• Tidak ada hasil yang ditemukan

BELAJAR DAN PEMBELAJARAN

Bab 2 | Belajar dan Pembelajaran

C. Manajemen Pembelajaran

Kata manajemen berasal dari bahasa Latin, yaitu manus yang berarti

‗tangan‘ dan „agree‟ yang berarti ‗melakukan‘. Kata-kata itu digabung menjadi kata kerja „manager‟ yang artinya ‗menangani‘. ‗Managere‘

diterjemahkan kedalam bahasa Inggris dalam bentuk kata kerja „to manage‟

dengan kata benda „management‟. ‗Manager‘ adalah orang yang melakukan kegiatan manajemen. Sedangkan „management‟ diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia menjadi manajemen atau pengelolaan (Usman, 2009).

Secara terminologi, terdapat banyak pengertian mengenai manajamen. Kata manajemen dapat dipahami sebagai proses merencanakan, mengorganisasikan, memimpin, dan mengendalikan suatu organisasi agar tujuan organisasi tercapai secara efektif dan efisien.

Istilah manajemen sama dengan pengelolaan dalam bahasa Indonesia yang mengandung tiga pengertian, yaitu manajemen sebagai suatu

Model Pembelajaran CIPS 'Creative, Independent Problem Solving' proses, manajemen sebagai kolektivitas orang-orang yang melakukan aktivitas manajemen, dan manajemen sebagai suatu seni juga sebagai suatu ilmu (Manulang dalam Hasanah & Munastiwi, 2019). Pengelolaan adalah kata dasar 'kelola' yang ditambah awalan (pe) dan imbuhan (an). Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia Kontemporer, disebutkan bahwa pengelolaan berarti 'memimpin, mengendalikan, mengatur, dan mengusahakan supaya lebih baik, lebih maju, dan sebagainya serta bertanggung jawab atas pekerjaan tertentu'. Pengelolaan adalah proses yang membutuhkan kerjasama dengan berbagai pihak dalam mencapai tujuan pelaksanaan organisasi tertentu dan dibarengi dengan adanya pengawasan dalam pelaksanaannya (Daryanto dalam Hasanah

& Munastiwi, 2019).

Dalam dunia pendidikan, kata manajemen sebagai sebuah istilah dirangkai dengan pembelajaran, muncullah istilah manajemen pembelajaran. Pada dasarnya, manajemen pembelajaran merupakan pengaturan atau pengelolaan semua kegiatan pembelajaran, baik dari segi kurikulum inti maupun dari segi penunjang berdasarkan kurikulum yang telah ditetapkan sebelumnya oleh Kementerian Agama atau Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Bafadal, 2004).

Secara prinsip, pembelajaran dalam dunia pendidikan dilahirkan dari teori psikologi belajar. Oleh karena itu, prinsip pembelajaran ditekankan pada pengembangan aspek psikologis diri siswa yang dianggap memiliki titik kelemahan dalam belajar. Dari kenyataan ini, prinsip manajemen pembelajaran dalam pendidikan dianggap mampu untuk membangkitkan kelemahan pembelajaran yang selama ini dianggap masih belum baik (Suryapermana, 2016).

Menurut Fillbek (dalam Siregar & Nara, 2011), prinsip manajemen pembelajaran bersanding pada hal-hal berikut ini.

1. Respons-respons baru (new responses) diulang sebagai akibat respons yang terjadi sebelumnya. Implikasinya adalah perlunya pemberian urn pan balik positif dengan segera atas keberhasilan atau respons yang benar dari siswa, siswa harus aktif membuat respons, tidak hanya duduk diam dan mendengarkan saja.

2. Perilaku tidak hanya dikontrol oleh akibat dari respons, tetapi juga di bawah pengaruh kondisi atau tanda-tanda di lingkungan siswa.

Implikasinya adalah perlunya menyatakan tujuan pembelajaran

Bab 2 | Belajar dan Pembelajaran

31 secara jelas kepada siswa sebelum pelajaran dimulai agar siswa bersedia belajar lebih giat. Juga penggunaan berbagai metode dan media agar dapat mendorong keaktifan siswa dalam proses belajar.

