Manajemen operasional adalah suatu cara pengelolaan fungsi-fungsi kegiatan (fungsi-fungsi manajemen) yang terdapat dalam suatu perusahaan, untuk mencapai tujuan. Cara pengelolaan pada setiap fungsi kegiatan berbeda antara fungsi kegiatan yang dengan yang lainnya, karena pada setiap fungsi kegiatan tersebut memiliki tujuan yang berbeda (Said, 2013).
a. Fungsi kegiatan pembelian, yaitu memperoleh harga beli barang yang efisien dan menjaga ketersediaan (availability) barang.
b. Fungsi kegiatan pengelolaan barang di gudang (warehousing), yaitu menjaga kondisi kualitas barang sesuai persyaratan Farmakope, tidak rusak dan tidak hilang.
c. Fungsi kegiatan penjualan dan pelayanan, yaitu memperoleh pertumbuhan penjualan (sales growth) dan jumlah pelanggan (customer growth) serta untuk mempertahankan pelanggan yang loyal (customer rate retention).
d. Fungsi kegiatan pengelolaan piutang (accounting), untuk menjaga likuiditas keuangan dan aliran kas (cash flow) yang sehat.
e. Fungsi kegiatan pembukuan atau tata usaha, yaitu menyajikan laporan yang tepat waktu, isi dan guna agar dapat mengambil keputusan dengan cepat dan tepat.
3.2.1 Manajemen Pengadaan 3.2.1.1 Definisi
Pengadaan merupakan proses penyediaan obat yang dibutuhkan, yang diperoleh dari pemasok eksternal melalui pembelian dari manufaktur, distributor, atau pedagang besar farmasi.
3.2.1.2 Tujuan
Manajemen pengadaan dilakukan untuk menyediakan obat atau bahan obat untuk memenuhi kebutuhan stok di gudang (Said, 2013).
3.2.1.3 Tugas dan Tanggung Jawab
Tugas dan Tanggung jawab seorang supervisor pembelian di KFTD yaitu (KFTD, 2013):
a. Bertugas dan bertanggung jawab membuat rencana pembelian.
b. Bertugas dan bertanggung jawab memantau hasil pembelian dengan cara memeriksa copy faktur yang diterima terhadap kelengkapan barang, dan kebenaran harga.
c. Bertugas dan bertanggung jawab mengevaluasi hasil pembelian.
d. Bertugas dan bertanggung jawab terhadap kelancaran penyediaan barang dagangan.
e. Bertugas dan bertanggung jawab atas pilihannya dalam menentukan supplier.
3.2.1.4 Standard Operational and Procedure Pengadaan Barang
Tahapan dalam melakukan pengadaan barang di KFTD adalah sebagai berikut (Said, 2013):
a. Membuat daftar rencana pembelian barang
Petugas logistik (kepala gudang) bersama petugas penjualan menghitung buffer stock dan kebutuhan level stock per item barang setiap bulan berdasarkan
data historis, lalu data tersebut dikirim ke petugas pembelian untuk membuat daftar rencana pembelian barang setiap bulannya.
b. Membuat kontrak pembelian barang
Petugas pembelian melakukan perjanjian kontrak pembelian barang dengan pemasok atau principal untuk memperoleh margin yang lebih besar dan masa tenggang pembayaran relatif lebih panjang.
c. Mengeksekusi pembelian barang
Petugas pembelian menyiapkan Surat Pesanan (SP), ditandatangani oleh penanggung jawab logistik atau penanggung jawab PBF, lalu mengirimkan SP ke principal atau pemasok.
d. Menerima dan memeriksa barang
Petugas logistik memeriksa dan menerima fisik barang dari pemasok sesuai dengan SP dan faktur barang, lalu membuat tanda terima barang di faktur (stempel dan tanda tangan) petugas gudang.
e. Memeriksa kebenaran faktur pembelian barang
Petugas pembelian faktur mengenai jumlah, jenis, harga barang dan diskon serta masa tenggang pembayaran, lalu memberikan paraf dan mengirimkan faktur pembelian ke fungsi tata usaha (TU).
f. Membukukan faktur pembelian sebagai pembelian dan hutang
Petugas TU membukukan faktur tersebut sebagai pembelian barang dan hutang di kartu hutang lalu membuat laporan pembelian dan hutang setiap bulannya.
