• Tidak ada hasil yang ditemukan

Adapun manfaat hasil penelitian:

1. diharapkan dapat memberikan kontribusi terhadap sekolah yang bersangkutan

2. serta dapat memberikan kontribusi bagi tanggung jawab orang tua, dalam rangka membentuk siswa yang berakhlak mulia secara optimal

3. untuk menciptakan generasi yang berprilaku baik yang akhlaknya sesuai dengan nilai-nilai islam, baik itu dalam lingkungan keluarga hingga lingkungan yang lebih kompleks.

6

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

A. Pendidikan Agama Islam

1.Pengertian Pendidikan Agama Islam

Pendidikan agama islam berarti usaha-usaha yang dilakukan secara sistematis danpragmatis dalam membantu anak didik agar mereka hidup sesuai dengan ajaran islam.Pendidikan islam merupakan pengembangan pikiran,penataan perilaku,pengaturan emosional, hubungan dan peranan manusia dengan alam ini,sehingga mampu meraih tujuan kehidupan sekaligus mengupayakan perwujudannya.

Zakiah Darajat (2000:25) pendidikan islam adalah pendidikan individu dan masyarakat karena memuat tingkah laku individu dan masyarakat bimbingan jasmani,rohani,berdasarkan hukum-hukum agama islam menuju kepada terbentuknya kepribadian utama menurut ukuran-ukuran islam.Dengan pengertian yang lain seringkali beliau mengatakan kepribadian utama tersebut dengan istilah “kepribadian muslim” yaitu kepribadian yang memiliki nilai-nilai agama islam, memilih dan memutuskan serta berbuat berdasarkan nilai-nilai islam dan bertanggung jawab sesuai dengan nilai-nilai islam

Sebelum membahas lebih lanjut pengertian pendidikan agama islam penulis terlebih dahulu akan mengemukakan arti pendidikan pada umumnya.Istilah pendidikan berasal dari kata didik,dengan memberinya

6

awalan“pe”dan akhiran “kan” mengandung arti perbuatan(hal,cara,dan sebagainya).Istilah pendidikan ini semula berasal dari bahasa Yunani yaitu “paedagogie” yang berarti bimbingan yang diberikan kepada anak.Istilah ini kemudian diterjemahkan kedalam bahasa inggris yaitu”education”yang berarti pengembangan atau bimbingan.Dalam bahasa arab istilah ini sering diterjemahkan dengan “tarbiyah”yang berarti pendidikan.

Ahmad D Marimba (1986:67) mengatakan bahwa :

“Pendidikan adalah bimbingan atau pimpinan yang dilakukan secara sadar oleh si pendidik terhadap perkembangan jasmani dan rohani si terdidik menuju kepribadian yang utama”

Sahertian (2000 : 1) mengatakan bahwa :

“ pendidikan adalah usaha sadar urut yang dengan sengaja dirancangkan untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan .”

Dari semua defenisi itu dapat di simpulkan bahwa pendidikan adalah sebuah kegiatan yang dilakukan dengan sengaja dan terencana yang dilakukan oleh orang dewasa yang memiliki ilmu dan keterampilan kepada anak didik demi tercapainya insan kamil.

Pendidikan yang dimaksud dalam pembahasan ini adalah pendidikan agama islam .Adapun kata islam dalam istilah pendidikan islam menunjukkan sikap pendidikan tertentu yaitu pendidikan yang

8

memiliki nuansa-nuansa islam.Untuk memperoleh gambaran mengenai pendidikan agama islam berikut ini beberapa defenisi mengenai pendidikan agama islam,yaitu :

Menurut Zuhairani (1983 : 27) Pendidikan Agama Islam yaitu:

"usaha-usaha secara sistematis dan pragmatis dalam membantu anak didik agar mereka hidup sesuai dengan ajaran Islam".

