BAB IV MODAL SOSIAL DAN MODAL BUDAYA
4.2 Modal Budaya
4.2.1 Kemampuan Bernegosiasi
Negosiasi adalah suatu kegiatan yang sering terjadi dalam ranah parkir. Di mana negosiasi tersebut berupa suatu kegiatan tawar-menawar antar beberapa pihak demi suatu tujuan. Menurut Lewicki, Sunders & Milton dalam Zuska, Fikarwin (2008), bahwa:
“negosiasi itu adalah aktivitas sehari-hari yang umum yang digunakan oleh sebagian besar orang untuk mempengaruhi orang lain dan untuk mencapai tujuan pribadinya, sembari pada saat yang sama memperhitungkan kebutuhan orang lain pula”.
Dalam ranah parkir hampir semua praktik membutuhkan kemapuan dalam bernegosiasi, dari perjanjian dengan Dinas Perhubungan sampai kepada meminta retribusi parkir kepada pengguna jasa parkir. Sehingga dapat disimpilkan bahwa ketidakmampuan dalam bernegosiasi sangat mempengaruhi kemenangan dalam bertarung di ranah parkir.
Kegiatan negosiasi pada pertarungan di ranah parkir ini sangat dipengaruhi oleh globalisasi dan HAM. Karena di era Globalisasi saat ini dan di mana Hak Azasi Manusia (HAM) semakin sering didengung-dengungkan lewat berbagai media massa sehingga hampir setiap individu terpapar oleh pengaruh Glolabalisasi tersebut. Kepungan informasi yang diakibatkan oleh Globalisasi seperti informasi tentang HAM, Hukum dan Demokrasi ikut mempengaruhi
tidakan individu di dalam ranah parkir. Hal serupa juga dikatakan oleh Zuska, Fikarwin (2018:224), bahwa:
“diskursus-diskursus global mencangkup Hak Azasi Manusia dan Demokrasi, yang membawa bersamanya pemikiran-pemikiran seperti keadilan, kesetaraan, debirokratisasi, yang dijabarkan melalui pelbagai macam tuntutan dan pengakuan atas hak(rights) baik individu maupun kolektif. Hal ini membawa implikasi sangat luas terhadap hubungan-hubungan atau konstruksi yang sudah ada di dalam pelbagai lapangan atau kancah, tak terkecuali tentu saja dalam hubungan antara atasan dan bawahan, antara aparat dengan warga, antara orang dengan orang, antara laki-laki dan perempuan dan seterusnya”.
Akibat dari globalisasi tersebut beserta informasi yang ikut disebarkannya maka kekerasan berwujud fisik tidak lagi mudah untuk dilakukan, karena HAM dan beserta pengaruh lain yang ikut disebarkan oleh Globalisasi telah melindungi hak-hak setiap individu dan juga membatasi kekerasan fisik yang dapat dilakukan oleh seseorang terhadap orang lain yang diatur dalam sebuah Undang-undang yang dikeluarkan oleh Negara. Hal tersebut juga dapat ditemukan dalam berbagai bentuk relasi kekuasaan yang terjadi dalam ranah parkir, seperti yang dikatakan Bang Sitorus ketika ia mengungkapkan kekesalannya terhadap pelanggan yang tidak membayar dan menunjukkan wajah sangarnya, bahwa pada masa ini karena zaman sudah maju dan teknologi juga sudah maju kekerasan fisik atau premansisme sudah tidak berlaku lagi:
“mudah-mudahan la besok datang lagi dia bila perlu pake dinas polisi, berharap kali aku kekgitu karena belagak preman karena deking nya polisi, deckingnya polri, makanya kalo kubilang nanti apa sombong kali yakan, pengen kali aku orang kekgitu hilang, kalau gak mati hilang, itulah cakap sombongnya jadinya. Geram awak sebenarnya, karena udah maju teknologi gak zaman lagi preman, udah basi preman, udah maju teknologi”. (wawancara pada 20 Agustus 2018)
Karena bentuk-bentuk kekuasaan dalam premanisme semakin sulit saat ini maka bentuk-bentuk mengalirkan kuasa kepada orang lain dapat ditransformasi kedalam bentuk-bentuk lain berupa simbolik, bahasa, wacana dan praktik-praktik lain. Fashri, Fauzi (2014:9) mengatakan bahwa pada era Globalisasi ini kekerasan mengalami perubahan secara radikal dari kekerasan atau kekuasaan secara fisik menjadi kekerasan secara simbolik ataupun bahasa:
“Seiring dengan globalisasi teknologi dan informasi, wujud kekuasaan dan kekerasan mengalami perubahan secara radikal. Keduanya hadir dalam sebuah ruang yang seolah-olah tidak terjadi apa-apa atau seakan-akan kosong dari segala kepentingan…, perwujudan relasi kekuasaan dan kekerasan pada era sekarang ini, tidak lagi tampil dalam ruang konkret yang melibatkan aktivitas fisik. Keduanya beroperasi dalam sebuah ruang representasi yang menjadikan sumber daya simbol sebagai kekuatan abstrak untuk menciptakan kebenaran”.
