• Tidak ada hasil yang ditemukan

Mandi Wajib

Dalam dokumen RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN (RPP) (Halaman 72-80)

CATATAN GURU

M. Media Pembelajaran 5. Media/alat

1. Mandi Wajib

Mandi wajib adalah mandi untuk menghilangkan hadas besar. Sering disebut juga mandi janabat junub. Adapun cara mandi wajib adalah sebagai berikut.

a. Niat mandi untuk menghilangkan hadas besar. Jika dilafalkan maka bacaanya sebagai berikut : “Saya niat mandi menghilangkan hadas besar karena Allah ta’ala”.

b. Menghilangkan najis apabila terdapat di badannya seperti bekas tetesan darah.

c. Membasahi seluruh tubuh mulai dari ujung rambut sampai ujung kaki. Pada saat mandi wajib, kita juga disunahkan untuk mambaca basmalah, mencuci kedua tangan sebelum dimasukkan ke dalam bejana, ber-wudhu terlebih dahulu, mendahulukan yang kanan dari yang kiri, menggosok tubuh dan sebagainya.

2. Wudhu

Wudhu adalah cara bersuci untuk menghilangkan hadas kecil. Adapun tata cara wudhu adalah sebagai berikut.

a. Niat dalam hati, jika dilafalkan maka bacaannya sebagai berikut : “Saya niat wudhu menghilangkan hadas kecil karena Allah ta’ala”.

b. Disunahkan mencuci kedua telapak tangan, berkumur-kumur dan membersihkan lubang hidung.

c. Membasuh muka.

d. Membasuh kedua tangan sampai siku.

e. Mengusap kepala.

f. Disunahkan membasuh telinga.

g. Membasuh kaki sampai mata kaki.

h. Tertib (dilakukan secara berurutan).

i. Berdo’a setelah wudhu.

3. Tayammum

Tayammum adalah pengganti wudhu atau mandi wajib. Ber-tayammum itu mudah, caranya adalah sebagai berikut.

a. Niat (untuk dibolehkan mengerjakan shalat); “Aku niat bertayammum untuk dapat mengerjakan shalat karena Allah ta’ala”.

b. Mengusap muka dengan tanah (debu yang suci);

c. Mengusap tangan kanan hingga siku-siku dengan debu;

d. Mengusap tangan kiri hingga siku-siku dengan debu.

Lampiran 5 : Materi Pembelajaran

Jujur, Amanah dan Istiqamah

a. Pengertian jujur, amanah dan istiqamah 1. Jujur

Jujur adalah kesesuaian sikap antara perkataan dan perbuatan yang sebenarnya. Apa yang diucapkan memang itulah yang sesungguhnya dan apa yang diperbuat itulah yang sebenarnya. Kejujuran sangat erat kaitannya dengan hati nurani. Kata hati nurani adalah sesuatu yang murni dan suci. Hati nurani selalu mengajak kita kepada kebaikan dan kejujuran. Namun, kadang kita enggan mengikuti hati nurani. Bila kita melakukan sesuatu yang tidak sesuai hati nurani, maka itulah yang disebut dusta.

Apabila kita katakan sesuatu yang tidak sesuai dengan kenyataan, itulah yang dinamakan bohong. Dusta atau bohong merupakan lawan kata jujur. Mengapa kita harus jujur?.

Jujur itu penting. Berani jujur itu hebat. Sebagai makhluk sosial, kita memerlukan kehidupan yang harmonis, baik dan seimbang. Agar tidak ada yang dirugikan, didzalimi dan dicurangi, kita harus jujur. Jadi, untuk kehidupan yang lebih baik kuncinya adalah kejujuran. Hal ini sesuai dengan sabda Nabi: “Dari Abdullah ibn Mas’ud r.a., Rasulullah saw. Bersabda “Sesungguhnya jujur itu membawa kepada kebaikan dan kebaikan itu membawa ke surga”. (H.R. Bukhari).

Ada ungkapan yang mengatakan bahwa “kejujuran itu mahal”. Ya, kejujuran memang sangat mahal karena berkata jujur itu terkadang sangat berat. Akan tetapi, agar dapat dipercaya orang, kita harus jujur. Rasulullah SAW telah memberi contoh nyata kepada kita. Pada masa jahiliyah sangat sulit mencari orang yang jujur. Dengan kejujuran Rasulullah SAW menjadi orang yang paling terpercaya. Beliau mendapat gelar al-Amin (dapat dipercaya) dari bangsa Quraisy.

Kejujuran berbuah kepercayaan, sebaliknya dusta menjadikan orang lain tidak percaya.

