BAB 1 PENDAHULUAN
1.5 Manfaat Penelitian
1.5.3 Manfaat Pelayanan Masyarakat
1. Untuk mengurangi kejadian nyeri tenggorakan pada pasien paska operasi dengan pemberian deksametason intravena dan NaCl 0,9% intravena.
2. Mendapatkan keadaan pasien tanpa nyeri tenggorakan pada saat paska operasi dengan pemberian deksametason intravena dan NaCl 0,9%
intravena.
3. Untuk mempercepat waktu pemulihan, karena nyeri yang meningkat dapat meningkatkan stress metabolik sehingga dapat memperlama proses penyembuhan.
4. Untuk menghindari timbulnya efek samping yang dapat terjadi akibat nyeri tenggorokan paska operasi.
6 BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Konsep Anestesi Umum (General Anesthesi)
Anestesi merupakan suatu tindakan untuk menghilangkan rasa sakit ketika dilakukan pembedahan dan berbagai prosedur lain yang menimbulkan rasa sakit, dalam hal ini rasa takut perlu ikut dihilangkan untuk menciptakan kondisi optimal bagi pelaksanaan pembedahan (Sabiston, 2011).
Anestesi umum adalah suatu keadaan reversibel yang mengubah status fisiologis tubuh, ditandai dengan hilangnya kesadaran (sedasi), hilangnya persepsi nyeri (analgesia), hilangnya memori (amnesia) dan relaksasi. Beberapa senyawa yang dapat menghasilkan keadaan anestesi umum antara lain bersifat inert (xenon), anorganik (nitrous oxide), inhalasi hidrokarbon (halothan), dan struktur organik komplek (barbiturat). Terdapat beberapa daerah mikroskopik sebagai tempat bekerjanya substansi anestesi umum. Pada otak diketahui anestesi umum mempengaruhi beberapa tempat, seperti sistem retikular, kortek serebri, nukleus kuneatus, kortek olfaktori, dan hipokampus (Morgan, 2013).
General anesthesi merupakan tindakan menghilangkan rasa sakit secara sentral serta hilangnya kesadaran (reversible). Tindakan general anesthesi dengan teknik intravena anestesi dan general anesthesi dengan inhalasi yaitu dengan face mask (sungkup muka) dan dengan teknik intubasi yaitu pemasangan endotracheal tube atau gabungan keduanya inhalasi dan intravena (Latief, 2009).
Melalui mekanisme kerjanya, anestesi umum mengakibatkan terjadinya perubahan-perubahan pada sistem seluler, seperti perubahan pada ligand gate ion channel, fungsi second messenger, atau reseptor neurotransmitter. Sebagai contoh terjadi peningkatan inhibisi pada γ-Aminobutyric Acid (GABA) pada sistem saraf pusat. Seperti diketahui reseptor agonis GABA akan memperdalam anestesi, sedangkan antagonis GABA akan menghilangkan aksi anestesi (Morgan, 2013).
Semua zat obat anestesi umum menghambat susunan saraf pusat secara bertahap, dimulai dari fungsi yang kompleks dan yang paling akhir adalah medula oblongata yang bekerja sebagai pusat vasomotor dan pusat pernapasan. Guedel
(1920) membagi anestesi umum dengan menggunakan eter dalam empat stadium dimana stadium III dibagi lagi dalam empat tingkat.
Gambar 2.1 Skema Tingkat Kesadaran
2.2 Sejarah Intubasi Trakea
Insuflasi trakea pada binatang pertama sekali dilakukan oleh Vesalius pada tahun 1555 dan Robert Hooke pada tahun 1667. Kite pada tahun 1788 melakukan intubasi oral dan nasal untuk menolong korban tenggelam, Jhon Snow pada tahun 1858 melakukan intubasi melalui lubang trakeostomi pada binatang, sedangkan Trendelenberg pada tahun 1871 melakukan hal serupa pada manusia. W. Mac Ewen dari Glaslow pada tahun 1878 melakukan intubasi endotrakeal lewat mulut dengan mengunakan jari-jarinya pada pasien sadar, hal tersebut dilakukan untuk mencegah aspirasi pneumonia pada pembedahan di daerah rongga mulut dan hidung.
