• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB I : PENDAHULUAN

E. Manfaat Penelitian

Pada penelitian ini akan dipaparkan beberapa manfaat dari penelitian di atas. Adapun manfaat dari penelitian adalah :

1. Sebagai sebuah gagasan pemikiran tentang bernavigasi yang baik ketika cuaca buruk mulai dari identifikasi yang tepat serta

5

persiapan sampai pelaksanaannya dengan memanfaatkan semua sarana bantu navigasi dan komunikasi yang ada.

2. Supaya para perwira kapal lebih siap dengan tindakan antisipasi yang tepat sehingga tidak akan terjadi kecelakaan pada saat berlayar di cuaca buruk dan juga dapat mendukung operasional kapal dalam bernavigasi yang baik.

6

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

A. LANDASAN TEORI 1. Pengertian Optimalisasi

Konsep optimalisasi dalam pelaksanaan pembangunan proyek konstruksi sering mengalami keterlambatan akibat berbagai hal yang menyebabkan terjadinya kerugian materi dan waktu. Oleh karena itu dilaksanakan optimalisasi sumber daya yang ada khususnya sumber daya biaya dan waktu. Adapun tujuan mengoptimalkan suatu proyek adalah agar dapat memperoleh keuntungan yang lebih baik tanpa mengurangi kualitas (mutu) suatu konstruksi. Optimalisasi berasal dari kata dasar optimal yang berarti terbaik. Jadi optimalisasi adalah proses pencapaian suatu pekerjaan dengan hasil dan keuntungan yang besar tanpa harus mengurangi mutu dan kualitas dari suatu pekerjaan.

Pengertian optimalisasi menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia adalah optimalisasi berasal dari kata optimal yang berarti terbaik dan tertinggi, jadi optimalisasi adalah suatu proses meninggikan atau meningkatkan. Pengertian optimalisasi menurut Wikipedia adalah serangkaian proses yang dilakukan secara sistematis yang bertujuan untuk meninggikan volume dan kualitas trafik kunjungan melalui mesin pencari menuju situs web tertentu dengan memanfaatkan mekanisme kerja atau logaritma mesin pencari tersebut.

Berdasarkan definisi tersebut, penulis dapat menyimpulkan bahwa optimalisasi adalah upaya seseorang untuk meningkatkan suatu kegiatan atau

7

pekerjaan agar dapat memperkecil kerugian atau memaksimalkan keuntungan agar tercapai tujuan sebaik baiknya dan hasil yang optimal dalam batas-batas tertentu.

2. Pengertian Perwira Jaga Laut

Perwira jaga laut adalah orang yang bertanggung jawab dalam tugas jaga navigasi secara aman selama periode tugasnya, pada saat itu Perwira jaga yang bersangkutan harus berada di anjungan atau di suatu lokasi yang berhubungan langsung, misalnya di ruang peta atau ruang bridge control.

3. Pengertian Nakhoda

Nakhoda atau Master adalah sebagai pemimpin tertinggi di atas kapal pada umumnya dan Deck Department pada khususnya. Nakhoda sebagai penanggung jawab umum manajemen di atas kapal. Segala sesuatu yang dikerjakan di atas kapal harus melalui persetujuan darinya. Nakhoda melimpahkan tugas jaga kepada semua bawahannya, dalam hal ini adalah semua Perwira yaitu Officers untuk bagian dek dan Enginers untuk bagian mesin. Nakhoda juga mengatur pekerjaan anak buah kapal dengan sebaik-baiknya. Serta berhak pula menyusun anak buah kapal menurut tugas dan jabatannya. Nakhoda selalu berhubungan langsung maupun tidak langsung dengan perusahaan dalam hal pelaksanaan pelayaran dan keselamatan kapal, awak kapal maupun muatannya. Dalam hal ini hubungannya dengan pelaksanaan tugas jaga dilaksanakan di atas kapal.

