• Tidak ada hasil yang ditemukan

Makna Simbolis Busana Paku Buwono XIII pada

BAB IV BUSANA PAKU BUWONO XIII PADA

A. Busana Paku Buwono XIII pada Upacara

3. Makna Simbolis Busana Paku Buwono XIII pada

Upacara Tingalan Jumênêngandalêm tahun 2007 .... 131

D. Busana Paku Buwono XIII pada Upacara

Tingalan Jumênêngandalêm tahun 2008 ... 133

1. Bentuk Busana Paku Buwono XIII pada Upacara

Tingalan Jumênêngandalêm tahun 2008 ... 133

2. Konsep Busana Paku Buwono XIII pada

Upacara Tingalan Jumênêngandalêm tahun 2008 .... 135

commit to user xi

Upacara Tingalan Jumênêngandalêm tahun 2008 .... 136

E. Busana Paku Buwono XIII pada Upacara

Tingalan Jumênêngandalêm tahun 2009 ... 138

1. Bentuk Busana Paku Buwono XIII pada Upacara

Tingalan Jumênêngandalêm tahun 2009 ... 138

2. Konsep Busana Paku Buwono XIII pada

Upacara Tingalan Jumênêngandalêm tahun 2009 .... 140

3. Makna Simbolis Busana Paku Buwono XIII pada

Upacara Tingalan Jumênêngandalêm tahun 2009 .... 141

F. Busana Paku Buwono XIII pada Upacara

Tingalan Jumênêngandalêm tahun 2010 ... 142

1. Bentuk Busana Paku Buwono XIII pada Upacara

Tingalan Jumênêngandalêm tahun 2010 ... 142

2. Konsep Busana Paku Buwono XIII pada

Upacara Tingalan Jumênêngandalêm

tahun 2010 ... 145

3. Makna Simbolis Busana Paku Buwono XIII pada

Upacara Tingalan Jumênêngandalêm

tahun 2010 ... 147

G. Busana Paku Buwono XIII pada Upacara

Tingalan Jumênêngandalêm tahun 2011 ... 149

1. Bentuk Busana Paku Buwono XIII pada Upacara

commit to user xii

2. Konsep Busana Paku Buwono XIII pada

Upacara Tingalan Jumênêngandalêm

tahun 2011 ... 151

3. Makna Simbolis Busana Paku Buwono XIII pada Upacara Tingalan Jumênêngandalêm tahun 2011 ... 152

H. Bagan Verifikasi Data ... 153

BAB V PENUTUP ... 158 A. Simpulan ... 158 B. Saran-Saran ... 164 DAFTAR PUSTAKA ... 165 DAFTAR NARASUMBER ... 178 LAMPIRAN ……….. ... 169 GLOSARI………...………...…………... 172

commit to user xiii

DAFTAR GAMBAR

Gambar: 1 Udhêng cêkokmondolan dan udhêng jèbèhan ... 26

Gambar: 2 Bagian-bagian udhêng ... 26

Gambar: 3 Bentuk dan bagian kulük ... 27

Gambar: 4 Bentuk baju atèlah ... 28

Gambar: 5 Bentuk baju ... 29

Gambar: 6 Contoh baju bêskap ... 29

Gambar: 7 Bentuk baju sikêpan) ... 30

Gambar: 8 Bentuk baju sikêpan cêkak ... 33

Gambar: 9 Contoh baju sikêpan agêng ... 33

Gambar: 10 Baju takwä ... 34

Gambar: 11 Bentuk baju takwä ... 34

Gambar: 12 Contoh sinjang/jarit ... 38

Gambar: 13 Contoh kampühan ... 39

Gambar: 14 Kampüh alas-alasan ... 41

Gambar: 15 Kampüh blumbangan ... 41

Gambar: 16 Celana cindhè berbahan sutera asli ... 42

Gambar: 17 Berbagai macam motif sabuk ... 43

Gambar: 18 Timang dan lêrêp... 45

Gambar: 19 Bentuk èpèk ... 45

Gambar: 20 Bentuk keris ladrang dan gayaman ... 47

commit to user xiv

Gambar: 22 Bagian-bagian keris ... 48

Gambar: 23 Berbagai macam posisi penyelipan keris ... 49

Gambar: 24 Bentuk sêlop ... 49

Gambar: 25 Para abdi dalêm memakai busana Jawi padintênan sowan keraton 50 Gambar: 26 Letak bagian busana Paku Buwono XIII tahun 2005... 86