Sedangkan Ahmad Tafsir (2005 : 45) mendefenisikan bahwa:

“pendidikan islam sebagai bimbingan yang diberikan oleh seseorang agar ia berkembang secara maksimal sesuai dengan ajaran Islam “

Dari beberapa defenisi tersebut, penulis dapat menyimpulkan bahwa pendidikan Islam adalah suatu sistem yang memungkinkan seseorang (peserta didik) agar dapat mengarahkan kehidupannya sesuai dengan ideologis atau gaya pandang umat islam selama hidup di dunia.

Adapun pengertian lain pendidikan agama islam secara alamiah adalah manusia tumbuh dan berkembang sejak dalam kandungan sampai meninggal, mengalami proses tahap demi tahap. Demikian pula kejadian alam semesta ini diciptakan Tuhan melalui proses setingkat demi setingkat, pola perkembangan manusia dan kejadian alam semesta yang berproses demikian adalah berlangsung di atas hukum alam yang ditetapkan oleh Allah sebagai “sunnatullah”

Pendidikan sebagai usaha membina dan mengembangkan pribadi manusia dari aspek-aspek rohaniah dan jasmani juga harus berlangsung secara bertahap oleh karena suatu kematangan yang bertitik akhir pada optimalisasi perkembangan dan pertumbuhan dapat tercapai bilamana berlangsung melalui proses demi proses ke arah tujuan akhir perkembangan atau pertumbuhannya.

Berdasarkan uraian di atas, maka penulis dapat menyimpulkan bahwa pendidikan agama Islam adalah usaha sadar atau kegiatan yang disengaja dilakukan untuk membimbing sekaligus mengarahkan anak didik menuju terbentuknya pribadi yang utama (insan kamil) berdasarkan nilai-nilai etika islam dengan tetap memelihara hubungan baik terhadap Allah Swt (HablumminAllah) sesama manusia (hablumminannas), dirinya sendiri dan alam sekitarnya.

2.Tujuan Pendidikan Agama Islam

Sebelum peneliti mengemukakan tujuan Pendidikan Agama tersebut terlebih dahulu akan mengemukakan tujuan pendidikan secara umum. Tujuan pendidikan merupakan faktor yang sangat penting, karena merupakan arah yang hendak dituju oleh pendidikan itu. Demikian pula halnya dengan Pendidikan Agama Islam, yang tercakup mata pelajaran akhlak mulia dimaksudkan untuk membentuk peserta didik menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa serta

10

berakhlak mulia. Akhlak mulia mencakup etika, budi pekerti, atau moral sebagai perwujudan dari pendidikan agama.

Tujuan pendidikan secara formal diartikan sebagai rumusan kualifikasi, pengetahuan, kemampuan dan sikap yang harus dimiliki oleh anak didik setelah selesai suatu pelajaran di sekolah, karena tujuan berfungsi mengarahkan, mengontrol dan memudahkan evaluasi suatu aktivitas sebab tujuan pendidikan itu adalah identik dengan tujuan hidup manusia

Dari uraian di atas tujuan Pendidikan Agama peneliti sesuaikan dengan tujuan Pendidikan Agama di lembaga-lembaga pendidikan formal dan peneliti membagi tujuan Pendidikan Agama itu menjadi dua bagian dengan uraian sebagai berikut :

a. Tujuan Umum

Tujuan umum Pendidikan Agama Islam adalah untuk mencapai kwalitas yang disebutkan oleh Al-Qur'an dan hadits sedangkan fungsi pendidikan nasional adalah mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk mengembangkan potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab. Untuk mengembangkan fungsi

tersebut pemerintah menyelenggarakan suatu sistem pendidikan nasional yang tercantum dalam Undang-Undang No. 20 Tahun 2003 Pasal 1 ayat 2 tentang Sistem Pendidikan Nasional yakni :

“Pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki keagamaan,pengendaliandiri,kepribadian,kecerdasan,akhlakmulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat,bangsa dan negara”.

Dari tujuan umum pendidikan di atas berarti Pendidikan Agama bertugas untuk membimbing dan mengarahkan anak didik supaya menjadi muslim yang beriman teguh sebagai refleksi dari keimanan yang telah dibina oleh penanaman pengetahuan agama yang harus dicerminkan dengan akhlak yang mulia sebagai sasaran akhir dari Pendidikan Agama itu.

