BAB I PENDAHULUAN
D. Manfaat Penelitian
Penelitian ini diharapkan dapat memberi kontribusi dalam meningkatkan mutu pembelajaran matematika, baik secara teoritis dan praktis maupun untuk berbagai pihak antara lain:
1. Secara teoritis
Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan kontribusi bagi perkembangan ilmu pengetahuan terutama dalam bidang pendidikan, khususnya pendidikan matematika dengan prestasi belajar peserta didik yang ditinjau dari kecerdasan logis-matematis dan kecerdasan visual-spasial.
2. Secara praktis a) Sekolah
Sebagai bahan masukan untuk meningkatkan mutu pendidikan sekolah dan membantu memperlancar proses pembelajaran khususnya dalam belajar matematika.
b) Guru
1. Menambah wawasan guru dan memberi masukan dalam rangka perubahan proses pembelajaran di kelas.
2. Sebagai salah satu bahan acuan dalam rangka peningkatan kualitas pembelajaran.
c) Peserta didik
1. Mengetahui penerapan matematika dalam kehidupan nyata.
2. Meningkatkan kemampuan berpikir logis peserta didik dalam pembelajaran matematika.
3. Mendapatkan pengalaman belajar yang baru, belajar dengan menyenangkan dan bermakna sehingga menumbuhkan semangat belajar peserta didik.
d) Peneliti
Memperoleh pengalaman langsung dalam penelitian dan memberi masukan dalam mengembangkan penelitian di masa mendatang.
9 1. Prestasi Belajar Matematika a. Pengertian
Kata prestasi belajar terdiri dari dua suku kata yaitu prestasi dan belajar.
Untuk memudahkan dalam memahaminya, maka akan diuraikan secara satu persatu prestasi dan belajar.
Syaiful Bahri Djamarah, dkk, mengemukakan bahwa yang dimaksud dengan prestasi adalah hasil dari suatu kegiatan yang telah diajarkan, diciptakan, baik secara individu maupun secara kelompok.1 Menurut kamus besar bahasa indonesia, yang dimaksud prestasi yaitu hasil yang telah dicapai dan yang telah dilakukan atau dikerjakan.2
Berdasarkan pendapat yang dikemukakan diatas, maka dapat disimpulkan bahwa prestasi yaitu hasil yang telah dicapai, yang berkenaan dengan hasil kegiatan peserta didik dalam belajar, baik secara individu maupun secara kelompok.
Sedangkan yang dimaksud belajar adalah suatu proses usaha yang dilakukan individu untuk memperorleh suatu perubahan tingkah laku yang baru secara keseluruhan, sebagai hasil pengalaman individu dalam interaksi dengan lingkungan.
1Syaiful Bahri Djamarah, dkk, Prestasi Belajar Dan Kompetensi Guru (Surabaya, Usaha Nasional,1994), h.19.
2Kamus Pusat Bahasa, Kamus Besar Bahasa Indonesia (Jakarta:Pusat Bahasa, 2008), h.358.
Nana Sudjana mengemukakan bahwa, ”belajar adalah suatu proses yang ditandai dengan adanya perubahan dalam diri seseorang. Slameto mengemukakan bahwa “belajar adalah suatu usaha yang dilakukan seseorang untuk memperoleh suatu perubahan tingkah lakuyang baru secara keseluruhan, sebagai hasil pengalamannya sendiri dalam interkasi dengan lingkungannya”.3
Abu Ahmadi dan Widodo Supriyoni dalam mengutip pandangan James, Whittaker menyebutkan bahwa ”Learning may be defined as the process by which behavior originates or is altered training or experience”, yakni belajar adalah suatu proses dimana tingkah laku ditimbulkan atau diubah melalui latihan atau pengalaman.4
Berdasarkan beberapa definisi belajar yang dikemukakan di atas, memberikan suatu kesimpulan bahwa secara umum belajar adalah suatu proses perubahan tingkah laku akibat terjadinya interaksi dengan lingkungan, dengan kata lain bahwa belajar adalah suatu proses dalam tingkah laku, dimana perubahan itu mengarah kepada tingkah laku yang lebih baik.