Gambar 3.1. Diagram pengadaan barang
3.2.1.5 Sasaran
Sasaran mutu dari manajemen pengadaan yaitu memperoleh harga barang yang lebih murah (lebih efisien) serta dapat melayani seluruh kebutuhan barang pelanggan (service level) 100% (Said, 2013).
3.2.1.6 Indikator
Indikator yang digunakan untuk mengukur fungsi manajemen pengadaan antara lain (Said, 2013):
a. Harga pokok penjualan (HPP)
1) Jika HPP yang diperoleh < dari HPP tahun lalu (PBF pesaing), maka fungsi pembelian berfungsi dengan baik.
2) Jika HPP yang diperoleh > dari HPP tahun lalu (PBF pesaing), maka fungsi pembelian tidak berfungsi dengan baik.
Penyimpanan adalah suatu kegiatan menyimpan dan memelihara dengan cara menempatkan perbekalan farmasi yang diterima pada tempat yang dinilai aman dari pencurian serta gangguan fisik yang dapat merusak mutu obat.
3.2.2.2 Tujuan
Tujuan adanya manajemen penyimpanan ialah untuk memastikan bahwa obat atau bahan obat yang disimpan sesuai dengan rekomendasi dari industri farmasi atau non farmasi (Said, 2013).
3.2.2.3 Tugas dan Tanggung Jawab
Tugas dan tanggung jawab petugas bagian penyimpanan antara lain sebagai berikut (KFTD, 2013):
a. Bertugas dan bertanggung jawab memeriksa kebenaran produk (fisik item, bets) di gudang pengeluaran barang yang akan didistribusikan.
b. Bertugas dan bertanggung jawab memvalidasi administrasi atas kebenaran mutasi pengeluaran dalam sistem informasi logistik sentral.
c. Bertugas dan bertanggung jawab menyerahkan produk yang telah divalidasi ke masing-masing gudang tujuan hantaran.
d. Bertugas dan bertanggung jawab meningkatkan ketepatan dan kecepatan proses pengeluaran barang.
e. Bertugas dan bertanggung jawab melaksanakan dokumentasi pengeluaran barang yang sistematis, tertib, rapi, bersih, dan mudah dicari.
f. Bertugas dan bertanggung jawab membina SDM dalam jajaran fungsi kerjanya agar memiliki kemampuan dalam melaksanakan business process di pengeluaran barang yang efektif dan efisien sesuai fungsinya.
3.2.2.4 Sistem Penyimpanan Barang di Gudang
Sesuai dengan SK Kepala BPOM No. HK 00.05.3.252 tahun 2003, bangunan dan peralatan harus memenuhi beberapa persyaratan.
a. Sistem penyimpanan obat di gudang dalam kegiatan distribusi berdasarkan sistem first expired first out (FEFO) atau sistem first in first out (FIFO).
b. Kondisi fisik bangunan :
1) Memiliki sirkulasi udara yang baik 2) Tidak boleh banjir
3) Tidak boleh ada rembesan air tanah
4) Tidak boleh ada binatang, serangga dan tikus serta binatang lain yang dapat mempengaruhi kualitas obat dan bahan obat
5) Selalu dalam keadaan bersih dan rapih
c. Suhu dan kelembaban udara harus sesuai dengan sifat obat dan bahan obatnya yang ditetapkan Farmakope Indonesia Indonesia, seperti:
1) Disimpan pada suhu kamar (pada suhu 15-30 oC), untuk obat tablet, kaplet, sirup, infus atau ditentukan lain.
2) Disimpan pada tempat sejuk (pada suhu 5-15 oC), untuk minyak atsiri, salep mata, krim, ovula, suppositoria, tingtur.
