BAB 1 PENDAHULUAN
1.5 Manfaat Penelitian
1. Hasil dari penelitian ini dapat memberi informasi dan sumbangan ilmu pengetahuan di bidang kedokteran gigi, khususnya biologi oral.
2. Sebagai data awal untuk penelitian lebih lanjut dan informasi mengenai efek teh Sidamanik terhadap laju alir, pH, total protein serta lisozim saliva pada penderita karies dan bebas karies.
BAB 2
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Karies
2.1.1 Definisi Karies
Karies gigi adalah suatu penyakit infeksi yang merusak struktur gigi, ditandai dengan kerusakan jaringan keras gigi yaitu enamel, dentin dan sementum (Gambar 1).
Karies bersifat kronis, yang disebabkan oleh produksi asam hasil fermentasi karbohidrat oleh bakteri kariogenik yang berpotensi menurunkan pH saliva.
Metabolisme karbohidrat oleh bakteri kariogenik menyebabkan kolonisasi bakteri pada permukaan gigi. Produksi asam hasil fermentasi karbohidrat oleh kolonisasi bakteri menyebabkan kerusakan kristal hidroksi apatit sehingga komponen enamel dan dentin pada jaringan keras gigi mengalami demineralisasi. Proses kronis regresif dimulai dengan larutnya mineral enamel sebagai akibat terganggunya keseimbangan antara enamel dan sekelilingnya yang disebabkan oleh pembentukan asam mikrobial dari substrat sehingga timbul komponen-komponen organik yang akhirnya menyebabkan terbentuknya kavitas. Proses tersebut berjalan terus menerus menuju bagian yang lebih dalam dan tidak dapat diperbaiki kembali oleh tubuh melalui proses penyembuhan.22,23 Karakteristik yang dirasakan oleh orang yang mengalami karies biasanya adalah rasa nyeri, diskolorisasi gigi serta hilangnya gigi yang menyebabkan kesulitan dalam mengonsumsi makanan.24
Gambar 1. Karies gigi.25
2.1.2 Faktor Penyebab Karies
Karies merupakan penyakit multifaktorial, yaitu adanya beberapa faktor yang menjadi penyebab terbentuknya karies. Ada tiga faktor utama yang memegang peranan yaitu faktor host atau tuan rumah, agen atau mikroorganisme, substrat atau diet dan ditambah faktor waktu, yang digambarkan sebagai lingkaran yang saling tumpang tindih (Gambar 2).26
Gambar 2. Faktor penyebab karies.26 a. Faktor Host
Ada beberapa faktor yang dihubungkan dengan gigi sebagai tuan rumah terhadap karies yaitu faktor morfologi gigi (ukuran dan bentuk gigi), struktur enamel, faktor kimia dan kristalografis. Morfologi setiap gigi manusia berbeda-beda, permukaan oklusal gigi memiliki pit dan fisur yang bermacam-macam dengan kedalaman yang berbeda pula. Gigi dengan lekukan yang dalam merupakan daerah yang sulit dibersihkan dari sisa-sisa makanan yang melekat sehingga plak akan mudah berkembang dan dapat menyebabkan terjadinya karies gigi. Selain itu, permukaan gigi yang kasar juga dapat menyebabkan plak mudah melekat dan membantu perkembangan karies gigi.27,28 Saliva juga merupakan faktor yang berperan dalam terjadinya karies. Laju alir saliva yang rendah dapat meningkatkan risiko karies karena fungsi saliva sebagai pembersih dan buffer tidak dapat bekerja dengan baik.24
b. Faktor agen
Plak gigi merupakan deposit lunak yang melekat erat pada permukaan gigi, terdiri atas mikroorganisme yang berkembang biak dalam suatu matriks interseluler jika seseorang melalaikan kebersihan gigi dan mulutnya. Bakteri yang terdapat di dalam plak memegang peranan penting dalam terjadinya kerusakan gigi. Bakteri penyebab utama terjadinya karies adalah bakteri Streptococcus Mutans karena mempunyai sifat asidogenik dan asidurik.29 Plak menyediakan area yang paling cocok bagi Streptococcus mutans untuk melekat, berkoloni, dan berkembang biak.
Peningkatan jumlah Streptococcus mutans berdampak buruk pada enamel karena asam yang dihasilkan oleh Streptococcus mutans menyebabkan demineralisasi enamel.
