BAB IV: PEMBAHASAN
B. Manfaat Expressive Writing pada Warga Binaan Perempuan Lembaga
83
memberikan kesempatan pada individu untuk memberi dan menerima kebahagiaan. Emosi senang dan bahagia akan muncul dengan adanya interaksi sosial dan kedekatan dalam pembentukan hubungan.13 Dalam hal ini, faktor penyebab munculnya emosi senang dan bahagia sama seperti faktor penyabab munculnya emosi nyaman yaitu kondisi di Lapas yang sangat baik dan sikap warga binaan yang ramah dan saling support, juga petugas Lapas yang sangat mengayomi dan menghargai warga binaan. untuk menjaga emosi positif ini, warga binaan sangat antusias mengikuti setiap program dari petugas dan juga bercertia dengan teman sesama warga binaan.
Emosi senang dan bahagia ini tidak dirasakan seutuhnya oleh warga binaan perempuan. Terdapat beberapa warga binaan yaitu mbak Maya dan mbak Ica, dimana emosi nyaman dan bahagia yang mereka rasakan merupakan bentuk manajemen Anggur Masam, yaitu sebuah metode pengendalian emosi rasionalisasi dimana individu melakukan pengalihan persepsi dari tujuan yang tidak tercapai atau menerima kenyataan yang ada.14
B. Manfaat Expressive Writing Pada Warga Binaan Perempuan Lembaga
84
keinginan sendiri untuk menghindari menceritakan sesuatu yang privasi kepada orang lain.
Menulis merupakan katarsis dan bentuk dari self-help yang telah sering dipraktekkan. Dalam penelitian yang dilakukan oleh Ditha Wahyu Ningtiyas, dikatakan bahwa aktivitas Expressive Writing merupakan media katarsis yang sederhana dan mudah dilakukan dikarenakan media yang digunakan juga mudah untuk didapatkan.16 Di Lapas Ngawi, terdapat koperasi yang menyediakan banyak kebutuhan sehari-hari untuk warga binaan yang juga menyediakan buku dan pulpen yang merupakan media untuk melakukan akivitas Expressive Writing. Adapun manfaat aktivitas Expressive Writing yang dirasakan oleh warga binaan perempuan di Lembaga Pemasyarakatan Kelas II B Ngawi sebagai berikut:
1. Meringankan beban hati dan pikiran
Manfaat ini dirasakan oleh keseluruhan narasumber penelitian.
Yohanes Yupilustanaji dkk, mengungkapkan dalam bukunya bahwa manfaat dari Expressive Writing adalah dapat membebaskan individu dari perasaan atau emosi yang mengganjal atau mengganggu. Selain itu, menulis juga dapat menjadi media untuk menuangkan beragam emosi terutama emosi negatif agar tidak meledak dan merusak individu dan orang sekitar.17 Semua narasumber warga binaan perempuan mengungkapkan bahwa setelah menuliskan perasaan mereka, mereka merasa lebih lega dan rileks.
Bahkan salah satu narasumber yaitu mbak Gempi, mengungkapkan bahwa setiap kali dirinya menuangkan perasaannya dalam bentuk tulisan, dirinya selalu menangis dikarenakan dirinya menghayati setiap kata dan kalimat yang ditulis. Beberapa warga binaan mengatakan bahwa setiap kali mereka mengalami sulit tidur, mereka akan menuliskan apa yang sedang mereka rasakan atau apa yang mengganjal di dalam hati sampai
16 Ditha Wahyu Ningtiyas, “Validasi Modul Expressive Writing Therapy (Terapi Menulis Ekspresif) Untuk Warga Binaan,” 3.
17 Yohanes Yupilustanaji Apgrianto dkk, Terapi Menulis Demi Ketangguhan Diri, 27-88.
85
merasa lega baru kemudian mereka bisa merasa ngantuk dan akhirnya tertidur.
Seperti yang telah peneliti jelaskan di atas dan juga pada kajian teori bahwa menulis terutama Expressive Writing memiliki manfaat untuk membantu individu melepas beragam emosi yang mengganggu terutama emosi negatif. Sulit tidur merupakan bentuk tanda-tanda individu mengalami gangguan emosi.18 Untuk mengatasi gejala gangguan emosi tersebut, warga binaan perempuan melakukan aktivitas Expressive Writing dalam bentuk buku diary supaya emosi yang mengganjal dapat terobati.
2. Merasa nyaman
Manfaat Expressive Writing ini dirasakan oleh warga binaan perempuan, terutama mereka yang merupakan individu introvert yaitu mbak A.S dan mbak Ara. Merasa nyaman disini dikarenakan ketika menulis, yang mengetahui semuanya hanya individu yang menulis sehingga individu tersebut dapat dengan bebas melepaskan semua keluh kesah dan beban yang mengganjal tanpa khawatir rahasianya akan bocor.
Dengan menulis, individu dapat melihat sebuah masalah dengan jernih tanpa menjadi lebih pelik serta dapat meluapkan segala hal yang tidak bisa diceritakan kepada orang lain.