Tujuan umum pendidikan Islam adalah terwujudnya manusia sebagai hambah Allah, ia mengatakan bahwa tujuan ini akan mewujudkan tujuan-tujuan khusus.Jadi menurut Islam, pendidikan haruslah menjadikan seluruh manusia menjadi manusia yang menghambakan diri kepada Allah atau dengan kata lain beribadah kepada Allah.Islam menghendaki agar manusia dididik supaya ia mampu merealisasikan tujuan hidupnya sebagaimana yang telah digariskan oleh Allah.Bahwa tujuan penciptaan manusia adalah untuk beribadah kepada Allah SWT.sebagai khaifah dipermukaan bumi.

12

b. Tujuan Khusus

Tujuan khusus Pendidikan Agama adalah tujuan yang disesuaikan dengan pertumbuhan dan perkembangan anak sesuai dengan jenjang pendidikan yang dilaluinya, sehingga setiap tujuan Pendidikan Agama pada setiap jenjang sekolah mempunyai tujuan yang berbeda-beda.

Tujuan khusus pendidikan seperti di SLTP/SMP/MTs adalah untuk meningkatkan kecerdasan, pengetahuan, kepribadian, akhlak mulia, keterampilan untuk hidup mandiri dan mengikuti pendidikan lebih lanjut serta meningkatkan tata cara membaca al-Qur’an dan tajwid sampai kepada tata cara menerapkan hukum bacaan mad dan wakaf.

Membiasakan perilaku terpuji seperti qanaah dan tasawuh dan menjawukan diri dari perilaku tercela seperti ananiah, hasad, ghadab dan namimah serta memahami dan meneladani tata cara mandi wajib dan shalat-shalat wajib maupun shalat sunat.

Sedangkan tujuan lain untuk menjadikan anak didik agar menjadi pemeluk agama yang aktif dan menjadi masyarakat atau warga negara yang baik dimana keduanya itu terpadu untuk mewujudkan apa yang dicita-citakan merupakan suatu hakekat, sehingga setiap pemeluk agama yang aktif secara otomatis akan menjadi warga negara yang baik, terciptalah warga negara yang panca sila dengan sila Ketuhanan Yang Maha Esa.sebagai sila pertama yang menjadi inti bagi sila yang lain.dan hal inilah yang ingin diwujudkan bersama.

c. Tujuan Sementara

Tujuan sementara adalah tujuan yang akan dicapai setelah anak didik di beri sejumlah pengalaman tertentu yang direncanakan dalam suatu kurikulum pendidikan formal .Pada tujuan sementara bentuk insan kamil dengan pola takwa sudah kelihatan meskipun masih sederhana.Disinilsh ysng membedakan tujuan pendidikan agama islam dengan pendidikan yang lainnya.

d. Tujuan Operasional

Tujuan operasional adalah tujuan praktis yang akan dicapai dengan sejumlah kegiatan pendidikan tertentu,satu unit kegiatan pendidikan daengan bahan-bahan pendidikan yang sudah di siapkan dan diperkirakan untuk mencapai tujuan tertentu isebut tujuan operasional dalam pendidikan formal tujuan operasional juga diebut tujuan instruksional yang selanjutnya dikembangkan menjadi tujuan instruksional umum. Dan tujuan instruksional khusus.Tujuan instruksional ini merupakan tujuan pengajaran yang direncanakan dalam unit-unit kegiatan pengajaran..Dalam tujuan operasional ini lebih banyak dituntut dari anak didik suatu keterampilan dan kemampuan tertentu.Sifat operasionalnya lebih di tonjolkan dari pada penghayatan dan kepribadian,untuk tingkat yang paling rendah sikap yang berisi keterampilan lebih ditonjolkan.Hal tersebut adalah merupakan tujuan pendidikan jika ditinjau dari tujuan operasionalnya.