Maka untuk memperoleh kekuasaan tersebut diperlukan sebuah cara-cara yang sepertinya tidak bersifat memaksa atau dengan kekerasan fisik, yaitu dengan kekerasan atau menjalankan kuasa melalui simbol-simbol baik dengan menggunakan bahasa, wacana dan juga dapat dikemas dalam wujud negosiasi.
Simbol-simbol yang dimaksudkan pada saat bernegosiasi adalah berupa modal yang telah dibahas pada bagian-bagian sebelumnya, seperti deking merupakan salah satu dari modal tersebut, sehingga semakin “besar” dekingnya maka akan semakin besar peluangnya untuk menang atau mendapatkan akses.
Kemudian mandat yang dimiliki oleh seorang oknum yang akan menambah kekuatannya melalui legitimasi yang melekat padanya pada saat bernegosiasi.
Kesukuan dan PS, bahkan penampilan juga akan semakin memperkuat seorang individu saat bernegosiasi.
Keseluruhan modal tersebut pada akhirnya diakumulasikan. Semakin besar modal seseorang belum tentu membuat seseorang pasti menang dalam pertarungan – seperti yang terjadi dengan Pak Robert yang kalah pada saat bernegosiasi dengan pemilik Mie Aceh 20 – tetapi modal yang terakumulasi tadi haruslah dikomunikasikan melalui negosiasi. Sehingga semakin mahir seseorang atau pemilik modal bernegosiasi maka akan memperbesar peluang untuk dapat memenangkan pertarungan.
Mengkomunikasikan modal tersebut dilakukan dalam bentuk komunikasi melalui bahasa dan juga melalui simbol-simbol yang dapat diakses oleh orang yang berkepentingan. Bahasa yang dimaksud pada bagian ini dapat terbentuk dalam sebuah wacana, sehingga yang bertarung disana adalah pertarungan wacana. Sementara simbol yang saya maksudkan adalah makna dibalik sebuah simbol, seperti contohnya ketika ada seseorang berpakaian seragam polisi akan dapat membuat seseorang Jukir menjadi takut terhadap yang menggunakan seragam tersebut.
4.2.1.1 Negosiasi di Ranah Parkir
Berikut di bawah ini saya akan menunjukkan bagaiaman negosiasi dapat berlangsung di ranah parkir, dengan siapa bernegosiasi, dan apa kesepakatan yang terbentuk diantara mereka yang bernegosiasi.
A. Negosiasi dengan Dishub
Dalam relasi antara Dishub dengan bos Parkir haruslah dilakukan negosiasi terhadap beberapa hal yang perlu di dalam pengelolaan parkir. tetapi sebelum sampai pada pembahasan tersebut perlu diingat di dalam negosiasi yang terjadi bahwa peran seorang pengawas parkir atau pihak Dishub sangat mempengaruhi jalannya negosiasi.
Dalam hal ini tidak dapat dipungkiri bahwa yang dimaksud dengan Pengawas Parkir adalah seorang yang mengatasnamakan instansi tempat di mana ia bekerja yaitu Dishub. Sementara dilain sisi Pengawas Parkir juga merupakan individu yang memiliki kepentingan pribadi, sehingga seorang Pengawas Parkir memiliki dua kepentingan sekaligus. Hal tersebut sering disebut sebagai aktor yaitu di mana seseorang yang dikuasai oleh aturan dalam bertindak, dan kemudian sebagai agen yaitu di mana individu tersebut dapat membentuk suatu peraturan atau pengaruh untuk kepentingan diri sendiri. Hal tersebut dinyatakan oleh Ahearn dalam Zuska, Fikarwin (2008:172) mengatakan:
“dalam pandangan Karp, aktor merujuk pada seseorang yang tindakannya ‘dikuasai aturan’ atau ‘berorientasi pada aturan’, sementara agen merujuk pada seseorang yang terlibat dalam penyelenggaraan kuasa dalam arti mampu melahirkan pengaruh dan membentuk/membentuk kembali dunia”.
