• Tidak ada hasil yang ditemukan

MANAJEMEN HIPERSENSITIVITAS DENTIN

Dalam dokumen HIPERSENSITIVITAS DENTIN (Halaman 47-58)

Hipersensitivitas Dentin jika dibiarkan maka akan dapat membuat kelainan pada pulpa seperti pulpitis serta dapat membuat gigi hingga nekrosis. Dalam menangani hipersensitivitas dentin terdapat beberapa hal yang harus dilakukan yaitu rencana perawatan, dental health education (DHE) kepada pasien, serta perawatannya.

Perawatannya dibedakan menjadi perawatan restorasi dan perawatan desensitisasi.

Perawatan Restorasi

Hipersensitivitas dentin yang disebabkan oleh kavitas dalam penanganannya diperlukan restorasi, ada beberapa jenis restorasi yang digunakan yaitu dengan menggunakan Glass Ionomer Cement dan Resin Komposit.

Glass Ionomer Cement (GIC)

Glass Ionomer Cement (GIC) mulai diperkenalkan pada awal tahun 1970 dan telah digunakan secara luas di bidang kedokteran gigi hingga saat ini. Glass Ionomer Cement adalah semen berbasis air yang terbentuk melalui reaksi asam-basa antara bubuk aluminosilikat kaca dengan asam poliakrilik sebagai likuid. Material ini mampu melepaskan ion fluor yang dapat melindungi gigi dari karies, berikatan secara kimia pada dentin maupun enamel, memiliki koefisien termal mirip gigi, biokompatibilitas tinggi dan mudah dimanipulasi.

Terdapat kekurangan pada bahan GIC yaitu bersifat brittle, memiliki sifat mekanis buruk dan kurang estetis. Hal tersebut menyebabkan penggunaan GIC sebagai material restorasi terbatas pada daerah yang tidak membutuhkan tekanan besar dan estetis.30

Resin Komposit

Resin komposit adalah bahan yang banyak digunakan di kedokteran gigi modern. Bahan tersebut digunakan untuk merestorasi karies, abrasi enamel dan juga untuk estetika karena memiliki kesesuaian yang baik dengan gigi. Resin komposit memiliki sifat mekanik salah satunya adalah kekerasan permukaan. Kekerasan permukaan merupakan suatu alat ukur bahan restorasi yang digunakan untuk mengetahui daya tahan terhadap keausan, karena dapat mempengaruhi terhadap gesekan mekanik saat mengunyah makanan dan menyikat gigi.

Resin komposit memiliki sifat mekanik salah satunya adalah kekerasan permukaan. Kekerasan permukaan merupakan suatu alat ukur bahan restorasi yang digunakan untuk mengetahui daya tahan terhadap keausan, karena dapat mempengaruhi terhadap gesekan mekanik saat mengunyah makanan dan menyikat gigi.28,29 Tahap pertama preparasi kavitas adalah memperoleh akses kavitas menggunakan bur bulat diameter 1 mm yang dipasang pada contra angle high speed.

Bur bulat dioperasikan dengan tekanan intermittent sampai mencapai area dentinoenamel junction. Akses yang sudah didapat kemudian dilebarkan menggunakan flat-end cylinder fissure bur, mengikuti outline form yang telah ditandai dengan pulpen marker. Hasil preparasi selalu diperiksa kembali sebelum dilakukan restorasi. Semua kavitas dari dua kelompok subjek penelitian dibersihkan menggunakan semprotan air kemudian dikeringkan dengan semprotan udara.

Setelah itu semua subjek dilakukan pengetsaan dan pengaplikasian bonding.

