BAB III. METODE PENELITIAN
H. Teknik Analisis Data
Penelitian ini merupakan diskriptif dengan menggunakan data kualitatif, lalu dianalisis dengan menngunakan teknik induk0: 246) sebgai berikut : PF × 100%
N
Dimana : P = Persentase F = Frekuensi N = Sampel
34
BAB IV
HASIL PENELITIAN/PEMBAHASAN
A.Selayang Pandang Lokasi Penelitian
1.Sejarah singkat tentang Madrasah Tsanawiyah Muhammadiyah Limbung Kabupat
Madrasah Tsanawiyah Muhammadiyah Limbung Kabupaten Gowa merupakan lembaga pendidikan formal Swasta yang berdiri pada tanggal 19 juli 1960 dengan nomor statistik 121273060009 dan ditanda tangani oleh H.M.Ahmad Muhajir AF dan merupakan salah satu amal usaha muhammadiyah di kecamatan bajeng kabupaten Gowa .dapat dipahami bahwa latar belakang berdirinya sekolah tersebut adalah usaha mencerdaskan kehidupan bangsa sesuai dengan amanat undang-undang dasar 1945.kehadiran sekolah ini dapat menunjang kelangsungan pembangunan di bidang pendidikan.Dalam hal mencerdaskan kehidupan bangsa,sekolah cukup berjasa dalam membina siswa.Tujuan didirikan sekolah ini adalah untuk meningkatkan sumber daya manusia dan untuk terbentuknya insan-insan terdidikdalam melanjutkan cita-cita bangsa.Madrasah tsanawiyah Muhammadiyah Limbung terletak dikelurahan kalebajeng kecamatan bajeng Kabupaten Gowa.
2. Visi dan Misi
Visi”Terwujudnya peserta didik yang berakhlak mulia,terampil dan berprestasi”.
a. Misi
1) Menciptakan komunitas belajar yang menjunjung tinggi nilai-nilai kebersamaan.
2) Mengoptimalkan dan mengintegrasikan pembelajaran dan bimbingan dalam bingkai ajaran islam..
3) Menumbuhkan budaya sapa, salam, dan salim dalam lingkungan Madrasah.
4) Menciptakan suasana belajar yang menyenangkan.
5) Menerapkan manejemen partisipatif seluruh warga madrasah dan masyarakat dalam meningkatkan mutu ketuhanan serta keindahan Madrasah.
6) Membekali siswa keterampilan untuk mendukung hidupnya dikemudian hari.
b. Tujuan
1) Meningkatkan mutu dan prestasi peserta didik dibidang akademik melalui pembelajaran dan bimbingan secara efektif dan efesien.
2) Mendorong peserta didik untuk meningkatkan prestasi dibidang seni dan olahraga
36
3) Membentuk peserta didik yang disiplin,trampil,berakhlak dan berbudi
3. Keadaan Guru
Guru adalah pendidik profesional,karena secara implisit ia telah merelakan dirinya menerima dan memikul sebagian tanggung jawab pendidikan yang dipikul oleh orang tua, sehingga tatkala orang tua menyerahkan(memasukkan)anaknya ke sekolah itu berarti melimpahkan sebagian tanggung jawab pendidikan kepada guru.Hal itu menunjukkan pula bahwa orang tua tidak mungkin menyerahkan anaknya kepada sembarang guru(sekolah).
Guru memiliki peranan yang sangat penting dalam pendidikan,ia merupakan salah satu komponen dalam pendidikan,sehingga keberdayaannya sangat dibutuhkan.Bahkan tanpa guru,proses belajar mengajar tidak akan bisa terwujud.
