• Tidak ada hasil yang ditemukan

Sanksi atas PKB

Dalam dokumen DONA HENDRIANTO DAMANIK /SP (Halaman 53-0)

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

2.2 Pengertian Pajak

2.2.9 Pajak Kendaraan Bermotor (PKB

2.2.9.9 Sanksi atas PKB

Keterlambatan melaksanakan pendaftaran melebihi waktu yang ditetapkan/tanggal jatuh tempo, dikenakan denda berupa kenaikan sebesar 25% dari pokok pajak ditambah sanksi administrasi berupa bunga sebesar 2% per bulan, dihitung dari pajak yang kurang atau terlambat dibayar untuk jangka waktu paling lama 24 bulan dihitung saat terhutangnya pajak.

38

Research) menurut Sugiyono (2010:147) menyatakan bahwa : Metode deskriptif dapat

diartikan sebagai prosedur pemecahan masalah yang diselidiki dengan menggambarkan/melukiskan keadaan subjek/objek penelitian (seseorang, lembaga, masyarakat dan lain-lain) pada saat sekarang berdasarkan fakta- fakta yang tampak atau sebagaimana adanya ciri –ciri metode deskriptif menurut Sugiyono (2010:164) adalah sebagai berikut :

1. Memusatkan perhatian pada masalah – masalah yang ada pada suatu penelitian dilakukan (saat sekarang) atau masalah – masalah yang bersifat aktual.

2. Menggambarkan fakta-fakta tentang masalah yang diselidiki sebagaimana adanya, diiringi dengan interprestasi rasional yang aktual.

Fokus penelitian merupakan objek kajian yang menjadi titik perhatian kegiatan penelitian, maka focus penelitian ini adalah “Analisis Faktor - Faktor Peningkatan Pendapatan Pajak Kendaraan Bermotor pada UPT PPD (Unit Pelaksana Teknis Pengelolaan Pendapatan Daerah) Pematang Siantar”. Tempat penelitian adalah suatu daerah yang lokasinya digunakan untuk mendapatkan data yang diperlukan dalam kegiatan penelitian. Tempat dalam penelitian ini adalah Kantor UPT PPD Pematang Siantar.

3.1. Jenis Penelitian

Penelitian ini termasuk dalam jenis penelitian kualitatif atau dengan menggunakan analisis deskriptif. Menurut Moleong (2006:11) bahwa penelitian deskriptif adalah penelitian yang berupaya mengungkapkan suatu masalah dan keadaan sebagaimana adanya, untuk itu peneliti dibatasi hanya mengungkapkan fakta-fakta dan tidak menggunakan hipotesa. Penelitian deskriptif bertujuan untuk menggambarkan secara tepat sifat-sifat individu dan keadaan sosial yang timbul dalam masyarakat untuk dijadikan sebagai obyek penelitian.

Dalam penelitian ini, peneliti menitik beratkan pada Analisis Faktor - Faktor Peningkatan Pendapatan Pajak Kendaraan Bermotor pada UPT PPD (Unit Pelaksana Teknis Pengelolaan Pendapatan Daerah) Pematang Siantar.

3.2. Lokasi dan Waktu Penelitian

Lokasi penelitian dilakukan pada Unit Pelaksana Teknis (UPT) Pengelolaan Pendapatan Daerah (PPD) Pematang Siantar Jalan Sangnawaluh No. 37 A Kel Siopat Suhu Kel Siantar Timur Pematang Siantar Kode Pos 21136 Provinsi Sumatera Utara. Hal ini dimaksudkan agar peneliti dapat mengetahui gambaran umum tentang lokasi yang akan diteliti, bagaimana kinerja dalam kantor tersebut serta memahami permasalahan yang telah dirumuskan sebelumnya dengan waktu penelitian dengan rentang 3 bulan dari Oktober 2019 s/d Desember 2019.