Gambar: 27 Warna kain ... 88

Gambar: 28 Bentuk detail ornamen lung ... 88

Gambar: 29 Detail motif ... 89

Gambar: 30 Motif sabuk yang mendekati bentuk bunga (puspita) ... 93

Gambar: 31 Motif tirtä tèja pada sabuk Paku Buwono XIII ... 93

Gambar: 32 Ilustrasi motif sabuk tirta tèja ... 93

Gambar: 33 Èpèk Paku Buwono XIII ... 94

Gambar: 34 Keris gayaman ... 95

Gambar: 35 Bentuk sêlop ... 96

Gambar: 36 Bros berbentuk bunga mawar ... 97

Gambar: 37 Kalüng ulür ... 98

Gambar: 38 Letak bagian busana tahun 2006 ... 116

Gambar: 39 Warna kain pada baju takwä ... 118

Gambar: 40 Unsur motif parang barong ... 119

Gambar: 41 Bentuk bros makutho bertulis PB X ... 120

Gambar: 42 Batik parang barong PB XII pada upacara Tingalan Jumênêngandalêm. ... 124

commit to user xv

Gambar: 44 Warna kain pada baju takwä ... 129

Gambar: 45 Letak bagian busana tahun 2008 ... 133

Gambar: 46 Warna kain pada baju takwä tahun 2008 ... 134

Gambar: 47 Bentuk dan letak busana... 138

Gambar: 48 Warna kain pada baju takwä ... 139

Gambar: 49 Bentuk dan letak busana... 142

Gambar: 50 Warna kain pada baju takwä tahun 2010 ... 143

Gambar: 51 Perbandingan ukuran dan bentuk motif parang barong ... 144

Gambar: 52 Bentuk keris ladrang dan cara pemakaiannya ... 145

Gambar: 53 Bentuk dan letak rincian busana ... 149

Gambar: 54 Warna kain ... 151

Gambar: 55 Bentuk dhampar ... 169

Gambar: 56 Paku Buwono XII dengan busana kebesarannya ... 169

Gambar: 57 Paku Buwono X dengan busana kebesarannya ... 170

Gambar: 58 Paku Buwono XI dengan busana kebesarannya... 170

commit to user xvi ABSTRAK

Pasca wafatnya Paku Buwono XII (2004) tahta kerajaan diwarisi oleh putra tertuanya KGPH. Hangabei, ia dinobatkan sebagai Paku Buwono XIII pada Jumat Kliwon 10 September 2004. Dalam proses realisasi eksistensinya sebagai penerus tahta kerajaan, Paku Buwono XIII memiliki sikap tertentu yang nampak pada atribut kebesarannya yang digunakan setiap upacara terpentingnya, yaitu upacara Tingalan Jumênêngandalêm. Penelitian ini diarahkan pada makna simbolis busana yang digunakan Paku Buwono XIII pada upacara tersebut selama 7 periode (2005-2011).

Teori pedekatan yang digunakan adalah hermeneutik, dengan bentuk penelitian deskriptif kualitatif. Teori hermeneutik digunakan untuk membedah

makna simbolis busana Paku Buwono XIII pada upacara Tingalan

Jumênêngandalêm 2005-2011. Untuk kegiatan analisis diperlukan data yang bersangkutan dengan lingkup busana tradisi keraton Surakarta, sejarah, dan latar belakang kebudayaannya.

Hasil penelitian ini diperoleh bahwa Busana Paku Buwono XIII pada

upacara Tingalan Jumênêngandalêm tahun 2005-2011 merupakan bentuk

simbolis yang mengungkapkan kemuliaan dan pemuliaan seorang raja.Dalam penelitian ini juga ditemukan penggunaan atribut yang selalu berbeda setiap tahunnya, sehingga nampak adanya pergerakan makna simbolis dari tahun-ketahun. Pergerakan makna simbolis tersebut menunjukkan adanya esensi busana Paku Buwono XIII dari tahun 2005-2011 yang sarat dengan eksistensinya sebagai raja keraton Surakarta

commit to user 1 BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Busana merupakan salah satu aspek terpenting yang mencakup kebutuhan dalam realitas kehidupan manusia. Dalam merealisasikan dirinya, manusia merepresentasikan busana sebagai wujud simbol yang mempunyai fungsi sosial, sehingga memberi identitas dan citra berbeda antara individu satu dengan individu yang lainnya, atau kelompok satu dengan kelompok yang lainnya. Maka busana berpredikat sebagai jembatan penghubung antara latar belakang individu dengan lingkup sosialnya. Misalkan, ketika Paku

