• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB III MODAL SIMBOLIK DAN MODAL EKONOMI

3.1 Simbol Sebagai Modal

3.1.3 Penampilan

Penampilan merupakan suatu hal yang sangat penting dalam pertarungan di ranah parkir. Bagaimana penampilan akan sangat mempengaruhi praktik-praktik dalam mengelola parkir. Semakin “seram” seseorang berpenampilan maka akan semakin ditakuti oleh orang lain. Sebaliknya jika semakin tidak seram seorang jukir maka dapat membuat individu tersebut tidak ditakuti oleh lawannya.

Dalam hal ini saya mengkategorikan penampilan ke dalam dua kategori; pertama, adalah penampilan secara fisik, kedua, penampilan luar.

Penampilan secara fisik adalah penampilan yang sudah dimiliki sejak lahir dan berubah seiring dengan pertumbuhan fisik. Namun dalam hal ini penampilan secara fisik atau berdasarkan cirri fisik adalah suatu penampilan yang sulit untuk diubah-ubah, seperti tinggi badan, raut wajah, jenis rambut, suara, dsb.

Sementara penampilan luar merupakan sesuatu bentuk penampilan yang mudah untuk diubah-ubah yaitu sesuai dengan keinginan, trend dan kebutuhan, seperti baju, celana, serta aksesoris-aksesoris yang bernilai simbolik yang melekat pada tubuhnya. Tetapi pada praktiknya sering kali penampilan luar diatur sedemikian rupa untuk mengatasi keterbatasan penampilan secara fisik di dalam kebutuhan akan simbol yang harus dimiliki oleh seorang Jukir atau Bos Parkir.

Selain itu, konsep “seram” bagi setiap individu sangat mempengaruhi bagaimana mereka berpenampilan. Mengingat konsep “seram” atau ditakuti sangat dibutuhkan pada saat menjaga parkir atau memilliki pekerjaan sebagai Jukir. Semakin “seram” seorang Jukir maka semakin ditakuti, sehingga seorang Jukir tersebut memiliki suatu bentuk kuasa yang ia dapatkan dari penampilan yang berusaha sedemikian diatur olehnya. Maka tidak heran jika masing-masing Jukir akan berusaha menampilkan dirinya seseram mungkin.

Maka pada bagian ini saya memperlihatkan bagaimana para Jukir di ranah Parkir berusaha berpenampilan “seram” dengan tujuan agar melalui penampilan tersebut Jukir dapat menambah nilai modal simbolik yang mereka miliki

3.1.3.1 Berpenampilan Seram Sebagai Suatu Upaya untuk Menambah Nilai Modal Simbolik

Sebagai seorang Jukir atau pun bos parkir akan selalu berhadapan dengan berbagai individu ataupun berbagai oknum baik suatu instansi maupun kelompok.

Maka pada saat bertemu atau bernegosiasi ini masing-masing individu akan berusaha menunjukkan kuasanya yang dapat diperlihatkan melalu berbagai cara, salah satunya adalah melalui modal simbolik dengan lebih rinci lagi melalui penampilan.

Bentuk-bentuk penampilan yang ingin ditampilkan pastinya akan berbeda di dalam masing-masing ranah di mana seseorang tersebut bertarung. Jika seseorang tersebut berada dalam suatu ranah “perkantoran” maka bentuk penampilan yang dipergunakan adalah penampilan yang rapi, bersih, dan menarik.

Jika seseorang berada dalam ranah “keagamaan” maka bentuk penampilan yang yang dipergunakan adalah penampilan yang sopan, menutup aurat, dsb. Sama hal nya dengan ranah parkir, di mana pada ranah parkir penampilan yang dipergunakan adalah penampilan yang bertujuan untuk menunjukkan “arogansi”, penampilan yang “maskulin” atau dengan bahasa sederhana “seram”. Sehingga dengan penampilan tersebut dapat membuat lawan bertarung untuk takut, tidak berani bahkan dapat membuat lawan tunduk.

Ada berbagai bentuk penampilan Jukir maupun bos parkir dalam ranah parkir, dalam hal ini saya membaginya menjadi dua kategori, yaitu penampilan secara fisik dan penampilan luar;

A. Penampilan Secara Fisik 1. Berbadan Tegap

Berbadan tegap merupakan suatu bentuk penampilan secara fisik yaitu yang sulit untuk diubah-ubah. Berbadan tegap cenderung membuat orang takut, karena badan tegap memiliki ciri fisik seperti, badan besar berotot layaknya seorang petinju, atau seorang tentara, di mana pada umunya orang berpikir ketika seseorang memiliki badan tegap berarti orang tersebut juga memiliki suatu kekuatan yang lebih, sehingga jika lawan atau orang lain kalah dalam ukuran badan dapat menjadi takut. Dalam ranah parkir yang saya teliti saya menemukan dua orang yang termasuk dalam kategori berbadan tegap, yaitu Pak Gondrong dengan Bang Pian.

