• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB I. PENDAHULUAN

D. Manfaat Penelitian

Sejumlah manfaat yang dapat diperoleh dari penelitian ini diantaranya:

1. Secara Teoritis,

Hasil penelitian ini diharapkan dapat digunakan sebagai bahan acuan untuk penelitian mengenai media secara lebih mendalam dan dapat digunakan sebagai bahan acuan teori-teori komunikasi dan menjadi referensi penelitian lain yang sejenis.

2. Secara Praktis,

Memberikan wacanabaru terkait kepentingan media terhadap pemberitaannya, dan juga melihat aspek ideologi media. Dengan menggunakan studi yang bertujuan untuk membongkar ideologi media di balik pemberitaan suratkabar.

E. Tinjauan Teoritis

1. Komunikasi dan Media Massa

Komunikasi mempunyai banyak arti dan sifat serba ada. Fenomena komunikasi adalah sesuatu yang konstan dan tidak berubah tetapi hanya pemahamannya saja yang berubah. Dari pernyataan Wawan Kuswandi komunikasi berasal dari bahasa Yunani, yaitu “common” yang diterjemahkan dalam bahasa inggris menjadi “shared by all alike”.7

Menurut Astrid S. Susanto komunikasi adalah: “suatu kegiatan pengoperan lambang-lambang yang mengandung arti dan bertujuan memberi

7Wawan Kuswadi, Komunikasi Massa, Sebuah Analisis Media Televisi, Rineka Cipta, Jakarta, 1996, hal.16

commit to user

partisipasi”.8 Dalam berkomunikasi, setidaknya suatu sumber membangkitkan respons pada penerima melalui penyampaian suatu pesan dalam bentuk tanda atau simbol baik dalam bentuk verbal (kata-kata) atau bentuk non-verbal (nonkata-kata), tanpa harus memastikan terlebih dahulu bahwa kedua belah pihak yang berkomunikasi punya suatu simbol yang sama. Simbol atau lambang adalah sesutu yang mewakili sesuatu lainnya berdasarkan kesepakatan bersama.9 Dari uraian tersebut, dapat dikatakan bahwa komunikasi itu mempunyai beberapa pengertian pokok, yaitu:

a. Komunikasi adalah suatu proses mengenai pembentukan, penyampaian, penurunan dan pengolahan pesan. Membentuk pesan, artinya menciptakan sesuatu idea atau gagasan.

b. Pesan merupakan produk utama komunikasi, pesan dapat berupa lambang-lambang yang menyelesaikan ide/gagasan, sikap, perasaan, praktek atau tindakan. Bentuk bisa berupa kata-kata, gerak-gerik, atau tingkah laku.

c. Komunikasi dapat terjadi dalam diri seseorang, antara dua orang, diantara beberapa orang atau banyak orang.

d. Komunikasi mempunyai tujuan tertentu, yang artinya komunikasi yang dilakukan sesuai dengan keinginan dan kepentingan para pelakunya.

Seiring dengan perjalanan peradaban manusia, maka kebutuhan akan komunikasi juga mengalami perubahan. Untuk berkomunikasi, manusia tidak hanya mengandalkan cara-cara yang sederhana, akan tetapi juga menggunakan

8Astrid S. Susanto, Komunikasi Dalam Teori Dan Praktek Jilid 2, Bina Cipta, Bandung, 1984, hal.1

9Deddy Mulyana, Komunnikasi Efektif, Remaja Rosda Karya, Bandung, 2004, hal. 3

dan memanfaatkan berbagai media yang diciptakan untuk memenuhi kebutuhan komunikasinya seperti: film, televisi, radio, majalah dan surat kabar.

