• Tidak ada hasil yang ditemukan

KAJIAN PUSTAKA DAN HIPOTESIS TINDAKAN A.Kajian Pustaka

5) Manfaat Bermain untuk Pengembangan Keterampilan Olahraga

Apabila siswa yang terampil berlari, melempar dan melompat, maka ia lebih siap untuk menekuni bidang olahraga tertantu pada saatnya nanti. Jadi, kalau siswa terampil melakukan kegiatan tersebut, maka lebih percaya diri dan merasa mampu melakukan gerakan yang lebih sulit. Kegiatan-kegiatan yang relevan dengan perkembangan siswa adalah atletik. Atletik memiliki kegiatan yang khas yakni, jalan, lari,lompat dan lempar. Kegiatan ini akan menjadi fundasi bagi siswa dalam berolahraga. Khususnya dalam konteks pendidikan jasmani, perlu ditata secara serius mengenai kegiatan atletik yang bernuansa permainan.

b. Hakikat Pembelajaran Model Bermain

Perilaku anak usia sekolah dasar (6-12) tahun tampak bahwa, aktivitas geraknya sangat tinggi. Pada saat menjelang istirahat atau pulang sekolah, seolah-olah mereka ingin cepat-cepat meninggalkan kelas. Begityu bel berbunyi mereka berhamburan keluar, lari kesana-kemari sambil berjingkrak-jingkrak, kejar-kejaran dengan temannya atau mungkin menendang sesuatu di depannya dan lain

commit to user

sebagainya. Begitu juga setelah sampai di rumah, seolah-olah selalu berlebihan tenaganya. Tas sekolah ditaruh begitu saja dan secepat itu pula mereka pergi bermain lagi.

Naluri bermain yang muncul pada masa anak-anak seolah tidak dapat dibendung. Bagi anak bermain merupakan suatu kebutuhan seperti kebutuhan dasar lainnya. Hal ini terkait dengan naluri gerak yang merupakan kodrat bagi anak. Bahkan dapat dikatakan sebagian besar kehidupan anak dihabiskan untuk bermain. Permasalahannya sekarang adalah bagaimanakah menyalurkan potensi itu agar bermanfaat bagi pertumbuhan dan perkembangnnya. Pada usia 6-12 tahun merupakan masa penting pertumbuhan baik secara fisik, mental, emosional, ientelektual maupun sosial. Karena sangat diharapkan bahwa bermain merupakan wahana pembelajaran . Anak bermain sambil belajar dan belajar sambil bermain. Disinilah letaknya peran strategi pendidikan jasmani. Oleh karena itu, model pembelajaran sangat penting dan harus disesuaikan dengan taraf perkembangan anak agar tujuan pembelajaran dapat tercapai. Karena pada masa anak-anak senang dengan bermain, maka model pembelajaran untuk masa anak-anak (usia SD) dengan model bermain.

Pembelajaran dengan model bermain merupakan suatu cara yang diterapkan seorang guru dalam kegiatan pembelajaran yang dikemas dalam bentuk bermain atau permainan. Wahjoedi (1999: 121) menyatakan, “Pembelajaran dengan pendekatan bermain adalah latihan yang diberikan dalam bentuk atau situasi permainan”. Menurut Benny A. Pribadi (2009: 43-44) bahwa:

Metode pembelajaran bermain bersifat kompetetif dan mengarahkan siswa untuk dapat mencapai dan mengarahkan siswa untuk dapat mencapai prestasi atau hasil belajar tertentu. Permainan harus menyenangkan dan memberi pengalaman belajar baru bagi siswa. Pada umumnya dalam metode pembelajaran bermain ada pihak yang menang ada pihak yang kalah. Pihak yang menang akan mendapat reward, sedangkan pihak yang kalah perlu berlatih lebih keras untuk memenangkan permainan.