Adapun yang dimaksud dengan prestasi belajar adalah hasil yang diperoleh berupa kesan-kesan yang mengakibatkan perubahan dalam diri individu sebagai hasil dari aktifitas dalam belajar. Jadi prestasi belajar adalah hasil yang telah dicapai setelah melaksanakan kegiatan atau aktivitas belajar.
3Slameto, Belajar Dan Faktor-Faktor Yang Memengaruhinya, (Jakarta:Rineka Cipta, 2003), h.2.
4Abu Ahmadi dan Widodo Supriyoni, Psikologi Belajar, (Jakarta:Rineka Cipta, 1991), h.119.
Matematika merupakan ilmu pasti dan konkrit. Artinya, matematika menjadi ilmu real yang bisa diaplikasikan secara langsung dalam kehidupan sehari-hari, dalam berbagai bentuk. Bahkan tanpa disadari, ilmu matematika sering kita terapkan untuk menyelesaikan setiap masalah kehidupan. Sehingga matematika merupakan ilmu yang benar-benar menyatu dalam kehidupan sehari-hari dan mutlak dibutuhkan oleh setiap manusia, baik untuk dirinya sendiri maupun untuk berinteraksi dengan sesama manusia. 5
Matematika merupakan salah satu mata pelajaran inti yang termasuk dalam kurikulum pendidikan dan sulit oleh siswa. Beberapa mata pelajaran lain, di antaranya fisika dan kimia membutuhkan matematika, sehingga menguasai matematika akan menunjang penguasaan mata pelajaran lainnya yang nantinya akan menunjang prestasi belajar siswa. Matematika sebagai suatu disiplin ilmu yang secara jelas mengandalkan proses berpikir dipandang sangat baik untuk diajarkan pada anak didik. Di dalamnya terkandung berbagai aspek yang secara substansial menuntun murid untuk berpikir logis menurut pola dan aturan yang telah tersusun secara baku.
Sehingga seringkali tujuan utama dari mengajarkan matematika tidak lain untuk membiasakan agar anak didik mampu berpikir logis, kritis dan sistematis.6
5Raodatul Jannah, Membuat Anak Cinta Matematika dan Eksak Lainnya (Yogyakarta: DIVA Press,2011), h. 22.
6Ali Syahbana, “Peningkatan Kemampuan Berpikir Kritis Matematis Siswa Smp Melalui Pendekatan Contextual Teaching And Learning”, Jurnal Pendididkan MIPA, Vol 2 No 1 april 2012. h.
45.
Matematika merupakan studi yang dianggap paling sulit oleh para peserta didik, baik yang tidak berkesulitan belajar maupun yang berkesulitan belajar.
b. Penilaian
Penilaian merupakan kegiatan yang dirancang untuk mengukur tingkat pencapaian peserta didik dalam belajar yang diperoleh melalui penerapan program pengajaran tertentu dalam tempo yang relatif singkat.7 Penilaian (assessment) hasil belajar merupakan komponen penting dalam kegiatan pembelajaran. Upaya meningkatkan kualitas pembelajaran dapat ditempuh melalui peningkatan kualitas sistem penilaiannya. Menurut Djemari Mardapi, kualitas pembelajaran dapat dilihat dari hasil penilaiannya. Sistem penilaian yang baik akan mendorong pendidik untuk menentukan strategi mengajar yang baik dan memotivasi peserta didik untuk belajar yang lebih baik. 8
Istilah penilaian berkaitan dengan tes, pengukuran dan evaluasi. Tes, pengukuran dan penilaian merupakan bagian dari evaluasi. Evaluasi memiliki makna yang berbeda dengan penilaian, pengukuran maupun tes.9 Evaluasi didahului dengan penilaian (assessment), sedangkan penilaian didahuli dengan pengukuran.
Penilaian merupakan suatu kegiatan yang dilakukan untuk menggambarkan prestasi yang dicapai seorang peserta didik sesuai dengan kriteria yang telah ditetapkan. Tujuan dilakukannya penelitian adalah sebagai berikut:
7Sudarono , Dasar-dasar Evaluasi Pembelajaran (Yogyakarta: Graha Ilmu, 2012), h. 38.
8Eko Putra Widoyoko, Evaluasi Program Pembelajaran (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2013), h. 29.
9Eko Putra Widoyoko, Evaluasi Program Pembelajaran, h. 3.