Komunikasi yang menggunakan media massa lazim kita sebut sebagai komunikasi massa. Secara konkretnya Little Jhon mendefinisikan komunikasi massa adalah suatu proses dimana organisasi media memproduksi pesan-pesan (messages) dan mengirimkan kepada publik. Melalui proses tersebut, sejumlah pesan akan digunakan atau dikonsumsi audiens.10

Definisi yang paling sederhana tentang komunikasi massa dirumuskan Bittner: “Mass communications is message communicated through a mass medium to a large number of people” (komunkasi massa adalah pesan yang dikomunikasikan melalui media massa pada sejumlah besar orang).11

Definisi yang lebih lengkap adalah: “Komunikasi massa diartikan sebagai jenis komunikasi yang ditujukan kepada sejumlah khalayak yang tersebar, heterogen, dan anonym melalui media cetak atau elektronis, sehingga pesan yang sama dapat diterima secara serentak dan sesaat.”12

Media massa, baik cetak maupun elektronik merupakan salah satu komponen pokok yang memungkinkan berlangsungnya komunikasi massa.

Berbicara mengenai media massa berarti berbicara tentang serangkaian kegiatan produksi budaya dan informasi yang dilaksanakan oleh berbagai tipe komunikator massa untuk disalurkan kepada khalayak, sesui dengan peraturan dan kebiasaan yang ada. Dalam hal ini, tugas pokok komunikator massa atau

10Redi Panuju, Sistem Komuniasi Indonesia, Pustaka Pelajar, Yogyakarta,1997, hal.117

11Jalaluddin Rahmat, Psikologi Komunikasi, Remaja Rosda Karya, Bandung, 1994, hal. 188

12Ibid, hal. 189

commit to user

para pekerja media adalah mengkontruksi realitas. Disebabkan sifat dan faktanya bahwa pekerjaan media massa adalah menceritakan peristiwa-peristiwa, maka seluruh isi media merupakan realitas yang dikkontruksikan (constructed reality).

Pembuatan berita di media massa pada dasarnya tak lebih dari penyusunan realitas-realitas hingga membentuk sebuah “cerita”. Seperti fungsi media massa yang dikemukakan ahli komunikasi Dr. Harold D Laswell, sebagai berikut:13

a. The Surveillance of the environment.

Artinya, media massa mempunyai fungsi sebagai pengamat lingkungan atau dalam bahasa sederhana, sebagai pemberi informasi tentang hal-hal yang berada di luar jangkauan penglihatan kepada masyarakat luas.

b. The corellation of parts of society in responding to the environment Artinya, media massa berfungsi untuk melakukan seleksi, evaluasi dan interpretasi dari informasi. Dalam hal ini peran media massa adalah melakukan seleksi mengenai apa yang perlu dan pantas untuk disiarkan . pemilihan dilakukan oleh editor, reporter redaktur yang mengelola media massa.

c. The Tranmission of the social heritage from one generation to the next.

13 Darwanto, S.S, Televisi sebagai Media Pendidikan. Pustaka Pelajar, Yogyakarta, 2007, hal.32-33

Artinya, media massa sebagai sarana untuk menyampaikan nilai dan warisan social budaya dari satu generasi ke generasi yang lain.

Umumnya secara sederhana fungsi media massa ini dimaksudkan sebagai fungsi pendidikan (educational function of mass media).

Isi media merupakan hasil rekontruksi dari berbagai realitas yang dipilihnya. Isi media pada hakekatnya merupakan hasil konstruksi realitas dengan bahasa sebagai perangkat dasarnya. Sedangkan, bahasa bukan saja sebagai alat mempresentasikan realitas, namun juga bisa menentutkan relief seperti apa yang akan diciptakan oleh bahasa tentang realitas tersebut.

Akibatnya, media massa mempunyai peluang yang sangat besar untuk mempengaruhi makna dan gambaran yang dihasilkan dari realitas yang dikontruksinya14.

Media massa dilihat sebagai media diskusi pihak-pihak dengan ideologi dan kepentingan yang berbeda-beda. Mereka berusaha menonjolkan kerangka pemikiran, perspektif, konsep dan klaim interpretatif masing-masing dalam rangka memaknai objek wacana15. Keterlibatan mereka dalam suatu diskusi sangat dipengaruhi oleh status, wawasan, dan pengalaman sosial masing-masing. Dalam konteks inilah, media kemudian menjadi arena perang simbolik antara pihak-pihak yang berkepentingan dengan suatu objek wacana.