14

e. Tujuan Akhir

Pendidikan Islam itu berlaku seumur hidup maka tujuan akhirnya terdapat pada waktu hidup didunia ini telah berakhir pula .Tujuan umum yang berbentuk insan kamil dengan pola takwa dapat mengalami naik turun, bertambah dan berkurang dalam perjalanan hidup seseorang.Perasaan, lingkungan ,dan pengalaman dapat mempengaruhinya .Karena itulah pendidikan islam itu berlaku seumur hidup .untuk menumbuhkan, memupuk, mengembangkan, memelihra dan mempertahankan tujuan pendidikan yang telah dicapai.

3. Dasar Pendidikan Agama Islam

a. Al-qur’an

Al-qur’an adalah Kalamullah yang diturunkan melalui Malaikat Jibril kepada Nabi Muhammad dengan lafaz Bahasa Arab dan makna hakiki untuk menjadi hujjah bagi Rasullullah atas kerasulannya dan menjadi pedoman bagi manusia dengan petunjuknya serta beribadah membacanya

Nabi Muhammad SAW sebgai pendidik pertama, pada masa awal pertumbuhan Islam setelah menjadikan Al-Qur’an sebagai dasar pendidikan Islam di samping sunnah beliau sendiri.

Kedudukan Al-Qur,an sebagai sumber pokok pendidikan Islam dapat di pahami dari ayat Qur’an itu sendiri.Ada begitu banyak ayat dalam Al-Qur’an yang menjelaskan tentang Al-Al-Qur’an sebagai sumber pokok ajaran

islam dan salah satunya adalah Firman Allah SWT Dalam Qs.An-Nahal(16) ayat 64 yaitu :

 ini,melainkan agar kamu dapat menjelaskan kepada mereka apa yang mereka perselisihkan itu dan menjadi petunjuk dan rahmat bagi kaum yang beriman. (Departemen Agama RI ,2005:267)

Ayat tersebut menjelaskan tentang Al-Quran sebagai sumber pokok ajaran islam.

b. Al-Hadits

Hadits merupakan sumber hukum islam yang ke dua setelah Al-Qur’an.Hadits adalah segala sesuatu yang bersumber dari Nabi ,baik berupa perkataan ,perbuatan,maupun taqrir Beliau.Hadits dijadikan dasar pendidikan Islam Nabi Muhammad SAW adalah suri tauladan yang baik bagi manusia.

B. Pendidikan Agama Islam dalam Keluarga

keluarga muslim merupakan benteng utama tempat anak-anak dibesarkan melalui pendidikan islam.Yang dimaksud keluarga muslim adalah keluarga yang mendasarkan aktifitasnya sesuai dengan syariat islam.

16

1. Tujuan Pendidikan Agama Islam dalam Keluarga

Berdasarkan Al-Qur’an dan Sunnah kita dapat mengatakan bahwa tujuan terpenting dari pembentukan keluarga adalah sebagai berikut:

a. Mendirikan syariat Allah dalam segala permasalahan rumah tangga

Tujuan berkeluarga adalah mendirikan rumah tangga muslim yang mendasarkan kehidupannya pada perwujudan penghambaan kepada Allah SWT.Demikianlah anak-anak akan tumbuh dan dibesarkan dalam rumah yang dibangun atas dasar ketakwaan kepada Allah,ketaatan pada syariat Allah,dan keinginan menegakkan syariat Allah.Dengan sangat mudah anak-anak akan meniru kebiasaan orang tua dan akhirnya terbiasa untuk hidup islami dan ketika dia sudah dewasa pun dia akan merasakan kepuasan pada aqidah yang dianut dirinya dan orang tuanya.

b. Mewujudkan ketentraman psikologis

Tujuan berkeluarga adalah untuk memperoleh ketentraman dalam hidup, hal ini sesuai dengan firman Allah SWT dalam Q.S.Ar-Rum (30) ayat 21 yaitu:

Terjemahannya:

Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu isteri-isteri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan dijadikan-Nya diantaramu rasa kasih dan sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berfikir.(Departemen Agama RI (2005:404)

