• Tidak ada hasil yang ditemukan

KAJIAN PUSTAKA Auditor

5) Manajemen Bagian Audit Internal

Tugiman (2006) menyatakan pimpinan bagian audit harus mengelola bagian audit internal secara tepat. Apabila semua indikator tersebut dapat dilaksanakan dengan baik, maka peran auditor internal dapat berjalan efektif.

Kecurangan (Fraud)

Tunggal (2012) mendefinisikan fraud sebagai:

“Fraud is an advantage gained by unfair or wrong ful means, an infraction of the rules of fair trade; a false representation of fact made knowingly; without belief in its truth, recklessly, not caring whether it is true or false”.

Bentuk-bentuk kemungkinan terjadinya kecurangan yang dapat timbul antara lain: 1. Kecurangan manajemen (management fraud)

Kecurangan manajemen yang terjadi dalam bentuk penggelapan aktiva perusahaan, misalnya penggelapan uang perusahaan yang didukung dengan memanipulasi laporan keuangan, data dan informasi akuntansi yang akan disajikan dalam laporan keuangan diubah dengan sengaja.

2. Kecurangan karyawan (employee fraud)

Kecurangan karyawan yang terjadi dalam bentuk pemalsuan daftar gaji, dengan menciptakan karyawan palsu, kemudian menguangkan gaji tersebut.

30

Fraud umumnya terjadi karena adanya tekanan melakukan penyelewengan

dan dorongan memanfaatkan kesempatan yang ada, dan adanya pembenaran (diterima secara umum) terhadap tindakan tersebut. Faktor pendorong fraud diartikan sebagai pemanfaatan “kesempatan atau peluang” untuk mengambil keuntungan melalui cara-cara yang merugikan.

Disamping itu, adanya Fraud Triangle dalam penelitian Cressey (1940), menyatakan kecurangan dipengaruhi oleh 3 faktor, yaitu pressure (dorongan),

opportunity (peluang), dan rationalization (rasionalisasi), sebagaimana ditunjukkan

pada gambar 1 berikut :

Gambar 1

Fraud Triangle (Cressey 1940)

Pressure adalah dorongan yang menyebabkan seseorang melakukan fraud,

contohnya hutang atau tagihan yang menumpuk, gaya hidup mewah, ketergantungan narkoba, dan lain sebagainya.

Opportunity adalah peluang yang memungkinkan fraud terjadi. Biasanya

disebabkan karena internal control suatu organisasi yang lemah, kurangnya pengawasan, dan/atau penyalahgunaan wewenang.

Rationalization menjadi elemen penting dalam terjadinya fraud, dimana pelaku

akan mencari pembenaran atas tindakannya.

Mendeteksi Fraud

Deteksi fraud merupakan upaya mendapatkan indikasi awal yang cukup mengenai tindakan fraud, sekaligus mempersempit ruang gerak para pelaku fraud. Ketika pelaku menyadari prakteknya telah diketahui, maka sudah terlambat untuk

31 berkelit (Valery 2011). Kasus fraud yang semakin marak terjadi membuat kerugian cukup besar bagi perusahaan. Apabila fraud tidak bisa dideteksi dan dihentikan, akan berakibat fatal bagi perusahaan. Untuk itu, manajemen perusahaan harus mengambil tindakan yang tepat untuk mendeteksi dan mencegah terjadinya fraud.

Amrizal (2004) menguraikan garis besar cara mendeteksi kecurangan menurut

Asociation of Certified Fraud Examine (ACFE) adalah sebagai berikut:

1. Kecurangan Laporan Keuangan (Financial Statement Fraud)

Kecurangan dalam penyajian laporan keuangan umumnya dapat dideteksi melalui analisis laporan keuangan, dengan tahap:

a. Analisis Vertikal

yaitu teknik yang digunakan untuk menganalisis hubungan antara item-item dalam laporan laba rugi, neraca atau laporan arus kas dalam persentase.