8

4. Pengertian Anak Buah Kapal

ABK (Anak Buah Kapal) yang di maksud dalam hal ini adalah ABK bagian dek, meliputi 1 Bosun, 3 Juru Mudi dan 1 Kadet. Berbeda dengan tempat penulis melaksanakan praktek, yaitu tanpa adanya bosun. Seluruh ABK termasuk Kadet diwajibkan mengetahui tentang prosedur kerja dan prosedur jaga yang harus dilaksanakan pada saat kapal sedang berlayar maupun pada saat sandar di pelabuhan baik itu pada saat melaksanakan bongkar muat ataupun tidak.

5. Pengertian Dinas Jaga

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (1989:206) dinas jaga adalah segala sesuatu yang bersangkutan dengan urusan pekerjaan jawatan, sedang bertugas dan bekerja. Jaga adalah mengawasi, melindungi dan menjaga keselamatan dan keamanan lingkungan sekitar.

Dari definisi di atas, pengertian dinas jaga adalah suatu pekerjaan jaga yang dilakukan di kapal atau di pelabuhan untuk menciptakan situasi dan kondisi agar aman dan terkendali. Sesuai dengan prosedur yang diinginkan dan menjaga semua fasilitas kapal agar terbebas dari pencurian atau pengrusakan dari pihak-pihak tertentu. Agar dalam pelaksanaan jaga terlaksana sesuai dengan prosedur, baik pada saat kapal sedang berlabuh jangkar, sandar di pelabuhan maupun sedang berlayar maka pembagian tugas jaga dilakukan sesuai dengan STCW 1978 amandemen 2010, yaitu periode jam jaga adalah 4 jam dengan selang waktu tiap periode 24 jam istirahat paling sedikit 10 jam dibagi 2 periode setelah satunya tidak dikurangi 6 jam.

9

Aturan tidak berlaku bila keadaan sangat darurat. Agar dalam pelaksanaannya berjalan dengan baik maka jam istirahat harus tersusun dengan cukup baik pula.

Dalam dunia pelayaran sebuah kondisi yang aman sangat diharapkan oleh semua pihak apalagi kapal sebagai tempat dimana terdapat muatan, awak kapal dan kapal itu sendiri tentunya. Agar selama dalam pelayaran para personil yang sedang melaksanakan tugas jaga dapat melaksanakan tugas jaganya dengan baik, maka pihak yang melaksanakan tugas jaga harus benar-benar memahami dan memiliki rasa tanggung jawab akan keselamatan muatan, awak kapal dan kapal itu sendiri agar bisa sampai ke pelabuhan tujuan dengan aman. Kejadian kecelakaan laut tidak hanya menimpa kapal tenggelam, kapal kebakaran dan lain-lain tapi banyak juga karena tabrakan antar kapal. Tabrakan kapal merupakan kejadian yang sangat serius dan menjadi peristiwa yang amat mengerikan dan akan merenggut banyak jiwa dan harta benda. Sebagian dari kecelakaan kapal dilihat penyebabnya menunjukan dominasi kesalahan manusia (human error). Banyaknya kecelakaan-kecelakaan yang terjadi akhir-akhir ini maka penyelidikan terhadap insiden-insiden ini jelas mengharuskan disiplin, keahlian, prosedur dan organisasi jaga yang kuat di anjungan benar-benar mutlak diperlukan.

Menurut T. Hani Handoko (208-209) disiplin adalah kegiatan manajemen untuk menjalankan standar-standar organisasi. Ada 2 tipe kegiatan kedisiplinan, yaitu preventif dan korektif :

a. Disiplin Preventif adalah kegiatan yang dilaksanakan untuk mendorong para karyawan agar mengikuti berbagai standar

10

aturan, sehingga penyelewengan-penyelewengan dapat di cegah. Sasaran pokoknya adalah untuk mendorong disiplin diri di antara para karyawan. Dengan cara ini para karyawan menjaga disiplin diri mereka bukan semata-mata dipaksa manajemen.

b. Disiplin Korektif adalah kegiatan yang di ambil untuk menangani pelanggaran terhadap aturan-aturan dan mencoba untuk menghindari pelanggaran-pelanggaran lebih lanjut.