Perdebatan yang terjadi di dalamnya dilakukan dengan cara-cara yang simbolik, sehingga lazim ditemukan bermacam-macam perangkat linguitik

14Alex Sobur, Analisis Teks Media; Suatu Pengantar Untuk Analisis Wacana. Analisis Semiotik Dan Analisis Framing, Remaja Rosdakarya, Bandung, 2001, hal 88

15Agus Sudibyo, Politik Media dan Pertarungan Wacana. LkiS. Yogyakarta. 2001. hal 220-221

commit to user

atau perangkat wacana yang umumnya menyiratkan tendensi untuk melegitimasi diri sendiri dan mendelegitimasi pihak lawan.

Manakala konstruk realitas media berbeda dengan realitas yang ada di masyarakat, maka hakikatnya telah terjadi kekerasan simbolik. Kekerasan simbolik bisa berwujud melalui penggunaan bahasa penghalusan, pengaburan, atau bahkan pengasaran fakta. Singkatnya, kekerasan simbolik tak hanya beroprasi melalui bahasa, namun juga terjadi pada isi bahasa (langue content) itu sendir, yakni pada apa yang diucapkan, disampaikan atau diskpresikan16.

Menurut Defleur dan Ball-Rokeach (1989)17, ada berbagai cara media massa mempengaruhi bahasa dan makna ini, antara lain: mengembangkan kata-kata baru beserta makna asosiatifnya; memperluas makna dari istilah-istilah yang ada; mengganti makna lama sebuah istilah-istilah dengan makna baru;

memantapkan konvensi makna yang telah ada dalam sistem bahasa. Dengan begitu, penggunaan bahasa tertentu jelas berimplikasi terhadap kemunculan makna tertentu. Pilihan kata dan cara penyajian suatu realitas turut menetukan bentuk konstruksi realitas yang sekaligus menentukan makna yang muncul darinya. Berkenaan dengan hal tersebut, media massa pada dasarnya melakukan berbagai tindakan dalam kontruksi realitas di mana hasil akhirnya berpengaruh kuat terhadap pembentukan makna dan citra tentang suatu realitas.

16Alex Sobur, Op Cit.,. 2001. Hal 89

17Alex Sobur, Ibid., 2001, hal. 90

2. Surat Kabar dan Berita

Harimurti Kridalaksana memberikan definisi surat kabar sebagai terbitan berkala yang memuat berita, risalah, karangan, iklan dan lain sebagainya.18

Dalam sejarah persuratkabaran, ia lahir karena kebutuhan akan berita yang aktual sejak permulaan diterbitkan dalam abad ke-17, dan kemudian dijadikan ciri khas yang membedakan surat kabar dengan buku dan penerbitan lainnya. Bila dibandingkan dengan media lainnya, surat kabar unggul dalam aspek informasi. Informasi yang disampaikan lebih lengkap, terinci dan tidak hilang, artinya ia bisa didata ulang, memungkinkan pembaca untuk menyimpan informasi secara utuh.

Disamping hal tersebut, masih terdapat persyaratan lain yang menjadi ciri utama surat kabar, antara lain:

a. Periodisitas

Artinya, surat kabar harus diselenggarakan secara teratur dan terus menerus. Sebagai contoh terdapat surat kabar harian, dwi mingguan atau mingguan

b. Universalitas

Artinya, surat kabar memuat tentang segala aspek kehidupan manusia;

masalah politik, ekonomi, perdagangan sosial, budaya, olah raga dan lain sebagainya. Sifat umum atau universalitas surat kabar mengandung arti bahwa surat kabar mengemban kepentingan umum

18Harimurti Kridalaksana, ed. Leksikon Komunikasi, Pradya Paramita, Jakarta, 1984, hal. 102 dalam Muchlis Yahya, Komunikasi Politik dan Media Massa, Gunung Jati, Semarang, 2000, hal.