Selanjutnya, pada kelompok IA diaplikasi dengan resin komposit flowable 0,5 mm kemudian aktivasi sinar selama 20 detik dengan teknik ramped dari oklusal berikutnya dilakukan penumpatan resin komposit packable secara bulk dan dilakukan penyinaran selama 20 detik dengan teknik ramped. Kelompok IB diaplikasi dengan resin komposit flowable 0,5 mm kemudian aktivasi sinar selama 20 detik dengan teknik konvensional dari oklusal berikutnya dilakukan penumpatan resin komposit packable secara bulk dan dilakukan penyinaran selama 20 detik dengan teknik konvensional.28,29

Kelompok IIA tanpa diaplikasi flowable resin komposit, dilakukan penumpatan resin komposit packable secara bulk dan dilakukan penyinaran selama 20 detik dengan

teknik ramped. Kelompok IIB tanpa diaplikasi flowable resin komposit, dilakukan penumpatan resin komposit packable secara bulk dan dilakukan penyinaran selama 20 detik dengan teknik konvensional. 28,29

Perawatan Desensitisasi

Pada hipersensitivitas dentin yang disebabkan tooth wear diperlukan perawatan seperti pemberian agen desensitisasi dalam menangani hipersensitivitas gigi yaitu, klasifikasi at home dan in- office. Pemakaian pasta gigi dengan agen desensitisasi dilakukan ketika hipersensitivitas dentin tidak disebaka oleh kavitas melainkan karena struktur pelindungnya yaitu enamel menipis. Menurut Grossman (1935) agen desensitisasi yang ideal harus tidak menimbulkan iritasi pada pulpa, relatif tidak menimbulkan rasa sakit, mudah diaplikasikan, bertindak cepat, efektif secara permanen dan tidak mengubah warna struktur gigi. Agen desentisasi dibedakan klasifikasi cara pemberiannya, yaitu at home dan in-office.10

Perawatan yang dilakukan oleh dokter gigi di klinik (In-Office) Selain pasta gigi desensitiasi, dokter gigi mungkin menggunakan berbagai obat untuk mengurangi hipersensitivitas dentin. Berbagai produk telah digunakan untuk mengurangi hipersensitivitas dentin, termasuk bahan berbasis resin, sodium fluoride varnish, oxalates dan hydroxyethylmethacrylate (HEMA). Produk ini bekerja dengan cara menutup tubulus dentin. Arginin-CaCO3 juga digunakan sebagai bahan aktif dalam pasta yang digunakan secara profesional untuk menangani dentin hipersensitivitas selain itu.10

Perawatan sendiri di rumah (At Home)

Penggunaan pasta gigi yang tidak sensitif dianggap oleh banyak orang sebagai rekomendasi. Ini efektif tetapi seringkali membutuhkan waktu 4 hingga 8 minggu untuk menghilangkan rasa sakit. Dua pendekatan pengobatan telah digunakan untuk meredakan hipersensitivitas dentin. Pendekatan pertama adalah dengan menghentikan respon saraf terhadap rangsangan nyeri dan yang lainnya adalah menutup tubulus yang

terbuka untuk memblokir mekanisme hidrodinamik. Banyak pasta gigi desensitisasi mengandung zinc chloride, potassium monophosphate, Arginine, potassium salts, stronsium salts dan fluoride. Potassium salts seperti potassium nitrate dan potassium citrate memberikan ion kalium untuk mengurangi rangsangan saraf yang menyalurkan sensasi nyeri. Stronsium salts seperti strontium chloride dan strontium acetate membentuk endapan termineralisasi di dalam tubulus dentin berpori dan pada permukaan dentin yang terbuka.10

Senyawa fluoride seperti calcium fluoride membentuk pengendapan senyawa logam yang tidak larut, terutama butiran calcium fluoride, yang mendorong remineralisasi dan menutup lubang gigi pada permukaan dentin yang terbuka. Pasta gigi desensitisasi yang baru-baru ini tersedia dengan bahan kimia baru seperti amorphous calcium phospate dan phospopeptide-amorphous calcium phospate(ACP- CPP) dan arginin dan kalsium karbonat (Arginin CaCO3) sekarang tersedia di pasaran.