Kegiatan korektif sering berupa suatu bentuk hukuman dan di sebut tindakan pendisiplinan. Sebagai contoh, tindakan pendisiplinan bisa berupa peringatan atau skorsing. Maksud pendisiplinan adalah untuk memperbaiki kegiatan di waktu yang akan datang bukan menghukum kegiatan di masa lalu.

Bentuk tindakan pendisiplinan yang terakhir adalah pemecatan.

Tindakan ini sering dikatakan sebagai kegagalan manajemen dan departemen personalia, tetapi pandangan tersebut tidak realistik. Tidak ada manajer maupun karyawan yang sempurna, sehingga hampir pasti ada berbagai masalah yang tidak dapat dipecahkan. Kadang-kadang lebih baik bagi seseorang karyawan untuk pindah bekerja di perusahaan lain. Bagaimanapun juga, organisasi mempunyai batas kemampuan yang dapat dicurahkan untuk mempertahankan seseorang karyawan jelek.

Menurut aplikasi Standart on Training Certification And Watchkeeping For Seafarers (STCW) 1978 standar pelatihan, sertifikasi dan jaga laut para Pelaut, susunan personil jaga yaitu :

11

a. Susunan personil tugas jaga harus pada setiap waktu memadai dan tepat untuk keadaan-keadaan dan kondisi-kondisi yang ada, dan harus memperhitungkan kewajibannya untuk memelihara suatu pengawasan yang tepat dan efektif.

b. Ketika memutuskan susunan personil tugas jaga di anjungan, termasuk penentuan pelaut-pelaut (Deck Ratings). Faktor-faktor berikut harus diperhitungkan :

1) Keharusan untuk memastikan agar anjungan tidak pernah ditinggalkan.

2) Keadaan cuaca, daya tampak, dan apakah dalam keadaan terang atau gelap.

3) Perkiraan bahaya-bahaya laut yang mungkin memerlukan perwira atau jurumudi yang bertanggung jawab terhadap penjagaan tambahan (extra watchkeeping).

4) Periksa dan gunakan alat-alat bantu navigasi seperti radar atau peralatan elektronik lainnya untuk menentukan posisi kapal.

5) Apakah kapal itu memiliki kemudi otomatis.

Para Nakhoda dapat menerbitkan instruksi jaga yang bersifat tetap (Standing Order) yang dilengkapi dengan sebuah buku perintah malam. Tapi dalam pelaksanaannya diharapkan agar para perwira jaga tidak ragu-ragu dalam melakukan tindakan yang tepat sesuai dengan apa yang mereka lakukan.

12

Sistem penjagaan harus sedemikian rupa sehingga efisiensi para perwira jaga di dek dan jaga mesin tidak terganggu karena kelelahan. Tugas-tugas harus diatur sedemikian rupa agar Tugas-tugas jaga pertama pada permulaan suatu pelayaran (voyage) dan pengganti tugas-tugas jaga berikutnya diberi istirahat yang cukup dan yang sebaliknya sehingga tetap bugar untuk bertugas.

Sesuai STCW 1978 amandemen 2010 Bab VIII Section A tentang standar tugas jaga adalah sebagai berikut :

a. Semua orang yang di tunjuk untuk menjalankan tugas sebagai perwira yang melaksanakan suatu tugas jaga atau sebagai bawahan yang ambil bagian dalam suatu tugas jaga, harus diberi waktu istirahat paling sedikit 10 jam setiap periode 24 jam.

b. Jam istirahat ini hanya boleh dibagi paling banyak menjadi 2 periode istirahat, yang salah satunya paling tidak kurang dari 6 jam.

c. Persyaratan untuk periode istirahat yang diuraikan pada paragraf 1 dan paragraf 2 di atas, tidak harus diikuti jika berada dalam situasi darurat atau situasi latihan, atau terjadi kondisi operasional yang mendesak.

d. Meskipun adanya ketentuan di dalm paragraf 1 dan paragraf 2 di atas, tetapi metode minimum 10 jam tersebut dapat dikurangi menjadi paling sedikit 6 jam berturut-turut, asalkan

13

pengurangan semacam ini tidak lebih dari 2 hari, dan paling sedikit harus ada 70 jam istirahat selama periode 7 hari.

e. Pemerintah yang bersangkutan harus menetapkan agar jadwal jaga ditempatkan pada tempat yang mudah dilihat.