Mengenai keadaan guru di Madrasah Tsanawiyah Muhammadiyah Limbung Kabupaten Gowa, penulis memberikan gambaran bagaimana tercantum pada tabel berikut:
Tabel III
Keadaan Guru di MTs Muhammadiyah Limbung Kabupaten Gowa
No Nama/NIP Guru
Bidang Studi Jabatan Status
1. HJ.Khaerati S.PdI 1974921996032001
Quran Hadis Kepala Madrasah PNS
2. Rusdiah S.Pd
5. St.Nurwahidah S.Ag SKI Wali kelas IX
Honor
6. Hadijah S.Pd Seni budaya Wali Kelas VIII Honor 7. Maryam Abdullah Matematika Wali Kelas VII
8. Ruli Irawan S.Pd
Matematika
Guru Honor
9. St Haeriyah S.PdI Aqidah Akhlak
Kepala TU Honor
10. Hasfiah S.Ag Fiqhi,dan bhs arab
Guru Honor
38
11. Khaerul Yaqin PKn Guru Honor
12. Muh.Subhan S.Pd Penjaskes Guru Honor
13. Jumriati S.Pd Peng.Diri Guru Honor
Sumber Data: Papan potnsi Guru Tahun 2014/2015
Dari tabel di atas menunjukkan bahwa sampel penelitian yang ada pada Madrasah Tsanawiyah Muhammadiyah Limbung Kabupaten Gowa 13 orang yang terdiri dari 1 orang kepala Madrasah 12 tenaga pengajar/guru.
4.Keadaan Siswa
Dalam dunia pendidikan formal,Siswa merupakan obyek atau sasaran utama untuk dididik.Dengan demikian setiap lembaga pendidikan hendaknya terdapat suatu sistem yang tidakdapat dipisahkan antara satu dengan yang lainnya,yaitu disamping adanya berbagai fasilitas, adanya guru,juga terdapat siswa yang merupakan bagian integral dalam pendidikan formal.
Jika tugas pokok guru untuk mengajar ,maka tugas siswa adalah belajar.oleh karena itu saling berkaitan satu sama lain yang tidak dapat dipisahkan dan berjalan seiring dalam proses belajar mengajar.
Jumlah siswa pada tahun pelajaran 2014/2015 Madrasah Tsanawiyah Muhammadiyah Limbung Kabupaten Gowa dapat dilihat pada tabel berikut:
Tabel IV
Keadaan siswa Madrasah Tsanawiyah Muhammadiyah Limbung Kabupaten Gowa tahun pelajaran 2014/2015
No Obyek Analisis Jenis kelamin Total
L P
1 Siswa Kelas VII 20 19 39
2 Siswa Kelas VIII 16 15 31
3 Siswa Kelas IX 10 21 31
Jumlah - - 101
Sumber:Dokumentasi Madrasah Tsanawiyah Muhammadiyah Limbung Kabupaten Gowa tahun 2014
5. Keadaan Sarana dan Prasarana
Selanjutnya,keberadaan sarana prasarana mempunyai fungsi yang sangat urgen dalam hal memproses segala kegiatan.Dalam undang-undang RI.No.20 tahun 2003 tentang sistem Pendidikan Nasional,Bab1 pasal 1ayat 10 menyebutkan:
Sumber daya pendidikan adalah pendukung dan penunjang pelaksanaan pendidikan yang terwujud sebagai tenaga,dana,sarana,dan prasarana yang tersedia atau diadakan dan di dayagunakan oleh keluarga masyarakat peserta didik dan pemerintah,baik sendiri-sendiri maupun bersama-sama.
40
Hal ini sesuai dengan Pasal 42 Peraturan Pemerintah No.19 tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan,(standar sarana dan prasarana) ayat 1 dan 2 menyebutkan bahwa:
1. Setiap satuan pendidikan wajib memiliki sarana yang meliputi perabot, peralatan pendidikan,media pendidikan,buku dan sumber belajar lainnya,bahan habis pakai,serta perlengkapan lain yang diperlukan untuk menunjang proses pembelajaran yang teratur dan berkelanjutan.
2. Setiap satuan pendidikan wajib memiliki prasarana yang meliputi lahan,ruang kelas,ruang pimpinan satuan pendidikan,runag pendidik,ruang tata usaha,ruang perpustakaan,ruang laboratorium,ruang bengkel kerja,ruang unit produksi,ruang kantin,imstalasi daya dan jasa,tempat berolahraga,tempat beribadah,tempat bermain,tempat berekreasi,dan ruang/tempat lain yang diperlukan untuk menunjang proses pembelajaran yang teratur dan berkelanjutan.