Item-item dalam laporan laba rugi meliputi akun penjualan, akun pendapatan, akun pembelian, akun beban dan pengeluaran lainnya. Item-item dalam laporan neraca meliputi aktiva lancar, aktiva tetap, aktiva tidak berwujud, kewajiban jangka pendek, kewajiban jangka panjang dan ekuitas. Item dalam laporan arus kas meliputi arus kas dari aktivitas operasi, arus kas dari aktivitas investasi dan arus kas dari aktivitas pendanaan.

b. Analisis Horizontal

yaitu teknik menganalisis persentase-persentase perubahan item laporan keuangan selama beberapa periode laporan, yang meliputi analisis perolehan laba bersih setiap tahunnya, analisis besarnya pajak terutang, serta analisis besarnya biaya-biaya yang lain.

c. Analisis Rasio

yaitu alat mengukur hubungan antara nilai-nilai item dalam laporan keuangan. Sebagai contoh current rasio, adanya penggelapan uang atau pencurian kas dapat menyebabkan turunnya perhitungan rasio tersebut.

32 1) Rasio likuiditas terdiri dari:

Current ratio Quick ratio 2) Rasio solvabilitas

Rasio hutang terhadap harta (debt to asset ratio) Rasio hutang terhadap ekuitas (debt to equity ratio) 3) Rasio profitabilitas

Net Profit Margin

Return on Investment

Return on Equity

4) Rasio aktivitas

 Perputaran persediaan

 Perputaran aktiva tetap  Perputaran total aktiva

2. Penyalahgunaan Aset (Asset Misappropriation)

Variasi pendeteksian kecurangan jenis ini sangat beragam. Pemahaman terhadap pengendalian internal atas pos-pos tersebut akan sangat membantu dalam mendeteksi kecurangan. Metode-metode yang biasa digunakan antara lain:

a. Analytical Review

review atas berbagai akun yang mungkin menunjukkan ketidakbiasaan atau kegiatan-kegiatan yang tidak diharapkan, meliputi analisa comparative dan analisa rasio keuangan. Analisa comparative (analisa perbandingan) dapat dilakukan dengan cara membandingkan angka-angka laporan keuangan untuk tahun yang diaudit dengan :

1. angka laporan keuangan periode sebelumnya; 2. anggaran atau forecast (ramalan);

3. data kompetitor perusahaan;

33 Analisa ini terutama untuk mendeteksi adanya fluktuasi akun laporan keuangan yang signifikan dan memerlukan prosedur pengujian lebih lanjut. Sedangkan analisa rasio secara umum meliputi analisa rasio likuiditas, rasio aktivitas, rasio solvabilitas dan rasio profitabilitas. Sebagai contoh adalah perbandingan antara pembelian barang persediaan dengan penjualan bersihnya yang dapat mengindikasikan adanya pembelian yang terlalu tinggi atau terlalu rendah bila dibandingkan dengan tingkat penjualan.

b. Statistical Sampling

melakukan sampling atas pos-pos tertentu yang dicurigai, misalnya persediaan. Dokumen dasar pembelian dapat diuji secara sampling untuk menentukan ketidakbiasaan (irregularities), metode deteksi ini akan efektif jika ada kecurigaan terhadap satu atributnya, misalnya pemasok fiktif. Suatu daftar alamat PO BOX akan mengungkapkan adanya pemasok fiktif Vendor

or Outsider Complaints atau keluhan dari konsumen, pemasok, atau pihak lain

merupakan alat deteksi yang baik yang dapat mengarahkan auditor untuk melakukan pemeriksaan lebih lanjut.

c. Site Visite – Observation

observasi ke lokasi biasanya dapat mengungkapkan ada tidaknya pengendalian internal di lokasi-lokasi tersebut.