Selain Streptococcus mutans, spesies Lactobacillus juga ditemukan dalam biofilm bakteri pada permukaan gigi. Spesies bakteri ini sangat asidogenik dengan adanya karbohidrat, terkait dengan produksi asam organik yang menyebabkan demineralisasi enamel.30,31
c. Faktor Substrat
Peran diet adalah dapat memengaruhi pembentukan plak karena membantu pembiakan dan kolonisasi mikroorganisme yang ada pada permukaan enamel, juga memengaruhi metabolisme bakteri dalam plak itu sendiri dengan menyediakan bahan-bahan yang diperlukan untuk produksi asam. Karbohidrat yang hampir selalu ditemui dalam jumlah tinggi pada makanan yang dikonsumsi, memegang peranan penting dalam pembentukan karies. Sukrosa dikatakan sebagai penyebab utama karies karena kerentanannya untuk diubah menjadi asam oleh mikroorganisme rongga mulut.32
d. Faktor Waktu
Secara umum karies dianggap merupakan penyakit kronis, yang berkembang dalam waktu beberapa bulan atau tahun. Lamanya waktu yang dibutuhkan suatu karies berkembang menjadi suatu lubang, bervariasi dan diperkirakan antara 6-48 bulan.
Disamping itu, aktivitas karies akan lebih besar bila semakin lama sukrosa di dalam mulut, sebab aktivitas juga bergantung pada frekuensi konsumsi sukrosa sehingga didapatkan adanya hubungan yang pasti antara frekuensi makanan tambahan diantara jam-jam makan dengan timbulnya karies gigi.32
2.1.3 Mekanisme Karies
Secara garis besar, mekanisme karies dapat digambarkan sebagai berikut:33 Bakteri pada plak yang bersifat asidogenik (penghasil asam) memfermentasi karbohidrat yang masuk ke dalam mulut, sehingga menghasilkan asam organik, termasuk laktat, fomik, asetat dan propionat. Asam ini berdifusi ke jaringan keras gigi, lalu sebagian melarutkan kristal mineral. Mineral (kalsium dan fosfat) berdifusi keluar dari gigi, yang akhirnya menyebabkan kavitasi jika proses berlanjut.
Proses terjadinya karies diawali dengan adanya proses demineralisasi pada enamel, bagian terkeras dari gigi. Sisa makanan (termasuk karbohidrat) akan menempel pada permukaan enamel dan berakumulasi membentuk plak, yaitu media yang menguntungkan bagi mikroorganisme. Mikroorganisme yang menempel pada permukaan tersebut akan menghasilkan asam dan melarutkan permukaan enamel sehingga terjadi proses demineralisasi. Demineralisasi mengakibatkan proses awal karies pada enamel, yang ditandai dengan bercak putih (white spot). Bila proses ini sudah terjadi maka progresivitas tidak akan dapat berhenti sendiri, kecuali dilakukan pembuangan jaringan karies dan dilakukan penambalan pada permukaan gigi yang terkena karies atau dilakukan pencabutan bila tidak dapat ditambal lagi.32
2.1.4 Pencegahan Karies
Terdapat beberapa cara dalam pencegahan karies:
a. Mengatur Diet
Karies dapat dicegah dengan mengatur pola makanan sesuai dengan konsep empat sehat lima sempurna dan menghindari makanan yang merusak gigi yaitu makanan yang mengandung gula dan mudah melekat pada permukaan gigi karena dapat mengakibatkan bakteri melakukan fermentasi sehingga menghasilkan asam yang dapat menimbulkan terjadinya demineralisasi. Membiasakan konsumsi makanan yang berserat dan berair seperti buah dan sayur akan dapat mencegah terjadinya karies. 24,34
b. Melakukan Kontrol Plak
Tindakan menjaga kebersihan rongga mulut dapat dilakukan dengan cara kontrol plak. Kontrol plak merupakan upaya pembersihan plak gigi secara teratur serta
pencegahan akumulasinya di permukaan gigi dan gingiva. Terdapat beberapa cara yang digunakan dalam kontrol plak yaitu mekanik, kimiawi dan alamiah. Sampai saat ini, kontrol plak masih mengandalkan pembersihan secara mekanik. Kontrol plak secara mekanik adalah dengan cara menyikat gigi. Kemampuan menyikat gigi secara baik dan benar merupakan faktor yang cukup penting untuk pemeliharaan kesehatan gigi dan mulut. Untuk mencapai keberhasilan dalam memelihara kesehatan gigi dan mulut juga dipengaruhi oleh faktor penggunaan alat, metode penyikatan gigi, serta frekuensi dan waktu penyikatan yang tepat. Kontrol plak secara kimiawi adalah dengan cara berkumur dengan cairan anti bakteri. Berkumur menggunakan cairan antibakteri dapat membunuh bakteri yang menempel pada permukaan gigi. Kontrol plak secara alamiah adalah dengan cara mengunyah makanan berserat. Kebiasaan makan makanan berserat bersifat sebagai pengendali plak secara alamiah.34,35
