BAB I PENDAHULUAN
1.4 Manfaat Penelitian
Sesuai dengan tujuan penelitian di atas, maka penelitian ini diharapkan dapat
bermanfaat baik secara langsung maupun tidak langsung bagi sivitas akademika dalam
pengembangan keilmuan (aspek teoritis) maupun bagi pemangku kebijakan (aspek praktis)
yang ditujukan untuk penerimaan dan kontribusi Pajak Kendaraan Bermotor di Kota
Pematang Siantar khususnya UPT PPD Pematang Siantar.
1. Manfaat Akademis
Hasil penelitian ini diharapkan mampu memberi kontribusi bagi perkembangan ilmu Studi Pembangunan, secara lebih spesifik dalam konteks kebijakan pendapatan daerah yang sesuai dengan kewenangan daerah kabupaten/kota dan provinsi. Selain itu hasil penelitian ini juga diharapkan dapat memberi tambahan informasi serta wawasan bagi dunia pendidikan di perguruan tinggi untuk pengembangan lebih lanjut tentang teori dan praktek penerimaan dan kontribusi Pajak Kendaraan Bermotor. Penelitian ini juga kiranya dapat menjadi bahan referensi dan masukan yang bermanfaat bagi penelitian sejenis, terutama yang berkaitan dengan penerimaan pajak kendaraan bermotor.
2. Manfaat Praktis
Hasil penelitian ini diharapkan dapat menjadi informasi bagi pemerintah daerah khususnya, sebagai pelaksana kebijakan pemungutan pajak didaerah dalam membangun berbagai sektor umum bagi masyarakat di Kota Pematang Siantar dan dapat dijadikan bahan rekomendasi dan referensi bagi pemerhati kebijakan perpajakan. Diharapkan hasil penelitian ini dapat dijadikan sebagai referensi dalam membuat kebijakan penerimaan pajak kendaraan bermotor di Kota Pematang Siantar, khususnya pemerintah Provinsi Sumatera Utara.
7
2.1. Unsur-Unsur Implementasi Kebijakan PublikUnsur-unsur implementasi kebijakan yang mutlak harus ada ialah: “(1) unsur pelaksana (implementor), (2) adanya program yang akan dilaksanakan, (3) target groups (Abdullah,1988 : 11). Dua perspektif awal dalam studi implementasi didasarkan pada pertanyaan sejauh mana implementasi terpisah dari formulasi kebijakan, yakni apakah suatu kebijakan dibuat oleh pusat dan diimplementasikan oleh daerah (top-down) atau kebijakan tersebut dibuat dengan melibatkan aspirasi dari bawah termasuk yang akan menjadi para pelaksananya (bottom-up).
Padahal persoalan ini hanya merupakan bagian dari permasalahan yang lebih luas, yakni bagaimana mengidentifikasikan gambaran-gambaran dari suatu proses yang sangat kompleks, dari berbagai ruang dan waktu, serta beragam aktor yang terlibat di dalamnya. Penjelasan tentang pendekatan top down awalnya adalah pendekatan yang paling banyak digunakan oleh pembuat kebijakan publik, walaupun dikemudian hari terdapat pula kelemahan-kelemahan dalam pendekatan ini sehingga menimbulkan perdebatan-perdebatan yang menghasilkan pendekatan baru bernama bottom up approach. Dalam pendekatan top down, implementasi kebijakan dilakukan secara tersentralisasi dan dimulai dari aktor di tingkat pusat, serta keputusannya pun dilakukan pada tingkat pusat. Pendekatan ini bertitik tolak pula dari perspektif bahwa keputusan-keputusan politik (kebijakan publik) yang telah ditetapkan oleh pembuat kebijakan harus dilaksanakan oleh administrator-administrator atau birokrat-birokrat pada level dibawahnya. Inti pendekatan ini secara sederhana dapat dimengerti sebagai sejauh mana tindakan para pelaksana (admnistrator dan birokrat) sesuai dengan prosedur serta tujuan yang telah digariskan oleh para pembuat kebijakan ditingkat pusat. Maka untuk memahami pendekatan yang kedua yaitu bottom up, pada intinya bertitik tolak pada asumsi-asumsi yang sama dan memahaminya adalah secara terbalik dari apa yang kita pahami pada pendekatan top down. Dalam studi implementasi pretensi untuk
mengembangkan suatu teori implementasi yang bersifat umum (grand theory) yang dapat berlaku untuk semua kasus, di semua tempat dan waktu, hampir mustahil dicapai, karena yang dikembangkan tak lebih hanya akan menjadi teori “tindakan” atau teori “melaksanakan” bukan teori Implementasi Kebijakan.