Pada tahun 1893 Eisenmenger merupakan orang pertama yang menemukan pipa endotrakeal dengan kaf. Karl Maydl dan J.P.O. Dwyer pada tahun 1898 mengunakan pipa endotrakeal untuk pasien difteri yang mengalami gagal nafas.
Franz Kuhn pada tahun 1901 menemukan pipa endotrakeal metal. Pada tahun 1907
Barthelemy menemukan pipa endotrakeal karet. Rowbotham dan Magill pada tahun 1921 menggunakan pipa endotrakeal karet tanpa kaf untuk operasi didaerah leher dan kepala.
Tahun 1930 Magill melaporkan hasil penelitiannya mengenai intubasi nasal memakai pipa endotrakeal karet tanpa kaf. Walaupun pipa endotrakeal yang memakai kaf telah ditemukan sejak tahun 1893, namun pipa endotrakeal tanpa kaf lebih sering digunakan sampai 1950. Tahun 1952 di Kopenhagen terjadi wabah polio, saat itu banyak pipa endotrakeal dengan kaf digunakan untuk menolong pasien-pasien polio yang mengalami gagal nafas, sejak itulah pipa endotrakeal dengan kaf merupakan alat baku untuk anestesi. Sejak tahun 1970 penggunaan pipa endotrakeal karet tergeser dengan pipa yang terbuat dari plastik. Begitu pula rancangan kaf diperbaiki sedemikian rupa untuk mengurangi efek samping yang timbul akibat pemakaian pipa terebut. Walaupun saat ini banyak rancangan pipa endotrakeal yang cukup ideal tetapi tatalaksana yang baik harus selalu diperhatikan untuk menghindari terjadinya hal – hal yang tidak diinginkan.
Pemakaian pipa endotrakeal memiliki beberapa keuntungan seperti terpeliharanya jalan nafas, kemungkinan nafas kontrol atau alat bantu. Pengurangan ruang rugi dan mencegah aspirasi pneumonia serta memudahkan pembersihan pada tenggorok dan mencegah mengedan akibat spasme laring. Penggunaan pipa endotrakeal yang non kinking sangat membantu ahli anestesiologi untuk mencegah pipa endotrakeal tertekuk pada pembedahan kepala, leher atau posisi telungkup (Moyse, 2017).
Kerugiannya terutama bersifat mekanik dan kesalahan teknik, juga karena iritasi atau reaksi alergik lokal alat yang digunakan seperti pipa endotrakeal, pelumas. Pipa endotrakeal menyebabkan saluran nafas menjadi lebih sempit, sehingga tahanan aliran udara nafas menjadi lebih besar. Hal tersebut berbahaya terutama untuk anak–anak. Oleh karena itu kita selalu berusaha agar pipa endotrakeal yang dipasang sebesar mungkin tetapi tidak sampai melukai laring.
2.3 Pipa Endotrakeal
Pipa endotrakeal umumnya memiliki jari–jari lengkung 12–16 cm, pada potongan lintang pipa, dinding dalam maupun luar sebaiknya bulat, bila oval atau ellips akan mudah tertekuk. Disebelah distal terdapat bagian yang miring disebut bevel, membentuk sudut 39 – 560. Bila sudut lebih kecil maka akan memudahkan masuknya pipa lewat hidung tetapi resiko terjadinya sumbatan akan bertambah. Sisi bevel biasanya menghadap kekiri, karena umumnya ahli anestesiologi menggunakan tangan kanan dan memasukkan pipa dari sebelah kanan. Ujung bevel sebaiknya bulat dengan tepi tumpul. Ada pipa endotrakeal yang memiliki lubang dekat ujung distal disebut jenis murphy dan lubangnya disebut mata murphy.
Tujuan dari mata murphy adalah bila terjadi sumbatan pada ujung bevel maka gas masih dapat lewat. Jenis Magill tidak memiliki lubang pada ujung distalnya.