3) Disimpan ditempat dingin (pada suhu 0–5oC), untuk vaksin atau ditentukan lain.
d. Layout ruangan meliputi:
1) Ruang penerimaan dan pemeriksaan barang masuk (transito in) 2) Ruang penyimpanan barang
3) Ruang pengeluaran dan pemeriksaan barang keluar (transito out) e. Alokasi ruangan meliputi:
1) Ruang barang tidak kedaluwarsa 2) Ruang narkotika
3) Ruang psikotropika
4) Ruang barang–barang kedaluwarsa f. Persyaratan peralatan
1) Alat penyimpanan barang, seperti rak dan paletnya
2) Alat pengukur suhu ruangan serta dokumen data kalibrasinya
3) Alat pengangkut barang di gudang, sepeti forklift, trolley dan tangga 4) Alat pengirim barang bersuhu 5-15oC, seperti cooler box
3.2.2.5 Penataan Alokasi Ruang Penyimpanan di Gudang
Sesuai dengan ketentuan peraturan yang ditetapkan Pemerintah tersebut diatas dan berdasarkan sifat obatnya sendiri, maka ruang penyimpanan obat dibagi menjadi 6 yaitu:
a. Ruang penyimpanan obat bersuhu 15-30oC, seperti untuk obat tablet, kaplet, sirup atau ditentukan lain.
b. Ruang penyimpanan obat bersuhu 5-15oC, seperti untuk minyak atsiri, salep, krim, ovula, suppositoria, tingtur, eter, floatane, halotane.
c. Ruang penyimpanan obat bersuhu 0-5oC, seperti untuk obat vaksin dan serum atau ditentukan lain.
d. Ruang penyimpanan narkotika sesuai dengan peraturan yang berlaku.
e. Ruang penyimpanan psikotropika sesuai dengan peraturan yang berlaku.
f. Ruang penyimpanan obat kedaluwarsa.
3.2.2.6 Kelengkapan Peralatan Gudang
Kelengkapan peralatan gudang sesuai kebijakan KFTD yaitu:
a. Alat pemeliharaan gedung: generator, alat pemadam kebakaran, alat kebersihan dan tempat sampah.
b. Alat pemeriksaan dan penerimaan barang: komputer, barcode scanner, trolley dan stempel.
c. Kelengkapan alat penyimpan barang: AC, lemari narkotika, rak besi dan palet, trolley, tangga dan forklift
d. Kelengkapan alat pengeluaran barang: komputer, barcode scanner, trolley, forklift dan buku ekspedisi pengeluaran barang.
e. Kelengkapan alat K3 (Kesehatan dan Keselamatan Kerja): helm, sepatu dan rompi.
f. Kelengkapan alat pengiriman barang: mobil box dan sepeda motor box.
3.2.2.7 Standard Operational and Procedure Penerimaan, Penyimpanan, dan Pengeluaran Barang
Menurut Said (2013), SOP penerimaan, penyimpanan, dan pengeluaran barang ialah sebagai berikut:
a. Menerima barang di transito in
1) Petugas logistik memeriksa dan menerima fisik barang dari pemasok sesuai dengan SP dan faktur barang, di ruang transito in.
2) Membuat tanda terima barang (stempel atau paraf) di faktur pembelian.
3) Menyimpan dan memasukkan data barang pada sistem informasi.
b. Menyimpan barang
1) Petugas logistik memasukkan barang dari ruang transito in ke ruang penyimpanan sesuai dengan lokasinya masing–masing barang.
2) Mencatat barang masuk di sistem informasi dan masing–masing kartu barangnya.
3) Melaporkan penerimaan barang ke TU sebagai pembelian dan hutang.
c. Mengeluarkan barang dari gudang
1) Petugas logistik berdasarkan SP dan faktur penjualan dari fakturis, mengeluarkan barang dari gudang ke transito out.
2) Mencatat mutasi barang di kartu barang dan sistem informasi.
3) Mencatat penyerahan barang dari gudang ke pengantar barang di buku ekspedisi hantaran barang dan meminta paraf pengantar barang.
4) Memeriksa kembali penyerahan barang dari pengantar barang ke pelanggan melalui faktur yang ada tanda terima dari pelanggan.
d. Membuat laporan mutasi barang di gudang
1) Petugas gudang membuat laporan mutasi barang.
2) Petugas gudang menghitung saldo barang setiap periode tertentu (1 bulan, 3 bulan), lalu membuat berita acara stock opname barang kemudian mengirim laporan tersebut ke fungsi TU.
Gambar 3.2. Diagram penerimaan, penyimpanan, dan pengeluaran barang
Gambar 3.3. Alur penerimaan, penyimpanan, dan pengeluaran barang
3.2.2.8 Sasaran
Sasaran yang ingin dicapai pada manajemen penyimpanan ialah mencegah kehilangan dan kerusakan barang atau kedaluwarsa (Said, 2013).