Berdasarkan pengertian pendekatan bermain yang dikemukakan empat ahli tersebut dapat disimpulkan, pembelajaran dengan model bermain merupakan bentuk pembelajaran yang dikemas ke dalam suatu permainan. Dari permainan yang dilaksanakan ada pihak yang menang dan ada pihak yang kalah. Hal ini

commit to user

dimaksudkan agar anak bersugguh-sugguh melaksanakan tugas ajar dan tidak menjadi kalah. Dengan melaksanakan tugas ajar secara sungguh-sungguh dan aktif bergerak dan menyenangkan, maka tujuan pembelajaran dapat tercapai.

c. Pengaruh Bermain bagi Perkembangan Anak

Bermain merupakan suatu kegiatan yang tidak dapat dipisahkan dengan masa kanak-kanak. Dapat dikatakan bahwa, hampir semua waktunya dihabiskan dengan bermain. Namun disisi lain dari bermain yang dilakukan anak mempunyai pengaruh terhadap perkembangannya. M. Furqon H. (2006: 4-5) menyatakan pengaruh bermain terhadap perkembangan anak yaitu:

1) Pengembangan keterampilan gerak

Bermain berisi berbagai keterampilan gerak, mulai dari keterampilan gerak yang sederhana atau dasar hingga keterampilan yang kompleks. Anak perlu belajar keterampilan gerak dasar seperti, lari, lompat, loncat, berbelok, menendang dan melempar. Jika anak memiliki keterampilan gerak dasar yang baik. Selanjutnya anakmemiliki landasan untuk mengembangkan keterampilan gerak yang kompleks. Oleh karena itu, dengan bermain akan memberikan perkembangan keterampilan gerak bagi anak.

2) Perkembangan fisik dan kesegaran jasmani

Bermain penting bagi anak untuk mengembangkan otot dan melatih seluruh bagian tubuh, termasuk mengembangkan daya tahan kardiovaskuler. Bermain juga berfungsi sebagai penyaluran tenaga yang berlebih, bila tidak tersalurkan akan menyebabkan anak tegang, gelisah dan lain-lain.

3) Dorongan berkomunikasi

Di dalam suasana bermain, memberikan peluang anak untuk berkomunikasi dengan teman bermainnya. Di samping itu, agar anak dapat bermain dengan baik, anak secara tidak langsung belajar berkomunikasi dan sebaliknya anak harus belajar belajar berkomunikasi agar dapat saling memahami dan dipahami di antara teman bermain. 4) Penyaluran energi emosional yang terpendam

Bermain merupakan wahana yang baik bagi anak untuk menyalurkan ketegangan yang disebabkan lingkungan terhadap aktivitas anak.

5) Penyaluran bagi kebutuhan dan keinginan

Kebutuhan dan keinginan yang tidak terpenuhi dengan cara lain atau aktivitas lain seringkali dapat terpenuhi dengan bermain. Misalnya, anak yang tidak mendapatkan kesempatan dalam peran tertentu seringkali dapat mendapat peran tertentu dalam bermain.

commit to user

6) Sumber belajar

Bermain dapat dikatakan sebagai bentuk miniatur dari kehidupan masyarakat. Dengan bermain berarti anak dapat memperoleh kesempatan untuk mempelajari berbagai hal. Bahkan banyak pelajaran dan pengalaman dapat diperoleh melalui bermain daripada di rumah atau di sekolah.

7) Rangsangan bagi kreativitas

Melalui eksprimen dan eksplorasi dalam bermain, anak akan menemukan sesuatu dan terbiasa menghadapi berbagai persoalan dalam bermain untuk dipecahkan. Suasana dan kebiasaan ini biasanya akan memberikan transfer nilai ke dalam situasi lain, sehingga anak terbiasa untuk kreatif dalam menghadapi dan memecahkan persoalan.

8) Perkembangan wawasan diri

Dengan bermain anak mengetahui tingkat kemampuannya dibandingkan dengan teman bermainnya. Kondisi ini memungkinkan anak untuk mengembangkan konsep diri secara lebih nyata.

9) Belajar bermasyarakat

Dengan bermain bersama teman-teman lain, anak belajar tentang bagaimana membentuk hubungan sosial dan bagaimana menghadapi dan memecahkan masalah yang timbul dalam hubungan sosial tersebut. 10) Perkembangan kepribadian

Melalui bermain anak terbiasa dengan aturan-aturan yang lebih disepakati dalam bermain, seperti larangan-larangan yang harus ditaati, disiplin sportivitas, kerjasama, menghargai teman lain, jujur dan lain-lain, secara tidak langsung kondisi tersebut membentuk kepribadian anak.