Pennebaker mengungkapkan bahwa salah satu manfaat dari menuliskan perasaan adalah dapat membantu individu dalam menjernihkan pikiran.19 Menulis dapat menangkap semua emosi terutama emosi negatif sehingga tidak meledak ke luar diri individu.
Selain itu, dengan menulis, maka individu dapat mengambil jarak antara dirinya dengan masalah yang sedang dihadapi sehingga dapat memilah dengan baik mana yang dapat diceritakan dan mana yang merupakan privasi.20
18 Pittara, Gangguan Mental. Alodokter, 2020. https://www.alodokter.com/kesehatan-mental, diakses pada 19 November 2022.
19 Yanti Dwi Damayanti, Jangan Takut Menulis, 21.
20 Yohanes Yupilustanaji Apgrianto dkk, Terapi Menulis Demi Ketangguhan Diri, 27-88.
86
Apa yang dilakukan oleh warga binaan sesuai dengan teori yang telah peneliti kemukakan di atas. Dimana mereka mengungkapkan bahwa tidak semua masalah dapat diceritakan kepada orang lain sehingga untuk mencegah agar masalah tersebut tidak meledak dan diketahui oleh orang lain, maka warga binaan perempuan mengambil langkah menulis untuk melepaskan ledakan emosi yang mengganjal pikiran sehingga masalah atau perasaan yang menurut mereka privasi tetap menjadi privasi dan tidak diketahui oleh orang lain. Menuliskan perasaan atau Expressive Writing membuat warga binaan perempuan di Lapas Ngawi merasa nyaman karena dapat membantu mereka memilah dengan baik hal-hal yang bisa diceritakan dan tidak bisa diceritakan ke orang lain.
87 BAB V PENUTUP A. Kesimpulan
1. Kondisi emosi yang dirasakan oleh warga binaan perempuan di Lembaga Pemasyarakatan Kelas II B Ngawi terdiri dari emosi sedih, emosi cemas, emosi marah, emosi nyaman, emosi senang dan bahagia.
2. Manfaat aktivitas Expressive Writing yang dirasakan oleh warga binaan perempuan di Lembaga Pemasyarakatan Kelas II B Ngawi ada dua, yaitu merasa lega karena mengurangi beban di hati dan pikiran dan merasa nyaman karena dapat menuangkan perasaan dengan leluasa.
B. Saran
1. Untuk pihak Lembaga Pemasyarakatan Kelas II B Ngawi, diharapkan untuk ke depannya sekiranya menyediakan program pembinaan Expressive Writing untuk membantu warga binaan dalam menyembuhkan trauma maupun stres atau emosi negatif lainnya yang dirasakan oleh warga binaan.
2. Peneliti merekomendasikan aktivitas Expressive Writing pada warga binaan sebagai sebuah media untuk membantu warga binaan melepas emosi yang tertahan dan mengganjal sehingga tidak menimbulkan gangguan emosi dan warga binaan dapat mengikuti kegiatan pembinaan dengan baik dan penuh antusias.
3. Bagi peneliti selanjutnya, ketika ingin mengkaji hal serupa, diharapkan untuk menggunakan metode dan pendekatan yang berbeda sehingga bisa didapatkan hasil yang lebih mendalam dan lebih baik guna melengkapi hasil dari penelitian ini.
88
DAFTAR PUSTAKA
Abdussamad, Zuchri. Metode Penelitian Kualitatif. Makasar: CV. Syalir Media Press, 2021.
Adrian, Kevin. Memahami Katarsis, Pelepasan Emosi yang Baik Untuk Kesehatan Mental. Alodokter, 2021. https://www.alodokter.com/memahami-katarsis-pelepasan-emosi-yang-baik-untuk-kesehatan-mental, diakses pada 19 November 2022.
Alfaiz dkk. “Pendekatan Tazkiyatun An-Nafs Untuk Membantu Mengurangi Emosi Negatif Klien.” Counsellia: Jurnal Bimbingan dan Konseling, 2088-3072. Madiun: Universitas PGRI, 2019: 65-78.
Amal, Febrianus Sabda dan Artifa Sorraya. “Klasifikasi Emosi Negatif Tokoh Utama Dalam Novel Antara Kita Karya Wahyudi Pratama, Kajian Psikologi Sastra.” Prosiding Seminar Nasional Sastra, Lingua, dan Pembelajarannya (SALINGA), 2808-1706. Malang: IKIP Budi Utomo, 2021: 209-221.
Ananta, Rizal Dimas. “Pengaruh Pembinaan Keagamaan Terhadap Kepribadian Warga binaan (Studi Kasus Di Balai Pelayanan Dan Rehabilitasi Sosial PMKS Sidoarjo).” Skripsi: UIN Sunan Ampel, Surabaya: 2020.
Andriani, Lina Atika dan Harti. “Pengaruh Emosi Positif, Potongan Harga, dan Kualitas Website Terhadap Pembelian Impulsif.” Forum Ekonomi, 1411-1713. Surabaya: Universitas Negeri Surabaya, 2021: 454-462.
Apgrianto, Yohanes Yupilustanaji dkk. Terapi Menulis Demi Ketangguhan Diri.
Yogyakarta: Penerbit PT KANISIUS, 2022.
