BAB I PENDAHULUAN
B. Macam-Macam Malu
Melihat kembali pengertian tentang malu, maka dapat didefenisikan bahwa macam-macam malu hanya terdapat dua bagian malu sebagai perbuatan positif dan perbuatan negatif, dan apabila malu ini hanya berpatokan pada pandangan manusia sendiri, maka hal itu akan melahirkan manusia-manusia yang
bersikap munafik di depan banyak orang dan dia akan bersikap baik. Begitu dilihat orang maka manusia tersebut akan melakukakan sikap khianat, serta meyengsarakan orang dan kejahatan yang lain.11 Maka dari itu malu dibagi tiga macam, yaitu:
1. Malu kepada Allah SWT. 2. Malu kepada diri sendiri 3. Malu kepada orang lain.
Manusia diciptakan sudah tentulah mengenal tuhannya, bukan berarti hanya sampai di tataran tersebut tapi bagaimana menjalankan apa yang diperintahkan, sehingga seseorang akan muncul rasa malu kepada Allah apabila ia tidak mengerjakan perintah-perintah-Nya, tidak mengikuti petunjuknya serta tidak menjauhi larangan-larangan-Nya. Berbeda halnya dengan orang yang taat atau mempunyai rasa malu kepada Allah maka dengan sendirinya akan merasakan malu pada dirinya sendiri. Ia enggan melakukan perbuatan yang salah meskipun tidak ada orang yang melihat dan mendengarnya. Bahkan ia dapat mengendalikan hawa nafsu, dari perbuatan yang merugikan diri sendiri dan orang lain serta larangan yang tidak baik dan dilarang Allah SWT.
Jika seseorang sudah memiliki rasa malu pada dirinya sendiri, ia juga akan malu mengerjakan perbuatan yang merugikan orang lain.12 Sehingga orang beranggapan bahwa orang yang melakukan perbuatan yang baik dan tidak merugikan dirinya dan orang lain, maka diantara mereka tidak ada perbedaan.
11 Arif Supriono, Seratus Cerita Tentang Akhlak, (Jakarta: Republika, 2006), h. 4.
Apabila diri kita merasa dirugikan, maka orang lain pun akan merasa dirugikan jika haknya dirampas. Tapi perlu kita ketahui bersama bahwa malu ini bukan hanya membawa keperbuatan positif tapi terdapat juga dampak negatifnya, seperti yang terjadi di masa sekarang yang hanya mementingkan rasa egois yang tinggi dan mempertahankan perbuatan yang tidak seharusnya dilakukan. Malu yang tidak mempunyai batasan dan berlebihan akan menjadi bumerang dan memalukan diri kita sendiri. Contohnya berkelahi di depan umum hanya persoalan cinta.
Tergantung seseorang dalam memahami malu karena setiap orang berbeda-beda wataknya, seperti orang yang mempunyai watak keras, sekecil apapun masalahnya dapat menyebabkan dia malu. Sebaliknya orang yang wataknya biasa saja mereka tidak cepat malu walaupun mendapat perlakuan yang memalukan. Malu yang inilah yang membawa seseorang pada perbuatan positif, karena mempunyai kesadaraan dalam individu seseorang.
Menurut tokoh psikolog Prof. Dr. Hasan Langgulung bahwa orang yang memiliki kekuatan malu ini akan merasa terpancing atau merasa tenang dalam
suasana yang tepat seperti yang ditentukan syara’ dan akal. Hal inilah malu yang bisa menimbulkan kebaikan dan seharusnya ada pada diri seseorang.13
Dari penjelasan malu diatas, bahwa malu yang sebenarnya ialah bagaimana memposisikan malu pada tempatnya, sehingga dapat kita lihat bahwa orang akan melakukan kejahatan apabila tidak mempunyai malu, begitupun
13 Hasan Langgulung, Teori-teori Kesehatan Mental (jakarta: Pustaka al-Husna,1986), h. 329.
sebaliknya orang yang memiliki sifat malu pasti dalam dirinya melakukan perbuatan baik.