Berdasarkan pendapat tersebut dapat disimpulkan, pengaruh dari bermain cukup kompleks di antaranya dapat mengembangkan keterampilan gerak anak, mengembangkan fisik dan kesegaran jasmani, memberikan dorongan berkomunikasi, tempat menyalurkan energi emosional yang terpendam, penyaluran kebutuhan dan keinginan, sebagai sumber belajar, sebagai rangsangan berkreativitas, sebagai tempat perkembangan wawasan diri, tempat belajar bermasyarakat dan mengembangkan kepribadian. Banyaknya manfaat dari bermain, maka seyogyanya orang tua tidak melarang anaknya bermain, karena banyak manfaat yang diperoleh dari bermain. Selain itu juga, dalam membelajarkan pendidikan jasmani hendaknya disesuaikan dengan tingkat perkembangan anak, sehingga akan diperoleh hasil belajar yang optimal.

commit to user

d. Bentuk-Bentuk Bermain untuk Siswa Sekolah Dasar

Pendidikan jasmani merupakan pendidikan yang mengutamakan aktivitas gerak tubuh. Dalam membelajarkan pendidikan jasmani dapat dilakukan dengan berbagai metode atau cara, salah satunya dengan bermain. Seperti dikemukakan Sukintaka (1992: 11) bahwa, “Bermain merupakan salah satu bentuk kegiatan dalam pendidikan jasmani. Oleh karena itu, permainan atau bermain mempunyai tugas dan tujuan yang sama dengan tugas dan tujuan pendidikan jasmani”.

Dalam kegiatan pembelajaran pendidikan jasmani dengan metode bermain, anak akan merasa senang. Karena rasa senang inilah, maka anak akan mengungkapkan keadaan pribadinya yang asli pada saat bermain, baik itu berupa watak asli maupun kebiasaan yang telah membentuk kepribadiannya. Dengan bermain anak dapat mengaktualisasikan potensi aktivitas manusia dalam bentuk gerak, sikap dan perilaku.

Pendekatan bermain merupakan bentuk pembelajaran yang memiliki banyak manfaat terhadap perkembangan anak. Banyak aspek yang dikembangkan melalui bermain. Yudha M. Saputra (2001: 6) menyatakan, “Aspek yang dikembangkan dalam metode bermain mencakup fisik, motorik, sosial, emosional, kepribadian, kognisi, keterampilan olahraga dan lain sebagainya”.

Banyak aspek yang dikembangkan dalam pembelajaran dengan metode bermain. Salah satu aspek yang dikembangkan dalam metode bermain yaitu dapat meningkatkan kesegaran jasmani (perkembangan fisik). Lebih lanjut Yudha M. Saputra (2001: 7) menyatakan, “Apabila siswa memperoleh kesempatan untuk melakukan kegiatan yang melibatkan banyak gerakan tubuh, maka tubuh siswa tersebut akan menjadi sehat, otot-otot tubuh akan tumbuh menjadi kuat”.

Upaya meningkatkan kesegaran jasmani siswa, maka bentuk-bentuk permainan yang diberikan hendaknya mengarah pada peningkatan kesegaran jasmnai siswa. Adapun bentuk-bentuk pembelajaran yang bertujuan meningkatkan kesegaran jasmani siswa menurut M. Yudha Saputra (2001: 84-185) di antaranya:

1) Jalan berbelok-belok

Guru mempersiapkan lapangan dengan membuat tanda 10 buah pada setiap jarak 2 m pada masing-masing lintasan. Jumlah lintasan bisa disesuaikan dengan jumlah siswa. Pelaksanaannya sebagai berikut:

commit to user

(1) Setiap siswa yang ada di setiap lintasan harus melewati tanda dengan berjalan kaki biasa.