ACP-CPP dan Arginin-CaCO memiliki cara kerja yang sama untuk menutup dan memblokir tubulus dentin yang terbuka stimulasi eksternal berasosiasi dengan hipersensitivitas.

Studi telah menggunakan kacamata bioaktif dan biokompatibel yang diketahui menginduksi osteogenesis dalam sistem fisiologis, dan karenanya secara teoritis dapat menutup tubulus. Pasta gigi dengan calcium sodium phosphosilicate bioactive glass juga diperkenalkan. Bahan ini telah terbukti menutup dan menyumbat tubulus dentin yang terbuka dan dengan demikian mengurangi hipersensitivitas dentin.10 Pasta gigi desensitisasi banyak digunakan pada zaman sekarang beberapa kandungan desentisiasi yang digunakan yaitu fluoride, zinc chloride dan arginin

A. Fluoride

Menurut Abdillah (2016) fluoride dapat berpengaruh dalam penurunan diameter tubulus dentin. Hipersensitivitas dentin berkaitan erat dengan peningkatan permeabilitas tubulus dentin yang terbuka pada area permukaan gigi. Tubulus dentin dapat terbuka jika lapisan pelindung dentin berupa enamel dan sementum hilang karena karies, erosi, abrasi, ataupun atrisi. Permeabilitas tubulus dentin yang tinggi dapat menyebabkan cairan di dalam tubulus dentin bergerak karena respon dari suhu,

sentuhan, ataupun perubahan tekanan sehingga menganggu reseptor saraf di dalamnya dan menimbulkan sensasi nyeri. Fluoride yang digunakan pada perawatan hipersensitivitas gigi dapat berpenetrasi ke dalam tubulus dentin dan mengubah ukuran diameter tubulus dentin.11

Senyawa fluoride tersebut akan menutup tubulus dentin yang terpapar dengan lingkungan rongga mulut dan menahan stimulus yang memicu hipersensitivitas dentin Penurunan diameter tubulus dentin menunjukkan adanya perubahan pada tubulus dentin akibat pengaruh dari fluoride. Ion fluoride dalam larutan dapat berinteraksi dengan mineral dentin dalam beberapa cara yang berbeda. Interaksi antara ion fluoride dengan kalsium dalam tubulus dentin dapat membentuk kalsium fluoride (CaF2) yang dapat menurunkan permeabilitas tubulus dentin. Pembentukan kalsium fluoride (CaF2) menjadi faktor penurunan diameter tubulus dentin dan penutupan tubulus dentin dengan cara mengendapkan CaF2 kristal. Pembentukan kalsium fluoride juga dapat memicu proses remineralisasi pada hidroksiapatit.11

B. Zinc chloride

Gottlieb mengembangkan metode zinc chloride dengan potassium ferrocyanide untuk mengontrol tingkat sensitivitas yang disebabkan oleh terbukanya permukaan akar. Prosedurnya dengan cara larutan 40% zinc chloride dioleskan pada bagian gigi lalu dibiarkan 1 menit lalu diikuti dengan menggosok kuat-kuat dengan potassium ferrocyanide sampai terdapat kristal yang berwarna orange untuk menutup permukaan gigi.10

C. Arginin

Menurut Karol (2013) menyatakan bahwa pasta gigi desensitisasi mengandung arginin secara signifikan menurunkan tingkat sensitivitas gigi pada penderita hipersensitivitas dentin dibanding dengan pasta gigi mengandung kalium.11 Cara kerja arginin dengan menyikat menggunakan pasta gigi yang mengandung arginin 8% dan fluorida 1450 ppm, lalu berkumur dengan 20 ml obat kumur selama 30 detik.

