BAB I PENDAHULUAN
D. Manfaat Penelitian
Menambah pengetahuan, pengalaman, wawasan, dan informasi mengenai gambaran keadaan gigi dan dampaknya terhadap kualitas hidup pada lansia di Panti Sosial Tresna Werdha Budi Pertiwi
2. Manfaat Praktis
a. Bagi Institusi Pendidikan Poltekkes Bandung, dapat menambah referensi di Perpustakaan mengenai keadaan gigi dan dampaknya terhadap kualitas hidup pada lansia di Panti Sosial Tresna Werdha Budi Pertiwi.
b. Bagi PSTW Budi Pertiwi Bandung, dapat menambah informasi mengenai keadaan gigi dan dampaknya terhadap kualitas hidup pada lansia di Panti tersebut, sehingga dapat dijadikan acuan untuk lebih memperhatikan kesehatan gigi yang lebih memfokuskan pada tindakan pencegahan guna meningkatkan kualitas hidup lansia yang lebih baik lagi.
c. Bagi penentu kebijakan (Pemerintah), dapat dijadikan gambaran untuk lebih memperhatikan kesehatan pada lansia, khususnya di bidang kesehatan gigi dan mulut
6 BAB II
TINJAUAN PUSTAKA (KAJIAN TEORI, KERANGKA TEORI)
A. Kajian Teori 1. Gigi Geligi
a. Pengertian Gigi
Gigi merupakan bagian dari rongga mulut, dimana rongga mulut merupakan saluran cerna dan jalan masuknya makanan menuju usus halus. (Harsanur, 1991).
b. Fungsi Gigi
Pencernaan makanan sudah dimulai dari dalam mulut. Di dalam mulut makanan sudah dikecilkan dan bercampur dengan ludah supaya di dalam lambung dan usus bisa dicerna dengan baik. Gigi geligi juga berperan penting pada saat berbicara dan juga sangat menentukan bentuk wajah seseorang. Kelainan posisi gigi dan rahang tidak saja mempengaruhi fungsi pengunyahan tetapi juga pada fungsi berbicara dan roman muka seseorang. Gigi bisa saja diganti dengan gigi palsu atau buatan, namun hal ini sangat membutuhkan banyak biaya. Makin awal seseorang kehilangan gigi dan gerahamnya, makin sukar untuk usia lebih lanjut masih mempunyai suatu gigi-geligi tiruan yang berfungsi dengan baik.
Oleh karena itu, gigi adalah salah satu bagian terpenting dalam tubuh kita. Menjaga kesehatan gigi sangat penting karena dengan menyumbang gigi-geligi secara keseluruhan, sama dengan menyumbang kesehatan umum dan kesejahteraan manusia. (Houwink, 1993)
Fungsi dari gigi yaitu sebagai berikut :
1) Untuk memotong dan memperkecil bahan-bahan makanan pada waktu pengunyahan.
2) Untuk mempertahankan jaringan penyanggah, supaya tetap dalam kondisi yang baik, dan terikat erat dalam lengkung gigi serta membantu dalam perkembangan dan perlindungan dari jaringan-jaringan yang menyanggahnya.
3) Untuk mwmproduksi dan mempertahankan suara/bunyi.
4) Untuk estetik (Harshanur, 1991).
c. Jumlah Gigi 1) Gigi Susu
Normal anak-anak mempunyai 20 gigi susu yang susunannya sebagai berikut:
10 gigi di rahang atas yaitu : 5 gigi di kiri, 5 gigi di kanan 10 gigi di rahang bawah yaitu : 5 gigi di kiri
5 gigi di kanan
8
V IV III II I I II III IV V V IV III II I I II III IV V Nama dari macam-macam gigi susu :
I ... gigi seri pertama/insisivus sentral/i1 II ... gigi seri kedua/insisivus lateral/i2 III ... gigi taring/kaninus/c
IV ... gigi geraham pertma/molar ke-1/m1 V ... gigi geraham kedua/molar ke-2/m2 Gigi anterior atau gigi depan ialah gigi i1, i2, dan c.
Gigi posterior atau gigi belakang ialah gigi m1 dan m2.