3. Perilaku yang ditimbulkan oleh tanda-tanda tertentu akan hilang atau berkurang frekuensinya bila tidak diperkuat dengan akibat yang menyenangkan. Implikasinya adalah pemberian isi pembelajaran yang berguna pada siswa di dunia luar ruangan kelas dan memberikan balikan (feedback) berupa penghargaan terhadap keberhasilan siswa. Disamping itu, siswa sering diberikan latihan dan tes agar pengetahuan, keterampilan, dan sikap yang baru dikuasainya sering dimunculkan pula.

4. Belajar yang berbentuk respons terhadap tanda-tanda yang terbatas akan ditransfer ke situasi lain yang terbatas pula. Implikasinya adalah pemberian kegiatan belajar kepada siswa yang melibatkan tanda-tanda atau kondisi yang mirip dengan kondisi dunia nyata. Penyajian isi pembelajaran perlu menggunakan berbagai media pembelajaran, seperti gambar, diagram, film, rekaman/video, komputer serta berbagai metode pembelajaran, seperti simulasi, dramatisasi, dan lain sebagainya.

5. Belajar menggeneralisasikan dan membedakan adalah dasar untuk belajar sesuatu yang kompleks seperti yang berkenaan dengan pemecahan masalah. Implikasinya adalah perlu digunakan secara luas bukan saja contoh-contoh yang positif, tetapi juga yang negatif.

6. Situasi menta l siswa untuk menghadap i pelajaran akan mem engaruhi perhatian dan ketekunan siswa selama proses siswa belajar.

Implikasinya adalah pentingnya menarik perhatian siswa untuk mempelajari isi pembelajaran dengan menunjukkan apa yang akan dikuasai siswa setelah selesai proses belajar mengajar, bagaimana menggunakan apa yang dikuasainya dalam kehidupan sehari-hari, bagaimana prosedur yang harus diikuti atau kegiatan yang harus dilakukan siswa agar mencapai tujuan pembelajaran dan sebagainya.

7. Kegiatan belajar yang dibagi-bagi menjadi langkah-langkah kecil dan disertai umpan balik dalam menyelesaikan tiap langkah, akan membantu siswa. Implikasinya guru harus menganalisis pengalaman belajar siswa menjadi kegiatan-kegiatan kecil yang disertai latihan-latihan dan balikan terhadap hasilnya.

D

f

ModelPembelajaran ClPS 'Creative,Independent Problem Solving'

0(} <\)

8. Kebutuhan memecah materi yang kompleks menjadi kegiatan- kegiatan kecil dapat dikurangi dengaan mewujudkannya dalam suatu model. Implikasinya adalah penggunaan media dan metode pembelajaran yang dapat menggambarkan materi yang kompleks kepada siswa, model, realita, film, program video komputer, drama, demonstrasi dan lain-lain.

9. Keterampilan tingkat tinggi terbentuk dari keterampilan dasar yang lebih sederhana. Implikasinya adalah tujuan pembelajaran harus dirumuskan dalam bentuk hasil belajar yang operasional, demonstrasi, atau model yang digunakan harus dirancang agar dapat menggambarkan dengan jelas komponen-komponen yang termasuk dalam perilaku/ keterampilan yang kompleks.

10. Belajar akan lebih dapat, efisien dan menyenangkan bila siswa diberi informasi tentang kualitas penampilannya dan cara meningkatkannya. Urutan pembelajaran harus dimulai dari yang sederhana secara bertahap menuju pada yang lebih kompleks.

Kemajuan siswa dalam menyelesaikan pembelajaran harus diinformasikan kepadanya.

11. Perkembangan dan kecepatan belajar siswa sangat bervariasi, ada yang maju dengan penguasaan siswa terhadap materi prasyarat sebelum mempelajari materi pembelajaran selanjutnya, siswa mendapat kesempatan maju menurut kecepatan masing-masing.

12. Dengan persiapan, siswa dapat membangkitkan kemampuan mengorganisasikan kegiatan belajarnya sendiri dan menimbulkan umpan balik bagi dirinya untuk membuat respons yang benar.

