ABSTRAK
Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui perbedaan manajemen konflik antara suami dan istri. Dalam penelitian ini ada lima gaya manajemen konflik yaitu Menghindar, Dominasi, Membantu, Kompromi dan Mempersatukan.
Variabel bebas dalam penelitian ini adalah suami dan istri, sedangkan manajemen konflik berfungsi sebagai variable tergantung. Subjek penelitian ini adalah 45 pasang suami istri yang tinggal di dusun Ngagul-agulan, Ngaranan, Jetis Depok. Subjek penelitian diperoleh dengan teknik purposive random sampling.Pengumpulan data dalam penelitian ini menggunakan skala manajemen konflik. Teknik analisis data yang digunakan untuk menguji hipotesis dalam penelitian ini adalah“ Uji t Independent Sample t-test.”
ABSTRACT
This research aimed to explore the difference of conflict management possessed by husbands and wifes. There were five styles of conflict management found in this research, namely avoiding, dominating, accomodating, compromising, and integrating.
The independent variable of the research appeared to be the role of father and mother, whereas the conflict management functioned as the dependent variable. The research subjects were the couples who live in Ngagul-agulan, Ngaranan, Jetis Depok. The researcher employed “purposive random sampling”
in order to choose the subjects. The data gathering was conducted using the conflict management scale. Furthermore, the researcher made use of the
“independent sample t-test”analysis technique to test the hypothesis.
The results of data analysis revealed there appeared the differences of conflict management maintained husbands and wifes it was showed by the t-test. The details of each conflict management were as follows: the t result of the
avoiding conflict management were 6.843 {df: 88; sig 2 tailed < α (0.05)}. It could be concluded that the conflict management between husbands and wifes was different. The t results of the dominating conflict management were 6.590{df: 87.485; sig 2 tailed< α (0.05). This results showed that the dominating conflict management between husbands and wifes was different. The t results of helping conflict management were 3.230 {df: 68.671; sig 2 tailed < α (0.05)}, showing that the helping conflict management between husbands and wifes was different. The t results ofcompromising conflict managementwere -0.263{df: 79.283; sig 2 tailed > α (0.05), revealing that the difference of the compromising conflict management was not obvious. The t results of integrating conflict management
PERBEDAAN MANAJEMEN KONFLIK
SUAMI DAN ISTRI
SKRIPSI
Diajukan untuk Memenuhi Salah Satu Persyaratan Memperoleh Gelar Sarjana Psikologi
Program Studi Psikologi
Disusun Oleh : Cisilia Asti Kurniasari
NIM : 009114161
PROGRAM STUDI PSIKOLOGI JURUSAN PSIKOLOGI FAKULTAS PSIKOLOGI
UNIVERSITAS SANATA DHARMA YOGYAKARTA
SKRIPSI INI KUPERSEMBAHKAN UNTUK:
Bunda Maria dan Putera-Nya terkasih Yesus Kristus
Bapak Fx. Sudarto dan Ibu E. Parinah
Mbok Uwo dan Pak Uwo di atas sana
Mas Danarku
PERNYATAAN KEASLIAN KARYA
Saya menyatakan dengan sesungguhnya bahwa skripsi yang saya tulis ini tidak memuat karya atau bagian karya orang lain, kecuali yang telah disebutkan dalam kutipan dan daftar pustaka, sebagaimana layaknya karya ilmiah.
Yogyakarta, Agustus 2007 Penulis,
MOTTO
“Bersukacitalah dalam
pengharapan, sabarlah dalam
kesesakan, dan bertekunlah dalam
doa…”
ABSTRAK
Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui perbedaan manajemen konflik antara suami dan istri. Dalam penelitian ini ada lima gaya manajemen konflik yaitu Menghindar, Dominasi, Membantu, Kompromi dan Mempersatukan.
Variabel bebas dalam penelitian ini adalah suami dan istri, sedangkan manajemen konflik berfungsi sebagai variable tergantung. Subjek penelitian ini adalah 45 pasang suami istri yang tinggal di dusun Ngagul-agulan, Ngaranan, Jetis Depok. Subjek penelitian diperoleh dengan teknik purposive random sampling.Pengumpulan data dalam penelitian ini menggunakan skala manajemen konflik. Teknik analisis data yang digunakan untuk menguji hipotesis dalam penelitian ini adalah“ Uji t Independent Sample t-test.”
ABSTRACT
This research aimed to explore the difference of conflict management possessed by husbands and wifes. There were five styles of conflict management found in this research, namely avoiding, dominating, accomodating, compromising, and integrating.
The independent variable of the research appeared to be the role of father and mother, whereas the conflict management functioned as the dependent variable. The research subjects were the couples who live in Ngagul-agulan, Ngaranan, Jetis Depok. The researcher employed “purposive random sampling”
in order to choose the subjects. The data gathering was conducted using the conflict management scale. Furthermore, the researcher made use of the
“independent sample t-test”analysis technique to test the hypothesis.
The results of data analysis revealed there appeared the differences of conflict management maintained husbands and wifes it was showed by the t-test. The details of each conflict management were as follows: the t result of the
avoiding conflict management were 6.843 {df: 88; sig 2 tailed < α (0.05)}. It could be concluded that the conflict management between husbands and wifes was different. The t results of the dominating conflict management were 6.590{df: 87.485; sig 2 tailed< α (0.05). This results showed that the dominating conflict management between husbands and wifes was different. The t results of helping conflict management were 3.230 {df: 68.671; sig 2 tailed < α (0.05)}, showing that the helping conflict management between husbands and wifes was different. The t results ofcompromising conflict managementwere -0.263{df: 79.283; sig 2 tailed > α (0.05), revealing that the difference of the compromising conflict management was not obvious. The t results of integrating conflict management
KATA PENGANTAR
Puji syukur kepada Tuhan Yesus Kristus yang telah melimpahkan rahmat, kasih dan berkat-Nya kepada penulis. Atas segala kehendak-Nya penulis dapat menyelesaikan skripsi yang berjudulPERBEDAAN MANAJEMEN KONFLIK SUAMI DAN ISTRI.
Penulis menyadari bahwa dalam penulisan skripsi ini penulis banyak sekali mendapat masukan, bimbingan, saran serta bantuan dari berbagi pihak. Pada kesempatan ini penulis mengucapkan terimakasih kepada semua pihak yang telah membantu dalam penulisan skripsi ini.
Pertama-tama terimakasih pada Tuhan Yesus Kristus dan Bunda Maria tercinta. Tanpa rahmat serta penyertaan dari Bunda dan Putra terkasih-Nya saya yakin skripsi ini tidak akan selesai sampai detik ini. Karena Bunda jugalah saya menyadari bahwa kekuatan doa itu benar-benar nyata.
Bpk. P. Eddy Suhartanto, S.Psi., M.Si selaku dekan Fakultas Psikologi Universitas Sanata Dharma. Juga tak lupa penulis mengucapkan terimakasih kepadaBpk. Drs. H. Wahyudi, M.Si.selaku dosen pembimbing sekaligus dosen pembimbing akademik yang telah memberikan masukan, saran, serta bimbingannya sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi ini. Mohon maaf jika saya sering membuat bapak jengkel karena kebodohan saya.Terimakasih bapak tidak bosan melihat wajah dan skripsi saya selama hampir dua tahun ini.
sehingga skripsi ini menjadi lebih baik. Ternyata pendadaran tidaklah sengeri yang saya pikirkan.
Bapak Didik, Pak Agung, yang selalu menyediakan waktu bagi penulis berdiskusi masalah statistik. Makasih atas semua ilmu dan pengetahuan yang telah diberikan pada penulis.
Seluruh Dosen Fakultas Psikologi Universitas Sanata Dharma, terimakasih atas segala ilmu dan pengetahuan yang telah diberikan selama penulis menyelesaikan kuliah.
Terimakasih kepada segenap Staff fakultas Psikologi, Mbak Nanik, Mas Gandung, yang selalu melayani administrasi dan memberikan informasi secara sabar selama penulis beajar di kampus ini.Mas “Muji Beckham”,makasih selalu membuat suasana laboratorium psikologi selalu ceria jadine gak terlalui deg-degan waktu mau ngetes, makasih juga karena sama-sama fans Beckham, pokoke Beckham forever! Pak Gie “Si hati malaikat” makasih pak atas kesabaran, senyum yang tak pernah lepas dari bibirmu, juga kebaikan hatimu, belum pernah saya berjumpa seseorang seperti bapak.
Bapak. Fx. Sudarto dan Ibu E. Parinah, orang tuaku tercinta. Terimakasih atas kesabaran, cinta, dan semangat yang tak henti-hentinya bagi penulis dalam mengerjakan skripsi ini. “Maturnuwun donganipun kagem ingkang putro.” Skripsi ini hasil dari doa-doa bapak dan ibu, maaf skripsinya lama banget. Saya bangga bisa menjadi salah satu angota keluarga Sudarto,
penelitian yang sangat berguna bagi penulis guna menyelesaikan skripsi ini. Maaf tidak bisa memberikan sesuatu kecuali kata terimakasih ini.
Untuk adekku Yohanes Bayu “Kondus” Ade Wijaya, makasih selalu menyemangati mbak dengan segala ejekkannya. Justru karena itulah mbak menjadi semangat lagi mengerjakan skripsi. Tak lupa juga penulis mengucapkan terimakasih kepada “Pak Uwo” dan “Mbok Uwo” yang tidak sempat melihat penulis menyelesaikan skripsi ini, Asti yakin di atas sana selalu ada doa untuk cucumu ini.
Saudara-saudaraku tercinta Tiwik “Cempluk” Hayuningtyas, Aan “Onthul”Vendy Purnomo, Ayu “Rintus” Arinta Sari, Rina Bathari, Mayang “ Cape deh”, makasih selalu menyemangati mbak Asti, menghibur ketika mbak sedang sedih dengan canda dan kekonyolan kalian, hanya itu yang kadang bisa membuatku tertawa. Setiap hari kalian telah memberikan nuansa baru dalam hidupku.