3. Korupsi (Corruption)

Kecurangan ini dapat dideteksi melalui keluhan dari rekan kerja yang jujur, laporan dari rekan, atau pemasok yang tidak puas dan menyampaikan komplain ke perusahaan. Atas sangkaan terjadinya kecurangan ini kemudian dilakukan analisis terhadap tersangka atau transaksinya. Korupsi dapat dicegah dengan beberapa cara diantaranya dengan penerapan corporate

governance yang baik.

Mencegah Fraud

COSO (1992) mendefinisikan pencegahan kecurangan adalah aktivitas yang dilaksanakan manajemen dalam hal penetapan kebijakan, sistem dan prosedur yang

34 membantu meyakinkan bahwa tindakan yang diperlukan sudah dilakukan dewan komisaris, manajemen, dan personil lain perusahaan untuk dapat memberikan keyakinan memadai dalam mencapai 3 (tiga) tujuan pokok yaitu keandalan pelaporan keuangan, efektivitas dan efisiensi operasi serta kepatuhan terhadap hukum dan peraturan yang berlaku.

Beberapa teknik pencegahan fraud dapat dilakukan dengan prosedur yang tepat dalam perusahaan karena hal ini merupakan langkah awal mencegah fraud. Prosedur yang tepat tidak berarti tanpa dukungan karyawan yang bekerja dalam perusahaan. Oleh karena itu, dibutuhkan audit yang independen terhadap karyawan. Untuk menciptakan hubungan baik antara manajemen dengan karyawan, manajemen harus sering mengadakan pertemuan untuk menyampaikan pendapat atau keluhan yang dihadapi. Dari pertemuan yang dilakukan, tingkah laku masing-masing karyawan dapat diketahui sehingga terjalin komunikasi yang baik antara kedua belah pihak. Adanya upaya pencegahan yang diterapkan oleh perusahaan dapat memperkecil peluang terjadinya fraud, karena setiap tindakan fraud dapat terdeteksi cepat dan di antisipasi oleh perusahaan. Setiap karyawan tidak merasa tertekan lagi dan melakukan pembenaran terhadap tindakan fraud yang dapat merugikan banyak pihak.

Pickett (2001) mengemukakan beberapa metode pencegahan yang harus dilakukan antara lain (1) good recruitment procedure, (2) independent checks over

work, (3) regular staff meetings, (4) an employee code of conduct dan (5) good communication. Dari 5 metode pencegahan tersebut, beberapa teknik pencegahan fraud dapat dilakukan dengan membuat prosedur tepat dalam perusahaan, karena hal

ini merupakan langkah awal mencegah fraud.

Adanya penerapan Good Corporate Governance membuat sejumlah perusahaan mengeluarkan kebijakan terkait upaya pencegahan fraud. Salah satu cara tersebut dengan memberi kesempatan auditor internal untuk mendeteksi dan mencegah fraud yang mungkin terjadi dalam lingkungan organisasi. Apabila teknik pencegahan fraud berjalan baik dan efektif akan membuat citra positif bagi

35 perusahaan karena meningkatnya kepercayaan publik. Fraud merupakan masalah dalam perusahaan dan harus dicegah sedini mungkin.

Menurut Badan Pengawas Keuangan dan Pembangunan (BPKP 2008) pencegahan fraud yang efektif memiliki 5 (lima) tujuan yaitu:

1. Prevention, yaitu mencegah terjadinya fraud secara nyata pada semua lini organisasi.

2. Deterence, yaitu menangkal pelaku potensial bahkan tindakan untuk yang bersifat coba-coba.

3. Discruption, yaitu mempersulit gerak langkah pelaku fraud sejauh mungkin. 4. Identification, yaitu mengidentifikasi kegiatan yang memiliki risiko tinggi dan

kelemahan pengendalian.

5. Civil action prosecution, yaitu melakukan tuntutan dan penjatuhan sanksi yang setimpal atas perbuatan fraud kepada pelakunya.

Dokumen terkait