2. Wajah Sangar

Wajah sangar yang saya maksud disini adalah bagaimana raut wajah seseorang tersebut terlihat menakutkan, sehingga dapat membuat orang lain takut, terutama bagi mereka yang menggunakan jasa parkir. Seperti yang saya temui di dalam ranah parkir yaitu pada Pak Gondrong dan juga Bang Pian.

Pak Gondrong memiliki wajah yang cukup lebar seperti wajah “etnis karo”

ataupun orang batak pada umunya, ditambah lagi wajahnya yang sering kemerah-merahan, bola mata yang terlihat melotot sekan-akan mau keluar dan mata yang juga sering kemerah-merahan seperti seorang yang sedang mabuk oleh minuman keras. Pak Gondrong juga adalah sosok yang jarang senyum kepada orang lain sehingga wajahnya terlihat sangat kaku dan juga beliau adalah sosok yang jarang berbicara pada saat menjaga parkir, tetapi ketika ia berbicara maka akan terdengar suara yang “serak-serak” yang dapat mebuat orang yang mendengarnya sedikit merinding. Ditambah lagi degan rambut gondrongnya membuat Pak Gondrong yang menandakan bahwa memang Pak Gondrong adalah seseorang yang memang pantas untuk ditakuti.

Sementara dengan Bang Pian, beliau juga memiliki wajah yang sangar tetapi memang tidak se-sangar Pak Gondrong. Beliau memiliki wajah yang lebar, dan juga persegi layaknya seperti kebanyakan etnis batak. Bang Pian juga sosok yang jarang untuk tersenyum dan juga jarang berbicara dan juga tidak ramah kepada pelnggan jasa parkir, sehingga jelas terlihat wajah Bang Pian kaku dan dingin, ditambah lagi dengan suara yang kuat dan tegas, sehingga pada saat ia

berbicara “Parkir!!” maka akan membuat karakter suara dan wajahnya cocok yang dapat membuat orang lain takut terhadapnya.

Tetapi tidak semua jukir memiliki ciri fisik yang seram sehingga Jukir yang lain yang tidak memiliki ciri fisik yang seram berusaha sedemikian melekatkan berbagai simbol dan aksesoris untuk membuat seorang jukir tersebut terlihat lebih seram ataupun lebih arogan. Tetapi bagi mereka yang sudah memilliki ciri secara fisik yang sudah seram, mereka juga akan tetap menggunakan berbagai aksesoris ataupun dengan berbagai simbol untuk lebih lagi menambah nilai kuasa. Hal tersebut akan dibahas pada poin berikutnya.

B. Penampilan Luar

Penampilan luar adalah merupakan suatu cara untuk menambah nilai modal simbolik yang dimiliki seseorang. Bagi individu yang memiliki ciri fisik yang mendukung di ranah parkir maka dengan menggunakan penampilan luar akan menambah nilai modal simbolik yang dimilikinya. Sementara bagi mereka yang tidak memiliki panampilan secara fisik yang mendukung di dalam ranah parkir, maka menambah nilai modal simbolik melalui penampilan luar adalah sesuatu yang harus dilakukan. Untuk menambah nilai modal simbolik melalui penampilan luar dapat ditempuh dengan menggunakan berbagai aksesoris atau simbol dan juga dapat dilakukan melalui gerak gerik tubuh.

1. Mengenakan Celana Robek atau Celana Pendek

Mengenakan celana yang robek adalah sesuatu yang lazim bagi para Jukir.

Seperti Pak Gondrong, Tulang Sinaga, Bang Sitorus, mereka akan selalu mengenakan celana jeans yang robek dibagian lutut atapun di paha. Sementara dengan Bang Pian ia akan selalu mengenakan celana pendek pada saat menjaga parkir.

2. Mengenakan Badgename dan Baju Jukir

Mengenakan badgename dan baju jukir adalah sebagai bentuk keresmian suatu individu yang menjaga parkir. Sebuah badgename dan juga baju orange yang sering digunakan Jukir memberikan suatu legitimasi sebagai penanda tentang sah atau tidaknya seseorang untuk menjaga parkir. Jika seseorang tidak memiliki badgename atau baju parkir maka akan dipertanyakan orang keresmian suatu pihak tentang keresmiannya untuk menjaga parkir, sehingga ia akan membutuhkan modal lain untuk tetap dapat mempertahankan status quo yang ia miliki.