3.3. Sumber Data

Sumber data dapat dibagi menjadi 2 bagian, yaitu :

1. Data primer, yaitu: data langsung yang diperoleh dari sumber data pertama di objek penelitian. Dalam penelitian ini akan menggunakan teknik wawancara dan observasi, dimana nantinya peneliti akan mengajukan sejumlah pertanyaan lisan guna pengumpulan data dan juga melihat lansung kondisi dan peristiwa yang terjadi lokasi penelitian.

2. Data sekunder, yaitu data yang diperoleh peneliti dari sumber kedua atau data yang dapat diperoleh dari buku,jurnal, karya ilmiah, dokumen resmi, internet, ataupun literatur lain yang berkaitan dengan penelitian.

3.4. Informan Penelitian

Teknik pengambilan sumber informasi data penelitian yang digunakan dalam penelitian deskriptif adalah wawancara atau dengan teknik in-depth interview. Adapun yang menjadi informan dalam penelitian ini adalah:

1. Informan kunci.

a. Kepala UPT PPD (Unit Pelaksana Teknis Pengelolaan Pendapatan Daerah) Pematang Siantar

b. Kabid PKB/BBN-KB (Pajak Kendaraan Bermotor/Bea Balik Nama-Kendaraan Bermotor) BPPRD Provsu

c. Kepala Seksi Pendataan dan Penetapan UPT PPD Pematang Siantar d. Kepala Sub Bagian Tata Usaha UPT PPD Pematang Siantar

2. Informan pendukung.

Masyarakat wajib pajak kendaraan bermotor pada UPT PPD (Unit Pelaksana

Teknis Pengelolaan Pendapatan Daerah) Pematang Siantar.

3.5. Definisi Konsep dan Operasional

Dalam menganalisis data diperlukan suatu kerangka konsep yang menggambarkan arah penelitian dalam kerangka alur pembahasan hingga hasil penelitian, sebagai berikut:

Gambar 2. Kerangka Konsep

3.6. Teknik Pengumpulan Data

Pengumpulan data dimaksudkan untuk memperoleh bahan-bahan yang relevan dan akurat.

Untuk mengumpulkan data dalam penelitian ini, teknik yang dilakukan adalah:

a. Observasi (pengamatan)

Observasi adalah metode pengumpulan data dengan melakukan pengamatan langsung pada obyek penelitian mengenai hal-hal yang berhubungan secara langsung dengan masalah untuk mendapatkan data pelengkap (Kartono,1996:157). Observasi ini bisa dikatakan merupakan suatu cara pengumpulan data dengan melihat atau meninjau lokasi penelitian untuk melihat secara langsung potensi-potensi yang ada tetapai belum dimanfaatkan, serta mencari permasalahan-permasalahan yang menjadi penghambat dari potensi-potensi terkait dengan pengelolaan. Metode ini sama halnya apa yang dikemukakan oleh J.R. Raco (2010:9) penelitian lapangan field research karena peneliti harus terjun kelapangan terlibat dengan masyarakat setempat.

Penerimaan Pajak

b. Interview (wawancara)

Interview adalah metode pengumpulan data dengan melakukan tanya jawab dengan informan, pelaksanaannya bisa dengan cara langsung bertatap mata maupun lewat media seperti telepon, yang bertujuan untuk mendapat gambaran nyata tentang pokok persoalan yang diteliti (Kartono, 1996:187). Wawancara merupakan metode pengumpulan data dengan cara menanyakan secara langsung. Bertanya yang dilakukan seorang peneliti kepada seorang informan yang kompeten.

c. Dokumentasi

Dokumentasi adalah merupakan salah satu pola untuk mengumpulkan data dari berbagai literatur baik berupa dokumentasi kegiatan, data, tabel, gambar, serta sumber-sumber lain yang relevan dan terkait dengan permasalahan dalam penelitian. Data tersebut meliputi semua data yang berkaitan dengan Analisis Faktor - Faktor Peningkatan Pendapatan Pajak Kendaraan Bermotor pada UPT (Unit Pelaksana Teknis) PPD (Pengelolaan Pendapatan Daerah) Pematang Siantar.

