BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
B. Pembahasan
Berdasarkan hasil penelitian menunjukkan bahwa seluruh reponden yaitu berjumlah 30 (100 %) memiliki indeks DMF-T ≥2 buruk. Sebanyak 30 responden memiliki rata-rata DMF-T sebanyak 19,87, dimana rata-rata decay yaitu 7,70 yang berarti setiap responden memiliki 7-8 lubang gigi, rata-rata missing 12,17 yang berarti setiap responden sudah kehilangan gigi akibat
karies atau lubang gigi sebanyak 12 gigi dan filling 0 yang berarti lubang gigi tidak pernah dilakukan perawatan penambalan. Data missing pada penelitian ini belum dikatakan akurat karena terbatasnya ingatan lansia dan hanya 77%
responden yang mengetahui penyebab hilangnya gigi karena karies.
Tingginya indeks DMF-T yang dialami responden sangat jauh dengan standar WHO yang menyatakan bahwa indikator DMF-T dikatakan baik apabila lubang gigi tidak lebih dari dua. Tingginya angka DMF-T mempengaruhi fungsi fisik seperti terbatasnya kemampuan lansia untuk mengunyah makanan serta fungsi psikososial seperti keterbatasan untuk berkomunikasi. Pada wawancara kuesioner yang dilakukan peneliti, tingginya angka DMF-T yang dialami respoden di Panti Tresna Wredha Budi Pertiwi dipengaruhi oleh beberapa faktor yaitu kurangnya kesadaran diri dalam pemeliharaan kesehatan gigi dan mulut, kurangnya pengetahuan akan pentingnya memelihara kesehatan gigi dan mulut serta waktu dan teknik menyikat gigi yang kurang tepat. Solusinya yaitu dengan meningkatkan pemeliharaan melalui penyuluhan yang dilakukan baik dari pihak panti maupun bekerja sama dengan puskesmas atau pihak lain yang berkompeten. Dengan
bertambahnya pengetahuan, diharapkan lansia dapat merubah perilaku dari yang tidak benar menjadi benar agar nilai DMF-T tidak bertambah tinggi.
Selain itu, engadakan kerjasama dengan puskesmas atau pihak lain yang berkompeten untuk meningkatkan tindakan kuratif seperti perawatan penambalan gigi berlubang, pencabutan sisa akar, pembersihan karang gigi guna mencegah terjadinya penyakit atau infeksi lebih lanjut.
Semakin bertambahnya usia, jumlah gigi yang masih berfungsi normal semakin berkurang (Riskesdas, 2013). Berdasarkan hasil penelitian peneliti, rata-rata missing lebih tinggi dibandingkan dengan rata-rata decay dan filling.
Data ini menunjukkan bahwa lebih banyak responden yang dicabut giginya daripada berupaya memelihara dan mempertahankan gigi. Rata-rata responden hanya memiliki 7-8 buah gigi yang masih berfungsi (mahkota utuh, tidak berlubang, dan tidak goyang) dan kehilangan sebanyak 23-24 buah gigi. Kejadian kehilangan gigi ini sangat jauh dari standar WHO yang menyatakan bahwa lansia berumur ≤ 65 tahun seharusnya memiliki minimal 20 buah gigi berfungsi normal. Sebanyak 23 responden (40%) mengetahui penyebab hilangnya gigi, yaitu karena sakit gigi (77%) sehingga dilakukan perawatan pencabutan gigi (63%). Sedikitnya jumlah gigi yang masih berfungsi pada lansia ini mengakibatkan penurunan kualitas pencernaan.
Sebagaimana mulut berfungsi sebagai tempat masuknya makanan lalu gigi yang berfungsi untuk memotong, merobek, serta mengunyah, menjadi tidak maksimal fungsinya. Lansia tentu harus memilah-milah jenis makanan yang mampu mereka konsumsi yaitu makanan yang lembut dan mudah untuk
36
dicerna. Terbatasnya pemilihan makanan mengakibatkan asupan gizi menjadi tidak optimal. Solusi untuk mengatasi hal tersebut yaitu dengan pemakaian protesa sehingga dapat meningkatkan kemampuan mengunyah dan tidak terjadinya pemilihan makanan serta kebutuhan gizi lansia terpenuhi dengan baik.
Berkurangnya fungsi normal gigi pada lansia berdampak pada kualitas hidup lansia (Anonim, 2004 cit Sriyono N.W, 2009). Untuk mengetahui dampak kualitas hidup pada lansia akibat dari status kesehatan gigi, peneliti menngacu kepada alat ukur yang telah dikembangkan oleh Kressin dkk. (2008) yang disebut sebagai Oral Health- Related to Quality of Life, menghipotesiskan kerangka kerja yang terdiri dari 4 dimensi; 1)Fungsi
Fisik ;2) Fungsi Psikososial (dengan 3 subdimensi : fungsi peran, nyaman dan kecemasan); 3) Kelemahan atau Penyakit, dan 4) Persepsi. Dalam hal ini, peneliti hanya mengambil tiga dimensi saja yaitu fungsi fisik, fungsi psikososial dan persepsi atau kepuasan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa dilihat dari fungsi fisik, sebanyak 16 responden (53%) mengalami keterbatasan mengunyah karena berkurangnya fungsi normal gigi akibat adanya lubang pada gigi dan gigi yang hilang karena dicabut, tetapi hanya sebagian lansia menggunakan protesa yaitu sebanyak 3 responden (10%).