102-103

commit to user

atas nama masyarakat dan surat kabar ditujukan kepada seluruh penduduk atau masyarakat.

c. Objektivitas

Artinya, merupakan nilai etika dan moral yang harus dipegang teguh oleh surat kabar dalam menjalankan profesi jurnalistiknya. Setiap berita yang disuguhkan harus dipercaya dan menarik perhatian pembacanya, tidak menggangu perasaan dan pendapat mereka. Surat kabar yang baik harus dapat menyajikan hal-hal faktual apa adanya, sehingga kebenaran isi berita yang disampaikan tidak menimbulkan tanda tanya.

d. Afinitas

Artinya, unsur ketergantungan yang merupakan salah satu cara atau usaha menjalin hubungan antara pihak penyelenggara surat kabar dengan pembacanya.

Unsur terpenting dari sebuah surat kabar bahkan media massa lainnya seperti radio dantelevisi adalah berita. Lebih dari 90% isi sebuah harian atau surat kabar adalah berita dalam arti luas.

Berita adalah hasil akhir dari proses kompleks dengan menyortir (memilah-milah) dan menentukan peristiwa dan tema-tema tertentu dalam satu katagori tertentu.19 Setiap hari ada jutaan fakta atau peristiwa di dunia ini dan semuanya potensial dapat menjadi berita. Peristiwa-peristiwa itu tidak serta merta menjadi berita karena batasan yang disediakan dan dihitung, mana

19Eriyanto, Op Cit., 2002, hal. 102

berita dan mana bukan berita. Berita, karenanya, peristiwa yang telah ditentukan sehingga berita, bukan peristiwa itu sendiri.

Setiap peristiwa tidak lantas dapat disebut sebagai berita, tetapi ia harus dinilai terlebih dahulu apakah peristiwa tersebut memenuhi kriteria nilai berita. Nilai-nilai berita menentukan bukan hanya peristiwa apa saja yang akan diberitakan, melainkan juga bagaimana peristiwa didefinisikan. Ketika seseorang wartawan mengatakan sebagai berita, peristriwa yang mempunyai ukuran-ukuran tertentu saja yang layak dan bisa disebut berita. Ini merupakan prosedur pertama dari bagaimana dikontruksi. Tidak semua aspek dari peristiwa juga dilaporkan, ia juga harus dinilai terlebih dahulu, bagian mana dari peristiwa yang mempunyai nilai berita tinggi-bagian itulah yang terus-menurus dilaporkan.20

Sebuah peristiwa baru disebut mempunyai nilai berita, dan karenanya layak diberitakan apabila peristiwa itu mengandung satu atau beberapa unsur kelayakan atau nilai berita. Unsur-unsur tersebut antara lain:21

a. Significance (penting)

Yakni kejadian yang berkemungkinan mempengaruhi kehidupan orang banyak atau kejadian yang mempunayai akibat terhadap kehidupan pembaca.

b. Magnitude (besaran)

Adalah kejadian yang menyangkut angka-angka berarti bagi kehidupan orang banyak atau kejadian yang menarik buat pembaca.

20Eriyanto, Ibid., 2002, hal. 104

21Mursito BM, Op Cit., 1999, hal. 38-39

commit to user

c. Timeliness (waktu)

Yaitu kejadian yang menyangkut hal-hak baru terjadi atau baru diketemukan.

d. Proximity (dekat)

Yakni kejadian yang dekat dengan pembaca, kedekatan ini bisa bersifat geografis maupun emosional.

e. Prominance (ketenaran)

Yaitu menyangkut hal-hal yang terkenal atau sangat dikenal oleh pembaca.

f. Humen Interest (manusiawi)

Adalah kejadian yang memberi sentuhan perasaan bagi pembaca, kejadian yang menyangkut bagi orang biasa dalam situasi luar biasa atau orang besar dalam situasi biasa.

