• Tidak ada hasil yang ditemukan

TESIS. Oleh : dr. Wicak Kunto Wibowo NIM:

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "TESIS. Oleh : dr. Wicak Kunto Wibowo NIM:"

Copied!
100
0
0

Teks penuh

(1)

PERBANDINGAN KEJADIAN NYERI TENGGOROKAN PASIEN PASKA OPERASI DENGAN GENERAL ANESTHESIA ENDOTRACHEAL TUBE

SETELAH PEMBERIAN DEKSAMETASON DAN NACL 0,9%

DI RSUP HAJI ADAM MALIK MEDAN

TESIS

Oleh :

dr. Wicak Kunto Wibowo NIM: 157041108

PROGRAM MAGISTER KEDOKTERAN KLINIK DEPARTEMEN ANESTESIOLOGI DAN TERAPI INTENSIF FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS SUMATERA UTARA

RSUP. HAJI ADAM MALIK MEDAN

2019

(2)

PERBANDINGAN KEJADIAN NYERI TENGGOROKAN PASIEN PASKA OPERASI DENGAN GENERAL ANESTHESIA ENDOTRACHEAL TUBE

SETELAH PEMBERIAN DEKSAMETASON DAN NACL 0,9%

DI RSUP HAJI ADAM MALIK MEDAN

TESIS

Oleh :

dr. Wicak Kunto Wibowo

Pembimbing:

Prof. dr. Achsanuddin Hanafie, Sp.An, KIC, KAO dr. M. Arshad, M.Ked(An), Sp.An

PROGRAM MAGISTER KEDOKTERAN KLINIK DEPARTEMEN ANESTESIOLOGI DAN TERAPI INTENSIF FAKULTAS KEDOKTERANas UNIVERSITAS SUMATERA UTARA

RSUP. HAJI ADAM MALIK MEDAN

2019

(3)
(4)
(5)

ii

KATA PENGANTAR

Puji dan syukur saya sampaikan kepada Tuhan Yang Maha Esa dengan rahmat dan karunia-Nya sehingga saya berkesempatan membuat penelitian ini sebagai salah satu syarat untuk menyelesaikan pendidikan di Program Studi Magister Kedokteran Klinik Fakultas Kedokteran Universitas Sumatera Utara.

Ucapan terima kasih yang tak terhingga dan penghargaan setinggi-tingginya saya sampaikan kepada yang terhormat: Prof. dr. Achsanuddin Hanafie, Sp.An, KIC, KAO dan dr. M. Arshad, M.Ked(An), Sp.An atas kesediaannya sebagai pembimbing penelitian saya, yang walaupun di tengah kesibukan masih dapat meluangkan waktu.

Yang terhormat Bapak Rektor Universitas Sumatera Utara, Prof. Dr Runtung Sitepu, SH, M.Hum, Dekan Fakultas Kedokteran Universitas Sumatera Utara Dr. dr. Aldy Syafruddin Rambe, Sp.S(K) atas kesempatan yang telah diberikan kepada saya untuk mengikuti pendidikan di Program Studi Magister Kedokteran Klinik Fakultas Kedokteran Universitas Sumatera Utara.

Yang terhormat dr. Akhyar Hamonangan Nasution, Sp.An, KAKV sebagai Kepala Departemen/SMF Anestesiologi dan Terapi Intensif FK USU/RSUP H.

Adam Malik Medan, Dr. dr. Rodiah Rahmawaty Lubis, SpM, sebagai Ketua Program Studi Magister Kedokteran Klinik, yang telah banyak memberikan petunjuk, pengarahan serta nasehat dan mendidik selama saya menjalani penelitian ini.

Yang terhormat guru saya selama mengikuti Program Studi Magister Kedokteran Klinik Fakultas Kedokteran Universitas Sumatera Utara: Prof. dr.

Achsanuddin Hanafie, Sp.An, KIC, KAO., dr. Asmin Lubis DAF, Sp.An, KAP, KMN., dr. Soejat Harto Sp.An, KAP., dr. RR Shinta Irina Sp.An KNA., dan seluruh pihak yang namanya tidak dapat saya sebutkan satu-persatu dan telah banyak memberikan bantuan baik secara teori maupun keterampilan sehingga menimbulkan rasa percaya diri baik dalam bidang pendidikan maupun pengetahuan umum lainnya yang kiranya sangat bermanfaat bagi saya di kemudian hari.Yang terhormat Bapak Direktur RSUP H. Adam Malik Medan, dr. Bambang Prabowo,

(6)

M.Kes, yang telah mengizinkan dan memberikan bimbingan serta kesempatan kepada saya untuk belajar dan melakukan penelitian.

Kepada para perawat/para medis dan seluruh karyawan/karyawati RSUP H.

Adam Malik Medan yang telah banyak membantu dan bekerja sama dengan baik selama ini dalam menjalankan penelitian ini, saya juga mengucapkan terimakasih yang setulusnya.

Sembah sujud dan rasa syukur saya persembahkan kepada yang tercinta kedua orangtua saya, ayahanda: Drs. H. Tanto Kuntoyo, MM dan ibunda: Hj. Sri Budi Utama Nasution. Saya sampaikan rasa hormat dan terima kasih saya yang tak terhingga serta penghargaan yang setinggi-tingginya atas doa dan perjuangannya yang tiada henti serta dengan siraman kasih sayang yang luar biasa yang telah diberikan kepada saya.

Kepada saudara kandung saya, yaitu abang saya Maktal Kunto Aji, SH, dan Dipo Kunto Utomo, S.E serta adik saya dr. Sri Hanyyah Kuntami, saya ucapkan terima kasih tak terhingga dan setulusnya atas dorongan dan inspirasinya selama saya menjalani masa pendidikan ini. Walaupun jarak, tempat dan waktu memisahkan kita namun kenangan bersama sedari kecil hingga dibesarkan tetap tersimpan di dalam ingatan.

Kepada istri yang sangat saya cintai dan kasihi, dr. Intan Keumala Sari, yang selalu menyayangi saya, dengan cinta kasihnya yang luar biasa, selalu memberikan dorongan, dan tidak pernah bosan selalu memberikan waktu dan tenaganya untuk mendengarkan keluh kesah saya dengan penuh perhatian. Tiada kata yang dapat mengungkapkan perasaan bersyukur atas apa yang kita miliki dan perbuatan yang cukup untuk menunjukkan perasaan cinta dan kasih untuk istri tersayang. Kepada buah hatiku tercinta Mhd. Khalif Kunto Rafasya, dan Carissa Almeera Meca, kehadiran mereka sebagai penyemangat dan pendorong saya untuk memberikan yang terbaik bagi mereka, sebagai motivator dan pemberi inspirasi saya dalam melakukan segala hal. Terima kasih yang tak terhingga atas kesabaran dan keikhlasan selama saya menjalani pendidikan ini, semoga usaha saya ini juga dapat menjadi dasar dalam setiap aspek kehidupan mereka kedepannya.

(7)

Kepada seluruh kerabat dan handai taulan yang tidak dapat saya sebutkan satu persatu, yang telah memberikan bantuan, yang selalu memberikan dorongan dan dukungan moral maupun materil, serta doanya yang tulus sehingga saya dapat menyelesaikan tesis ini, saya mengucapkan terima kasih.

Dan juga kepada teman-teman saya tercinta, baik di tingkat senior maupun junior yang terlibat langsung maupun tidak langsung dalam membantu dan menginspirasi saya selama saya mengerjakan penelitian di Program Studi Magister Kedokteran Klinik baik dari Departemen Anestesiologi dan Terapi Intensif maupun dari departemen lain yang tidak dapat saya sebutkan satu persatu di sini. Terima kasih saya ucapkan atas bantuan dan kerjasamanya baik secara moril, tenaga, pikiran, dan perhatiannya selama saya menjalankan penelitian ini.

Dan akhirnya izinkan dan perkenankanlah saya dalam kesempatan yang tertulis ini memohon maaf atas segala kekurangan saya selama mengikuti masa pendidikan di Program Studi Magister Kedokteran Klinik Fakultas Kedokteran Universitas Sumatera Utara yang saya cintai.

Medan, Oktober 2019 Penulis,

(dr. Wicak Kunto Wibowo)

(8)

v DAFTAR ISI

Halaman

KATA PENGANTAR ... ii

DAFTAR ISI ... v

DAFTAR TABEL ... ix

DAFTAR GAMBAR ... x

DAFTAR GRAFIK ... xi

DAFTAR LAMPIRAN ... xii

DAFTAR SINGKATAN ... xiii

ABSTRAK ... xiv

BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang ... 1

1.2 Rumusan Masalah ... 4

1.3 Hipotesis ... 4

1.4 Tujuan Penelitian 1.4.1 Tujuan Umum ... 4

1.4.2 Tujuan Khusus ... 4

1.5 Manfaat Penelitian 1.5.1 Manfaat Akademis ... 5

1.5.2 Manfaat Praktis... 5

1.5.3 Manfaat Pelayanan Masyarakat……… ... 5

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Konsep Anestesi Umum (General Anesthesi) ... 6

2.2 Sejarah Intubasi Trakea ... 7

2.3 Pipa Endotrakeal ... 9

2.4 Hubungan Nyeri Tenggorok dengan Pipa Endotrakeal ... 10

2.5 Persiapan untuk Intubasi Endotrakeal ... 13

(9)