Dengan demikian sarana menjadi salah satu media yang sangat menentukan dalam proses belajar mengajar.Tanpa adanya sarana pendidikan,maka proses belajar mengajar tak akan bisa dilakukan,khususnya oleh lembaga pendidikan formal. Dengan tidak adanya saran pendidikan,secara otomatis pencapaian tujuan pendidikan Nasional tidak bisa dicapai.
Dalam suatu lembaga pendidikan,sarana dan prasarana merupakan salah satu faktor yapenunjang terselenggaranya proses pendidikan dan pengajaran di sekolah sebab tanpa sarana dan prasarana yang memadai tentulah tidak dapat menunjang berlangsungnya proses belajar mengajar di sekolah.Keberadaan sarana dan prasarana bersifat mutlak ada.sehingga pengajaran dapat berjalan secara efektif dan efisien.
Sarana dan prasarana yang dimaksud disini adalah segala perabotan yang dimemiliki sekolah yang menjadi obyek penelitian,seperti dapat dilihat dalam tabel dibawah ini:
Tabel V
Keadaan Sarana dan Prasarana Madrasah Tsanawiyah Muhammadiyah Limbung Kabupaten Gowa
Tahun Ajaran 2014/2015
No Sarana Banyak Keterangan
1. Ruang kepala Madrasah dan Wakil
1 Berfungsi
2. Ruangangan Guru 1 Berfungsi
3. Ruang Kelas 4 Berfungsi
4. Ruang Tata Usaha 1 Berfungsi
5. WC/Kamar Kecil 4 2 Berfungsi
6. Gedung 1 Berfungsi
7. Ruang Perpustakaan 1 Berfungsi
8. Ruang Mushallah 1 Berfungsi
9. Halaman Madrasah 1 Berfungsi
Sumber data: Kantor Madrasah Tsanawiyah Muhammadiyah Limbung Kabupaten Gowa tahun ajaran 2014
42
B. Pelaksanaan pendidikan Agama Islam Dalam Keluarga Siswa Madrasah Tsanawiyah Muhammadiyah Limbung Kabupaten Gowa
Dalam menguraikan kondisi objektif pelaksanaan pendidikan Agama Islam Keluarga,peneliti melakukan analisis terhadap sejumlah data yang telah dihimpun.Terutama menyangkut data penelitian lapangan yang diperoleh melalui observasi,wawancara dan angket.
Rumah keluarga muslim merupakan benteng utama tempat anak-anak di besarkan melalui pendidikan Agama Islam.Yang dimaksud keluarga muslim ialah keluarga yang mendasarkan aktifitasnya pada pembentukan keluarga yang sesuai dengan syariat Islam.Berdasarkan Al-Qur’an dan Sunnah Rasul.Namun dewasa ini masih ada sebahagian orang tua yang mempercayakan seratus persen pendidikan agama islam anak-anaknya ke sekolah, karena di sekolah ada pelajaran agama dan ada guru agama, sebagian orang tua menambah pendidikan agama islam bagi anak-anaknya dengan cara menitipkan anaknya ke pesantren atau memasukkannya ke sekolah madrasah atau dengan mendatangkan guru agama ke rumah.Tindakan ini merupakan tindakan yang benar tapi belum mencukupi.Karena inti agama adalah iman, inti keberagamaan adalah keberimanan.Keberagamaan itu tidak dapat di ajarkan di sekolah, pesantren, atau dengan mendatangkan guru agama ke rumah, kerena yang diajarkan hanya bersifat kognitif saja,sedangkan keimanan itu perlu ditanamkan kedalam diri anak sejak dini bahkan sebelum anak lahir.