Berdasarkan penilaian dari perbuatan baik dan buruknya maka para ulama memaparkan malu ada dua bagian, yaitu:
1. Malu yang sesuai dengan syara’ (h{aya>’ shar’i) atau malu sehat.
H{aya’ shar’i adalah malu sebagai Akhlak yang mendorong yang bersangkutan untuk menjahui kejelekan dan mencegahnya dari mengabaikan hak orang yang mempunyai hak.14
2. Malu yang tidak sesuai dengan Syara’ (Iktisabi) atau malu yang sakit. Malu yang sakit adalah perasaan malu yang menghalangi seseorang muslim, baik laki-laki maupun perempuan untuk menyampaikan kebenaran pada suatu saat, atau memalingkannya dari melakukan kebaikan pada kesempatan yang lain.15
Pemaparan ulama di atas, malu sesuai dengan syara’ sangat dianjurkan
bagi setiap umat islam memiliki sifat tersebut tanpa terkecuali baik perempuan maupun laki-laki. Bahkan menurut Islam, malu merupakan suatu refleksi dalam bentuk kebaikan seseorang serta keimanan yang tinggi dan selalu mengarahkan kepada hal-hal yang tidak melanggar.
14 Abu> Shuqqah ‘Abdul H{ali{m, kebebasan Wanita, terj. As’ad Yasin (Jakarta: Gema Insani
Press,1999), h. 129.
Adapun mengenai malu yang tidak sesuai dengan syara’ atau disebut
dengan ikhtisyabi (yang sakit), Sebagaimana yang telah diriwayatkan Abdulah
bin Mas’ud berkata, Rasulullah Saw bersabda.
ٍَرْمَعَِنْبََةَبْقُعَْنَعٍَشاَرِحَِنْبَِيِعْبِرَْنَعٍَروُصْنَمَْنَعٌَرْ يِرَجَاَنَ ثََدَحٍَعِفاَرَُنْبَوَُرْمعَاَنَ ثََدَح
َوُبىنلاَم َاَكَْنِمَُساَنلاََكَرَْدَأَاَََِنإََمَلَسوَِهْيَلَعَُهَللاَىَلَصَِهَللاَُلوُسَرَلاقََلاَقٍَدوُعسمَ َِِأو
َِة
َُْأا
.َتْئِشَاَمَْعَنْصاَفَِيِحَتْسَتََََْاَذِإَ ََو
16Telah meriwayatkan kepada kami ‘Amr bin Ra>fi’, telah meriwayatkan kepada kami Jari>r, dari Mans{u>r, dari Rib’i bin Hira>sh, dari ‘Uqbah bin ‘Amr dan Abi Mas’u>d berkata, Nabi Muhammad Saw. Bersabda: Diantara apa yang diketahui orang dari perkataan nabi-nabi terdahulu ialah apabila engkau tidak malu, maka perbuatlah apa yang engkau kehendaki. (HR. Ibn Ma>jah)
Hadis diatas menjadi landasan atau barometer seseorang dalam melakukan perbuatan malu sesuai kehendaknya, sehingga bagi orang yang memiliki sifat malu yang sangat besar dia akan selalu menjadikan tolak ukur perbuatan bagi dirinya sendiri dalam hal kebaikan dan dia sen antiasa bertanya apakah perbuatan ini sesuai dengan perintah Allah atau tidak. Sebaliknya berbeda dengan orang yang tidak memiliki rasa malu, dia selalu melakukan perbuatan-perbuatan yang merugikan orang lain dan dirinya sendiri dan tidak mempunyai pertimbangan dalam hidupnya untuk melakukan sesuatu, apakah perbuatan mereka sesuai dengan perintah Allah atau bukan. Menjadikan dirinya memiliki sifat egois yang tinggi sehingga apa yang mereka perbuat pasti tercapai sesuai dengan keinginannya, walaupun perbuatan itu dilarang oleh Allah SWT.