3.7. Teknik Analisis Data

Untuk menganalisa data dalam penelitian ini di menggunakan teknik analisis data model Miles dan Huberman. Data dikumpulkan dalam bentuk transkrip dari hasil rekaman dan catatan reflektif untuk memberikan gambaran suasana, sikap, dan emosi dari responden, kemudian dilakukan editing. Data dikelompokkan dalam unit-unit kecil dan merangkum kembali dalam kategori-kategori tertentu. Unit-unit tersebut berupa kata, kalimat atau paragraf atau bagian dari data yang mempunyai makna tersendiri.

Analisis data adalah proses mencari dan menyusun secara sistematis data yang diperoleh dari hasil wawancara, catatan lapangan dan bahan-bahan lain sehingga dapat mudah dipahami dan temuannya dapat diinformasikan kepada orang lain. Analisis data dilakukan dengan mengorganisasikan data, menjabarkan ke dalam unit-unit, melakukan sintesa, menyusun ke dalam

pola, memilih mana yang penting dan yang akan dipelajari dan membuat kesimpulan sehingga dapat dipahami.Langkah - langkah analisis data menurut Miles dan Huberman (2007:16)

a. Data Reduction (Reduksi Data)

Data yang diperoleh dari lapangan jumlahnya cukup banyak, untuk itu maka perlu dicatat secara teliti dan rinci. Semakin lama peneliti ke lapangan, maka jumlah data akan semakin banyak, kompleks dan rumit. Untuk itu perlu segera dilakukan analisis data melalui reduksi data.

Mereduksi data berarti merangkum, memilih hal- hal yang pokok, memfokuskan pada hal- hal yang penting dicari tema dan polanya. Dengan demikian data yang telah direduksi akan memberikan gambaran yang lebih jelas dan mempermudah peneliti untuk melakukan pengumpulan data selanjutnya, dan mencari yang diperlukan.

b. Data Display (Penyajian Data)

Setelah data direduksi, langkah selanjutnya adalah menyajikan data. Penyajian data dalam penelitian ini adalah dengan teks yang bersifat naratif. Dengan menyajikan data, maka akan memudahkan untuk memahami apa yang terjadi, merencanakan kerja selanjutnya berdasarkan apa yang telah difahami tersebut.

c. Conclusion Drawing (Verifikasi)

Langkah ketiga dalam analisis data kualitatif adalah penarikan kesimpulan dan verifikasi. Kesimpulan awal yang dikemukakan masih bersifat sementara dan akan berubah bila tidak ditemukan bukti- bukti yang valid dan konsisten saat peneliti kembali kelapangan mengumpulkan data, maka kesimpulan yang dikemukakan merupakan yang kredibel.

44

4.1. Gambaran Umum

4.1.1. Kota Pematang Siantar

Kota Pematang Siantar merupakan terbesar kedua di Provinsi Sumatera Utara. Kota ini menjadi lebih strategis karena dikelilingi oleh Kabupaten Simalungun yang merupakan salah satu Kabupaten di Sumatera Utara kedudukan Kabupaten Simalungun disini sebagi daerah penyokong perekonomian kota pematangsiantar. Bahkan hasil dari pertanian, perkebunan, peternakan, dan segalanya dibawa masuk kekota untuk memenuhi kebutuhan pokok warga dikota.

Gambar 3. Peta Kota Pematang Siantar

Tata letak dari kota ini juga tergolong strategis. Letak kantor-kantor pemerintahan dengan pusat perdagangan, pusat perindustrian, perhotelan dan sebagainya sangat berdekatan. Sehingga dapat diakses dengan cukup mudah, ditambah dengan sarana transportasi yang sangat memadai.

Kawasan wisata yang menjadi andalan Provinsi Sumatera Utara adalah Danau Toba. Untuk mencapai daerah tersebut para pengunjung harus melewati Kota Pematang Siantar. Kota Pematang Siantar sering disebut sebagai kota persinggahan atau transit bagi wisatawan. Ketika hari libur besar tiba, maka Kota Pematang Siantar dipadati dengan pengunjung yang ingin berlibur ke Danau Toba. Kota Pematang Siantar memiliki keberagaman suku dan etnis. Suku Simalungun dan Batak Toba menjadi suku dominan di Pematang Siantar. Lalu juga terdapat suku Mandailing, Minang, Karo, Jawa, Melayu, dan Tionghoa.