Buwono XII yang berbusana ala musisi rock saat upacara jumenêngandalêm

maka hal tersebut sangat tidak mencerminkan seorang raja di keraton

Surakarta. Berbusana dengan gaya musisi rock saat jumenêngandalêm

merupakan bentuk pernyataan lain sebagai cara berbusana yang tidak termasuk dalam lingkup kebudayaan keraton Surakarta. F.W. Dilliston mengatakan dalam bukunya The Power Of Symbols, bahwa, busana telah terkait erat dengan jati diri (identitas, kepribadian) nasional, dengan struktur kelas dan kualifikasi profesional, dengan konvensi masa tertentu dan dengan pertunjukan dan perayaan kesenian. Pakaian merupakan simbol berkehidupan manusia yang mempunyai kaitan luas dengan latar belakang kehidupan manusia.(Dillistone, 2002:60).

commit to user

Gaya busana dalam kehidupan sosial keraton Surakarta, merupakan salah satu aspek terpenting yang terkait dengan setatus sosial. Hal tersebut sebagai petunjuk tata cara lain seperti kesopanan, kehormatan, unggah unggüh, dan lain sebagainya, sehingga dapat dengan mudah diterapkan dan disesuaikan. Busana yang terkait dengan aspek hirarki sosial tersebut dinyatakan dengan simbol-simbol tertentu yang menunjukkan tinggi rendahnya derajat sosial di keraton Surakarta. Simbol-simbol dalam busana tradisi keraton Surakarta tidak hanya berhenti pada penandaan aspek hirarki sosial, namun simbol-simbol tersebut memiliki latar belakang budaya Jawa, sehingga makna-makna simbol yang dinyatakan dalam gaya busana Surakarta relevan dengan kebudayaannya. Relevansi antara gaya busana dan simbol-simbolnya merupakan kesatuan yang mencerminkan identitas lokal busana Jawa gaya Surakarta.

Gaya busana yang digunakan keraton Surakarta sekitar pertengahan abad ke 18, mengalami revolusi besar. Proses revolusi tersebut terjadi pada sekitar masa kepemimpinan Paku Buwono III dan IV. Gaya busana sebelum masa itu adalah gaya busana yang digunakan sejak keraton Mataram pertama (abad 16) sampai keraton Kartasura. Pasca perpindahan keraton (1745) dari Kartasura ke Surakarta, terjadi pemberontakan oleh KP Mangkubumi. Sehingga pada 1755 keraton dibagi menjadi dua yaitu wilayah Surakarta yang diperintah oleh Paku Buwono III dan wilayah Ngayogyakarta yang diberikan kepada KP Mangkubumi (Hamengku Buwono I). Semenjak terbaginya wilayah Mataram, segala isèn-isèn kêprabön berupa pusaka,

commit to user

gamêlan, titihan kereta, tandhu, dan busana corak Mataram dikehendaki KP Mangkubumi dibawa ke Yogyakarta. Sebelum Paku Buwono II wafat (20 November 1749), beliau berwasiat kepada putranya (Paku Buwono III),

bahwa “Mbèsok mênowo pamanmu Mangkubumi hangêrsaakè agêman,

paringänä” Artinya, kelak apabila pamanmu Mangkubumi menginginkan busana, berikan saja. Semenjak busana Mataram dibawa ke Yogyakarta, Paku Buwono III membuat busana sendiri dengan gaya Surakarta (Honggopuro, 2002:08).

Gaya busana yang tercipta tersebut adalah baju kröwök, (atèlah, bêskap, sikêpan alit, sikêpan agêng, takwä), udhêng, dan motif-motif batik tertentu, yang hingga kini digunakan dalam setiap upacara tradisi keraton Surakarta. Busana tersebut tidak dikenakan secara sembarangan, namun penggunaannya disesuaikan dengan tatanan budaya dan tradisi yang ada. Aspek hirarki merupakan salah satu dasar tatanan yang berlaku di keraton Surakarta, maka dari itu kedudukan raja merupakan penghormatan tertinggi dalam etika dan berperilaku. Seperti yang dikatakan Darsiti Soeratman, bahwa Bagi raja atau penguasa lainnya, upacara adat, etiket (termasuk didalamnya adalah busana) merupakan alat yang dipakai untuk membuat jarak dengan orang yang lebih rendah derajatnya (Soeratman, 2000:124).