Bulik Sat dan Om Pri makasih selalu menolong dan membantu keluargaku setiap kali kami mengalami cobaan dan kesusahan. Makasih juga selalu mengingatkanku untuk selalu meneruskan skripsi ini, jangan sampai menyerah.
Rekan-rekan mudikaku Uci “Menthel”, Swanti “Conggros”, Mbak Tituk, Ningrum, Mbolin, Dayati, mas Iwang “Bladu”, Mardis “Sreet”,dalam Yesus kita berkarya. Makasih ya selalu menemani, memberikan semangat, ngajak kumpul-kumpul pas aku lagi stres mengerjakan sksripsi. Asti dah selesai ngerjain skripsinya jadi besok bisa piknik-piknik lagi.
Untuk “Joko” makasih doa, dukungan dan bantuannya. Maaf mbak Asti cuma bisa buat ade repot. Makasih juga atas persaudaraan ini, mungkin hanya segelintir orang yang bisa memahami Juga buat “Codot” makasih untuk jasa pengetikannya.
Terakhir untuk “Mas Danar” yang selalu hadir saat tangis dan tawaku, selalu setia menyertaiku, mengantar dan menjemputku kuliah, yang tak henti-hentinya menyemangatiku untuk tidak menyerah dalam mengerjakan skripsi ini. Hadirmu membuat hidupku semakin terang dan cerah Terimakasih atas segala cinta dan kasih sayang, perhatian serta dukungannya, dan tetaplah menjadi bintang dalam hidupku.
Penulis menyadari sepenuhnya bahwa skripsi ini masih jauh dari sempurna. Oleh karena itu, dengan kerendahan hati, penulis menantikan saran dan kritik dari semua pihak yang bersifat membangun. Akhir kata, penulis berharap semoga skripsi ini bermanfaat bagi semua pihak.
Yogyakarta, Juli 2007
DAFTAR TABEL
1. Blue Print Skala Manajemen Konflik………..………44
2. Table Spesifikasi Manajemen Konflik……….…...……45
3. Tabel Spesifikasi Skala Manajemen Konflik Uji Coba……..….……51
4. Tabel Spesifikasi Skala Manajemen Konflik Penelitian……...…….51
5. Tabel Uji Reliabilitas………...…52
6. Ringkasan One Sample Kolmogorof Smirnov Test…………...….54
7. Ringkasan Levene Test………...…….56
8. Ringkasan Uji Hipotesis………..……58
DAFTAR ISI
HALAMAN JUDUL………..………..….………...i
HALAMAN PERSETUJUAN PEMBIMBING ……….…..……..…....ii
HALAMAN PENGESAHAN……….…...…….…...iii
HALAMAN PERSEMBAHAN...………...……….….……...iv
PERNYATAAN KEASLIAN KARYA...v
HALAMAN MOTTO...……….………...vi
ABSTRAK...vii
ABSTRACK……….………....viii
KATA PENGANTAR……..………...………...ix
DAFTAR TABEL………..………...…....xiii
DAFTAR ISI...xiv
BAB I PENDAHULUAN A. Pendahuluan ...………...1
B. Rumusan Masalah..……….………....8
C. Tujuan Penelitian..……….……….8
D. Manfaat Penelitian...……….8
BAB II LANDASAN TEORI A. Manajemen Konflik...9
1. Konflik...9
b. Jenis-jenis Konflik... 11
c. Konflik suami dan Istri...15
2. Manajemen Konflik...26
a. Pengertian Manajemen Konflik... 26
b. Gaya-gaya Manajemen Konflik...27
B. Perbedaan Manajemen Konflik Suami dan Istri...33
C. Hipotesa...39
BAB III METODOLIOGI PENELITIAN A. Jenis Penelitian...40
B. Identifikasi Variabel Penelitian...40
C. Definisi Operasional...41
D. Subjek Penelitian...42
E. Metode Pengumpulan Data...43
F. Validitas dan Reliabilitas...45
G. Metode Analisis Data...47
1. Uji Normalitas...47
2. Uji Homogenitas...48
3. Uji t(Independent Sample t Test)...48
BAB IV PENELITIAN A. Persiapan Penelitian...49
B. Uji Coba...50
D. Hasil Penelitian...52
1. Uji Reliabilitas...52
2. Uji Asumsi...52
a. Uji Normalitas...53
b. Uji Homogenitas...55
3. Uji Hipotesis...57
4. Hasil Penelitian...58
E. Pembahasan...60
BAB V PENUTUP A. Kesimpulan...72
B. Saran...72
DAFTAR PUSTAKA...74
LAMPIRAN...77
1. SKALA MANAJEMEN KONFLIK UJI COBA...78
2. SKALA MANAJEMEN KONFLIK PENELITIAN...79
3. RELIABILITAS...80
4. NORMALITAS...81
5. HOMOGENITAS DAN UJI-t...82
BAB I PENDAHULUAN
A. Pendahuluan
Perkawinan merupakan salah satu tahap kehidupan yang dilewati manusia, meskipun tidak semua manusia merasakan tahap ini. Perkawinan mempunyai arti yang sangat penting bagi manusia. Maka dari itu, sebagian orang akan melakukan perkawinan guna melengkapi kehidupan pribadinya. Perkawinan merupakan hubungan antara seorang laki-laki dan seorang perempuan yang saling mengikatkan diri menjadi sepasang suami istri, dan diharapkan mampu melahirkan keturunan.
Walgito (dalam Widjaja, 1986) menyebutkan bahwa perkawinan merupakan bersatunya seorang pria dan wanita sebagai suami istri yang bertujuan untuk membentuk keluarga yang bahagia dan kekal berdasarkan Ketuhanan Yang Maha Esa. Lebih lanjut dinyatakan bahwa dalam perkawinan terkandung dua hal, yaitu ikatan lahir dan ikatan batin.
Suami dan istri mulai mengenal hak-hak dan kewajiban, misalnya mereka harus memikirkan masalah keuangan, mencukupi kehidupan sehari-hari, merawat dan mendidik anak nantinya, memberikan kasih sayang terhadap pasangannya dan memperhatikan masalah hubungan sosial dengan masyarakat sekitar.
Suami dan istri juga harus menyatukan perbedaan-perbedaan yang mereka miliki, dan berusaha memahami pasangan masing-masing. Baik suami maupun istri harus memahami bahwa tidak ada pasangan hidup yang sempurna termasuk dirinya, setiap orang memiliki kelebihan dan kekurangan tersendiri.
Konflik yang terjadi dalam pernikahan lebih besar jika dibanding dengan konflik yang terjadi pada aspek kehidupan yang lain, karena bidang-bidang persoalannya yang lebih mendalam meliputi perasaan, kesenangan, kepercayaan, serta ditambah lagi masalah seks dengan segala tuntutan dan liku-likunya.
Dobos, Thomas dan Moore (1997) mengungkapkan beberapa hal yang dapat menimbulkan konflik dalam perkawinan yaitu masalah keuangan, mengurus anak, adanya perbedan gaya hidup, hubungan dengan teman, masalah dengan mertua, masalah keagamaan dan masalah politik serta masalah seks.
Konflik yang terjadi antara ayah dan ibu harus segera diselesaikan secepat mungkin. Konflik jika hanya didiamkan saja atau tidak segera dicari jalan keluarnya akan semakin berkembang. Konflik-konflik yang lain akan muncul sebagai akibat dari konflik yang tidak terselesaikan tadi. Konflik akan menjadi semakin kompleks dan semakin sulit untuk diselesaikan.
Suami dan istri yang tidak dapat menyelesaikan konflik dalam rumah tangga mereka akan mengalami pertengkaran dan pertentangan yang serius yang dapat mengganggu aktivitas mereka baik dalam rumah tangga maupun di tempat mereka bekerja. Hubungan ayah dan ibu akan merenggang, semakin menjauh dan sulit untuk dipersatukan lagi. Dampak negatif yang paling buruk dari adanya konflik yang tidak terselesaikan antara ayah dan ibu adalah terjadinya perceraian.
Contoh adanya konflik dalam keluarga diungkapkan oleh Emil H. Tambunan ( 2001). Disini diceritakan ada seorang suami yang telah menikah selama sepuluh tahun, dan telah dikaruniai tiga orang anak. Namun dalam waktu 10 tahun terakhir dia tidak bisa menikmati arti sebenarnya berumah-tangga. Dia merasa bahwa istrinya sangat cerewet dan senang mengkritik. Istrinya akan agresif jika tidak dituruti, dan sering mempermalukan suami di depan umum, dan mudah tersinggung. Masalah-masalah kecil tersebut, karena didiamkan oleh sang suami dan selalu mengalah untuk sang istri selama sepuluh tahun ini menjadi masalah yang besar. Dan bapak tersebut memutuskan untuk bercerai karena sudah tidak tahan lagi dengan perilaku istrinya.
Contoh kasus tersebut menunjukkan bahwa setiap konflik yang terjadi antara ayah dan ibu harus segera diselesaikan agar jangan sampai terjadi perceraian. Untuk dapat mengolah, mengatasi, ataupun menyelesaikan konflik dibutuhkan suatu manajemen konflik.
persetujuan, sedangkan manajemen konflik yang buruk dapat membuat salah paham dan hubungan makin memburuk.