Ayat tersebut memberikan penjelasan kepada kita bahwa jika suami isteri bersatu diatas landasan kasih sayang dan ketentraman psikologis yang interaktif anak-anak akan tumbuh dalam suasana bahagia,percayadiri, tentram, kasihsayang, jauh dari kekacauan kesulitan,dan penyakit batin yang melemahkan kepribadian anak

c. Mewujudkan sunnah Rasulullah SAW dengan melahirkan anak-anak yang shaleh sehingga ummat manusia merasa bangga dengan kehadiran kita

Rasulullah Muhammad SAW pernah bersabda tentang perintah untuk menikah dan melahirkan keturunan yang banyak sehingga beliau bisa membanggakan kita dihadapan ummat yang lain.Hal ini mengisyaratkan bahwa kewajiban dalam rumah tangga adalah mendidik putra putrinya melalui pendidikan yang dapat mewujudkan tujuan islam dan itu terpatri dalam jiwa mereka .Kebanggaan ummat ini hanya terletak dari lahirnya keturunan yang shaleh.Dan tanggung jawab itu terletak diatas pundak orang tua sehingga anak-anak terhindar dari kerugian, keburukan, dan api neraka yang senantiasa menantikan manusia yang jauh dari Allah SWT.

18

d. Memenuhi kebutuhan cinta kasih anak-anak

Naluri menyayangi anak merupakan potensi yang diciptakan bersamaan dengan penciptaan manusia dan binatang.Allah menjadikan naluri itu sebagai salah satu landasan kehidupan alamiyah,psikologis,dan sosial mayortas makhluk hidup.

Keluarga terutama orang tua bertanggung jawab untuk memberikan kasih sayang kepada anak anaknya.Dalam hal ini Rasulullah adalah figur pencinta anak yang ideal ,beliau mengasihi anak dan bersabar dalam menghadapi rajukannya.

Al-Bukhari meriwayatkan sebuah hadits tentang kecintaan Rasulullah terhadap anak kecil melalui perkataan Abu Qatadah Al-Anshari yang artinya sebagai berikut:

“Dari Abu Qatadah Al-Anshari berkata: ’Rasulullah keluar dari rumah menuju kami sedangkan Umamah binti Abul ‘Ash berada dipundaknya, kemudian Nabi shalat, maka ketika rukuk beliau meletakkan Umamah danketika berdiri beliau menggendong Umamah .” (HR.Bukhari)

Sedangkan dalam hadis lain yang diriwayatkan oleh Bukhari dari Usamah bin Zaid diceritakan bahwa:

“Dari Usamah bin Zaid berkata;” Nabi Muhammad SAW menggendongku, kemudian mendudukkan aku diatas pahanya dan mendudukkan Hasan diatas pahnya yang lain kemudian Nabi mendekap kami berdua kemudian berkata:’ Ya Allah kasihanilah mereka berdua,sebab aku mengasihi mereka.” (HR.Bukhari)

Dari hadits tersebut dapat kita dapat menarik kesimpulan bahwa ada begitu banyak hikmah pendidikan dan keteladanan yang ditunjukkan

Rasul, sehingga kita dapat mengaplikasikannya dalam kehidupan sehari-hari.Keteladanan itu diantaranya adalah:

Hadits tersebut menunjukkan Ketidaksetujuan Rasul terhadap orang tua yang tidak mencintai, mengasihi, dan menyayangi anak-anaknya.Dalam hal memberikan kasih sayang Rasul tidak membedakan anak laki-laki atau anak perempuan,besar atau kecil dan tidak membedakan kedudukan anak yang dikasihinya.

Dari hadits yang diriwayatkan Usamah bin Zaid kita dapat melihat bagaimana kesamaan perlakuan Nabi terhadap cucunya sendiri Hasan, dan terhadap Usamah Anak dari Zaid bin Haritsah

e. Menjaga fitrah anak agar anak tidak melakukan penyimpangan-penyimpangan

Dalam konsepsi islam keluarga adalah penanggung jawab utama terhadap terpeliharanya fitrah anak , dengan demikian penyimpangan – penyimpangan yangdilakukan anak merupakan lebih disebabkan oleh ketidak waspadaan orang tua atau pendidik terhadap perkembangan anak.