c. Pemanfaatan Pengobatan Tradisional
Upaya yang dapat dilakukan dalam mengatasi masalah kesehatan gigi dan mulut salah satunya melalui pemanfaatan pengobatan tradisional. Menurut badan kesehatan dunia (WHO), 80% penduduk dunia masih menggantungkan dirinya pada pengobatan tradisional termasuk penggunaan obat yang berasal dari tanaman. Salah satunya adalah dapat menggunakan teh, karena sudah dikenal oleh masyarakat Indonesia sebagai bahan minuman sehari-hari dan merupakan minuman yang paling banyak diminum di dunia setelah air.14
2.1.5 Indeks Karies 2.1.5.1 Indeks DMFT
Indeks DMFT (Decayed Missing Filled Tooth) merupakan indeks yang digunakan untuk menunjukkan banyaknya gigi yang terkena karies, gigi yang membutuhkan perawatan, dan jumlah gigi yang telah dirawat. Huruf D adalah gigi yang berlubang karena karies gigi, M adalah gigi yang dicabut karena karies gigi, dan F adalah gigi yang ditambal atau ditumpat karena karies dan dalam keadaan baik. Nilai DMFT adalah penjumlahan D+ M+ F. Beberapa hal yang perlu diperhatikan:27
1. Semua gigi yang mengalami karies dimasukkan ke dalam kategori D.
2. Karies sekunder yang terjadi pada gigi dengan tumpatan permanen dimasukkan dalam kategori D.
3. Gigi dengan tumpatan sementara dimasukkan dalam kategori D
4. Semua gigi yang hilang atau dicabut karena karies dimasukkan dalam kategori M.
5. Gigi yang hilang akibat penyakit periodontal, dicabut untuk kebutuhan perawatan ortodonti tidak dimasukkan dalam kategori M.
6. Semua gigi dengan tumpatan permanen dimasukkan dalam kategori F.
2.2 Saliva
2.2.1 Definisi Saliva
Saliva merupakan suatu komponen penting di lingkungan rongga mulut yang berupa larutan/cairan, yang banyak mengandung bahan organik dan anorganik. Saliva merupakan cairan eksokrin tidak berwarna, yang disekresikan oleh 3 kelenjar saliva mayor dan berbagai kelenjar saliva minor. Setiap hari kelenjar saliva manusia menghasilkan ±1,5 L saliva yang terdiri dari 99% air dan sisanya adalah berbagai jenis elektrolit (sodium, potassium, kalsium, klorida, magnesium, bikarbonat, fosfat) dan protein serta termasuk enzim, immunoglobulin dan antimikroba lainnya, glikoprotein, albumin, beberapa polipeptida, oligopeptida yang sangat penting untuk kesehatan rongga mulut. Komponen-komponen tersebut saling berinteraksi dan berperan dalam berbagai fungsi saliva.9,12
Saliva sangat penting berkaitan dengan proses biologis yang terjadi di dalam rongga mulut. Saliva merupakan campuran berbagai cairan yang terdapat dalam rongga mulut, yang terdiri atas beberapa campuran cairan bukan saliva yaitu cairan sulkus gingiva, sekresi hidung, serum dan derivat darah yang berasal dari luka di rongga mulut, bakteri dan produk bakteri, virus dan jamur, sel deskuamasi epitel, leukosit, elektrolit, imunoglobulin, protein, enzim, dan sisa makanan. Hal ini dapat digunakan untuk mendiagnosis penyakit oral dan sistemik.36,37
Saliva memiliki keuntungan klinis lebih banyak daripada cairan tubuh lainnya dalam mendiagnosis, dan sangat mudah untuk dilakukan pengumpulan, penyimpanan
dan pengiriman sampel saliva. Penggunaan saliva sebagai alat untuk mendiagnostik dilakukan dengan metode pengumpulan sampel yang non invasif dan efisiensi biaya tanpa membutuhkan profesional yang terlatih. Pasien dapat mengumpulkan sampel di rumah atau di tempat lain. Teknik pengumpulan non invasif ini mengurangi kecemasan pada subyek dan lebih aman bagi tenaga kesehatan jika dibandingkan dengan analisis serum dengan paparan terkait jarum.37
2.2.2 Kelenjar Saliva
Saliva dihasilkan oleh tiga pasang kelenjar saliva mayor (parotis, submandibular dan sublingual) serta sejumlah kelenjar saliva minor dan cairan dari eksudat gingiva.
