TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Tinjauan Pustaka
2.1.2 Makro Ekonom
Menurut Mankiw (2003) bahwa konsep makro ekonomi adalah sebuah kajian tentang gejala atau fenomena sebuah perekonomian secara luas di suatu Negara, mencakup inflasi, suku bunga, dan nilai tukar yang mempengaruhinya. Investasi di pasar modal tidak bisa terlepas dari pengaruh makro ekonomi. Menurut Widoatmodjo (2015:233) bahwa musuh utama investasi adalah makro ekonomi. Beberapa indikator makro ekonomi adalah tingkat inflasi, suku bunga, nilai tukar rupiah, jumlah uang berdar, dan indeks harga saham gabungan.
2.1.2.1 Nilai Tukar Rupiah
Menurut Jonni Manurung dan Adler Manurung (2009:95) bahwa nilai tukar adalah harga dari satu mata uang dalam bentuk mata uang luar negeri. Hal ini juga didukung oleh John Sloman dan Mark Sutcliffe (2004:585) yang menyatakan an exchange rate is the rate at which one currency trades for another on the foreign exchange market . Menurut Darmadji (2006) bahwa nilai tukar mata uang atau sering disebut kurs merupakan harga mata uang terhadap mata uang lainnya. Kenaikan nilai tukar (kurs) mata uang dalam negeri disebut apresiasi atas mata uang (mata uang asing lebih murah, hal ini berarti nilai mata uang asing dalam negeri meningkat). Penurunan nilai tukar (kurs) disebut depresiasi mata uang dalam negeri (mata uang asing menjadi lebih mahal, yang berarti mata uang dalam negeri menjadi merosot).
Menurut Dornbusch & Fischer (1992) dalam Halim (2013), nilai tukar dikenal ada empat jenis yakni:
1. Selling Rate (Kurs Jual) merupakan kurs yang ditentukan oleh suatu bank untuk penjualan valuta asing tertentu pada saat tertentu.
2. Middle Rate (Kurs Tengah) merupakan kurs tengah antara kurs jual dan kurs beli valuta asing terhadap mata uang nasional, yang telah ditetapkan oleh bank sentral pada saat tertentu.
3. Buying Rate (Kurs Beli) merupakan kurs yang ditentukan oleh suatu bank untuk pembelian valuta asing tertentu pada saat tertentu.
4. Flat Rate (Kurs Rata) merupakan kurs yang berlaku dalam transaksi jual beli bank notes dan travellers cheque.
2.1.2.2 Suku Bunga SBI
Suku bunga merupakan variabel makro ekonomi yang paling penting. Suku bunga adalah harga yang menghubungkan masa kini dan masa depan. Suku bunga dibagi menjadi suku bunga rnominal (nominal interest rate) dan suku bunga riil (real interest rate). Suku bunga nominal adalah suku bunga yang dibayarkan oleh bank, dan suku bunga riil adalah kenaikan dalam daya beli (Mankiw 2003:86).
Menurut Didit Herlianto (2013:96), Sertifikat Bank Indonesia (SBI) adalah surat berharga yang dikeluarkan oleh Bank Indonesia sebagai pengakuan utang berjangka waktu pendek dengan sistem bunga. Menurut Arifin (2007:118) dalam Topowijono, et al., (2015) bahwa suku bunga Sertifikat Bank Indonesia (SBI) adalah suku bunga yang diberlakukan Bank Indonesia (SBI). Artinya pemerintah
melalui BI akan menaikan atau menurunkan tingkat suku bunga guna mengontrol peredaran uang di masyarakat atau dalam arti luas mengontrol perekonomian nasional.
Menurut Sakhowi (1999) bahwa kenaikan suku bunga akan menyebabkan biaya investasi akan meningkat dan jumlah pengeluaran investasi akan menurun, akibat selanjutnya adalah ekspektasi penghasilan dari investasi akan menurun. Kenaikan biaya investasi dan penurunan jumlah investasi akan menyebabkan penurunan penghasilan yang menjadi bagian bagi pemegang saham (equity) yang berarti nilai equity akan menurun. Penurunan nilai ekuitas tersebut akan menyebabkan harga saham menurun.
