LANDASAN TEORI
A. Manajemen Konflik 1. Konflik
2. Manajemen Konflik
a Pengertian Manajemen Konflik
Konflik tidak hanya harus diterima dan dikelola dengan baik, tetapi juga harus didorong, karena konflik merupakan kekuatan untuk mendapatkan perubahan dalam suatu lembaga atau kelompok (Hardjana, 1994). Edelmen, R.J. dalam (Wahyudi, 2005) menegaskan bahwa, jika konflik dikelola secara sistematis dapat berdampak positif yaitu, memperkuat hubungan kerjasama, meningkatkan kepercayaan diri, mempertinggi kreativitas dan produktivitas serta meningkatkan kepuasan kerja. Oleh karena itu kemampuan manajemen konflik sangat penting untuk diperhatikan
Manajemen konflik sendiri dapat diartikan sebagai tugas mengelola suatu permasalahan yang timbul akibat salah paham atau perselisihan yang dilakukan oleh individu atau kelompok. Apabila dapat diatasi dengan baik maka hubungan akan meningkat dan mencapai persetujuan. Sedangkan manajemen konflik yang buruk dapat membuat semakin salah paham dan membuat buruknya hubungan interpersonal (Johnson&Johnson, 1994).
Sedangkan tujuan dari adanya manajemen konflik tersebut adalah mencapai kinerja yang optimal dengan cara memelihara konflik tetap fungsional dan meminimalkan akibat konflik yang merugikan
yang selanjutnya dalam mencapai tujuan yang diperjuangkan dan menjaga hubungan pihak-pihak yang terlibat konflik agar tetap baik (Hardjana, 1994).
b. Gaya-gaya Manajemen Konflik
Orang yang terlibat dalam situasi konflik memiliki gaya manajemen konflik yang berbeda-beda. Masing-masing individu dapat menggunakan beberapa macam gaya, namun seringkali hanya gaya tertentu yang digunakan seseorang (Killman&Thomas, 1992).
Setiap orang dapat menggunakan manajemen konfik yang bervariasi tergantung pada situasinya. Suatu gaya manajemen konflik mungkin cocok untuk satu situasi, tetapi belum tentu cocok untuk situasi yang lain. Tetapi biasanya seseorang akan memiliki kecenderungan untuk menggunakan satu gaya manajemen konflik tertentu (David. A. Decenzo, 1997)
William Hendrick (1992) menyamakan istilah teknik penyelesaian konflik dengan gaya atau style manajemen konflik yang dapat diterapkan dalam menyelesaikan konflik. Ada lima macam cara dalam menghadapi konflik yang terjadi yaitu:
1) Penyelesaian konflik dengan cara mempersatukan(integrating)
Penyelesaian konflik dengan cara integrating yaitu, pihak-pihak yang terlibat konflik melakukan tukar-menukar informasi. Kedua belah pihak mempunyai keinginan untuk mengamati perbedaan dan mencari solusi yang dapat diterima oleh semua pihak yang sedang
berkonflik. Penyelesaian konflik dengan mempersatukan mendorong munculnya kreativitas yang bersangkutan. Kelemahan gaya penyelesaian ini adalah membutuhkan waktu yang lama dan dapat menimbulkan kekecewaan karena penalaran dan perimbangan rasional seringkali dikalahkan oleh komitmen emosional untuk suatu posisi.
2) Strategi kerelaaan untuk membantu(obliging)
Strategi ini berperan untuk mengurangi perbedaan antar kelompok dan mendorong pihak-pihak yang terlibat konflik untuk mencari-cari persamaan. Perhatian pada orang atau kelompok lain, akan menyebabkan seseorang merasa puas karena keinginannya dipenuhi oleh pihak lain, walaupun salah satu pihak harus mengorbankan sesuatu yang penting baginya. Gaya semacam ini dapat digunakan sebagai strategi yang sengaja untuk mengangkat atau membuat pihak lain merasa lebih baik dan senang terhadap suatu isu.
3) Teknik dominasi(dominating)
Teknik ini merupakan kebalikan dari gaya obliging, menekankan pada kepentingan diri sendiri. Kewajiban sering diabaikan demi kepentingan pribadi atau kelompok dan cenderung meremehkan kepentingan orang lain. Teknik dominasi sangat efektif apabila suatu keputusan harus diambil secara tepat.
4) Teknik menghindar(avoiding)
Salah satu strategi dalam pengendalian konflik dengan cara menghindari suatu permasalahan. Pihak yang menghindar dari konflik tidak menempatkan suatu nilai pada diri sendiri atau orang lain. Gaya menghindar berarti menghindar dari tanggung jawab atau mengelak dari suatu isu konflik, menghindar dengan lawan konfliknya, menekan konflik yang terjadi. Aspek negatif dari gaya ini adalah melemparkan masalah pada orang lain, atau mengesampingkan masalah.
5) Gaya penyelesaian konflik dengan cara kompromi(compromising)
Gaya ini dikategorikan efektif bila isu konflik mempunyai kekuatan yang berimbang. Teknik kompromi dapat menjalin pilihan bila metode lain gagal dan kedua pihak mencari jalan tengah. Pada kompromi masing-masing pihak rela memberikan sebagian kepentingannya (win-win solution). Kompromi dapat berarti membagi perbedaan atau bertukar sesuatu, masing-masing bersedia mengorbankan sesuatu agar tercapai penyelesaian. Dalam gaya ini dibutuhkan keahlian untuk bernegosiasi dan tawar-menawar.