4.1.2. Kota Pematang Siantar Secara Geografis

Data dari BMKG Kota Pematang Siantar mengenai letak geografis Kota Pematang Siantar sendiri bertitik di garis 2° 53’ 20” - 3° 01’ 00” Lintang Utara dan 99° 1’00” – 99° 6’ 35” Bujur Timur, dan berada tepat di Tengah –tengah wilayah Kabupaten Simalungun. Luas daratan kota Pematang Siantar sendiri mencapai 79,971 Km², terletak di ketinggian 400 – 500 meter di atas permukaan laut (Mdpl). Berdasarkan luas kota Pematang Siantar, kecamatan yang terluas adalah Kecamatan Siantar Sitalasari dengan luas wilayah 22,723 km² atau sama dengan 28,41% dari total luas wilayah Kota Pematang Siantar.

4.1.3. Kota Pematang Siantar Secara Administratif

Berdasarkan dengan peraturan pemerintah No. 35 tahun 1982 mengenai kota daerah Tingkat II Pematang Siantar terbagi atas empat wilayah kecamatan. Terdiri atas 29 Desa atau

Kelurahan dengan luas wilayah 12,48 km² yang peresmiannya dilaksanakan oleh Gubernur Sumatera Utara pada tanggal 17 Maret 1982. Kecamatan-kecamatan tersebut diantaranya :

1. Kecamatan Siantar Timur 2. Kecamatan Siantar Barat 3. Kecamatan Siantar Utara 4. Kecamatan Siantar Selatan

Berselang beberapa tahun kemudian dengan dikeluarkannya peraturan pemerintah No 15 tahun 1986 tanggal 10 Maret. Kota daerah Tingkat II Pematangsiantar diperluas kawasannya menjadi 6 kecamatan. 9 desa atau kelurahan yang dahulunya berada di Kabupaten Simalungun masuk kedalam kawasan wilayah kota Pematang Siantar. Dengan adanya pertambahan 9 desa tersebut secara otomatis jumlah desa di Pematang Siantar bertambah menjadi 38 desa. Luas wilayah kota Pematangsiantar juga ikut bertambah menjadi 70,230 km2. Adapun kecamatan-kecamatan tersebut yaitu :

d. Kelurahan Dwikora

d. Kelurahan Baringin Pansur Nauli

e. Kelurahan Pamatang Marihat f. Kelurahan Simarimbun 6. Kecamatan Siantar Martoba

a. Desa Bah Kapul b. Desa Martoba

c. Desa Tambun Nabolon

Pada tanggal 23 Mei 1994 Pemerintah Kotamadya Pematang Siantar mengeluarkan surat kesepakatan bersama mengenai penyesuaian batas wilayah administrasi kota Pematang Siantar dan Kabupaten Simalungun. Adapun hasil kesepakatan tersebut mengenai wilayah Kota Pematang Siantar menjadi seluas 79,9706 km².

Kemudian pada tahun 2007 diterbitkan lima (5) peraturan daerah tentang pemekaran wilayah administrasi Pematang Siantar yaitu:

a. Peraturan Daerah No. 3 Tahun 2007 tentang pembentukan Kecamatan Siantar Sitalasari b. Peraturan Daerah No. 6 Tahun 2007 tentang pembentukan Kecamatan Siantar Simarimbun c. Peraturan Daerah No. 7 Tahun 2007 tentang pembentukan Kelurahan Bah Sorma

d. Peraturan Daerah No. 8 Tahun 2007 tentang pembentukan Kelurahan Tanjung Tongah, Nagapitu, dan Tanjung Pinggir

e. Peraturan Daerah No. 9 Tahun 2007 tentang pembentukan Kelurahan Parhorasan Nauli, Suka makmur, Marihat Jaya, Tong Marimbun, Mekar Nauli, dan Nagahuta Timur