Gambar 2.2 Pipa endotrakeal Murphy
Tanda – tanda pada pipa endotrakeal
Pada setiap pipa endotrakeal biasanya dicantumkan tanda tanda seperti : a. Oral, nasal, oral / nasal
b. Ukuran pipa c. Diameter eksterna d. Nama dagang
e. Z79 atau IT menunjukkan bahwa pipa tersebut telah dilakukan dan memenuhi standart tes toksisitas
f. Negara produsen
g. Panjang dalam sentimeter diukur dari ujung pipa yang berada dalam trakea penderita
h. “DO NOT REUSE” atau “SINGLE USE ONLY“ pada pipa disposibel
2.4 Hubungan Nyeri Tenggorok dengan Pipa Endotrakeal
Ada beberapa faktor yang menyebabkan nyeri tenggorok yang berhubungan dengan dengan pipa endotrakeal antara lain: bahan, volume dan tekanan kaf.
Bahan Pipa Endotrakeal
Bahan pipa endotrakeal yang dipergunakan pada penelitian ini adalah Polyvinylchloride (PVC), terbentuk dari monomer vinylchloride, merupakan bahan yang paling banyak dipakai untuk pembuatan pipa endotrakeal saat ini. Pipa yang terbuat dari bahan ini umumnya lebih lunak, tidak iritasi terhadap jaringan, kecenderungan untuk mudah tertekuk kecil, termoplastik sehingga mudah menyesuaikan dengan anatomi jalan nafas, permukaan rata dan licin. Pipa endotrakeal PVC dibuat untuk sekali pakai, namun untuk mengurangi biaya ada rumah sakit yang menggunakan lebih dari sekali. Karena PVC tidak tahan panas maka biasanya untuk sterilisasi digunakan etilen-oxide, hal tersebut dapat mengakibatkan reaksi toksik. Oleh karena itu produsen selalu mencantumkan pada pipa tersebut “Dilarang dipakai ulang“, “Hanya sekali pakai” dan sebagainya (Moyse, 2017).
Sprangue membandingkan antara pipa endotrakeal Magill (terbuat dari karet) dengan Mallincrodt (terbuat dari polyvinylchloride) volume besar tekanan rendah pada 100 pasien, hasilnya kekerapan nyeri tenggorok jenis Magill adalah 60% dan Mallincrodt 28% .
Ukuran Pipa Endotrakeal
Ada beberapa cara untuk menentukan ukuran pipa Endotrakeal, dahulu sering dipakai ukuran skala French, ukuran ini merupakan kelipatan tiga daripada diameter eksterna dalam milimeter. Sekarang umumnya pabrik menggunakan
ukuran diameter interna dalam milimeter. Meskipun demikian pada katalok atau pembungkus pipa masih sering dicantumkan ukuran skala French.
Ukuran pipa Endotrakeal meliputi ukuran diameter dalam dan panjang pipa.
Para peneliti menghubungkan penggunaan pipa dengan diameter dalam yang lebih besar akan memperbesar resiko penekanan pipa pada laring dan trakea.Sementara bila digunakan pipa endotrakeal dengan diameter yang lebih kecil, sistem kaf lebih cenderung dikembangkan berlebihan sehingga akan memperbesar resiko penekanan kaf pada trakea. Untuk mengurangi resiko akibat ukuran pipa endotrakeal ini para peneliti menganjurkan penggunaan nomor 7 – 7,5 ID bagi penderita wanita dan nomor 7,5 – 8 ID bagi penderita laki – laki. Chandler M dkk berpendapat bahwa untuk penderita laki – laki berat badan kurang dari 50 kg memakai pipa nomor 7,5 ID sedangkan berat badan lebih dari 50 kg memakai pipa nomor 8 ID. Penderita wanita dengan berat badan kurang dari 50 kg memakai pipa nomor 7 ID sedangkan berat badan lebih dari 50 kg memakai pipa nomor 7,5 ID.
Ada juga peneliti yang menganjurkan untuk menentukan ukuran pipa endotrakeal dengan menyesuaikannya terhadap diameter jari kelingking atau jari manis penderita (Moyse, 2017).
