KOMPETENSI KEPRIBADIAN
MEMBERDAYAKAN DIRI YANG PERLU DILAKUKAN BAGI SEORANG PENGAWAS
G. Manajemen Waktu
Banyak orang mengalami stres karena merasa tidak mempunyai cukup waktu untuk melakukan semua tanggung jawabnya karena ada deadline, pembatasan anggaran dan tekanan kompetisi maka individu menjadi lebih banyak bekerja. Solusinya adalah pandai dalam mengatur waktu. Dua kunci yang
Kepribadian dan Sosial-MKPS 29 diperlukan untuk mengatur waktu adalah 1) kemampuan untuk menentukan prioritas 2) kemampuan untuk konsentrasi secara penuh pada satu hal dalam satu waktu.
Disiplin diri untuk mengatur pekerjaan dan fokus untuk menghargai tugas merupakan merupakan tanda waktu yang dimiliki di bawah kontrol. Hal tersebut dapat mengurangi tingkat stres. Ada dua hal agar waktu yang dimiliki tetap di bawah kontrol adalah: 1) Membuat keputusan hari ini untuk menjadi ahli dalam mengatur waktu 2) Menentukan prioritas secara jelas pada semua pekerjaan sebelum memulai aktivitas, mendisiplinkan diri untuk memulai pada tugas yang penting dan tetap fokus. Hal itu akan mengurangi stres dengan segera.
Empat pilar pada managemen waktu secara efektif adalah:
Pilar pertama adalah identifying roles. Banyak orang secara nyata tidak berfikir tentang peran yang mereka lakukan dalam hidup. Tugas yang pertama menuliskan peran kunci dalam hidup. Tulis peran sebagai anggota keluarga misal sebagai suami/istri, bapak/ibu, anak, paman/tante, kakek/nenek. Peran lain adalah di sekolah atau pekerjaan, pilih bagian khusus yang ingin difokuskan. Pilar kedua adalah selecting goals. Setelah melengkapi pilar pertama langkah selanjutnya adalah berfikir satu atau dua hasil yang ingin dicapai pada setiap peran selama minggu depan. Hal tersebut harus dicatat sebagai goal. Idealnya goal setiap minggu harus merupakan bagian dari goal jangka panjang.
Pilar yang ketiga adalah scheduling. Tujuan harus didefinisikan. Pada tahap ini perlu mengidentifikasi peran dan menentukan goal, menjabarkan setiap goal pada hari-hari tertentu dalam minggu ini. Pengawas harus mampu mengelola waktu dengan baik, sehingga dapat menjalankan program kepengawasannya secara baik pula. Kedisiplinan pengawas merupakan syarat mutlak, tetapi bukan keangkuhan yang diunggulkan untuk menutupi ketidakmampuan dalam mengelola waktu. Selanjutnya pengawas professional harus dapat memberdayakan diri secara maksimal sehingga dapat bermanfaat bagi diri dan orang lain.
III. MEMBERDAYAKAN DIRI A. Pengertian Pemberdayaan
Pemberdayaan belajar sebagai empat aspek organisasi pendidikan dengan para pendidik adalah sebagai berikut:
Kepribadian dan Sosial-MKPS 30 1. Informasi mengenai kinerja organisasi pendidikan
2. Imbalan-imbalan yang didasarkan atas kinerja organisasi pendidikan
3. Pengetahuan yang memungkinkan para pendidik memahami dan
menyumbang pada kinerja organisai pendidikan
4. Kekuasaan untuk membuat keputusan-keputusan yang mempengaruhi arah dan kinerja organisasi pendidikan.
Dalam suatu pendekatan lini proses belajar mengajar, hal-hal di atas cenderung dikonsentrasikan di tangan pemimpin dan pengawas sekolah. Dengan pendekatan pemberdayaan belajar, keempat aspek di atas cenderung digerakkan ke bawah, ke arah pendidik. Bahkan, dengan definisi ini, pemberdayaan belajar bisa berkisar antara member staf sebuah kotak saran sampai meminta mereka mengendalikan sekolah tanpa pemimpin dan pengawas sekolah.
Terdapat tiga tipe pemberdayaan :
1. Suggestion involvement merupakan sebuah pergeseran kecil yang menjauhi model control. Para pendidik didorong untuk menyumbangkan ide-ide melalui program-program saran formal atau lingkaran-lingkaran kualitas, tetapi kegiatan-kegiatan kerja sehari-hari mereka tidak benar-benar berubah. Suggestion involvement bisa membuahkan pemberdayaan tanpa mengubah pendekatan proses belajar mengajar, Mendefinikan pemberdayaan belajar dari sudut pandang Suggestion involvement.