16 Abi> Abdilla>h Muh{ammad bin Yazi>d al-Qazwi{ni, Sunan ibn Ma>jah, juz II (Semarang: Toha Putra), h. 1400.
Karena mereka tidak memiliki malu lagi maka menjadikan dirinya orang yang tidak baik.
Orang yang tidak memiliki malu sangat mudah kehilangan kontrol terhadap tingkah lakunya. Ia akan menjadi manusia yang lepas kendali dan merasa bebas melakukan apa saja tanpa mempertimbangkan halal-haram, baik-buruk dan manfaat- mudharat dari perbuatan-perbuatannya tersebut. Dia akan melakukan apa saja untuk memuaskan hawa nafsunya, segala cara akan dilakukannya dan dihalalkan untuk mencapainya.17
Sekarang ini mayoritas masyarakat tidak lagi menganggap penting, bahkan meninggalkan nilai-nilai malu yang sangat di junjung oleh masyarakat pendahulu kita. Bahkan saat ini menjadi hal biasa ketika melakukan kesalahan di depan orang banyak dan bahkan nilai-nilai yang pernah ditanamkan para ulama sudah tidak di hiraukan lagi. Seperti pasangan remaja mengumbar kemesraan di depan umum yang belum sah menjadi pasangan suami istri, seorang istri tidak malu lagi melawan suaminya, seorang anak tidak malu lagi ketika tidak pandai membaca al-qur’an.
Di sisi lain pemahaman masyarakat mengenai malu, sudah banyak pergeseran makna yang sebenarnya, jika dilihat dari konteks pengaruh malu yang mengakibatkan terjadinya anarkisme kolektif atau merugikan pribadi sendiri maupun orang lain, seperti jatuhnya harga diri seseorang di depan umum, sehingga susah terkendalinya hawa nafsu.
Dari beberapa penjelasan diatas bahwa dalam menjaga malu sama halnya menjaga harga diri umat Islam yang artinya menjaga syariat Islam. Menjaga harga diri di pandang dari segi ilmu akhlak adalah suatu kewajiban moral yang paling tinggi, sehingga ada syair: jika tidak engkau pelihara hak dirimu, engkau meringankan dia, orang lain pun akan lebih meringankan, sebab itu hormatilah dirimu dan jika suatu negeri sempit buat dia, pilihlah tempat lain yang lebih lapang.18 Apabila orang yang memakai malu sebagai landasan Islam dan bertemu orang yang merendahkan martabat serta agamanya jadi hina pasti akan menimbulkan pembalasan.
Malu yang inilah yang harus dijaga oleh umat Islam dari berbagai sisi. Pertama, meneguhkan iman dan tawakkal kepada Allah. Orang yang memiliki iman dan bertakwa kepada yang Maha pencipta akan menimbulkan nur (cahaya) pada dirinya serta membawa pengaruh besar pada orang lain dan alam yang berada di sekitarnya. Karena orang yang memiliki iman dan takwa pasti memiliki akhlak yang baik serta budi pekerti yang mulia. Kedua malu ini akan membawa pengaruh serta menimbulkan tawadu’ dan perangai terpuji. Adapun pendapat Prof. Dr. Hamka mengenai tawadhu’ yaitu mahaudhah, yang terdiri dari beberapa
macam, yaitu:
1. sabar, yaitu dapat mengendalikan diri ketika sedang marah
2. ‘iffah, artinya dapat menahan hawa nafsu ketika hendak
didorongkan;
3. Shaja’ah, artinya berani karena benar dan yakin serta sanggup mempertahankan dimana saja;
4. Adil, artinya pertengahan. 19
Sehingga dapat penulis simpulkan bahwa orang yang memiliki sifat malu yang diajarkan oleh agama Islam adalah salah satu bentuk akhlak yang mulia. Bagi orang yang memiliki akhlak adalah orang mengangkat derajat sebagai makhluk ciptaan Tuhan yang paling tinggi. Selain mengangkat harkat martabat umat manusia, sifat malu juga merupakan salah akhlak pembeda dengan makhluk ciptaan Allah yang lain.
C. Dalil-Dalil Malu dalam Hadis