• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB III METODOLOGI PENELITIAN

H. Teknik Analisis Data

Adapun teknik analisis yang digunakan dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:

Analisis Statistik Inferensial

Statistik inferensial adalah statistik yang digunakan untuk menganalisis data sampel dan hasilnya akan digeralisasikan (diferensikan) untuk populasi dimana sampel diambil. Keperluan pengujian hipotesis, maka digunakan untuk menguji kebenaran hipotesis penelitian ini adalah sebagai berikut:

c. Uji Prasyarat 1) Uji Normalitas

Uji normalitas digunakan untuk menguji apakah dalam sebuah model regresi, variabel terikat dan variabel bebas atau keduanya mempunyai distribusi normal atau tidak. Untuk pengujian normalitas dengan Kolmogorov-Smirnov dengan bantuan SPSS 20,00. Adapun rumusan hipotesis:13

H0: Distribusi populasi normal, jika probabilitas > 0,05, H0 diterima.

H1: Distribusi populasi tidak normal, jika probabilitas < 0,05, H0 ditolak.

2) Uji Linearitas

Uji linearitas adalah uji yang akan memastikan apakah data yang kita miliki sesuai dengan garis linier atau tidak. Uji linearitas digunakan untuk mengkonfirmasikan apakah sifat linier antara dua variabel yang diidentifikasikan

13 Kadir, Statistik Terapan ( Jakarta : PT. Raja Grafindo, 2015), h. 155.

secara teori sesuai atau tidak dengan hasil observasi yang ada. Rumus uji linieritas adalah sebagai berikut:

Fhitung =

Linear jika Fhitung> Ftabel pada taraf signifikansi dengan Ftabel diperoleh dari distribusi F dengan derajat kebebasan masing-masing sesuai dengan dk pembilang dk penyebut pada taraf = 0,05, sedangkan kriteria pengujian linearitas dengan olahan SPSS versi 20.0 yaitu jika sig> maka data linier dan jika sign< maka data tidak linear.

d. Analisis Regresi Sederhana

1) Menentukan persamaan garis regresi linear sederhana

Analisis regresi digunakan untuk menentukan bentuk dari hubungan antar variabel. Tujuan utama dalam penggunaan analisis itu adalah untuk meramalkan atau memperkirakan nilai dari satu variabel dalam hubungannya dengan variabel lain yang diketahui melalui persamaan garis regresinya. Bentuk persamaannya adalah :

Y = a + bX Keterangan :

= variabel terikat (variabel yang diduga) = variabel bebas (variabel yang diketahui) = intersep (nilai , bila )

= slop (kemiringan garis regresi)

Persamaan Y = a + bX memberikan arti jika variabel mengeluarkan satu satuan maka variabel akan mengalami peningkatan atau penurunan sebesar 1 x b.

Untuk membuat peramalan, penaksiran atau pendugaan dengan persamaan regresi, maka nilai dan harus ditentukan terlebih dahulu. Dengan metode kuadrat kecil (least square), nilai dan dapat ditentukan dengan rumus berikut:

=

2) Kesalahan baku regresi dan koefisien regresi sederhana

Kesalahan baku atau selisih taksir standar merupakan indeks yang digunakan untuk mengukur tingkat ketepatan regresi (pendugaan) dan koefisien regresi (penduga) atau mengukur variasi titik-titik observasi di sekitar garis regresi.

Untuk regresi, kesalahan bakunya dirumuskan:

=

Untuk koefisien regresi a (penduga a), kesalahan bakunya dirumuskan:

=

Untuk koefisien regresi b (penduga b), kesalahan bakunya dirumuskan:

= ...14

3) Uji Korelasi

Untuk menguji hubungan kedua variabel dengan menggunakan rumus Pearson Product Moment. Adapun rumusnya adalah sebagai berikut:

=

n

X2n

XYX

2

   

nX

YY2

Y

2

Keterangan:

rxy : koefisien korelasi variabel X dan Y

∑ X : jumlah skor dalam distribusi X

∑ Y : jumlah skor dalam distribusi Y

∑ X Y : jumlah kuadrat masing-masing skor X N : jumlah subjek15

Untuk menentukan keeratan hubungan/korelasi antar variabel dan variabel , berikut ini diberikan nilai r sebagai patokan16:

 r = 0; tidak ada korelasi

14Riduwan, Belajar Mudah Penelitian untuk Guru-Karyawan dan PenelitiPemula (Bandung:

Alfabeta, 2008), h. 1

15 Sugiono, Metode Penelitian Pendidikan ( Cet. 16; Bandung: Alfabeta, 2013), h. 146

16Riduwan dan Engkos Achmad Kuncoro, Cara Menggunakan dan Memaknai Path Analysis (Analisis Jalur) (Bandung: Alfabeta, 2011), h. 223.