2) Gigi Tetap atau Gigi Permanen
Normal dewasa mempunyai 32 gigi tetap yang susunannya Nama dari macam-macam gigi susu :
1 ... gigi seri pertama/insisivus sentral/I1 2 ... gigi seri kedua/insisivus lateral/I2 3 ... gigi taring/kaninus/C
4 ... gigi geraham kecil pertama/premolar ke-1/P1 5 ... gigi geraham kecil kedua/premolar ke-2/P2 6 ... gigi geraham pertama/molar ke-1/M1 7 ... gigi geraham kedua/molar ke-2/M2 8 ... gigi geraham besar ketiga/molar ke-3/M3 (Harsanur, 1991)
2. Indeks DMF-T
Karies adalah interaksi dari bakteri di permukaan gigi, plak atau biofilm, dan diet ( komponen karbohidrat yang dapat difermentasikan oleh bakteri plak menjadi asam, terutama asam laktat dan asetat ) sehingga terjadi demineralisasi pada gigi. Streptococcus mutans merupakan organisme penyebab karies, karena mempunyai sifat yang menempel pada email, menghasilkan serta dapat hidup di lingkungan asam, berkembang pesat di lingkungan yang kaya akan sukrosa, dan menghasilkan bakteriosin yaitu substansi yang dapat membunuh organisme kompetitornya. ( Putri, dkk., 2010 ). Faktor etiologi terjadinya karies dapat dilihat pada Gambar 2.1
10
Gambar 2.1 Faktor Etiologi Karies
Faktor – faktor Penyebab Karies Gigi ( Edwina A.M.Kidd, 2012) : a. Mikroorganisme
Streptococcus mutans dan lactobacillus adalah bakteri penyebab
karies. Streptococcus mutans dan lactobacillus ini merupakan kuman kariogenik karena mampu membuat asam dari karbohidrat yang dapat diragikan. Kuman – kuman tersebut dapat tumbuh subur dalam suasana asam dan dapat menempel pada permukaan gigi, karena kemampuannya membuat polisakarida ekstra sel yang sangat lengket dari karbohidrat makanan. Polisakarida ini yang terutama terdiri dari polimer glukosa, menyebabkan matriks plak gigi mempunyai konsistensi seperti gelatin. Akibatnya bakteri – bakteri terbantu untuk melekat pada gigi serta saling melekat satu sama lain, dan karena plak makin tebal maka hal ini akan menghambat fungsi saliva dalam menetralkan plak tersebut (Kidd, 2012).
b. Karbohidrat
Karbohidrat dengan berat molekul yang rendah seperti gula akan meresap ke dalam plak dan dimetabolisme dengan cepat oleh bakteri. Dengan demikian, makanan dan minuman yang mengandung gula akan menurunkan pH plak dengan cepat sampai pada level yang dapat menyebabkan demineralisasi email (Kidd, 2012).
c. Gigi
Bagian – bagian gigi yang rentan terhadap karies adalah (Kidd, 2012) :
1) Pit dan fissure pada permukaan oklusal molar dan premolar.
2) Permukaan halus di daerah aproximal sedikit di bawah titik kontak.
3) Email pada tepian di daerah leher gigi sedikit di atas tepi gingival.
4) Permukaan akar yang terbuka, yang merupakan daerah tempat melekatnya plak pada pasien denga resesi gingival karena penyakit periodintium.
5) Tepi tumpatan terutama yang kurang atau mengemper.
6) Permukaan gigi yang berdekatan dengan gigi tiruan dan jembatan.
d. Waktu
Adanya kemampuan saliva untuk mendepositkan kembali mineral selama berlangsungnya proses karies, menandakan bahwa proses karies tersebut terdiri atas periode perusakan dan perbaikan
12
yang silih berganti. Oleh karena itu, bila saliva ada di dalam lingkungan gigi, maka karies tidak menghancurkan gigi dalam hitungan hari atau minggu, melainkan dalam bulan atau tahun.
Dengan demikian, sebenarnya terdapat kesempatan yang baik untuk menghentikan penyakit ini (Putri, 2010 cit Andiani, 2012).
Indeks karies gigi adalah angka yang menunjukkan klinis penyakit karies gigi ( Herijulianti, 2002 ). Indeks yang digunakan yaitu :
Indeks DMF-T ( untuk gigi tetap )
D = Decay ( gigi tetap yang berlubang)
M = Missing ( gigi tetap yang dicabut karena berlubang )
F = Filling ( gigi tetap yang sudah ditambal karena berlubang ) T = Teeth ( jumlah gigi tetap yang mengalami decay, missing,
filling)
Kekurangan Indeks DMF-T yaitu :
1) Tidak dapat menggambarkan banyaknya karies yang sebenarnya, karena jika pada gigi terdapat dua karies atau lebih, karies yang dihitung adalah tetap satu gigi.