No Jam Jaga Perwira Jaga

1 Jam 00.00-04.00 Jaga Larut Malam (Dog Watch) Mualim II 2 Jam 04.00-08.00 Jaga Dini Hari (Morning Watch) Mualim I 3 Jam 08.00-12.00 Jaga Pagi Hari (Forenoon Watch) Mualim III 4 Jam 12.00-16.00 Jaga Siang Hari (Afternoon Watch) Mualim II 5 Jam 16.00-20.00 Jaga Sore Hari (Evening Watch) Mualim I 6 Jam 20.00-24.00 Jaga Malam Hari (Night Watch) Mualim III

Tabel 1. Pembagian Jam Jaga

Kecuali diatur lain oleh Nakhoda, maka penjagaan dilakukan seperti tertera pada daftar di atas. Pertukaran jaga dilakukan dengan menyerah terimakan jaga dari Perwira jaga lama kepada penggantinya, Perwira jaga baru akan dibangunkan.

Perwira jaga yang di ganti menyerahkan jaganya dengan memberikan informasi diperlukan seperti posisi terakhir, cuaca dan kapal lain. Sebagai catatan Perwira jaga setelah selesai jaganya diwajibkan meronda kapal terutama pada malam hari misalnya pemeriksaan peranginan palka, kran air, cerobong asap, muatan dan lain-lain.

14

Perwira jaga harus membaca dan menandatangani perintah-perintah jaga sebelum jaga pertamanya, berada di ruang peta paling tidak 30 menit sebelum jaga dan mengenal peta yang akan digunakan. Jika tugas jaga itu pada malam hari, Perwira jaga harus membaca serta menandatangani perintah malam dan memungkinkan waktu untuk penyesuaian penglihatan malam.

Harus ada daftar periksa atau checklist dimana para Perwira yang bertugas dan menggantikan harus menandatanganinya. Contoh daftar checklist seperti tercantum di bawah ini.

CHECKLIST PERGANTIAN TUGAS JAGA

Tanggal : ... Waktu : ... Port : ...

1

Standing order, instruksi Nakhoda tambahan dan peringatan-peringatan navigasi lainnya.

...

2 Posisi, haluan, kecepatan dan draft kapal. ...

3

Baringan yang dilukis di peta di perairan pantai selama masa bertugas jaga.

...

4 Air pasang yang ada dan diperkirakan cuaca saat ini. ...

5 Kesalahan gyro dan kompas magnetik. ...

6

Kondisi operasi dari semua peralatan navigasi dan keselamatan alat-alat di anjungan termasuk radar, alat bantu navigasi elektronik, course recorder dan VHF.

...

7

Identifikasi lampu-lampu pantai, pelampung dan lain-lain.

...

15

8

Kondisi dan bahaya yang cenderung ditemukan selama jaga.

...

9

Semua anggota jaga mampu melaksanakan tugas-tugas mereka.

...

10 Penyesuaian kejelasan pandangan. ...

11

Pergerakan kapal di lingkungan itu yang bisa

mempengaruhi kapal itu sendiri yang diidentifikasikan di radar dan kejelasan pandangan.

...

12

Dampak-dampak yang mungkin dialami akibat kemiringan,trim dan lain-lain pada dasar kapal yang bebas UKC.

...

Ditanda tangani oleh : Ditanda tangani oleh :

Perwira pengganti Perwira yang digantikan

Tabel 2. Checklist Tugas Jaga

6. Faktor Penyebab Kecelakaan

Faktor-faktor penyebab secara langsung menyebabkan terjadinya kecelakaan laut sebagai berikut :

a. Faktor Teknis

1) Kecerobohan dalam menjalankan kapal (human error)

16

2) Muatan kapal yang berlebih.