Fazrina (2011) telah melakukan penelitian infiltrasi tubulus dentin dengan pasta desensitasi pro-Argin yang mengandung arginin, asam amino, dan kalsium karbonat sebagai sumber kalsium dalam pasta ini, dan diperoleh kedalaman tumpatan sedalam 2

µm saja. Tumpatan yang hanya 2 µm ini rentan terkikis oleh berbagai gerakan mekanis cairan dalam mulut seperti halnya kocokan air ketika berkumur, sehingga banyak dokter gigi menghimbau pada pasien untuk tidak berkumur terlalu lama setelah penyikatan gigi dengan pasta desensitasi. Arginin kemudian mengendapkan bahan seperti dentin yaitu kalsium dan fosfat membentuk sumbatan dan menutup tubulus dentin.12

Sikat Gigi

Sikat gigi adalah alat untuk membersihkan gigi yang berbentuk sikat kecil dengan pegangan. Sikat gigi diperkirakan sudah ada sejak 3.500 SM oleh bangsa Babilonia dan Mesir. Berdasarkan temuan sejarah ini, sikat gigi dinyatakan sebagai salah satu alat paling tua yang masih digunakan oleh manusia sampai sekarang.27

Sikat gigi merupakan salah satu alat fisioterapi mulut yang digunakan secara luas untuk membersihkan gigi dan mulut. Menyikat gigi menggunakan sikat gigi untuk penyingkiran plak secara mekanis, dengan berbagai ukuran, bentuk, tekstur, dan desain dengan berbagai derajat kekerasan dari bulu sikat. Salah satu penyebab banyaknya bentuk sikat gigi yang tersedia adanya variasi waktu menyikat gigi, gerakan menyikat gigi, tekanan, bentuk dan jumlah gigi pada setiap orang.27

Jenis Sikat Gigi A. Sikat Gigi Manual

Sikat gigi manual terdiri atas kepala sikat (head), bulu sikat (bristle) dan tangkai atau pegangan (handle). Umumnya kepala sikat bervariasi, bentuknya ada yang segiempat, oval, segitiga atau trapesium agar bisa disesuaikan dengan anatomi individu yang berbeda. Kekerasan bulu sikat juga bervariasi seperti keras (hard), sedang (medium) dan lunak (Gambar 29). Yang penting diingat bahwa sikat gigi orang dewasa harus berbeda dari sikat gigi anak-anak baik ukuran kepala sikat maupun kekerasan bulu sikatnya.26

Gambar 29. Sikat gigi manual26

B. Sikat Gigi Elektrik

Kebanyakan kepala sikat gigi elcktrik lebih kecil dari sikat gigi manual dan biasanya dapat dibuka-buka untuk diganti. Menurut Yankell, kepala sikat gigi elektrik mengikuti tiga pola dasar pada waktu dipasang, yaitu 1) resiprokal yaitu gerakan maju- mundur; 2) arcuate yaitu gerakan ke atas-bawah; dan 3) elips yaitu kombinasi gerakan resiprokal dan arcuate. Banyak penelitian yang membuktikan bahwa sikat gigi elcktrik lebih efektif daripada sikat gigi manual dalam menyingkirkan plak. Hal ini mungkin disebabkan karena penggunaan sikat gigi elektrik lebih mudah sehingga dapat menghemat waktu dan tidak memerlukan keterampilan khusus untuk menggunakannya.26

Gambar 30. Sikat Gigi elektrik26

Waktu dan Frekuensi Penyikatan Gigi

American Dental Association (ADA) menyatakan bahwa pasien harus menyikat secara teratur, minimal 2 kali sehari yaitu pagi hari setelah sarapan da tidur malam. Hasil penelitian menunjukkan bahwa bila plak disingkirkan setiap hari secara sempurna maka tidak akan menimbulkan efek pada rongga mulut. Oleh karena hanya

sedikit orang yang bisa menyingkirkan plak secara sempurna, maka perlu tetap ditekankan pembersihan sulkus sebagai kontrol terhadap penyakit periodontal dan lebih sering menggunakan pasta yang mengandung fluor untuk mengontrol karies.26