Legitimasi yang diberikan oleh Dishub juga ikut memudahkan dia untuk menjalankan kuasanya di ranah pengelolaan parkir. Tentu hal tersebut dapat diaksesnya untuk menguatkan dirinya dan melemahkan lawan pada saat bernegosiasi dengan pihak lain yang bisa saja hal tersebut tidak dimiliki oleh pihak lain. Hal tersebut juga senada dengan apa yang dikatakan oleh Zuska,
Fikarwin dalam bukunya Relasi Kuasa Antar Pelaku Dalam Kehidupan Sehari-hari (2008) bahwa sebagai individu yang mewakili sebuah lembaga, bahwa:
“ada dua kepentingan dan sekaligus kekuatan yang dapat diusung dan dimainkan oleh individu sebagai pelaku pada saat berhadapan dengan pelaku lain di lapangan, yaitu kepentingan dan kekuatan dari lembaga serta kepentingan dan kekuatan dari individu itu sendiri. Ke-pelaku-an dari individu tersebut memungkinkKe-pelaku-an dia memKe-pelaku-anfaatkKe-pelaku-an tidak hanya lembaga yang diwakilinya, tetapi juga semua sumber yang dapat diaksesnya untuk menghadapi kompetisi yang berlangsung di lapangan. Tujuannya boleh jadi untuk memperkuat diri sendiri dan atau untuk memperlemah pihak lain dalam tawar-menawar saat bernegosiasi dengan pihak lain”
Hal tersebut dapat dapat dilihat melalui praktik-praktik yang dilakukan oleh pengawas-pengawas parkir dalam pengelolaan parkir, Sehingga hal tersebut juga mempengaruhi tindakan para Jukir dalam mengelola parkir.
Adapaun hal-hal yang perlu untuk dinegosiasikan dalam ranah parkir diantaranya terkait mandat atau SPT, karena dalam mengelola parkir, salah satu hal yang terpenting adalah memiliki SPT. Sebelum SPT tersebut diserahkan kepada Individu ataupun kelompok yang ingin mengelola parkir maka akan berlangsung negosiasi, seperti negosiasi terkait dengan besar setoran.
Dalam hal ini untuk menentukan besaran setoran sangat diperlukan negosiasi, sehingga PS melalui parkir yang dikelolanya memiliki keuntungan dan kemudian Pengawas pun mendapat keuntungan. Seperti misalnya pada saat Pak Gondrong bercerita tentang setoran yang pada awalnya sebesar Rp. 3.000.000, kemudian Rp. 4.000.000, hingga Rp. 6.000.000, dalam hal ini salah satu hal yang mendasari pertimbangan dalam negosiasi adalah dengan mempertimbangkan potensi parkir. Sebagai contoh, jika dalam suatu lokasi parkir memiliki potensi parkir sebesar Rp. 100.000, maka biasanya DISHUB akan menetapkan setengah
dari potensi parkir yang sebenarnya untuk disetorakan ke DISHUB yaitu sebesar Rp. 50.000, dan setengahnya lagi dianggap sebagai gaji dari Jukir yang menjaga, seperti yang dikatakan oleh Pak Richard:
“Memang kita akui dari Dinas Perhubungan, masi ada kebocoran untuk orang itu, jadi kalo betul-betul kita hitung semua potensi parkir itu, setor kemari, siapa yang mengutip? Gadak yang mau kan?