Busana raja merupakan salah satu bentuk produk budaya yang diagungkan di keraton Surakarta. Larangan pemakaian busana tertentu, (saat keraton Surakarta masih berfungsi sebagai pusat pemerintahan) menempatkan busana raja sebagai atribut bernilai eksklusif. Hal tersebut

commit to user

menunjukkan bahwa, busana raja merupakan atribut khusus yang tidak dapat dijangkau orang lain dalam tingakatan sosial dibawahnya. Busana raja merupakan penggambaran dari citra, nilai, dan predikat seorang raja dalam tingkatan sosialnya, maka dari itu busana raja dianggap sebagai bagian dari pengagungannya. Sesuatu yang menjadi milik raja dan dekat dengan raja saja maka akan sangat diagungkan, karena merupakan suatu bagian dari prinsip pengkultusan raja sebagai manusia yang memiliki kelebihan (Dharsono, 2007:75).

Raja di keraton Surakarta memiliki peranan sebagai kepala pemerintahan sekaligus sebagai wakil Tuhan (khälifatulläh, panätägämä), oleh sebab itu raja adalah individu yang dianggap masyarakat Jawa sebagai sosok yang paling diagungkan. Bahkan, pada masa-masa kejayaan keraton Surakarta, raja merupakan motivator kultural, sebagaimana yang dikatakan Dharsono (2007:75) bahwa perekayasaan kultural terhadap batik oleh raja (birokrat kerajaan), mengangkat batik istana sedikit banyak memberikan aspirasi masyarakat dalam memandang dan berwawasan terhadap batik.

Tahun 1945 keraton Surakarta telah menjadi bagian dari Negara Kesatuan Republik Indonesia, sejak saat itu pula keraton Surakarta tidak berfungsi sebagai pusat pemerintahan. Keraton Surakarta yang masih dapat disaksikan saat ini, fungsinya telah bertransformasi sebagai institusi budaya, oleh karena itu segala bentuk kebudayaan tradisi yang ada harus tetap dijaga dan dilestarikan dengan baik, termasuk busana sebagai produk budayanya. Paku Buwono XIII adalah raja yang bertahta di keraton Surakarta pada era ini

commit to user

yang masih dapat diketahui keberadaannya dan peranan-peranannya, ia dinobatkan pada 10 September 2004 sebagai penerus tahta mendiang Paku Buwono XII. Dalam proses realisasi eksistensinya sebagai penerus tahta kerajaan, sangat dimungkinkan bahwa Paku Buwono XIII memiliki sikap tertentu dalam tahtanya. Hal tersebut akan sangat nampak pada atribut kebesarannya yang digunakan dalam upacara terpenting menyangkut

kedudukannya sebagai raja, yaitu upacara Tingalan Jumênêngandalêm.

Setiap upacara Tingalan Jumênêngandalêm Paku Buwono XIII yang selama

ini (2005-2011) dilaksanakan masih menjadi perhatian bagi masyarakat luar Surakarta, seperti tamu-tamu yang hadir meliputi para petinggi politik, selebriti, dan wakil negara-negara sahabat. Oleh karena itu, upacara Tingalan Jumênêngandalêm Paku Buwono XIII sejak tahun 2005 hingga 2011 merupakan tanda bahwa dirinya masih eksis bertahta sebagai raja. Busana Paku Buwono XIII pada upacara terpenting tersebut merupakan objek material yang dapat menunjukkan peranan individunya sebagai pewaris dan penerus tahta, yang semestinya memuat predikat sebagai, pemangku adat, pelestari budaya, motivator budaya, dan sebagainya. Konsep busana Paku

Buwono XIII pada upacara Tingalan Jumênêngandalêm merupakan modal

simbolisnya. Sehingga makna yang muncul merupakan muatan dari esensi Busana Paku Buwono XIII pada upacara Tingalan Jumênêngandalêm periode 2005-2011.