Manajemen konflik, dalam penelitian ini, adalah strategi yang dimiliki ayah atau ibu untuk mengelola, mengatur masalah, mencegah, mengatasi, ataupun menyelesaikan konflik yang terjadi diantara mereka, sehingga tidak mengakibatkan gangguan keseimbangan dalam menjalankan rumah tangga mereka. Konflik yang dimaksud adalah konflik interpersonal dalam menjalankan peran ayah dan peran ibu dalam keluarga. Di sini, manajemen konflik digunakan untuk menjaga hubungan baik dengan orang lain. Hal ini berarti seorang individu membutuhkan kemampuan berinteraksi secara efektif dengan orang lain di masa depan. Seberapa penting tujuan pribadi bagi seseorang, dan seberapa penting hubungan baik itu bagi seseorang hal ini akan terlihat dari cara mereka bereaksi dalam melaksanakan strategi manajemen konflik (Johnson, 1981).
Belajar menggunakan strategi manajemen konflik biasanya dimulai ketika anak-anak, dan berfungsi secara otomatis. Biasanya seseorang tidak merancang bagaimana kita bereaksi ketika sedang menghadapi konflik, kita melakukan strategi menghadapi konflik sealamiah mungkin (Chandra, 2000).
akan mempunyai kecenderungan untuk menggunakan satu gaya manajemen konflik tertentu (Steven A. Beebe, 1996).
Reaksi individu dalam menghadapi konflik dalam perkawinan juga berbeda. Bodenmann (dalam Baron, 1998) mengatakan bahwa seorang laki-laki cenderung lebih menghindari berbicara mengenai konflik daripada wanita. Ayah sebagai seorang kepala keluarga yang bertanggung jawab dan mempunyai kekuasaan dalam memutuskan sesuatu dalam keluarga membuat ayah lebih sering melakukan tindak kekerasan, baik melalui kata-kata atau tindakan, dibanding seorang ibu. Seorang wanita cenderung lebih memperhatikan dan menjaga hubungan baik ketika sedang ada konflik, sedangkan laki-laki cenderung memperhatikan aturan-aturan yang berlaku hingga tercapainya kesepakatan bersama (David A Decenzo, 2002)
Thomas Lavins (1987) meneliti manajemen konflik pada pasangan suami istri, menemukan perbedaan gender dalam hal memahami perilaku pasangannnya. Suami dapat menolak permintaan istri untuk berubah, sedangkan istri harus menuruti permintaan suami untuk berubah.
B. Perumusan Masalah
Apakah ada perbedaan manajemen konflik antara suami dan istri?
C. Tujuan Penelitian
Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan bukti empiris mengenai ada tidaknya perbedaan gaya manajemen konflik antara suami dan istri.
D. Manfaat Penelitian
Ada dua manfaat yang hendak dicapai dari adanya penelitian ini: 1. Manfaat Teoritis
Memberikan wacana tambahan bagi bidang psikologi, khususnya psikologi keluarga, sehingga hasil penelitian ini dapat digunakan sebagai bahan literatur untuk penelitian yang lebih relevan di masa yang akan datang.
2. Manfaat Praktis
BAB II
LANDASAN TEORI
A. Manajemen Konflik 1. Konflik
a. Pengertian konflik
Konflik merupakan hal yang melekat dalam kehidupan manusia. Setiap individu dalam kehidupannya selalu berperang dengan konflik. Seiring jaman yang semakin maju, konflik akan sering terjadi seiring dengan meningkatnya irama kehidupan sehari-hari dan kegiatan dunia usaha yang berjalan semakin cepat.
Banyak sekali definisi yang dikemukakan para ahli mengenai konflik. Menurut World Book Dictionary konflik adalah perkelahian, perjuangan, peperangan, ketidaksetujuan, perselisihan, atau pertengkaran. Konflik dapat berujud konflik kecil seperti ketidaksetujuan tapi juga dapat berupa konflik besar seperti peperangan. Kata konflik sebenarnya berasal dari bahasa Latin yaitu
praktis operasional, artinya kemampuan tadi bisa diwujudkan dan berada dalam keadaan yang memungkinkan perwujudan secara mudah. Artinya bila kedua pihak tidak dapat menghambat atau tidak melihat pihak lain sebagai hambatan, maka konflik tidak akan terjadi. Beliau juga mengungkapkan unsur-unsur yang selalu ada dalam setiap konflik:
1) Adanya ketegangan yang diekspresikan.
2) Adanya sasaran atau tujuan atau pemenuhan kebutuhan yang dilihat berbeda, atau yang sesungguhnya bertentangan.
3) Kecilnya kemungkinan untuk pemenuhan kebutuhan yang dirasakan.
4) Adanya kemungkinan bahwa masing-masing pihak dapat menghalangi pihak lain dalam pencapaian tujuannya.
5) Adanya saling ketergantungan.
berlawanan dengan yang satunya sehingga salah satu atau keduanya merasa terganggu.
Dari beberapa pendapat di atas dapat disimpulkan bahwa konflik adalah perselisihan, pertentangan yang terjadi karena perbedaan persepsi, pertentangan antara dua pendapat, atau lebih yang berkaitan dengan kebutuhan dan hambatan yang dialami baik dalam proses penyesuaian diri dengan perubahan yang terjadi serta adaptasi terhadap tuntutan lingkungan yang tidak selalu dapat dilaksanakan dengan mudah.
b. Jenis-Jenis Konflik
Konflik bisa terjadi kapanpun, dimanapun dan dengan siapapun, oleh karena itu konflik yang terjadi dalam masyarakat banyak jenisnya. Banyak ahli dari bidang manajemen, psikologi maupun sosiologi mengidentifikasikan konflik menurut jenis-jenisnya. Pickering (2000) mengkategorikan konflik menjadi empat jenis konflik yaitu:
1) Konflik Diri
satu sama lain. Konfik diri juga mencerminkan perbedaan antara yang diinginkan seseorang dengan apa yang dilakukan untuk mewujudkan perilaku itu.
2) Konflik antar Individu
Konflik antar individu adalah konflik yang terjadi antara dua individu. Setiap orang mempunyai empat kebutuhan dasar psikologis yang mana bisa mencetuskan konflik bila tidak terpenuhi. Keempat kebutuhan dasar psikologis tersebut adalah sebagai berikut keinginan untuk dihargai, diperlakukan sebagai manusia, keinginan memegang kendali, keinginan memiliki harga diri yang tinggi, dan keinginan untuk konsisten. Bila keinginan ini tidak terpenuhi maka orang akan cenderung untuk memberikan reaksi membalas, menguasai, mengucilkan diri, atau mengajak bekerjasama.
3) Konflik dalam Kelompok
Konflik dalam kelompok adalah konflik yang terjadi antara individu dalam suatu kelompok ( tim, departemen, perusahaan, dan sebagainya).
4) Konflik antar Kelompok
Konflik antar kelompok melibatkan lebih dari satu kelompok (beberapa tim, departemen,organisasi, dsb).
interpersonal masih dibagi lagi menjadi dua jenis, yaitu konflik intragroup dan intergroup. Berikut ini penjelasan dari masing-masing konflik:
1) Konflik Intrapersonal
Konflik intrapersonal melibatkan ketidaksesuaian emosi bagi individu ketika keahlian, kepentingan, tujuan atau nilai-nilai digelar untuk memenuhi tugas-tugas atau pengharapan yang jauh dari menyenangkan.
2) Konflik Interpersonal
Konflik interpersonal lebih banyak diasosiasikan dengan konflik yang terjadi antara satu orang dengan orang lain, namun juga bisa terjadi antara dua orang atau lebih. Konflik interpersonal dibagi ke dalam dua group, yaitu:
a) Konflik Intragroup adalah konflik yang berada dalam batasan kelompok kecil.
b) Konflik Intergroup adalah konflik yang menjadi global dan mencakup beberapa kelompok.
Konflik yang dibicarakan dalam penelitian ini adalah konflik antar individu (interpersonal) yaitu suami dan istri dalam menjalani kehidupan berkeluarga. Konflik antar pribadi biasanya didasari bahwa setiap individu itu mempunyai perbedaan dan keunikan, di mana dapat ditarik kesimpulan bahwa tidak ada dua orang individu yang sama persis di dalam aspek-aspek jasmaniah maupun rohaniah (Wahyudi, 2005).
Demikian pula dengan pasangan ayah dan ibu, kebersamaan mereka memungkinkan mereka bergaul secara dekat dan erat sekali, hal ini memungkinkan terjadinya konflik di antara mereka. Bilamana dua manusia bergaul secara erat dalam relasi pernikahan maka ketergantungan dan perselisihan itu pasti terjadi. Hal ini bisa terjadi karena manusia memiliki perbedaan antara yang satu dengan yang lainnya, antara lain dalam hal keinginan, perasaan, pendapat, sikap, latar belakang, sudut pandang, nilai-nilai serta interaksi kepribadian.
salah satu atau keduanya merasakan adanya suatu perbedaan diantara mereka.
c. Konflik Suami dan Istri
Perkawinan merupakan salah satu tahap dalam kehidupan manusia yang sangat dinanti-nantikan. Setiap manusia dewasa dan mempunyai pasangan akan melangsungkan perkawinan. Perkawinan menurut Walgito (1984) adalah bersatunya seorang pria dan wanita sebagai suami istri untuk membentuk sebuah keluarga.
Gunarsa (1990) menyatakan bahwa perkawinan merupakan penyatuan antara dua orang menjadi satu kesatuan yang saling merindukan, saling menginginkan kebersamaan, saling membutuhkan, saling melayani, yang kesemuanya diwujudkan dalam kehidupan yang dinikmati bersama.
Dari beberapa pendapat tersebut dapat disimpulkan bahwa perkawinan adalah bersatunya dua orang menjadi satu kesatuan guna menjadi sebuah keluarga dimana terdapat hak-hak dan kewajiban yang harus dipenuhi guna mencapai kehidupan keluarga yang rukun dan bahagia.
Perbedaan-perbedaan yang mereka bawa sebelum menikah biasanya akan berkembang setelah mereka menjadi suami istri. Banyak sekali perbedaan-perbedaan antara suami dan istri dalam menjalankan keluarga mereka. Peplau & Gordon (1985) mengatakan bahwa istri secara konsisten lebih terbuka pada pasangan mereka daripada suami. Perempuan cenderung lebih mengekspresikan kelembutan, ketakutan, dan kesedihan mereka daripada suami yang menganggap bahwa mengendalikan kemarahan merupakan orientasi yang umum.
