkembangan istilah sesaji upacara Sadranan di kabupaten Boyolali adalah sebagai berikut:
1. Apem [apêm]
Perkembangan apem pada zaman dahulu kebanyakan masyarakat membuat sendiri, tapi pada zaman sekarang ada yang membuat sendiri dan ada juga yang beli di pasar. Perkembangan ini muncul karena sebagian masyarakat dukuh Klinggen memiliki kesibukan dalam bekerja, sehingga masyarakat sekarang kebanyakan lebih memilih membeli apem di pasar dari pada membuat sendiri di rumah.
2. Besek [bese?]
Perkembangan besek yaitu pada zaman dahulu besek digunakan sebagai tempat nasi untuk kenduren, zaman sekarang terjadi
perkembangan menggunakan ceting ‘tempat nasi’ yang terbuat dari plastik. Perkembangan ini muncul karena adanya pola pikir masyarakat yang menganggap bahwa besek yang terbuat dari bambu dari pring apus, teksturnya halus, besek dapat dibuat sendiri/ beli (jual-beli) sudah jarang ditemukan, dan orang yang membuat besek sudah berkurang (beralih profesi). Hal tersebut menimbulkan pegeseran dari besek ke ceting, karena harga besek lebih mahal dibandingkan ceting plastik. Selain itu, ceting plastik lebih bersih rapi, dan praktis.
3. Menyan [mǝñan]
Perkembangan menyan yaitu pada zaman dahulu masih menggunakan menyan yang berbentuk bulat kecil, pada zaman sekarang ada yang menggunakan menyan yang berbentuk panjang seperti lidi. Penggunaannya sama-sama dibakar. Terdapat pola pikir masayarakat yang ingin menjadi modern yaitu pengunaan menyan yang berbentuk bulat kecil ke menyan yang berbentuk panjang seperti lidi.
4. Rokok [rOkO?]
Perkembangan rokok yaitu pada zaman dahulu masih menggunakan rokok yang dilinting ‘dilipat’ sendiri. Pada zaman sekarang menggunakan rokok yang sudah jadi dan dapat di beli di warung-warung. Pola pikir masyarakat yang lebih memilih membeli rokok jadi daripada membuatnya sendiri karena membeli lebih menghemat waktu dan biaya.
5. Sudi [sUdI]
Perkembangan sudi yaitu pada zaman dahulu kebanyakan masyarakat membuat sendiri dengan menggunakan daun pisang, tapi pada zaman sekarang ada yang membuat sendiri dan ada juga yang beli dipasar yang terbuat dari kertas minyak. Terdapat pola pikit masyarakat yang menggunakan daun pisang lebih susah dari kertas minyak, karena daun pisang harus mencari di kebun, membuat sendiri, membuang-buang banyak waktu, dan tenaga. Sehingga kebanyakan masyarakat sekarang lebih memilih menggunakan sudi yang terbuat dari kertas minyak, karena lebih menghemat waktu dan tenaga. Tetapi harus mengeluarkan biaya lagi untuk membeli sudi.
6. Takir [takIr]
Perkembangan takir yaitu pada zaman dahulu kebanyakan masyarakat membuat sendiri dengan menggunakan daun pisang, tapi pada zaman sekarang ada yang membuat sendiri dan ada juga yang beli di pasar yang terbuat dari kertas minyak. Terdapat pola pikit masyarakat yang menggunakan daun pisang lebih susah dari kertas minyak, karena daun pisang harus mencari di kebun, membuat sendiri, membuang-buang banyak waktu, dan tenaga. Sehingga kebanyakan masyarakat sekarang lebih memilih menggunakan takir yang terbuat dari kertas minyak, karena lebih menghemat waktu dan tenaga. Tetapi harus mengeluarkan biaya lagi untuk membeli takir.
7. Tambir [tambIr]
Perkembangan tambir yaitu pada zaman dahulu masih menggunakan tambir yang terbuat dari bambu yang berfungsi untuk
napeni. Pada zaman sekarang tambir bisa diganti dengan tebok yang
terbuat dari plastik. Pola pikir masyarakat yaitu tebok yang terbuat dari plastik lebih kuat menampung banyak makanan yang ada di dalam wadah tersebut.
8. Tumbu [tumbu]
Perkembangan tumbu yaitu pada zaman dahulu masih menggunakan tumbu yang terbuat dari bambu. Pada zaman sekarang
tumbu bisa diganti dengan baskom yang terbuat dari plastik. Pola pikir
masyarakat yaitu baskom yang terbuat dari plastik lebih kuat menampung banyak makanan yang ada di dalam wadah tersebut.
9. Tampah [tampah]
Perkembangan tampah yaitu pada zaman dahulu masih menggunakan tampah yang terbuat dari bambu yang berfungsi untuk
ngayaki. Pada zaman sekarang tampah bisa diganti dengan tebok yang
terbuat dari plastik. Pola pikir masyarakat yaitu tebok yang terbuat dari plastik lebih kuat menampung banyak makanan yang ada di dalam wadah tersebut.
Perkembangan tahu yaitu pada zaman dahulu tahu digoreng, pada zaman sekarang tahu ada yang digoreng dan ada juga yang dicampur di dalam semuran. Pola pikir masyarakat yang terdapat di dalamnya yaitu lebih menghemat dalam pengolahan yang dicampurkan ke dalam semuran.
11. Tebok [tebO?]
Tebok merupakan suatu perkembangan pada zaman sekarang dan
pada zaman dahulu masih menggunakan tambir dan tampah. Tebok berbentuk bulat dan ombo. Pola pikir masyarakat yaitu tebok yang terbuat dari plastik lebih kuat menampung banyak makanan yang ada di dalam wadah tersebut.
12. Tempe [tempe]
Perkembangan tempe yaitu pada zaman dahulu tempe digoreng, pada zaman sekarang tempe ada yang digoreng dan ada juga yang dicampur di dalam semuran. Pola pikir masyarakat yang terdapat di dalamnya yaitu lebih menghemat dalam pengolahan yang dicampurkan ke dalam semuran.
13. Wajib [wajIb]
Perkembangan wajib yaitu pada zaman dahulu wajib diberikan seikhlasnya, pada zaman sekarang wajib sudah ditentukan dengan sejumlah uang dua puluh ribu rupiah. Terdapat pola pikir masyarakat yang berfikiran bahwa kebanyakan masyarakat sekarang lebih mampu daripada
masyarakat pada zaman dahulu, karena masyarakat pada zaman sekarang sudah memiliki pekerjaan yang lebih baik/mapan. Sehingga mampu untuk membayar wajib sesuai dengan apa yang sudah ditentukan.
14. Jajanan Pasar [jajanan pasar]
Perkembangan jajanan pasar yaitu pada zaman dahulu adalah menggunakan makanan tradisional seperti jadah, wajik, ketan, dan lain-lain. Pada zaman sekarang hanya menggunakan buah-buahan saja. Terdapat pola pikir masyarakat yang berfikiran bahwa jadah, wajik, ketan, dan lain-lain lebih susah ditemukan daripada buah-buahan yang gampang ditemukan. Sehingga terjadi pergeseran dari yang tradisional ke modern.