Panjang Pipa Endotrakeal
Penentuan panjang pipa endotrakeal merupakan masalah sulit, penggunaan pipa endotrakeal terlalu panjang akan meningkatkan ruang rugi dan kemungkinan pipa tertekuk, intubasi endobronkial atau ujung pipa menempel dikarina, sedangkan pipa yang terlalu pendek dapat mengakibatkan ekstubasi tidak sengaja atau tekanan kaf pada struktur laring.
Sistem Kaf
Sistem ini meliputi katup pengembang (inflating valve), rongga pengembang (inflating lumen) yang berada pada dinding pipa pengembang sebelah luar (external inflating tube), pilot balon dan kaf. Tujuan dari sistem kaf yaitu menyumbat rongga antara pipa endotrakeal dengan dinding mukosa trakea untuk
mencegah atau mengurangi kebocoran gas, cairan maupun benda–benda asing kedalam atau keluar trakea. Rancangan dari pada kaf ada bermacam – macam, tetapi pada dasarnya dibagi dalam 2 jenis, yaitu :
1. Kaf tekanan tinggi (high pressure cuff / small resting diameter cuff / low compliance high pressure cuff / low residual volume cuff / low volume cuff / small cuff / conventional cuff ). Dengan kaf tekanan tinggi, maka tekanan kaf dan tekanan dinding trakea akan naik sesuai dengan udara yang dimasukkan kedalam kaf. Oleh karena itu dianjurkan memakai pipa endotrakeal sebesar mungkin agar udara yang dimasukkan kedalam kaf lebih sedikit dan tekanan kaf maupun tekanan dinding tidak terlalu tinggi.
Diperlukan tekanan kaf yang tinggi untuk dapat menutup trakea, rata – rata 200 cmH2O. Sifat lain daripada kaf tekanan tinggi yaitu condong untuk menekan trakea sehingga trakea berubah bentuk. Tidak dapat disangsikan lagi bahwa penggunaan pipa endotrakeal dengan tekanan tinggi untuk jangka lama akan menimbulkan kerusakan pada trakea. Sering kali kaf mengembang eksentris sehingga tekanan trakea lebih tinggi dibandingkan dengan kaf tekanan rendah yaitu pada pemakaian jangka pendek.
2. Kaf tekanan rendah (low pressure cuff/large resting diameter cuff/large residual volume cuff/high volume cuff/large cuff/floppy cuff).
Penggunaannya tidak terbatas untuk intubasi lama tetapi juga utuk intubasi jangka pendek. Jenis ini biasanya disebut dengan tekanan rendah baku (standard low pressure). Keuntungan dari kaf tersebut yaitu tekanan kaf kira–kira sama dengan tekanan pada dinding trakea sehingga dengan pemantauan tekanan kaf maka tekanan dinding trakea dapat diatur sesuai dengan tekanan kaf. Beberapa masalah dari penggunaan pipa kaf jenis ini yaitu kekerapan nyeri tenggorok lebih tinggi, kecuali dipakai kaf dengan rancangan tertentu. Aspirasi lebih sering terjadi karena kaf tidak mengembang sempurna, untuk mencegah aspirasi maka tekanan kaf harus lebih besar daripada tekanan untuk sekedar menutup trakea terutama pada ventilasi dengan tekanan positif. Atas dasar tersebut dianjurkan pemakaian
pipa endotrakeal tekanan kaf rendah dengan ukuran tidak terlalu besar, karena kaf tidak akan mengembang sempurna. Tekanan dalam kaf harus diukur kira – kira 20 – 30 cmH2O.Tekanan kaf kurang dari 30 cmH2O pada dinding trakea adalah lebih rendah daripada tekanan perfusi kapiler. Hal ini dapat mengurangi terjadinya nyeri tenggorok, suara serak, ulkus, stenosis, trakeomalasia, fistel trakeoesofagus, akibat gangguan mikrosirkulasi mukosa trakea, tujuannya untuk mencegah kerusakan mukosa (Korb, 2010).