Kepribadian seorang laki-laki dan perempuan juga berbeda (Gunarsa, 2001). Kepribadian perempuan merupakan kesatuan antara aspek emosi, rasio dan suasana hati. Hal ini terlihat dalam hal pengambilan keputusan, wanita mengambil keputusan tanpa didahului pertimbangan dan pemikiran yang masak, namun wanita berhati lembut dan tenang yang mendorongnya rela menderita dan berkorban untuk orang yang dia cintai.
Laki-laki sesuai dengan kepribadiannya memiliki kewibawaan, sikap dan dan pribadinya mempunyai batasan yang jelas antara pikiran, rasio, emosi, dan suasana hati. Laki-laki lebih mementingkan sesuatu yang dapat diterima oleh akal daripada maslah yang tidak nyata. Dalam mengerjakan sesuatu laki-laki terlihat lebih agresif, aktif, namun kurang memiliki kesabaran.
emosional pasangan mereka, serta tidak mengekspresikan perasaan dan pikiran mereka sendiri. Sementara wanita memiliki kelembutan perasaan, ketenagan, serta kerelaan untuk mengorbankan sesuatu bagi orang yang dia cintai.
Norman Wright (2004) berpendapat bahwa pada dasarnya emosi pria dan wanita tidak berbeda. Yang membedakan adalah cara pengungkapannya. Pria sangat mengandalkan kemampuan kognitif dan logika, sedangkan wanita sangat mementingkan hubungan dengan orang lain dan berorientasi pada pasangan.
Tugas dan tanggung jawab yang dijalankan suami dan istri dalam kehidupan rumah tangga juga berbeda pada umumnya peranan ayah dan peranan ibu sudah diatur sedemikian rupa sehingga ibu lebih banyak berhubungan dengan anak dan mempunyai kesibukan rumah tangga di daam rumah. Ayah sebaliknya, lebih banyak melakukan kegiatan di luar rumah.
Ayah di dalam keluarga mempunyai peran sendiri, diantaranya adalah:
1) Pencari nafkah yang bertugas menyediakan kebutuhan keluarga secara finansial.
2) Sebagai pendidik.
3) Sebagai pelindung dalam keluarga.
Peran ayah yang utama sebagai pencari nafkah keluarga sudah terkondisi dari jaman dahulu. Ayah mempunyai tanggung jawab terbesar untuk mencukupi segala kebutuhan keluarga, terlebih kebutuhan secara finansial. Karena itu ayah biasanya bekerja di luar rumah sehingga kurang mempunyai waktu bersama-sama dengan keluarganya. Waktunya banyak dihabiskan di kantor tempat ia bekerja (Gunarsa, 2001). Kaum ibu secara prinsipal bertanggung jawab atas kelangsungan hidup anaknya. Ibu lebih sering berada di rumah daripada ayah dengan perbandingan 9 dengan 3,2 jam per hari (Singgih D Gunarsa, Ny Singgih D Gunarsa, 2001).
Sifat seorang ayah yang biasanya tegas, berwibawa dan bertanggung jawab terhadap keluarganya, akan menjadi contoh yang baik bagi anak-anaknya. Ayah juga dapat mengatur dan mengarahkan aktivitas anak. Misalnya menyadarkan anak bagaimana menghadapi lingkungannya dan situasi di luar rumah. Ia memberi dorongan, membiarkan anak mengenal lebih banyak, melangkah lebih jauh, menyediakan perlengkapan permainan yang menarik, mengajar mereka membaca, mengajak anak untuk memperhatikan kejadian-kejadian dan hal-hal menarik yang terjadi di luar rumah.
Ayah juga berperan sebagai sahabat bagi anak-anaknya. Ayah dapat berdiskusi dan berusaha memberikan nasihat-nasihat serta jalan keluar untuk masalah yang sedang dihadapi. Anak biasanya akan menceritakan pengalaman-pengalaman yang ia rasakan sepanjang hari, dan ayah harus menjadi pendengar yang baik ketika anaknya sedang bercerita (Singgih D Gunarsa, 1994).
Dalam kehidupan sehari-harinya perempuan sebagai anggota masyarakat mempunyai beberapa peran sebagai berikut: yang pertama perempuan sebagai anggota masyarakat mempunyai peran, pekerjaan, dan karier. Yang kedua perempuan sebagai anggota keluarga yaitu menjadi anggota keluarga, istri, dan menjadi ibu.
Perempuan sebagai anggota suatu keluarga mempunyai peran ganda menurut Betty Friedan (dalam Singgih D Gunarsa, 2001) yaitu: 1) Perempuan sebagai anggota keluarga: memberi inspirasi tentang
gambaran arti hidup dan peranannya sebagai perempuan dan anggota keluarga.
2) Perempuan sebagai istri: membantu suami dalam menentukan nilai-nilai yang akan menjadi tujuan hidup yang mewarnai hidup sehari-hari dan keluarga:
b) Menjadi pendamping suami, bila perlu membina relasi-relasi dalam pelaksanaan tanggung jawab sosial, menghadapi, mengatasi masalah baik diatasi sendiri maupun bersama-sama. c) Menjadi manajer keuangan yang dilimpahkan oleh suami.
Suami biasanya akan menyerahkan urusan keuangan pada istri untuk mengatur keuangan dalam keluarga, karena perempuan dianggap lebih teliti dan pandai dalam mengatur keuangan. 3) Perempuan sebagai pencari nafkah.
Perempuan untuk kepuasan diri bisa menunjukkan kemampuannya dengan bekerja. Perempuan yang berambisi tinggi, sesudah menikah bisa juga ingin tetap mengejar karier. Dalam kenyataannya, ada perempuan yang perlu bekerja di luar atau di dalam rumah untuk meringankan beban suami dan menambah keuangan dalam keluarga, atau untuk mengamalkan kemampuannya setelah mempelajari sesuatu yang memberi kepuasan tersendiri, sambil menambah penghasilan keluarga.
4) Perempuan sebagai Ibu Rumah Tangga
Sebagai ibu rumah tangga perempuan mengatur seluruh kehidupan dan kelancaran rumah tangga, selain itu juga mengatur dan mengusahakan suasana rumah yang nyaman.
5) Perempuan sebagai ibu bagi anak.
b) Menjadi pendidik: memberi pengarahan, dorongan dan pertimbangan bagi perbuatan-perbuatan anak untuk membentuk perilaku.
c) Menjadi konsultan: memberi nasihat, pertimbangan, pengarahan, dan bimbingan.
d) Menjadi sumber informasi: memberikan pengetahuan, pengertian dan penerangan.
Sebagai sepasang suami istri, keduanya harus dapat mengesampingkan perbedaan-perbedaan tersebut dan lebih memperhatikan kesatuan yang harmonis yang meliputi kesatuan dalam sikap dan pandangan dalam menjalankan rumah tangga mereka.
melakukan interaksi dan kontak yang intensif. Dengan demikian konflik mengenai berbagai masalah dalam kehidupan mereka relatif mudah terjadi. Jika dua orang hidup bersama-sama sebagai pasangan, maka konflik akan meningkat atau ada kebutuhan-kebutuhan yang tidak terpenuhi. Akibatnya pasangan akan kecewa, frustasi dan merasa tidak puas sehingga dapat menyulut pertengkaran.
Konflik dalam keluarga terjadi jika salah satu anggota keluarga ( dalam penelitian ini suami dan istri) tidak setuju dengan kejadian-kejadian dan situasi dalam hidup mereka. Salah satu dari mereka mungkin tidak setuju dengan perilaku yang layak, yang harus dimunculkan pasangannya ketika menghadapi situasi tertentu. Misalnya siapa yang harus melakukan tugas keluarga,bagaimana pendapatan dalam keluarga harus diatur, atau bagaimana sebuah keputusan harus dibuat
Adapun masalah-masalah yang sering timbul antara suami istri dalam sebuah keluarga biasanya berhubungan dengan masalah pribadi suami istri yang meliputi masa lampau mereka dan masa depan selanjutnya, masalah pribadi suami istri dengan ipar dan mertua, masalah nafkah serta pekerjaan ( Singgih D Gunarsa, 1994).
tua dari kedua belah pihak suami atau istri. Adapun timbulnya ketegangan yang bersumber dari suami istri antara lain:
1) Kurangnya saling pengertian antar suami istri karena kurangnya kemauan untuk mempelajari diri sendiri dan orang lain.
2) Kurang terbuka mengenai masalah tersembunyi yang belum terselesaikan.
3) Adanya kecurigaan baik dari pemakaian uang, maupun dari segi hubungan intim dengan orang luar.
4) Ketidakmauan suami untuk memenuhi kebutuhan jasmani dan rohani keluarga.
5) Ketidakmampuan suami membimbing istri dan anggota keluarga karena sibuk dalam tugasnya sehingga istri berperan dalam rumah tangga, atau suami pendiam dan istri sebaliknya.
6) Ketidakpuasan suami terhadap pelayanan istri, misalnya dalam hal penyediaan makanan, kurang mengetahui selera suami, atau dalam hal pelayanan seks.
7) Ketidakpuasan suami terhadap kemampuan istri. Misalnya pendapatan suami lebih tinggi sehingga dia akan cenderung menguasai atau menggurui, istri bersifat boros dalam pembelanjaan sehingga gaji defisit.
Apabila dikelompokkan segala macam masalah antara suami dan istri dalam sebuah keluarga tadi dapat diklasifikasikan sebagai berikut:
1) Masalah pribadi suami istri yang menyangkut masa lampau mereka dan masa depan yang akan dijalani mereka.