2. Job Involvement merupakan penyimpangan yang signifikan dari model control karena ia secara dramatis membuka kandungan proses belajar mengajar. Proses belajar mengajar didesain ulang sedemikian rupa sehingga para pendidik menggunakan aneka ide-ide keterampilan. Para pendidik percaya tugas-tugas mereka penting.mereka mempunyai kebebasan lumayan besar dalam memutuskan bagaimana mengerjakan pekerjaannya. Mereka mendapat umpan balik lebih besar daripada pendidik dalam organisasi-organisasi pendidikan dan mereka masing-masing menangani satu bagian pekerjaan yang tertentu dan utuh. Meskipun demikian, terlepas dari tingginya tingkat pemberdayaan belajar yang dibawakannya. Pendekatan job involvement ini tidak mengubah keputusan-keputusan strategis tingkat yang
Kepribadian dan Sosial-MKPS 31 lebih tinggi yang menyangkut struktur organisasi pendidikan. Semua itu tetap menjadi tangung jawab pemimpin dan pengawas sekolah.
3. High involvement adalah tingkat yang ketiga, suatu organisasi pendidikan high involvement memberi para pendidik tingkat terendah, mereka mempunyai perasaan dilibatkan tidak hanya dalam bagaimana mereka mengerjakan pekerjaan mereka, atau seberapa efektif kinerja kelompok mereka, tetapi juga dalam kinerja total organisasi pendidikan. Praktis setiap aspek organisasi pendidikan yang berorientasi pada kontrol. Informasi mengenai segala aspek kinerja manajemen pendidikan dibagi secara horizontal di seantero organisasi pendidikan, maupun secara vertical (naik turun ke semua tingkat struktur). Para pendidik mengembangkan keterampilan-keterampilan yang luas dalam teamwork, problem-solving dan operasi-operasi belajar mengajar.
Orang yang sepenuhnya terberdayakan menerima tanggung jawab di semua tingkatan di atas dan biasanya tidak perlu berfikir dua kali untuk bertindak. Namun, untuk mencapai titik itu dibutuhkan waktu dan usaha keras. Pemberdayaan seseorang terjadi dalam tiga tahap, yang mirip dengan tahap-tahap pertumbuhan seorang anak kecil :
1. Dependensi : ketergantungan hierarkis pada tataran-tataran.
2. Independensi : ketika seorang individu mampu membuat keputusan sendiri. Pada tahap ini ia mendapatkan kepercayaan diri, menjadi suka memberontak dan menguji batas-batas pemberdayaan mereka.
3. Interdependensi : seorang individu menemukan bahwa orang tidak mungkin hidup sendiri. Dan mempelajari suatu dependensi baru yang didasarkan atas kesederajatan. Kerja sama dan kepercayaan pada rekan-rekan kerja. Mengemban keterampilan-keterampilan yang perlu untuk mengemban tanggung jawab. Sejumlah keterampilan diperlukan untuk mencapai titik interdepensi
Berbagi kekuasaan dan tanggung jawab. Secara umum, setiap pemimpin dan pengawas sekolah harus berbagi setidak-tidaknya 25 persen dari pekerjaannya setiap tahun, dengan jalan :
1. Mendelegasikan tanggung jawab pada orang-orang yang sudah dibimbing untuk menerimanya.
Kepribadian dan Sosial-MKPS 32 2. Mensistematisasikan proses-proses sedemikian rupa, sehingga mereka tidak
lagi membutuhkan tingkat masukan pertimbangan dan kendali manajerial yang sama.
Kepercayaan pada kompetensi masing-masing untuk mengerjakan apa yang dijanjikan. Mengembangkan jaringan informasi dan pengaruh yang efektif. Berbagi informasi memberikan efek, hal ini menciptakan kesetiaan dengan jalan membiarkan bawahan tahu bahwa mereka dipercayai dan ide-ide mereka dihormati. Hal itu mendukung arus komunikasi umum dan itu membantu memastikan para pemimpin dan pengawas sekolah agar mendengar tentang masalah-masalah yang berkembang supaya dapat dilokalisir dan tidak menyebar. Pengawas yang mau dan mampu memberdayakan diri diharapkan dapat menjadi teladan dan contoh bagi pihak-pihak yang disupervisi sehingga fungsi kepengawasan dapat berlangsung dalam konteks pemberdayaan bukan sekedar mengawasi saja.
B. Pengertian Komitmen Terhadap Perubahan Organisasi