Masa mendidik anak menurut islam, dapat dibagi dua yaitu :masa persiapan mendidik dan masa aktif mendidik.Masa persiapan mendidik dimulai sejak pemilihan jodoh, sedangkan masa aktif mendidik dimulai sejak istri diketahui sudah positif mengandung.Dan untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada tabel berikut ini :
Tabel VI
Tanggapan responden tentang kapan orang tua mengajarkan pendidikan agama islam kepada siswa
No. Kategori Jawaban Frekuensi Presentase 1. Sejak kecil sebelum
sekolah
15 75%
2. Sejak SD 4 20%
3. Sejak masuk MTs 1 5 %
Jumlah 20 100 %
Sumber Data : Tabulasi angket No.1
Berdasarkan tabulasi angket di atas, peneliti dapat mengetahui bahwa dari 20 responden yang diteliti, 15 siswa atau 75 % yang menyatakan mereka diajarkan agama islam oleh orang tuanya sejak ia masih kecil bahkan sbelum masuk di bangku sekolah. 4 siswa atau 20 % yang menyatakan bahwa mereka diajarkan pengetahuan agama islam sejak masuk SD, serta 1 siswa yang atau 5 % yang mengatakan bahwa mereka diajarkan pendidikan agama sejak masuk madrasah tsanawiyah
44
Dari keterangan di atas, jelaslah bahwa keluarga pertama dan utama dalam memberikan pendidikan agama islam kepada anak. Dan pendidikan pertama kali didapat yaitu dari keluarga khususnya dari kedua orang tua.
Pembinaan yang dapat dilakukan oleh orang tua dalam mengajarkan pendidikan agama islam dalam keluarga siswa sangat berbeda antara siswa yang satu dengan siswa yang lain tergantung pengetahuan yang dimiliki oleh orang tua siswa dan tergantung kepada kemampuan orang tua dalam mendidik anak nya .Pelajaran yang diberikan pun sangat beragam tergantung dari kemampuan orang tua masing masing.Hal ini dapat diperhatikan pada tabel berikut :
Tabel VII
Tanggapan responden tentang apa saja pelajaran agama yang diterima siswa di rumah
No. Kategori Jawaban Frekuensi Presentase 1. Akhlak,shalat,baca
Al-Qur’an,puasa,dan doa-doa
14 70%
2. Akhlak,shalat,baca Qur’an dan doa
4 20%
3. Akhlak dan shalat 2 10 %
Jumlah 20 100 %
Sumber Data : Tabulasi angket No.2
Berdasarkan tabulasi angket di atas, peneliti dapat mengetahui bahwa dari 20 responden yang diteliti, 14 siswa atau 70 % yang menyatakan mereka diajarkan akhlak ,shalat, baca Al-Qur’an, shalat, puasa dan doa-doa oleh orang tuanya . 4 siswa atau 20 % yang menyatakan bahwa mereka diajarkan akhlak ,shalat, baca Al-Qur’an, shalat dan doa-doa , serta 2 siswa yang atau 10 % yang mengatakan bahwa mereka diajarkan hanya diajarkan akhlak dan shalat .
Dari keterangan di atas, jelaslah bahwa siswa lebih banyak mendapatkan pelajaran agama dalam lingkungan keluarganya, khususnya dari kedua orang tua dirumah.
Dalam pelaksanaan pendidikan agama islam dalam keluarga terhadap akhlak siswa di Madrasah Tsanawiyah Muhammadiyah Limbung Kabupaten Gowa,peneliti dapat melihat pengaruhnya seperti :Siswa mengimplementasikan ajaran agama islam yang di ajarkan orang tua dirumah dengan menunjukkan akhlak yang terpuji di lingkungan sekolah misalnya rajin mengikuti shalat berjamaah di mushallah sekolah, berpakaian yang menutup aurat, sopan kepada guru dan menyayangi teman –temannya di sekolah.