Secara umum yang membuat perbedaan pendekatan dalam teori implementasi ini berkaitan dengan :
1. Keragaman isu – isu kebijakan, atau jenis kebijakan. Isu atau jenis kebijakan yang berbeda menghendaki perbedaan pendekatan pula, karena ada jenis kebijakan yang sejak awal diformulasikan sudah rumit karena melibatkan banyak faktor dan banyak aktor, dan ada pula yang relatif mudah. Kebijakan yang cakupannya luas dan menghendaki perubahan yang relatif besar tentu cara implementasi dan tingkat kesulitannya akan berbeda dengan kebijakan yang lebih sederhana.
2. Keragaman konteks kelembagaan, yang bisa meluas menyangkut pertanyaan sejauh mana generalisasi dapat diterapkan pada sistem politik dan konteks negara yang berbeda.
Kebijakan yang sama dapat diimplementasikan dengan cara yang berbeda bergantung pada sistem politik serta kemampuan sistem administrasi negara yang bersangkutan.
Edward III mengajukan pendekatan masalah implementasi dengan terlebih dahulu mengemukakan dua pertanyaan pokok, yakni : (i) faktor apa yang mendukung keberhasilan implementasi kebijakan? dan (ii) faktor apa yang menghambat keberhasilan implementasi kebijakan? Berdasarkan kedua pertanyaan tersebut dirumuskan empat faktor yang merupakan syarat utama keberhasilan proses implementasi, yakni komunikasi, sumber daya, sikap birokrasi atau pelaksana dan struktur organisasi, termasuk tata aliran kerja birokrasi. Empat faktor tersebut menjadi kriteria penting dalam implementasi suatu kebijakan.
Gambar 1. Faktor Penentu Keberhasilan Implementasi Kebijakan
Ditegaskan oleh Edward III bahwa masalah utama dari administrasi publik adalah “lack attention to implementation bahwa without effective implementation the decision of policymakers will not be carried out successfully”. Komunikasi berkenaan dengan bagaimana kebijakan dikomunikasikan kepada organisasi dan/atau publik, ketersediaan sumber daya untuk melaksanakan kebijakan, sikap, dan tanggapan dari para pihak yang terlibat dan bagaimana struktur organisasi pelaksanaan kebijakan.
1) Komunikasi, keberhasilan kebijakan mensyaratkan agar implementor mengetahui apa yang harus dilakukan. Apa yang menjadi tujuan dan sasaran kebijakan (target group) sehingga akan mengurangi distorsi implementasi. Apabila tujuan dan sasaran suatu kebijakan tidak jelas atau bahkan tidak diketahui sama sekali oleh kelompok sasaran, maka kemungkinan akan terjadi resistensi dari kelompok sasaran.
2) Sumber daya, walaupun isi kebijakan sudah dikomunikasikan secara jelas dan konsistensi, tetapi apabila implementor kekurangan sumber daya untuk melaksanakan, implementasi tidak akan berjalan efektif. Sumber daya tersebut dapat berwujud sumber daya manusia, yakni kompetisi implementor, dan sumber daya financial. Sumber daya adalah faktor
penting untuk implementasi kebijakan agar efektif. Tanpa sumber daya, kebijakan hanya tinggal di kertas menjadi dokumen saja.
3) Disposisi, adalah watak dan karakteristik atau sikap yang dimiliki oleh implementor seperti komitmen, kejujuran, sifat demokratis. Apabila implementor memiliki disposisi yang baik, maka dia akan dapat menjalankan kebijakan dengan baik seperti apa yang diinginkan oleh pembuat kebijakan. Ketika implementor memiliki sifat atau perspektif yang berbeda dengan pembuat kebijakan, maka proses implementasi kebijakan juga menjadi tidak efektif.