1. Untuk mengetahui tingkat kemajuan yang telah dicapai oleh peserta didik atau mahasiswa dalam waktu tertentu.
2. Untuk mengetahui posisi atau kedudukan seorang peserta didik atau mahasiswa dalam kelompok kelasnya.
3. Untuk mengetahui tingkat usaha yang dilakukan peserta didik dalam belajar.
4. Untuk mengetahui segala upaya peserta didik dalam mendayagunakan kapasitas kognitifnya untuk keperluan belajar.
5. Untuk mengetahui tingkat daya guna dan hasil guna metode mengajar yang telah digunakan guru atau dosen dalam proses pembelajaran.10
c. Faktor-faktor yang memengaruhi prestasi belajar
Prestasi belajar merupakan salah satu wujud dari hasil usaha belajar yang dilakukan. Hasil belajar dapat meningkat atau juga menurun yang dipengaruhi oleh sejumlah faktor. Dalyono juga mengungkapkan ada 2 faktor utama yang memengaruhi pencapaian prestasi belajar peserta didik yaitu faktor internal dan eksternal. Faktor internal yaitu faktor yang berasal dari dalam yang berhubungan erat dengan segala kondisi peserta didik sedangkan faktor eksternal adalah faktor yang berasal dari luar diri individu. Faktor internal yang memengaruhi prestasi belajar meliputi kesehatan fisik, motivasi, kondisi emosional, konsep diri, minat dan sebagainya. Sedangkan faktor eksternal yang memengaruhi prestasi belajar meliputi lingkungan sosial terutama lingkungan keluarga, sekolah dan masyarakat. Di lingkungan sekolah, faktor eksternal yang memengaruhi prestasi belajar peserta didik
10Muhibbin Syah, Psikologi Pendidikan dengan Pendekatan Baru, h. 140.
yaitu berupa sarana dan prasarana, guru mata pelajaran, teman sebaya, sistem yang diterapkan di sekolah dan sebagainya.
Menurut Suryabrata, faktor-faktor yang memengaruhi prestasi belajar antara lain: 11
1. Faktor-faktor dari luar diri (eksternal)
a) Faktor eksternal nonsosial, misalnya keadaan udara, cuaca, waktu, tempat dan alat-alat yang digunakan.
b) Faktor-faktor eksternal sosial, misalnya kehadiran orang lain dan dukungan sosial.
2. Faktor-faktor dari dalam diri (internal)
a) Fisiologis misalnya keadaan jasmani, nutrisi, penyakit dan pancaindra.
b) Psikologi misalnya intelegensi, motivasi, minat bakat, dan kepribadian.
Faktor-faktor tersebut saling berkaitan antara satu dengan yang lainnya.
Kelemahan salah satu faktor, akan dapat memengaruhi keberhasilan seseoarang dalam belajar. Dengan demikian, tinggi rendahnya prestasi belajar matematika yang dicapai oleh peserta didik di sekolah didukung oleh faktor eksternal dan faktor internal seperti yang disebutkan di atas.
11Ruth Nathania Tirtosimono, “Hubungan Dukungan Sosial Teman Sebaya dan Disiplin Kuliah dengan Prestasi Belajar Mahasiswa”, Skripsi (Semarang: Fakultas Psikologi Universitas Katolik Soegijapranata, 2012), h. 9.
2. Kecerdasan Logis-Matematis a. Pengertian
Kecerdasan logis-matematis atau dikenal dengan istilah cerdas angka termasuk kemampuan ilmiah (scientifik) yang sering disebut dengan berpikir kritis.
Orang yang memiliki kecerdasan ini cenderung melakukan sesuatu dengan data untuk melihat pola-pola dan hubungan. Selain itu, mereka juga sangat menyukai angka-angka dan dapat menginterpretasikan data serta menganalisis pola-pola abstrak dengan mudah.