2.1.2.3 Inflasi
Inflasi adalah suatu keadaan menurunnya tingkat harga secara terus- menerus, yang mempengaruhi masyarakat, bisnis, dan pemerintah (Frederic S. Mishkin, 2006:10). Menurut G. Cowt Hrey bahwa inflasi adalah suatu keadaan dari nilai mata uang yang turun dan berlangsung secara terus-menerus dan harga mengalami kenaikan. Dan Hawtry berpendapat bahwa inflasi adalah suatu keadaan yang disebabakan oleh terlalu banyak uang yang beredar (Latumaerissa, 2015:172). Menurut teori Keynes, inflasi terjadi karena suatu masyarakat ingin hidup di luar batas kemampuan ekonominya. Proses inflasi menurut pandangan ini adalah keadaan dimana permintan masyarakat akan barang-barang selalu melebihi jumlah barang-barang yang tersedia.
Menurut Herlianto (2013:155) bahwa inflasi menjadi perhatian dari investor, terutama jika inflasi dapat diramalkan, karena inflasi dapat
mempengaruhi keuntungan investor. Menurut Samuelson dan Nordhaus (2004:385) bahwa inflasi dibagi menjadi tiga kategori, yaitu :
1. Inflasi rendah (low inflation), yaitu inflasi dibawah 10%, yang dicirikan oleh harga yang naik secara perlahan-lahan dan dapat diramalkan. Dalam rentang inflasi masih dianggap normal.
2. Inflasi yang melambung (Galloping inflation), yaitu inflasi yang terjadi dari rentang 20% sampai 200% per tahun. Inflasi ini terjadi karena pemerintahan yang lemah, perang, revolusi, atau kejadiaan lainnya yang menyebabkan barang tidak tersedia sementara uang berlimpah. Sehingga kondisi ini menyebabkan nilai mata uang yang berkurang dengan sangat cepat.
3. Hiperinflasi (Hyperinflation), yaitu inflasi yang terjadi diatas 200% per tahun, yang dicirikan ketika jumlah uang beredar sangat banyak, dan barang-barang menjadi langka, harga menjadi kacau-balau dan produksi menjadi tidak terorganisasi.
Penyebab Inflasi menurut Sukirno (2007:12) yaitu :
1. Inflasi tarikan permintaan, ini merupakan bentuk inflasi yang diakibatkan oleh perkembangan yang tidak seimbang di antara permintaan dan penawaran barang dalam perekonomian. Inflasi tarikan permintaan dapat berlaku ketika perekonomian menghadapi masalah pengganguran yang tinggi maupun pada saat kesempatan kerja penuh sudah tercapai.
2. Inflasi desakan biaya, inflasi ini biasanya berlaku ketika kegiatan ekonomi telah mencapai kesempatan kerja penuh. Pada tingkat ini industri-industri
telah beroperasi pada kapasitas yang maksimal, dan tenaga kerja menuntut kenaikan gaji sehingga menyebabkan peningkatan dalam biaya produksi. 3. Inflasi diimpor, inflasi ini terjadi saat ada suatu negara yang bertindak sebagai
produsen terhadap negara-negara lain menaikkan harga dari barangnya, maka secara mendadak biaya produksi akan mengalami peningkatan dan menyebabkan masalah inflasi.