4) Struktur birokrasi yang bertugas mengimplementasikan kebijakan memiliki pengaruh yang signifikan terhadap implementasi kebijakan. Salah satu dari aspek struktur yang penting dari setiap organisasi adalah adanya prosedur operasi yang standar (standard operating procedures) atau SOP. SOP menjadi pedoman bagi setiap implementor dalam bertindak.
Struktur organisasi yang terlalu panjang akan cenderung melemahkan pengawasan dan menimbulkan red tape, yakni prosedur birokrasi yang rumit dan kompleks. Ini pada gilirannya menyebabkan aktivitas organisasi tidak fleksibel.
Dijelaskan oleh Edward III secara singkat bahwa pedoman yang tidak akurat, jelas atau konsisten akan memberikan kesempatan kepada Implementors membuat diskresi. Diskresi ini bisa langsung dilaksanakan atau dengan jalan membuat petunjuk lebih lanjut yang ditujukan kepada pelaksana tingkat bawahnya. Jika komunikasi tidak baik maka diskresi ini akan memunculkan disposisi. Namun Komunikasi yang terlampau detail akan mempengaruhi moral dan independensi implementor, bergesernya tujuan dan terjadinya pemborosan sumber daya seperti keterampilan, kreatifitas, dan kemampuan adaptasi. Sumber daya saling berkaitan dengan komunikasi dan mempengaruhi disposisi dalam implementasi. Demikian juga disposisi dari implementor akan
mempengaruhi bagaimana mereka menginterpertasikan komunikasi kebijakan baik dalam menerima maupun dalam mengelaborasi lebih lanjut ke bawah rantai komando.
Pada tahun 1975, model pendekatan implementasi kebijakan yang dirumuskan oleh Van Meter dan Van Horn yang disebut dengan A Model of the Policy Implementation. Proses implementasi ini merupakan sebuah abstraksi atau performa suatu pengejawantahan paham kebijakan yang pada dasarnya secara sengaja dilakukan untuk meraih kinerja implementasi kebijakan yang tinggi yang berlangsung dalam hubungan berbagai variabel. Model ini mengandaikan bahwa implementasi kebijakan berjalan secara linier dari keputusan politik, pelaksana bahwa kinerja kebijakan dipengaruhi oleh beberapa variabel – variabel. (Agustino,2012).
Antara lain :
a. Ukuran dan Tujuan kebijakan
Kinerja implementasi kebijakan dapat diukur tingkat keberhasilannya jika ukuran dan tujuan dari kebijakan sesuai dengan sosio-kultur yang berada di level pelaksana kebijakan. Ketika ukuran kebijakan atau tujuan kebijakan terlalu baku untuk dilaksanakan di level warga, maka cukup sulit merealisasikan kebijakan.
b. Sumber Daya
Keberhasilan proses implementasi kebijakan sangat tergantung dari kemampuan memanfaatkan sumberdaya yang tersedia. Implementasi menuntut adanya sumberdaya manusia yang berkualitas sesuai dengan pekerjaan yang diisyaratkan oleh kebijakan melalui kompetensi dan kapabilitas yang dimiliki.
c. Karakteristik Agen Pelaksana
Pusat perhatian pada agen pelaksana meliputi organisasi formal dan organisasi informal yang akan terlibat pengimplementasian kebijakan publik. Hal ini sangat penting karena kinerja
implementasi kebijakan akan sangat banyak dipengaruhi oleh ciri-ciri yang sangat tepat serta cocok dengan para agen pelaksanaannya.
d. Sikap/Kecendrungan (Disposition) para pelaksana
Sikap penerimaan atau penolakan dari pelaksana akan sangat banyak mempengaruhi keberhasilan atau tidaknya kinerja implementasi kebijakan publik. Hal ini sangat mungkin terjadi oleh karena kebijakan yang dilaksanakan bukanlah hasil formulasi warga setempat yang mengenal betul persoalan dan permasalahan yang mereka rasakan.
e. Komunikasi Antarorganisasi dan Aktivitas Pelaksana
Koordinasi merupakan mekanisme yang ampuh dalam implementasi kebijakan publik.