3) Kurang cermatnya dalam mendesain sebuah kapal.

b. Faktor Non Teknis

Faktor non teknis disini adalah cuaca yang mana sebuah permasalahan yang seringkali dianggap sebagai faktor utama dalam kecelakaan di laut. Misalnya badai, gelombang tinggi, arus yang besar dan kabut yang mengakibatkan jarak pandang terbatas

7. Pengertian Keselamatan

Menurut Soedjono (1994:1) keselamatan kerja diartikan sebagai keselamatan yang berhubungan dengan pralatan, tempat kerja dan lingkungan serta cara-cara melakukan pekerjaan. Keselamatan kerja demikian tersebar pada setiap kegiatan ekonomi, pertanian, industri, pertambangan, perhubungan, pekerjaan umum, jasa dan sebagainya. Keselamatan kerja menyangkut segenap proses produksi dan distribusi baik barang maupun jasa.

Menurut badan diklat perhubungan (2000:77) kecelakaan di tempat kerja dapat di kelompokan secara garis besar menjadi 2 penyebab, yaitu :

a. Tindakan tidak aman manusia (unsafe human acts), misal : 1) Bekerja tanpa wewenang.

2) Gagal untuk memberi peringatan.

3) Bekerja dengan kecepatan.

4) Menyebabkan alat pelindung tidak berfungsi.

5) Menggunakan alat yang rusak.

17

6) Bekerja tanpa prosedur yang aman.

7) Menggunakan alat secara salah.

8) Melanggar peraturan keselamatan kerja.

9) Tidak memakai alat-alat keselamatan kerja.

10) Bergurau di tempat kerja.

11) Mabuk, ngantuk dan lain-lain.

b. Seseorang melakukan tindakan tidak aman atau keselamatan yang mengakibatkan kecelakaan disebabkan karena :

1) Tidak mengetahui bagaimana melakukan pekerjaan dengan aman dan tidak tahu bahaya-bahayanya sehingga terjadi kecelakaan.

2) Kurang ahli atau tidak mampu dalam tugasnya, akhirnya melakukan kesalahan dan gagal.

3) Tidak ada kemauan melakukannya, akhirnya melakukan kesalahan dan mengakibatkan kecelakaan.

Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa keselamatan kerja sebagaimana adalah segala usaha yang bertujuan menjamin keadaan, keutuhan, dan kesempurnaan tenaga kerja berhubungan dengan peralatan kerja, tempat kerja dan lingkungan, serta cara-cara melakukan pekerjaan.

8. Definisi Pengamatan

Menurut Kamus Dewan Bahasa dan Pustaka (1989), pengamatan bermaksud pengawasan atau penelitian. Istilah pengamatan bermaksud perception atau persepsi. Buku Pengantar Psikologi (1990) pula menyatakan

18

bahwa pengamatan bukanlah berlaku secara automatik.Pengamatan dalam bahasa Indonesia diartikan dengan pengawasan, penelitian, juga diartikan sebagai sebuah istilah psikologi yang bermakna kesadaran yang tertuju pada peristiwa atau fakta tertentu sebagai metode dalam penelitian.

9. Perusahaan

Bagian armada darat baik yang berada di kantor cabang maupun agen-agen yang berada di luar daerah perlu meningkatkan perhatian dan pelayanannya secara maksimal terhadap laporan-laporan dari kapal sehubungan dengan permintaan peralatan atau barang yang dibutuhkan di atas kapal. Mereka juga harus tanggap terhadap apa saja yang saat itu menjadi beban dan ganjalan yang dirasakan oleh para awak kapal untuk kemudian disampaikan kepada pihak manajemen di kantor pusat dan pada akhirnya tidak akan terjadi masalah yang berkaitan dengan produktifitas kerja para awak kapal. Oleh karena itu pihak perusahaan harus pro-aktif dalam menyikapi berbagai kemungkinan adanya ganjalan yang saat itu dirasakan oleh awak kapal, perusahaan juga bertanggung jawab atas kesejahteraan para kru kapal yang sedang melaksanakan tanggung jawabnya di atas kapal, dalam hal ini adalah dengan membayar upah.