commit to user B. Batasan Masalah

Paku Buwono XIII merupakan gelar raja keraton Surakarta pasca mangkatnya Paku Buwono XII. Dalam pandangan masyarakat dan media informasi, gelar Paku Buwono XIII diakui oleh dua orang Pangeran Harya, yaitu KGPH. Hangabei dan KGPH. Tejowulan. Pada penelitian busana Paku Buwono XIII ini terfokus pada Hangabei. Pertimbangan ini dipilih berdasarkan situs keraton Kasunanan Surakarta yang menjadi lokasi Paku Buwono XIII (Hangabei) dalam melaksanakan seluruh kegiatan adatnya. Berbeda dengan Tejowulan yang memiliki keraton sendiri di Jl. Slamet Riyadi, yaitu keraton Wuryaningratan. Pertimbangan tersebut didasari dari eksistensi keraton sendiri yang telah disepakati masyarakat sebagai cagar budaya peninggalan kerajaan Mataram Islam beserta upacara-upacara tradisinya. Karaton Surakarta dalam kondisi terkini menjadi rujukan para wisatawan domestik maupun manca negara.

C. Rumusan Masalah

1. Bagaimana bentuk busana Paku Buwono XIII pada upacara Tingalan Jumênêngandalêm periode 2005 sampai 2011 ?

2. Apakah konsep busana Paku Buwono XIII pada upacara Tingalan

Jumênêngandalêm periode 2005 sampai 2011 ?

3. Apakah makna simbolis yang terdapat pada busana Paku Buwono XIII pada upacara Tingalan Jumênêngandalêm periode 2005 sampai 2011 ?

commit to user D. Tujuan Penelitian

1. Memaparkan bentuk busana Paku Buwono XIII pada upacara Tingalan Jumênêngandalêm periode 2005 sampai 2011.

2. Menggali konsep busana Paku Buwono XIII pada upacara Tingalan

Jumênêngandalêm periode 2005 sampai 2011.

3. Mengungkap makna simbolis yang terdapat pada busana Paku Buwono XIII pada Tingalan Jumênêngandalêm periode 2005 sampai 2011.

E. Manfaat Penelitian

Bila penelitian ini terlaksana dengan baik sesuai dengan tujuan yang direncanakan, maka penulis berharap hasil penelitian nantinya berguna dan bermanfaat. Beberapa hal yang diharapkan diantaranya:

1. Pandangan ilmiah dengan lingkup historis mengenai gagasan busana klasik Jawa gaya Surakarta akan memberi tambahan pengetahuan kepada kalangan mahasiswa Tekstil baik praktis maupun teoritis yang inovatif dan optimal bagi praktek cita, cipta, kerja karya atau penelitian kualitatif dunia tekstil.

2. Sebagai pandangan pada Jurusan Kriya Tekstil mengenai pentingnya riset busana warisan leluhur sebagai peran setrategis

3. Memberi sumbangan pemikiran kepada pihak keraton Surakarta yang berperan sebagai institusi budaya, sehingga berguna bagi pengembangan kebudayaan.

commit to user

4. Merangsang terhadap adanya pengembangan penelitian ilmiah lainnya pada masa yang akan datang, sehingga lebih banyak lagi konsep-konsep gagasan dalam dunia tekstil dan berguna bagi masyarakat.

5. Meningkatkan kepekaan penulis pada bidang busana dalam kaitannya dengan kekayaan budaya tradisi Indonesia.

F. Sistematika Penulisan

Bab I merupakan pendahuluan berisi latar belakang, rumusan masalah, tujuan penelitian, manfaat penelitian, dan sistematika penulisan.

Bab II berisi kajian teori yang meliputi pengertian busana, busana dan lingkup sosial budaya, busana dalam kebudayaan keraton Surakarta, sejarah busana Jawa gaya Surakarta, dan busana keraton Surakarta. Adapun kajian teori diluar lingkup busana mencakup, pandangan hidup orang Jawa, upacara tradisi keraton Surakarta, Tingalan Jumênêngandalêm, landasan teori dan bagan kerangka fikir.