2.6 Intubasi Endotrakeal ... 14

2.7 Persyarafan dan vaskularisasi laring ... 15

2.8 Penilaian Nyeri Tenggorok ... 18

2.9 Etiologi Nyeri Tenggorok ... 19

2.10 Faktor Resiko Nyeri Tenggorok ... 20

2.11 Komplikasi Intubasi Endotrakea ... 23

2.12 Mekanisme Nyeri Tenggorok ... 24

2.12.1 Inflamasi ... 24

2.12.2 Prostaglandin ... 25

2.13 Pencegahan Nyeri Tenggorok ... 26

2.14 Deksametason ... 27

2.14.1 Farmakodinamik ... 32

2.14.2 Efek Anti Inflamasi dan Immunosuppressif ... 33

2.14.3 Efek Samping ... 35

2.14.4 Farmakokinetik ... 35

2.14.5 Penggunaan Klinis ... 37

2.14.6 Kontraindikasi ... 37

2.15 Kerangka Teori ... 38

2.16 Kerangka Konsep ... 39

BAB 3 METODE PENELITIAN 3.1 Desain Penelitian ... 40

3.2 Tempat dan Waktu Penelitian 3.2.1 Tempat ... 40

3.2.2 Waktu ... 40

3.3 Populasi dan Sampel Penelitian 3.3.1 Populasi ... 40

3.3.2 Sampel ... 40

3.4 Besar Sampel ... 41

3.5 Teknik Pengambilan Sampel ... 41

(10)

3.6 Kriteria Inklusi dan Eksklusi

3.6.1 Kriteria Inklusi ... 41

3.6.2 Kriteria Eksklusi ... 42

3.6.3 Kriteria Putus Uji (Drop Out)... 42

3.7 Informed Consent ... 42

3.8 Alat, Bahan, dan Cara Kerja 3.8.1 Alat ... 42

3.8.2 Bahan ... 43

3.8.3 Cara Kerja ... 43

3.9 Identifikasi Variabel 3.9.1 Variabel Bebas ... 45

3.9.2 Variabel Tergantung ... 45

3.10 Definisi Operasional ... 45

3.11 Rencana Manajemen dan Analisa Data ... 46

3.12 Masalah Etika ... 46

3.13 Alur Penelitian ... 48

BAB 4 METODE PENELITIAN 4.1 Hasil 4.1.1 Karakteristik Sampel ... 49

4.1.2 Rerata Nilai VAS Nyeri Tenggorokan Pasien Paska Ekstubasi dengan Anestesi Umum setelah Pemberian Suntikan Deksametason dan Nacl 0,9% pada T1 (1 Jam Paska Ekstubasi), T2 (6 Jam Paska Ekstubasi), T3 (12 Jam Paska Ekstubasi), T4 (24 Jam Paska Ekstubasi) ... 50

4.1.3 Perbandingan Nilai VAS Nyeri Tenggorokan Pasien Paska Ekstubasi dengan Anestesi Umum setelah Pemberian Suntikan Deksametason dan Nacl 0,9% pada T1 (1 Jam Paska Ekstubasi) ... 51

(11)

4.1.4 Perbandingan Nilai VAS Nyeri Tenggorokan Pasien Paska Ekstubasi dengan Anestesi Umum setelah Pemberian Suntikan Deksametason dan Nacl 0,9% pada T2 (6 Jam

Paska Ekstubasi) ... 53

4.1.5 Perbandingan Nilai VAS Nyeri Tenggorokan Pasien Paska Ekstubasi dengan Anestesi Umum setelah Pemberian Suntikan Deksametason dan Nacl 0,9% Pada T3 (12 Jam Paska Ekstubasi) ... 54

4.1.6 Perbandingan Nilai VAS Nyeri Tenggorokan Pasien Paska Ekstubasi dengan Anestesi Umum setelah Pemberian Suntikan Deksametason dan Nacl 0,9% pada T4 (24 Jam Paska Ekstubasi) ... 56

BAB 5 PEMBAHASAN ... 58

BAB 6 KESIMPULAN DAN SARAN 6.1 Kesimpulan ... 61

6.2 Saran ... 61

DAFTAR PUSTAKA ... 62

LAMPIRAN ... 66

(12)

DAFTAR TABEL

Tabel 2.1 Efek glukokortikoid terhadap berbagai sistem ... 32 Tabel 2.2 Interaksi kortikosteroid dengan obat-obat lain ... 36 Tabel 4.1 Karakteristik sampel ... 49 Tabel 4.2 Rerata Nilai VAS Nyeri Tenggorokan Pasien Paska

Ekstubasi dengan Anestesi Umum setelah Pemberian Suntikan Deksametason dan Nacl 0,9% pada T1 (1 Jam Paska Ekstubasi), T2 (6 Jam Paska Ekstubasi), T3 (12 Jam

Paska Ekstubasi), T4 (24 Jam Paska Ekstubasi)... 50 Tabel 4.3 Perbandingan nilai VAS Nyeri Tenggorokan pasien paska

ekstubasi dengan anestesi umum setelah pemberian

suntikan deksametason dan NaCl 0,9% pada T1 ... 51 Tabel 4.4 Perbandingan nilai VAS Nyeri Tenggorokan pasien paska

ekstubasi dengan anestesi umum setelah pemberian

suntikan deksametason dan NaCl 0,9% pada T2 ... 53 Tabel 4.5 Perbandingan nilai VAS Nyeri Tenggorokan pasien paska

ekstubasi dengan anestesi umum setelah pemberian

suntikan deksametason dan NaCl 0,9% pada T3 ... 54 Tabel 4.6 Perbandingan nilai VAS Nyeri Tenggorokan pasien paska

ekstubasi dengan anestesi umum setelah pemberian

suntikan deksametason dan NaCl 0,9% pada T4 ... 56

(13)

DAFTAR GAMBAR

Gambar 2.1 Skema Tingkat Kesadaran ... 7

Gambar 2.2 Pipa Endotrakeal Murphy... 9

Gambar 2.3 Persyarafan Laring ... 17

Gambar 2.4 Vaskularisasi Laring ... 17

Gambar 2.5 Visual Analogue Scale ... 19

Gambar 2.6 Struktur kimia Deksametason ... 28

Gambar 2.7 Efek Glukokortikoid sebagai anti inflamasi ... 34

Gambar 2.8 Kerangka Teori ... 38

Gambar 2.9 Kerangka Konsep ... 39

Gambar 3.1 Skema Alur Penelitian ... 48

(14)

DAFTAR GRAFIK

Grafik 4.1 Perbandingan Nilai VAS Nyeri Tenggorokan pada T1 ... 52

Grafik 4.2 Perbandingan Nilai VAS Nyeri Tenggorokan pada T2 ... 54

Grafik 4.3 Perbandingan Nilai VAS Nyeri Tenggorokan pada T3 ... 55

Grafik 4.4 Perbandingan Nilai VAS Nyeri Tenggorokan pada T4 ... 57

(15)

DAFTAR LAMPIRAN

Lampiran 1 Riwayat Hidup Peneliti 53

Lampiran 2 Lampiran 3

Jadwal Pertahapan Penelitian Lembar Observasi Pasien

54 55 Lampiran 4 Formulir Persetujuan Mengikuti Penelitian

(Formulir Informed Consent)

57

Lampiran 5 Anggaran Penelitian 72

(16)

DAFTAR SINGKATAN

5HT-3 5 Hydroxytryptamine type-3 A. Arteri

CBG Corticosteroid Binding Globulin cm centimetre/s

cmH2O centimetres of water COX Cyclo-Oxygenase

Depkes Departemen Kesehatan Republik Indonesia GABA Gamma Amino Butiric Acid

GM-CSF Granulosit Macrophage-Colony Stimulating Factor HCl Hydrogen Chloride

IASP International Association for the Study of Pain IL Interleukin

IV Intravena M. Musculus N. Nervus

NaCl 0,9% Natrium Chloride 0,9%

NMDA N-Methyl-D-Aspartate Nn. Nervi

POST Post Operative Sore Throat PDGF Platelet Derived Growth Factor PGE/F Prostaglandine E/F

PVC Polyvinylchloride

RSUP Rumah Sakit Umum Pusat TNF Tumor Necrosis Factor VAS Visual Analogue Score WHO World Health Organization

(17)

xiv ABSTRAK

Latar Belakang: Sebagian besar pembedahan memerlukan tindakan anestesi umum, di mana salah satu komplikasi adalah nyeri tenggorokan. Nyeri tenggorokan dapat menurunkan kepuasan pasien dan meningkatkan ketidaknyamanan paska operasi berkisar antara 17% hingga 76%. Langkah untuk mengurangi komplikasi ini adalah membatasi trauma fisik yang timbul akibat instrumentasi dan manipulasi saluran napas.

Tujuan: Mengetahui perbedaan nyeri tenggorokan dengan pemberian deksametason intravena dibandingkan NaCl 0,9% intravena pada pasien paska operasi dengan general anesthesia endotracheal tube di RSUP Haji Adam Malik Medan.

Metode: Penelitian ini merupakan penelitian eksperimen acak tersamar ganda.

Setelah disetujui oleh Komite Etik Fakultas Kedokteran Universitas Sumatera Utara Medan, dikumpulkan 62 sampel, usia 21-60 tahun, PS-ASA I-II, setuju untuk ikut serta, dan menandatangani informed consent, dan durasi operasi <3 jam.

Setelah dihitung secara statistik, seluruh sampel dibagi acak menjadi 2 kelompok.

Kelompok A mendapat deksametason 10 mg intravena dan kelompok B mendapat NaCl 0,9% intravena. Data hasil penelitian diuji dengan Mann Whitney dengan signifikansi p<0,05.

Hasil: Rerata nilai VAS pada pasien yang diberikan deksametason adalah VAS 2 untuk T1 dan T2, dan VAS 1 untuk T3 dan T4. Rerata nilai VAS pada pasien yang diberikan NaCl 0,9% adalah VAS 3 untuk T1, VAS 2 untuk T2 dan T3, dan VAS 1 untuk T4.

Kesimpulan: Adanya perbedaan yang bermakna secara statistik setelah pemberian deksametason dibandingkan NaCl 0,9%.