Jika digambarkan maka, lima gaya manajemen konflik yaitu Menghindar, Dominasi, Membantu, Kompromi, dan Mempersatukan menurut William Hendricks (1992) tersebut adalah sebagai berikut:
Diagram 1.
Gaya Manajemen Konflik menurut William Hendrick (1992)
Sedangkan startegi manajemen konflik menurut Johnson & Johnson (1994) dibedakan menjadi lima macam strategi yang sealnjutnya akan disebut gaya, yang berdasarkan pada seberapa penting hubungan baik itu bagi seseorang. Adapun kelima gaya tersebut adalah:
1) ″The Turtle″ atau ″Withdrawing″
Orang yang menggunakan gaya manajemen konflik ini selalu berusaha bersembunyi untuk menghindari konflik. Mereka menyerahkan tujuan pribadinya dan hubungan baiknya. Mereka tetap menjauh dari permasalahan yang menjadi konflik dan menjauh dari orang yang berkonflik dengannya.
2) ″The Shark″atau″Forcing″
Orang dengan gaya manajemen konflik ini mencoba untuk melawan menggunakan kekuatan penuh dengan cara mengancam sebagai solusi konflik yang mereka hadapi. Tujuan pribadi
sangatlah penting baginya dan hubungan baik tidaklah penting baginya.. Mereka berpendapat bahwa konflik hanya dapat dimenangkan oleh salah satu pihak dan pihak yang lain harus kalah. Kemenangan bagi mereka memberikan rasa kebanggaan dan keberhasilan, sedangkan kekalahan akan memberikan rasa kelemahan dan kegagalan serta tidak puas. Mereka selalu mencoba untuk menyerang, menunjukkan kekuasaan, dan mengintimidasi (menekan) orang lain.
3) ″Teddy Bear″atau″Smoothing″
Bagi orang yang menggunakan gaya ″Teddy Bear″ hubungan baik adalah kepentingan yang utama, kemudian mengenai tujuan mereka sendiri tidaklah begitu penting baginya.Orang dengan gaya ini ingin diterima dan disukai orang lain. Mereka berpikir bahwa konflik seharusnya dihindari demi anugerah keharmonisan dan percaya bahwa konflik dapat didiskusikan tanpa merusak hubungan baik. Mereka takut bahwa jika konflik berlanjut akan mengakibatkan salah satu terluka dan menyebabkan hancurnya hubungan baik. Mereka menyerahkan tujuan mereka demi menjaga hubungan baik, juga ingin mencoba meluluhkan ketegangan akibat konflk tanpa merusak hubungan orang lain. Mereka menyatakan atau menyerahkan tujuannya dan membiarkan orang lain akan menyukai dirinya. Mereka hanya ingin membuat konflik mereda,
karena mereka takut kalau-kalau nanti konflik ini akan merugikan hubungan baik.
4) ″The Fox″atau″Compromising″
Orang dengan gaya manajemen konflik ini senang memperhatikan tujuannya dan juga hubungan baik mereka dengan orang lain. Mereka selalu mencoba untuk bekerjasama dengan orang lain untuk memecahkan masalah akibat konflik. Mereka menyerahkan sebagian tujuan mereka dan membujuk orang lain menyerahkan sebagian tujuannya juga. Mereka juga mencoba solusi konflik dimana semua pihak mendapatkan sesuatu dan berada di tengah-tengah di antara dua posisi ekstrem (kanan-kiri). Mereka berkeinginan untuk mengorbankan sebagian tujuan mereka dan hubungan baik mereka, tapi sisi lain demi menemukan persetujuan bersama yang berakibat baik bagi semua pihak.
5) ″The Owl″atau″Confronting″
Kelompok orang dengan gaya manajemen konflik″The Owl″ lebih menghargai tujuan mereka sendiri dan hubungan baik mereka. Mereka memandang konflik sebagai permasalahan yang harus diselesaikan dan dicarikan solusi yang berguna bagi tujuan mereka sendiri dan orang lain, demi memperbaiki hubungan baik. Mereka mencoba untuk mulai berdiskusi, meneliti tentang konflik yang menjadi permasalahan dengan mencoba solusi yang memuaskan bagi semua pihak demi hubungan baik. Mereka merasa tidak puas
sampai solusi terbaik ditemukan demi mencapai tujuan mereka dan orang lain. Selain itu mereka tidak akan puas sampai ketegangan dan perasaan buruk ditenangkan kembali.
Penelitian ini akan menggunakan gaya manajemen konflik yang dikemukakan oleh William Hendricks (1992) yang menampilkan lima gaya manajemen konflik yaitu: mempersatukan, membantu, dominasi, kompromi, dan menghindar. Dengan melihat kecenderungan para suami dan istri dalam menggunakan manajemen konflik diharapkan dari hasil penelitian akan mengetahui apakah ada perbedaan manajemen konflik antara suami dan istri.