3. Proses Produksi Berita

Pembentukan berita merupakan proses yang rumit dan banyak faktor yang berpotensi mempengaruhi. Oleh sebab itu, niscaya akan terjadi pertarungan dalam memaknai realitas dan presentasi media. Apa yang disajikan media, pada dasarnya adalah akumulasi dari pengaruh yang beragam. Pamela J. Shoemaker dan Stephen D Reese, meringkas berbagai faktor yang mempengaruhi pengambilan keputusan dalam ruang pemberitaan.22

22Agus Sudibyo, Op Cit., 2001. Hal 7-13

Pertama, faktor individual, level melihat bagaimana pengaruh aspek-aspek personel dari pengelola media mempengaruhi pemberitaan yang akan ditampilkan kepada khalayak. Latar belakang individu seperti jenis kelamin, umur atau agama sedikit banyak akan mempengaruhi apa yang akan ditampilkan media. Aspek personel tersebut secara hipotetik mempengaruhi skema pemahaman pengelola media.

Kedua, level rutinitas media, berhubungan dengan mekanisme dan proses penentuan berita. Setiap media umumnya mempunnyai ukuran tersendiri tentang apa yang disebut berita, apa ciri-ciri berita yang baik atau kriteria kelayakan berita. Ukuran tersebut adalah rutinitas yang berlangsung tiap hari dan menjadi prosedur standar bagi pengelola media yang berada didalamnya.

Ketiga, level organisasi, berhubungan dengan struktur organisasi yang secara hipotetik mempengaruhi pemberitaan pengelola media dan wartawan bukan orang tunggal yang berada dalam organisasi tersebut. Masing-masing organisasi media bisa jadi mempunyai kepentingan.

Keempat, level ekstra media. Faktor ini berhubungan dengan faktor lingkungan diluar media, antara lain sumber berita, sumber penghasilan media, pemerintah, lingkungan bisnis dan lain sebagainya.

Kelima, level ideologi. Ideologi di sini diartikan sebagai kerangka berpikir atau kerangka refrensi tertentu yang dipakai oleh individu untuk melihat realitas dan bagaimanamereka menghadapinya. Elemen ini bersifat

commit to user

abstrak, ia berhubungan dengan konsepsi atau posisi seseorang dalam menafsirkan realitas.

Berita, dalam pandangan Fishman, bukanlah refleksi atau distorsi dari realitas yang seakan berada diluar sana. Titik perhatian tentu saja bukan apakah berita merefleksikan realitas. Tetapi berita adalah apa yang pembuat berita buat.23Hal itu selaras dengan pendekatan pembentukan berita (creation of news). Dalam perspektif ini, peristiwa bukan diseleksi, melainkan sebaliknya, dibentuk (dikontruksi).

Menurut Fishman, ada dua kecenderungan studi bagaimana proses produksi berita dilihat. Pandangan pertama sering disebut sebagai pandangan seleksi berita (selectivity of news). Dalam bentuknya yang umum, pandangan ini seringkali melahirkan teori seperti gatekeeper. Intinya, proses produksi berita adalah proses seleksi. Pandangan ini mengandaikan seolah-olah ada realitas yang benar-benar riil berada di luar untuk kemudian dibentuk dalam sebuah berita.

Pendekatan kedua adalah pendekatan pembentukan berita (creation of news). Perspektif ini menganggap peristiwa ini bukan diseleksi, melainkan sebaliknya, yakni dibentuk. Wartawanlah yang membentuk peristiwa mana yang disebut berita dan mana yang tidak. Peristiwa dan realitas bukanlah diseleksi, melainkan dikreasi oleh wartawan. Titik perhatian terutama difokuskan dalam rutinitas dan nilai-nilai kerja wartawan yang memproduksi berita tertentu.