(2) Setiap siswa yang ada di setiap lintasan harus melewati tanda-tanda tersebut dengan berjalan kaki cepat

Gambar 5. Jalan Berbelok-Belok (Yudha M. Saputra, 2001: 84) 2) Lari mengelilingi lapangan dengan diiringi musik

Lapangan yang tersedia dapat digunakan oleh guru sebagai tempat bermain dengan menerapkan berbagai bentuk permainan yang mengandung konsep lari, di antaranya:

(1) Guru menugasi siswa untuk berlari (jogging) mengelilingi lapangan sambil diiringi musik.

(2) Musik berhenti semua siswa harus berhenti berlari.

(3) Musik dihidupkan kembali siswa berlari kembali begitu seterusnya.

Gambar 6. Berlari Diiringi Musik (Yudha M. Saputra, 2001: 98) 3) Lompat melewati rintangan

Disediakan kotak atau kardus yang ditata sedemikian rupa jaraknya, dari kardus yang cukup rendah sampai yang tinggi. Siswa bermain dengan melompati kardus-kardus yang telah ditata. Ketinggian kardus ditata sedemikain rupa, sehingga siswa akan tertantang melompati kardus dari

commit to user

yang rendah sampai yang tinggi. Jika tidak mampu melompati tidak akan menimbulkan cidera atau sakit.

Gambar 7. Lompat Melewati Rintangan (Yudha M. Saputra, 2001: 126) 4) Jingkat Keseimbangan

Jingkat keseimbangan dapat menggunakan papan dari kardus yang diberi warna hitam dan putih. Para siswa pada saat melakukan jingkat, salah satu kaki yang menumpu disesuaikan dengan warna papan. Jika bertumpu pada papan berwarna hitam harus menggunakan kaki kiri, sebaliknya jika bertumpu pada papan berwarna putih harus menggunakan kaki kanan. Jarak pada papan satu dengan yang lainnya bisa disesuaikan dengan kemampuan siswa.

Gambar 4. Jingkat Keseimbangan

5) Lempar bola warna .

Bentuk permainan ini dapat dilakukan dengan menggunakan bola plastik dengan tiga jenis warna dan beberapa bendera yang warnanya disesuaikan dengan warna bola. Para siswa bertugas melempar dan menangkap bola, kemudian para siswa yang menangkap bola berlari menuju bendera dan meletakkan bola ke dekat bendera yang warnanya sesuai dengan bola yang ditangkap.

commit to user

Gambar 9. Lempar Bola Warna

6) Menolak ke sasaran

Melempar atau menolak bola voli atau bola basket. Siswa berhadap-hadapan dengan jarak 5-10 meter. Siswa yang memegang bola menolakkan ke depan sejauh-jauhnya, dan siswa yang satunya berusaha menangkan dari pantulan bola yang dilempar. Demikian juga sebaliknya.

Gambar 10. Menolak Ke Sasaran (Yudha M. Saputra, 2001: 180)

Dari bentuk-bentuk permainan yang disebutkan di atas siswa akan berusaha untuk menampilkan kemampuannya. Dengan bentuk-bentuk permainan tersebut aspek-aspek yang terdapat dalam diri siswa akan berkembang seperti, aspek kebugaran jasmani, sosial, kerjasama, saling menghargai dan lain sebagainya. Dari permainan-permainan tersebut siswa selalu aktif bergerak, sehingga tanpa disadarinya akan meningkatkan kesegaran jasmaninya.

commit to user B. Penelitian yang Relevan

Penelitian yang relevan dibutuhkan untuk mendukung kajian teoritis yang dikemukakan. Sampai saat ini telah banyak penelitian ilmiah yang dilakukan khususnya yang terkait dengan pendekatan pembelajaran bermain dengan hasil yang masih bervariasi atau beragam. Berikut ini disajikan hasil penelitian yang relevan dengan penelitian ini sebagai berikut:

1. Penelitian Wahjoedi dengan judul, “Pendekatan Pembelajaran Bermain dan Latihan terhadap Kemampuan Menendang Bola dalam Permainan Sepakbola”, menunjukkan tidak ada perbedaan hasil kemampuan menendang bola antara pendekatan bermain dan latihan, dimana Fo = 1,12 < Ft = 4.11.

