• Tidak ada hasil yang ditemukan

URGENSI PEMBELAJARAN BERBASIS CIPS

Bab 4 | Urgensi Pembelajaran Berbasis CIPS

B. Urgensi bagi Guru

Dalam mencapai kesuksesan dalam sebuah pembelajaran, seorang guru memiliki uraian tugas yang sangat penting dan mulia. Guru berupaya menjadikan anak didik memiliki keterampilan belajar, mencakup keterampilan dalam memperoleh pengetahuan (learning to know), keterampilan dalam mengembangkan diri (learning to be), keterampilan dalam pelaksanaan tugas-tugas tertentu (learning to do), dan keterampilan untuk hidup berdampingan dengan sesama secara harmonis (learning to live together). Bahkan, seorang guru harus mampu mengajarkan anak didiknya tentang cara belajar yang baik (learning how to learn) (Hikmat, 2011).

Seorang guru adalah tokoh figur yang berperan dalam proses pembelajaran. Sebaliknya, peran guru semakin berubah. Seorang guru menjadi fasilitator dalam proses pembelajaran. Padahal, siswa dituntut untuk aktif dan proaktif dalam belajar. Memiliki pengembangan,

Model Pembelajaran CIPS 'Creative, Independent Problem Solving' perubahan, dan pergeseran tidak dapat ditolak. Ini karena kebutuhan manusia terus berubah (Erni Munastiwi, 2018).

Dalam kaitannya dengan pembelajaran berbasis CIPS, hal penting yang harus dilakukan oleh guru adalah bagaimana mengelola pembelajaran agar siswa mampu menyelesaikan suatu masalah secara kreatif dan mandiri. Hanya saja, menjadikan siswa yang mampu menyelesaikan masalah secara mandiri dan kreatif dalam berpikir sistematik bukanlah persoalan yang mudah. Ini membutuhkan latihan dan pembiasaan yang terprogram dengan baik dalam pembelajaran yang dilakukan oleh guru. Jika kualitas dan kompetensi guru meningkat, hal ini akan berdampak positif terhadap kompetensi anak didik (Erni Munastiwi, 2017).

Untuk mendukung strategi bel ajar mengajar dengan menggunakan strategi problem solving, guru perlu memilih bahan pelajaran yang memiliki permasalahan. Materi pelajaran tidak terbatas hanya pada buku teks di sekolah, tetapi juga dapat diambil dari sumber-sumber lingkungan seperti peristiwa-peristiwa kemasyarakatan atau peristiwa dalam lingkungan sekolah (Gulo, 2002). Tujuannya agar memudahkan siswa dalam menghadapi dan memecahkan masalah yang terjadi di lingkungan sebenarnya dan siswa memperoleh pengalaman tentang penyelesaian masalah sehingga dapat diterapkan dalam kehidupan nyata (Sutarmi & Suarjana, 2017).

Menurut Sutarmi & Suarjana (2017), kebaikan atau keuntungan yang diperoleh guru dalam penerapan problem solving, berikut:

1. Mendidik untuk berpikir secara sistematis.

2. Mendidik berpikir untuk mencari sebab-akibat.

3. Menjadi terbuka untuk berbagai pendapat dan mampu membuat pertimbangan untuk memilih satu ketetapan.

4. Mampu mencari berbagai cara jalan keluar dari suatu kesulitan atau masalah.

5. Tidak lekas putus asa jika menghadapi suatu masalah.

6. Belajar bertindak atas dasar suatu rencana yang matang.

7. Belajar bertanggung jawab atas keputusan yang telah ditetapkan dalam memecahkan suatu masalah.

8. Tidak merasa hanya bergantung pada pendapat guru.

Bab 4 | Urgensi Pembelajaran Berbasis CIPS

59 9. Belajar menganalisa suatu persoalan berbagai segi.