 0 < r ≤ 0,20 ; korelasi sangat rendah/lemah sekali

 0,20 < r ≤ 0,40 ; korelasi rendah/lemah tapi pasti

 0,40 < r ≤ 0,70 ; korelasi yang cukup berarti

 0,70 < r ≤ 0,90 ; korelasi yang tinggi ; kuat

 0,90 < r < 1,00 ; korelasi sangat tinggi; kuat sekali, dapat diandalkan

 r = 1 ; korelasi sempurna.

b. Pengujian hipotesis

Pengujian statistiknya digunakan rumus:

0 0

b

b B

t S

  …17

Adapun syarat pengujian hipotesis yaitu:

 (tidak ada pengaruh terhadap ) :  0 (terdapat pengaruh terhadap )

Jika -tα/2 < t < tα/2, maka diterima dan ditolak, artinya tidak ada pengaruh variabel terhadap variabel . Begitupun sebaliknya, jika t > tα/2 atau t < - tα/2, maka ditolak dan diterima, artinya terdapat pengaruh antara variabel terhadap variabel .18 tα/2 diperoleh dari daftar distribusi t dengan taraf signifikan α = 0,05.

17Iqbal Hasan, Pokok-Pokok Materi Statistik 2 Statistik Inferensial, h. 227.

18Iqbal Hasan, Pokok-Pokok Materi Statistik 2 Statistik Inferensial, h. 154.

e. Analisis Regresi Berganda

Analisis regresi ganda adalah pengembangan dari analisis regresi sederhana.

Kegunaannya yaitu untuk meramalkan nilai variabel terikat (Y) apabila variabel bebas minimal dua atau lebih.19 Analisis regresi ganda digunakan untuk mengetahui pengaruh kecerdasan logis-matematis dan kecerdasan visual-spasial terhadap prestasi belajar matematika peserta didik kelas VIII SMP Negeri 4 Bontonompo Kabupaten Gowa.

a. Persamaan Regresi Linear Berganda

Persamaan yang digunakan adalah analisis regresi linear berganda dengan menggunakan persamaan sebagai berikut:

Y = a + b1 X1 + b2 X2 Keterangan :

Y = Variabel Terikat (prestasi belajar) a = Nilai konstanta

X1 dan X2 = Variabel Bebas (X1 = kecerdasan logis-matematis, X2 = kecerdasan visual-spasial).

b1.2 = koefisien regresi20 b. Kesalahan Baku Regresi

1) Menghitung kesalahan baku regresi

19Riduwan, Belajar Mudah Penelitian untuk Guru-Karyawan dan Peneliti Pemula, h. 155.

20Misbahuddin dan Iqbal Hasan, Analisis Data Penelitian dengan Statistik Edisi Ke-2 (Jakarta: Bumi Aksara, 2013), h. 89.

2) Menghitung kesalahan baku regresi b

c. Mencari Koefisien Korelasi Ganda

d. Uji Hipotesis

Pengujian hipotesis bagi koefisien regresi berganda atau regresi parsial parameter B1 dan B2 dapat dibedakan menjadi dua bentuk, yaitu pengujian hipotesis bersama dan pengujian hipotesis individual. Dalam penelitian ini pengujian hipotesis yang digunakan yaitu hipotesis bersama.

Pengujian hipotesis bersama merupakan pengujian hipotesis untuk mengetahui pengaruh variabel bebas secara bersama-sama terhadap variabel terikat.