Kata Kunci : Anestesi umum, nyeri tenggorokan, VAS, deksametason

(18)

ABSTRACT

Background: Most surgeries require general anesthesia, where one of its complication is sore throat. Sore throat can reduce patient’s satisfaction and increase postoperative discomfort ranging from 17% to 76%. Some way to reduce this complication are to restrict physical trauma arising from instrumentation and airway manipulation.

Purpose: To determine the difference in throat pain by administering intravenous dexamethasone versus intravenous NaCl 0,9% in postoperative patients with general anesthesia endotracheal tube at Haji Adam Malik General Hospital, Medan.

Methods: This research is an experimental research with a double-blind randomized research design. After obtaining approval from the Ethics Committee, Medical Faculty, University of North Sumatra, Medan, 62 samples were collected, ages 21-60 years, PS-ASA I-II, agree to participate, informed consent approval, and operating time < 3 hours. After being calculated statistically, all samples were randomly divided into 2 groups. Group A received 10 mg dexamethasone and group B received NaCl 0,9%. Data were tested with the Mann Whitney Test with a significance of p<0.05

Result: The mean VAS value in patients who was given by dexamethasone were VAS 2 for T1 and T2, and VAS 1 for T3 and T4. The mean VAS value in patients who was given by NaCl 0.9% were VAS 3 for T1, VAS 2 for T2 and T3, and VAS 1 for T4.

Conclusion: There was a statistically significant difference after administering dexamethasone compared with NaCl 0,9%.

Keywords: general anesthesia, sore throat, VAS, dexamethasone, NaCl 0,9%

(19)

1 BAB I PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Sebagian besar pembedahan memerlukan tindakan anestesi yang dilakukan dengan teknik general anesthesia atau regional. Teknik tersebut masing- masing memiliki keuntungan dan kerugian. Salah satu komplikasi setelah operasi khususnya yang memakai intubasi endotrakeal adalah nyeri tenggorok (Muhammad, Fuadi, Nawawi, 2015).

Nyeri tenggorakan paska bedah adalah salah satu komplikasi yang dapat terjadi terhadap pasien yang menjalani teknik anestesi umum dengan intubasi mempergunakan pipa endotrakeal. Keluhan ini biasanya membaik setelah 24 jam pertama. Nyeri tenggorok paska bedah adalah keluhan terbesar ke-8 terhadap pasien yang menjalani anestesi umum. Penyebab nyeri tenggorok yang terbesar adalah penggunaan pipa endotrakeal dengan menggunakan balon selama operasi (Biro et. al. 2005)

Nyeri tenggorok paska operasi atau Postoperative Sore Throat (POST) adalah komplikasi yang menurunkan kepuasan pasien dan meningkatkan ketidaknyamanan pada periode paska operasi (Lee et al, 2016). Angka kejadian nyeri tenggorok setelah dilakukan anestesi umum dengan intubasi pipa endotrakeal atau endotracheal tube (ETT) berkisar antara 17% hingga 76%. Besarnya rentang insiden nyeri tenggorok paska intubasi disebabkan banyak faktor yang memengaruhi timbulnya nyeri tenggorok. Nyeri tenggorok setelah operasi merupakan kejadian yang tidak menyenangkan setelah dilakukan tindakan intubasi pada trakea. Efek ini terjadi karena iritasi dan peradangan pada jalan napas serta kerusakan mukosa trakea karena tekanan pipa endotrakeal (Muhammad, Fuadi, Nawawi, 2015).

Beberapa penelitian telah dilakukan dalam upaya untuk mengurangi rasa nyeri tenggorokan paska bedah. Sebagian besar langkah yang dianjurkan untuk mengurangi komplikasi ini telah ditujukan untuk membatasi trauma fisik yang mungkin timbul akibat instrumentasi dan juga manipulasi saluran napas. Beberapa

(20)

penelitian telah dilakukan memakai intervensi farmakologis sebagai cara untuk mengurangi nyeri tenggorokan paska bedah. Saat ini belum ada obat tunggal yang telah diterima secara luas untuk indikasi ini (Philip, 2010).

Pencegahan nyeri tenggorakan paska bedah menjadi hal yang perlu diperhatikan dalam memberikan pelayanan anestesi dikarenakan mencegah komplikasi akan meningkatan memberikan pelayanan anestesi dikarenakan mencegah komplikasi akan meningkatkan kepuasan pasien pada pelayanan tersebut (Ogata et. al. 2005).

Penelitian yang bertujuan untuk mengetahui insiden nyeri tenggorok dan suara serak dengan desain deskriptif prospektif telah dilakukan oleh Rina Novia di Rumah Sakit Umum Pusat (RSUP) Nasional Cipto Mangunkusumo pada tahun 2006. Kesimpulan pada penelitian ini dengan teknik intubasi endotrakeal yang dilakukan pada 180 pasien dengan didapati insiden nyeri tenggorok sebesar 51,1%, suara serak 52,8%, nyeri tenggorok dan suara serak yang terjadi bersamaan sebesar 38,3% (Satria, Arie Budi, 2019).

Dari penelitian yang dilakukan oleh L.Sun et al, didapatkan hasil bahwa deksametason intravena mengurangi risiko dan tingkat keparahan POST pada 24 jam setelah intubasi endotrakeal. Dosis efektif deksametason untuk mencegah resiko POST tampaknya sudah berakhir 0,1 mg/kgBB. Hasil yang dirangkum dari 7 randomized controlled trial (RCT) termasuk 727 peserta. Deksametason intravena secara signifikan mengurangi resiko POST setelah 24 jam. [Rasio risiko gabungan (RR) = 0,676; 95% Interval kepercayaan (CI) 0,494-0,925; P = 0,014; uji heterogenitas, I 2 = 45,8%], serta mengurangi keparahannya [standardized mean difference (SMD) = -1.15; 95% CI -1,86 hingga -0,45; P = 0,002; uji heterogenitas, I 2 = 91,7%]. Analisis subkelompok lebih lanjut menunjukkan hubungan signifikan antara deksametason dan berkurangnya resiko POST ketika dosisnya lebih dari 0,1 mg/kgBB. Tidak ada efek samping yang dilaporkan (Sun et al, 2013).

Oleh Sang Ho Lee et al, sebanyak 150 pasien yang menjalani operasi daerah vertebra lumbal (usia 18-75 tahun) dialokasikan secara acak ke dalam kelompok NaCl 0,9% (kelompok P, n = 50), kelompok deksametason 0,1 mg/kgBB

(21)

(kelompok D1, n = 50) atau deksametason 0,2 mg/kg grup (grup D2, n = 50).

Kejadian dan tingkat keparahan POST, suara serak, dan batuk diukur melalui wawancara langsung pada 1, 6, dan 24 jam setelah ekstubasi trakea. Tingkat keparahan POST, suara serak, dan batuk dinilai menggunakan skala 4 poin. Hasil pada 1, 6, dan 24 jam setelah ekstubasi, kejadian nyeri tenggorok secara signifikan lebih rendah pada kelompok D1 (1 jam; P = 0,015, 6 jam; P < 0,001, 24 jam; P = 0,038) dan kelompok D2 (1 jam; P < 0,001, 6 jam; P < 0,001, 24 jam; P = 0,017) dibandingkan dengan kelompok P. Ada lebih sedikit jumlah pasien dalam kelompok D1 dan D2 daripada kelompok P yang menderita POST tingkat sedang pada 1, 24 jam setelah ekstubasi. Insiden suara serak pada 1, 6, dan 24 jam setelah ekstubasi secara signifikan lebih rendah pada kelompok D2 daripada kelompok P (P < 0,001). Tidak ada perbedaan signifikan dalam kejadian batuk diantara ketiga kelompok (Lee et al, 2016).

Sementara itu dari Jeong Han Lee et al pada tahun 2017 dengan melibatkan 90 pasien yang menjalani kolesistektomi laparoskopi dilakukan penelitian secara acak menjadi tiga kelompok: grup pasien berkumur dengan NaCl 0,9% dan ETT direndam dengan NaCl 0,9% (kelompok C); grup pasien yang berkumur dengan deksametason 0,05% dan ETT direndam dengan NaCl 0,9%

(kelompok G); grup pasien berkumur dengan NaCl 0,9% dan ETT direndam dengan larutan deksametason 0,05% (kelompok S). Insiden dan keparahan POST kemudian dinilai dan dicatat pada 24 jam setelah operasi. Hasil penelitian tersebut yakni total kejadian POST berbeda secara signifikan diantara kelompok (P < 0,05). Kelompok S menunjukkan insiden POST yang jauh lebih rendah daripada kelompok C (P <

0,0167). Selain itu, intensitas POST kelompok G dan kelompok S kurang keparahannya dibandingkan dengan kelompok C (keduanya P < 0,0167) (Lee et al, 2017).

Dari latar belakang diatas, peneliti berkeinginan mengetahui kejadian nyeri tenggorokan pada pasien yang menjalani operasi dengan general anesthesia endotracheal tube, dimana dibandingkan setelah pemberian deksametason intravena dengan NaCl 0,9% intravena di RSUP Haji Adam Malik Medan.

(22)

1.2 Rumusan Masalah

Apakah didapatkan perbedaan kejadian nyeri tenggorokan antara pemberian deksametason intravena dibandingkan dengan NaCl 0,9% intravena pada pasien paska operasi dengan general anesthesia endotracheal tube.

1.3 Hipotesis

Kejadian nyeri tenggorokan setelah pemberian deksametason lebih rendah dibandingkan dengan NaCl 0,9% pada pasien paska operasi dengan general anesthesia endotracheal tube.

1.4 Tujuan Penelitian 1.4.1 Tujuan Umum

Untuk mengetahui perbedaan nyeri tenggorokan antara pemberian deksametason intravena dibandingkan dengan NaCl 0,9% intravena pada pasien paska operasi dengan general anesthesia endotracheal tube di RSUP Haji Adam Malik Medan.

