• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

A. Landasan Teoritis

2. Manajemen Laba

a. Pengertian Manajemen Laba

Menurut Scoot (1997) dalam Antonia (2008), manajemen laba adalah tindakan manajer untuk melaporkan laba yang dapat

memaksimalkan kepentingan pribadi atau perusahaan dengan menggunakan kebijakan metode akuntansi. Scoot (1997) dalam Antonia (2008) juga mendefinisikan manajemen laba sebagai intervensi manajemen dalam proses menyusun pelaporan keuangan eksternal sehingga dapat menaikkan atau menurunkan laba akuntansi sesuai dengan kepentinganya.

Sedangkan Sugiri (1998) dalam Purnomo dan Pratiwi (2009) membagi definisi manajemen laba menjadi dua , yaitu:

1) Definisi Sempit

Manajemen laba dalam hal ini hanya berkaitan dengan pemilihan metode akuntansi. Manajemen laba dalam artian sempit ini

didefinisikan sebagai perilaku manajer untuk “bermain” dengan

komponen discretionary accruals dalam menentukkan besarnya earnings.

2) Definisi Luas

Manajemen laba merupakan tindakan manajer untuk meningkatkan (mengurangi) laba yang dilaporkan saat ini atas suatu unit dimana manajer bertanggung jawab, tanpa mengakibatkan peningkatan (penurunan) profitabilitas ekonomi jangka panjang unit tersebut.

Muliati (2011) mendefinisikan manajemen laba sebagai intervensi manajemen terhadap laporan keuangan, yang berupa pilihan yang dilakukan oleh manajemen terhadap kebijakan-kebijakan akuntansi, yang diperkenankan dalam proses pelaporan keuangan

eksternal untuk mencapai tujuan/maksud tertentu, sehingga dapat mengurangi kredibilitas laporan keuangan. Gumanti (2000) dalam Riyanto dan Bachruddin (2005) melihat manajemen laba sebagai suatu fenomena dalam dunia keuangan dan akuntansi, yang muncul sebagai suatu konsekuensi pihak-pihak manajemen dalam pembuatan laporan keuangan demi kepentingan perusahaan itu sendiri. Gumanti (2000) dalam Riyanto dan Bachruddin (2005) juga melihat manajemen laba tidak selalu bisa diartikan sebagai upaya negatif yang merugikan, karena tidak selamanya manajemen laba memanipulasi tingkat keuntungan

Kusumawati et all (2013) melihat manajemen laba merupakan fenomena yang sukar untuk dihindari karena fenomena ini merupakan dampak dari penggunaan dasar akrual dalam penyusunan laporan keuangan. Manajer dapat memilih kebijakan akuntansi sesuai standar akuntansi keuangan dalam praktiknya. Oleh sebab itu, sangatlah wajar apabila para manajer memilih kebijakan-kebijakan tersebut untuk memaksimalkan utilitinya dan nilai pasar perusahaan. Ifonie (2012) melihat manajemen laba terjadi ketika para manajer menggunakan pertimbangan atau judgment-nya dalam pelaporan keuangan dan di dalam perancangan transaksi yang terstruktur untuk mengubah laporan keuangan yang menyesatkan stakeholder tentang dasar kinerja ekonomi perusahaan atau untuk mempengaruhi hasil sesuai kontrak yang tergantung pada angka-angka akuntansi yang dilaporkan.

Berdasarkan uraian di atas dapat disimpulkan bahwa manajemen laba adalah intervensi yang dilakukan manajer dalam proses penyusunan pelaporan keuangan dengan memilih suatu metode akuntasi yang diperbolehkan untuk memodifikasi nilai laba demi kepentingan-kepentingan yang diinginkan manajer atau perusahaan. b. Faktor-Faktor Pendorong Manajemen Laba

Waat dan Zimmerman (1986) dalam Muliati (2011), menyatakan bahwa ada tiga hipotesis yang melatarbelakangi terjadinya manajemen laba, yaitu:

1) Bonus Plan Hypothesis

Manajemen akan memilih metode akuntasi yang memaksimalkan utilitasnya yaitu bonus yang tinggi. Manajer perusahaan yang memberikan bonus besar berdasarkan earnings lebih banyak menggunakan metode akuntansi yang meningkatkan laba yang dilaporkan. Dengan demikian kinerja akan terlihat baik, sehingga manajer dapat menerima bonus yang dijanjikan perusahaan.

2) Debt Covenant Hypothesis

Salah satu sumber pendanaan perusahaan adalah melalui pinjaman atau kontrak hutang, dimana dalam kontrak tersebut terdapat beberapa persyaratan atau batasan yang harus dipenuhi perusahaan. Oleh karea itu, perusahaan cenderung melakukan income increasing untuk menjaga agar tidak melanggar persyaratan yang telah ditentukan tersebut. Hipotesi ini menyatakan bahwa semakin

dekat perusahaan pada pelanggaran terhadap persyaratan kredit, maka semakin besar kecenderungan manajer untuk melakukan praktik manajemen laba (Setiawan, 2009).