Langkah-langkah pengujiannya yaitu sebagai berikut:

1). Menentukan formulasi hipotesis

H0 : B1 = B2 = 0 (tidak ada pengaruh X1 dan X2 terhadap Y) H1 : B1≠B2≠0 (ada pengaruh X1 dan X2 terhadap Y)

2). Menentukan taraf nyata (α) dengan f tabel:

(db) = n-k-1

3). Menentukan kriteria pengujian Menentukan nilai uji statsitik

=

4). Membuat kesimpulan

Menyimpulkan apakah H0 diterima atau ditolak

Jika Fhitung≤Ftabel maka H0 diterima dan jika Fhitung<Ftabel makaH0 ditolak

Dapat disimpulkan bahwa teknik analisis data yang digunakan dalam penelitian ini yaitu teknik analisis data inferensial. Adapun teknik analisis data inferensial mencakup uji prasyarat dan uji hipotesis. Uji prasyarat diantaranya uji normalitas dan uji linearitas.Uji hipotesis yaitu uji t dan uji F untuk mengetahui pengaruh secara bersama-sama kecerdasan logis-matematis dan kecerdasan visual-spasial terhadap prestasi belajar matematika peserta didik.

56 BAB IV

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN A. Hasil Penelitian

Hasil penelitian ini adalah jawaban atas rumusan masalah yang peneliti tetapkan sebelumnya, dimana terdapat 3 rumusan masalah. Pada rumusan masalah 1,2 dan 3 akan dijawab dengan menggunakan analisis inferensial sekaligus menjawab hipotesis yang telah ditetapkan.

Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui pengaruh kecerdasan logis-matematis dan kecerdasan visual-spasial secara bersama-sama terhadap prestasi belajar matematika peserta didik kelas VIII SMP Negeri 4 Bontonompo kabupaten Gowa. Mengambil data kedua variabel tersebut menggunakan angket. Setelah data terkumpul, selanjutnya dianalisis menggunakan analisis statistik inferensial menggunakan uji prasyarat, regresi sederhana, regresi berganda, dan uji hipotesis.

Berikut ini hasil penelitian yang peneliti dapatkan setelah melakukan penelitian:

Pada bagian ini akan dibahas tentang rumusan masalah yang pertama menggunakan statistik inferensial. Pada bagian ini akan diketahui ada tidaknya pengaruh kecerdasan logis-matematis terhadap prestasi belajar matematika.

a. Uji Prasyarat 1) Uji Normalitas

Pengujian Normalitas data dilakukan terhadap data kecerdasan logis-matematis yang dilakukan pada masing-masing kelompok dengan menggunakan

teknik Kolmogorov-Smirnov dengan bantuan SPSS versi 20.0. Berdasarkan analisis uji prasyarat yang diperoleh, maka kesimpulan hasil uji normalitas dapat dilihat pada tabel di bawah ini:

a) Pengujian Normalitas Kecerdasan logis-matematis Tabel 4.1

Uji Normalitas Kecerdasan Logis-matematis dengan SPSS 20.0

One-Sample Kolmogorov-Smirnov Test

Kecerdasan logis-matematis

N 96

Normal Parametersa,b Mean 72,01

Std. Deviation 6,393

Asymp. Sig. (2-tailed) ,080

a. Test distribution is Normal.

Pengujian normalitas dilakukan pada kecerdasan logis-matematis. Taraf signifinikan yang ditetapkan adalah = 0,05. Berdasarkan hasil pengolahan dengan SPSS 20.0 maka diperoleh sig. adalah 0,080 dengan demikian dapat disimpulkan bahwa data kecerdasan logis-matematis berdistribusi normal karena nilai sig. lebih besar dari atau (0,080> 0,05).

b) Pengujian Normalitas Data Kecerdasan Visual-Spasial Tabel 4.2

Uji Normalitas kecerdasan Visual-Spasial dengan SPSS 20.0

One-Sample Kolmogorov-Smirnov Test

Kecerdasan visual-spasial

N 96

Normal Parametersa,b Mean 62,16

Std. Deviation 7,940

Most Extreme Differences

Absolute ,097

Positive ,097

Negative -,068

Kolmogorov-Smirnov Z ,947

Asymp. Sig. (2-tailed) ,332

a. Test distribution is Normal.