1.4.2 Tujuan Khusus

1. Untuk mendapatkan rerata nilai nyeri tenggorokan pasien paska operasi dengan dengan general anesthesia endotracheal tube pada pemberian deksametason intravena.

2. Untuk mendapatkan rerata nilai nyeri tenggorokan pasien paska operasi dengan dengan general anesthesia endotracheal tube pada pemberian NaCl 0,9% intravena.

3. Untuk mendapatkan perbedaan nilai nyeri tenggorokan pasien paska operasi dengan dengan general anesthesia endotracheal tube pada pemberian deksametason intravena dan NaCl 0,9% intravena.

(23)

1.5 Manfaat Penelitian 1.5.1 Manfaat Akademis

Hasil penelitian ini diharapkan dapat digunakan sebagai sumber rujukan tambahan dalam penelitian lanjutan tentang usaha-usaha penurunan angka kejadian nyeri tenggorokan paska operasi dengan general anesthesia endotracheal tube.

1.5.2 Manfaat Praktis

Hasil dari penelitian ini diharapkan dapat digunakan sebagai landasan dalam penanganan pencegahan nyeri tenggorokan paska operasi yakni sebagai data untuk penelitian lanjutan mengenai pemberian deksametason intravena dibandingkan dengan NaCl 0,9% intravena dalam mengurangi atau menurunkan angka kejadian nyeri tenggorokan.

1.5.3 Manfaat Pelayanan Masyarakat

1. Untuk mengurangi kejadian nyeri tenggorakan pada pasien paska operasi dengan pemberian deksametason intravena dan NaCl 0,9% intravena.

2. Mendapatkan keadaan pasien tanpa nyeri tenggorakan pada saat paska operasi dengan pemberian deksametason intravena dan NaCl 0,9%

intravena.

3. Untuk mempercepat waktu pemulihan, karena nyeri yang meningkat dapat meningkatkan stress metabolik sehingga dapat memperlama proses penyembuhan.

4. Untuk menghindari timbulnya efek samping yang dapat terjadi akibat nyeri tenggorokan paska operasi.

(24)

6 BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Konsep Anestesi Umum (General Anesthesi)

Anestesi merupakan suatu tindakan untuk menghilangkan rasa sakit ketika dilakukan pembedahan dan berbagai prosedur lain yang menimbulkan rasa sakit, dalam hal ini rasa takut perlu ikut dihilangkan untuk menciptakan kondisi optimal bagi pelaksanaan pembedahan (Sabiston, 2011).

Anestesi umum adalah suatu keadaan reversibel yang mengubah status fisiologis tubuh, ditandai dengan hilangnya kesadaran (sedasi), hilangnya persepsi nyeri (analgesia), hilangnya memori (amnesia) dan relaksasi. Beberapa senyawa yang dapat menghasilkan keadaan anestesi umum antara lain bersifat inert (xenon), anorganik (nitrous oxide), inhalasi hidrokarbon (halothan), dan struktur organik komplek (barbiturat). Terdapat beberapa daerah mikroskopik sebagai tempat bekerjanya substansi anestesi umum. Pada otak diketahui anestesi umum mempengaruhi beberapa tempat, seperti sistem retikular, kortek serebri, nukleus kuneatus, kortek olfaktori, dan hipokampus (Morgan, 2013).

General anesthesi merupakan tindakan menghilangkan rasa sakit secara sentral serta hilangnya kesadaran (reversible). Tindakan general anesthesi dengan teknik intravena anestesi dan general anesthesi dengan inhalasi yaitu dengan face mask (sungkup muka) dan dengan teknik intubasi yaitu pemasangan endotracheal tube atau gabungan keduanya inhalasi dan intravena (Latief, 2009).

Melalui mekanisme kerjanya, anestesi umum mengakibatkan terjadinya perubahan-perubahan pada sistem seluler, seperti perubahan pada ligand gate ion channel, fungsi second messenger, atau reseptor neurotransmitter. Sebagai contoh terjadi peningkatan inhibisi pada γ-Aminobutyric Acid (GABA) pada sistem saraf pusat. Seperti diketahui reseptor agonis GABA akan memperdalam anestesi, sedangkan antagonis GABA akan menghilangkan aksi anestesi (Morgan, 2013).

Semua zat obat anestesi umum menghambat susunan saraf pusat secara bertahap, dimulai dari fungsi yang kompleks dan yang paling akhir adalah medula oblongata yang bekerja sebagai pusat vasomotor dan pusat pernapasan. Guedel

(25)

(1920) membagi anestesi umum dengan menggunakan eter dalam empat stadium dimana stadium III dibagi lagi dalam empat tingkat.

Gambar 2.1 Skema Tingkat Kesadaran

2.2 Sejarah Intubasi Trakea

Insuflasi trakea pada binatang pertama sekali dilakukan oleh Vesalius pada tahun 1555 dan Robert Hooke pada tahun 1667. Kite pada tahun 1788 melakukan intubasi oral dan nasal untuk menolong korban tenggelam, Jhon Snow pada tahun 1858 melakukan intubasi melalui lubang trakeostomi pada binatang, sedangkan Trendelenberg pada tahun 1871 melakukan hal serupa pada manusia. W. Mac Ewen dari Glaslow pada tahun 1878 melakukan intubasi endotrakeal lewat mulut dengan mengunakan jari-jarinya pada pasien sadar, hal tersebut dilakukan untuk mencegah aspirasi pneumonia pada pembedahan di daerah rongga mulut dan hidung.

Pada tahun 1893 Eisenmenger merupakan orang pertama yang menemukan pipa endotrakeal dengan kaf. Karl Maydl dan J.P.O. Dwyer pada tahun 1898 mengunakan pipa endotrakeal untuk pasien difteri yang mengalami gagal nafas.

Franz Kuhn pada tahun 1901 menemukan pipa endotrakeal metal. Pada tahun 1907

(26)

Barthelemy menemukan pipa endotrakeal karet. Rowbotham dan Magill pada tahun 1921 menggunakan pipa endotrakeal karet tanpa kaf untuk operasi didaerah leher dan kepala.

Tahun 1930 Magill melaporkan hasil penelitiannya mengenai intubasi nasal memakai pipa endotrakeal karet tanpa kaf. Walaupun pipa endotrakeal yang memakai kaf telah ditemukan sejak tahun 1893, namun pipa endotrakeal tanpa kaf lebih sering digunakan sampai 1950. Tahun 1952 di Kopenhagen terjadi wabah polio, saat itu banyak pipa endotrakeal dengan kaf digunakan untuk menolong pasien-pasien polio yang mengalami gagal nafas, sejak itulah pipa endotrakeal dengan kaf merupakan alat baku untuk anestesi. Sejak tahun 1970 penggunaan pipa endotrakeal karet tergeser dengan pipa yang terbuat dari plastik. Begitu pula rancangan kaf diperbaiki sedemikian rupa untuk mengurangi efek samping yang timbul akibat pemakaian pipa terebut. Walaupun saat ini banyak rancangan pipa endotrakeal yang cukup ideal tetapi tatalaksana yang baik harus selalu diperhatikan untuk menghindari terjadinya hal – hal yang tidak diinginkan.

Pemakaian pipa endotrakeal memiliki beberapa keuntungan seperti terpeliharanya jalan nafas, kemungkinan nafas kontrol atau alat bantu. Pengurangan ruang rugi dan mencegah aspirasi pneumonia serta memudahkan pembersihan pada tenggorok dan mencegah mengedan akibat spasme laring. Penggunaan pipa endotrakeal yang non kinking sangat membantu ahli anestesiologi untuk mencegah pipa endotrakeal tertekuk pada pembedahan kepala, leher atau posisi telungkup (Moyse, 2017).

Kerugiannya terutama bersifat mekanik dan kesalahan teknik, juga karena iritasi atau reaksi alergik lokal alat yang digunakan seperti pipa endotrakeal, pelumas. Pipa endotrakeal menyebabkan saluran nafas menjadi lebih sempit, sehingga tahanan aliran udara nafas menjadi lebih besar. Hal tersebut berbahaya terutama untuk anak–anak. Oleh karena itu kita selalu berusaha agar pipa endotrakeal yang dipasang sebesar mungkin tetapi tidak sampai melukai laring.

(27)

2.3 Pipa Endotrakeal

Pipa endotrakeal umumnya memiliki jari–jari lengkung 12–16 cm, pada potongan lintang pipa, dinding dalam maupun luar sebaiknya bulat, bila oval atau ellips akan mudah tertekuk. Disebelah distal terdapat bagian yang miring disebut bevel, membentuk sudut 39 – 560. Bila sudut lebih kecil maka akan memudahkan masuknya pipa lewat hidung tetapi resiko terjadinya sumbatan akan bertambah. Sisi bevel biasanya menghadap kekiri, karena umumnya ahli anestesiologi menggunakan tangan kanan dan memasukkan pipa dari sebelah kanan. Ujung bevel sebaiknya bulat dengan tepi tumpul. Ada pipa endotrakeal yang memiliki lubang dekat ujung distal disebut jenis murphy dan lubangnya disebut mata murphy.

Tujuan dari mata murphy adalah bila terjadi sumbatan pada ujung bevel maka gas masih dapat lewat. Jenis Magill tidak memiliki lubang pada ujung distalnya.

Gambar 2.2 Pipa endotrakeal Murphy

Tanda – tanda pada pipa endotrakeal

Pada setiap pipa endotrakeal biasanya dicantumkan tanda tanda seperti : a. Oral, nasal, oral / nasal

b. Ukuran pipa c. Diameter eksterna d. Nama dagang

e. Z79 atau IT menunjukkan bahwa pipa tersebut telah dilakukan dan memenuhi standart tes toksisitas

f. Negara produsen

(28)

g. Panjang dalam sentimeter diukur dari ujung pipa yang berada dalam trakea penderita

h. “DO NOT REUSE” atau “SINGLE USE ONLY“ pada pipa disposibel

2.4 Hubungan Nyeri Tenggorok dengan Pipa Endotrakeal

Ada beberapa faktor yang menyebabkan nyeri tenggorok yang berhubungan dengan dengan pipa endotrakeal antara lain: bahan, volume dan tekanan kaf.