Loeser dkk menyatakan bahwa angka kekerapan nyeri tenggorok terendah pada pipa endotrakeal volume kecil, luas kontak kaf dengan mukosa trakea sempit, tekanan kaf tinggi dibandingkan dengan volume besar tekanan rendah. Loeser lalu mengadakan penelitian kembali dengan menggunakan pipa endotrakeal tekanan rendah, volume rendah, kaf kecil (22 mm), luas kontak mukosa trakea dengan kaf kecil ternyata dapat menurunkan angka kekerapan nyeri tenggorok sampai 10%
jauh lebih rendah dibandingkan pipa endotrakeal tekanan tinggi, volume kecil.
Jensen dkk menyatakan bahwa kaf yang terlalu besar akan mengakibatkan trauma pada laring waktu intubasi maupun saat ekstubasi (Latief, 2009).
2.5 Persiapan untuk Intubasi Endotrakeal
Persiapan untuk intubasi termasuk memeriksa perlengkapan dan posisi pasien. ETT harus diperiksa. Sistem inflasi kaf pipa dapat dites dengan menggembungkan balon dengan menggunakan spuit 10 ml. Pemeliharaan tekanan balon menjamin balon tidak mengalami kebocoran dan katup berfungsi. Beberapa dokter anestesi memotong ETT untuk mengurangi panjangnya dengan tujuan untuk mengurangi resiko dari intubasi bronkial atau sumbatan akibat dari pipa tertekuk.
Konektor harus ditekan sedalam mungkin untuk menurunkan kemungkinan terlepas, jika mandren digunakan ini harus dimasukan ke dalam ETT dan ini ditekuk menyerupai stik hoki. Bentuk ini untuk intubasi dengan posisi laring ke anterior.
Blade harus terkunci di atas gagang laringoskop dan bola lampu dicoba berfungsi atau tidak, dan mandren harus disediakan. Suction diperlukan untuk membersihkan
jalan nafas pada kasus dimana sekresi jalan nafas tidak diinginkan, darah, atau muntah (Nolan, 2007).
Keberhasilan intubasi tergantung dari posisi pasien yang benar. Kepala pasien harus sejajar atau lebih tinggi dengan pinggang dokter anestesi untuk mencegah ketegangan bagian belakang yang tidak perlu selama laringoskopi. Rigid laringoskop memindahkan jaringan lunak faring untuk membentuk garis langsung untuk melihat dari mulut ke glotis yang terbuka. Elevasi kepala sedang (sekitar 5-10 cm diatas meja operasi) dan ekstensi dari atlantoocipital joint menempatkan pasien pada posisi sniffing yang diinginkan. Bagian bawah dari tulang leher adalah fleksi dengan menepatkan kepala diatas bantal.
Persiapan untuk induksi dan intubasi juga meliputi preoksigenasi rutin.
Preoksigenasi dengan beberapa kali nafas dalam dengan 100% oksigen memberikan ekstra margin of safety pada pasien yang tidak mudah diventilasi setelah induksi. Preoksigenasi dapat dihilangkan pada pasien yang mau di face mask, yang bebas dari penyakit paru, dan yang tidak memiliki jalan nafas yang sulit.
(Nolan, 2007)
2.6 Intubasi Endotrakeal
Laringoskop dipegang oleh tangan kiri. Dengan mulut pasien terbuka lebar, blade dimasukkan pada sisi kanan dari orofaring dengan hati-hati untuk menghindari gigi. Geserkan lidah ke kiri dan masuk menuju dasar dari faring dengan pinggir blade. Puncak dari lengkung blade biasanya di masukkan ke dalam vallecula, dan ujung blade lurus menutupi epiglotis. Handle diangkat dan jauh dari pasien secara tegak lurus dari mandibula pasien untuk melihat pita suara.
Terperangkapnya lidah antara gigi dan blade dan pengungkitan dari gigi harus dihindari. ETT diambil dengan tangan kanan, dan ujungnya dilewatkan melalui pita suara yang terbuka (abduksi). Balon ETT harus berada dalam trakea bagian atas tapi diluar laring. Laringoskop ditarik dengan hati- hati untuk menghindari kerusakan gigi. Balon dikembungkan dengan sedikit udara yang dibutuhkan untuk tidak adanya kebocoran selama ventilasi tekanan positif, untuk meminimalkan
tekanan yang ditransmisikan pada mukosa trakea. Merasakan pilot balon bukan metode yang dapat dipercaya untuk menentukan tekanan balon yang adekuat (Latief, 2009).