Implikasinya adalah pemberian kemungkinan bagi siswa untuk memilih waktu, cara dan sumber-sumber agar dapat membuat dirinya mencapai tujuan pembelajaran.

Senada hal tersebut, Gagne (dalam Suryapermana, 2016) menjelaskan prinsip pembelajaran berikut:

1. Menarik perhatian (gaining attention). Dalam hal ini, seorang guru harus mampu menyuguhkan materi yang menarik siswa untuk belajar sehingga minat siswa bangkit, misalnya memberikan sesuatu hal yang baru, yang berbau aneh, topik yang sedang hangat, bahkan mungkin saja menyodorkan masalah yang kontradiktif.

Bab 2 | Belajar dan Pembelajaran

33 2. Memberitahu pembelajar mengenai tujuan belajar (informing learner of the objectives). Maknanya adalah siswa diberitahu tentang pencapaian yang diharapkan dalam hasil belajar. Pengaruh pemberian informasi kepada siswa tentang hasil belajar adalah untuk mencocokkan unjuk kerjanya.

3. Merancang ingatan kembali pengetahuan sebelum nya (stimulating recall or prior learning). Dalam hal ini, siswa diajak dan disentuh hatinya, otaknya, perasaannya, dan jiwanya untuk mengingat kembali mata pelajaran yang telah masuk dalam pikirannya.

4. Menyajikan material stimulus (presenting the stimulus). Dalam hal ini, guru menyampaikan dengan penuh perasaan tentang materi pembelajaran yang telah diuraikan dan direncanakan sebelumnya.

5. Memberikan bimbingan belajar (providing learner guidance). Dalam hal ini, guru harus mampu membimbing dan mengarahkan siswa agar memiliki pemahaman yang lebih baik dalam pelaksanaan proses pembelajaran.

6. Memunculkan unjuk kerja siswa (eliciting performance). Siswa digiring untuk menunjukkan kemampuannya dalam penguasaan materi pelajaran yang telah diterimanya selama dalam pembelajaran.

7. Memberikan balikan (providing feedback). Guru menyampaikan kepada siswa tentang unjuk kerja yang telah dilakukan untuk melihat ketepatan penampilan siswa.

8. Menilai unjuk kerja (assesing performance). Ini merupakan kewajiban siswa untuk menyelesaikan tugas yang disajikan guru sehingga dapat dilihat dan diketahui sebesar dan seluas apa yang telah dikuasai siswa dalam tujuan pembelajaran.

9. Meningkatkan retensi dan pengalihan belajar (enhancing retention and transfer). Siswa dirangsang untuk mengingat pembelajaran yang telah dipelajarinya dan dikondisikan untuk mentransfer dan menuliskannya dalam rangkuman, bahkan siswa diminta menampilkan kembali yang dipelajari di sekolah.

Dalam penerapan manajemen pembelajaran, terdapat ciri manajemen pembelajaran. Menurut Hamalik (2002), ada tiga ciri manajemen pembelajaran, yaitu:

D

f

ModelPembelajaran ClPS 'Creative,Independent Problem Solving'

0(} <\)

1. Rencana (plan), yakni penataan ketenagaan, material, dan prosedur yang merupakan unsur sistem pembelajaran.

2. Saling ketergantungan (interdependence), yakni unsur sistem pembelajaran memberikan sumbangan/ kontribusi terhadap sistem pembelajaran.

3. Tujuan (goal), yakni sistem pembelajaran mempunyai tujuan tertentu yang hendak dicapai.

Dalam manajemen, terdapat istilah fungsi. Fungsi manajemen adalah unsur-unsur dasar yang selalu melekat dalam proses manajemen sebagai acuan dalam bertindak. Fungsi manajemen merupakan suatu kegiatan yang saling berhubungan, memengaruhi, dan merupakan satu kesatuan untuk mencapai suatu tujuan tertentu (Rahayu & Munastiwi, 2018).

Para ahli berbeda pendapat dalam mengemukakan fungsi-fungsi manajemen, baik jumlah maupun istilah yang digunakan. Hanya saja, setidaknya terdapat lima fungsi manajemen yang dapat mencukupi bagi aktivitas manajerial yang akan memadukan pemanfaatan pelbagai sumber daya untuk mencapai tujuan organisasi sebagaimana berikut (Indartono, 2016).