10. Mendidik sikap hidup bahwa setiap kesulitan ada jalan pemecahannya jika dihadapi dengan sungguh-sungguh.

Menurut Ade (2011), pembelajaran problem solving memiliki beberapa manfaat bagi guru, berikut:

1. Merupakan teknik yang cukup bagus untuk lebih memahami isi pelajaran.

2. Dapat menantang kemampuan siswa serta memberikan kepuasan untuk menemukan pengetahuan baru bagi siswa.

3. Dapat meningkatkan aktivitas pembelajaran siswa.

4. Dapat membantu siswa bagaimana mentransfer pengetahuan mereka untuk memahami masalah dalam kehidupan nyata.

5. Dapat membantu siswa untuk mengembangkan pengetahuan barunya dan bertanggung jawab dalam pembelajaran yang mereka lakukan serta dapat mendorong untuk melakukan evaluasi sendiri baik terhadap hasil maupun proses belajarnya.

6. Bisa memperlihatkan kepada siswa bahwa setiap mata pelajaran (matematika, IPA, sejarah dan lain sebagainya), pada dasarnya merupakan cara berpikir, dan sesuatu yang harus dimengerti siswa, bukan hanya sekadar belajar dari guru atau dari buku-buku.

7. Dianggap lebih menyenangkan dan disukai siswa.

8. Dapat mengembangkan kemampuan siswa untuk berpikir kritis dan mengembangkan kemampuan mereka untuk menyesuaikan dengan pengetahuan baru.

9. Dapat memberikan kesempatan siswa untuk mengaplikasikan pengetahuan mereka miliki dalam dunia nyata.

10. Dapat mengembangkan minat siswa secara terus-menerus belajar sekalipun belajar pendiidkan formal.

Dalam mengembangkan kreativitas siswa diperlukan hal atau syarat yang mendukung, yaitu guru kreatif yang mencakup pembelajaran kreatif (creative teaching), kepala sekolah yang kreatif (creative leadership), dan lingkungan yang kreatif. Pengembangan kreativitas dalam konteks bangsa untuk menyiapkan warga bangsa dalam menghadapi kehidupan kompetitif (global).

Dalam konteks dunia sekolah, pengembangan

Model Pembelajaran CIPS 'Creative, Independent Problem Solving' kreativitas dimaksudkan sebagai sebagai salah satu upaya peningkatan mutu atau kualitas pendidikan (Pentury, 2017). Oleh karena itu, untuk menumbuhkan anak yang kreatif dalam pembelajaran, guru dituntut memiliki kreativitas dalam mengelola pembelajaran.

Guru merupakan salah satu orang yang sangat terdekat dengan siswa setelah orang tua. Bahkan, tidak sedikit siswa yang lebih dekat dengan guru dan lebih sering menuruti perintah guru dibandingkan perintah orang tua. Oleh sebab itu, guru memiliki posisi yang sangat strategis dalam mengupayakan perkembangan kreativitas siswa. Di sisi lain, guru juga merupakan motivator bagi siswa. Dalam kegiatan belajar-mengajar motivasi kepada siswa merupakan daya penggerak dalam diri anak yang menimbulkan keinginan belajar yang mengarah pada terwujudnya tujuan yang dikehendaki (Taher & Munastiwi, 2019).

Menurut Wijaya (1991), salah satu masalah yang dihadapi dalam dunia pendidikan adalah menumbuhkan kreativitas guru. Kreativitas guru dalam proses belajar mengajar mempunyai peranan penting dalam memotivasi belajar siswanya.

Mengajar bukan lagi usaha menyampaikan ilmu pengetahuan, melainkan usaha menciptakan sistem lingkungan yang membelajarkan peserta didik agar tujuan pengajaran dapat tercapai secara optimal.

Mengajar dalam pemahaman ini memerlukan suatu strategi yang tepat bagi tujuan yang ingin dicapai untuk itu perlu dibina dan dikembangkan kreativitas guru dalam mengelola program pengajaran dengan strategi belajar mengajar dengan berbagai variasi (Pentury, 2017).