2) Masalah pribadi suami istri yang memasuki lingkungan keluarga baru yaitu bersama dengan ipar, kakak, adik, dan lain-lain.
3) Masalah yang berhubungan dengan keluarga baru dan rencananya akan dibentuk, meliputi hari depan, pendidikan dan perkembangan anak.
Berdasarkan uraian di atas dapat disimpulkan bahwa konflik yang terjadi pada pasangan suami istri merupakan hal yang wajar karena mereka berinteraksi sehari-hari dan masing-masing manusia mempunyai latar belakang, sudut pandang, nilai-nilai maupun kebutuhan yang berbeda, yang dapat mengakibatkan perbedaan persepsi, kegagalan dalam berkomunikasi, serta dapat menimbulkan konflik pada pasangan suami istri.
Disamping itu juga sifat yang dibawa masing-masing baik suami atau istri yang berbeda, jika tidak cepat beradaptasi juga akan menimbulkan konflik diantara pasangan tersebut. Misalnya saja dalam penelitian yang dilakukan oleh Dr. Carol N Jacklin dan Dr. Eleanor E. Maccoby (dalam Norman Wright, 2004) mengungkapkan adanya pebedaan jenis kelamin ditinjau dari sudut psikologi menyebutkan bahwa perempuan lebih dapat mengekspresikan emosi dan berempati atau berbelaskasihan saat menanggapi perasaan orang lain. Sementara kebanyakan laki-laki tidak memiliki kosa-kata yang cukup untuk mengungkapkan perasaannya. Mereka merasa tidak nyaman bila harus mengutarakan kegagalan, kecemasan, atau kekecewaan mereka.
dalam hubungan suami istri dapat memicu timbulnya suatu konflik antara suami istri (H. Norman Wright, 2004).
2. Manajemen Konflik
a Pengertian Manajemen Konflik
Konflik tidak hanya harus diterima dan dikelola dengan baik, tetapi juga harus didorong, karena konflik merupakan kekuatan untuk mendapatkan perubahan dalam suatu lembaga atau kelompok (Hardjana, 1994). Edelmen, R.J. dalam (Wahyudi, 2005) menegaskan bahwa, jika konflik dikelola secara sistematis dapat berdampak positif yaitu, memperkuat hubungan kerjasama, meningkatkan kepercayaan diri, mempertinggi kreativitas dan produktivitas serta meningkatkan kepuasan kerja. Oleh karena itu kemampuan manajemen konflik sangat penting untuk diperhatikan
Manajemen konflik sendiri dapat diartikan sebagai tugas mengelola suatu permasalahan yang timbul akibat salah paham atau perselisihan yang dilakukan oleh individu atau kelompok. Apabila dapat diatasi dengan baik maka hubungan akan meningkat dan mencapai persetujuan. Sedangkan manajemen konflik yang buruk dapat membuat semakin salah paham dan membuat buruknya hubungan interpersonal (Johnson&Johnson, 1994).
yang selanjutnya dalam mencapai tujuan yang diperjuangkan dan menjaga hubungan pihak-pihak yang terlibat konflik agar tetap baik (Hardjana, 1994).
b. Gaya-gaya Manajemen Konflik
Orang yang terlibat dalam situasi konflik memiliki gaya manajemen konflik yang berbeda-beda. Masing-masing individu dapat menggunakan beberapa macam gaya, namun seringkali hanya gaya tertentu yang digunakan seseorang (Killman&Thomas, 1992).
Setiap orang dapat menggunakan manajemen konfik yang bervariasi tergantung pada situasinya. Suatu gaya manajemen konflik mungkin cocok untuk satu situasi, tetapi belum tentu cocok untuk situasi yang lain. Tetapi biasanya seseorang akan memiliki kecenderungan untuk menggunakan satu gaya manajemen konflik tertentu (David. A. Decenzo, 1997)
William Hendrick (1992) menyamakan istilah teknik penyelesaian konflik dengan gaya atau style manajemen konflik yang dapat diterapkan dalam menyelesaikan konflik. Ada lima macam cara dalam menghadapi konflik yang terjadi yaitu:
1) Penyelesaian konflik dengan cara mempersatukan(integrating)
berkonflik. Penyelesaian konflik dengan mempersatukan mendorong munculnya kreativitas yang bersangkutan. Kelemahan gaya penyelesaian ini adalah membutuhkan waktu yang lama dan dapat menimbulkan kekecewaan karena penalaran dan perimbangan rasional seringkali dikalahkan oleh komitmen emosional untuk suatu posisi.
2) Strategi kerelaaan untuk membantu(obliging)
Strategi ini berperan untuk mengurangi perbedaan antar kelompok dan mendorong pihak-pihak yang terlibat konflik untuk mencari-cari persamaan. Perhatian pada orang atau kelompok lain, akan menyebabkan seseorang merasa puas karena keinginannya dipenuhi oleh pihak lain, walaupun salah satu pihak harus mengorbankan sesuatu yang penting baginya. Gaya semacam ini dapat digunakan sebagai strategi yang sengaja untuk mengangkat atau membuat pihak lain merasa lebih baik dan senang terhadap suatu isu.
3) Teknik dominasi(dominating)
4) Teknik menghindar(avoiding)
Salah satu strategi dalam pengendalian konflik dengan cara menghindari suatu permasalahan. Pihak yang menghindar dari konflik tidak menempatkan suatu nilai pada diri sendiri atau orang lain. Gaya menghindar berarti menghindar dari tanggung jawab atau mengelak dari suatu isu konflik, menghindar dengan lawan konfliknya, menekan konflik yang terjadi. Aspek negatif dari gaya ini adalah melemparkan masalah pada orang lain, atau mengesampingkan masalah.
5) Gaya penyelesaian konflik dengan cara kompromi(compromising)
Gaya ini dikategorikan efektif bila isu konflik mempunyai kekuatan yang berimbang. Teknik kompromi dapat menjalin pilihan bila metode lain gagal dan kedua pihak mencari jalan tengah. Pada kompromi masing-masing pihak rela memberikan sebagian kepentingannya (win-win solution). Kompromi dapat berarti membagi perbedaan atau bertukar sesuatu, masing-masing bersedia mengorbankan sesuatu agar tercapai penyelesaian. Dalam gaya ini dibutuhkan keahlian untuk bernegosiasi dan tawar-menawar.
Diagram 1.
Gaya Manajemen Konflik menurut William Hendrick (1992)
Sedangkan startegi manajemen konflik menurut Johnson & Johnson (1994) dibedakan menjadi lima macam strategi yang sealnjutnya akan disebut gaya, yang berdasarkan pada seberapa penting hubungan baik itu bagi seseorang. Adapun kelima gaya tersebut adalah:
1) ″The Turtle″ atau ″Withdrawing″
Orang yang menggunakan gaya manajemen konflik ini selalu berusaha bersembunyi untuk menghindari konflik. Mereka menyerahkan tujuan pribadinya dan hubungan baiknya. Mereka tetap menjauh dari permasalahan yang menjadi konflik dan menjauh dari orang yang berkonflik dengannya.
2) ″The Shark″atau″Forcing″
sangatlah penting baginya dan hubungan baik tidaklah penting baginya.. Mereka berpendapat bahwa konflik hanya dapat dimenangkan oleh salah satu pihak dan pihak yang lain harus kalah. Kemenangan bagi mereka memberikan rasa kebanggaan dan keberhasilan, sedangkan kekalahan akan memberikan rasa kelemahan dan kegagalan serta tidak puas. Mereka selalu mencoba untuk menyerang, menunjukkan kekuasaan, dan mengintimidasi (menekan) orang lain.
3) ″Teddy Bear″atau″Smoothing″
karena mereka takut kalau-kalau nanti konflik ini akan merugikan hubungan baik.
4) ″The Fox″atau″Compromising″
Orang dengan gaya manajemen konflik ini senang memperhatikan tujuannya dan juga hubungan baik mereka dengan orang lain. Mereka selalu mencoba untuk bekerjasama dengan orang lain untuk memecahkan masalah akibat konflik. Mereka menyerahkan sebagian tujuan mereka dan membujuk orang lain menyerahkan sebagian tujuannya juga. Mereka juga mencoba solusi konflik dimana semua pihak mendapatkan sesuatu dan berada di tengah-tengah di antara dua posisi ekstrem (kanan-kiri). Mereka berkeinginan untuk mengorbankan sebagian tujuan mereka dan hubungan baik mereka, tapi sisi lain demi menemukan persetujuan bersama yang berakibat baik bagi semua pihak.
5) ″The Owl″atau″Confronting″
sampai solusi terbaik ditemukan demi mencapai tujuan mereka dan orang lain. Selain itu mereka tidak akan puas sampai ketegangan dan perasaan buruk ditenangkan kembali.
Penelitian ini akan menggunakan gaya manajemen konflik yang dikemukakan oleh William Hendricks (1992) yang menampilkan lima gaya manajemen konflik yaitu: mempersatukan, membantu, dominasi, kompromi, dan menghindar. Dengan melihat kecenderungan para suami dan istri dalam menggunakan manajemen konflik diharapkan dari hasil penelitian akan mengetahui apakah ada perbedaan manajemen konflik antara suami dan istri.
B. Perbedaan Manajemen Konflik Suami-Istri
Laki-laki dan perempuan yang memutuskan untuk mengikatkan diri menjadi satu kesatuan guna membentuk suatu keluarga yang baru dan menjadi sepasang suami istri. Masing-masing, baik suami dan istri memiliki perbedaan dalam beberapa hal diantaranya perbedaan sifat, latar belakang kehidupan, tugas dan tanggung jawab, dan masih banyak lagi.