Pengujian normalitas dilakukan pada kecerdasan visual-spasial. Taraf signifinikan yang ditetapkan adalah = 0,05. Berdasarkan hasil pengolahan dengan SPSS 20.0 maka diperoleh sig. adalah 0,332 dengan demikian dapat disimpulkan bahwa data kecerdasan visual-spasial berdistribusi normal karena nilai sig. lebih besar dari atau (0,332> 0,05).

c) Pengujian Normalitas Data Prestasi Belajar Matematika Tabel 4.3

Uji Normalitas Prestasi Belajar Matematika dengan SPSS 20.0

One-Sample Kolmogorov-Smirnov Test

Prestasi belajar matematika

Asymp. Sig. (2-tailed) ,209

a. Test distribution is Normal.

Berdasarkan hasil output SPSS di atas, dapat dilihat bahwa sign sebesar 0,209 dan taraf signifikasni yang ditetapkan adalah = 0,05 dengan demikian maka dapat dikatakan bahwa data prestasi belajar matematika peserta didik kelas VIII pada SMP Negeri 4 Bontonompo berditribusi normal karena (sig. = 0,209 > = 0,05)

Tabel 4.4

Rangkuman Hasil Uji Normalitas

Variabel K-SZ Sig Keterangan

Kecerdasan Logis-Matematis (X1) 1,269 0,080 Normal Kecerdasan Visual-Spasial (X2) 0,947 0,332 Normal Prestasi Belajar Matematika (Y) 1,062 0,209 Normal 2.) Uji Linearitas

Tabel 4.5

Uji Linearitas Kecerdasan Logis-matematis terhadap Prestasi Belajar SPSS 20.0

Berdasarkan tabel diatas menunjukkan bahwa hasil uji linieritas kecerdasan logis-matematis terhadap prestasi belajar matematika diperoleh hasil sig. (0,913 >

(0,05) berarti data kecerdasan logis-matematis linear.

ANOVA Table

Tabel 4.6

Uji Linearitas Kecerdasan Visual-Spasial terhadap Prestasi Belajar Matematika dengan SPSS 20.0

Linearity 593,267 1 593,267 633,29 3 ,000 Deviation from

Linearity 31,394 28 1,121 1,197 ,271

Within Groups 61,829 66 0,937

Total 686,490 95

Berdasarkan tabel diatas menunjukkan bahwa hasil uji linieritas kecerdasan visual-spasial terhadap prestasi belajar matematika diperoleh hasil sig. 0,271 >

(0,05) berarti data kecerdasan visual-spasial linear.

Tabel 4.7

Rangkuman Hasil Uji Linearitas Uji Linearitas

Variabel Sig. Keterangan

Kecerdasan Logis-Matematis* Prestasi Belajar Matematika

0,912 Linear

Kecerdasan visual-spasial*Prestasi Belajar Matematika

0,271 Linear

b. Analisis Regresi Sederhana

Pada analisis regresi linier sederhana ini digunakan untuk mengetahui pengaruh kecerdasan logis-matematis terhadap prestasi belajar matematika peserta didik Kelas VIII SMPN 4 Bontonompoo Kabupaten Gowa dan untuk mengetahui pengaruh kecerdasan visual-spasial terhadap prestasi belajar matematika peserta didik Kelas VIII SMPN 4 Bontonompoo Kabupaten Gowa.

1. Pengaruh Kecerdasan Logis-matematis Terhadap Prestasi Belajar Matematika Peseta Didik Kelas VIII SMP Negeri 4 Bontonompo Kab.Gowa

a) Persamaan Regresi Sederhana

Rumus analisis regresi linier sederhana dengan menggunakan SPSS versi 20 sebagai berikut:

Tabel 4.8

Hasil Analisis Regresi Sederhana dengan SPSS 20.0 Coeffisientsa

a. Dependent Variable: prestasi belajar matematika

Dari tabel coefficients (a) menunjukkan bahwa model persamaan regresi sederhana untuk memperkirakan prestasi belajar matematika yang dipengaruhi oleh kecerdasan logis-matematis adalah:

Y= 61,409 + 0,282X1

Y adalah prestasi belajar dan X1 adalah kecerdasan logis-matematis. Dari persamaan di atas, dapat di analisis bahwa variabel memiliki hubungan dengan

variabel , yaitu jika variabel X mengalami peningkatan satu satuan, maka variabel Y

juga akan mengalami perubahan.

b) Uji Hipotesis

Pengujian hipotesis pada penelitian ini digunakan pengujian secara parsial.