Al-Girl (2007) memberikan penjelasan tentang guru kreatif. Guru kreatif adalah seorang yang menguasai keilmuan (expert), memiliki otonomi di kelas (pembelajaran). Guru kreatif menetapkan tujuan, maksud, membangun kemampuan dasar (basic skills), mendorong pencapaian pengetahuan tertentu, menstimulasi keingintahuan dan eksplorasi, membangun motivasi, mendorong percaya diri dan berani mengambil risiko, fokus pada penguasaan ilmu dan kompetisi, mendukung pandangan positif, memberikan keseimbangan dan kesempatan memilih dan menemukan, mengembangkan pengelolaan diri (kemampuan atau keterampilan metakognitif), menyelenggarakan pembelajaran dengan menggunakan berbagai teknik dan strategi untuk memfasilitasi lahirnya tampilan (perwujudan) kreatif, membangun lingkungan yang kondusif terhadap tumbuhnya kreativitas, dan

Bab 4 | Urgensi Pembelajaran Berbasis CIPS

61 mendorong imajinasi dan fantasi. Guru kreatif akan memberikan

inspirasi kreatif kepada siswa (Fisher, 2004).

Pembelajaran kreatif mengharuskan guru mampu merangsang siswa memunculkan kreativitas, baik dalam konteks kreatif berpikir maupun dalam konteks kreatif melakukan sesuatu. Pembelajaran kreatif merupakan proses pembelajaran yang mengharuskan guru dapat memotivasi dan memunculkan ide kreatif siswa selama proses pembelajaran berlangsung dengan menggunakan beberapa metode dan strategi yang variatif. Oleh karena itu, guru dituntut aktif dan kreatif dalam menyampaikan informasi dan mengembangkan pengetahuan yang ada dalam kurikulum sekreatif mungkin agar siswa antusias menerima pesan tersebut. Untuk menciptakan suasana belajar yang kondusif dan menyenangkan guru dituntut mengembangkan kreativitasnya (Pentury,

2017).

Guru memegang peran yang sangat strategis terutama dalam membentuk watak bangsa serta mengembangkan potensi kreativitas siswa.

Oleh karena itu, anak yang mempunyai kreativitas dibutuhkan guru yang kreatif. Sedangkan guru kreatif ditunjukkan sosok guru yang mampu menggunakan berbagai pendekatan dan variasi dalam proses pembelajaran.

Guru dalam menyampaikan proses pembelajaran harus mempunyai strategi yang dibutuhkan untuk dikembangkan dalam diri anak untuk mengekspresikan ide, gagasan, pemikiran dan pendapat yang dituangkan ke dalam hasil karya anak. Hal ini kreativitas anak dapat ditingkatkan melalui berimajinasi, permainan dan aktivitas yang menyenangkan (Taher &

Munastiwi, 2019).

Dalam mengembangkan kreativitas siswa, terdapat beberapa faktor pendukung dan penghambat dalam mengembangkan kreativitas anak menurut Taher & Munastiwi (2019), berikut:

1. Faktor pendukung a. Manajemen waktu

Dalam proses pembelajaran, manajemen waktu sangat dibutuhkan untuk mendukung pengembangan kreativitas siswa.

Manajemen waktu dapat berupa waktu belajar, waktu bermain, dan waktu istirahat.