2) Indeks DMF-T tidak dapat membedakan kedalaman dari karies.
3. Lanjut Usia (Lansia) a. Pengertian Lansia
Usia lanjut adalah kelompok orang yang sedang mengalami suatu proses perubahan yang bertahap dalam jangka waktu beberapa dekade (Notoadmojo, 2011). Lanjut usia adalah bagian dari proses tumbuh kembang. Manusia tidak secara tiba-tiba menjadi tua, tetapi berkembang dari bayi, anak-anak, dewasa dan akhirnya menjadi tua.
Hal ini normal, dengan perubahan fisik dan tingkah laku yang dapat diramalkan yang terjadi pada semua orang pada saat mereka mencapai usia tahap perkembangan kronologis tertentu. Lansia merupakan suatu proses alami yang ditentukan oleh Tuhan Yang Maha Esa. Semua orang akan mengalami proses menjadi tua dan masa tua merupakan masa hidup manusia yang terakhir. Dimasa ini seseorang mengalami kemunduran fisik, mental dan sosial secara bertahap (Azizah, 2011).
b. Batasan Lansia
Sampai saat ini belum ada kesepakatan umur lanjut usia secara pasti karena seorang psikologis membantah bahwa usia dapat secara tepat menunjukkan seseorang individu tersebut lanjut usia atau belum maka merujuk dari berbagai pendapat di bawah ini.
14
1) Menurut WHO
Menurut Badan Kesehatan Dunia (World Health Organization) yang dikatakan lanjut usia tersebut di bagi kedalam tiga kategori
Departemen Kesehatan Republik Indonesia membaginya lanjut usia menjadi sebagai berikut :
a) Kelompok menjelang usia lanjut (45 – 54 tahun), keadaan ini dikatakan sebagai masa virilitas.
b) Kelompok usia lanjut (55 – 64 tahun) sebagai masa presenium.
c) Kelompok usia lanjut (> 65 tahun) yang dikatakan sebagai masa senim (Maryam, 2012).
3) Menurut Prof. Dr. Koesmanto Setyonegoro Lanjut usia dikelompokkan menjadi :
a) Usia dewasa muda (elderly adulhood) : 18 atau 29-25 tahun b) Usia dewasa penuh (middle years) : 25-60 tahun atau 65 tahun c) Lanjut usia (geriatric age) : ≥65 tahun atau 70 tahun Young old : 70-75 tahun
Old : 75-80 tahun Very old : ≥80 tahun
c. Klasifikasi Lansia
Klasifikasi berikut ini adalah lima klasifikasi pada lansia.
1) Pralansia (prasenilis) : Seseorang yang berusia antara 45-59 tahun.
2) Lansia : Seseorang yang berusia 60 tahun atau lebih.
3) Lansia resiko tinggi : Seseorang yang berusia 70 tahun lebih/seseorang yang berusia 60 tahun atau lebih dengan masalah kesehatan (Depkes RI, 2003)
4) Lansia potensial : Lansia yang masih mampu melakukan pekerjaan dan/atau kegiatan yang dapat menghasilkan barang/jasa. (Depkes RI, 2003)
5) Lansia tidak potensial : Lansia yang tidak berdaya mencari nafkah, sehingga hidupnya bergantung pada bantuan orang lain. (Depkes RI, 2003)
d. Karakteristik Lansia
Menurut Budi Anna Keliat (1999), lansia memiliki karakteristiksebagai berikut :
1) Berusia lebih dari 60 tahun (sesuai dengan pasal 1 ayat (2) UU No.
13 tentang Kesehatan).
2) Kebutuhan dan masalah yang bervariasi dari rentang sehat sampai sakit, dari kebutuhan biopsikososial sampai spiritual, serta dari kondisi adaptif hingga kondisi maladaptif.
3) Lingkungan tempat tinggal yang bervariasi.
16
e. Proses Penuaan
Tahap dewasa merupakan tahap tubuh mencapai titik perkembangan yang maksimal. Setelah itu tubuh mulai menyusut dikarenakan berkurangnya jumlah sel-sel yang ada di dalam tubuh.