Bab III berisi metodologi penelitian, meliputi lokasi penelitian busana

Paku Buwono XIII pada upacara Tingalan Jumênêngandalêm periode

2005-2011. Sesuai permasalahan yang muncul maka bentuk penelitiannya adalah Hermeneutik (penafsiran). Sumber data berasal dari dokumen, arsip, dan informan. Teknik pengumpulan data melalui content analysis, wawancara, perekaman, dan dimantapkan memalui teknik trianggulasi data sebagai validitas datanya. Analisis data dilakukan melalui reduksi data, sajian data, dan verfikasi data yang mencakup model analisis interaktif.

commit to user

Bab IV berisi hasil pengumpulan data dan analisis data tentang kajian bentuk busana, alasan berbusana, dan makna simbolik busana Paku Buwono XIII pada upacara Tingalan Jumênêngandalêm periode 2005-2011.

Bab V berisi kesimpulan dan saran sebagai upaya menjawab tujuan

penelitian busana Paku Buwono XIII pada upacara Tingalan

commit to user 10

KAJIAN PUSTAKA

A. Busana

Arti busana yang biasa disamakan dengan pakaian, sebetulnya mempunyai makna yang berbeda. Pengertian yang kurang tepat ini telah populer dikalangan masyarakat sehingga menjadi pemahaman yang ideal. Pemahaman mengenai pengertian busana ini dapat lebih jelas dengan merubah dahulu kata busana tersebut menjadi kata kerja berbusana, dari kata kerja yang terbentuk dari kata busana tersebut dapat diartikan sebagai menggunakan pakaian untuk diri sendiri, dengan perhatian pada efek yang ditimbulkan, dalam hubungannya dengan dandanan dan perhiasan (Barnard, 2006:14) atau dapat pula dikatakan bahwa dalam kata berbusana, nuansa berdandan atau berhias dari proses penggunaan pakaian menjadi muncul. Penjelasan Barnard merupakan rekonstruksi pemahaman masyarakat yang berjalan rancu, sehingga pemahaman yang berkembang justru mengaburkan pengertian pakaian dan busana. Hal tersebut akan lebih jelas ketika fungsi dari kedua pemahaman tersebut dipaparkan. Fungsi pakaian dan busana mempunyai perbedaan mendasar, jika pakaian mempunyai fungsi biologis, yakni sebagai pelindung tubuh sedangkan busana mempunyai fungsi sosial, yakni sebagai bagian dari tata cara berinteraksi atau bergaul dalam lingkup sosial. (Hoed, 2008:161)

commit to user

Beni Hood Dalam buku Semiotik Dalam Dinamika Sosial Budaya (Hoed, 2008: 162) menjelaskan pendapat Peirce bahwa busana adalah representamen dari beberapa kemungkinan obyek yang mewakili pengertian kesantaian, keresmian, religiusitas, sensualitas, komersialisasi, dan banyak lagi, sehingga memperoleh kemungkinan interpretan (penafsiran secara individual, terutama sosial, yang dilatari oleh kebudayaan penafsir). Pendapat Peirce mengenai busana, sebenarnya memberi penjelasan tentang nilai, makna dan citra yang terbangun oleh busana.

Ratih Poeradisastra (2002:08) menjelaskan bahwa busana dapat mengenalkan tentang pribadi seseorang tanpa orang lain mengenalnya, itu karena busana dapat mencerminkan keribadian, pekerjaan, dan status seseorang. Citra seseorang antara lain memang dipengaruhi oleh busananya. Menurut ratih 76% orang menilai seseorang dari penampilan, dan 59% orang berpendapat bahwa busana mencerminkan status sosial. Penelitian penelitian di Amerika membuktikan 55% kesan pertama dipengaruhi oleh penampilan visual. Visual bias berupa, rambut, busan ekspresi dan gerak tubuh. Selain itu 38% dipengaruhi faktor verbal, seperti nada bicara dan suara, dan 7% dipengaruhi isi pembicaraan.

Pakaian merupakan sebuah benda yang digunakan manusia untuk menutup tubuhnya, yang hanya terbatas pada sifat kebendaannya. Jika menelusuri pendapat Beny H. Hoed pada bagian akhir paragraf pertama, halaman 10, maka pakaian lebih mendalamkan artiannya pada sifat bendanya karena unsur kebutuhan biologis. Pakaian hanyalah sebuah benda yang dapat

commit to user

disebut pula sebagai alat. Misalnya seperti celana jeans, kemeja, kaos, dress, tang top, rok, dll.