Hal lain yang juga dipergunakan oleh beberapa jukir adalah seperti kebiasaan membuka kancing baju yang biasa dilakukan oleh Pak Gondrong, sehingga dengan membuka kancing bajunya akan membuat dada Pak Gondrong terlihat dan berwarna kemerah-merahan. Kemudian kebiasaan lain Pak Gondrong adalah ketika ia menjaga parkir dan kemudian ia akan minum “tuak” dan juga sembari merokok.

Tetapi ada juga beberapa Jukir yang berbeda dengan yang lain dari penampilan. Misalnya seperti Tulang Nadeak ia adalah seorang Jukir yang

menjaga parkir di Mie Aceh Ijo. Ia berbeda dengan kebanyakan jukir yang berusaha terlihat seram, malah sebaliknya Tulang Nadeak selalu berpenampilan rapih dan bersih ia juga adalah sosok yang ramah. Sehingga cara lain yang sempat ia gunakan agar dapat meluluhkan hati pelanggan adalah dengan melayani para pelanggan yang parkir dengan menyapa, dengan mengeringkan tempat duduk sepeda motor pada saat hujan, mengantar pelanggan yang parkir ke dalam mobil menggunakan paying pada saat hujan.

Tetapi perlakuan Tulang Nadeak yang bersahabat dan juga ramah kepada para pengguna jasa parkir ternyata tidak menjamin pengguna jasa parkir akan dengan senang hati untuk membayar uang parkir. Tetapi ternyata hal tersebut seringkali dimanfaatkan oleh pengguna jasa parkir untuk tidak membayar uang parkir karena alasan kedekatan, atau dengan mengatakan “satokkin jo da Tulang mangantar dongan” (sebentar ya Tulang untuk mengantar teman), tetapi ternyata tidak kembali lagi.

Ada pula pengguna jasa parkir yang tidak pernah membayar uang parkir dan sengaja menempatkan sepeda motornya pada sudut ruang parkir dan Tulang Nadeak merasa tidak terima dengan hal tersebut maka pada akhirnya Tulang Nadeak sengaja membeli lem Alteco dan menuangkan lem tersebut di lobang kunci sepeda motor tersebut sehingga membuat pemilik sepeda motor tidak bisa menggunakan kunci sepeda motornya, sehingga pemilik motor harus memanggil tukang kunci. Akibat dari kuasa yang dijalankan oleh Tulang Nadeak pemilik sepeda motor harus menagalami kerugian ratusan ribu rupiah. Sehingga setelah

kejadian tersebut pemilik sepeda motor selalu memarkir di dekat Tulang Nadeak menjaga parkir dan sudah selalu membayar uang parkir.

Karena Tulang Nadeak merasa bahwa pelayanana dan keramahan yang diberikan Tulang Nadeak kepada Pengguna Jasa Parkir di Mie Aceh Ijo ternyata dimanfaatkan oleh beberapa orang, pada akhirnya Tulang Nadeka tidak lagi melap tempat duduk sepeda motor ketika hujan datang. Karena menurut Tulang Nadeak tidak ada gunanya memberikan pelayanan yang baik kepada pengguna jasa parkir.

Tetapi Tulang Nadeak tidaklah seperti Jukir yang lain yang mau ribut atau berdebat demi uang Rp. 2.000,-. Tulang Nadeak biasanya akan mendiamkan saja jika ada yang hendak mencari alasan agar tidak membayar parkir, tetapi walaupun terkadang ia bersungut-sungut atau malah mencari cara untuk memberi pelajaran kepada pengguna jasa parkir yang tidak mau membayar ketika datang sekali lagi untuk makan atau minum di warung tersebut. Berbeda halnya dengan Bang Siregar, ia tidak memiliki badgename dan juga tidak memiliki baju parkir, sehingga Bang Siregar sering kali mendapat perlawanan dari para pengguna jasa parkir dan juga sempat membuat Siregar tidak percaya diri dalam menjaga parkir.

Dari beberapa fenomena di atas dapat dilihat bagaimana masing-masing individu mengatur penampilan mereka agar sesuai dengan yang dibutuhkan pada ranah parkir. Bagi mereka yang tidak dapat memenuhi kebutuhan tersebut maka seorang jukir harus mengorbankan modal lain yang mungkin untuk menutupi kelemahan tersebut. Jikalau modal lain sudah dikerahkan tetapi juga tidak cukup maka seorang jukir parkir akan sangat kesulitan untuk menjalankan tugasnya

karena tidak memiliki modal simbolik yang kuat berdasarkan penampilan yang berusaha untuk ia perlihatkan.