Dengan demikian sesuai dengan Peraturan Daerah (Perda) Tahun 2007 dapat dikatakan bahwa Kota Pematang Siantar terapat 8 (delapan) Kecamatan yang tersebar di seluruh kota dan dari ke 8 (delapan) kecamatan tersebut juga terdapat kelurahan yang merupakan bagian dari setiap

Kecamatan-Kecamatan yang ada menjadi 53 (lima puluh tiga) Kelurahan atau Desa. Pada tanggal 23 Mei 1994 Pemerintah Kotamadya Pematang Siantar mengeluarkan surat kesepakatan bersama mengenai penyesuaian batas wilayah administrasi Kota Pematang Siantar dan Kabupaten Simalungun. Adapun hasil kesepakatan tersebut mengenai wilayah Kota Pematang Siantar menjadi seluas 79,9706 km². Kemudian pada tahun 2007 diterbitkan lima (5) peraturan daerah tentang pemekaran wilayah administrasi Pematangsiantar yaitu :

1. Peraturan Daerah No. 3 Tahun 2007 tentang pembentukan Kecamatan Siantar Sitalasari

2. Peraturan Daerah No. 6 Tahun 2007 tentang pembentukan Kecamatan Siantar Simarimbun

3. Peraturan Daerah No. 7 Tahun 2007 tentang pembentukan Kelurahan Bah Sorma 4. Peraturan Daerah No. 8 Tahun 2007 tentang pembentukan Kelurahan Tanjung Tongah,

Nagapitu, dan Tanjung Pinggir

5. Peraturan Daerah No. 9 Tahun 2007 tentang pembentukan Kelurahan Parhorasan Nauli, Suka makmur, Marihat Jaya, Tong Marimbun, Mekar Nauli, dan Nagahuta Timur

Dengan demikian sesuai denga Peraturan Daerah (Perda) Tahun 2007 dapat dikatakan bahwa Kota Pematangsiantar terapat 8 (delapan) Kecamatan yang tersebar di seluruh kota dan dari ke 8 (delapan) kecamatan tersebut juga terdapat kelurahan yang merupakan bagian dari setiap Kecamatan-kecamatan yang ada menjadi 53 (lima puluh tiga) Kelurahan atau Desa. Ini dilihat pada tabel berikut:

Tabel 1. Luas Wilayah Kecamatan Kota Pematang Siantar No. Kecamatan Luas Wilayah

(Km

2

)

4 Siantar Martoba 18.002 22.54% 7

Sumber: Badan Pusat Statistik Kota Pematang Siantar tahun 2019

Disamping itu diketahui pula mengenai jumlah penduduk pada tiap kecamatan berdasarkan data Badan Pusat Statistik Kota Pematang Siantar jumlah penduduk Kota Pematang Siantar di tiap-tiap kecamatan serta perkembangan jumlah penduduk dari tahun ke tahun dapat dilihat pada tabel berikut :

Tabel 2

Jumlah Penduduk Berdasarkan Kecamatan Kota Pematang Siantar

Kecamatan Jumlah Penduduk Tiap Tahun

2017 2018 2019

Siantar Marihat 19.451 19.642 19.822

Siantar Marimbun 15.896 16.053 16.198

Siantar Selatan 18.123 18.240 18.339

Siantar Barat 37.785 38.122 38.440

Siantar Utara 49.276 49.598 49.886

Siantar Timur 40.813 41.078 41.316

Siantar Martoba 41.143 41.469 41.768

Siantar Sitalasari 29.029 29.298 29.548

Jumlah 251.516 253.500 255.317

Sumber: Badan Pusat Statistik kota Pematang Siantar tahun 2019

Berdasarkan tabel tersebut di atas dapat dilihat bahwa Kecamatan Siantar Utara

memiliki jumlah penduduk yang paling banyak di antara beberapa kecamatan lainnya yang

ada di kota Pematangsiantar dan Kecamatan Siantar Marimbun memiliki jumlah penduduk

yang paling sedikit diantara beberapa kecamatan lainya. Jumlah tersebut juga merupakan

jumlah keseluruhan penduduk dari seluruh usia dimulai dari usia balita sampai usia

manula. Dan dari data tersebut dapat dilihat pertumbuhan penduduk yang juga merupakan

sangat pesar dimana hal itu dapat ditunjukan dari jumlah jumlah serta selisih penduduk yang bertambah tiap tahunnya menunjukan angka yang sangat banyak.