Kriteria penentuan pengujian dilakuan dengan uji t dan signifikansinya.

Uji t digunakan untuk mengetahui apakah secara parsial kecerdasan logis-matematis berpengaruh secara signifikan terhadap prestasi belajar matematika.

Pengujian menggunakan tingkat signifikansi 0,05 dan 2 sisi. Langkah-langkah pengujian sebagai berikut.

Pengujian berdasarkan signifikansi

Tabel 4.9

Hasil Analisis Regresi Sederhana dengan SPSS 20.0

Model Unstandardized

a. Dependent Variable: prestasi belajar matematika

(1) Merumuskan hipotesis

H0 : Tidak terdapat perbedaan pengaruh yang signifikan antara kecerdasan

logis-matematis terhadap prestasi belajar

H1 : Terdapat perbedaan pengaruh yang signifikan antara kecerdasan logis-matematis terhadap prestasi belajar

(2) Menentukan signifikansi

Dari output didapatkan nilai signifikansi sebesar 0,000 (3) Kriteria pengujian

- Jika signifikansi > 0,05, maka H0 diterima.

- Jika signifikansi < 0,05, maka H0 ditolak (4) Membuat kesimpulan

Nilai signifikansi < 0,05 (0,000< 0,05), maka H0 ditolak. Jadi dapat disimpulkan bahwa terdapat pengaruh yang signifikan kecerdasan logis-matematis terhadap prestasi belajar .

2. Pengaruh Kecerdasan Visual-Spasial terhadap Prestasi Belajar Matematika Peseta Didik Kelas VIII SMP Negeri 4 Bontonompo Kab.Gowa

a) Persamaan Regresi Sederhana

Rumus analisis regresi linier sederhana dengan menggunakan SPSS versi 20 sebagai berikut:

Tabel 4.10

Hasil Analisis Regresi Sederhana dengan SPSS 20.0

Coefficientsa

Kecerdasan visual-spasial

,315 ,013 ,930 24,458 ,000

a. Dependent Variable: prestasi belajar matematika

Dari tabel coefficients (a) menunjukkan bahwa model persamaan regresi sederhana untuk memperkirakan prestasi belajar matematika yang dipengaruhi oleh kecerdasan visual-spasial adalah:

Y= 62,176 + 0,315X2

Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa variabel memiliki hubungan dengan variabel , yaitu jika variabel X mengalami peningkatan satu satuan, maka variabel Y juga akan mengalami perubahan.

b) Uji Hipotesis

Pengujian hipotesis pada penelitian ini digunakan pengujian secara parsial.

Kriteria penentuan pengujian dilakuan dengan dua cara yaitu uji t dan signifikansinya.

Uji t digunakan untuk mengetahui apakah secara parsial kecerdasan spasial berpengaruh secara signifikan terhadap prestasi belajar matematika. Pengujian menggunakan tingkat signifikansi 0,05 dan 2 sisi. Langkah-langkah pengujian sebagai berikut

Pengujian berdasarkan signifikansi

Tabel 4.11

Hasil Analisis Regresi Sederhana dengan SPSS 20.0

Coefficientsa

H0 : Tidak terdapat perbedaan pengaruh yang signifikan antara kecerdasan visual-spasial terhadap prestasi belajar

H1 : Terdapat perbedaan pengaruh yang signifikan antara kecerdasan visual-spasial terhadap prestasi belajar

(2) Menentukan signifikansi

Dari output didapatkan nilai signifikansi sebesar 0,000.

(3) Kriteria pengujian

- Jika signifikansi > 0,05, maka H0 diterima.

- Jika signifikansi < 0,05, maka H0 ditolak (4) Membuat kesimpulan

Nilai signifikansi < 0,05 (0,000< 0,05), maka H0 ditolak. Jadi dapat disimpulkan bahwa terdapat pengaruh yang signifikan kecerdasan visual-spasial terhadap prestasi belajar .

3. Pengaruh Kecerdasan Logis-matematis dan Kecerdasan Visual-Spasial Secara Bersama-Sama terhadap Prestasi Belajar Peserta Didik SMP Negeri 4 Bontonompo Kabupaten Gowa.