Makanya ada jugalah, misalnya kalo potensi disitu sebesar Rp.100.000, minimal setengahnyalah disetorkan ke Negara, sisanya biarlah untuk gaji mereka, karena kalo enggak mereka kutip, siapa yang mau mengutip, siapa yang mau menyetor? Gak tekutip juga, itu kan ada imbasnya ke Negara, minimal dampak sosialnya, mengurangilah dari dampak sosial”. (wawancara pada 25 September 2018)
Kemudian hal lain yang perlu dinegosiasikan adalah seperti halnya teknis pembayaran retribusi parkir dan ataupun kewajiban Jukir yang diperloggar dan juga ada beberapa hal peraturan yang bersifat tegas tetapi itupun ikut dinegosiasikan antara DISHUB dengan PS yang mereka tunjuk. Sepertinya halnya peyetoran yang harus dilakukan sekali dalam 24 jam pada jam kantor. Di dalam SPT yang dikeluarkan oleh DISHUB jelas dituliskan bahwa penyetoran uang parkir setiap harinya harus menyetorkan paling lambat sekali dalam 24 jam kepada bendahara DISHUB, yang tertulis dalam SPT poin B:
“Menyetorkan hasil Pengutipan retribusi parkir sebesar penerimaan di lokasi parkir yang menjadi tanggung jawabnya setiap harinya ke-kas Pemerintah Kota Medan cq. Bendaharawan Penerimaan Dinas Perhubungan Kota Medan paling lambat dalam jangka Waktu 1 x 24 jam” (Sumber : SPT DISHUB)
Sama halnya dengan apa yang dikatakan oleh Pak Richard:
“ jadi kita disini kan setiap hari mereka, menyetorkan ke Dishub, jadi teknis dia di lapangan, kita gak mencampurinya, yang jelas target perhari dia wajib disetorkan ke Dinas perhubungan. Jadi teknis dia di
lapangan, sipengawas tadi ada yang bulanan, ada yang apa, semua itu kita tidak mencampurinya, tapi yang jelas setoran dia yang dicantumkan dalam SPT/mandat setiap hari setor ya wajib setor. Jadi teknis dia di lapangan mau dia bulanan mau dia harian itu teknis dialah, pengutipan dia yang jelas kalo kita disini menerima laporan dia sekali dalam 24 jam”. (wawancara pada 17 September 2018)
Tetapi berbeda halnya dengan apa yang dikatakan oleh Pak NN yang adalah bawahaan Pak Richard. Pak NN mengatakan bahwa dalam pengaplikasiannya sering kali penyetoran retribusi itu dilakukan sekali dalam sebulan, jadi seperti diberikan kelonggaran kepada PS yang mengelola parkir agar dapat pula mengutip secara perbulan kepada pengusaha, dan waktu yang diberikan kepada PS adalah 1 bulan, jika 1 bulan tersebut menunggak , maka tidak akan diberikan lagi SPT kepada PS tersebut, dan jika sudah dilunasi maka akan diberikan izin atau SPT bulan berikutnya, sebagai contoh, Pak NN mengatakan :
“contoh, bulan September nunggak terus nanti di awal bulan oktober dilunasi, setelah dilunasi barulah bisa untuk izin berikutnya”.
Kemudian pak NN juga mengatakan jika PS tadi menunggak bisa jadi pengawas pun mengancam PS tersebut untuk tidak diberikan lagi SPT lagi”. (waawancara 25 September 2018)
Dalam hal ini kita melihat bagaimana aturan tentang penyetoran retribusi parkir wajib dibsetorkan kepada bendahara DISHUB dalam jangka waktu 24 jam, tetapi pada kenyataannya hal tersebut dinegosiasikan sehingga terjadi kelonggaran akan aturan yang berlaku tetang pengelolaan dan kesepakatan antar kedua belah pihak. Dalam hal ini bukan hanya PS saja yang diuntungkan tetapi DISHUB juga beserta pengawasnya mendapapatkan keuntungan, yaitu jika pembayaran sekali dalam sebulan maka PS bisa saja menaikkan tarifnya dan mengambil hasil retribusi tersebut kepadanya untuk dijadikan uang kantong.
Peraturan-peraturan yang ikut dinegosiasikan ini juga membuat Jukir leluasa untuk menetapkan tarif parkir kelas I kepada parkir kelas 2 dengan kata lain pelanggan harus membayarkan uang lebih dari yang seharusnya untuk parkir, sehingga tidak ada kepastian hukum bagi para pelanggan.
Sehingga pada akhirnya negosiasi tersebut akan menghasilkan kesepatan bersama antara individu atau kelompok dengan DISHUB. Sepert yang dikatakan oleh Pak NN ketika saya tanyakan bagaimana pengawas parkir mencari Jukir dilapangan, beliau mengatakan bahwa:
“yang pertama itu adalah berdasarkan potensi parkir, jika suatu tempat berpotensi untuk dikutip retribusinya, maka pengawas yang ditunjuk oleh Dishub menghubungi ketua PS di suatu daerah tersebut dan mengadakan perjanjian dengan Ketua PS tersbut terkait dengan besar setoran, maupun SPT dan kesepakatan-kesepatakan lain. Jika ketua PS setuju maka ketua PS akan mencari anggotanya, dan menyerahkan KTPnya kepada Dishub untuk dibuatkan Badge pakir dan diberikan seragam”. (wawancara pada 25 September 2018)
Tetapi dalam hal ini jika kesepatakan yang dihasilkan dari negosiasi tadi tidak ditepati oleh salah satu pihak maka akan berakibat kesepatan tersebut akan berakhir, atau juga ketika kesepatakan tersebut dirasa salah satu pihak tidak menguntungkan lagi maka kesepatakan tersebut akan batal. Misalnya saja jika Ps yang dipercayakan oleh DISHUB tidak menyetorkan besaran setoran retribusi setiap bulannya, maka bisa saja SPT tersebut tidak akan diberikan lagi kepada PS yang tidak membayar tadi atau yang biasa dikatakan dikalangan pengelola parkir adalah “mandat dicabut”.