Bahan Pipa Endotrakeal

Bahan pipa endotrakeal yang dipergunakan pada penelitian ini adalah Polyvinylchloride (PVC), terbentuk dari monomer vinylchloride, merupakan bahan yang paling banyak dipakai untuk pembuatan pipa endotrakeal saat ini. Pipa yang terbuat dari bahan ini umumnya lebih lunak, tidak iritasi terhadap jaringan, kecenderungan untuk mudah tertekuk kecil, termoplastik sehingga mudah menyesuaikan dengan anatomi jalan nafas, permukaan rata dan licin. Pipa endotrakeal PVC dibuat untuk sekali pakai, namun untuk mengurangi biaya ada rumah sakit yang menggunakan lebih dari sekali. Karena PVC tidak tahan panas maka biasanya untuk sterilisasi digunakan etilen-oxide, hal tersebut dapat mengakibatkan reaksi toksik. Oleh karena itu produsen selalu mencantumkan pada pipa tersebut “Dilarang dipakai ulang“, “Hanya sekali pakai” dan sebagainya (Moyse, 2017).

Sprangue membandingkan antara pipa endotrakeal Magill (terbuat dari karet) dengan Mallincrodt (terbuat dari polyvinylchloride) volume besar tekanan rendah pada 100 pasien, hasilnya kekerapan nyeri tenggorok jenis Magill adalah 60% dan Mallincrodt 28% .

Ukuran Pipa Endotrakeal

Ada beberapa cara untuk menentukan ukuran pipa Endotrakeal, dahulu sering dipakai ukuran skala French, ukuran ini merupakan kelipatan tiga daripada diameter eksterna dalam milimeter. Sekarang umumnya pabrik menggunakan

(29)

ukuran diameter interna dalam milimeter. Meskipun demikian pada katalok atau pembungkus pipa masih sering dicantumkan ukuran skala French.

Ukuran pipa Endotrakeal meliputi ukuran diameter dalam dan panjang pipa.

Para peneliti menghubungkan penggunaan pipa dengan diameter dalam yang lebih besar akan memperbesar resiko penekanan pipa pada laring dan trakea.Sementara bila digunakan pipa endotrakeal dengan diameter yang lebih kecil, sistem kaf lebih cenderung dikembangkan berlebihan sehingga akan memperbesar resiko penekanan kaf pada trakea. Untuk mengurangi resiko akibat ukuran pipa endotrakeal ini para peneliti menganjurkan penggunaan nomor 7 – 7,5 ID bagi penderita wanita dan nomor 7,5 – 8 ID bagi penderita laki – laki. Chandler M dkk berpendapat bahwa untuk penderita laki – laki berat badan kurang dari 50 kg memakai pipa nomor 7,5 ID sedangkan berat badan lebih dari 50 kg memakai pipa nomor 8 ID. Penderita wanita dengan berat badan kurang dari 50 kg memakai pipa nomor 7 ID sedangkan berat badan lebih dari 50 kg memakai pipa nomor 7,5 ID.

Ada juga peneliti yang menganjurkan untuk menentukan ukuran pipa endotrakeal dengan menyesuaikannya terhadap diameter jari kelingking atau jari manis penderita (Moyse, 2017).

Panjang Pipa Endotrakeal

Penentuan panjang pipa endotrakeal merupakan masalah sulit, penggunaan pipa endotrakeal terlalu panjang akan meningkatkan ruang rugi dan kemungkinan pipa tertekuk, intubasi endobronkial atau ujung pipa menempel dikarina, sedangkan pipa yang terlalu pendek dapat mengakibatkan ekstubasi tidak sengaja atau tekanan kaf pada struktur laring.

Sistem Kaf

Sistem ini meliputi katup pengembang (inflating valve), rongga pengembang (inflating lumen) yang berada pada dinding pipa pengembang sebelah luar (external inflating tube), pilot balon dan kaf. Tujuan dari sistem kaf yaitu menyumbat rongga antara pipa endotrakeal dengan dinding mukosa trakea untuk

(30)

mencegah atau mengurangi kebocoran gas, cairan maupun benda–benda asing kedalam atau keluar trakea. Rancangan dari pada kaf ada bermacam – macam, tetapi pada dasarnya dibagi dalam 2 jenis, yaitu :

1. Kaf tekanan tinggi (high pressure cuff / small resting diameter cuff / low compliance high pressure cuff / low residual volume cuff / low volume cuff / small cuff / conventional cuff ). Dengan kaf tekanan tinggi, maka tekanan kaf dan tekanan dinding trakea akan naik sesuai dengan udara yang dimasukkan kedalam kaf. Oleh karena itu dianjurkan memakai pipa endotrakeal sebesar mungkin agar udara yang dimasukkan kedalam kaf lebih sedikit dan tekanan kaf maupun tekanan dinding tidak terlalu tinggi.

Diperlukan tekanan kaf yang tinggi untuk dapat menutup trakea, rata – rata 200 cmH2O. Sifat lain daripada kaf tekanan tinggi yaitu condong untuk menekan trakea sehingga trakea berubah bentuk. Tidak dapat disangsikan lagi bahwa penggunaan pipa endotrakeal dengan tekanan tinggi untuk jangka lama akan menimbulkan kerusakan pada trakea. Sering kali kaf mengembang eksentris sehingga tekanan trakea lebih tinggi dibandingkan dengan kaf tekanan rendah yaitu pada pemakaian jangka pendek.

2. Kaf tekanan rendah (low pressure cuff/large resting diameter cuff/large residual volume cuff/high volume cuff/large cuff/floppy cuff).

Penggunaannya tidak terbatas untuk intubasi lama tetapi juga utuk intubasi jangka pendek. Jenis ini biasanya disebut dengan tekanan rendah baku (standard low pressure). Keuntungan dari kaf tersebut yaitu tekanan kaf kira–kira sama dengan tekanan pada dinding trakea sehingga dengan pemantauan tekanan kaf maka tekanan dinding trakea dapat diatur sesuai dengan tekanan kaf. Beberapa masalah dari penggunaan pipa kaf jenis ini yaitu kekerapan nyeri tenggorok lebih tinggi, kecuali dipakai kaf dengan rancangan tertentu. Aspirasi lebih sering terjadi karena kaf tidak mengembang sempurna, untuk mencegah aspirasi maka tekanan kaf harus lebih besar daripada tekanan untuk sekedar menutup trakea terutama pada ventilasi dengan tekanan positif. Atas dasar tersebut dianjurkan pemakaian

(31)

pipa endotrakeal tekanan kaf rendah dengan ukuran tidak terlalu besar, karena kaf tidak akan mengembang sempurna. Tekanan dalam kaf harus diukur kira – kira 20 – 30 cmH2O.Tekanan kaf kurang dari 30 cmH2O pada dinding trakea adalah lebih rendah daripada tekanan perfusi kapiler. Hal ini dapat mengurangi terjadinya nyeri tenggorok, suara serak, ulkus, stenosis, trakeomalasia, fistel trakeoesofagus, akibat gangguan mikrosirkulasi mukosa trakea, tujuannya untuk mencegah kerusakan mukosa (Korb, 2010).

Loeser dkk menyatakan bahwa angka kekerapan nyeri tenggorok terendah pada pipa endotrakeal volume kecil, luas kontak kaf dengan mukosa trakea sempit, tekanan kaf tinggi dibandingkan dengan volume besar tekanan rendah. Loeser lalu mengadakan penelitian kembali dengan menggunakan pipa endotrakeal tekanan rendah, volume rendah, kaf kecil (22 mm), luas kontak mukosa trakea dengan kaf kecil ternyata dapat menurunkan angka kekerapan nyeri tenggorok sampai 10%

jauh lebih rendah dibandingkan pipa endotrakeal tekanan tinggi, volume kecil.

Jensen dkk menyatakan bahwa kaf yang terlalu besar akan mengakibatkan trauma pada laring waktu intubasi maupun saat ekstubasi (Latief, 2009).

2.5 Persiapan untuk Intubasi Endotrakeal

Persiapan untuk intubasi termasuk memeriksa perlengkapan dan posisi pasien. ETT harus diperiksa. Sistem inflasi kaf pipa dapat dites dengan menggembungkan balon dengan menggunakan spuit 10 ml. Pemeliharaan tekanan balon menjamin balon tidak mengalami kebocoran dan katup berfungsi. Beberapa dokter anestesi memotong ETT untuk mengurangi panjangnya dengan tujuan untuk mengurangi resiko dari intubasi bronkial atau sumbatan akibat dari pipa tertekuk.

Konektor harus ditekan sedalam mungkin untuk menurunkan kemungkinan terlepas, jika mandren digunakan ini harus dimasukan ke dalam ETT dan ini ditekuk menyerupai stik hoki. Bentuk ini untuk intubasi dengan posisi laring ke anterior.

Blade harus terkunci di atas gagang laringoskop dan bola lampu dicoba berfungsi atau tidak, dan mandren harus disediakan. Suction diperlukan untuk membersihkan

(32)

jalan nafas pada kasus dimana sekresi jalan nafas tidak diinginkan, darah, atau muntah (Nolan, 2007).