Pada bagian ini akan dibahas tentang rumusan masalah yang ketiga menggunakan statistik inferensial pada bagian ini akan diketahui ada tidaknya pengaruh terhadap prestasi belajar matematika.

a) Persamaan Regresi Berganda

Pada analisis regresi linier berganda ini digunakan untuk mengetahui pengaruh kecerdasan logis-matematis dan kecerdasan visual-spasial secara bersama-sama terhadap prestasi belajar peserta didik kelas VIII SMP Negeri 4 Bontonompo Kabupaten Gowa.

Rumus analisis regresi linier berganda dengan menggunakan SPSS versi 20.0 sebagai berikut.

Tabel 4.12

Coefficients (a) dengan SPSS 20

Coefficientsa

a. Dependent Variable: hasil belajar

Dari tabel coefficients (a) menunjukkan bahwa model persamaan regresi berganda untuk memperkirakan prestasi belajar matematika yang dipengaruhi oleh

kecerdasan logis-matematis dan kecerdasan visual-spasial adalah:

Y= 60,366 + 0,046 X1+0,290 X2

Y adalah prestasi belajar, X1 adalah kecerdasan logis-matematis, dan X2

adalah kecerdasan visual-spasial. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa variabel memiliki hubungan dengan variabel , yaitu jika variabel X mengalami peningkatan satu satuan, maka variabel Y juga akan mengalami perubahan.

Koefisien regresi berganda sebesar 0,046 dan 0,290 mengindikasikan bahwa besaran penambahan tingkat prestasi belajar matematika setiap pertambahan jawaban peserta didik untuk variabel kecerdasan logi-matematis dan kecerdasan visual-spasial.

Berdasarkan aplikasi analisis SPSS 20.0 diperoleh kesimpulan hasil analisis yaitu sebagai berikut:

Tabel 4.13

Uji Signifikansi Koefisien Regresi Berganda dengan SPSS 20.0

Rxy R2 F Sig Kesimpulan

0,933 0,871 314,197 0,000 Berkorelasi positif sangat signifikan

Berdasarkan hasil analisis diperoleh nilai Rxy sebesar 0,871. Hal ini menunjukkan bahwa terjadi pengaruh yang cukup erat antara kecerdasan logis-matematis dan kecerdasan visual-spasial terhadap prestasi belajar matematika.

Berdasarkan tabel diperoleh angka R2 (R Square) sebesar 0,871 atau (87,1%).

Hal ini menunjukkan bahwa persentase sumbangan kecerdasan logis-matematis dan kecerdasan visual-spasial terhadap prestasi belajar matematika sebesar 87,1%

sedangkan sisanya sebesar 12,9% dipengaruhi atau dijelaskan oleh variabel lain yang tidak dimasukkan dalam model penelitian ini.

b) Uji Hipotesis

Pengujian hipotesis pada penelitian ini dibagi atas 2 yaitu pengujian secara parsial dan simultan. Kriteria penentuan pengujian dilakuan dengan dua cara yaitu uji t dan signifikansinya.

1) Pengujian Parsial (Uji t)

Uji t digunakan untuk mengetahui apakah secara parsial kecerdasan logis-matematis dan kecerdasan visual-spasial berpengaruh secara signifikan terhadap prestasi belajar matematika. Pengujian menggunakan tingkat signifikansi 0,05 dan 2 sisi. Langkah-langkah pengujian sebagai berikut.

a) Pengujian Koefisien Variabel kecerdasan logis-matematis (b1) Pengujian berdasarkan signifikansi

Tabel 4.14

Coefficients (a) dengan SPSS 20.0

Coefficientsa

Model

Unstandardized Coefficients

Standardized Coefficients

T Sig.

B Std. Error Beta

1 (Constant) 60,366 1.133 53.266 .000

Logis-matematis ,046 .021 .110 2.228 .028

Visual-Spasial .290 .017 .858 17.411 .000

a. Dependent Variable: prestasi belajar

(1) Merumuskan hipotesis

H0 : Tidak terdapat perbedaan pengaruh yang signifikan antara kecerdasan logis-matematis dan kecerdasan visual-spasial terhadap prestasi belajar H1 : Terdapat perbedaan pengaruh yang signifikan antara kecerdasan

logis-matematis dan kecerdasan visual-spasial terhadap prestasi belajar (2) Menentukan signifikansi

Dari output didapatkan nilai signifikansi sebesar 0,028.