Setelah intubasi, dada dan epigastrium dengan segera diauskultasi untuk memastikan ETT ada di intratrakeal. Jika ada keragu-raguan tentang apakah pipa dalam esophagus atau trakhea, cabut lagi ETT dan ventilasi pasien dengan face mask. Sebaliknya, pipa diplester atau diikat untuk mengamankan posisi. Lokasi pipa yang tepat dapat dikonfirmasi dengan palpasi balon pada sternal notch sambil menekan pilot balon dengan tangan lainnya (Nolan, 2007).
2.7 Persyarafan dan vaskularisasi laring
Laring adalah suatu rangka kartilago yang diikat oleh ligamen dan otot.
Laring disusun oleh 9 kartilago: tiroid, krikoid, epiglotis, dan (sepasang) aritenoid, kornikulata dan kuneiform. Saraf sensoris dari saluran nafas atas berasal dari saraf kranial. Membran mukosa dari hidung bagian anterior dipersarafi oleh bagian optalmik, saraf trigeminus (saraf ethmoidalis anterior) dan di bagian posterior oleh bagian maxila (saraf sphenopalatina). Saraf palatinus mendapat serabut saraf sensori dari saraf trigeminus untuk mempersarafi permukaan superior dan inferior dari palatum molle dan palatum durum. Saraf lingual (cabang dari saraf bagian mandibula, saraf trigeminus) dan saraf glosofaringeal (saraf kranial yang ke 9) untuk sensasi umum pada dua pertiga bagian anterior dan sepertiga bagian posterior lidah.
Cabang dari saraf fasialis dan saraf glosofaringeal untuk sensasi rasa di daerah tersebut. Saraf glosofaringeal juga mempersarafi atap dari faring, tonsil dan bagian dalam palatum molle. Saraf vagus (saraf kranial ke 10) untuk sensasi jalan nafas dibawah epiglotis. Laring dipersarafi oleh cabang Nervus Vagus yaitu Nn.
Laringeus Superior dan Nn. Laringeus Inferior (Nn. Laringeus Rekuren) kiri dan kanan (Sherwood, 2012).
1. N. Laringeus Superior.
Meninggalkan Nervus Vagus tepat di bawah ganglion nodosum, melengkung ke depan dan medial di bawah arteri karotis interna dan eksterna yang kemudian akan bercabang dua, yaitu :
• Cabang Interna : bersifat sensoris, mempersarafi vallecula, epiglotis, sinus piriformis dan mukosa bagian dalam laring di atas pita suara sejati.
• Cabang Eksterna : bersifat motoris, mempersarafi m. Krikotiroid dan m.
Konstriktor inferior.
2. N. Laringeus Inferior (N. Laringeus Rekuren).
Berjalan dalam lekukan diantara trakea dan esofagus, mencapai laring tepat di belakang artikulasio krikotiroidea. Nervus laringeus yang kiri mempunyai perjalanan yang panjang dan dekat dengan Aorta sehingga mudah terganggu.
Merupakan cabang Nervus Vagus setinggi bagian proksimal arteri subklavia dan berjalan membelok ke atas sepanjang lekukan antara trakea dan esofagus, selanjutnya akan mencapai laring tepat di belakang artikulasio krikotiroidea dan memberikan persarafan :
• Sensoris, mempersarafi daerah sub glotis dan bagian atas trakea
• Motoris, mempersarafi semua otot laring kecuali m. Krikotiroidea Cabang vagus yang lainnya yaitu saraf laringeal rekuren, mempersarafi laring dibawah pita suara dan trakea. Nervus laringeal rekurens mempersarafi motorik dari semua otot-otot intrinsik dari laring kecuali otot krikotiroid.
Refleks laringeal dapat terstimuli di daerah laring atau supraglotis dan dapat menyebabkan tertutupnya pita suara sampai dengan terjadinya laringospasme.