Keberhasilan intubasi tergantung dari posisi pasien yang benar. Kepala pasien harus sejajar atau lebih tinggi dengan pinggang dokter anestesi untuk mencegah ketegangan bagian belakang yang tidak perlu selama laringoskopi. Rigid laringoskop memindahkan jaringan lunak faring untuk membentuk garis langsung untuk melihat dari mulut ke glotis yang terbuka. Elevasi kepala sedang (sekitar 5- 10 cm diatas meja operasi) dan ekstensi dari atlantoocipital joint menempatkan pasien pada posisi sniffing yang diinginkan. Bagian bawah dari tulang leher adalah fleksi dengan menepatkan kepala diatas bantal.

Persiapan untuk induksi dan intubasi juga meliputi preoksigenasi rutin.

Preoksigenasi dengan beberapa kali nafas dalam dengan 100% oksigen memberikan ekstra margin of safety pada pasien yang tidak mudah diventilasi setelah induksi. Preoksigenasi dapat dihilangkan pada pasien yang mau di face mask, yang bebas dari penyakit paru, dan yang tidak memiliki jalan nafas yang sulit.

(Nolan, 2007)

2.6 Intubasi Endotrakeal

Laringoskop dipegang oleh tangan kiri. Dengan mulut pasien terbuka lebar, blade dimasukkan pada sisi kanan dari orofaring dengan hati-hati untuk menghindari gigi. Geserkan lidah ke kiri dan masuk menuju dasar dari faring dengan pinggir blade. Puncak dari lengkung blade biasanya di masukkan ke dalam vallecula, dan ujung blade lurus menutupi epiglotis. Handle diangkat dan jauh dari pasien secara tegak lurus dari mandibula pasien untuk melihat pita suara.

Terperangkapnya lidah antara gigi dan blade dan pengungkitan dari gigi harus dihindari. ETT diambil dengan tangan kanan, dan ujungnya dilewatkan melalui pita suara yang terbuka (abduksi). Balon ETT harus berada dalam trakea bagian atas tapi diluar laring. Laringoskop ditarik dengan hati- hati untuk menghindari kerusakan gigi. Balon dikembungkan dengan sedikit udara yang dibutuhkan untuk tidak adanya kebocoran selama ventilasi tekanan positif, untuk meminimalkan

(33)

tekanan yang ditransmisikan pada mukosa trakea. Merasakan pilot balon bukan metode yang dapat dipercaya untuk menentukan tekanan balon yang adekuat (Latief, 2009).

Setelah intubasi, dada dan epigastrium dengan segera diauskultasi untuk memastikan ETT ada di intratrakeal. Jika ada keragu-raguan tentang apakah pipa dalam esophagus atau trakhea, cabut lagi ETT dan ventilasi pasien dengan face mask. Sebaliknya, pipa diplester atau diikat untuk mengamankan posisi. Lokasi pipa yang tepat dapat dikonfirmasi dengan palpasi balon pada sternal notch sambil menekan pilot balon dengan tangan lainnya (Nolan, 2007).

2.7 Persyarafan dan vaskularisasi laring

Laring adalah suatu rangka kartilago yang diikat oleh ligamen dan otot.

Laring disusun oleh 9 kartilago: tiroid, krikoid, epiglotis, dan (sepasang) aritenoid, kornikulata dan kuneiform. Saraf sensoris dari saluran nafas atas berasal dari saraf kranial. Membran mukosa dari hidung bagian anterior dipersarafi oleh bagian optalmik, saraf trigeminus (saraf ethmoidalis anterior) dan di bagian posterior oleh bagian maxila (saraf sphenopalatina). Saraf palatinus mendapat serabut saraf sensori dari saraf trigeminus untuk mempersarafi permukaan superior dan inferior dari palatum molle dan palatum durum. Saraf lingual (cabang dari saraf bagian mandibula, saraf trigeminus) dan saraf glosofaringeal (saraf kranial yang ke 9) untuk sensasi umum pada dua pertiga bagian anterior dan sepertiga bagian posterior lidah.

Cabang dari saraf fasialis dan saraf glosofaringeal untuk sensasi rasa di daerah tersebut. Saraf glosofaringeal juga mempersarafi atap dari faring, tonsil dan bagian dalam palatum molle. Saraf vagus (saraf kranial ke 10) untuk sensasi jalan nafas dibawah epiglotis. Laring dipersarafi oleh cabang Nervus Vagus yaitu Nn.

Laringeus Superior dan Nn. Laringeus Inferior (Nn. Laringeus Rekuren) kiri dan kanan (Sherwood, 2012).

(34)

1. N. Laringeus Superior.

Meninggalkan Nervus Vagus tepat di bawah ganglion nodosum, melengkung ke depan dan medial di bawah arteri karotis interna dan eksterna yang kemudian akan bercabang dua, yaitu :

• Cabang Interna : bersifat sensoris, mempersarafi vallecula, epiglotis, sinus piriformis dan mukosa bagian dalam laring di atas pita suara sejati.

• Cabang Eksterna : bersifat motoris, mempersarafi m. Krikotiroid dan m.

Konstriktor inferior.

2. N. Laringeus Inferior (N. Laringeus Rekuren).

Berjalan dalam lekukan diantara trakea dan esofagus, mencapai laring tepat di belakang artikulasio krikotiroidea. Nervus laringeus yang kiri mempunyai perjalanan yang panjang dan dekat dengan Aorta sehingga mudah terganggu.

Merupakan cabang Nervus Vagus setinggi bagian proksimal arteri subklavia dan berjalan membelok ke atas sepanjang lekukan antara trakea dan esofagus, selanjutnya akan mencapai laring tepat di belakang artikulasio krikotiroidea dan memberikan persarafan :

• Sensoris, mempersarafi daerah sub glotis dan bagian atas trakea

• Motoris, mempersarafi semua otot laring kecuali m. Krikotiroidea Cabang vagus yang lainnya yaitu saraf laringeal rekuren, mempersarafi laring dibawah pita suara dan trakea. Nervus laringeal rekurens mempersarafi motorik dari semua otot-otot intrinsik dari laring kecuali otot krikotiroid.

Refleks laringeal dapat terstimuli di daerah laring atau supraglotis dan dapat menyebabkan tertutupnya pita suara sampai dengan terjadinya laringospasme.

Untuk memblok sensorik dari mukosa laring dibutuhkan blok daripada Nervus Laringeus Superior sampai dengan pita suara ditambah dengan blok pada Nervus Laringeal Rekurens atau dengan pemberian anestesi lokal dengan injeksi transtrakeal atau dengan spray pada mukosa di bawah pita suara. Blok motorik komplit untuk memfasilitasi intubasi dibutuhkan blok pada Nervus Laringeal Rekuren karena nervus ini mempersarafi fungsi motorik dari semua nervus intrinsik

(35)

dari laring kecuali untuk otot krikotiroid. Blok pada saraf ini dapat dilakukan dengan transtrakeal atau injeksi pada krikotiroid atau secara topikal dengan spray (Sherwood, 2012).

Gambar 2.3 Persyarafan laring

Laring mendapat perdarahan dari cabang A. Tiroidea Superior dan Inferior sebagai A. Laryngeal Superior dan Inferior.

Gambar 2.4 Vaskularisasi laring

Hyoid cartilage Thyroid cartilage Sup Thyroid arthery

Sup Thyroid vein

Inf Thyroid arthery Internal Jugular vein Common Carotid arthery

Cricothyroid membrane

Inf Thyroid vein

Brachiocephalic vein

(36)

1. Arteri Laringeus Superior Berjalan bersama ramus interna N. Laringeus Superior menembus membran tiroid menuju ke bawah diantara dinding lateral dan dasar sinus pyriformis.

2. Arteri Laringeus Inferior berjalan bersama N. Laringeus Inferior masuk ke dalam laring melalui area Killian Jamieson yaitu celah yang berada di bawah m. Konstriktor Faringeus Inferior, di dalam laring beranastomose dengan A. Laringeus Superior dan memperdarahi otot-otot dan mukosa laring (Sherwood, 2012).

2.8 Penilaian Nyeri Tenggorok

Nyeri merupakan suatu pengalaman dan tidak hanya sekedar hasil dari suatu indra saja. The International Assosiation for the Study of Pain (IASP) mendefinisikan nyeri sebagai pengalaman sensori dan emosional yang tidak menyenangkan yang diakibatkan oleh adanya kerusakan jaringan yang aktual maupun potensialnya. Hal ini menggambarkan hubungan objektif antara proses fisiologi nyeri dengan faktor subjektif yaitu emosi dan psikologi yang bersifat individual.Secara individual rasa nyeri ini sulit di nilai secara objektif, walaupun dokter telah melakukan observasi atau menggunakan alat monitor. Standar baku untuk mengetahui seseorang berada dalam kondisi nyeri atau tidak adalah dengan menanyakannya secara langsung.

Penilaian nyeri tenggorok dapat dilakukan dengan anamnesis secara langsung maupun tidak langsung, atau dari keluhan spontan penderita paska operasi. Penilaian dapat dilakukan dengan Visual Analogue Score (VAS). Skala yang pertama sekali dikemukakan oleh Keele pada tahun 1948 yang merupakan skala dengan garis lurus 10 cm, dimana awal garis (0) penanda tidak ada nyeri dan akhir garis (10) menandakan nyeri hebat. Pasien diminta untuk membuat tanda digaris tersebut untuk mengekspresikan nyeri yang dirasakan (Lee et al, 2016).

Dalam kajian pustakanya Coll dkk merekomendasikan VAS sebagai alat ukur nyeri paska operasi, bahkan untuk operasi rawat sehari (day surgery).

Rekomendasi ini dikeluarkan mengingat alat ini telah digunakan secara luas,

(37)

kualitasnya secara metodologis baik dan penggunaannya mudah, hanya menggunakan beberapa kata, sehingga kosakata tidak menjadi persoalan.