Semakin baik koordinasi komunikasi antara pihak pihak yang terlibat dalam suatu proses implementasi, maka asumsinya kesalahan-kesalahan akan sangat kecil untuk terjadi, begitu pula sebaliknya.
f. Lingkungan Ekonomi, Sosial, dan Politik
Lingkungan eksternal turut mendorong keberhasilan kebijakan publik yang telah ditetapkan.
Lingkungan sosial, ekonomi dan politik yang tidak kondusif dapat menjadi biang keladi kegagalan kinerja implementasi kebijakan.
2.1.1. Kendala/Hambatan Implementasi Kebijakan
Implementasi kebijakan bukanlah proses yang sederhana, tetapi sangat kompleks dan rumit serta merupakan proses yang berlangsung dinamis, yang hasil akhirnya tidak bisa diperkirakan hanya dari ketersediaan kelengkapan program. Tugas implementasi kebijakan sudah selayaknya diperhitungkan. Kadang dalam praktik proses kebijakan publik, ada anggapan bahwa implementasi akan bisa berjalan secara otomatis setelah formulasi kebijakan berhasil dilakukan. Nugroho (2008:
484) menyatakan implementation myopia yang sering terjadi di Indonesia salah satunya adalah
“Selama ini kita anggap kalau kebijakan sudah dibuat, implementasi akan “jalan dengan
sendirinya”. Dimana sumber daya sebagian besar dihabiskan untuk membuat perencanaan padahal justru tahap implementasi kebijakan yang seharusnya memakan sumber daya paling besar, bukan sebaliknya.
Implementasi berfungsi menetapkan suatu kaitan yang memungkinkan tujuan–tujuan kebijakan terwujud, sehingga menjadi apa yang disebut sebagai hasil kerja atau prestasi pemerintah. Namun pada prakteknya yang terjadi adalah kegagalan dalam implementasi karena meskipun telah diperhitungkan dengan matang, bukan berarti proses implementasi pasti akan berhasil.
Masalah seringkali justru timbul karena kenyataan di lapangan tidak sesuai dengan yang diperkirakan. Walter William menyebutkan kesulitan implementasi sebagai berikut :“The most pressing implementation problem is that of moving from a decision to operation in such way that what it is put into place bears a reasonable resemblance to the decision and is fuctioning well in its that of the difficulty of bringing the gap between policy decision and workable field operations”
(Jones:139). Menafsirkan keputusan menjadi tindakan operasional yang tepat tidaklah semudah yang dibayangkan. Apakah nantinya akan berfungsi dengan baik atau tidak. Hal ini menjadi salah satu kesulitan dalam proses pelaksanaan kebijakan.
Sasaran–sasaran program harus mengalami perbaikan maupun perubahan saat program sedang dilaksanakan, yang disebabkan munculnya kesulitan untuk menjembatani antara tujuan kebijakan dengan tindakan-tindakan operasional yang dapat dijalankan, (yang disebut oleh Andrew Dunsire sebagai implementation gap, yaitu suatu keadaan dimana muncul perbedaan yang tidak diharapkan oleh pembuat kebijakan dengan hasil implementasinya). Juga disebabkan keadaan lingkungan yang berbeda dari yang dibayangkan oleh pembuat keputusan atau ada perubahan lingkungan setelah kebijakan dibuat dan diluar dari prediksi pembuat kebijakan.
Tinggi rendahnya implementation gap ini menurut Goggin sangat dipengaruhi oleh implementation capacity dari organisasi/pihak yang akan melaksanakannya, namun banyak hal lain yang dapat menjadi penyebab gap tersebut. “Implementation capacity” adalah kemauan suatu organisasi atau aktor untuk melaksanakan keputusan kebijakan (policy decision) sedemikian rupa sehingga ada jaminan bahwa tujuan atau sasaran yang telah ditetapkan dalam dokumen formal kebijakan dapat dicapai. (dalam Wahab, 1997:61)
Kebijakan – kebijakan yang melibatkan implementor lapangan (street-level bureaucrat) yang biasanya terdiri dari para professional (seperti guru, dokter puskesmas) dan penyuluh pertanian justru seringkali harus berpikir keras agar tujuan kebijakan dapat dicapai walau tidak sesuai dengan prosedur yang dibuat. Mengabaikan peran para implementor dalam kebijakan publik merupakan sikap yang naif, karena keberhasilan atau kegagalan sebuah kebijakan publik tidaklah semata–mata hanya bergantung pada peran implementor.