Untuk memblok sensorik dari mukosa laring dibutuhkan blok daripada Nervus Laringeus Superior sampai dengan pita suara ditambah dengan blok pada Nervus Laringeal Rekurens atau dengan pemberian anestesi lokal dengan injeksi transtrakeal atau dengan spray pada mukosa di bawah pita suara. Blok motorik komplit untuk memfasilitasi intubasi dibutuhkan blok pada Nervus Laringeal Rekuren karena nervus ini mempersarafi fungsi motorik dari semua nervus intrinsik
dari laring kecuali untuk otot krikotiroid. Blok pada saraf ini dapat dilakukan dengan transtrakeal atau injeksi pada krikotiroid atau secara topikal dengan spray (Sherwood, 2012).
Gambar 2.3 Persyarafan laring
Laring mendapat perdarahan dari cabang A. Tiroidea Superior dan Inferior sebagai A. Laryngeal Superior dan Inferior.
Gambar 2.4 Vaskularisasi laring
Hyoid cartilage Thyroid cartilage Sup Thyroid arthery
Sup Thyroid vein
Inf Thyroid arthery Internal Jugular vein Common Carotid arthery
Cricothyroid membrane
Inf Thyroid vein
Brachiocephalic vein
1. Arteri Laringeus Superior Berjalan bersama ramus interna N. Laringeus Superior menembus membran tiroid menuju ke bawah diantara dinding lateral dan dasar sinus pyriformis.
2. Arteri Laringeus Inferior berjalan bersama N. Laringeus Inferior masuk ke dalam laring melalui area Killian Jamieson yaitu celah yang berada di bawah m. Konstriktor Faringeus Inferior, di dalam laring beranastomose dengan A. Laringeus Superior dan memperdarahi otot-otot dan mukosa laring (Sherwood, 2012).
2.8 Penilaian Nyeri Tenggorok
Nyeri merupakan suatu pengalaman dan tidak hanya sekedar hasil dari suatu indra saja. The International Assosiation for the Study of Pain (IASP) mendefinisikan nyeri sebagai pengalaman sensori dan emosional yang tidak menyenangkan yang diakibatkan oleh adanya kerusakan jaringan yang aktual maupun potensialnya. Hal ini menggambarkan hubungan objektif antara proses fisiologi nyeri dengan faktor subjektif yaitu emosi dan psikologi yang bersifat individual.Secara individual rasa nyeri ini sulit di nilai secara objektif, walaupun dokter telah melakukan observasi atau menggunakan alat monitor. Standar baku untuk mengetahui seseorang berada dalam kondisi nyeri atau tidak adalah dengan menanyakannya secara langsung.
Penilaian nyeri tenggorok dapat dilakukan dengan anamnesis secara langsung maupun tidak langsung, atau dari keluhan spontan penderita paska operasi. Penilaian dapat dilakukan dengan Visual Analogue Score (VAS). Skala yang pertama sekali dikemukakan oleh Keele pada tahun 1948 yang merupakan skala dengan garis lurus 10 cm, dimana awal garis (0) penanda tidak ada nyeri dan akhir garis (10) menandakan nyeri hebat. Pasien diminta untuk membuat tanda digaris tersebut untuk mengekspresikan nyeri yang dirasakan (Lee et al, 2016).
Dalam kajian pustakanya Coll dkk merekomendasikan VAS sebagai alat ukur nyeri paska operasi, bahkan untuk operasi rawat sehari (day surgery).
Rekomendasi ini dikeluarkan mengingat alat ini telah digunakan secara luas,
kualitasnya secara metodologis baik dan penggunaannya mudah, hanya menggunakan beberapa kata, sehingga kosakata tidak menjadi persoalan.
Williamson dkk juga melakukan kajian pustaka atas tiga skala ukur nyeri dan menarik kesimpulan bahwa VAS secara statistik paling kuat rasionya karena
Williamson dkk juga melakukan kajian pustaka atas tiga skala ukur nyeri dan menarik kesimpulan bahwa VAS secara statistik paling kuat rasionya karena