Pada hakikatnya anak dilahirkan dalam kondidsi bersih, sebagaimana disabdakan Rasul dari Abu Hurairah yaitu:

ُل ْوُﺳَر َلﺎَﻗ :ُل ْوُﻘَﯾ َنﺎَﻛ ُﮫﱠﻧَأ ُﮫْﻧَﻋ ُﷲ َﻲ ِﺿَر َةَرْﯾَرُھ ْﻲِﺑَأ ْنَﻋ ْنِﻣﺎَﻣ :َمﱠﻠَﺳ َو ِﮫْﯾَﻠَﻋ ُﷲ ﻰﱠﻠَﺻ ِﷲ

ِﮫِﻧﺎَﺳﱢﺟَﻣُﯾ ْوَا ,ِﮫِﻧاَرﱢﺻَﻧُﯾ َو ,ِﮫِﻧاَد ﱢوَﮭُﯾ ُها َوَﺑَﺄَﻓ ,ِةَرْطِﻔْﻟا ﻰَﻠَﻋ ُدَﻟ ْوُﯾ ﱠﻻِا ٍد ْوُﻟ ْوَﻣ )

ُهاوَر ( مﻠﺳﻣ

Artinya:

20

Dari Abu Hurairah RA, dia berkata, ‘Rasulullah SAW telah bersabda: Seorang bayi tidak dilahirkan (ke dunia ini) melainkan ia berada dalam kesucian (fitrah). Kemudian kedua orang tuanyalah yang akan membuatnya menjadi Yahudi, Nasrani ataupun Majusi.(H.R.Muslim)

Dari hadits tersebut mengedepankan kuatnya faktor lingkungan.

Dalam hal ini meski ada potensi fitrah keagamaan tauhid, tetapi jika kedua orang tuanya memberikan lingkungan yang berbeda, seorang anak lebih terbentuk oleh lingkungannya.

Para ahli psikologi juga mengakui adanya pengaruh faktor keturunan dan lingkungan terhadap akhlak manusia. Faktor mana yang lebih dominan, ini dipandang oleh para pakar psikologis berbeda-beda, bahkan ada perbedaan yang ekstrim. Paham behaviourisme menempatkan faktor lingkungan sebagai faktor dominan dalam membentuk manusia, tetapi teori lain sebaliknya memandang faktor dominan adalah faktor hereditas dari orang tua, etnik bahkan bangsa.Dalam Al-Qur’an menyebutkan adanya fitrah keagamaan yang hanif pada manusia.16 sebagaimana yang tercantum dalam al-qur’an surat Ar-rum(30) ayat 30

Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama (yang benarfitrah Allah yang telah menciptakan manusia atas fitrah Allah;itulah agama yang lurus, tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahuinya (Departemen Agama RI ,2005:404)

Dari ayat diatas serta diperkuat dengan hadits diatas jelas bahwa fitrah manusia itu tidak akan hilang namun dalam perkembangannya bisa tertutup dan terpengaruh oleh lingkungan dan pendidikan serta pengalaman yang masuk kedalam diri anak Pada dasarnya manusia telah memiliki potensi fitrah dan warisan hereditas, tetapi aktualisasinya sangat tergantung pada lingkungan hidupnya, lingkungan fisik, lingkungan sosial, lingkungan spiritual. Potensi fitrah dan warisan hereditas yang berkualitas akan tetap menjadi faktor dominan meski lingkungan sosial dalam hidupnya tidak mendukung. Sebaliknya jika hereditas kualitasnya rendah akan dikalahkan oleh pengaruh lingkungannya bagai kertas putih yang digambar dengan apapun oleh lingkungannya dan inilah yang menjadi dasar gagasan pendidikan anak sebelum lahir

C.Akhlak

1. Pengertian Akhlak

Pengertian Akhlak dapat dibagi menjadi dua yaitu sebagai berikut:

Secara etimologis akhlak berasal dari bahasa ‘Arab , merupkan bentuk jamak dari kata Khuluq yang berarti budi pekerti, perangai, tabiat.Berakar dari kata khalaqa yang berarti menciptakan.