B. Bernegosiasi dengan Pengusaha
Ketikapun bos parkir sudah mendapatkan SPT maka hal tersbut belumlah cukup untuk dapat menguasai pengelolaan parkir dengan baik, karena jika terjadi perlawanan dari pemilik usaha maka dan jika bos parkir tersebut tidak memiliki kemampuan untuk bernegosiasi dan mempergunakan kuasa yang dimilikinya pada saat bernegosiasi maka bos parkir tersebut akan kalah. Seperti yang dialami oleh Pak Robert ketika diawal ia merintis parkir di Jl. Pasar Baru, karena ketidakmampuannya dalam bernegosiasi dengan pemillik warung Mie Aceh dan juga disertai karena Pak Robert kurang lihai dalam memanfaatkan SPT yang dimilikinya maka Pak Robert pun kalah.
Berbeda halnya dengan Pak Gondrong, ketika ia melihat kekalahan Pak Robert ia pun bernegosiasi dengan Pak Yosian yang adalah pengawas parkir di Jl.
Pasar Baru. Karena kelihaiannya dalam bernegosiasi Pak Gondrongpun berhasil mendapatkan SPT terebut. Bukan hanya berhasil dalam mendapatkan SPT dari Pak Yosian, tetapi juga Pak Gondrong berhasil bernegosiasi dengan pemilik warung Mie Aceh dan juga dengan memanfaatkan modal yang dimilikinya yaitu berupa SPT sebagai tanda ke-resmi-an dari pengelolaan parkir tersebut, sehingga membuat para pemilik Mie Aceh tidak dapat berbuat apa-apa termasuk dalam mengandalkan deking yang dia miliki. Seperti yang dikatakan oleh Bang Pian pada saat kami bercerita-cerita:
“Pertama sih orang IPK pertama kali dikasi megang ini, ditest orang itu rupanya orang itu gak pande melobi sama pengusaha mie aceh, bawaannya mau berantam, jadi orang ini kan itunya yang dipancing orang ini, supaya berani kita buat rusuh, baru okelah kitapun takut kalo udah datang polisi kan gitu, orang ini taulah. Sifat orang itukan kurang pande taunya “gak senang kau gini-gini” jadi orang ini bisa
melapor kita ketangkap la kita kan gitu, terpaksa kita mundur kan, anggar decking orang itu, karna kita tau salah kita kan jadi kita lari kan, coba kita gadak rasa salah kita, walaupun PM belagu dia karna kita jelas ada surat mandat kita,aturannya malah kita bilang “ pak-pak gak bisa ikut campur tangan urusan ini kna gitu, udah itu, bukan itu kerjaan dia, bukan urusan mie aceh. Peranglah disana ya kan, ngapain malah dia disini ngurusi mie aceh kan gitu.tapi karna takut orang ini karna ada salahnya dulu, ribut sama pengusaha mie aceh ini, mundur orang itu. Masuklah si gondrong tiba-tiba, si gondrong ini entah kekmana mungkin pande muncungnya ngomong” (wawancara 15 Juli 2018)
Jauh sebelum hal tersebut, ternyata Pak Gondrong sudah memiliki pengalaman dalam bernegosiasi dengan pengusaha-pengusaha di sekitar Jl. Jamin Ginting di daerah kekuasaannya. Di mana Pak Gondrong telah berhasil melobi pengusaha seperti, Indomaret, Surya Swalayan, dan masih banyak lagi. Sehingga Pak Gondrong telah berhasil mempraktikkan dua jenis penerimaan retribusi parkir, yang pertama adalah dengan cara menempatkan Jukir pada setiap tempat-tempat ramai, sehingga Jukir tersebut menjaga parkiran tersebut dan meminta retribusi kepada setiap pengguna jasa parkir, seperti ATM BRI, warung Azir, Best Bandrek, Sate Madura, dan Pangsit Awai. Tetapi dalam kesepatan yang pertama ini pemilik usaha tidak dibebankan lagi atas besar setoran setiap bulannya.