Istri lebih ekspresif dan berperasaan daripada suami dalam pernikahan (Blumstein & Schwart, !983). Istri lebih terbuka mengenai segala sesuatu yang sedang dia alami. Perempuan akan cenderung lebih mengekspresikan kelembutan, ketakutan, dan kesedihan daripada pasangan mereka.
banyak daripada suami (Warner, 1986) . sebagian besar istri melakukan pekerjaan rumah tangga dua atau tiga kali lipat dari yang dilakukan oleh suami. Bahkan hanya 10% suami yang melakukan pekerjaan rumah tangga sebanyak istri mereka. Suami lebih banyak menghabiskan waktu mereka di tempat kerja.
Dalam kehidupan rumah tangga suami dan istri saling mendorong dan saling mengisi dalam menangani berbagai pekerjaan sehinga suatu pekerjaan itu nampak bukan sebagai beban. Tetapi ketika terjadi perubahan, pertentangan emosional, sosial, semangat dan kemunduran ekonomi maka dapat menimbulkan permasalahan (Save M Dagun, 1990). Untuk membina hubungan akrab antara suami dan istri diperlukan tekad baik dan derajad toleransi yang tinggi untuk dapat mengatasi berbagai masalah.
menimbulkan masalah yang pelik dalam keluarga (Astuti dalam Miniatrix, 2003).
Ibu yang memutuskan untuk menjadi perempuan karier dengan alasan untuk menopang keuangan keluarga juga memiliki kebimbangan di mana ia harus menentukan seberapa banyak ia harus meluangkan waktu bersama anak dan keluarga disamping ia juga harus menyisihkan waktu untuk pekerjaannya. Sebagai seorang suami jika istri bekerja sering merasa diremehkan. Ia merasa istrinya tidak puas dengan penghasilan keluarga yang otomatis meremehkan dirinya sebagai pencari nafkah. Selain itu anak- anak juga kekurangan kasih sayang dan rumah kurang terawat (Slameto, 2003).
Konflik yang terjadi antara suami dan istri harus segera dicari jalan keluarnya, dan sebisa mungkin jangan menunda penyelesaian konflik. Jika konflik hanya didiamkan saja dan tidak dicari jalan keluarnya maka konflik akan meruncing dan semakin sulit untuk mengatasinya.
Pickering, 2000), oleh karena itu penting untuk mengembangkan kemampuan menggunakan setiap gaya manajemen konflik sesuai dengan situasi.
Manajemen konflik pada manusia berdasarkan kedua jenis kelamin, yaitu laki-laki dan perempuan menurut Cancian (1987) menyatakan bahwa perempuan lebih berhasrat untuk menghindari konflik dan memelihara hubungan baik mereka daripada laki-laki. Selain itu perempuan merasa bertanggung jawab untuk memelihara hubungan tersebut. Blomstein&Schwartz (1983), menambahkan bagaimanapun perempuan lebih mempermasalahkan, membenci yang mereka hadapi, tetapi tetap berusaha untuk berbuat hal yang benar. Pada saat memberikan penjelasan, perempuan memiliki kecenderungan menggunakan perbandingan untuk memenangkan pendapat mereka. Namun demikian perempuan lebih memilih untuk menghindari konflik bila hal tersebut mungkin untuk dilakukan untuk menjaga hubungan mereka. Ketika konflik menghasilkan kekerasan, maka wanita akan cenderung merasa disakiti daripada laki-laki.
Ketika konflik menghasilkan kekerasan, perempuan mungkin lebih terluka daripada laki-laki pada saat terjadi konfrontasi.
Sementara Borisoff & Victor (1989) mengemukakan bahwa sesungguhnya ketrampilan berkomunikasi berguna untuk mengemukakan efektivitas manajemen konflik termasuk di dalamnya keterbukaan, keterusterangan, asertif, empati, kredibel, fleksibel, bisa mendengarkan secara aktif. Banyak asumsi tentang bagaimana perempuan dan laki-laki berbeda dalam segala hal. Salah satunya adalah H. Norman Wright (2004) yang menyatakan bahwa pria dan perempuan berbeda dalam cara berpikir, bertindak, menghadapi, dan lain-lain. Perbedaan-perbedaan tersebut dapat saling melengkapi, tetapi kerap kali menimbulkan konflik dalam pernikahan.
berusaha untuk tetap menjaga hubungan baik, sebaliknya laki-laki akan terpaku pada aturan hingga kesepakatan bersama tercapai.
C. HIPOTESA
Hipotesa penelitian dari penelitian ini adalah ada perbedaan manajemen konflik antara suami dan istri yang meliputi:
1. Ada perbedaan Gaya Manajemen Konflik Menghindar antara suami dan istri.
2. Ada perbedaan Gaya Manajemen Konflik Dominasi antara suami dan istri.
3. Ada perbedaan Gaya Manajemen Konflik Membantu antara suami dan istri.
4. Ada perbedaan Gaya Manajemen Konflik Kompromi antara suami dan istri.
BAB III
METODE PENELITIAN
A. Jenis Penelitian
Penelitian ini termasuk jenis penelitian komparasional, yang berbentuk perbandingan dari dua sampel atau lebih. Penelitian ini termasuk penelitian komparatif karena ingin melihat apakah ada perbedaan manajemen konflik antara suami dan istri.
B. Identifikasi Variabel Penelitian
Penelitian ini menggunakan dua variabel. Variabel-variabel tersebut adalah:
1. Variabel Bebas
Variabel bebas adalah variabel yang menjadi sebab kemunculan dari variabel terikat (Kerlinger, 1996). Variabel bebas merupakan variabel yang mempengaruhi atau yang menjadi sebab perubahannya atau timbulnya variabel terikat. Variabel bebas dalam penelitian ini adalah suami dan istri.
2. Variabel Tergantung
C. Definisi Operasional
Definisi operasional melekatkan arti pada suatu variabel dengan cara menetapkan kegiatan-kegiatan atau tindakan-tindakan yang perlu untuk mengukur variabel itu. Definisi semacam itu memberikan batasan atau arti suatu variabel dengan merinci hal yang harus dikerjakan oleh peneliti untuk mengukur variabel tersebut.
Definisi operasional dari variabel-variabel yang dipakai dalam penelitian ini adalah:
1. Suami dan Istri
Suami adalah laki-laki dewasa yang telah melangsungkan perkawinan secara resmi menurut hukum dan agama.
Istri adalah perempuan dewasa yang telah melangsungkan perkawinan secara resmi menurut hukum dan agama.
2. Manajemen Konflik
adalah lima gaya manajemen konflik menurut William Hendricks (1992). Kelima gaya manajemen konflik tersebut adalah: Manajemen Konflik Menghindar, Manajemen Konflik Dominasi, Manajemen Konflik Membantu, Manajemen Konflik Kompromi, dan Manajemen Konflik Mempersatukan.
D. Subjek Penelitian
Subjek dalam penelitian ini adalah pasangan suami dan istri yang telah melangsungkan pernikahan secara resmi menurut agama maupun hukum dan yang bertempat tinggal di tiga desa yang telah ditentukan oleh penulis yaitu dusun Ngagul-agulan, Jetis Depok dan Ngaranan. Subjek yang akan dipakai dalam penelitian ini adalah pasangan suami istri yang memenuhi persyaratan-persyaratan sebagai berikut:
1. Memiliki anak
Karena dengan adanya anak dimungkinkan bertambahnya konflik antara suami dan istri.
2. Salah satu pasangan harus memiliki pekerjaan tetap.
Karena dengan adanya pekerjaan maka tangung jawab akan bertambah bukan hanya dalam keluarga, tetapi juga di tempat kerja. Bertambahnya tangung jawab memungkinkan timbulnya konflik.
3. Latar belakang pendidikan
maka di sini akan dipilih subjek yang memiliki latar belakang pendidikan SMP, SLTA, PT atau yang sederajat.
E. Metode Pengumpulan Data
Metode pengumpulan data yang dilakukan dalam penelitian ini mencakup dua hal yaitu: identitas diri subjek, serta skala manajemen konflik yang dipakai suami istri dalam menghadapi konflik yang ada tersebut.
Identitas diri subjek didapat dari lembar daftar isian yang diberikan kepada subjek bersamaan dengan dibagikannya skala manajemen konflik. Adapun isi dari lembar identitas diri adalah untuk mengetahui nama, jenis kelamin, jumlah anak, latar belakang pendidikan, dan pekerjaan.
Skala merupakan salah satu alat ukur psikologis yang lebih banyak dipakai untuk mengukur aspek afektif (Azwar, 2002). Skala berupa pernyataan atau pertanyaan yang tidak langsung mengukur atribut yang hendak diukur, melainkan mengungkap indikator perilaku atribut yang bersangkutan. Sedangkan respon subjek untuk suatu skala tidak diklasifikasiksan sebagai jawaban salah atau benar. Semua jawaban dapat diterima sepanjang diberikan secara sungguh-sungguh, hanya saja jawaban yang berbeda akan diinterpretasikan berbeda pula.
masing-masing 20 item (10 favorabel dan 10 unfavorabel). Skala ini menggunakan 4 alternatif jawaban yaitu Sangat Setuju (SS), Setuju (S), Tidak Setuju (TS), Sangat Tidak Setuju (STS). Pemberian skor yang digunakan adalah sebagai berikut: untuk item yang favorable, penilaian bergerak dari angka empat sampai dengan angka satu. Jawaban SS= 4, S= 3, TS= 2, STS=1. Sedangkan untuk pernyataan yang unfavorable maka sebaliknya, penilaian bergerak dari angka satu ke angka empat, SS= 1, S=2, TS= 3, STS=4. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada tabel berikut ini:
Tabel 1
Blue Print Skala Manajemen konflik
No Komponen Jumlah
Item
% 1 Gaya Manajemen Konfik Menghidar
Tidak menempatkan nilai pada diri sendiri dan orang lain.
Menghindar dari tanggung jawab, lari dari masalah yang dihadapi.
20 20
2 Gaya Manajemen Konflik Dominasi
Menekankan pada kepentingan diri sendiri.
Memaksa orang lain mengikuti dirinya.