3) Political Cost Hypothesis

Hipotesis ini menyatakan bahwa perusahaan cenderung akan menurunkan nilai labanya untuk mengurangi biaya politik mereka. Karena perusahaan dengan nilai laba yang tinggi akan memunculkan biaya politik yang tinggi pula, misalnya peninggkatan pajak yang dilakukan pemerintah bagi perusahaan.

Selain itu, Scott (2000) dalam Rahmawati et all (2006) mengemukakan adanya beberapa motivasi yang menyebabkan terjadinya manajemen laba, yaitu:

1) Bonus Purpose

Manajer yang memiliki informasi atas laba bersih perusahaan akan bertindak secara opportunistik untuk melakukan manajemen laba dengan memaksimalkan laba saat ini.

2) Political Motivations

Manajemen laba digunakan untuk mengurangi laba yang dilaporkan pada perusahaan publik. Perusahaan cenderung mengurangi laba yang dilaporkan karena adanya tekanan publik yang mengakibatkan pemerintah menetapkan peraturan-peraturan yang lebih ketat.

3) Taxation Motivations

Manajer akan berusaha untuk membayar pajak yang serendah mungkin dengan cara mengurangi labanya. Dengan mengurangi laba yang dilaporkan maka perusahaan dapat mengurangi beban pajak yang harus dibayarkan kepada pemerintah. Motivasi penghematan pajak menjadi motivasi manajemen laba yang paling nyata. Berbagai metode akuntansi digunakan dengan tujuan penghematan pajak pendapatan.

4) Pergantian CEO

CEO yang mendekati masa pensiun akan cenderung menaikkan pendapatan untuk meningkatkan bonus mereka. Dan jika kinerja perusahaan buruk, mereka akan memaksimalkan pendapatan agar tidak diberhentikan.

5) Initial Public Offering (IPO)

Perusahaan yang akan go publik belum memiliki nilai pasar, dan menyebabkan manajer perusahaan yang akan go publik melakukan manajemen laba dalam prospektus mereka dengan harapan dapat menaikkan harga saham perusahaan.

6) Pentingnya Memberi Informasi Kepada Investor

Informasi mengenai kinerja perusahaan harus disampaikan kepada investor sehingga pelaporan laba perlu disajikan agar investor tetap menilai bahwa perusahaan tersebut dalam kinerja yang baik.

c. Pola Manajemen Laba

Scott (2000) dalam Rahmawati et all (2006) menyatakan pola manajemen laba dapat dilakukan dengan cara:

1) Taking a Bath

Pola ini terjadi pada saat reorganisasi termasuk pengangkatan CEO baru dengan melaporkan kerugian dalam jumlah besar. Tindakan ini diharapkan dapat meningkatkan laba di masa datang. Menurut Healy (1985), para manajer yang laba bersihnya di bawah rencana bonus akan memilih pola ini dengan alasan bahwa dikemudian harapan akan mendapat bonus lebih tinggi.

2) Income Minimization

Pola ini dipakai untuk membuat laba yang dilaporkan menjadi rendah, terutama dalam periode dimana perusahaan mengalami tingkat profitabilitas yang tinggi, sehingga jika laba pada periode mendatang diperkirakan turun drastis dapat diatasi dengan mengambil laba periode sebelumnya.

3) Income Maximization

Pola ini dipakai untuk membuat laba yang dilaporkan menjadi besar dan umumnya dilakukan saat laba perusahaan menurun. Tindakan atas income maximization bertujuan untuk melaporkan net income yang tinggi untuk tujuan bonus yang lebih besar. Pola ini dilakukan oleh perusahaan yang melakukan pelanggaran perjanjian hutang.

4) Income Smoothing

Pola ini dipakai untuk membuat laba dilaporkan dalam keadaan tidak bergejolak (smooth). Manajer menggunakan laba yang smooth untuk mengantisipasi kerugian. Sedangkan perusahaan menggunakan laba yang smooth untuk tujuan pelaporan eksternal. Pola ini dilakukan perusahaan dengan cara meratakan laba yang dilaporkan sehingga dapat mengurangi fluktuasi laba yang terlalu besar karena pada umumnya investor lebih menyukai laba yang relatif stabil.

d. Teknik Manajemen Laba

Dalam melakukan perekayasaan atas laporan keuangan, terdapat beberapa teknik yang mungkin dilakukan. Menurut Ayres (1994) dalam Purnomo dan Pratiwi (2009), teknik-teknik tersebut adalah sebagai berikut:

1) Manajemen Akrual

Manajemen akrual biasanya dikaitkan dengan segala aktivitas yang dapat mempengaruhi aliran kas dan juga keuntungan yang secara pribadi merupakan wewenang dari para manajer (manager direction). Contohnya adalah, mempercepat atau menunda pengakuan pendapatan (revenue), menganggap sebagai suatu beban biaya atau menganggap sebagai suatu tambahan investasi atas suatu biaya. Sunarto (2009) menjelaskan empat item akrual yang menjadi potensi manajemen laba, yaitu:

a) Biaya Amortisasi

Biaya amortisasi tahunan dihitung berdasarkan kebijakan amortisasi perusahaan dan estimasi umur kegunaan aset. Manajemen perusahaan dapat memilih beberapa alternatif pilihan metode amortisasi.

b) Meningkatkan Piutang Dagang Bersih

Manajemen mempunyai fleksibilitas untuk mengendalikan jumlah piutang dagang dengan mengatur jumlah piutang dagang bersih yang dapat ditagih.

c) Meningkatkan Persediaan

Perusahaan memerlukan persediaan selama periode kapasitas produksi yang besar. Manajemen perusahaan dapat mengatur jumlah persediaan dengan pilihan metode harga pokok persediaan.

d) Menurunkan Utang Dagang dan Utang Akrual

Manajemen perusahaan dapat mengatur jumlah utang dagang dan utang akrual untuk meningkatkan atau menurunkan laba yang dilaporkan.

2) Penerapan Kebijakan Akuntansi Wajib (Adoption of Mandatory Accounting Changes)

Terkait dengan penerapan suatu kebijakan akuntansi yang wajib dilakukan oleh perusahaan, manajemen perusahaan memiliki dua pilihan yaitu apakah menerapkan lebih awal dari waktu yang

ditetapkan atau menundanya sampai saat berlakunya kebijaksanaan tersebut.

3) Perubahan Akuntansi Secara Sukarela (Voluntary Accounting Changes)

Perubahan metode akuntansi secara sukarela, biasanya berkaitan dengan upaya manajer untuk mengganti atau merubah suatu metode akuntansi tertentu diantara sekian banyak metode yang sesuai dengan General Accepted Accounting Principles (GAAP), misalnya merubah metode penilaian persediaan dari average ke FIFO atau sebaliknya.

Selain itu, teknik dan pola manajemen laba menurut Setiawati dan Naim (2000) dalam Rahmawati et all (2006) dapat dilakukan dengan tiga teknik yaitu:

1) Memanfaatkan peluang untuk membuat estimasi akuntansi

Cara manajemen mempengaruhi laba melalui judgment (perkiraan) terhadap estimasi akuntansi antara lain estimasi tingkat piutang tak tertagih, estimasi kurun waktu depresiasi aktiva tetap atau amortisasi aktiva tak berwujud, estimasi biaya garansi dan lain- lain.

2) Mengubah metode akuntansi

Perubahan metode akuntansi yang digunakan untuk mencatat suatu transaksi, contoh adalah merubah metode depresiasi aktiva tetap,

dari metode depresiasi angka tahun ke metode depresiasi garis lurus.

3) Menggeser periode biaya atau pendapatan.

Contoh rekayasa periode biaya atau pendapatan antara lain: mempercepat / menunda pengeluaran untuk penelitian dan pengembangan sampai pada periode akuntansi berikutnya, mempercepat / menunda pengeluaran promosi sampai periode berikutnya, mempercepat / menunda pengiriman produk ke pelanggan, mengatur saat penjualan aktiva tetap yang sudah tak dipakai.

e. Kondisi untuk Praktik Manajemen Laba

Bukti-bukti empiris menunjukkan bahwa laba telah dijadikan sebagai suatu target dalam proses penilaian prestasi suatu usaha departemen secara khusus (manajer) atau perusahaan (organisasi) secara umum (Gumanti, 2000 dalam Muliati, 2011). Laba dan tingkat keuntungan juga merupakan alat untuk mengurangi biaya keagenan, dari sisi teori keagenan. Misalnya, pada saat keuntungan dijadikan sebagai patokan dalam pemberian bonus, hal ini akan menciptakan dorongan kepada manajer untuk memanipulasi data keuangan agar dapat menerima bonus seperti yang diinginkan.

Richardson (1998) dalam Muliati (2011) menunjukkan bukti hubungan antara ketidakseimbangan informasi dengan manajemen laba. Hipotesis yang diajukan adalah bahwa tingkat ketidakseimbangan

informasi akan mempengaruhi tingkat manajemen laba yang dilakukan oleh manajer perusahaan. Hasil penelitiannya menunjukkan adanya hubungan yang positif antara tingkat ketidakseimbangan informasi dan manajemen laba.

Dokumen terkait