23Eriyanto, Op Cit., 2002, hal. 100

4. Nilai Budaya

Istilah budaya berasal dari bahasa Sansekreta yakni buddhayah merupakan bentuk jamak dari kata buddhi atau akal. Sedangkan menurut Koentjaraningrat budaya merupakan keseluruhan sistem gagasan, tindakan dan hasil karya manusia dalam rangka kehidupan masyarakat yang dijadikan milik diri manusia dengan belajar.24

Dalam antropologi budaya, ruang lingkup kajian ini mencakup variasi obyek yang sangat luas, seperti yang dikemukakan oleh Trenholm dan Jensen bahwa budaya merupakan seperangkat nilai, kepercayaan, norma, dan adat-istiadat, aturan dan kode, yang secara social mendefinisikan kelompok-kelompok orang, mengikat mereka satu sama lainy dan member mereka kesadaran bersama.25

Unsur-unsur ini tidak dapat terpisahkan satu dengan yang lain tetapi malah saling berinteraksi satu dengan yang lain sehingga terbentuklah suatu sistem kebudayaan tersendiri dan berada dalam pikiran setiap manusia. Jika manusia menyatakan gagasan dalam bentuk tulisan, maka letak dari kebudayaan tersebut berada dalam buku-buku hasil karya manusia. Selain itu juga terdapat kebudayaan sebagai suatu kompleks aktivitas serta tindakan berpola dari manusia dalam masyarakat. Kebudayaan ini bersifat konkret yang dapat dilihat dari aktivitas-aktivitas manusia dalam berinteraksi, berhubungan, serta bergaul satu dengan yang lain menurut pola-pola tertentu berdasarkan adat tata kelakuan.

24Hari Poerwanto, Kebudayaan dan Lingkungan. LkiS. Yogyakarta. 2000. hal 52

25 Dedy Mulyana, Komunikasi Efektif. Remaja Rosda Karya. Bandung. 2004 hal 15

commit to user

Dalam realitas kehidupan manusia ketiga variasi obyek budaya tersebut merupakan hal yang saling berkaitan. Hal ini dikarenakan adat istiadat mengatur dan memberi arah kepada tindakan dan karya manusia,baik pikiran-pikiran, ide-ide, tindakan dan karya manusia, sehingga menghasilkan benda-benda kebudayaan fisiknya. Sedangkan bila dilihat dari keberadaan ertefak maka, kebudayaan fisik membentuk suatu lingkungan hidup tertentu yang makin lama makin menjauhkan manusia dari lingkungan alamiahnya sehingga mempengaruhi juga pola-pola perbuatannya dan cara berpikirnya. Dalam hal ini keberadaan bangunan pabrik Es Saripetojo dapat dikatagorikan sebagai kebudayaan berupa artefak yang disebut sebagai kebudayaan fisik. Hal ini dapat dilihat bagaimana arsitektur dari bangunan pabrik Es Saripetojo yang menunjukan kebudayaan pada saat pabrik es tersebut dibangun.

5. Framing Sebagai Teknik Analisis

Analisis framing merupakan versi terbaru dari pendekatan analisis wacana, khususnya untuk menganalisis teks media. Gagasan tentang framing pertama kali dilontarkan oleh Beterson tahun 1955.26 Pada awalnya, framing dimaknai sebagai struktur konseptual atau perangkat kepercayaan yang mengorganisisir pandangan politik, kebijakan, dan wacana, serta yang menyediakan katagori-katagori standar untuk mengapresiasi realitas.

Selanjutnya konsep ini dikembangkan oleh Goffman seperti yang disebutkan dalam Jurnal of Visual Lietracy disebutkan: The idea of framing first appeared

26Alex Sobur, Op Cit., 2001, hal. 161-162

in Goffman’s seminal work in1974, which postulated that the context and organization of messages affect audiences, subsequent thoughts and actions about those messages.27 Konsep ini kemudian dikembangkan lebih jauh oleh Goffman pada tahun 1974, mengandalkan framingsebagai kepingan-kepingan perilaku (strips of behavior) yang membimbing dalam membuka realitas.28

Sebagai sebuah konsep, framing atau frame sendiri bukan murni konsep ilmu komunikasi, melainkan dipinjam dari ilmu kognitif (psikologi).

Dalam praktiknya, analisis framing juga membuka peluang bagi implementasi konsep-konsep sosiologis, politik dan kultural untuk menganalisa fenomena komunikasi, sehingga suatu fenomena dapat diapresiasi dan dianalisa berdasarkan konteks sosiologis, politis atau kultural yang melingkupinya.