4.2. Gambaran Badan Pengelolaan Pajak dan Retribusi Daerah Provinsi Sumatera Utara 4.2.1. Sejarah Singkat Badan Pengelolaan Pajak dan Retribusi Daerah Provinsi

Sumatera Utara

Pada mulanya, urusan pengelolaan Pendapatan Daerah berada dalam koordinasi Biro Keuangan (Sekretariat) sebagai Bagian Pajak dan Pendapatan. Berdasarkan Surat Keputusan (SK) Gubernur Kepala Daerah Tingkat I Sumatera Utara No. 102/II/GSU tanggal 6 maret 1973 tentang Susunan Organisasi Tata Kerja Setwilda Tingkat 1 Sumatera Utara, Biro Keuangan berubah menjadi Direktorat Keuangan sejak tanggal 16 mei 1973. Dengan demikian bagian Pajak dan Pendapatan juga berubah bentuk menjadi Sub Direktorat Pendapatan Daerah pada Direktorat Keuangan. Dengan terbitnya SK Gubernur Sumatera Utara tanggal 21 Maret 1975 No. 137/II/GSU (berdasarkan SK Mendagri tanggal 7 November 1974 No. Finmat 7/15/3/74, maka terhitung sejak 1 April 1975, Sub Direktorat Pendapatan Daerah ditingkatkan menjadi Direktorat Pendapatan Daerah. Selanjutnya, pada tanggal 14 september 1975 No.

KUPD 3/12/43 tentang pembentukan Dinas Pendapatan Daerah Tingkat II di seluruh Indonesia, maka dengan demikian Direktorat Pendapatan daerah berubah menjadi Dinas Pendapatan Daerah. Semua pembentukannya berdasarkan SK Gubernur Kepala Daerah Tingkat 1 Sumatera Utara No. 143/Ii/GSU, yang kemudian dikukuhkan dengan Perda Provinsi Sumatera Utara No. 4 tahun 1976, yang mulai berlaku 31 Maret 1976. Setelah Otonomi daerah, tugas pokok dan fungsi Dinas Pendapatan Daerah diatur dalam Perda Provinsi Sumatera Utara No.3 Tahun 2001 tentang Organisasi Dinas-Dinas Gubernur Kepala Daerah Tingkat 1 sumatera Utara No. 060.254.K Tahun 2002.

Selanjutnya berdasarkan Peraturan Daerah Provinsi Sumatera Utara Nomor 6 Tahun 2016 tentang Pembentukan dan Susunan Perangkat Daerah Provinsi Sumatera Utara, terhitung

sejak tanggal 21 Desember 2016 Dinas Pendapatan Daerah Provinsi Sumatera Utara berubah menjadi Badan Pengelolaan Pajak dan Retribusi Daerah Provinsi Sumatera Utara, maka diterbitkan Peraturan Gubernur Sumatera Utara Nomor 39 Tahun 2016 tentang Susunan Organisasi Badan Daerah dan Inspektorat Daerah Provinsi Sumatera Utara.