Gardner mengungkapkan “logical mathematical intellegence involves the capacity to analyze problem logically, carry out mathematical operations, and investigate issues scientifically”. Kutipan ini berarti bahwa kecerdasan logis-matematis terkait dengan kapasitas seseorang untuk menganalisis suatu masalah secara logis, memecahkan operasi matematis serta meneliti suatu masalah secara ilmiah.12
Berpikir induktif, deduktif, dan rasional merupakan ciri yang melekat pada orang yang memiliki kecerdasan logis-matematis. Oleh karena itu, orang yang kuat dalam kecerdasan ini sangat senang berhitung, bertanya, dan melakukan eksperimen.13
12I Made Ardana, dkk, “Kontribusi Bakat Numerik, Kecerdasan Spasial, Dan Kecerdasan Logis Matematis Terhadap Prestasi Belajar Matematika Siswa Sd Negeri Di Kabupaten Buleleng”, e-Journal Program Pascasarjana Universitas Pendidikan Ganesha vol. 2 (2013), h. 4.
13Muhammad Yaumi dan Nurdin Ibrahim, Pembelajaran berbasis kecerdasan jamak (multiple intelegences), h. 63.
Kecerdasan logis-matematis dapat dipahami lebih perihal melalui beberapa karakteristik sebagai berikut:14
1. Senang menyimpan sesuatu dengan rapi dan teratur.
2. Merasa senang jika mendapat arahan secara bertahap dan sistematis.
3. Mudah mengerjakan sesuatu yang berhubungan dengan menyelesaikan masalah (problem solving).
4. Tidak menyukai ketidakaturan atau acak-acakan.
5. Dapat mengkalkulasi soal-soal hitungan dengan cepat.
6. Senang teka-teki yang rasional.
7. Sulit mengerjakan soal yang baru jika pertanyaan sebelumnya belum dijawab.
8. Kesuksesan mudah diraih jika dilakukan dengan terstruktur dan tahapan yang jelas.
9. Jika memakai komputer senang bekerja melalui program spread-sheet dan database.
10. Tidak merasa puas jika sesuatu yang dilakukan atau dipelajari tidak memberikan makna dalam kehidupan.
b. Aktivitas Pembelajaran Berbasis Kecerdasan Logis-Matematis
Adapun aktifitas pembelajaran berbasis kecerdasan logis-matematis adalah sebagai berikut:
14Muhammad Yaumi, pembelajaran berbasis multiple intelegences, h. 64.
1) Berpikir kritis (critical thinking)
Berpikir kritis merupakan kemampuan kognitif untuk mngatakan sesuatu dengan penuh keyakinan karena bersandar alasan yang logis dan bukti empiris yang kuat. Berpikir kritis adalah proses berpikir sistematis dalam mencari kebenaran dan membangun keyakinan terhadap sesuatu yang dikaji dan ditelaah secara faktual dan realistik.15 Berpikir kritis itu sangat sederhana yaitu menyatakan kemampuan untuk menganalisis dan mengevaluasi informasi yang ada.16 Berpikir kritis adalah proses disiplin secara aktif, menerapkan, menganalisis, mensistesis, dan mengevaluasi informasi yang dikumpulkan dari suatu komunikasi, penagamatan, pengalaman sebagai panduan.17
Dalam kehidupan sehari-hari, kebiasaan yang dilakukan oleh orang yang memiliki kecerdasan logis-matematis adalah membaca dan menguasai jadwal bus kota. Selain itu dalam mengisi waktu luangnya, orang yang cerdas secara logis-matematis sering bermain catur, mengisi teka-teki yang melibatkan alasan rasional, dan mengatur buku-buku cek keluarga. 18
Berpikir kritis juga dipandang sebagai suatu keyakinan yang kuat dan hati-hati dengan maksud untuk mengonstraskan sistem berpikir seseorang yang tidak reflektif
15Muhammad Yaumi, pembelajaran berbasis multiple intelegences, h. 67.
16Robert duron, dkk “Learning Critical Thinking Framework For Any Discipline”, International Journal of Teaching and Learning in Higher Education; Vol. 17, (2006), h. 160.
17B. Jean Mandernach “Thinking Critically about Critical Thinking:Integrating Online Tools to Promote Critical Thinking”, International Journal of Teaching, Vol. 1, (2006), h. 42.