2. Penelitian Eka Pratiwi (2008) dengan judul, “Perbedaan Pengaruh Pendekatan Bermain, Latihan dan Kemampuan Motorik terhdap Keterampilan Bermain Sepakbola”, menunjukkan ada perbedaan pengaruh antara pendekatan bermain dan latihan (Fo = 136.92 > Ft 4.11), dengan selisih perbedaan peningkatan 6.15.

3. Penelitian Rofiqi dengan judul, “Perbedaan Pengaruh Pendekatan Mengajar dan Kelompok Umur terhadap Hasil Belajar Lompat Tinggi Gaya Straddle pada Siswa Madrasah Ibtidaiyah (Studi Eksperimen tentang Pengaruh Pendekatan Bermain dan Latihan pada Siswa Madasrah Ibtidaiyah Batumarta II Kabupaten Ogan Komering Ulu Sumatera Selatan) menunjukkan, ada perbedaan pengaruh pendekatan pembelajaran bermain dan latihan terhadap hasil belajar lompat tinggi gaya straddle dengan nilai Fo sebesar 13.20 > Ft 4.11. Dengan selisih perbedaan peningkatan sebesar 0.90 pada pendekatan bermain.

commit to user C. Kerangka Pemikiran

Berdasarkan tinjauan pustaka yang telah dikemukakan di atas dapat dibuat skema kerangka pemikiran sebagai berikut:

Gambar 11. Konsep Kerangka Pemikiran

Berdasarkan kerangka konseptual yang digambarkan tersebut bahwa, kesegaran jasmani merupakan kebutuhan setiap manusia. Kualitas kesegaran jasmani yang dimiliki seseorang dapat mendukung untuk melakukan tugas atau pekerjaan dengan baik tanpa menimbulkan kelelahan yang berarti dan masih memiliki cadangan energi untuk aktivitas selanjutnya. Demikian halnya bagi siswa sekolah sangat membutuhkan kesegaran jasmani yang baik. Dengan kesegaran jasmani, maka akan membantu pencapai hasil belajar.

Tingkat kesegaran jasmani pada umumnya ditampilkan dengan unjuk kerja fisik yang baik. Orang yang memiliki kondisi fisik yang baik berarti mencerminkan tingkat kesegaran jasmaninya baik pula. Olahraga secara teratur atau melakukan aktivitas fisik secara ajeg merupakan usaha untuk menjaga dan memelihara kesegaran jasmani. Salah satu upaya untuk menjaga dan

Pendidikan Jasmani Pembelajaran Penjas Materi pendidikan jasmani Kebugaran jasmani: 1.Berhubungan dengan kesehatan 2.Berhubungan dengan keterampilan Mengutamakan aktivitas gerak

Pembelajaran bermain untuk meningkatkan kebugaran jasmani Tujuan pembelajaran Kinerja guru Aktivitas Hasil belajar Kebugaran jasmani Efektifitas pembelajaran model bermain Pengelolaan Pmeblejaran Macam-Macam permainan untuk meningkatkan kebugaran jasmani

commit to user

meningkatkan kesegaran jasmani siswa sekolah yaitu dengan diberi pembelajaran pendidikan jasmani.

Pendidikan jasmani mempunyai peran penting terhadap tingkat kebugaran jasmani siswa. Upaya menjaga dan meningkatkan kesegaran jasmani siswa, maka dalam membelajarkan pendidikan jasmani harus dilakukan dengan baik dan benar. Pendidikan jasmani yang diajarkan kepada siswa harus disesuaikan dengan karakteristik siswa.

Siswa sekolah dasar pada umumnya cenderung senang dengan bermain Dapat dikatakan hampir semua waktunya digunakan dengan bermain. Karena siswa senang dengan bermain, maka dalam membelajarkan pendidikan jasmani dapat diterapkan dengan pendekatan bermain. Melalui permainan, maka aspek-aspek yang terdapat dalam diri siswa dapat berkembang, salah satunya dapat meningkatkan kesegaran jasmaninya. Dengan meningkatnya kesegaran jasmani siswa, maka akan membantu kegiatannya dalam belajar, siswa tidak mudah lelah, memiliki cadangan energi yang cukup untuk melakukan aktivitas selanjutnya. Selain itu juga, akan membantu pencapai hasil belajar yang lebih optimal.

Dokumen terkait