Williamson dkk juga melakukan kajian pustaka atas tiga skala ukur nyeri dan menarik kesimpulan bahwa VAS secara statistik paling kuat rasionya karena dapat menyajikan data dalam bentuk rasio.Nilai VAS antara 1 – 4 cm dianggap sebagai tingkat nyeri yang rendah dan digunakan sebagai target untuk tatalaksana analgesia. Nilai VAS > 4 dianggap nyeri sedang menuju berat sehingga pasien merasa tidak nyaman sehingga perlu diberikan obat analgesik penyelamat (rescue analgetic) (Wei, 2012).

Gambar 2.5 Visual Analogue Score

2.9 Etiologi Nyeri Tenggorok

Secara garis besar terdapat beberapa penyebab timbulnya nyeri tenggorok, yaitu :

1. Trauma pada mukosa

Tindakan laringoskopi, pemasangan pipa nasogastric atau suctioning yang bersifat traumatik yang bisa melukai mukosa faring-laring.

2. Iskemik pada mukosa

Tekanan intrakaf dan desain kaf mengurangi perfusi kapiler mukosa trakea sehingga menyebabkan iskemia pada mukosa trakea.

(38)

3. Mukosa dehidrasi

Pemakaian obat–obat golongan antikolinergik yang dapat mengurangi sekresi kelenjar sehingga mukosa tenggorok menjadi lebih kering.

Demikian pula pemakaian gas–gas anestesi perlu diperhatikan kelembabannya, karena gas yang kurang kelembabannya dapat mengakibatkan keringnya mukosa.

4. Inflamasi

Segala penyebab diatas dapat mengakibatkan inflamasi yang akhirnya dapat menimbulkan nyeri tenggorok.

2.10 Faktor Resiko Nyeri Tenggorok

Faktor yang mempengaruhi terjadinya nyeri tenggorok adalah : 1. Faktor dari pasien :

a. Jenis kelamin

Dari beberapa penelitian didapatkan insiden pada wanita lebih besar dari pada laki-laki. Hal ini disebabkan wanita memiliki mukosa yang lebih tipis sehingga lebih mudah mengalami edem. Selain itu juga kemungkinan wanita lebih sering diintubasi dengan pipa endotrakeal yang sedikit lebih besar.

b. Umur

Semakin bertambahnya umur kemungkinan timbulnya kelainan atau penurunan fungsi organ tubuh makin meningkat, seperti adanya diabetes mellitus atau penyakit vaskuler. Insiden nyeri tenggorok lebih sering ditemukan pada usia yang lebih tua (>60 tahun) daripada usia di bawahnya (18-60 tahun).

c. Pasien dengan penyakit kronis yang berat

Pada hal ini terjadi penurunan perfusi jaringan, sehingga intubasi pada pasien ini mudah sekali mengalami trauma jaringan, mudah terjadi nekrosis dan ulserasi jaringan.

(39)

d. Kebiasaan merokok

Merokok meningkatkan resiko terjadinya komplikasi jalan nafas pada pasien akibat operasi. Untuk pasien perokok berat perlu persiapan pra anestesi yang baik area komplikasi pada jalan nafas atas, dimana diketahui angka kekerapannya enam kali dibandingkan dengan yang tidak merokok.

e. Pasien dengan perkiraan kesulitan intubasi

Penatalaksaan jalan nafas menjadi lebih sulit sehingga lebih mudah terjadi cidera jalan nafas yang menyebabkan nyeri teggorok paska operasi.

2. Faktor anestesi

a. Besar ukuran peralatan airway

Penggunaan ETT yang lebih kecil secara terus menerus telah dibuktikan dapat menurunkan insiden nyeri tenggorok tanpa ada masalah pada ventilasi pada pasien. Penelitian mencatat pengunaan ETT 6,5 mm untuk wanita dan 7,0 mm ETT untuk laki – laki yang menghasilkan rata – rata nyeri tenggorok yang rendah dibandingkan dengan ukuran ETT yang lebih besar. Banyak penelitian yang menyimpulkan bahwa insiden tertinggi pada wanita dilaporkan mengalami nyeri tenggorok langsung dihubungkan dengan ketatnya ETT dibanding dengan laki – laki. Grup penelitian pertama menerima pilihan dalam ukuran ETT tidak sepenuhnya sesuai dengan anatomi pasien ( mereka menggunakan 8.0 mm untuk laki laki dan 7,5 mm untuk wanita dan menyarankan bahwa 7.0 mm ETT sebagai alternatif yang lebih baik untuk wanita). Kenyataannya, beberapa penelitian sepertinya mendukung ukuran ETT 7.0 mm untuk pasien wanita dan 7,5 mm untuk pria.

b. Tinginya tekanan kaf

Banyak bukti yang mendukung bahwa tekanan kaf ETT yang terbatas akan menurunkan insiden nyeri tenggorok. Bahkan kaf dengan volume

(40)

tinggi, tekanan rendah yang umumnya digunakan bila diberikan secara overinflasi dapat meningkatkan tekanan yang menyebabkan iskemia mukosa dan nyeri tenggorok. Beberapa penelitian menyarankan penggunaan manometri untuk monitor dan pemeliharaan tekanan intrakaf kurang dari 30 cmH2O, tetapi manometer kemungkinan tidak tersedia di semua institusi. Hal ini penting untuk menentukan inisial poin kaf seal setelah intubasi trakea dan untuk mengukur secara terus menerus dan menyesuaikan tekanan kaf minimum yang dibutuhkan untuk seal yang adekuat.

c. Pengunaan anestesi spray atau pelumas

Pemakain lidokain spray sangat berhubungan dengan terjadinya nyeri tenggorok. Lidokain spray yang mengandung ethanol dan menthol dan polyethilenglicol yang mengiritasi mukosa dan bisa menyebabkan nyeri tenggorok. Walaupun jeli anestesi lokal memiliki sifat lumbrikatif yang dapat mengurangi cidera trakea namun perannya dalam mencegah nyeri tenggorok paska operasi tidak konsisten bahkan tidak ada karena anestesi lokal tidak memiliki kemampuan sebagai anti inflamasi intrinsik.

d. Trauma

Trauma merupakan faktor paling sering menyebabkan nyeri tenggorok.

Ini dapat disebabkan oleh orang yang melakukan intubasi kurang berpengalaman atau terlalu kasar. Trauma dapat disebabkan oleh laringoskop, pipa endotrakeal, stilet, pipa orofaring, pipa nasofaring, pipa nasogastrik, tampon faring, penghisap lendir dan sebagainya (Wei, 2012).

3. Faktor pembedahan

Christensen melaporkan insiden nyeri tenggorok lebih besar setelah operasi tiroid disebabkan oleh pergerakan yang lebih besar dari pipa endotrakeal dalam trakea.

(41)

2.11 Komplikasi Intubasi Endotrakeal

Komplikasi tindakan intubasi endotrakeal ini dapat terjadi pada waktu intubasi, selama pemeliharaan anestesi atau paska anestesi. Dari penyelidikan patologi anatomi pada penderita yang meninggal sesudah pembedahan didapatkan hampir separuhnya menunjukkan berbagai tingkat perubahan morfologis yang disebabkan oleh intubasi. Secara makroskopis dan mikroskopis didapatkan pendarahan, peradangan, ulserasi, eksudasi dan pembentukan serta pemisahan pseudomembran. Tampaknya semua perubahan ini disebabkan oleh trauma. Oleh karena itu harus diingat pada setiap penderita dapat terjadi komplikasi ini walau dengan trauma ringan sekalipun. Komplikasi yang terjadi paska intubasi endotrakeal dapat berupa laringitis trakeitis, karena trauma oleh tekanan pipa endotrakeal yang berlebihan antara pipa terhadap laring yang kemudian berkembang menjadi laringitis.

Baron dan Khalmogh, dua orang ahli THT dari San Fransisco (california) pada tahun 1951 mendapatkan berbagai kemerahan di cartilago aritenoid pada sebagian besar penderita yang diintubasi yang menderita berbagai tingkat perubahan suara mulai afonia lengkap sampai berbagai derajat suara serak. Edema laring atau edem subglotis dapat timbul ½ sampai 1 jam paska intubasi akibat reaksi berlebihan pada mukosa laring yang diakibatkan oleh trauma sehingga dapat timbul penyempitan edem lumen laring yang akhirnya menjadi obstruksi jalan nafas.

Snow dari Boston University School of Medicine berpendapat edem laring ini berkembang akibat infeksi superimposed akut pada trauma laring yang disebabkan intubasi. Batuk paska intubasi, suara serak, stridor ekspirasi, adanya edema dapat berkembang menjadi obstruksi jalan nafas. Blanc dkk dari canada mengemukakan bahwa ulkus laring dapat terjadi di daerah processus vocalis arytenoid atau pada pita suara sesudah trauma. Ulkus ini dapat menjadi kronis akibat trauma yang berulang dan infeksi superimposed yang berkembang menjadi granuloma jika tidak diberikan pengobatan yang adekuat pada stadium dini.

Granuloma ini timbul dalam beberapa minggu sampai beberapa bulan. Gejala klinis granuloma ialah suara serak dan disfagia.

(42)

Stenosis trakea merupakan komplikasi yang gawat dan disebabkan intubasi yang lama. Gejala dimulai dengan batuk kering selanjutnya semakin berat sampai timbul gejala obstruksi jalan nafas.

2.12 Mekanisme Nyeri Tenggorok

Mekanisme terjadinya nyeri tenggorok paska intubasi masih belum jelas.

Nyeri tenggorok merupakan keluhan paling sering paska intubasi dengan pipa endotrakeal. Lesi yang terjadi yaitu abrasi fokal, perdarahan, ulkus, granuloma, laserasi laring biasanya jarang terjadi. Penyulit paling berat yaitu pseudomembran laryngotracheitis, bila tidak mendapatkan pertolongan dan pengobatan yang cepat biasanya dapat menimbulkan kematian mendadak. Ini tidak hanya merupakan akibat trauma tetapi justru akibat adanya infeksi saluran nafas atas yang tidak terditeksi sebelum anestesi.