Sebagai akibatnya, tubuh juga akan mengalami penurunan fungsi secara perlahan-lahan. Itulah yang dikatakan proses penuaan. Penuaan atau proses terjadinya tua adalah suatu proses menghilangnya secara perlahan-lahan kemampuan jaringan lunak memperbaiki diri/mengganti dan mempertahankan fungsi normalnya sehingga tidak dapat bertahan terhadap infeksi serta memperbaiki kerusakan yang diderita (Constantinides, 1994). Seiring dengan proses menua tersebut, tubuh akan mengalami berbagai masalah kesehatan atau yang biasa disebut penyakit degeneratif (Maryam, 2012).
f. Perubahan-perubahan yang Terjadi pada Lansia
Perubahan yang terjadi pada lansia meliputi perubahan fisik, sosial, dan psikologis. Menurut Boedhi Drmojo (2004), menjadi tua bukanlah suatu penyakit atau sakit, tetapi suatu proses perubahan di mana kepekaan bertambah atau batas kemampuan beradaptasi menjadi berkurang yang sering dikenal dengan geriatric giant, di maan lansia akan mengalami 13i, yaitu imobilisasi; instabilitas (mudah jatuh);
intelektualitas terganggu (demensia); isolasi (depresi); inkontinensia;
impotensi; imunodefisiansi; infeksi mudah terjadi; impaksi (konstipasi); iatrogenesis (kesahalan diagnosis); insomnia; impairment
of (gangguan pada); penglihatan, pendengaran, pengecapan,
penciuman, komunikasi, integritas kulit, inaniation (malnutrisi) (Maryam, 2012).
4. Keadaan Rongga Mulut pada Lansia a. Tulang dan Tulang Alveolar
Tulang merupakan salah satu bagian tubuh terpenting. Massa tulang dewasa mencapai puncaknya sekitar 35 tahun. Kemudian, massa tulang menurun sejalan dengan usia terutama pada wanita yang di tandai dengan hilangnya baik tulang kortikal maupun tulang trabekular. Hal ini menyebabkan tulang tengkorak wajah mengalami perubahan. Kepadatan tulang mandibula menurun sekitar 20% antara usia 45 dan 90 tahun, dan bahwa diantara ini, angkanya pada wanita terlihat lebih rendah. Selain berkurangnya kepadatan, tulang biasanya lebih rapuh, dengan meningkatnya jumlah fraktur-mikro dari trabekula yang tipis yang sembuh dengan lambat karena remodeling yang melemah. Tulang alveolar tuut ambil bagian dalam hilangnya mineral tulang secara umum oleh karena usia melalui resorpsi matriks tulang.
Proses ini dapat dipercepat oleh tanggalnya gigi, penyakit periodontal, dan protesa yang tidak adekuat dan kurang baik pada individu secara genetik rentan atau menderita penyakit sistemik.
18
b. Kelenjar Saliva
Penyusutan fungsi kelenjar saliva merupakan suatu keadaan normal pada proses penuaan manusia. Lansia dianggap megeluarkan jumlah saliva yang yang lebih sedikit baik pada keadaan istirahat maupun sebagai respons terhadap rangsang sewaktu berbicara dan sedang makan dibandingkan orang setengah baya dan dewasa muda.
Secara umum dapat dikatakan bahwa saliva nonstimulasi (istirahat) secara keseluruhan berkurang volumenya pada usia tua sedangkan saliva yang di stimulasi tidak berkurang. Kelenjar saliva pada orang tua dapat bekerja dengan lebih efisien dibandingkan orang muda. Pada orang muda diperkirakan ada kapasitas persediaan fungsional saliva yang semakin meningkat dengan meningkatmya usia untuk mempertahankan respons fisiologi optimal pada tingkat stimulasi tertentu. Lebih jauh lagi, berkurangnya jumlah saliva nonstimulasi keseluruhan pada usia tua mungkin seimbang dengan tuntutan fisiologis dari rongga mulut pada masa itu. Xerostomia yang sering dialami lansia lebih merupakan akibat sampingan dari efek pengobatan daripada disebabkan perubahan akibat usia yang „alami‟ pada kelenjar saliva, di luar kerusakan histologis yang parah yang dialami kelenjar-kelenjar ini pada usia tua.
c. Gigi
Meskipun gigi-gigi biasanya menunjukkan tanda-tanda perubahan dengan bertambahnya usia, perubahan ini bukanlah sebagai akibat dari
usia tetapi refleks, keausan, penyakit, kebersihan mulut, dan kebiasaan.