Menurut Hogwood dan Gunn, kegagalan kebijakan (policy failure) dapat disebabkan antara lain:
1. Karena tidak dilaksanakan atau dilaksanakan tidak sebagaimana mestinya (Non implementation). Non implementation mengandung arti bahwa suatu kebijakan tidak dilaksanakan sesuai dengan rencana, kemungkinan disebabkan pihak-pihak yang terlibat dalam pelaksanaannya tidak mau bekerjasama, atau mereka telah bekerja dengan tidak efisien, bekerja setengah hati, mereka tidak sepenuhnya menguasai permasalahan, atau kemungkinan permasalahan yang digarap diluar jangkauan kekuasaannya, sehingga betapapun gigih usaha mereka, hambatan-hambatan yang ada tidak sanggup mereka tanggulangi. Akibatnya, implementasi yang efektif sulit untuk dicapai.
2. Karena tidak berhasil atau mengalami kegagalan dalam proses pelaksanaan (unsuccessful implementation). Sementara itu, unsuccessful implementation biasanya terjadi ketika suatu
kebijakan tertentu telah dilaksanakan sesuai dengan rencana, namun mengingat kondisi eksternal ternyata tidak mengunntungkan (misalnya tiba-tiba terjadi pergantian kekuasaan, bencana alam, dan sebagainya), kebijakan tersebut tidak berhasil dalam mewujudkan dampak atau hasil akhir yang dikehendaki. Biasanya kebijakan yang mempunyai resiko untuk gagal tersebut disebabkan oleh pelaksanaannya jelek (bad execution) kebijakan itu sendiri yang jelek (bad policy), atau kebijakan tersebut memang bernasib jelek (bad luck).
(Sumaryadi, 2005:85)
Rochyati (2012) ,memberikan penjelasan secara umum kegagalan dalam suatu proses implementasi (Unimplemented Policy & Poorly Implemented Policy) dapat disebabkan oleh :
1. Unimplemented Policy:
a. Kebijakan hanya bersifat politis dan tidak benar-benar dimaksudkan untuk dilaksanakan (karenanya tidak disertai aturan pelaksanaan, bahkan tidak menunjuk lembaga yang bertanggung jawab untuk mengimplementasikannya). Kebijakan seperti ini umumnya hanya untuk mengakomodir tuntutan-tuntutan kelompok kepentingan yang bersifat oposisi.
b. Kesulitan menafsirkan kebijakan dalam bentuk-bentuk kegiatan operasional, baik tujuan kebijakan yang terlalu utopis, tidak sesuai dengan keadaan lapangan, ataupun karena kendala-kendala di lapangan yang membatasi alternatif tindakan.
2. Poorly Implemented Policy
Lemahnya kapasitas implementasi (implementation capacity) dari pelaksananya. Hal ini dapat terjadi karena:
a. Struktur implementasi tidak disusun secara efektif
b. Benturan penafsiran atas tujuan program antar aktor, baik administrator, petugas lapangan, maupun kelompok sasaran
c. Benturan kepentingan antar aktor baik administrator, petugas lapangan, maupun kelompok sasaran
d. Kurangnya kapasitas dan kapabilitas pelaksana (sumber daya manusia yang dibutuhkan tidak tepat/sesuai)
e. Kurangnya kapasitas dan kapabilitas organisasional dari institusi-institusi pelaksana
f. Lemahnya manajemen implementasi
g. Kurangnya risorsis (sumber daya seperti anggaran, alat). (Rochyati, 2012)
Dari uraian mengenai faktor-faktor yang dapat menjadi kendala dalam proses implementasi, dapat disimpulkan bahwa keberhasilan implementasi (Rochyati, 2012) akan sangat bergantung pada:
1. Logika kebijakan itu sendiri
2. Kemampuan pelaksana
3. Ketersediaan sumber daya yang dibutuhkan
4. Manajemen implementasi yang baik
5. Lingkungan dimana kebijakan tersebut dilaksanakan
Nugroho (2014:251) juga menjelaskan penyebab tahap implementasi kebijakan tidak bisa dilaksanakan, terutama di Negara-negara berkembang, yakni disebabkan perumusan kebijakan mengalami kegagalan. Nugroho (2014:251) menjelaskannya sebagai berikut :
1. Kegagalan manajemen atau undermanage, hal ini karena setelah kebijakan berhasil dirumuskan tetapi tidak mampu untuk di implementasikan.