Seperti halnya di Madrasah Tsanawiyah Muhammadiyah Limbung Kabupaten Gowa,pendidikan islam merupakan faktor penting yang
46
mempengaruhi akhlak siswa ,seperti yang dikemukakan oleh HJ Khaerati S.PdI (Wawancara,25 Maret 2014) menyatakan bahwa :
Pengaruh pendidikan agama islam dalam keluarga terhadap akhlak siswa di sekolah,sangat besar bahkan lebih besar pengaruhnya dari pendidikan agama islam yang di ajarkan guru di sekolah karena intensitas waktu pertemuan antara siswa dengan orang tua di rumah tentu lebih banyak di bandingkan waktu siswa belajar di sekolah yang hanya beberapa jam saja tiap harinya
Sehubungan dengan keterangan di atas St Haeriyah S.PdI (guru mata pelajaran Aqidah Akhlak) mengatakan bahwa :
Pengaruh pendidikan agama islam dalam keluarga terhadap akhlak siswa terlihat jelas pada akhlak yang ditunjukkan siswa di sekolah, mulai dari akhlak siswa terhadap guru, akhlak siswa terhadap teman-temannya itu mencerminkan bagaimana kebiasaan-kebiasaan yang dilakukan siswa di sekolah.Ada siswa yang sangat hormat dan patuh kepada guru terutama ketika proses belajar mengajr berlangsung, ada siswa yang bersemangat mendengarkan penjelasan guru namun ada pula yang sibuk dengan aktifitas lain di depan kelas ,ada siswa yang rajin mengerjakan PR namun ada pula yang malas, ada yang datang tepat waktu namun adapula yang rajin terlambat, ada yang selalu mematuhi tata tertib dan adapula yang sering melanggar kesemuanya itu menunjukkan bgaimana pelaksanaan pendidikan agama islam yang di ajarkan di rumah . (wawancara,pada tanggal ,25 Maret 2014)
Dari wawancara di atas dapat disimpulkan bahwa pendidikan agama islam sangat berpengaruh positif terhadap pembinaan perilaku beragama siswa,khususnya dari tingkah laku siswa. Sehingga pelaksanaan pendidikan islam dalam kehidupan sehari-hari siswa agar sesuai dengan ajaran agama islam.
C.Gambaran tentang akhlak siswa di Linkungan Madrasah Tsanawiyah Muhammadiyah Limbung Kabupaten Gowa
Dalam kehidupan didunia ini di perlukan akhlak atau etika yang baik dalam pergaulan hidup sehari-hari baik dalam lingkungan keluarga sekolah dan masyarakat untuk berperilaku yang sopan sesuai ajaran syariat islam ‘hal demikian seperti di kemukakan oleh HJ.Khaerati S.PdI pada wawancara tanggal 25 maret 2014 mengatakan bahwa:
Pengalaman akhlak yang islami di lingkungan madrasah tsanawiyah muhammadiyah limbung kabupaten Gowa sudah sesuai harapan karena pada umumny siswa menunjukkan akhlak yang terpuji sehingga terjalin hubungan yang harmonos serta kerja sama antara siswa dengan guru dan siswa terhadap teman – temannya sesama siswa, sehingga dalam prosesbelajar mengajar dikelas maupun diluar kelas dapatberjalan dengan lancar , karena itu boleh dikatakan bahwa akhlak siswa di madrasah inisesuai dengan yang di harapkan.Sesuai dengan yang diharapkan.
Menrut keterangan wakil kepala sekolah yang menangani masalah kesiswaan Khaerul Yaqin S.Pd Wawancara tanggal 25 maret 2014 mengatakan bahwa :
Selama ini siswa Madrasah tsanawiyah muhammadiyah limbung sudah menunjukkan akhlak yang sesuai dengan apa yang disariatkan oleh agama isalm atau dengan kata lain berakhlak mulia hal ini terlihat dari jumlah siswa yang melanggar tata tertib maddrasah sangat jarang.Kalaupun ada siswa yang melanggar itu tidak sampai pada tindakan yang sangat fatal seperti mencuri tauran dan lain sebagainya.
Berdasarkan hasil wawancara tersebut diatas menunjukkan bahwa siswa di madrasah tsanawiyah muhammadiyah Limbung Kabupaten Gowa sudah menunjukkan akhlak yang mulia hal ini tidak lepas dari pengaruh pendidikan agama islam yang di ajarkan orang tuadi Rumah
48
serta lingkungan madrasah yang sangat mendukung dalam pembinaan akhlak siswa.Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada tabel berikut:
Tabel VIII
Tanggapan responden tentang perilaku sopan dan taat siswa kepada guru
No. Kategori Jawaban Frekuensi Presentase
1. ya selalu 19 95%
2. Kadang- kadang 1 5%
3. Tidak pernah 0 0 %
Jumlah 20 100 %
Sumber Data : Tabulasi angket No.3
Berdasarkan tabulasi angket di atas, peneliti dapat mengetahui bahwa dari 20 responden yang diteliti, 20 siswa atau 100 % yang sellu berlaku sopan dan taat kepada guru .0 siswa atau 0 % yang kadang-kadang taat , serta 0 siswa yang atau 0 % yang mengatakan tidak pernah taat.