3.2.2.9 Indikator
Indikator yang digunakan untuk mengukur fungsi manajemen pergudangan antara lain (Said, 2013):
a. Jika jumlah barang hilang dan rusak > dari angka kebijakannya, maka fungsi pergudangan berfungsi dengan baik.
b. Jika jumlah barang hilang dan rusak < dari angka kebijakannya, maka fungsi pergudangan tidak berfungsi dengan baik.
3.2.3 Manajemen Penjualan dan Pelayanan 3.2.3.1 Definisi
The American Marketing Association mendefinisikan marketing (management) sebagai “the process of planning and executing the conception, pricing, promotion,and distribution of ideas, goods, and services to create exchanges that satisfy individual and organizational objectives.
Philip Kotler mendefinisikan marketing management sebagai “the art and science of choosingtarget markets and getting, keeping, and growing customers through creating, delivering, and communicating superior customer values”.
3.2.3.2 Tujuan
Menurut Said (2013), tujuan dari manajemen penjualan ialah untuk memperoleh pertumbuhan penjualan (sales growth) dan pertumbuhan jumlah pelanggan (costumer growth) serta untuk mempertahankan pelanggan yang loyal (costumer rate retention).
3.2.3.3 Standard Operational and Procedure Penjualan dan Pelayanan
Menurut Said (2013), SOP penjualan dan pelayanan ialah sebagai berikut:
a. Mengecek SP terhadap status umur hutang pelanggan yang lebih dari 2 bulan 1) Salesman mengunjungi pelanggan yang tidak bermasalah (tidak memiliki
hutang > 2 bulan), secara rutin.
2) Salesman menawarkan produk ke pelanggan (jumlah item dan SKU’s) melalui program–program dari principalnya, seperti program diskon dan bonus.
3) Salesman mengambil SP dari pelanggan dan memeriksa status umur hutang yang > 2 bulan, mencatat statusnya (ok atau tidak ok).
4) Salesman menyerahkan SP ke fakturis untuk dibuatkan fakturnya.
Gambar 3.4. Contoh alat kontrol penjualan b. Pembuatan faktur atas SP pelanggan
1) Fakturis mengecek kebenaran data dan alamat pelanggan melalui sistem informasi dan mencatat statusnya (ok atau tidak ok).
2) Fakturis membuatkan faktur penjualan barangnya.
3) Fakturis menyerahkan faktur dan SP pelanggan ke fungsi logistik.
c. Menyiapkan barang pesanan pelanggan
1) Petugas logistik mengeluarkan barang atas pesanan pelanggan berdasarkan faktur dan SP, dan mencatat mutasi barang di kartu barang.
2) Petugas mengecek kesesuaian barang dengan faktur dan SP kemudian mencatat statusnya (ok atau tidak ok).
3) Petugas mencatat jumlah barang yang dikeluarkannya sesuai dengan nama pelanggan di sistem informasi.
4) Petugas memindahkan barang yang siap dikirim ke ruang transito out dan mencatat di buku ekspedisi pengeluaran barang gudang.
5) Petugas membuat tanda terima penyerahan barang ke pengantar barang di buku ekspedisi pengeluaran barang.
d. Memindahkan barang pesanan ke transito out
1) Petugas gudang memindahkan barang yang siap dikirim ke ruang transito out dan mencatat di buku ekspedisi pengeluaran barang gudang.
2) Petugas membuat tanda terima penyerahan barang ke pengantar barang di buku ekspedisi pengeluaran barang.
e. Menyerahkan barang ke petugas hantaran
1) Petugas gudang menyerahkan barang yang siap antar kepada petugas hantaran.
2) Petugas hantaran mencatat seluruh barang pesanan di buku ekspedisinya.
f. Mengirim barang ke pelanggan
1) Petugas hantaran barang mengirim barang ke pelanggan.
2) Petugas hantaran barang meminta tanda terima barang dari pelanggan dan mencatat status penerimaannya (ok atau tidak ok).
3) Petugas hantaran barang menyerahkan tanda terima barang ke fungsi logistik.
g. Memvalidasi pengeluaran barang
1) Petugas logistik memvalidasi pengiriman barang ke pelanggan di sistem informasi sebagai barang keluar.