Waktu menyikat gigi pada setiap orang tidak sama, bergantung pada beberapa faktor seperti kecenderungan seseorang terhadap olak dan debris. Hanya setelah pasien berulangkali menyikat gigi dengan diawasi oleh tenaga professional, maka baru dapat ditentukan berapa kali sebaiknya orang tersebut menggosok gigi. Biasanya, lama menyikat gigi adalah kira-kira 1 menit, walaupun demikian ada juga yang melaporkan 2-2,5 menit. Penentuan waktu ini tidak bisa sama pada setiap orang terutarna pada orang yang sangat memerlukan program kontrol plak. Yang penting diingat bahwa sebaiknya pasien diberitahu urutan menyikat gigi. Biasanya dimulai dari bagian distal gigi paling belakang rahang atas dan kemudian oklusal dan insisisalnya sampai seluruh permukaan gigi rahang setelahnya tercakup. Hal yang sama dilakukan pada rahang bawah.26

Electrical Pulp Test (EPT)

Penilaian respons saraf pulpa (vitalitas) juga dapat dilakukan dengan EPT vitalitas pulpa ditentukan oleh keutuhan dan kesehatan suplai vaskular. EPT memiliki beberapa keterbatasan dalam memberikan informasi yang dapat memprediksi tentang vitalitas pulpa. Pembacaan numerik pada EPT memiliki signifikansi hanya jika jumlahnya berbeda secara signifikan dari pembacaan yang diperoleh dari gigi kontrol yang diuji pada pasien yang sama dengan elektroda yang diposisikan di area yang sama pada kedua gigi (Gambar 31).31

Beberapa penelitian telah menunjukkan bahwa hasil pengujian EPT paling akurat ketika tidak ada respons yang diperoleh untuk sejumlah arus listrik. Kurangnya respons ini paling sering ditemukan saat adanya nekrosis pulpa. Selain itu, respons false-positive dan false-negative dapat terjadi dan dokter harus mempertimbangkannya saat merumuskan diagnosis akhir. EPT tidak akan berfungsi kecuali probe dapat dihubungkan dengan struktur gigi asli. Beberapa dokter mungkin meminta pasien

untuk meletakkan satu jari pada probe untuk menyelesaikan sirkuit listrik namun, penggunaan lip clips merupakan alternatif untuk tidak meminta pasien memegang probe.31

Penggunaan EPT yang tepat membutuhkan gigi yang dievaluasi untuk diisolasi dan dikeringkan dengan hati-hati. Gigi kontrol yaitu dengan jenis dan lokasi gigi di lengkung rahang yang sama harus diuji terlebih dahulu untuk menetapkan respons dasar dan untuk memberi tahu pasien seperti apa sensasi “normal” itu. Gigi yang dicurigai harus diuji setidaknya dua kali untuk memastikan hasilnya. Ujung probe yang akan ditempatkan bersentuhan dengan struktur gigi harus dilapisi dengan media air.

Media yang paling umum digunakan adalah pasta gigi. Ujung probe ditempatkan di sepertiga insisal dari permukaan bukal gigi yang akan diuji. Setelah probe kontak dengan gigi, pasien diminta untuk menyentuh atau memegang probe tester. Pasien diinstruksikan untuk melepaskan jarinya dari probe saat ada sensasi “kesemutan” atau

“hangat” pada gigi.

Nilai ambang sensitivitas EPT sekitar 0-80, nilai 0-40 artinya sensitiv dan nilai 41-80 artinya tidak sensitiv. Semakin tinggi nilai ambang pada ept maka sensitivitas semakin rendah dan semakin rendah nilai ept semakin tinggi sensitivitas gigi.