Dalam perspektif komunikasi, analisis framing dipakai untuk membedah cara-cara atau ideologi media saat mengkonstruksikan fakta.

Framing adalah pendekatan untuk melihat bagaimana realitas itu dibentuk dan dikonstruksikan oleh media. Proses pembentukan dan konstruksi reralitas itu, hasil akhirnya adalah adanya bagian tertentu dari realitas yang lebih menonjol dan lebih mudah dikenal. Akibatnya, khalayak lebih mudah mengingat aspek-aspek tertentu yang disajikan secara menonjol oleh media.

Aspek-aspek yang tidak disajikan secara menonjol, bahkan tidak diberitakan, menjadi terlupakan dan sama sekali tidak diperhatikan oleh khalayak.

Framing merupakan sebuah cara bagaimana peristiwa disajikan oleh media.29

27Journal of Visual Literacy. The levels of visual framing. 2011. Hal 48

28Agus Sudibyo, Op Cit., 2001, hal. 219

29Eriyanto, Op Cit., 2002, hal. 66

commit to user

Selain itu, framing adalah pendekatan untuk mengetahui bagaimana perpektif atau cara pandang wartawan ketika menyeleksi isu dan menulis berita.30

Apabila ditarik kesimpulan, framing mempunyai dua aspek penting.

Pertama, memilih fakta atau realitas. Proses memilih fakta ini didasarkan dari asumsi, wartawan tidak mungkin melihat peristiwa tanpa perspektif. Dalam melihat fakta ini terkandung dua kemungkinan: apa yang dipilih (include) dan apa yang dibuang (exclude). Penekanan aspek tertentu itu dilakukan dengan memilih angle tertentu, dan melupakan faktor yang lain, memberitakan aspek tertentu dan melupakan aspek yang lainnya. Akibatnya, pemahaman dan konstruksi atas suatu peristiwa bisa jadi berbeda natara satu media dengan media lainnya. Kedua, menuliskan fakta. Proses ini berhubungan dengan bagaimana fakta yang dipilih itu disajikan kepada khalayak. Gagasan itu diungkapkan dengan kata, kalimat dan proposisi apa, dengan bantuan aksentuasi foto dan gambar apa, dan sebagainya. Bagaimana fakta yang sudah dipilih tersebut ditekankan dengan pemakaian perangkat tertentu.31

Dengan kata lain, media massa berposisi sebagai wadah di mana isu-isu permasalahan umum bisa diperdebatkan dengan cara menyebarluaskan informasi yang diperlukan untuk penentuan sikap dan mengfasilitasi pembentukan opini publik.32 Akan tetapi, dalam model “arena sosial” tersebut, media dilihat sebagai saluran yang tidak netral, aktif dan tidak sekedar kumpulaan medium yang melaporkan realitas sosial. Media massa merupakan

30Alek Sobur, Op Cit., 2001, hal. 162

31Eriyanto, Op Cit., 2002, hal. 69-70

32Dedy N. Hidayat, “Suatu Pengantar”, dalam Agus Sudibyo, Op Cit., 2001, hal. vii

pelaku yang menampilkan diri (baik secara menggebu-gebu ataupun terpaksa) sebagai defining agency untuk mendefinisikan isu permasalahn yang relevan.

Upaya media untuk mendefinisikan realitas sosial seperti itulah yang akan mampu diungkap melalui analisis framing. Analsisi framing memiliki asumsi bahwa wacana yang dihasilkan media massa mempunyai peran yang sangat strategis dalam menentukan apa yang penting atau signifikan bagi

Upaya media untuk mendefinisikan realitas sosial seperti itulah yang akan mampu diungkap melalui analisis framing. Analsisi framing memiliki asumsi bahwa wacana yang dihasilkan media massa mempunyai peran yang sangat strategis dalam menentukan apa yang penting atau signifikan bagi

Dokumen terkait