2) Petugas logistik menyerahkan faktur penjualan yang telah ada tanda terima dari pelanggan dan SP ke fungsi TU.
h. Mencatat hasil penjualan barang ke pelanggan
1) Petugas administrasi penjualan TU memasukkan data pengiriman barang di sistem informasi sebagai penjualan berdasarkan faktur dan SP yang telah ada TT nya dari pelanggan.
2) Petugas administrasi penjualan TU juga memasukkan ke sistem informasi hasil penjualan tersebut.
3) Petugas administrasi penjualan menyerahkan SP dan faktur penjualan ke administrasi inkaso.
i. Menyimpan faktur dan penyerahan faktur yang telah jatuh tempo ke juru tagih 1) Petugas administrasi inkaso memasukkan data penjualan di kartu piutang
berdasarkan faktur dan SP yang telah ada tanda terimanya dari pelanggan ke dalam sistem informasi.
2) Petugas administrasi inkaso menyimpan faktur penjualan dan membuat daftar tanggal jatuh temponya ke sistem informasi.
3) Petugas administrasi inkaso akan menyerahkan faktur tagihan ke juru tagih sesuai dengan daftar tagihan yang telah jatuh tempo untuk ditagihkan ke pelanggan.
Gambar 3.5. Diagram penjualan 3.2.3.4 Sasaran
Sasaran yang ingin dicapai pada manajemen penjualan ialah mencapai target penjualan dan service level yang ditentukan (Said, 2013).
3.2.3.5 Indikator
Indikator yang digunakan untuk mengukur fungsi manajemen penjualan (Said, 2013) antara lain:
a. Jika penjualannya > target atau dari tahun lalu, maka fungsi pelayanannya berfungsi dengan baik
b. Jika penjualannya < target atau dari tahun lalu, maka fungsi pelayanannya tidak berfungsi dengan baik
Menurut Nurjannah (2012), piutang adalah hak klaim terhadap seseorang atau perusahaan lain, menuntut pembayaran dalam bentuk uang atau penyerahan aktiva atau jasa kepada pihak terhutang. Piutang merupakan semua tuntutan terhadap langganan baik berbentuk perkiraan uang, barang maupun jasa dan segala bentuk perkiraan seperti transaksi. Penjualan secara kredit menimbulkan hak bagi perusahaan yang melakukan penagihan pada langganannya sesuai persyaratan yang telah disepakati bersama pada saat melakukan transaksi. Piutang dapat diartikan sebagai jumlah nominal yang harus dibayarkan oleh pelanggan kepada pihak penyedia setelah dilakukan proses transaksi jual beli pada waktu jatuh tempo pembayarannya.
3.2.4.2 Standard Operational and Procedure Piutang
Menurut Said (2013), SOP Piutang ialah sebagai berikut:
a. Penyerahan faktur tagihan dari fungsi TU ke administrasi Inkaso
1) Administrasi penjualan menerima dokumen penjualan kredit (faktur yang sudah ada tanda terima dari pelanggan beserta SP) dari fungsi gudang.
2) Administrasi penjualan mengelompokkan dokumen penjualan kredit sesuai dengan nama-nama pelanggannya dan mencatat di kartu piutang per pelanggan.
3) Administrasi penjualan membukukan penjualan kredit per pelanggan di sistem informasi (komputer).
4) Administrasi penjualan pada awal bulan merekap hasil penjualan kredit dan membuatkan rekap tagihan per pelanggan lalu menyerahkan ke administrasi inkaso.
b. Penyerahan faktur tagihan dari administrasi inkaso ke juru tagih
1) Adminsitrasi inkaso memeriksa dan menerima penyerahan fisik faktur tagihan dan membuat tanda terima di buku ekspedisi penyerahan faktur dari administrasi penjualan.
2) Administrasi inkaso mencatat piutang masuk di sistem informasi (kartu piutang) per pelanggan.
3) Adminsitrasi inkaso membuat rencana penagihan berdasarkan tanggal jatuh temponya.
4) Administrasi inkaso menyerahkan sejumlah faktur yang telah jatuh tempo ke juru tagih disertai dengan nota inkaso (dokumen tanda penyerahan faktur tagihan ke juru tagih).
c. Penyerahan faktur tagihan dari juru tagih ke pelanggan
1) Juru tagih menerima faktur tagihan dari administrasi inkaso disertai tanda terima di nota inkaso.
2) Juru tagih menyerahkan faktur yang telah jatuh tempo ke pelanggan.