(3) Kriteria pengujian

- Jika signifikansi > 0,05, maka H0 diterima.

- Jika signifikansi < 0,05, maka H0 ditolak (4) Membuat kesimpulan

Nilai signifikansi < 0,05 (0,028< 0,05), maka H0 ditolak. Jadi dapat disimpulkan bahwa terdapat pengaruh yang signifikan kecerdasan logis-matematis dan kecerdasan visual-spasial terhadap prestasi belajar matematika.

b) Pengujian Koefisien Variabel kecerdasan visual-spasial (b2) Pengujian berdasarkan signifikansi

Tabel 4.15

Coefficients (a) dengan SPSS 20

Coefficientsa

Model

Unstandardized Coefficients

Standardized Coefficients

T Sig.

B Std. Error Beta

1 (Constant) 60,366 1.133 53.266 .000

Logis-matematis ,046 .021 .110 2.228 .028

Visual-Spasial .290 .017 .858 17.411 .000

(1) Merumuskan hipotesis

H0 : Tidak terdapat perbedaan pengaruh yang signifikan antara kecerdasan logis-matematis dan visual-spasial terhadap prestasi belajar.

H1 : Terdapat perbedaan pengaruh yang signifikan antara kecerdasan logis-matematis dan visual-spasial terhadap prestasi belajar.

(2) Menentukan signifikansi

Dari output didapatkan nilai signifikansi sebesar 0,000.

(3) Kriteria pengujian

- Jika signifikansi > 0,05, maka H0 diterima.

- Jika signifikansi < 0,05, maka H0 ditolak.

(4) Membuat kesimpulan

Nilai signifikansi < 0,05 (0,000 < 0,05), maka H0 ditolak. Jadi dapat disimpulkan bahwa terdapat pengaruh yang signifikan antar kecerdasan logis-matematis dan visual-spasial terhadap prestasi belajar matematika.

2. Pengujian Simultan (uji F)

Pengujian Simultan merupakan pengujian secara bersama-sama koefisien variabel kecerdasan logis-matematis dan kecerdasan visual-spasial (b1 dan b2) terhadap prestasi belajar matematika.

Tabel 4.16

Hasil Anova (b) dengan SPSS 20

ANOVAa

Model Sum of Squares df Mean Square F Sig.

1

Regression 597,989 2 298,995 314,197 ,000b

Residual 88,500 93 ,952

Total 686,490 95

a. Dependent Variable: prestasi_belajar_mtk

b. Predictors: (Constant), kecerdasan visual-spasial, kecerdasan logis-matematis

a) Merumuskan hipotesis

H0 : Tidak terdapat perbedaan pengaruh yang signifikan antara kecerdasan logis-matematis dan kecerdasan visual-spasial terhadap prestasi belajar matematika.

H1 : Terdapat perbedaan pengaruh yang signifikan antara kecerdasan logis-matematis dan kecerdasan visual-spasial terhadap prestasi belajar matematika

b) Menentukan Fhitung

Dari output diperoleh nilai Fhitung = 314,197 c) Menentukan nilai Ftabel

Nilai Ftabeldapat dilihat pada tabel statistik untuk signifikansi 0,05 dengan dan Jadi, (3–1) = 2 atau (96–3) = 93. Hasil diperoleh untuk Ftabel sebesar 3,098

d) Menentukan kriteria pengujian

- JikaFhitung<Ftabel, maka H0 diterima - Jika Fhitung>Ftabel, maka H0 ditolak

e) Membuat Kesimpulan

Karena Fhitung > Ftabel (314,197> 3,098) maka H0 ditolak. Jadi dapat disimpulkan bahwa terdapat perbedaan pengaruh yang signifikan dari kecerdasan logis-matematis dan kecerdasan visual-spasial terhadap prestasi belajar matematika.