Cukup jelaslah perbedaan antara busana dan pakaian, kejelasan ini tampak dari melekatnya pakaian pada tubuh seseorang yang memberi citra tertentu. Sedangkan pakaian adalah benda yang dibutuhkan manusia sebagai penutup tubuh.

1.

Busana dalam Lingkup Sosial Budaya

Budaya merupakan wujud dari perilaku manusia. Perilaku

manusia meliputi olah fikir, cara pandang, kreatifitas,

komunikasi/interaksi dll, yang didasari dari sifat budi manusia dan daya sebagai sumber aktifitas manusia oleh ilmu pengetahuan. Perilaku manusia menghasilkan hasil-hasil karya budaya, yang secara aksiologi memberikan nila-nilai tertentu pada hakekat budaya dan pelaku budaya. Budaya mempunyai sistem koherensi sehingga budaya dapat membentuk perilaku, nilai dan pola fikir manusia, begitupula dengan manusia sebagai pelaku budaya dengan segala aktifitasnya menghasilkan sebuah budaya. Hal tersebut diperjelas oleh Budiono Kusumohamidjodjo dalam bukunya Filsafat Kebudayaan, bahwa budaya merupakan hasil kreasi dan perjuangan manusia dalam rangka merealisasikan dirinya. Dalam rangka realisasi diri itu dia berjuang untuk melepaskan diri dari keterbatasan biologis yang dikenakan alam atas dirinya, sembari mencari puncak pembebasan

commit to user

dirinya dalam suatu proses idealisasi dialektis yang seringkali tanpa sadar hendak dia kendalikan juga. (Kusumohamidjojo, 2009: 46)

Budaya juga merupakan cara manusia menyesuaikan diri dengan lingkungannya. Interaksi kepada lingkungan tampaknya menjadi kunci penyesuaian diri manusia dengan lingkungannya, sehingga terbentuklah kerjasama antara manusia dan lingkungan, dengan serta merta manusia akan memahami lingkungannya karena manusia mempunyai kebutuhan-kebutuhan yang harus dipenuhi, baik kebutuhan primer, sekunder maupun tertier, dan tentunya didasari oleh ilmu pengetahuan manusianya.

Busana adalah salah satu kebutuhan hidup manusia, yang digunakan sebagai penutup dan pelindung tubuh. Diluar jangkauan kerangka dasar fungsi biologis tersebut busana merupakan sebuah persimbolan atau pertanda yang dapat membedakan dirinya dengan hewan. Pada lingkup sosial ini busana dapat menunjukkan sebuah identitas suatu bangsa maupun individu. Setiap busana yang dikenakan dipandang sebagai tanda. Dalam semiotik struktural (Bartes) busana adalah penanda yang mempunyai pertanda, yakni makna tertentu. Makna ini kemudian berkembang menjadi konotasi berdasarkan latar budaya pemberi konotasi. Jika konotasi berlanjut selama beberapa waktu akan terbentuk mitos yang akan dapat berlanjut menjadi ideologi. Busana merupakan salah satu bagian dari rambu dalam berinteraksi atau bergaul dilingkungan sosial, hal ini

commit to user

lebih berkaitan dengan kepantasan dan kesopanan. Pada umumnya disetiap masyaraka terdapat tradisi berbusana, karenanya muncul penggunaan jenis busana tertentu yang tetapkan untuk kesempatan acara tertentu. Hal tersebut lebih berkaitan dengan hal interaksi yang sebenarnya sangat bergantung pada jenis busana tertentu. Ketergantungan tersebut merupakan akibat dari sistem tanda yang ada pada busana, sedangkan pertanda atau simbol yang ada pada busana memiliki berbagai macam ideologi yang didasari oleh ruh setiap budaya bangsa manusia, karena setiap kebudayaan suatu bangsa

mempunyai perbedaan dalam merealisasikan dirinya.

(Hoed,2008:161-162)

Busana dalam kerangka sosial budaya merupakan bentuk komunikasi. Busana dalam lingkup ini telah sama sekali keluar dari sifatnya yang biologis, namun sifat sosialnya-lah yang lebih terungkap. Di Amerika Serikat pakaian dapat digunakan untuk menampilkan status ekonomi, pendidikan, status sosial, standar moral, kemampuan atletik, ketertarikan, sistem kepercayaan (politik, filosofi, agama), dan tingkat kepuasan. Busana juga menjadi tanda identifikasi

Dokumen terkait