4.2.2. Tugas Pokok dan Fungsi Badan Pengelolaan Pajak dan Retribusi Daerah Provinsi Sumatera Utara

Badan Pengelolaan Pajak dan Retribusi Daerah Provinsi Sumatera Utara dipimpin oleh seorang Kepala Badan yang berkedudukan dibawah dan bertanggungjawab kepada Gubernur Sumatera Utara melalui Sekretaris Daerah Provinsi Sumatera Utara. Berdasarkan Peraturan Gubernur Sumatera Utara Nomor 5 Tahun 2019 tentang Tugas, Fungsi, Uraian Tugas dan Tata Kerja Badan Pengelolaan Pajak dan Retribusi Daerah Provinsi Sumatera Utara. Adapun tugas pokok dan fungsi Badan Pengelolaan Pajak dan Retribusi Daerah Provinsi Sumatera Utara adalah :

a. Badan Pengelolaan Pajak dan Retribusi Daerah Provinsi Sumatera Utara bertugas melaksanakan urusan Pemerintahan Daerah di bidang pajak dan retribusi daerah serta pendapatan lainnya berdasarkan azas otonomi dan tugas pembantuan.

b. Dalam penyelenggaraan tugas pokoknya, Badan Pengelolaan Pajak dan Retribusi Daerah Provinsi Sumatera Utara berfungsi:

1. Penyelenggaraan koordinasi, fasilitasi, monitoring, evaluasi dan pengendalian

kebijakan Kepala Daerah di bidang pengelolaan pajak dan retribusi daerah.

2. Penyelenggaraan pengolahan bahan/data untuk penyempurnaan dan penyusunan kebijakan sesuai standar dalam urusan pengelolaan pajak dan retribus daerah.

3. Penyelenggaraan pembinaan dan pelaksanaan tugas dalam bidang pengelolaan pajak dan retribusi daerah.

4. Penyelenggaraan tugas lain yang diberikan Gubernur, sesuai dengan tugas dan fungsinya.

Selain melakukan tugas pokoknya juga berfungsi sebagai koordinator di Bidang Pendapatan Daerah, dimana dari pungutan PAD tersebut yang secara langsung dikelola oleh Badan Pengelolaan Pajak dan Retribusi Daerah Provinsi Sumatera Utara antara lain pemungutan yang bersumber dari Pajak Daerah sedangkan pungutan lainnya dikelola secara teknis oleh instansi/unit kerja di Provinsi Sumatera Utara.

4.2.3. Struktur Organisasi Badan Pengelolaan Pajak dan Retribusi Daerah Provinsi Sumatera Utara

Organisasi merupakan suatu fungsi manajemen yang mempunyai peranan dan kaitan langsung dengan interaksi sosial yang terjadi diantara individu-individu dalam rangka kerjasama untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan. Struktur organisasi instansi merupakan salah satu faktor penting yang mempengaruhi tingkat keberhasilan suatu perusahaan dalam mencapai tujuan dari para pegawai instansi. Dengan adanya struktur organisasi maka akan jelaslah pembagian tugas dari para pegawai perusahaan. Adapun organisasi itu adalah dengan menggabungkan orang-orang dengan tugas-tugas yang saling berhubungan erat satu dengan yang lain. Agar instansi dapat memimpin, instansi harus mempunyai struktur organisasi yang jelas dan nyata dimana pembagian tugas dan tanggung jawab terlihat dengan jelas, dengan demikian dapatlah terjadi suatu hubungan

kerjasama yang baik dalam rangka merealisasikan tujuan instansi, yaitu mendapatkan laba yang dapat menjamin kelangsungan hidup dan pertumbuhan instansi.

Dalam menghadapi pelaksanaan tugas-tugas Badan dalam Bidang Pengelolaan Pendapatan Daerah yaitu sektor Pendapatan Asli Daerah dan bagi hasil Pajak/Bukan Pajak Provinsi Sumatera Utara, maka telah dilaksanakan organisasi perangkat instansi kerja, yaitu sebagai berikut:

a) Sekretariat;

b) Bidang Pengembangan dan Pengendalian Pendapatan Daerah;

c) Bidang Pajak Kendaraan Bermotor dan Bea Balik Nama Kendaraan Bermotor;

d) Bidang Pajak Air Permukaan, Pajak Bahan Bakar Kendaraan Bermotor, dan Pajak Rokok;

e) Bidang Retribusi dan Pendapatan Lainnya;

f) UPT Pusat Dukungan Operasional Layanan Pendapatan Daerah g) UPT Penyuluhan

h) UPT PPD (Unit Pelaksana Teknis Pengelolaan Pendapatan Daerah) di 33 Kabupaten Kota yaitu:

1. UPT PPD Medan Utara

2. UPT PPD Medan Selatan

3. UPT PPD Perdagangan

4. UPT PPD Sei Rampah

5. UPT PPD Pandan

6. UPT PPD Gunung Tua

7. UPT PPD Gunung Sitoli

8. UPT PPD Balige

9. UPT PPD Binjai 10. UPT PPD Tarutung 11. UPT PPD Kabanjahe 12. UPT PPD Stabat 13. UPT PPD Sibolga 14. UPT PPD Teluk Dalam 15. UPT PPD Sidikalang 16. UPT PPD Lubuk Pakam 17. UPT PPD Sibuhuan 18. UPT PPD Natal

19. UPT PPD Tanjung Balai 20. UPT PPD Salak

21. UPT PPD Padang Sidimpuan 22. UPT PPD Kisaran

23. UPT PPD Dolo Sanggul

24. UPT PPD Pangururan

25. UPT PPD Kota Pinang

26. UPT PPD Tebing Tinggi

27. UPT PPD Rantau Prapat

28. UPT PPD Pematang Siantar

29. UPT PPD Pangkalan Brandan

30. UPT PPD Panyabungan

31. UPT PPD Lima Puluh

32. UPT PPD Aek Kanopan 33. UPT PPD Sipirok

Gambar 4. Struktur Organisasi BPPRDSU

4.3. Gambaran UPT Pengelolaan Pendapatan Daerah Pematang Siantar

4.3.1. Sejarah Singkat UPT Pengelolaan Pendapatan Daerah Pematang Siantar

Pada tanggal 1 April 1978 resmilah didirikan Kantor Bersama SAMSAT Pematang Siantar, yang melayani pengurusan surat-surat kendaraan bermotor wilayah Kota Pematang Siantar dan Kabupaten Simalungun. SAMSAT merupakan singkatan dari “Sistem

Administrasi Manunggal Satu Atap” adalah gabungan dari Tiga Instansi yang mempunyai

tugas dan fungsi yang berbeda tetapi mempunyai Objek data yang sama yaitu kendaraan bermotor yang berdomisili di daerah Provinsi Sumatera Utara.

Berdirinya kantor bersama SAMSAT merupakan tindak lanjut dari Surat Keputusan Bersama 3 (tiga) Menteri (Menhankam, Menteri Keuangan, Menteri Dalam Negeri) yang membentuk kerjasama dengan sistem baru yang disebut Sistem Administrasi Manunggal Satu Atap.

4.3.2. Tugas Pokok dan Fungsi UPT Pengelolaan Pendapatan Daerah Pematang Siantar

UPT Pengelolaan Pendapatan Daerah Kota Pematang Siantar dipimpin oleh seorang Kepala UPT Pengelolaan Pendapatan Daerah Pematang Siantar yang berkedudukan dibawah dan bertanggungjawab kepada Kepala Badan Pengelolaan Pajak dan Retribusi Daerah Provinsi Sumatera Utara. Berdasarkan Peraturan Gubernur Sumatera Utara Nomor 5 Tahun 2019 tentang Tugas, Fungsi, Uraian Tugas dan Tata Kerja Badan Pengelolaan Pajak dan Retribusi Daerah Provinsi Sumatera Utara, UPT Pengelolaan Pendapatan Daerah Kota Pematang Siantar memiliki tugas pokok dan fungsi : sebagai UPT Pengelolaan Pendapatan Daerah Kota Pematang Siantar mempunyai tugas pokok melaksanakan sebagian fungsi Badan di Bidang Pajak dan Retribusi Daerah.

Sedangkan fungsi dari UPT Pengelolaan Pendapatan Daerah Kota Pematang

Sedangkan fungsi dari UPT Pengelolaan Pendapatan Daerah Kota Pematang

Dalam dokumen DONA HENDRIANTO DAMANIK /SP (Halaman 53-0)

Dokumen terkait