B. KERANGKA PENELITIAN

Karena pelaksanaan tugas jaga di anjungan membutuhkan kedisiplinan dalam melaksanakan tugas jaganya oleh para personil yang terlibat dalam pelaksanaan tugas jaga tersebut maka berdasarkan kajian yang telah di bahas

19

dibutuhkan standar-standar prosedur yang baik dalam melaksanakan tugas jaga di anjungan, agar mendapatkan hasil yang maksimal ketika pelaksanaan tugas jaga di anjungan. Dengan melihat serta membandingkan beberapa prosedur-prosedur yang baik dalam melaksanakan tugas jaga di anjungan, diharapkan kendala-kendala dalam pelaksanaan tugas jaga di anjungan bisa dikurangi meskipun dalam keadaan cuaca buruk. Sikap disiplin dalam melaksanakan tugas jaga di anjungan adalah salah satu penunjang akan keselamatan jiwa di atas kapal.

Bila dilihat dari judul dan uraian tinjauan pustaka maka dibuat kerangka pemikiran sebagai berikut :

20

Tabel 3. Kerangka Pemikiran Kecelakaan Kapal

Faktor Teknis Faktor Non Teknis

Peraturan Pencegahan Tubrukan di Laut (P2TL)/COLREG 1972

Prosedur Dinas Jaga yang Baik dan Benar

Melakukan Pengamatan Sekeliling Kapal Secara Baik dan Benar

Mengetahui Tugas-Tugas Perwira Jaga Saat Tugas Jaga Laut di Anjungan

OPTIMALISASI KUALITAS PERWIRA JAGA DI ANJUNGAN PADA SAAT BERLAYAR DI CUACA BURUK SUPAYA TERJAMIN KESELAMATAN JIWA DI ATAS KAPAL MT.CELYN

21

BAB III

METODE PENELITIAN

A. METODOLOGI DAN JENIS PENELITIAN

Metode yang dilaksanakan oleh penulis dalam penelitian ini merupakan studi penelitian bersifat kualitatif dengan pendekatan masalah observasi analitis, di mana dilakukan observasi yang terjadi selama kegiatan operasional kapal yang menjadi objek penelitian. Pendekatan ini dimulai dengan mengadakan analisa terhadap kegiatan-kegiatan yang berhubungan dengan pencegahan tubrukan di laut, di kapal tempat penulis melaksanakan praktek laut. Menurut Riduwan (2003:31), data kualitatif yaitu data yang berhubungan dengan kategorisasi, karakteristik berwujud pertanyaan atau kata-kata. Data-data ini biasanya di dapat dari wawancara dan bersifat subjektif, sebab data tersebut ditafsirkan lain oleh orang yang berbeda.

Tujuan dari metode penelitian ini adalah mengungkap fakta, keadaan, fenomena, variabel dan keadaan yang terjadi saat penelitian berjalan dan menyuguhkan data apa adanya. Penelitian ini menafsirkan dan menuturkan data yang bersangkutan dengan situasi yang sedang terjadi.

B. WAKTU DAN LOKASI PENELITIAN

Penulis melakukan penelitian ini di Politeknik Pelayaran Surabaya dan dilanjutkan pada saat melaksanakan praktek laut di kapal “MT. Celyn”

selama 12 bulan.

22

C. JENIS DAN SUMBER DATA

Koleksi data merupakan tahapan dalam proses penelitian, karena hanya dengan mendapatkan data yang tepat maka proses penelitian akan berlangsung sampai peneliti mendapatkan jawaban dari perumusan masalah yang sudah ditetapkan. Data yang kita cari harus sesuai dengan tujuan penelitian. Menurut Sarwono (2006:123-132) menjelaskan data dalam penelitian di bagi menjadi dua jenis, yaitu :

1. Data Primer

Data primer adalah data yang diperoleh saat mengadakan wawancara dengan perwira jaga anjungan pada saat itu.