18Muhammad Yaumi, dkk, Pembelajaran berbasis kecerdasan jamak (multiple intelegences), h.64.
atau tanpa melibatkan pemikiran yang komprehensif. Misalnya, ketika seseorang begitu cepat sampai kepada sesuatu kesimpulan atau keputusan yang dangkal dalam berbuat atau bertindak tanpa menelusuri dan mengkaji esensi makna yang terkandung di dalamnya. Memang benar bahwa ketika menyimpulkan sesuatu harus dilakukan dengan cepat dan tepat, tetapi sering tidak diambil secara komprehensif. 19
2) Bereksperimen
Secara sederhana yang dimaksud dengan eksperimen adalah mengetes atau menguji ide-ide atau pendapat. Sering dibayangkan bahwa eksperimen itu semuanya harus dilakukan di laboratorium. Pandangan demikian tidak semuanya benar. Kalau yang dimaksudkan eksperimen itu untuk menguji pendapat dan asumsi-asumsi, maka dalam kehidupan kita sehari-hari pun hampir tidak luput dari aktivitas bereksperimen.
Sebaliknya, jika eksperimen metode pengujian yang bertujuan untuk menjelaskan hakekat realitas, maka diperlukan secara metodis yang jelas dan terencana.20
3) Mengajukan pertanyaan model Sokrates
Dalam pertanyaan Sokrates, guru berperan sebagai penanya dan peserta didik sebagai penjawab atau responden. Aktivitas pembelajaran ini menekankan pada pengajuan sejumlah pertanyaan sehingga guru terlibat secara aktif dalam membangun dialog dengan peserta didik. Tujuannya adalah untuk mengetahui sejauh mana peserta didik memahami dan mengerti atau memiliki keyakinan terhadap subjek. Dengan demikian akan terlihat jika terjadi pemahaman yang keliru atau yang benar. Menurut
19Muhammad Yaumi, pembelajaran berbasis multiple intelegences, h. 68.
20Muhammad Yaumi, pembelajaran berbasis multiple intelegences, h. 73-74.
Williams, guru adalah sarana yang memungkinkan masyarakat untuk secara efektif mengatasi masalah-masalah sosial di tingkat lokal dan global.21
Aktivitas pembelajaran pertanyaan Sokrates bukan hanya melibatkan guru untuk berpartisipasi dalam membuat pertanyaan, melainkan juga mengundang peserta didik untuk saling membagi dan memberi pandangan dan bahkan hipotesis mereka tentang dunia penjelasan, ketepatan, akurasi keterpaduan logis, dan relevansinya dengan pertanyaan yang diajukan. Metode yang sering digunakan oleh Sokrates dalam mendidik peserta didik adalah mengajar dengan mengajukan pertanyaan, bukan memberikan ceramah atau menerangkannya.22
4) Menyelesaikan masalah (problem solving)
Penyelesaikan masalah (problem solving) adalah proses mental yang merupakan bagian dari proses masalah yang lebih luas mencakup temuan dan pembentukan masalah penyelesaikan masalah terjadi ketika suatu kondisi membutuhkan perubahan dari kenyataan yang dihadapi menuju kondisi yang diinginkan. Berbagai permasalahan sering menyertai pelaksanaan pembelajaran baik yang berhubungan pelaksanaan evaluasi maupun masalah-masalah yang berhubungan dengan sarama pendukung lainnya. 23
21Alhasan Allamnakhrah “Learning Critical Thinking in Saudi Arabia: Student Perceptions of Secondary Pre-Service Teacher Education Programs”, Journal of Education and Learning; Vol. 2, (2013), h. 199.
22Muhammad Yaumi, pembelajaran berbasis multiple intelegences, h. 68.
23Muhammad Yaumi, pembelajaran berbasis multiple intelegences, h. 82.
3. Kecerdasan Visual-Spasial a. Pengertian
Kecerdasan visual-spasial atau sering disebut kecerdasan spasial adalah kemampuan untuk memahami gambar-gambar dan bentuk termasuk kemampuan untuk menginterpretasikan dimensi ruang yang tidak dapat dilihat. Gardner menyatakan bahwa kecerdasan visual-spasial adalah salah satu jenis kecerdasan yang diusulkan dalam beberapa intelijen teori.24 Orang yang memiliki kecerdasan visual-spasial cenderung berpikir dengan gambar dan sangat baik ketika belajar melalui presentasi visual seperti film, gambar, video, dan demonstrasi yang menggunakan alat peraga. Mereka juga sangat menyukai aktivitas menggambar, mengecat, mengukir, dan biasa mengungkapkan diri mereka melalui aktivitas seni. Mereka juga sangat baik untuk membaca peta, diagram, dan menyelesaikan teka-teki jigsaw.25
Kecerdasan ini berapa pada belahan otak kanan, dan jika terjadi masalah pada bagian ini menyebabkan adanya gangguan pada kemampuan untuk mengenal seseorang. Walaupun masih melihat orang karena tidak terhalang oleh suatu benda, tetapi lokasi orang secara pasti terlihat sangat kabur mengingat adanya rintangan kemampuan ruang yang dimilikinya.