B. Pembahasan

1. Pengaruh Kecerdasan Logis-matematis terhadap Prestasi Belajar Matematika Peserta didik

Kecerdasan logis-matematis adalah kemampuan peserta didik dalam memahami pola-pola dan hubungan. Kecerdasan logis-matematis berpengaruh terhadap prestasi belajar peserta didik disebabkan beberapa indikator-indikator seperti kemampuan seseorang melakukan perhitungan matematis, kemampuan berpikir logis, kemampuan memecahkan masalah, pola pikir deduksi dan induksi, dan kemampuan mengenali pola dan hubungan. Indikator yang digunakan tersebut untuk mengukur kecerdasan logis-matematis pada mata pelajaran matematika diperoleh hasil bahwa kecerdasan logis-matematis berpengaruh terhadap prestasi belajar matematika peserta didik.

Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa kecerdasan logis-matematis berpengaruh secara signifikan terhadap prestasi belajar matematika peserta didik kelas VIII SMP Negeri 4 Bontonompo Kabupaten Gowa.. Adapun faktor lain yang juga berpengaruh terhadap prestasi belajar matematika peserta didik, seperti faktor kecerdasan linguistic dan sebagainya.

Penelitian tentang kecerdasan logis-matematis yang dilakukan oleh Supardi mengatakan bahwa terdapat pengaruh kecerdasan logis-matematis terhadap prestasi belajar matematika peserta didik. Penelitian tersebut dapat diketahui bahwa kecerdasan logis-matematis berkaitan dengan prestasi belajar peserta didik.1

Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa peserta didik kelas VIII SMP Negeri 4 Bontonompo masih memiliki kecerdasan logis-matematis yang sedang. Hal ini disebabkan oleh faktor instrinsik (seperti cita-cita dan aspirasi peserta didik, kemampuan peserta didik, serta kondisi peserta didik) dan faktor ekstrinsik (seperti kondisi lingkungan peserta didik dan upaya guru dalam membelajarkan peserta didik).

2. Pengaruh Kecerdasan Visual-Spasial terhadap Prestasi Belajar Matematika Peserta didik

Kecerdasan visual-spasial adalah kemampuan peserta didik dalam memahami gambar-gambar dan bentuk-bentuk. Kecerdasan visual-spasial berpengaruh terhadap prestasi belajar peserta didik disebabkan beberapa indikator-indikator seperti kemampuan seseorang dalam memahami gambar, mampu membaca peta, diagram, mampu berimajinasi, dan sangat baik dalam menghubungkan antara objek dan ruang.

Indikator yang digunakan tersebut untuk mengukur kecerdasan visual-spasial pada mata pelajaran matematika diperoleh hasil bahwa kecerdasan visual-spasial berpengaruh terhadap prestasi belajar matematika peserta didik. Hasil penelitian ini

1Supardi, “Peran Kedisiplinan Belajar Dan Kecerdasan Matematis Logis Dalam Pembelajaran Matematika”, Skripsi (Fakultas Teknik, Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Indraprasta PGRI, 2014).

menunjukkan bahwa peserta didik kelas VIII SMPN 4 Bontonompo Kab. Gowa memiliki kecerdasan visual-spasial sedang. Hal ini disebabkan oleh faktor eksternal seperti faktor lingkungan.

Dengan demikian kecerdasan visual-spasial mempengaruhi prestasi belajar matematika peserta didik karena seseorang yang memiliki kecerdasan visual-spasial yang tinggi maka ia akan memusatkan perhatian/pikiran pada pelajaran dalam bentuk gambar atau visual. Berdasarkan hal tersebut maka peneliti mengasumsikan bahwa peserta didik yang memiliki kecerdasan visual-spasial yang tinggi maka berdampak pada peningkatan prestasi belajar matematika, begitu pula sebaliknya.

Penelitian lain tentang kecerdasan visual-spasial yang dilakukan oleh Muhamad Ghoni Rif’an mengatakan bahwa terdapat pengaruh kecerdasan visual-spasial terhadap prestasi belajar matematika peserta didik. Jadi dari kedua penelitian tersebut dapat diketahui bahwa kecerdasan visual-spasial berkaitan dengan prestasi belajar.2

3. Pengaruh Kecerdasan Logis-matematis dan Kecerdasan Visual-Spasial secara

3. Pengaruh Kecerdasan Logis-matematis dan Kecerdasan Visual-Spasial secara

Dokumen terkait