2. Kegagalan administratif, ini terjadi karena biaya implementasi kebijakan mahal atau harus mengeluarkan dana yang besar.
3. Kegagalan desain, impelementasi berhasil dilakukan tetapi hasilnya tidak seperti desain yang dibuat sebelumnya.
4. Kegagalan teori, Patton dan Sawicky (1993) kebijakan berhasil dirumuskan, berhasil pada tahap implementasi dan desainnya juga berhasil namun tidak berhasil memenuhi kearifan kebijakan yang di harapkan (dalam Riant Nugroho, 2014:252).
5. Kegagalan yang keluar jalur (Riant Nugroho menyebutnya kegagalan yang keluar rel), hal ini disebabkan implementasinya dilakukan oleh administrasi lain atau karena diambil alih oleh kepentingan politik lain.
Munculnya kendala atau hambatan dalam implementasi kebijakan, membuat para ahli menciptakan model-model kebijakan untuk mengurai variabel-variabel dari implementasi kebijakan sesuai dengan kompleksitas masalah yang dimiliki.
2.2. Pengertian Pajak
Pengertian pajak sendiri memiliki dimensi yang berbeda-beda. Menurut Mangkoesoebroto (1998), pajak adalah suatu pungutan yang merupakan hak preogratif pemerintah, pungutan tersebut didasarkan pada undang-undang, pemungutannya dapat dipaksakan kepada subyek pajak untuk mana tidak ada balas jasa yang langsung dapat ditunjukkan penggunaannya. Dari definisi tersebut,
dapat disimpulkan bahwa yang berhak memungut pajak adalah negara (pemerintah). Pajak dipungut berdasarkan undang – undang dan aturan pelaksanaannya yang dapat dipaksakan kepada subyek pajak. Dalam pembayaran pajak tidak dapat ditunjukkan adanya kontra prestasi individual dari pemerintah. Sedangkan menurut Rochmat Soemitro dalam bukunya Dasar – Dasar Hukum Pajak dan Pajak Pendapatan, mendefinisikan pajak sebagai iuran rakyat kepada kas negara berdasarkan undang – undang dengan tidak mendapat jasa – jasa timbal yang langsung dapat dirasakan dan digunakan untuk membayar pengeluaran umum.
P. J. A. Adriani mengemukakan bahwa pajak adalah iuran masyarakat kepada negara (yang dapat dipaksakan) yang terutang oleh yang wajib membayarnya menurut peraturan-peraturan umum (Undang – Undang) dengan tidak mendapat prestasi kembali yang langsung dapat ditunjuk dan yang gunanya adalah untuk membiayai pengeluaran-pengeluaran umum berhubung tugas negara untuk menyelenggarakan pemerintahan. Sedangkan menurut ahli ekonomi N.J Fieldmann dalam bukunya yang berjudul De overheidsmiddelen van Indonesia (1949) memberikan batasan bahwa pajak adalah prestasi yang dipaksakan sepihak dan terutang kepada penguasa (menurut norma – norma yang ditetapkannya secara umum), tanpa adanya kontra – prestasi, dan semata – mata digunakan untuk menutup pengeluaran – pengeluaran umum.