Lansia mengalami keterbatasan dalam pemilihan makanan, hanya makanan tertentu saja yang dapat dikonsumsi seperti; nasi tim, sayur, tempe tahu atau makanan yang lembut dan tidak keras. Sebanyak 14 responden (47%) tidak mengalami keterbatasan mengunyah dengan alasan gigi geraham mereka
yang masih utuh atau masih adanya gigi yang bisa digunakan untuk menyunyah sekalipun yang tersisa hanya satu hingga dua gigi saja. Untuk mengatasi dampak kehilangan gigi pada fungsi fisik keterbatasan mengunyah, yaitu dengan pemakaian protesa sehingga dapat meningkatkan kemampuan mengunyah.
Dampak kehilangan gigi jika dilihat dari fungsi psikososial, sebanyak 16 responden (53%) tidak mengalami keterbatasan berbicara, bahkan mereka masih bisa bernyanyi dengan baik. Sebanyak 29 responden (63%) tidak memiliki keterbatasan saat tersenyum, bahkan beberapa diantara mereka masih bisa tertawa tanpa harus menutup mulut dengan tangan. Sebanyak 18 responden (60%) tidak merasa malu atau kurang percaya diri, sebanyak 17 responden (57%) merasa nyaman saat berkomunikasi, sebanyak 21 responden (70%) tidak merasa cemas saat berkomunikasi. Dampak kehilangan gigi tidak banyak terpengaruh terhadap fungsi psikososial karena dari presentase diatas, jumlah responden yang memiliki keterbatasan lebih sedikit dibanding jumlah responden yang tidak merasa terbatasi akibat status gigi dan mulutnya.
Responden masih dapat berbicara dengan cukup baik, tersenyum, tertawa, bernyanyi, dan bahkan merasa sangat percaya diri. Motivasi, dukungan dan harapan tetap harus diberikan kepada lansia agar lansia dapat hidup sejahtera baik lahir maupun batin.
Persepsi atau kepuasan pada estetik dan kebutuhan perawatan sangat diperlukan guna mendapatkan kualitas hidup yang baik. Berdasarkan hasil penelitian didapatkan sebanyak 16 responden (53%) merasa puas terhadap
38
status gigi dan mulutnya. Berdasarkan hasil wawancara yang dilakukan peneliti, responden yang memiliki kepuasan tersendiri dari segi estetik walaupun dari segi kebutuhan perawatan sendiri belum cukup terpenuhi, memiliki alasan yaitu mereka menyadari bahwa umur mereka sudah mencapai lanjut usia dan dapat menerima keadaan tersebut bahkan tetap merasa bersyukur dengan keadaan status gigi dan mulutnya. Lansia di PTSW masih bisa aktif menjalankam aktivitas keseharian seperti senam, pengajian rutin setiap minggu, bermain kesenian angklung, dsb. Beberapa responden merasa tidak puas dengan status kesehatan gigi dan mulutnya beralasan bahwa mereka ingin di rawat dan mendapatkan perawatan yang sesuai dengan kebutuhan terutama untuk pemasangan protesa. Solusi untuk masalah tersebut yaitu dengan pemakaian protesa sehingga dapat meningkatkan kepercayaan diri pada lansia karena kebutuhan estetik terpenuhi.
38 A. Kesimpulan
Dari hasil penelitian maka penulis dapat mengambil kesimpulan sebagai berikut:
1. Indeks DMF-T pada responden dengan nilai DMF-T ≥2 sebanyak 100 % dengan kategori buruk.
2. Rata-rata jumlah gigi sehat yang masih ada pada responden sebanyak sebanyak 7-8 buah gigi dan termasuk kategori buruk sebanyak 100 %.
3. Dampak status kesehatan gigi dan mulut terahadap kuakitas hidup lansia menurut Kressin (2008) yaitu :
a. Menurut fungsi fisik, sebanyak 53% responden mengalami keterbatasan saat mengunyah.
b. Menurut fungsi psikososial, terdiri dari:
1) Keterbatasan berbicara
Sebanyak 53% tidak mengalami keterbatasan saat berbicara.
2) Keterbatasan tersenyum
Sebanyak 63% tidak mengalami keterbatasan saat tersenyum.
3) Malu atau kurang percaya diri saat berkomunikasi
Sebanyak 60% tidak merasakan malu atau kurang percaya diri saat berkomunikasi.
40
4) Kenyamanan saat berkomunikasi
Sebanyak 57% merasakan kenyamanan saat berkomunikasi.
5) Kecemasan saat berkomunikasi
Sebanyak 70% tidak merasakan kecemasan saat berkomunikasi.
c. Kepuasan terhadap status kesehatan gigi dan mulut (persepsi) sebanyak 53% merasa puas terhadap status kesehatan gigi dan mulut.
B. Saran
Berdasarkan kesimpulan yang telah diuraikan diatas, perlu adanya perhatian khusus dari pihak panti terhadap status kesehatan gigi dan mulut lansia di Panti Sosial Tresna Wredha Budi Pertiwi, maka penulis mengemukakan beberapa saran sebagai berikut:
1. Meningkatkan pemeliharaan melalui penyuluhan yang dilakukan baik dari pihak panti maupun bekerja sama dengan puskesmas atau pihak lain yang berkompeten.
2. Mengadakan kerjasama dengan puskesmas atau pihak lain yang berkompeten untuk meningkatkan tindakan kuratif seperti perawatan penambalan gigi berlubang, pencabutan sisa akar, pembersihan karang gigi.
3. Mengadakan kerjasama dengan puskesmas atau pihak lain yang berkompeten untuk meningkatkan tindakan rehabilitatif seperti pembuatan protesa.
4. Memberikan motivasi, dukungan dan harapan bagi lansia baik secara fisik maupun psikologis agar lansia dapat hidup sejahtera baik lahir maupun batin.
5. Memberikan makanan yang beraneka ragam dan memiliki kandungan gizi yang cukup bagi lansia serta makanan yang disajikan diolah dengan lembut.