Perubahan-perubahan yang terjadi secara nyata yaitu:
1. Email : Email mengalami sejumlah perubahan yang nyata karena pertambahan usia, termasuk kenaikan konsentrasi nitrogen dan flouride sejalan dengan usia.
2. Pulpa : Penurunan ukuran pulpa sejalan dengan terbentuknya dentin sekunder. Selain itu, terjadi insidensi klasifikasi pulpa.
3. Serabut Kolagen : meningkatnya jumlah serabut kolagen terutama pada daerah korona.
4. Sementum : Terjadi peningkatan ketebalan sementum yang progresif sepanjang hidup.
5. Akar gigi : Akibat klasifiasi, akar gigi menjadi kurang elastik.
d. Jaringan Periodontal
Perubahan pada jaringan periodontal yang terjadi sejalan dengan usia. Penyakit periodontal adalah penyakit pada jaringan pendukung gigi, yaitu jaringan gingiva, tulang alveolar, sementum dan ligamen.
(Barnes, 2006)
5. Dampak Kehilangan Gigi Terhadap Kualitas Hidup Lansia a. Status Gizi
Menurut Departemen Kesehatan RI (1995), gizi adalah makanan yang bermanfaat untuk kesehatan. Perubahan fisik dan penurunan
20
fungsi organ tubuh akan memengaruhi konsumsi dan penyerapan zat gizi besi. Defisiensi zat gizi termasuk zat besi pada lansia, mempunyai dampak terhadap penurunan kemampuan fisik dan menurunkan kekebalan tubuh.
Perubahan fisiologis rongga mulut pada lansia ditandai dengan menurunnya daya kunyah, daya cerna, daya kecap, akibat berkurangnya jumlah gigi, serta kemampuan sekresi ludah dan jonjot (papillae foliata) pada lidah yang berisi ujung saraf rasa kecap (taste buds). Dengan berkurangnya daya kecap, makanan jadi terasa tidak
enak yang menyebabkan lansia hanya makan sedikit, makanan terasa kurang asin atau kurang manis, dan sering diantisipasi dengan menambahkan gula atau garam. (Maryam, 2012)
Faktor-faktor yang menyebabkan kurangnya gizi pada lansia adalah keterbatasan ekonomi keluarga, penyakit-penyakit kronis pengaruh psikologis, kesalahan pada pola makan, kurangnya pengetahuan tentang gizi dan cara pengolahannya, menurunnya energi serta hilangnya gigi (Maryam, 2012).
. Sedangkan faktor-faktor yang mempengaruhi kebutuhan gizi pada lansia yaitu berkurangnya kemampuan mencerna makanan akibat kerusakan gigi atau ompong, berkurangnya indera pengecapan mengakibatkan penurunan terhadap cita rasa, esophagus atau kerongkongan mengalami pelebaran, rasa lapar menurun dan asam lambung menurun, gerakan usus atau gerak peristaltic lemah dan
biasanya menimbulkan konstipasi, penyerapan makanan di usus menurun. (Azizah, 2011). Dapat disimpulkan bahwa kesehatan mulut termasuk berkurangnya jumlah gigi dapat mempengaruhi kualitas hidup lansia.
6. Oral Health- Related to Quality of Life
Dari hasil penelitian Skaret dkk. (2004) didapatkan, bahwa tidak ada satupun alat ukur yang dipandang standar dan komprehensif untuk menilai kesehatan mulut yang berhubungan dengan kualitas hidup. Namun Kressin dkk. (2008) telah mengembangkan dua alat ukur baru yang disebut sebagai Oral Health- Related to Quality of Life, yang menghipotesiskan kerangka
kerja yang terdiri dari 4 dimensi:
1. Fungsi Fisik, misalnya adanya keterbatasan mengunyah, atau berbicara
2. Fungsi Psikososial (dengan 3 subdimensi : fungsi peran, nyaman dan kecemasan). Fungsi psikososial misalnya kemampuan untuk menapilkan peran sosial seperti berbicara, tersenyum, dapay memenuhi kewajiban pada pekerjaan dan keluarga, kepuasan pasien dengan estetika gigi-giginya, nyaman dengan hubungan interpersonal, cemas, penuh perhatian dan malu astau kurang percaya diri disebabkan masalah gigi atau gusinya.