3) Pelanggan menerima faktur dan membayar hutangnya dengan 3
d. Penyetoran dan pelaporan uang hasil tagihan
1) Juru tagih menyetorkan uang hasil tagihan pada hari yang sama (sore hari) ke fungsi keuangan dengan meminta tanda terima setortan uang tagihan di nota inkaso, jika pelanggan membayar 100 % lunas atau sebagian lunas.
2) Juru tagih melaporkan dan menyerahkan kembali hasil dokumen alat tagih ke administrasi inkaso dengan tiga keterangan:
a) Dibayar lunas (100 %) oleh pelanggan.
b) Dibayar sebagian oleh pelanggan dengan melampirkan bukti sebagian pembayarannya di balik faktur aslinya.
3) Ditunda oleh pelanggan dengan melampirkan bukti tanda terima faktur dari pelanggan dan keterangan tanggal akan dibayar oleh pelanggan.
4) Administrasi inkaso menerima laporan dari juru tagih dan menyimpan kembali faktur–faktur tagihan atau tanda terima faktur yang belum lunas dibrankas.
5) Administrasi inkaso menyerahkan kembali faktur tagihan atau tanda terima faktur yang belum lunas ke juru tagih untuk ditagihkan kembali ke pelanggan sesuai janji.
e. Konfirmasi piutang ke pelanggan
1) Administrasi inkaso membuat data mutasi piutang per pelanggan pada setiap awal bulan.
2) Administrasi inkaso membuat surat konfirmasi setiap bulan tentang jumlah hutang kepada setiap pelanggan.
3) Bagi pelanggan yang tidak menjawab surat konfirmasi tersebut, maka angka hutang pelanggan yang dibuat apotek yang dianggap benar.
Gambar 3.6. Diagram pengelolaan piutang 3.2.4.3 Sasaran
Sasaran yang ingin dicapai pada manajemen piutang ialah mencegah kehilangan faktur dan pencurian uang hasil tagihan (Said, 2013).
3.2.4.4 Indikator
Indikator yang digunakan untuk mengukur fungsi manajemen penjualan (Said, 2013) antara lain:
a. Jika tingkat kehilangan faktur atau pencurian uang hasil tagihan = 0 %, maka administrasi inkaso berfungsi dengan baik.
b. Jika tingkat kehilangan atau pencurian uang hasil tagihan > 0, maka administrasi inkaso tidak berfungsi dengan baik.
3.2.5 Manajemen Pembukuan 3.2.5.1 Definisi
Manajemen pembukuan adalah cara mengelola pembukuan atau pencatatan (accounting) dan pengikhtisaran seluruh transaksi dagang dan keuangan serta penganalisaan, pembuktian dan pembuatan laporan. Di Indonesia istilah (bagian) pembukuan yang terdapat di suatu perusahaan juga dikenal dengan nama tata usaha yaitu fungsi kegiatan yang bertugas melakukan pencatatan, pemeriksaan, pembuatan laporan dan pengarsipan (Said, 2013).
3.2.5.2 Tujuan
Pembukuan dibutuhkan untuk menyimpan seluruh kegiatan perusahaan dan transaksi-transaksi yang telah dilaksanakan Tujuan utama kegiatan pembukuan di PBF adalah agar seluruh transaksi keuangan dapat didokumentasikan sesuai dengan urutan peristiwa atau kejadian dan besarannya, sehingga dapat disajikan dalam laporan keuangan dengan benar dan berguna bagi pihak-pihak yang membutuhkan (Kementerian Pekerjaan Umum, 2013).
3.2.5.3 Standard Operational and Procedure Pembukuan
Adapun proses pembuatan laporan akuntansi keuangan terdiri (Said, 2013):
a. Mengumpulkan seluruh dokumen transaksi b. Mencatat seluruh data transaksi ke buku jurnal
c. Memindahkan dari buku jurnal ke buku besar (posting) d. Mencocokkan (judgment) terhadap informasi terakhir e. Menyususun (reporting) laporan dari data buku besar f. Menutup buku besar dan membuat laporannya g. Mengirimkan laporan ke pihak yang membutuhkan h. Mengarsipkan (filing)
Gambar 3.7. Diagram pembukuan
3.2.5.4 Sasaran
Sasaran yang ingin dicapai pada manajemen pembukuan ialah menyajikan laporan keuangan tepat isi dan tepat waktu (Said, 2013).