1. Perencanaan yang meliputi aktivitas (a) pemilihan atau penetapan tujuan organisasi dan (b) penentuan strategi, kebijakan, proyek, program, prosedur, metode, sistem, anggaran, dan kriteria yang dibutuhkan untuk mencapai standar.

2. Pengorganisasian yang mencakup (a) penentuan sumber daya dan kegiatan yang dibutuhkan untuk mencapai tujuan, (b) perancangan dan pengembangan organisasi atau kelompok kerja untuk mencapai tujuan, (c) penugasan tanggung jawab, dan (d) pendelegasian wewenang kepada individu.

3. Penyusunan personalia yang mencakup penarikan, pelatihan, pengembangan, penempatan, dan pemberian orientasi para karyawan dalam lingkungan kerja yang menguntungkan dan produktif.

4. Pengarahan adalah mendapatkan atau membuat para karyawan melakukan apa yang diinginkan dan harus mereka lakukan. Fungsi

Bab 2 | Belajar dan Pembelajaran

33 ini meminta para karyawan untuk bergerak menuju tercapainya tujuan organisasi.

5. Pengawasan adalah penemuan dan penerapan cara dan peralatan untuk menjamin bahwa rencana telah dilaksanakan sesuai dengan yang telah ditetapkan. Pengawasan positif berupaya mengetahui apakah tujuan organisasi dicapai dengan efektif dan efisien atau tidak. Pengawasan negatif berupaya menjamin kegiatan yang tidak diinginkan tidak terjadi. Fungsi pengawasan mencakup (a) penetapan standar pelaksanaan, (b) penentuan ukuran pelaksanaan, (c) pengukuran pelaksanaan dan perbandingan dengan standar, dan (d) pengambilan tindakan koreksi bila ada penyimpangan.

Dalam kaitannya dengan konteks manajemen pem belajaran, terdapat tiga fungsi manajemen, yaitu perencanaan, pelaksanaan, dan evaluasi.

1. Perencanaan. Kegiatan dalam perencanaan meliputi: penyusunan program pembelajaran. Komponen penting yang perlu diperhatikan dalam melaksanakan kegiatan pembelajaran yaitu (1) penguasaan materi pelajaran, (2) analisis materi pelajaran, (3) program tahunan dan program semester, (4) program satuan pelajaran/ persiapan mengajar, (5) rencana pengajaran (M.U. Usman, 1995).

2. Pelaksanaan. Kegiatan dalam pelaksanaan pembelajaran, guru dituntut untuk memiliki keterampilan dan kemampuan yang terdapat dalam 15 indikator, yaitu (1) membuka pelajaran, (2) program kerja guru, (3) menyajikan materi pelajaran, (4) menjelaskan pelajaran, (5) menggunakan metode belajar, (6) penggunaan media, (7) pemanfaatan sumber belajar, (8) bertanya dan menjawab pertanyaan, (9) mengelola kelas, (10) gaya berkomunikasi, (11) membagi kelompok, (12) keaktifan siswa dalam kelompok dan antarkelompok, (13) pemajangan hasil- hasil siswa, (14) lomba kerja siswa, (15) melakukan refleksi dan menutup (Wahyudi, 2012).

3. Evaluasi. Kegiatan dalam evaluasi pembelajaran dapat disejajarkan dengan fungsi pengawasan dalam manajemen. Penerapan fungsi pengawasan dalam kegiatan pembelajaran diimplikasikan dengan sejumlah indikator, yaitu (1) mengevaluasi pelaksanaan kegiatan dibanding dengan rencana pembelajaran, (2) melaporkan

Model Pembelajaran CIPS 'Creative, Independent Problem Solving' penyimpangan untuk tindakan koreksi dan merumuskan tindakan koreksi, menyusun standar-standar pembelajaran dan sasaran- sasaran, (3) menilai pekerjaan dan melakukan tindakan koreksi terhadap penyimpangan-penyimpangan, baik institusional satuan pendidikan maupun proses pembelajaran (Sagala, 2010).

3