3. Kelemahan atau Penyakit, dan
22
4. Persepsi. Persepsi kesehatan mulut termasuk penilaian diri secara global dan kepuasan tentang status kesehatan mulut dan estetika termasuk kebutuhan perawatan.
Alat ukur tersebut terbukti dapat memperlihatkan memiliki psikometri yang baik dan sensitif terhadap indikator pemeriksaan klinik kesehatan mulut, serta dapat digunakan untuk menilai dampak kondisi kesehatan mulut dan dampak perawatan kesehatan mulut pada populasi yang berhubungan dengan kualitas hidup. (Sriyono, 2009)
7. Profil Panti Sosial Tresna Wredha
Panti Sosial Tresna Werdha (PSTW) “ Budi Pertiwi” berdiri pada tanggal 19 November 1948 dengan akta notaris No.23 tanggal 14 Juni 2006, tugas pokok dari PSTW “Budi Pertiwi” adalah memberikan pelayanan, bimbingan keagamaan, keterampilan serta pelayanan bimbingan dalam bentuk fisik, mental, sosial. Panti ini merupakan organisasi berbadan hukum yang bergerak dalam bidang pelayanan kesejahteraan sosial bagi para Lanjut Usia agar dapat terpenuhi kebutuhan hidup baik jasmani, rohani dan sosial. Sehingga lansia dapat menikmati hari tua dengan ketentraman lahir dan batin.
B. Kerangka Teori
24 BAB III
METODE PENELITIAN
A. Jenis Penelitian
Jenis penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah jenis penelitian deskriptif. Tujuan utama jenis penelitian deskriptif adalah membuat gambaran atau deskripsi tentang suatu keadaan secara obyektif. Keadaan yang digambarkan adalah keadaan gigi pada lansia yang meliputi indeks DMF-T, jumlah rata-rata gigi yang masih berfungsi, serta dampak kehilangan gigi terhadap kualitas hidup lansia di Panti Sosial Tresna Werdha Budi Pertiwi.
B. Waktu dan Tempat Penelitian 1. Waktu
Penelitian ini dilaksnakan pada November-Juni 2015 meliputi kegiatan persiapan surat ijin, pengumpulan data dan pengolahan data.
2. Tempat
Penelitian dilaksanakan di Panti Sosial Tresna Werdha Budi Pertiwi yang beralamat di Jalan Sancang No. 2 Bandung.
C. Populasi dan Sample 1. Populasi
Populasi dari penelitian ini adalah semua lansia yang ada di Panti Jompo Yayasan Tresna Wredha Budi Pertiwi sebanyak 30 orang lansia
yang berumur 66-91 tahun. Menurut Depkes RI (2013) yang termasuk kategori lansia yaitu yang berumur ≥60 tahun.
2. Sampel
Sampel adalah sebagian dari jumlah populasi untuk diteliti dapat mewakili populasi. Pada penilitian yang akan dilakukan, penulis menggunakan teknik pengambilan sampel dengan total sampling yaitu seluruh anggota populasi diambil sebagai sampel, yaitu 30 lansia.
D. Jenis dan Cara Pengumpulan Data 1. Jenis data
Jenis data yang dikumpulkan adalah data primer dan data sekunder.
Data primer adalah data yang diperoleh dari pemeriksaan langsung keadaan gigi pada lansia, serta pengisian kuisioner melalui wawancara lansung. Sedangkan data sekunder adalah data yang berisi biodata lansia dan profil panti jompo di Panti Sosial Tresna Werdha Budi Pertiwi.
2. Pengumpulan Data a. Data Primer
Pengumpulan data primer dilakukan dengan pemeriksaan langsung keadaan gigi lansia yang meliputi pemeriksaan indeks DMF-T, jumlah rata-rata gigi yang masih berfungsi, seta pengisisan kuisioner melalui wawancara langsung mengeni dampak kehilangan gigi terhadap kualitas hidup lansia di Panti Sosia Tresna Werdha Budi
26
Pertiwi. Setelah data terkumpul, dihitung, kemudian disajikan dalam bentuk tabel.
b. Data Sekunder
Pengumpulan data sekunder diperoleh dari Panti Sosial Tresna Werdha Budi Pertiwi yang berisi biodata lansia dan profil dari panti tersebut.