20 20
3 Gaya Manajemen Konflik Membantu
Menempatkan nilai yang tinggi bagi orang lain.
Mengorbankan sesuatu yang penting bagi dirinya.
20 20
4 Gaya manajemen Konflik Kompromi
Antara menempatkan nilai pada diri sendiri dan orang lain berada pada tingkat yang sejajar.
Semua pihak mengorbankan sesuatu, namun juga menerima sesuatu.
20 20
5 Gaya Manajemen Konflik Mempersatukan
Menempatkan nilai pada diri sendiri dan
orang lain.
Mengamati perbedaan dan mencari solusi yang dapat diterima oleh semua.
Jumlah 100 100
Tabel. 2
Spesifikasi Skala Manajemen Konflik Nomor Butir
Manajemen
Konflik Favorable Unfavorabel
Jml %
Menghindar
1, 11, 21, 31, 41, 51, 61, 71,81, 91
6, 16, 26, 36, 46, 56, 66, 76, 86, 96
20 20
Dominasi
2, 12, 22, 32, 42, 52, 62, 72, 82, 92
7, 17, 27, 37, 47, 57, 67, 77, 87, 97
20 20
Membantu
3, 13, 23, 33, 43, 53, 63, 73, 83, 93
8, 18, 28, 38, 48, 58, 68, 78, 88, 98
20 20
Kompromi
4, 14, 24, 34, 44, 54, 64, 74, 84, 94
9, 19, 29, 39, 49, 59, 69, 79, 89, 99
20 20
Mempersatukan
5, 15, 25, 35, 45, 55, 65, 75, 85, 95
10, 20, 30, 40, 50, 60, 70, 80, 90, 100
20 20
Total 100 100
F. Validitas dan Reliabilitas
dibatasi dengan jelas, secara teoritik akan valid (Azwar, 1999). Ada dua unsur dalam prinsip validitas yang tidak dapat dipisahkan satu dengan yang lain, yaitu:
1. Unsur kejituan, tentang seberapa jauh alat pengukur dapat mengungkap gejala atau bagian gejala yang hendak diukur.
2. Unsur ketelitian, tentang seberapa jauh alat pengukur memberikan kecermatan yang diteliti dengan jelas.
Validitas yang digunakan dalam penelitian ini adalah validitas isi, yang menunjuk sejauh mana item-item dalam alat ukur mencakup keseluruhan kawasan uji objek yang hendak diukur, yang akan diperoleh melalui analisis rasional dan professional judgement (Azwar, 1999). Analisis ini dilakukan dengan cara analisis rasional dan professional judgement yang dilakukan peneliti bersama dosen pembimbing.
Reliabilitas sebenarnya mengacu pada konsistensi atau keterpercayaan hasil ukur, yang mengandung makna kecermatan pengukuran. Pengukuran yang tidak reliabel akan menghasilkan skor yang tidak dapat dipercaya karena perbedaan skor yang terjadi antara individu lebih ditentukan oleh faktor eror (kesalahan) daripada faktor perbedaan yang sesungguhnya. Pengukuran yang tidak reliabel tentu tidak akan konsisten pula dari waktu ke waktu (Azwar, 1999).
menggunakan formulasi Alpha untuk mengetahui koefisian reliabilitasnya. Pengukurannya menggunakan program SPSS versi 11.0 for windows. Dalam aplikasinya, reliabilitas dinyatakan oleh koefisien reliabilitas (xx') yang angkanya berada dalam rentang dari 0 sampai 1,00. Semakin tinggi koefisien reliabilitas mendekati angka 1,00 berarti semakin tinggi reliabilitas. Sebaliknya semakin rendah mendekati angka 0 berarti semakin rendahnya reliabilitas.
G. Metode Analisis Data
Metode analisis data merupakan suatu metode yang digunakan untuk mengolah data, menganalisis hasil penelitian untuk menguji kebenarannya. Karena data yang diperoleh dari skala manajemen konflik berupa angka, maka metode yang digunakan untuk analisis data menggunakan statistik. Sebelum melakukan analisis data terlebih dulu dilakukan uji homogenitas dan uji normalitas menggunakan SPSS versi 11,5 for windows. Untuk melihat perbedaan antara peran ayah dan peran ibu dalam hal manajemen konflik maka digunakanuji t (Independent Sample t Test).
1. Uji Normalitas
Uji normalitas dilakukan untuk mengetahui apakah sebaran skor pada kedua kelompok sample mengikuti distribusi normal atau tidak. Uji normalitas dilakukan dengan menggunakanSPSS for Windows Versi 11,5,
probabilitasnya. Jika nilai probabilitasnya lebih besar dari 0,05 ( p>0,05) maka sebaran skor dinyatakan normal. Sebaliknya jika nilai probabilitas kurang dari 0,05 (p<0,05) maka sebaran item dinyatakan tidak normal. 2. Uji Homogenitas
Uji homogenitas dilakukan untuk mengetahui apakah varian dari sample yang akan diuji tersebut sama atau tidak. Caranya adalah dengan melihat nilai probabilitasnya pada Levene Test, dengan menggunakan
SPSS for Windows Versi 11,5. jika nilai probabilitas yang didapat lebih besar dari 0,05 (p> 0,05) maka kedua kelompok sample memiliki varian yang sama, sebaliknya jika probabilitasnya kurang dari 0,05 (p< 0,05) maka kedua kelompok memilikivarianyang tidak sama.
3. Independent Sample t-Test
BAB IV PENELITIAN
A. Persiapan Penelitian
Persiapan pertama yang dilakukan adalah mempersiapkan alat ukur yang hendak dipakai dan permohonan ijin untuk melaksanakan penelitian. Alat ukur yang dipakai dalam penelitian ini adalah skala manajemen konflik yang telah dibuat oleh peneliti dan dikonsultasikan dengan dosen pembimbing. Sedangkan untuk permohonan ijin peneliti memohon ijin kepada Bapak/ Ibu Kepala Dusun guna melaksanakan penelitian yang akan melibatkan warga masyarakat di wilayah tersebut, dalam penelitian ini adalah warga desa Ngagul-agulan, Ngaranan, dan Jetis Depok. Permohonan ijin tersebut juga disertai dengan surat keterangan untuk melakukan penelitian dari fakultas psikologi.
menghindar diwakili 10 item favorabel dan 10 item unfavorabel, Gaya Manajemen Konflik Dominasi juga diwakili 10 item favorabel dan 10 lagi unfavorabel, Gaya Manajemen Konflik Membantu diwakii 10 item favorabel dan 10 item unfavorabel, Gaya Manajemen Konflik Kompromi diwakili juga oleh 10item favorabel dan 10 unfavorabel, Gaya Manajemen Konflik Mempersatukan juga diwakili oleh 10 item favorabel dan 10 unfavorabel. Jika disajikan dalam bentuk blue-print adalah sebagai berikut:
B. Uji Coba
dominasi ditambah 8 item. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat dalam table spesifikasi manajemen konflik sebagai berikut:
Tabel 3
Spesifikasi Skala Manajemen Konflik Uji Coba
Nomor Butir Sub Skala
Favorable Unfavorabel Jml %
1. Menghindar 1, 11, 21, 31, 41,51, 61, 71, 81, 91 6, 16, 26, 36, 46,56, 66, 76, 86, 96 20 20
2. Dominasi
2, 12, 22, 32, 42, 52, 62, 72, 82, 92
7, 17, 27, 37, 47,
57, 67, 77, 87, 97 20 20
3. Membantu 3, 13, 23, 33, 43,53, 63, 73, 83, 93 8, 18, 28, 38, 48,58, 68, 78, 88, 98 20 20
4. Kompromi 4, 14, 24, 34, 44,54, 64, 74, 84, 94 9, 19, 29, 39, 49,59, 69, 79, 89, 99 20 20
5. Mempersatukan
5, 15, 25, 35, 45, 55, 65, 75, 85, 95
10, 20, 30, 40, 50, 60, 70, 80, 90,100
20 20
Total 100 100
Tabel 4
Blueprint Setelah Penelitian
Nomor Butir Sub Skala
Favorable Unfavorabel Jml %
Menghindar 1, 11, 21, 31, 41,
51, 61 6, 16, 26, 36, 46, 56 13 17.10 Dominasi) 2, 12, 22, 32, 42,
52, 62 7, 17, 27, 37, 47, 57 13 17.10 Membantu 3, 13, 23, 33, 43,
53, 63, 72
8, 18, 28, 38, 48, 58,
66, 74, 76 17 22.36 Kompromi 4, 14, 24, 34, 44,
54, 64, 68, 69
9, 19, 29, 39, 49, 59,
67,71 17 22.36
Mempersatukan 5, 15, 25, 35, 45, 55, 65, 73, 75
10, 20, 30, 40, 50,
60, 70 16 21.05
C. Pelaksanaan Penelitian
Penelitian dilaksanakan pada tanggal 7 April sampai 27 April 2007. dengan mengambil sample subjek sebanyak 90 orang dengan spesifikasi 45 suami dan 45 istri yang bertempat tinggal di tiga dusun yaitu dusun Ngagul-agulan, Jetis Depok, dan Ngaranan.
Untuk menghindari adanya kerjasama antar pasangan yang menjadi sample penelitian dalam mengisi skala, maka peneliti menunggui ketika subjek mengisi angket tersebut. Angket yang dibagikan berisi 76 item.