24Nora S Newcombe and Andrea Frick, Early Education for Spatial Intelligence: Why, What, and How, journal complilation 2010 internasional Mind, brain, and education society and blackwell publishing.inc, Journal Internasional, vol.4 no.3 (2010) , h. 102.
25Muhammad Yaumi, Pembelajaran berbasis multiple intelegences, h. 88.
Adapun Karakteristik kecerdasan visual-spasial dapat dijabarkan sebagai berikut:
1. Selalu menggambarkan ide-ide yang menarik.
2. Senang mengatur dan menata ruang .
3. Senang menciptakan seni dengan menggunakan media yang bermacam-macam.
4. Menggunakan graphic organizer sangat membantu dalam belajar dan mengingat sesuatu.
5. Merasa puas ketika mampu memperlihatkan kemampuan seni.
6. Senang menggunakan spreadsheet ketika membuat grafik, diagram, dan tabel.
7. Menyukai teka-teki tiga dimensi .
8. Musik video memberikan motivasi dan inspirasi dalam belajar dan bekerja.
9. Dapat mengingat kembali berbagai peristiwa melalui gambar-gambar.
10. Sangat mahir membaca peta dan denah.26
b. Aktivitas Pembelajaran Berbasis Kecerdasan visual-spasial
Adapun aktivitas pembelajaran berbasis kecerdasan visual-spasial adalah sebagai berikut:
1). Membuat potongan kertas berwarna-warni
Membuat potongan kertas berwarna-warni merupakan suatu aktivitas pembelajaran yang sangat sederhana dan tidak mengeluarkan banyak biaya, tenaga,
26Muhammad Yaumi, Pembelajaran berbasis multiple intelegences, h. 90.
dan waktu. Selain itu, pelaksanaannya pun sangat sederhana dan dapat dilakukan oleh guru dimana pun berada termasuk guru yang berada di pelosok-pelosok desa.
Potongan kertas tersebut berisi bahan ajar yang hendak diberikan kepada peserta didik yang sudah disederhanakan ke dalam kata-kata kunci. Selain itu dapat pula menggunakan kalimat lengkap namun dipotong sesuai dengan panjang dan lebar kertas. Kata-kata tersebut dapat juga ditulis atau diketik dengan warna yang sesuai atau kontras dengan warna kertas agar kelihatan menarik dan dapat dilihat secara nyata oleh peserta didik.27
Aktivitas pembelajaran dengan membuat potongan kertas tersebut cocok untuk mengajarkan semua mata pelajaran tergantung dari kesiapan guru untuk merancangnya. Dalam mata pelajaran bahasa daerah, inggris, dana bahasa indonesia dapat mengajarkan kosakata dan kalimat secara efektif dan efisien melalui potongan-potongan kertas yang berwarna-warni.28
2). Mewarnai gambar
Mewarnai dan menggambar merupakan suatu aktivitas yang mengasyikkan dalam dunia anak. Menggambar tidak saja dapat menumbuhkan jiwa seni dan mengembangkan krestivitas, tetapi juga dapat dijadikan sarana untuk mengungkapkan pikiran, pendapat, dan pesan-pesan penting yang mungkin tidak dapat diungkapkan melalui sarana komunikasi verbal dan tertulis.29
27Muhammad Yaumi, Pembelajaran berbasis multiple intelegences, h. 92.
28Muhammad Yaumi, Pembelajaran berbasis multiple intelegences, h. 92.
29Muhammad Yaumi, Pembelajaran berbasis multiple intelegences, h. 95.