Dari keterangan di atas, jelaslah bahwa semua siswa selalu menunjukkan akhlak yang terpuji terutama kepada gurunya di sekolah karena mereka menganggap bahwa guru juga merupakan orang tua mereka setelah kedua orang tua mereka di rumah.
D.Pengaruh Pendidikan Agama Islam Dalam Keluarga Terhadap Akhlak Siswa
Adapun pengaruh pendidikan agama islam dalam keluarga terhadap akhlak siswa yaitu:
a. Menciptakan lingkungan keluarga islami
Pembentukan dan pengembangan rasa keagamaan anak perlu dilakukan oleh orang tua dalam usaha menanamkan pengetahuan agama islam dalam rangka mempersiapkan kepribadian yang positif untuk pertumbuhan generasi muda.Pembentukan dilakukan dengan cara latihan dan pembiasaan dalam keluarga.Salah satu bentuk latihan dan pembiasaan yang bisa diajarkan orang tua kepada anaknya adalah latihan shalat dan mengajarkannya untuk selalu membaca doa kedua orang tua setiap selesai shalat.Hal ini dapat dilihat pada tabel berikut:
Tabel IX
Tanggapan responden tentang mendoakan ampunan kepada kedua orang tua
No. Kategori Jawaban Frekuensi Presentase
1. ya selalu 13 65%
2. Kadang- kadang 5 25%
3. Tidak pernah 2 10 %
Jumlah 20 100 %
Sumber Data : Tabulasi angket No.4
50
Berdasarkan tabulasi angket di atas, peneliti dapat mengetahui bahwa dari 20 responden yang diteliti, 13 siswa atau 65 % yang sellu mendoakan ampunan kepada kedua orangtuanya .5 siswa atau 25% yang kadang-kadang mendoakan ampunan kepada kedua orang tua , serta 2 siswa yang atau 10% yang mengatakan tidak pernah mendoakan kedua orang tuanya.
Keluarga atau orang tua pengaruh yang sangat besar terhadap kemajuan pendidikan bagi anak karena keluarga merupakan tempat yang paling baik untuk membina kebiasaan dalam mengembangkan dan mengajarkan pada anak.
Lingkungan keluarga adalah suatu tempat yang pertama membentuk dan mengembangkan kepribadian dan kebiasaan – kebiasaan yang di timbulkan oleh keluargadalam bina kepribadian untuk menanamkan nilai keagamaan pada anak.
Pengembangan pendidikan dasar agama islam pada anak sangat perlu sekali ditanamkan pada anak karena pada usia tersebut anak-anak sangat rentang terhadap pengaruh-pengaruh yang menyebabkan sianak bisa melakukan hal-hal yang bertentangan dengan agama islam di kemudian hari dan dimanapun ia berada ,masa yang mempunyai pengaruh besar terhadap perkembangan anak nanti.apabila dasar pendidikan agama islam dilakukan dengan baik sesuai dengan ajaran agama islam.Maka pendidikan yang diajarkan akan membekas pada jiwa
anak .pengembangan dasar agama islam merupakan upaya melahirkan generasi yang berkualitas tinggi,untuk itu metode yang di terapkanharus mampu memotivasi anak pada pemahaman hakikat hablum minallah dan hablum minannas didalam pelaksanannya.
b.Mengajarkan pendidikan agama islam kepada anak dirumah Hal ini seperti dikemukakan oleh guru bidang studi aqidah akhlak di MTs Muhammadiyah Limbung yaitu St Haeriyah SPd.I
“saya tidak banyak mengalami kesulitan dalam mengajar karena peserta didik telah dibekali pengetahuan agama sehingga mereka cepat memahami materi yang telah diajarkan”(wawancara tanggal 25 maret 2014).