Yang kedua adalah dengan cara menetapkan setoran kepada setiap pengusaha di pinggiran Jl. Jamin Ginting setiap bulannya. Karena tidak semua tempat di Jl. Jamin Ginting ramai dikunjungi oleh pengunjung sehingga tidak memungkinkan untuk ditugaskan seorang Jukir, karena Jika seorang Jukir dibuat untuk menjaga kemungkinan untuk upahnya saja tidaklah cukup, karena menurut pak Gondrong jika dibuat menjaga parkir kemungkinan dapatnya hanyalah sekitar Rp. 30.000, kemudian jika yang diadapatkan sekitar Rp. 30.000 tersebut dibagi
dua lagi maka yang didapatkan oleh Jukit tersebut hanyalah Rp. 15.000 saja.
Maka hal tersebut dirasa tidak cukup dan mungkin tidak aka nada juga yang akan menjaga parkir jika pendapatan hanya sekitar Rp. 15,000. Untuk mengatasi hal tersebut maka Pak Gondrong mengambil inisiatif untuk mengenakan tarif perbulan kepada setiap pengusaha-pengusaha yang berada di Jl. Jamin Ginting.
Seperti yang dikatakan oleh pak Gondrong:
“Gak suka orang kerja disitupun, dia sendiri pun gak cukup, apa disetorkannya, taroklah dijaganya, dapatnya Rp.30.000, apa sama dia, apa sama kita, sementara sama kita, sama diapun masih kurang, kita minta lagi, kita bilang bagi dua la umpamanya, Rp.15.000 sama dia, besok gak datang lagi. Rp.15.000 cuman dapatnya dari sore sampe malam, dari sore jam 7 udah standby sampe dia jam satu, jam dua, dapat cuman Rp.15.000, mana mau orang kerja. Jalan satu-satunya dibulani itu aja, kita minta bulanannya, gausa kita kutip parkirnya, parkirnya gak kita kutip tapi yang punya warung bayar. Kekwarung inilah, yang punya warung bayar sama kita parkir gausa dikutip”.
(wawancara pada, 19 Juli 2018)
Pak Gondrong juga mengatakan alasan lain untuk menetapkan setoran perbulan juga dikarenakan Pak Gondrong juga harus menyetorkan setiap bulannya kepada DISHUB, karena jika tidak begitu dilakukan maka tidak akan cukup untuk memenuhi setoran perbulan kepada DISHUB :
“Kalo gak dari mana ngambil setoran, bayar semua itu, stasiun-stasiun itu bayar smua itu, stasiun motor itu bayar semua itu” (wawancara pada 19 Juli 2018)
Sementara untuk besaran setoran yang ditetapkan oleh Pak Gondrong kepada setiap pengusaha adalah berdasarkan kesepatakan yang diperoleh berdasarakan negosiasi antara Pak Gondrong dengan pengusaha yang berada di Jl.
Jamin Ginting. untuk besar setorannya yaitu mulai dari Rp. 50.000 hingga Rp.
300.000 perbulannya untuk masing-masing usaha. Pak Gondrong juga
mengatakan bahwa ketika bernegosiasi tersebut terjadi “saling pengertian”, saling pengertian yang dimaksudkan oleh Pak Gondrong ditandai dengan adanya saling toleransi antar Pak Gondrong dengan pemilik usaha, jika usahanya tersebut sepi atau pendapatan mereka tidak seberapa, maka biasanya juga Pak Gondrong akan mengurangi besar setorannya, tetapi jika pengunjung ramai maka Pak Gondrong juga akan menaikkan besar setoran yang harus dibayarkan setiap bulannya :
“ada yang Rp.100.000, ada yang Rp. 80.000, pengertian ajalah, ada Rp. 300.000 ada Rp.150.000. Motor-motor besar itu rata-ratalah Rp.
150.000, Datra, Karsima, rata-rata Rp. 150.000 per stasion perbulannya, kalo taxi-taxi itu paling-paling Rp.70.000, Rp. 80.000, orang diapun gadak sewanya, kan ada taxi-taxi kota cane itu, sewanya pun gadak, sewanya pun gadak, itu tadilah ada yang ngasi Rp.50.000”.
(wawancara pada 19 Juli 2018)
Tentunya untuk dapat memperoleh setoran yang ditetapkan oleh Pak
Tentunya untuk dapat memperoleh setoran yang ditetapkan oleh Pak