3.2.5.5 Indikator
Indikator yang digunakan untuk mengukur fungsi manajemen penjualan (Said, 2013) antara lain:
a. Jika laporan keuangan dapat dibuat dan disajikan tepat isi dan waktu sesuai tanggal yang ditetapkan, maka TU berfungsi dengan baik.
b. Jika laporan keuangan tidak dapat dibuat dan disajikan tepat isi dan waktu sesuai tanggal yang ditetapkan, maka TU tidak berfungsi dengan baik.
3.3 Pajak
Jenis pajak yang dikelola di bagian tata usaha PT. Kimia Farma Trading and Distribution antara lain pajak pertambahan nilai (PPN) dan Pajak Penghasilan (PPh).
3.1.1 Pajak Pertambahan Nilai (PPN)
Menurut Undang-Undang Nomor 18 tahun 2000 tentang Perubahan Kedua atas Undang-Undang Nomor 8 tahun 1983 tentang Pajak Pertambahan Nilai Barang dan Jasa dan Pajak dan Pajak Penjualan Atas Barang Mewah, Pajak Pertambahan Nilai adalah pajak yang dikenakan atas:
a. Penyerahan barang kena pajak di dalam Daerah Pabean yang dilakukan oleh pengusaha
b. Impor barang kena pajak
c. Penyerahan jasa kena pajak di dalam Daerah Pabean yang dilakukan oleh pengusaha
d. Pemanfaatan barang kena pajak tidak berwujud dari luar Daerah Pabean
e. Pemanfaatan jasa kena pajak dari luar Daerah Pabean, di dalam Daerah Pabean atau ekspor barang kena pajak oleh pengusaha kena pajak.
Daerah Pabean adalah wilayah Republik Indonesia yg meliputi wilayah darat, perairan dan ruang udara diatasnya serta tempat-tempat tertentu di Zona
Ekonomi Ekslusif dan Landas Kontinen. Barang kena pajak adalah barang yang dikenakan pajak. Dalam PPN dikenal pula istilah diantaranya yaitu :
a. Pajak keluaran yaitu, PPN terutang yang wajib dipungut oleh pengusaha kena pajak yang melakukan penyerahan barang kena pajak. Dalam hal ini Pajak keluaran merupakan pajak yang dikeluarkan oleh KFTD kepada pelanggan terhadap transaksi jual beli yang dilakukan, dibuktikan dengan adanya faktur pajak.
b. Pajak masukan yaitu, PPN yang seharusnya sudah dibayar oleh pengusaha kena pajak karena perolehan barang kena pajak. Pajak masukan dalam hal ini merupakan pajak yang telah dibayarkan oleh KFTD pada saat proses pembelian barang kepada pihak principal pihak III, dibuktikan dengan adanya Surat Setoran Pajak (SSP).
Faktur pajak yaitu, bukti pemungutan pajak yang dibuat oleh pengusaha kena pajak yang melakukan penyerahan barang kena pajak. Faktur pajak dalam hal ini dibundel menjadi satu bersama dengan faktur penjualan. Faktur pajak pelanggan akan dikelola oleh pihak KFTD pusat.
3.1.2 Pajak Penghasilan (PPh)
Menurut Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 7 tahun 1983 tentang Pajak Penghasilan, pajak penghasilan merupakan pajak yang dikenakan terhadap orang pribadi atau perseorangan dan badan berkenaan dengan penghasilan yang diterima atau diperolehnya selama satu tahun pajak. Badan yang terdiri dari Perseroan Terbatas, Perseroan Komanditer, Badan Usaha Milik Negara dan daerah dengan nama dan dalam bentuk apapun, persekutuan, perseroan atau perkumpulan lainnya dan bentuk usaha tetap.
Menurut Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 7 tahun 1983 tentang Pajak Penghasilan, pajak penghasilan merupakan pajak yang dikenakan terhadap orang pribadi atau perseorangan dan badan berkenaan dengan penghasilan yang diterima atau diperolehnya selama satu tahun pajak. Badan yang terdiri dari Perseroan Terbatas, Perseroan Komanditer, Badan Usaha Milik Negara dan daerah dengan nama dan dalam bentuk apapun, persekutuan, perseroan atau perkumpulan lainnya dan bentuk usaha tetap.