Jujur membuat hati kita tenang, sedangkan berbohong membuat hati jadi was-was.Akan tetapi kadangkala, ada orang yang tidak suka dengan kejujuran. Hal ini dapat terjadi kalau orang itu akan terganggu oleh kejujuran kita itu. Meskipun demikian jangan takut dan risau karena lebih banyak pihak yang mendukung kejujuran.

Kejujuran merupakan bagian dari akhlak yang diajarkan dalam Islam. Seharusnya sifat jujur juga menjadi identitas seorang muslim. Katakan bahwa yang benar itu adalah benar dan yang salah itu salah. Jangan dicampuradukkan antara yang hak dan yang bathil. Allah SWT berfirman: “Dan janganlah kamu campur adukkan kebenaran dengan kebathilan dan (janganlah) kamu sembunyikan kebenaran, sedangkan kamu mengetahuinya”.

2. Amanah

Amanah artinya terpercaya (dapat dipercaya). Amanah juga berarti pesan yang dititipkan dapat disampaikan kepada orang yang berhak. Amanah yang wajib ditunaikan oleh setiap orang adalah hak-hak Allah SWT seperti shalat, zakat, puasa, berbuat baik kepada sesama, dan yang lainnya. Amanah berkaitan erat dengan tanggung jawab.

Orang yang menjaga amanah biasanya disebut orang yang bertanggung jawab.

Sebaliknya, orang yang tidak menjaga amanah disebut orang yang tidak bertanggung jawab. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa menjaga amanah itu penting. Kalau kalian setuju dengan pernyataan ini, mulai sekarang kalian harus berlatih untuk menjaga amanah. Kalian harus berlatih untuk bertanggung jawab. Untuk berlatih tidak sulit. Mulailah dari menjaga amanah yang kecil-kecil, seperti bertanggung jawab saat piket kebersihan. Kalian belajar dan sekolah dengan sungguh-sungguh. Itu juga bagian dari menjaga amanah.

Melaksanakan ibadah shalat juga bagian dari menjaga amanah dari Allah SWT.

Ternyata, tanpa disadari kalian sudah mulai berlatih menjaga amanah. Siapa tahu kelak di antara kalian ada yang mendapat amanah untuk menjadi seorang pemimpin.

Jika kalian berlatih mulai dari sekarang, pada saat menjadi pemimpin tentu tidak sulit untuk menjaga amanah. “Dari Ibnu Umar r.a., Rasulullah SAW bersabda:

“Setiap kalian adalah pemimpin dan akan diminta pertanggung jawaban atas kepemimpinannnya. Seorang kepala negara adalah pemimpin dan akan diminta pertanggung jawaban perihal rakyat yang dipimpinnya...”. (H.R. Bukhari dan Muslim).

Amanah terhadap Allah SWT. Amanah ini berupa ketaatan akan segala perintah dan menjauhi segala laranganNya. Allah SWT berfirman: ”Wahai orang-orang yang beriman, janganlah kalian mengkhianati Allah dan Rasul (Muhammad), dan (juga) janganlah kalian mengkhianati amanat-amanat yang dipercayakan kepadamu, sedang kamu mengetahui.”. (Q.S. al-anfal/8:27).

3. Istiqamah

Pengertian Istiqamah berarti sikap kukuh pada pendirian dan konsekuen dalam tindakan. Dalam makna yang luas, istiqamah adalah sikap teguh dalam melakukan suatu kebaikan, membela dan mempertahankan keimanan dan keislaman, walaupun menghadapi berbagai macam tantangan dan godaan. Seseorang yang mempunyai sifat istiqamah bagaikan batu karang yang berada di tengah-tengah lautan yang tidak tergeser sedikitpun, meskipun dihantam oleh gelombang yang sangat besar. Istiqamah terwujud karena adanya keyakinan akan kebenaran dan siap menanggung risiko.

Sikap ini wajib dimiliki setiap muslim, termasuk kita sebagai pelajar.

Istiqamah dapat membantu kita untuk membentuk sikap dan perilaku yang sesuai dengan ajaran Islam. Oleh karena itu, kita sebagai pelajar harus memberikan contoh yang baik kepada siapa saja dalam kehidupan kita sehari-hari, baik di lingkungan keluarga, sekolah, maupun masyarakat sekitar. Allah SwWT berfirman: “Sesungguhnya orang-orang yang berkata Tuhan kami adalah Allah, kemudian mereka tetap istiqmah, tidak ada rasa khawatir pada mereka, dan mereka tidak (pula) bersedih hati”. (Q.S.

al- ahqaf/46:13).

b. Hikmah perilaku jujur, amanah dan istiqamah 1. Hikmah Perilaku Amanah

Orang yang berbuat baik kepada orang lain, sesungguhnya ia telah berbuat baik kepada diri sendiri. Begitu juga sikap amanah memiliki dampak positif bagi diri sendiri. Di antara hikmah amanah adalah sebagai berikut:

a) Dipercaya orang lain. Ini merupakan modal yang sangat berharga dalam menjalin hubungan atau berinteraksi antara sesama manusia.

b) Mendapatkan simpati dari semua pihak, baik kawan maupun lawan.

c) Hidupnya akan sukses dan dimudahkan oleh Allah SWT.