Menurut Imam al-Ghazali dalam buku seluk beluk pendidikan menurut Al-Gazali(1991:19) Akhlak adalah :

22

”sifat yang tertanam dalam jiwa yang menimbulkan perbuatan dengan gampang dan mudah, tampa memerlukan pemikiran dan pertimbangan. ”

Sedangkan Abdul kadir Zaidan(1976:33) akhlak adalah:

“Nilai-nilai dan sifat yang tertanam dalam jiwa, yang dengan sorotan dan timbangannya seseorang dapat menilai perbuatannya baik atau buruk, untuk kemudian memilih melakukan atau meninggalkannya.”

Dari defenisi tersebut dapat disimpulkan bahwa akhlak adalah sifat yang tertanam dalam jiwa manusia, dan sifatnya spontanitas sehingga aakan muncul dengan sendirinya tanpa melalui pertimbangan terlebih dahulu, tanpa memerlukan dorongan dari luar.Meskipun dari beberapa defenisi diatas akhlak bersifat netral atau belum menunjuk baik atau buruk, tapi pada umumnya jika kata akhlak tidak dirangkaikan dengan kata lain maka yang dimaksud adalah akhlak yang mulia.

2. Sumber Akhlak

Sebagaimana keseluruhan ajaran islam maka sumber akhlak adalah Al-Qur’an dan sunnah..Al-Qur’an sebagai sumber hukum islam ,hal ini dijelaskan didalam Al-Quran surah An-Nahal(16) ayat 44 yaitu:



keterangan-keterangan (mukjizat) dan kitab-kitab. dan Kami turunkan kepadamu Al Quran, agar kamu menerangkan pada umat

manusia apa yang telah diturunkan kepada mereka dan supaya mereka memikirkan.(Departemen Agama RI,2005:267)

Dari ayat tersebut maka jelaslah bahwa Allah SWT menurunkan Al-Qur’an kepada Nabi Muhammad SAW sebagai landasan hukum ummat islam yang didalamnya berisi perintah dan larangan-larangan.Hal ini berarti bahwa Al-qur’an juga merupakan sumber akhlak, karena akhlak merupakan salah satu aspek dalam islam.

Selain Al-Quran maka yang menjadi sumber hukum bagi ummat islam adalah Segala perkataan, perbuatan, maupun taqrir Nabi Muhammad SAW.Karena Beliau diutus oleh Allah SWT sebagai suri tauladan yang baik bagi kita semua.Hal ini sesuai dengan firman Allah dalam Q.S.Al-Ahzab(33) ayat 21 yaitu:



Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan Dia banyak menyebut Allah.(Departemen Agama RI, 2005:418)

Dari Ayat tersebut maka jelaslah bahwa Rasulullah Muhammad SAW adalah sosok yang patut untuk diteladani akhlaknya, karena Allah telah menjamin bahwa telah ada dalam diri Rasulullah suri tauladan yang baik bagi kita semua.

24

jadi dapat disimpulkan bahwa yang menjadi ukuran baik atau buruk, mulia atau tercelah adalah apa yang telah disyariatkan oleh Allah Dan Rasul-NYA, bukan akal pikiran atau pandangan masyarakat seperti halnya etika dan moral.Namun bukan berarti islam menafikan hati nurani,

jadi dapat disimpulkan bahwa yang menjadi ukuran baik atau buruk, mulia atau tercelah adalah apa yang telah disyariatkan oleh Allah Dan Rasul-NYA, bukan akal pikiran atau pandangan masyarakat seperti halnya etika dan moral.Namun bukan berarti islam menafikan hati nurani,

Dokumen terkait