D. Hasil Penelitian 1. Uji Reliabilitas
Reliabilitas dilakukan dengan tujuan untuk mengetahui sejauh mana hasil suatu pengukuran dapat dipercaya. Semakin mendekati angka 1,0 makan hasil pengukuran akan semakin reliable. Hasil reliabilitas untuk masing-masing gaya manajemen konflik adalah sebagai berikut:
Reliability coefficients
No Manajemen
Konflik N of Cases N of items Alpha
1 Menghindar 90 13 0.7248
2 Dominasi 90 13 0.7530
3 Membantu 90 17 0.6319
4 Kompromi 90 17 0.7746
5 Mempersatukan 90 16 0.7827
2. Uji Asumsi
dalam suatu penelitian mengenai perbedaan yaitu uji normalitas sebaran dan uji homogenitas varian.
a. Uji Normalitas
Uji normalitas dilakukan untuk mengetahui apakah sebaran skor pada kedua kelompok sample mengikuti distribusi normal atau tidak. Uji normalitas dilakukan dengan menggunakan SPSS for Windows Versi 11,5. Metode yang digunakan di sini adalah One Sampel Kolmogorov Smiarnov Test. Cara untuk mengetahui apakah sebaran skornya berdistribusi normal atau tidak adalah dengan melihat nilai probabilitasnya. Jika nilai probabilitasnya lebih besar dari 0,05 (p>0,05) maka sebaran skor dinyatakan normal. Sebaliknya jika nilai probabilitas kurang dari 0,05 (p <0,05) maka sebaran skor dinyatakan tidak normal.
Hasil uji normalitas pada lima gaya manajemen konflik adalah sebagai berikut:
1) Gaya manajemen Konflik Menghindar
Pada gaya ini diperoleh probabiitas (asymp.sig 2-tailed) sebesar 0.701 dengan demikian p lebih besar dari 0,05 (p> 0,05). Maka dapat dinyatakan bahwa sebaran skor untuk skala manajemen konflik menghindar dinyatakan normal.
2) Manajemen Konflik Dominasi
dapat dinyatakan bahwa sebaran skor untuk skala manajemen konflik dominasi dinyatakan normal.
3) Manajemen Konflik Membantu
Pada gaya ini diperoleh probabilitas (asymp.sig 2-tailed) sebesar 0.416 dengan demikian p lebih besar dari 0,05 (p> 0,05). Maka dapat dinyatakan bahwa sebaran skor untuk skala manajemen konflik membantu dinyatakan normal.
4) Manajemen Konflik Kompromi
Pada gaya ini diperoleh probabilitas (asymp.sig 2-tailed) sebesar 0.357 dengan demikian p lebih besar dari 0,05 (p> 0,05). Maka dapat dinyatakan bahwa sebaran skor untuk skala manajemen konflik kompromi dinyatakan normal.
5) Manajemen Konflik Mempersatukan
Pada gaya ini diperoleh probabilitas (asymp.sig 2-tailed) sebesar 0.718 dengan demikian p lebih besar dari 0,05 (p> 0,05). Maka dapat dinyatakan bahwa sebaran skor untuk skala manajemen konflik integrasi dinyatakan normal.
Di bawah ini disertakan table ringkasan One Sample Kolmogorov Smirnov Test:
Tabel 5
Ringkasan One Sampel Kolmogorov Smirnov Test
Gaya Manajemen konflik N Mean SD Asymp.Sig
(2.tailed)
Dominasi 90 25.80 5.309 0.335
Membantu 90 48.01 5.113 0.416
Kompromi 90 49.71 5.585 0.357
Mempersatukan 90 50.73 5.495 0.718
b. Uji Homogenitas
Uji homogenitas dilakukan untuk mengetahui apakah varian dari sample yang akan diuji tersebut sama atau tidak. Caranya adalah dengan melihat nilai probabilitasnya pada Levene Test, dengan menggunakan SPSS for Windows Versi 11,5. Jika nilai probabilitas yang didapat lebih besar dari 0,05 (p>0,05), maka Ho diterima atau kedua kelompok sample memiliki varian yang sama (tidak ada beda). Sebaliknya jika probabilitasnya kurang dari 0,05 (p<0,05), kedua kelompok memiliki varian yang berbeda (tidak sama).
Dari hasil uji homogenitas menggunakan Levene Test yang dilakukan peneliti, hasil selengkapnya adalah sebagai berikut:
1) Gaya Manajemen Konflik Menghindar
Diperoleh probabilitas sebesar 0.647 dengan demikian p lebih besar dari 0,05 (p>0,05). Maka dapat dinyatakan bahwa skor skala manajemen konflik menghindar berasal dari subjek yang mempunyai varian yang sama
2) Gaya Manajemen Konflik Dominasi
skala Manajemen Konflik Dominasi berasal dari subjek yang mempunyai varian yang tidak sama (beda).
3) Gaya Manajemen Konflik Membantu
Diperoleh probabilitas sebesar 0,003 dengan demikian p lebih kecil dari 0,05 (p<0,05). Maka dapat dinyatakan bahwa skor skala Manajemen Konflik Membantu berasal dari subjek yang mempunyai varian yang tidak sama (beda).
4) Gaya manajemen Konflik Kompromi
Diperoleh probabilitas sebesar 0,020 dengan demikian p lebih kecil dari 0,05 (p<0,05). Maka dapat dinyatakan bahwa skor skala manajemen konflik Kompromi berasal dari subjek yang mampunyai varian yang tidak sama (beda).
5) Gaya Manajemen Konflik Mempersatukan
Diperoleh probabiitas sebesar 0,016 dengan demikian p lebih kecil dari 0,05 (p<0,05). Maka dapat dinyatakan bahwa skor skala manajemen konflik mempersatukan berasal dari subjek yang mempunyai varian yang tidak sama (beda).
Jika disajikan dalam bentuk table dapat dilihat seperti di bawah ini. Dan untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada lampiran.
Tabel 6
Ringkasan Levene Test
Equal Variance Assummed Gaya Manajemen konflik
4. Gaya Manajemen Konflik Kompromi 5.656 0.020 5. Gaya Manajemen Konflik Mempersatukan 6.077 0.016
3. Uji Hipotesis
Setelah dilakukan uji normalitas dan homogenitas, maka selanjutnya dilakukan uji hipotesis dengan menggunakan Independen Sampel t- Test dengan programSPSS for Windows Versi 11,5. Sedangkan hipotesis yang dikemukakan dalam penelitian ini adalah: “Ada perbedaan manajemen konflik peran ayah dan peran ibu”.
Hasil uji t untuk masing-masing gaya manajemen konflik adalah sebagai berikut:
a) Gaya Manajemen Konflik Menghindar
Uji beda dilakukan dengan menggunakan Independent Sample t Test, didapat t hasil 6.590{df: 88; sig 2 tailed < α (0.05)}, maka dapat dikatakan bahwa ada perbedaan gaya manajemen konflik menghindar antara suami dan istri.
b) Gaya Manajemen Konflik Dominasi
Diperoleh t hasil 6.843{df: 71.92; sig 2 tailed <α (0.05)}, maka dapat dikatakan bahwa ada perbedaan gaya manajemen konflik dominasi antara suami dan istri.
c) Gaya Manajemen Konflik Membantu
d) Gaya Manajemen Konflik Kompromi
Diperoleh t hasil -0.263 {df: 79.283; sig 2 tailed > α (0.05), maka dapat dikatakan bahwa tidak ada perbedaan gaya manajemen konflik kompromi antara suami dan istri.
e) Gaya Manajemen Konflik Mempersatukan
Diperoleh t hasil sebesar -0.382 {df: 76.596; sig 2 tailed > α (0.05), maka dapat dikatakan tidak ada perbedaan gaya manajemen konflik mempersatukan antara suami dan istri.
Tabel 7
Rangkain Uji Hipotesis
Gaya manajemen L/P N M SD Std.
Error t df
Sig.(2
tailed) kesimpulan
P 45 28.22 4.482 0.668
Menghindar
L 45 22.22 4.150 0.619 6.590 88 0.000 signifikan
P 45 28.91 5.235 0.780
Dominasi
L 45 22.69 3.132 0.467 6.843 71.
926 0.000 signifikan
P 45 49.67 6.015 0.897
Membantu
L 45 46.36 3.331 0.497 3.230 68.
671 0.002 signifikan
P 45 49.56 6.479 0.966
Kompromi
L 45 49.87 4.591 0.684
-.0.263 79. 283 0.793 Tidak signifikan
P 45 48.69 6.539 0.975
Mempersatukan
L 45 49.56 4.620 0.689 -0382 76.
596 0.704
Tidak signifikan
4. Hasil Penelitian
Dari hasil penelitian pada ke lima gaya manajemen konflik, maka di dapat hasil sebagai berikut:
a. Uji t Gaya Manajemen Konflik Menghindar
menghindar antara suami dan istri. Dengan demikian hipotesis dalam penelitian ini terbukti.
b. Uji t Gaya Manajemen Konflik Dominasi
Pada Uji t Gaya Manajemen Konflik Dominasi diperoleh t sebesar 6.843 {df: 87.485; sig 2 tailed < α (0.05)}, karena sig 2 tailed < α (0.05)} maka Ho ditolak , atau p hasil <α(0.05), yang berarti tidak ada perbedaan manajemen konflik dominasi antara suami dan istri. Dengan demikian hipotesis dalam penelitian ini terbukti.
c. Uji t Gaya Manajemen Konflik Membantu
Pada Uji t Gaya Manajemen Konflik Membantu diperoleh t sebesar 3.230 {df: 68.671; sig 2 tailed < α (0.05)}, karena sig 2 tailed < α (0.05)} berarti ada perbedaan gaya manajemen konflik membantu antara antara suami dan istri. Dengan demikian hipotesis dalam penelitian ini terbukti.
d. Uji t Gaya Manajemen Konflik Kompromi
Pada Uji t Gaya Manajemen Konflik Kompromi diperoleh t sebesar – 0.263 {df: 79.283; sig 2 tailed > α (0.05)}, karena sig 2 tailed > α (0.05)}, berarti tidak ada perbedaan gaya manajemen konflik kompromi antara antara suami dan istri. Dengan demikian hipotesis dalam penelitian ini tidak terbukti.
e. Uji t Gaya Manajemen Konflik Mempersatukan