Keluarga terutama orang tua adalah orang yang paling utama bertanggung jawab dalam memberikan pendidikan agama kepada anak-anaknya, karena apa yang diajarkan oleh orang tua dirumah akan tertanam didalam jiwa anak apabila sudah dilatih dan di biasakan sejak kecil. Berbagai macam pengetahuan agama yang diajarkan orang tua akan sangat berpengaruh terhadap akhlak anak di lingkungan keluarga, sekolah , maupun masyarakat.seorang anak yang sejak kecil dibiasakan mengucapkan salam ketika masuk maupun hendak meninggalkan rumah, dan ketika bertemu dengan orang yang ditemuinya akan dibawah pula dalam lingkungan pergaulannya termasuk di lingkungan sekolah nya, kepada guru dan teman-temannya .Berikut ini adalah tabil yang menyajikan tentang tanggapan siswa terhadap salah satu pengaruh
52
kebiasaan yang diajarkan dalam lingkungan keluarga islami terhadap akhlak siswa kepada teman-teman nya:
Tabel X
Tanggapan responden tentang pentingnya mengucapkan salam No. Kategori Jawaban Frekuensi Presentase
1. Sangat setuju 11 55%
2. Setuju 5 25%
3. Tidak setuju 4 20 %
Jumlah 20 100 %
Sumber Data : Tabulasi angket No 5
Berdasarkan tabulasi angket di atas, peneliti dapat mengetahui bahwa dari 20 responden yang diteliti, 11 siswa atau 55 % yang sangat setuju jika kita mengucapkan salam apabila bertemu dengan teman. 5 siswa atau 25 % yang menyatakan bahwa mereka setuju untuk mengucapkan salam kepada teman yang di temuinya, serta 4 siswa yang atau 20 % yang mengatakan bahwa mereka tidak setuju untuk mengucapkan salam kepada teman-temannya.
Dari keterangan di atas, jelaslah bahwa pendidikan agama islam dalam lingkungan keluarga akan sangat berpengaruh terhadap akhlak siswa disekolah, baik akhlak terhadap guru, maupun teman-temannya serta siapa saja yang di temuinya di sekolah.
BAB V PENUTUP A.Kesimpulan
Berdasarkan uraian di atas maka pada bab ini penulis mengemukakan beberapa kesimpulan yaitu:
1. Pelaksanaan pendidikan agama islam dalam keluarga dimulai sejak anak masih kecil bahkan sejak sebelum ia lahir.Anak dilatih dan di biasakan untuk menjalankan aktifitasnya sesuai dengan tuntunan islam
2. Aklhlak siswa di sekolah meliputi akhlak seorang siswa terhadap guru disekolah serta akhlak tehadap teman –teman disekolah.
3. Pengaruh pendidikan agama islam dalam keluarga terhadap akhlak siswa madrasah tsanawiyah muhammadyah limbung yaitu:menciptakan lingkungan keluarga yang islami, mengajarkan pendidikan agama islam kepada anak dirumah, sikap tauladan yang baik pada anak diluar rumah
B. Saran
Berdasarkan hasil penelitian penulis mengajukan saran yaitu:
1. agar Guru dan orang tua melakukan kerja sama yang lebih intensif lagi agar pendidikan agama yang diperoleh anak dalam keluarga maupun dari sekolah dapat terlaksana dengan lebih baik dan berkesinambungan
54
2. penulis mengharapkan kepada semua pihak yang bertanggung jawab untuk memberikan bimbingan keada anak agar lebih memperhatikan pendidikan anak. Serta lebih meningkatkan sarana dan prasarana yang menunjang terlaksananya pendidikan.
DAFTAR PUSTAKA
Al-Quranul Karim
Ahmad, D Marimba,1986. Pengantar Filsafat Pendidikan Agama Islam, ,Bandung: Al-Maarif
Ahmadi, Abu, 2008. Dasar-dasar Pendidikan Agama Islam, Jakarta: PT
Ahmadi, Abu, 2008. Dasar-dasar Pendidikan Agama Islam, Jakarta: PT