AlQur’anulkarim: Alquran Hafalan. Bandung: Cordoba, 2020.
Damayanti, Yanti Dwi. Jangan Takut Menulis. Bandung: PT. Pribumi Mekar, 2017.
Fauziyah, Widya Nur dan Lia Siti Julaeha. “Pengaruh Desain Kemasan Terhadap Pembelian Impulsif yang Dimediasi Emosi Positif (Studi Kasus di Instagram
89
@superjunior_elfindonesia).” Jurnal Ilmiah Wahana Pendidikan, 2089-5364. Jakarta Selatan: STIMIK ESQ, 2022: 111-122.
Fitria, Ida dkk. “Menulis Ekspresif Untuk Anak Jalanan: Suatu Metode Terapi Menulis Dalam Diary Melalui Modul Eksperimen.” Psikoislamedia, 2503-3611. Aceh: Banda Aceh, 2016: 125-139.
Gamin. Menulis Itu Mudah: Suplemen Simpel Berdasarkan Pengalaman Praktis.
Yogyakarta: Dee Publish, 2018.
Harahap, Nursapia. Penelitian Kualitatif. Medan: Wal ashri Publishing, 2020.
Hude, Darwis. Emosi: Penjelajahan Religio-Psikologis Tentang Emosi Manusia Di Dalam Alquran. Jakarta: PT. Gelora Aksara Pratama. 2006.
Lembaga Pemasyarakatan Kelas II A Metro. 2022. “Sejarah Pemasyarakatan.”
https://lapasmetro.kemenkumham.go.id/profil/sejarah-pemasyarakatan.
diakses pada 27 Agustus 2022.
Mahadewa, K. Lintang. Katarsis: Penyaluran Emosi Secara Kontruktif. 2021.
https://kampuspsikologi.com/katarsis/?amp, diakses pada 19 November 2022.
Nadhiroh, Yahdinil Firda. “Pengendalian Emosi (Kajian Religio-Psikologis Tentang Psikologi Manusia).” Jurnal Saintifika Islamica, 2407-053x. Banten:
IAIN SMH, 2015: 53-63.
Ningtiyas, Ditha Wahyu. “Validasi Modul Expressive Writing Therapy (Terapi Menulis Ekspresif) Untuk Warga Binaan.” Skripsi: Universitas Muhammadiyah Surakarta, Surakarta, 2020.
Nirwana dan Abdur Rahim Ruspa. “Kemampuan Menulis Karya Tulis Ilmiah Mahasiswa Prodi Informatika Universitas Cokroaminoto Palopo.” Jurnal Onoma: Pendidikan, Bahasa, dan Sastra, 2715-4564. Sulawesi Selatan: PBSI FKIP Universitas Cokroaminoto Palopo, 2020: 557-566.
90
Nugraha Raka dkk. “Pola Komaunikasi Interpersonal Pembina Lapas Terhadap Warga Binaan Perempuan Kelas IIA Palembang.” Jurnal Inovasi, 1979-7729.
Palembang: Universitas Bina Darma, 2017: 51-64.
Nurjamal, Daeng dkk. Terampil Berbahasa: Menyusun Karya Tulis Akademik, Memandu Acara (MC-Moderator). Bandung: ALFABETA, CV, 2013.
Oktaviany, Ariny dan Magdalena S. Halim. “Pendekatan Expressive Writing Pada Narapidana Wanita yang Mengalami Kecemasan Menjelang Masa Bebas.”
Manasa: Jurnal Ilmiah Psikologi, 0216-6860. Jakarta: Universitas Katolik Indonesia Atma Jaya, 2014: 59-71.
Pittara. Gangguan Mental. Alodokter, 2020.
https://www.alodokter.com/kesehatan-mental, diakses pada 19 November 2022.
Qonitatin, Novi dkk. “Pengaruh Katarsis Dalam Menulis Ekspresif Sebagai Intervensi Depresi Ringan Pada Mahasiswa.” Jurnal Psikologi Undip, 2302-1098. Semarang: Universitas Diponegoro, 2011: 21-32.
Rahmawati, Fadhilah dan Agus Romdhon Saputra. “Pelatihan dan Pendampingan Menulis Ekspresif Untuk Menurunkan Stress Bagi Warga Binaan Wanita Rumah Tahanan Kelas II B Ponorogo” Rosyada: Islamic Guidance and Counseling. Ponorogo: IAIN Ponorogo, 2021: 149-159.
Samsu. Metode Penelitian: (Teori dan Aplikasi Penelitian Kualitatif, Kuantitatif, Mixed Methods, serta Research & Development). Jambi: Pustaka Jambi, 2017.
Sarereake, Eva Anita. “Kegunaan Literature dan Writing Dalam Konseling.”
SSRN. Jakarta: Universitas Katolik Indonesia Atma Jaya, 2021: 1-8.
Sumarno. “Pendidikan Emosi Dalam Perspektif Alquran Dan Al-Hadist.”Proceedings Ancoms: Annual Conference for Muslim Scholars Kopertais, 2716-3199. Ngawi: STIT Muhammadiyah, 2017: 846-857.