Pembacaan dari EPT dicatat dan akan dievaluasi setelah semua gigi yang diperiksa telah diuji oleh dokter.31

Gambar 31. Electrical Pulp Test31

Peran Dokter Gigi

Hipersensitivitas dentin secara klinis didefinisikan sebagai rasa sakit singkat dan tajam akibat dari rangsangan termal, taktil, osmotik atau kimiawi. Tanda awal terjadi ketika pasien minum dingin atau panas dan makan asam atau manis langsung mengalami nyeri/ngilu. terasa nyeri karena pada saat makanan asam atau manis mengakibatkan tubulus dentin terbuka, cairan pada tubulus dentin bergerak kearah pulpa yang menstimulasi terminal serabut saraf pulpa yang terletak di dalam dinding saluran tubulus sehingga menyebabkan nyeri akut sementara terutama saraf Aδ yang menyebabkan nyeri tajam dan terlokalisasi.1,2 Serabut aferen Aδ melepaskan amino glutamat ditangkap oleh reseptor nerve cranial ke 5 di trigerminal V masuk ke medulla spinalis di radices posteriors nervi spinalis berakhir di lapisan superfisial corny griseum posterius. Akson-akson menyilang ke sisi kontralateral medulla spinalis lalu naik menuju thalamus dan diteruskan ke gyrus sensorius postcentralis yang membuat rasa nyeri kepada penderita.7

Tingkat sensitivitas gigi dapat diturunkan dengan beberapa cara, untuk hipersensitivitas dentin dengan kavitas diatasi dengan GIC dan resin komposit tetapi yang disebabkan tooth wear diatasi dengan pasta gigi desensitisasi.30 Perawatan desensitisasi dibagi 2 yaitu perawatan yang dilakukan dokter gigi (in-office) dan perawatan yang dilakukan pasien di rumah (at-home).10 Hipersensitivitas dentin disebabkan oleh beberapa faktor seperti abrasi, atrisi, abfraksi, erosi, resesi gingiva dan amelogenesis imperfect.23,24 Peran dokter gigi dalam menurunkan insiden hipersensitivitas dentin dengan cara mengetahui morfologi gigi, patofisiologi dan perawatan dalam menangani hipersensitivitas dentin.

BAB 5 KESIMPULAN

Hipersensitivitas dentin merupakan nyeri ringan dan tajam yang timbul dari permukaan dentin yang disebabkan oleh tubulus dentin yang terbuka ketika rangsangan langsung ke dentin maka cairan pada tubulus dentin bergerak dan mengaktifkan saraf alfa delta yang membuat nyeri ringan dan tajam. Terjadi sekali-sekali karena dipicu oleh makanan dan minuman yang asam, manis, pahit serta dingin.

Perawatan yang dapat dilakukan dalam menangani hipersensitivitas dentin dapat dibagi 2. Perawatan hipersensitivitas dentin dengan kavitas dan perawatan hipersensitivitas dentin tanpa kavitas. Perawatan dengan kavitas dapat dilakukan dengan cara restorasi memakai resin komposit, dental sealant dan GIC. Perawatan tanpa kavitas dapat dilakukan dengan cara desensitisasi memakai fluoride, zinc chloride dan arginine, dari ketiga bahan itu dapat disimpuljan bahwa bahan yang paling efektif ialah zinc chloride.

Pengukuran tingkat sensitivitas gigi dapat kita lakukan dengan memakai alat EPT. Tes elektrik ini dilakukan dengan cara ujung probe yang akan ditempatkan bersentuhan dengan struktur gigi harus dilapisi dengan media, ditempatkan pada sepertiga insisal dari permukaan bukal gigi yang akan diuji. Setelah probe kontak dengan gigi, pasien diminta untuk menyentuh atau memegang probe tester. Pasien diinstruksikan untuk melepaskan jarinya dari probe saat ada sensasi “kesemutan” atau

“hangat” pada gigi. Nilai ambang sensitivitas EPT sekitar 0-80, nilai 0-40 artinya sensitive dan nilai 41-80 artinya tidak sensitif. Semakin tinggi nilai ambang pada EPT maka sensitivitas semakin rendah dan semakin rendah nilai EPT semakin tinggi sensitivitas gigi.

Dalam dokumen HIPERSENSITIVITAS DENTIN (Halaman 47-58)

Dokumen terkait