2. Data Sekunder

Data sekunder merupakan data yang sudah tersedia, kita tinggal mencari dan mengumpulkan. Data sekunder dapat diperoleh dengan mudah dan cepat karena sudah tersedia, misalnya di perpustakaan dan lain sebagainya. Beberapa pertimbangan dalam mencari data sekunder :

a. Jenis data harus sesuai dengan tujuan penelitian yang sudah ditentukan sebelumnya.

b. Data sekunder yang dibutuhkan bukan menekankan pada jumlah tetapi kualitas dan kesesuaian, oleh karena itu harus selektif dan hati-hati dalam menggunakannya.

c. Data sekunder biasanya digunakan sebagai pendukung data primer, oleh karena itu keduanya saling digunakan sebagai sumber informasi untuk menyelesaikan penelitian ini.

23

D. PEMILIHAN INFORMAN

Pemilihan informan sangat erat kaitannya dengan pengumpulan informasi dan pengumpulan data. Pengumpulan informasi dan data merupakan langkah yang penting dalam suatu penelitian yang akan digunakan sebagai bahan analisis dan pengujian kesimpulan. Oleh karena itu pemilihan informan dan alat pengumpulan data yang tepat dapat membantu pencapaian hasil atau pemecahan masalah yang tepat dan benar.

Pengumpulan data merupakan langkah yang sangat penting dalam sebuah penelitian. Data yang dikumpulkan akan digunakan sebagai analisis dan pengujian tentang kesimpulan yang dirumuskan. Kemudian data disusun secara sistematis sesuai dengan masalah yang akan dibahas.

E. METODE PENGUMPULAN DATA

Teknik pengumpulan data erat hubungannya dengan masalah yang akan dipecahkan. Dalam suatu penelitian, penggunaan teknik pengumpulan data dan materi pengumpulan data yang tepat dapat membantu mencapai hasil atau pemecahan masalah yang akurat.

Adapun penggunaan teknik pengumpulan data yaitu : 1. Metode Observasi

Menurut Abdurrahman (2005:104) observasi adalah teknik pngumpulan data yang dilakukan melalui suatu pengamatan dengan disertai pencatatan-pencatatan terhadap keadaan atau perilaku objek sasaran. Metode ini dilakukan melalui pengamatan

24

langsung pada objek yaitu segala pekerjaan yang dilakukan di atas kapal. Tujuannya adalah agar mengerti akan keadaan objek yang dijadikan topik yaitu optimalisasi kualitas Perwira jaga di anjungan pada saat cuaca buruk terjadi. Mode ini dilakukan berdasarkan pengalaman selama praktek di kapal “MT. Celyn”.

2. Metode Studi Perpustakaan

Bertujuan untuk mencari data tentang masalah penelitian dengan mencari jawaban permasalahan dengan berpedoman pada buku.

Tahap ini sangat penting karena merupakan dasar penyusunan kerangka teoritis yang sangat berguna dalam pemecahan masalah.

Dalam penyusunan karya ilmiah penlitian ini, studi pustaka dilakukan dengan cara mempelajari buku-buku yang ada kaitannya dengan permsalahan yang akan di bahas oleh penulis dalam karya ilmiah penelitian ini. Buku yang di maksud dalam hal ini adalah buku yang dijadikan referensi untuk penyusunan karya ilmiah terapan.

3. Metode Wawancara

Wawancara merupakan pertemuan dua orang untuk bertukar informasi dan ide melalui tanya jawab, sehingga dapat dikonstruksikan makna dalam suatu data tertentu. Dalam metode wawancara, data-data yang diperoleh adalah bersumber dari seorang ahli ataupun yang berkompeten dalam suatu masalah ataupun pihak-pihak yang bersangkutan dengan materi yang

Wawancara merupakan pertemuan dua orang untuk bertukar informasi dan ide melalui tanya jawab, sehingga dapat dikonstruksikan makna dalam suatu data tertentu. Dalam metode wawancara, data-data yang diperoleh adalah bersumber dari seorang ahli ataupun yang berkompeten dalam suatu masalah ataupun pihak-pihak yang bersangkutan dengan materi yang

Dokumen terkait