Lesi paling ringan yaitu kerusakan epitel vocal dan vestibular folds, biasanya lebih sering terjadi pada perempuan dibandingkan laki – laki. Ini disebabkan karena epitel vestibular folds/ false cord pada perempuan lebih tipis kira – kira 85 um untuk vocal fold sedangkan laki – laki 95 um. Untuk vocal fold / true cord kira – kira 59 um dan 97 um dan subglotis sekitar 70 dan 80 um. Lesi laring paling sering terjadi di daerah posterior subglotis. Perdarahan dan reaksi radang dapat dideteksi 3 jam paska ekstubasi. Derajat trauma tergantung dari beberapa faktor yaitu ukuran, bentuk dan elastisitas pipa endotrakeal, lama intubasi, posisi kepala dan keahlian dari dokter spesialis anestesiologi yang melakukan intubasi.

(Vukmir, 2012)

2.12.1 Inflamasi

Inflamasi adalah sekumpulan perubahan yang terjadi dalam jaringan sebagai reaksi dari kerusakan jaringan. Pada awalnya semata–mata peristiwa lokal, dengan manifestasi nyeri, pembengkakan atau keduanya, dan menimbulkan rasa panas dan berdenyut pada bagian yang luka. Pada tempat inflamasi timbul kemerahan dan licin, meradang dan nyeri, bila disentuh sebagai hasil perubahan

(43)

pembuluh darah lokal dan limfatik. Jaringan dapat kembali normal atau menjadi jaringan parut.

Karakteristik inflamasi adalah: (1) Vasodilatasi pembuluh darah lokal dengan konsekuensi peningkatan aliran darah lokal. (2) Peningkatan permeabilitas kapiler disertai kebocoran sejumlah cairan menuju rongga interstisial. (3) Terjadi bekuan cairan dirongga intertisial disebabkan fibrinogen yang berlebihan dan kebocoran protein–protein lain dari kapiler. (4) Migrasi sejumlah besar granulosit dan monosit dalam jaringan dan (5) Pembengkakan sel sel jaringan.

Inflamasi umumnya dibagi dalam 3 fase: akut, respon imun, dan kronis (Thompson 2013, Wei 2012, Zwart, 2013).

1. Inflamasi akut adalah respon awal dari luka jaringan yang diperantarai oleh pelepasan autokoid (histamin, serotonin, bradikinin, prostaglandin, leukotrien) yang biasanya melalui respon imun.

2. Respon imun terjadi bila sel yang memiliki kemampuan imunologik diaktifasi untuk menimbulkan respon terhadap organisme asing atau zat antigenik yang dilepaskan selama respon inflamasi akut atau kronis.

3. Inflamasi kronis melibatkan pelepasan sejumlah mediator yang tidak menonjol pada respon akut seperti interleukin 1,2,3, granulosit macrophaq- colony stimulating factor (GM-CSF), tumor nekrosis factor alpha (TNF alpha), interferon, platelet derived growt factor (PDGF).

Pengobatan penderita inflamasi meliputi 2 sasaran utama:

menghilangkan rasa sakit dan perlambatan (mengistirahatkan proses kerusakan jaringan). Pengurangan inflamasi dengan obat–obat antiinflamasi sering mengakibatkan perbaikan rasa sakit selama periode yang bermakna.

2.12.2 Prostaglandin

Prostaglandin ada di jaringan dan cairan tubuh, dan memiliki efek yang bermacam – macam terhadap pembuluh darah, ujung saraf ( nerve ending ) dan terhadap sel yang terlibat dalam infamasi. Pada vaskular otot polos arteriol manusia direlaksasi oleh PGE2 dan PGI2. Prostaglandin ini memudahkan vasodilatasi

(44)

dengan mengaktifkan adenilsiklase. Pada jalan nafas, otot polos pernafasan direlaksasi oleh PGF1, PGE2 dan PGI2 serta dikontraksi oleh TXA2 dan PGF alfa.

Pada kondisi demam, PGE1 dan PGE2 meningkatkan suhu tubuh. Pirogen melepaskan interleukin 1 yang memacu sintesis dan pelepasan PGF 2. Senyawa PGE2 menghambat pelepasan norepinefrin dari ujung ujung saraf simpatis, kemudian obat–obat antiinflamasi non steroid meningkatkan pelepasan norepinefrin. Vasokonstriksi yang terjadi setelah pengobatan dengan penghambat siklooksigenase disebabkan peningkatan dari norepinefrine serta hambatan terhadap sintesis vasodilator endotel (PGE2 dan PGI2) (Wei, 2012).

Respon mekanisme seluler untuk membentuk prostaglandin ada di semua organ dari tubuh. Prostaglandin dan tromboksan dibentuk oleh jalur siklooksigenase serta leukotrien dan asam hidroperoksieikosatetraenoat dihasilkan melalui jalur lipooksigenase. Reaksi siklooksigenase dihambat oleh obat-obat antiinflamasi non steroid, terdapat 2 siklooksigenase (COX 1 dan COX 2). Benzydamine HCl menghambat pembentukan prostaglandin E2. F2, D2 dan produk NMDA non prostaglandin.

2.13 Pencegahan Nyeri Tengorok

Pencegahan terhadap terjadinya nyeri tenggorok paska operasi merupakan langkah yang sudah seharusnya dipertimbangkan sebelum kita melakukan intubasi.

Hal ini penting karena akan menurunkan angka kekerapan nyeri tenggorok paska intubasi sehingga pasien akan merasa lebih nyaman. Langkah yang harus dipertimbangkan adalah :

1. Pemakaian obat premedikasi golongan antikolinergik sebaiknya dihindari, karena obat–obat tersebut dapat mengakibatkan berkurangnya sekresi kelenjar sehingga mukosa tenggorok menjadi lebih kering. Demikian pula pemakaian gas anestesi perlu diperhatikan kelembabannya karena gas yang kurang lembab dapat mengakibatkan keringnya mukosa.

2. Pemakaian pelumpuh otot seperti golongan suksametonium, walaupun sampai saat ini masih kontroversial perlu juga diperhatikan. Ada yang

(45)

mengatakan bahwa nyeri tenggorok dapat terjadi pada penggunaan obat tersebut sedang peneliti lain mengatakan tidak ada perbedan angka kekerapan nyeri tenggorok pada pemakaian suksametonium dan pankuronium.

3. Demikian pula mengenai pemakaian lumbrikan/ jeli maupun semprot dengan tujuan untuk mengurangi trauma saat intubasi. Beberapa peneliti menganjurkan sebaiknya dihindari pemakaian lumbrikasi /jeli maupun semprot yang mengandung lidokain karena zat tersebut dapat mengiritasi mukosa tenggorok. Christine menganjurkan untuk mengurangi kekerapan nyeri tenggorok sebaiknya tidak digunakan lumbrikan.

Trauma yang terjadi saat intubasi, selama pipa endotrakeal terpasang maupun waktu ekstubasi sebaiknya dihindarkan, karena faktor ini akan menambah kekerapan nyeri tenggorok. Perlu diperhatikan pemakaian alat alat untuk intubasi, dan sebagainya. Laringoskop yang terlalu besar dapat mengakibatkan trauma di daerah orofaring. Stilet yang tidak sesuai dengan panjang pipa endotrakeal sehingga ujung stilet terlalu menonjol keluar juga mengakibatkan trauma pada mukosa.

Intubasi setelah relaksasi penuh, suctioning orofaring dengan hati–hati, meminimalkan tekanan intrakaf dan ekstubasi apabila kaf pipa endotrakeal telah benar–benar kempis. Penggunaan orofaring/ nasofaring, pipa nasogastrik, tampon nasofaring dapat merangsang mukosa orofaring. Ukuran pipa endotrakeal, tekanan dan volume kaf juga harus diperhatikan karena memegang peranan penting terjadinya nyeri tenggorok (Ahmed, 2007).

2.14 Deksametsason

Deksametason adalah obat golongan steroid yang mekanisme kerjanya berhubungan dengan mencegah pembentukan prostaglandin dan merangsang pelepasan endorfin, yang mempengaruhi mood dan tingkat ketenangan.

(46)

Gambar 2.6 Struktur kimia Deksametason

Sifat Fisikokimia

Rumus molekul : C22H29FO5 Berat molekul : 392,47

Nama kimia : 9-Fluoro-11β,17,21-trihidroksil-16α-metilpregna-1,4-diena- 3,20-dion.

Pemberian : Serbuk hablur, putih sampai praktis putih, tidak berbau, stabil diudara. Melebur pada suhu lebih kurang 250º disertai peruraian.

Kelarutan : Praktis tidak larut dalam air, agak sukar larut dalam aseton, dalam etanol, dalam dioksan dan dalam methanol; sukar larut dalam kloroform ; sangat sukar larut dalam eter.

Deksametason adalah steroid poten sintetis dan merupakan salah satu dari kelas glukokortikoid. Obat ini bersifat anti inflammatori dan immunosupresan.

Ketika dimakan secara oral, maka obat ini berifat 26,6 kali lebih poten dibandingkan hormone kortisol yang alami dan 6,6 kali lebih poten dibandingkan prednisone. Deksametason adalah obat golongan steroid yang mekanisme kerjanya berhubungan dengan mencegah pembentukan prostaglandin dan merangsang pelepasan endorfin, yang mempengaruhi mood dan tingkat ketenangan (Thomas, 2007).

Gambar

Tabel 2.1 Efek glukokortikoid terhadap berbagai sistem .....................   32    Tabel 2.2 Interaksi kortikosteroid dengan obat-obat lain ...................
Gambar 2.1 Skema Tingkat Kesadaran
Gambar 2.2 Pipa endotrakeal Murphy
Gambar 2.4 Vaskularisasi laring
+7

Referensi

Dokumen terkait