Tingkat inflasi dihitung berdasarkan perubahan Indeks Harga Konsumen (IHK). Angka inflasi diperoleh dengan menggunakan rumus perhitungan di bawah ini :
Inflasi =
Keterangan :
IHK t = Indeks Harga Konsumen pada priode t
IHK t-1 = Indeks Harga Konsumen pada periode sebelum t
2.1.2.4 Jumlah Uang Beredar
Uang adalah sesuatu yang digunakan sebagai alat pembayaran transaksi. (Djohanputro, 2008: 115). Dan menurut Kasmir (2011:13), pengertian uang secara luas adalah sesuatu yang dapat diterima secara umum sebagai alat pembayaran dalam suatu wilayah tertentu atau sebagai alat pembayaran utang atau sebagai alat untuk melakukan pembelian barang dan jasa. Uang adalah persediaan aset yang dapat dengan segera digunakan untuk melakukan transaksi. Uang memiliki tiga tujuan, yaitu penyimpan nilai, unit hitung, dan media pertukaran. Penyimpan nilai artinya adalah uang merupakan cara mengubah daya beli dari masa kini ke masa
depan. Unit hitung, uang memberikan ukuran dimana harga ditetapkan dan utang dicatat. Sebagai media pertukaran, uang adalah apa yang kita gunakan untuk membeli barang dan jasa (Mankiw 2003:73).
Permintaan uang diperlukan untuk tujuan sebagai berikut:
1. Transaksi. Setiap pelaku ekonomi, baik individu atau rumah tangga, perusahaan, dan lembaga lainnya memerlukan uang untuk bertransaksi seperti untuk membeli barang, bayar rekening listrik, dan lainnya.
2. Jaga-jaga. Setiap individu atau kelompok memerlukan perencanaan untuk merencanakan kebutuhan uang mereka dalam suatu waktu, selain itu diperlukan juga uang penyimpanan untuk berjaga-jaga atas kondisi yang tak terduga.
3. Spekulasi. Spekulasi dikaitkan dengan permintaan akan aset untuk investasi. Pada saat suku bunga tinggi, maka diperlukan untuk menabung agar memperoleh return, dan jika sebaliknya, maka lebih baik untuk berinvestasi.
Menurut Sukirno (2012) bahwa uang beredar dibedakan dalam dua pengertian, yaitu pengertian terbatas dan pengertian luas. Dalam pengertian terbatas uang beredar adalah mata uang dalam peredaran ditambah uang giral yang dimiliki perseorangan, perusahaan, dan badan pemerintah. Dalam pengertian luas uang beredar meliputi mata uang dalam peredaran, uang giral, uang kartal, dan uang kuasi. Uang kuasi terdiri dari deposito berjangka, tabungan, dan rekening (tabungan) valuta asing milik swasta domestik. Uang beredar dalam arti luas dinamakan M2. Pengertian uang beredar dalam arti sempit selalu disingkat M1. Teori kuantitas uang dikemukakan oleh Irving Fisher, seorang ahli ekonomi
Amerika yang tergolong dalam golongan ahli-ahli ekonomi klasik. Hubungan di antara transaksi dan uang ditunjukkan dalam persamaan kuantitas (quantity equation) berikut:
M V = P T Keterangan :
M = Jumlah uang beredar V = Tingkat perputaran uang P = Tingkat harga barang
T = Jumlah barang yang diperdagangkan
2.1.2.5 Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG)
Menurut Fahmi (2014:311) bahwa Indeks Harga Saham Gabungan dianggap sebagai dasar analisis yang digunakan untuk melihat kondisi di Pasar Modal Indonesia. Sedangkan menurut Sunariyah (2006:142), Indeks Harga Saham Gabungan adalah suatu rangkaian informasi historis mengenai pergerakan harga saham gabungan seluruh saham, sampai pada tanggal tertentu. Maksud gabungan dari seluruh saham ini adalah kinerja saham yang dimasukkan dalam perhitungan seluruh saham yang tercatat di Bursa Efek Indonesia.
Menurut Widoatmodjo (2015:126) rumus yang digunakan untuk menghitung IHSG adalah:
IHSG =
x 100 % Keterangan :
IHSG = Indeks Harga Saham Gabungan
£Ho = Total harga semua saham pada waktu dasar
Indeks Harga Saham Gabungan (Composite stock Price Index) pertama kali diperkenalkan pada tanggal 1 April 1983 sebagai indikator pergerakan harga saham yang tercatat di bursa.