Mengembangkan kreativitas peserta didik adalah modal dasar untuk berpikir dan bertindak kreatif dalam menyelesaikan permasalahan kehidupan. Tidak hanya itu, pengembangan kreativitas malah dapat mengintegrasikan perasaan, radio, emosi, dan intuisi yang berguna dalam membangun manusia yang berperadaban. menggambar juga dapat dijadikan sarana komunikasi yang efektif untuk menyampaiakan aspirasi, pendapat, dan pandangan kepada khayalak umum. 30
3). Membuat sketsa
Sketsa adalah draf kasar yang melukiskan bagian-bagian pokok dari suatu benda, orang, atau tempat tanpa menguraikan secara detail. Sketsa dapat juga dikatakan sebagai lukisan tangan untuk suatu pekerjaan yang berkelanjutan. Dengan kata lain, sketsa adalah cara cepat untuk merekam ide-ide dengan maksud untuk kebutuhan penggunaan pada masa-masa yang akan datang. Membuat sketsa adalah mempertajam kemampuan seni yang difokuskan pada elemen penting dari suatu subjek yang merupakan bagian awal dari pengembangan berikutnya.31
Aktivitas pembelajaran membuat sketsa dapat digunakan untuk mengevaluasi pemahaman peserta didik tentang suatu subjek, menekankan konsep, memberikan peserta didik kesempatan yang cukup untuk mengeksplorasi ide-ide dan pendapat secara mendalam. Berikut ini merupakan konsep-konsep yang mungkin peserta didik dapat dimintai untuk mengilustrasikannya, yakni “depresi berat, kegawatan, kemungkinan (dalam matematika), pecahan, demokrasi, penderitaan, dan ekosistem”.
30Muhammad Yaumi, Pembelajaran berbasis multiple intelegences, h. 95-96.
31Muhammad Yaumi, Pembelajaran berbasis multiple intelegences, h. 99.
Membuat sketsa seperti ini tidak dimaksudkan untuk menilai kualitas gambar, tetapi lebih dari itu bagaimana pemahaman peserta didik terhadap sketsa yang dibuatnya.
Secara sederhana, seorang guru mungkin dapat membuat sketsa terhadap proses perkembangbiakan kupu-kupu yang dimulai dengan telur, kemudian menjadi ulat, kepompong, hingga menjadi kupu-kupu.32
4). Beberapa aktivitas untuk kelas-kelas rendah
Aktivitas pembelajaran visual-spasial dapat pula dilakukan dengan cara lain yang memungkinkan kreativitas peserta didik dapat berkembang. Bagi pendidikan anak usia dini, pemilihan gambar harus mempertimbangkan kesesuaiannya dengan kebutuhan anak, yakni perkembangan otak mereka yang hanya dapat belajar melalui gambar atau proses pemerolehan pengetahuan melalui peralatan auditori. Sering terjadi pemberian aktivitas pembelajaran menggambar atau menvisualisasikan gambar kepada anak usia dini, hanya berkisar pada aktivitas semata tanpa mempertimbangkan perkembangan otak yang mereka miliki.33 Misalnya, penjelasan terhadap gambar menurut versi anak dengan maksud mengembangkan kemampuan intelektualitasnya.
32Muhammad Yaumi, Pembelajaran berbasis multiple intelegences, h. 100.
33Muhammad Yaumi, Pembelajaran berbasis multiple intelegences, h. 103.
B. Kajian penelitian yang relevan
Adapun beberapa penelitian yang relevan tentang penelitian ini adalah sebagai beriku:
1. Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Akhmad Aziz Hababa mahasiswa pendidikan teknik otomotif fakultas teknik universitas negeri yogyakarta agustus 2014 dengan judul penelitian “Pengaruh Kecerdasan Spasial dan Kecerdasan Matematis terhadap Kemampuan Menggambar Teknik Siswa pada Mata Pelajaran Pembacaan adn Pemahaman Gambar Teknik Di Smk Negeri 3 Yogyakarta” mengatakan bahwa (1) Sebagian besar kondisi kecerdasan spasial,
1. Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Akhmad Aziz Hababa mahasiswa pendidikan teknik otomotif fakultas teknik universitas negeri yogyakarta agustus 2014 dengan judul penelitian “Pengaruh Kecerdasan Spasial dan Kecerdasan Matematis terhadap Kemampuan Menggambar Teknik Siswa pada Mata Pelajaran Pembacaan adn Pemahaman Gambar Teknik Di Smk Negeri 3 Yogyakarta” mengatakan bahwa (1) Sebagian besar kondisi kecerdasan spasial,