Model Pembelajaran CIPS 'Creative, Independent Problem Solving' b. Kondisi lingkungan

Lingkungan sekolah merupakan lembaga pendidikan formal yang memengaruhi tingkat keberhasilan belajar, misalnya gedung sekolah, fasilitas, dan sarana prasarana belajar untuk menunjang keberhasilan belajar siswa. Untuk itu, setiap kemampuan siswa dalam berkreativitas akan mudah didapati di sekolah maupun di luar sekolah. Namun, keberhasilan belajar siswa banyak di peroleh di lingkungan sekolah. Oleh karena itu, proses perubahan tingkah laku dan kematangan siswa banyak dilakukan di sekolah.

c. Sarana dan prasarana

Sarana prasarana dalam konteks lembaga pendidikan sangatlah penting. Dengan tersedianya sarana prasarana yang memadai, pembelajaran dapat dilakukan secara variatif dan kreatif, tidak monoton satu tempat, satu pendekatan, dan satu permainan.

Dengan dukungan sarana prasarana, siswa menikmati proses belajar mengajar. Sarana dan prasarana merupakan suatu alat, fasilitas, yang mutlak atau bagian yang memiliki peran sangat penting bagi keberhasilan dan kelancaran suatu proses lingkup pendidikan yaitu proses pembelajaran. Sarana prasarana terbagi menjadi dua, yaitu outdoor dan indoor yang dapat menunjang kreativitas siswa.

d. Rangsangan mental

Suatu karya kreatif dapat muncul jika anak mendapatkan rangsangan mental yang mendukung. Hal ini menunjukkan bahwa pendidik harus mampu menstimulus mental siswa.

Dengan adanya dukungan mental dari guru, siswa merasa dihargai dan diterima keberadaannya, sehingga siswa mampu berkarya. Sebaliknya tanpa dukungan mental yang positif, maka kreativitas tidak akan terbentuk.

e. Dorongan internal

Kreativitas siswa dapat terbentuk ataupun tidak, tergantung dengan siswa sendiri. Motivasi dan dorongan dalam diri siswa dapat menimbulkan daya imajinasi sesuai yang diinginkan.

Dorongan tersebut berupa keinginan belajar di sekolah.

Bab 4 | Urgensi Pembelajaran Berbasis CIPS

63 f. Peran guru

Guru yan g kreatif adalah guru yang kreatif mamp u menggunakan berbagai pendekatan dalam proses kegiatan belajar dan membimbing siswanya. Ia juga figur yang senang melakukan kegiatan kreatif dalam hidupnya. Hal ini menjadi hal positif bagi guru. Akan tetapi, sebaliknya guru yang tidak kreatif dalam proses pembelajaran akan sangat berpengaruh, bahkan dapat mematikan kreativitas siswa.

2. Faktor penghambat a.

Peran keluarga

Peran keluarga dalam menggali kreativitas merupakan ujung tombak kesuksesan siswa. Keluarga berperan vital dalam membentuk watak, kebiasaan, serta perilaku siswa di lingkungan keluarga. Hal ini menunjukkan bahwa peran keluarga merupakan tolok ukur dalam m en u m b u hkan kreativitas anak didik. Faktor kendala tersebut adalah tidak sinkronnya pengembangan kreativitas antara di rumah maupun di sekolah.

b. Rasa emosional anak yang berlebihan

Emosi merupakan perasaan individu, baik berupa perasaan positif maupun perasaan negatif, sebagai respons terhadap suatu keadaan yang meliputinya akibat dari adanya hubungan antara dirinya dan individu lain atau kelompok. Emosi merupakan perasaan intens yang ditujukan kepada seseorang ataupun sesuatu atau reaksi yang timbul akibat perbuatan seseorang atau kejadian tertentu. Oleh karena itu, kreativitas siswa akan terhambat dengan suasana emosional yang mencerminkan rasa marah atau kecewa kepada teman- temannya. Emosional tersebut dapat terlihat saat proses pembelajaran berlangsung.

c. Pengawasan guru yang terlalu ketat dalam proses pembelajaran.

Pengawasan merupakan usaha yang dilakukan guru untuk mem erhatikan, mengamati segala aktivitas siswa. Peran guru yang terlalu ketat dalam mengawasi proses pembelajaran dapat menghambat siswa berimajinasi.

[Halarnan ini senga;a dikosongkan]

5