Pajak adalah suatu kewajiban menyerahkan sebagian kekayaan ke kas negara disebabkan suatu keadaan, kejadian dan perbuatan yang memberikan kedudukan tertentu, tetapi bukan sebagai hukuman, menurut peraturan yang ditetapkan pemerintah serta dapat dipaksakan dan memiliki sanksi tetapi tidak ada jasa timbal balik dari negara secara langsung, pajak diperlukan untuk memelihara kesejahteraan umum. Pajak sebagai satu perwujudan kewajiban kenegaraan, ditegaskan bahwa penempatan beban kepada rakyat seperti pajak, retribusi dan lain – lain, harus ditetapkan dengan Undang – Undang. Pendapatan Asli Daerah (PAD) yang antara lain berupa Pajak Daerah dan Retribusi Daerah, menjadi salah satu sumber pembiayaan dalam penyelenggaraan pemerintahan dan pembangunan daerah dalam rangka meningkatkan dan
memeratakan kesejahteraan masyarakat. Dengan demikian daerah mampu melaksanakan otonomi, yaitu mampu mengatur dan mengurus rumah tangganya sendiri.
Adapun pajak ditinjau dari berbagai aspek antara lain dari aspek ekonomi adalah penerimaan negara yang di gunakan untuk mengarahkan kehidupan bermasyarakat yang sejahtera.
Dari sudut pandang hukum sudah jelas bahwa memang hukum dan pajak itu saling behubungan, hukum pajak di Indonesia mempunyai hirarki yang jelas dengan urutan yaitu Undang-Undang Dasar 1945, Undang- Undang, Peraturan Pemerintah, Keputusan Presiden dan sebagainya. Dari aspek keuangan pajak hanya menitik beratkan pada aspek keuangan karena merupakan bagian yang sangat penting mengingat dewasa ini keuangan negara tidak lagi semata- mata berasal dari penerimaan negara berupa minyak dan gas bumi, akan tetapi lebih berupa untuk menjadikan pajak sebagai primadona penerimaan negara. Sedangkan dari aspek sosiologi pajak ditinjau dari segi masyarakat yaitu menyangkut sesuatu dampak terhadap masyarakat atas pemungutan dan hasil apakah yang disampaikan kepada masyarakat.
Dari berbagai definisi tersebut di atas dapat disimpulkan bahwa pajak setidaknya mengandung beberapa unsur antara lain yaitu iuran/ kontribusi rakyat kepada negara dimana pihak lain atau pihak swasta tidak berhak memungut, berdasarkan undang-undang (yang dapat dipaksakan) dan mempunyai kekuatan hukum, tanpa kontraprestasi atau dalam kata lain tanpa balas jasa dari negara yang dapat langsung ditunjuk, digunakan untuk membiayai rumah tangga negara atau pengeluaran pemerintah, dan apabila terdapat surplus dapat dipakai untuk membiayai public investment.
2.2.1. Tujuan dan Fungsi Pajak
Apabila membahas tentang fungsi dan tujuan pajak maka fungsi pajak tidak terlepas dari tujuan pajak, sementara tujuan pajak tidak terlepas dari tujuan negara. Dengan demikian tujuan
pajak harus diselaraskan dengan tujuan negara yang menjadi landasan tujuan pemerintah. Baik tujuan pajak maupun tujuan negara semua berakar pada tujuan masyarakat. Tujuan masyarakat inilah yang menjadi falsafah bangsa dan negara. Oleh karena itu tujuan dan fungsi pajak tidak mungkin lepas dari tujuan dan fungsi yang mendasarinya. Sehingga pajak yang dipungut dari masyarakat selain digunakan untuk proses pembangunan hendaknya dipergunakan untuk keperluan dan kesejahteraan masyarakat itu sendiri.
Untuk mencapai tujuan dari pemungutan pajak, beberapa ahli mengemukakan tentang asas pemungutan pajak antara lain menurut Adam Smith dalam bukunya Wealth of Nation (1904) dengan ajaran yang terkenal “The Four Maxims” asas pemungutan pajak terdiri dari :
1. Asas Equality
Asas equality berarti asas keseimbangan dengan kemampuan atau asas keadilan dan
Asas equality berarti asas keseimbangan dengan kemampuan atau asas keadilan dan