E. Alat dan Bahan Pengumpulan Data 1. Alat penelitian :
a. Alat Tulis Kantor (ATK) : 1) Lembar hasil pemeriksaan 2) Lembar kuisioner
3) Buku 4) Balpoint b. Alat Diagnostik
1) Sonde 2) Pinset 3) Kaca mulut 4) Eksavator
c. Alat Pelindung Diri (APD) 1) Masker
2) Sarung tangan
2. Bahan penelitian : a. Tissue
b. Alkohol 70%
F. Prosedur Penelitian
Penelitian dilakukan dengan cara : 1. Persiapan
a. Surat dari pihak Institusi Jurusan Keperawatan Gigi untuk melakukan penelitian
b. Persiapan alat dan bahan untuk melakukan pemeriksaan c. Persiapan lembar hasil penelitian
d. Persiapan lembar kuisioner 2. Pelaksanaan
a. Pengumpulan data
1) Pemeriksaan langsung kesehatan gigi dan mulut 2) Pengisian quisioner dengan wawancara langsung b. Pengolahan data
G. Pengolahan dan Analisa Data 1. Pengolahan data
Data yang telah didapatkan, dikumpulkan dan hasil pemeriksaan responden diteliti kembali untuk menghindari kekeliruan dalam pengisian hasil pemeriksaan, dan selanjutnya dimasukkan kedalam tabel secara manual dan komputer.
28
2. Analisa data
Data yang dihasilkan diolah dan akan disajikan dengan menggunakan metode analisa data dalam bentuk tabel distribusi frekuensi.
(Notoadmojo.S,2005)
29 BAB IV
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
A. Hasil Penelitian
Penelitian yang dilakukan terhadap lansia mengenai indeks DMF-T, jumlah rata-rata gigi yang masih berfungsi (mahkota utuh, tidak berlubang dan tidak goyang), serta dampak kehilangan gigi terhadap kualitas hidup lansia di Panti Sosial Tresna Werdha Budi Pertiwi, didapatkan hasil penelitian sebagai berikut:
1. Nilai Indeks DMF-T
Tabel 4.1 Ditribusi Frekuensi Indeks DMF-T Pada Lansia di Panti sosial Tresna Wredha Budi Pertiwi No Kategori Jumlah responden
(N)
Presentasi DMF-T (100 %)
1 ≤2 : Baik 0 0 %
2 ≥2 : Buruk 30 100 %
Jumlah 30 100 %
Pada tabel 4.1 terlihat sebanyak 30 responden (100%) mengalami DMF-T yang terkategori buruk.
30
2. Nilai Jumlah Rata-Rata Gigi
Tabel 4.2 Distribusi Frekuensi Jumlah Rata-Rata Gigi Lansia di Panti Sosial Tresna Wredha Budi Pertiwi
Pada tabel 4.2 terlihat sebanyak 30 responden (100%) memiliki jumlah gigi sehat yang berkategori buruk.
3. Dampak Kehilangan Gigi Terhadap Kualitas Hidup Lansia a. Dampak Terhadap Fungsi Fisik
Gambar 4.1 Distribusi Frekuensi Persentase Lansia Mengalami Keterbatasan Saat Mengunyah
Pada gambar 4.1 terlihat sebanyak 16 keterbatasan saat mengunyah.
No Kategori Jumlah
responden (N)
Presentse Jumlah Gigi
(%)
1 >20 : Baik 0 0 %
2 < 20 : Buruk 30 100 %
Jumlah 30 100 %
b. Dampak Terhadap Fungsi Psikososial
Gambar 4.2 Distribusi Frekuensi Persentase Lansia Mengalami Keterbatasan Saat Berbicara
Pada gambar 4.2 terlihat sebanyak 16 responden (53%) tidak mengalami keterbatasan saat berbicara.
Gambar 4.3 Distribusi Frekuensi Persentase Lansia Mengalami Keterbatasan Saat Tersenyum
Pada gambar 4.3 terlihat 19 responden (63% tidak mengalami keterbatasan saat tersenyum.
32
Gambar 4.4 Distribusi Frekuensi Persentase Lansia Merasakan Malu atau Kurang Percaya Diri
Saat Berkomunikasi
Saat Berkomunikasi