2. Hikmah Perilaku Jujur

Di antara hikmah amanah adalah sebagai berikut:

a) Mendapatkan kepercayaan dari orang lain.

b) Mendapatkan banyak teman.

c) Mendapatkan ketentraman hidup karena tidak memiliki kesalahan terhadap orang lain.

3. Hikmah Perilaku Istiqamah

Di antara hikmah perilaku istiqamah adalah sebagai berikut:

a) Orang yang istiqamah akan dijauhkan oleh Allah SWT dari rasa takut dan sedih sehingga dapat mengatasi rasa sedih yang menimpanya, tidak hanyut dibawa kesedihan dan tidak gentar dalam menghadapi kehidupan masa yang akan datang.

b) Orang yang istiqamah akan mendapatkan kesuksesan dalam kehidupan di dunia karena ia tekun dan ulet.

c) Orang yang istiqamah dan selalu sabar serta mendirikan shalat akan selalu dilindungi oleh Allah SWT.

RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN ( R P P )

Satuan Pendidikan : SMP Negeri 2 Banjar

Mata Pelajaran : Pendidikan Agama Islam dan Budi Pekerti Kelas / Semester : VII (Tujuh) / Ganjil

Materi Pokok : Bersuci dari Hadas Alokasi Waktu : 2 Pertemuan (6JP)

Q. Tujuan Pembelajaran

19. Peserta didik dapat menjelaskan ketentuan bersuci dari hadas kecil dan hadas besar dengan benar.

20. Peserta didik dapat menerangkan tata cara bersuci dari hadas kecil dan hadas besar dengan benar.

21. Peserta didik dapat menunjukkan tata cara bersuci dari hadas kecil dan hadas besar berdasarkan syari’at Islam dengan tepat.

22. Peserta didik dapat menunjukkan contoh bersuci dari hadas kecil dan hadas besar dengan tepat.

23. Peserta didik dapat melaksanakan tata cara bersuci dari hadas kecil dan hadas besar berdasarkan syari’at Islam dengan tepat.

24. Peserta didik dapat mempraktikkan bersuci dari hadas kecil dan hadas besar dengan benar.

R. Kompetensi Dasar dan Indikator Pencapaian Kompetensi

No. Kompetensi Dasar Indikator Pencapaian Kompetensi 1. 1.7 Menghayati ajaran bersuci dari

hadas kecil dan hadas besar berdasarkan syariat Islam.

1.7.1 Melaksanakan tata cara bersuci dari hadas kecil dan hadas besar berdasarkan syari’at Islam.

2. 2.7 Menunjukkan perilaku hidup bersih sebagai wujud ketentuan bersuci dari hadas besar berdasarkan ketentuan syari’at Islam.

2.7.1 Mempraktikkan bersuci dari hadas kecil dan hadas besar.

3. 3.7 Memahami ketentuan bersuci dari hadas besar berdasarkan ketentuan syari’at Islam.

3.7.4 Menjelaskan ketentuan bersuci dari hadas kecil dan hadas besar.

3.7.5 Menerangkan tata cara bersuci dari hadas kecil dan hadas besar.

3.7.6 Menunjukkan tata cara bersuci dari hadas kecil dan hadas besar berdasarkan syari’at Islam.

4. 4.7 Menyajikan cara bersuci dari hadas besar.

4.7.2 Menunjukkan contoh bersuci dari hadas kecil dan hadas besar.

S. Materi Pembelajaran

7. Materi Pembelajaran Reguler

a. Ketentuan bersuci dari hadas kecil dan hadas besar.

b. Tata cara bersuci dari hadas kecil dan hadas besar.

c. Contoh bersuci dari hadas kecil dan hadas besar.

d. Ketentuan, tata cara dan contoh bersuci dari najis.

8. Materi Pembelajaran Remidial

e. Tata cara bersuci dari hadas kecil dan hadas besar.

f. Contoh bersuci dari hadas kecil dan hadas besar.

9. Materi Pembelajaran Pengayaan Makna wudhu

T. Metode Pembelajaran

 Pendekatan : Scientific

 Model Pembelajaran : Problem Based Learning (Picture and picture)

 Metode : Ceramah, tanya jawab, diskusi, trial dan demonstrasi

U. Media Pembelajaran

Dalam dokumen RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN (RPP) (Halaman 72-80)

Dokumen terkait