Sekresi kelenjar saliva berbeda-beda dan ditentukan oleh tipe sel sekretori, seperti serous, seromucous dan mucous. Parotis merupakan kelenjar serous yang menghasilkan saliva encer dengan kandungan enzim yang tinggi seperti amilase dan lipase, sedangkan sekresi kelenjar sublingual didominasi oleh mucous sama seperti kelenjar saliva minor. Sekresi kelenjar submandibular adalah campuran cairan mucous dan serous. Sifat-sifat yang berbeda dari sekresi kelenjar ini ditentukan oleh komposisi sekretori yang berbeda, dikenal dengan istilah asini.38
Kelenjar Saliva Mayor (Gambar 3) :39,40
- Kelenjar Submandibular merupakan kelenjar saliva terbesar kedua setelah kelenjar parotis dan terletak di dasar mulut. Berbeda dengan kelenjar parotis, kelenjar submandibularis menghasilkan musin dan protein sehingga tingkat viskositasnya lebih tinggi. Kelenjar submandibular merupakan kelenjar tubuloasinosa kompleks yang menghasilkan 80% serous dan 20% mucous. Saliva terbanyak diproduksi oleh kelenjar submandibular.
- Kelenjar Parotis merupakan kelenjar saliva terbesar. Bentuk kelenjar parotis bervariasi, namun lebih sering ditemukan berbentuk triangular. Kelenjar ini rata-rata memiliki panjang 6 cm dan diameter 1-3 mm. Kelenjar parotis dibagi oleh saraf fasial (N.VII) menjadi dua lobus yaitu superficial lobe dan deep lobe. Superfacial lobe yang terletak di lateral saraf facial, sedangkan deep lobe merupakan medial saraf fasial yang terletak di antara prosesus mastoideus temporalis dan ramus mandibular.
- Kelenjar Sublingual merupakan kelenjar saliva terkecil dari semua kelenjar saliva mayor yang berada di dasar mulut, dan pada bagian posteriornya bersinggungan dengan bagian anterior kelenjar submandibular. Dalam proses sekresi, kelenjar sublingual dibantu dengan duktus bhartolin. Duktus bhartolin terletak berdekatan dengan duktus mandibular dan duktus rivinus. Kelenjar sublingualis merupakan kelenjar campur. Secara histologi, kelenjar sublingualis terdiri dari asini dan musin sehingga disebut kelenjar seromukosa yang menghasilkan secret mucous dengan konsistensi yang kental.
Gambar 3. Kelenjar saliva mayor.41
Kelenjar saliva minor terdiri dari 800-1000 kelenjar saliva kecil yang tersebar di seluruh submukosa rongga sinonasal, rongga mulut, faring, laring, trakea, paru-paru, dan rongga telinga tengah. Meskipun kelenjar saliva minor dapat ditemukan di mana saja di sepanjang saluran aerodigestif, kelenjar ini paling terkonsentrasi di sepanjang mukosa bukal, mukosa labial, mukosa lingual, palatum lunak/keras, dan dasar mulut (Gambar 4). Kelenjar saliva minor hanya menyubmbangkan 5% dari pengeluaran saliva selama 24 jam. Seluruh kelenjar saliva minor memiliki duktus yang langsung bermuara ke rongga mulut dengan karakteristik saliva yang bisa serus, mukus maupun seromukus.42
Gambar 4. Distribusi kelenjar saliva minor (ungu).42
2.2.3 Fungsi Saliva Fungsi saliva meliputi:24,29
a. Membentuk lapisan pelindung pada membran mukosa yang akan bertindak sebagai barrier terhadap iritan. Saliva membentuk lapisan seromukus yang berperan sebagai pelumas dan melindungi jaringan rongga mulut dari agen-agen yang dapat mengiritasi. Musin sebagai protein dalam saliva memiliki peranan sebagai pelumas, perlindungan terhadap dehidrasi, dan dalam proses pemeliharaan viskoelastisitas saliva.
b. Membantu membersihkan rongga mulut dari makanan, debris dan bakteri yang akhirnya akan menghambat pembentukan plak.
c. Mengatur pH rongga mulut karena mengandung bikarbonat dan fosfat.
Peningkatan kecepatan sekresinya biasanya berakibat pada peningkatan pH dan kapasitas buffernya. Dengan menjaga agar pH rongga mulut tetap netral dan mencegah kolonisasi mikroorganisme patogen.
d. Membantu menjaga integritas gigi dengan berbagai cara karena kandungan kalsium dan fosfatnya. Saliva membantu menyediakan mineral yang dibutuhkan oleh enamel yang belum sempurna terbentuk pada saat-saat awal setelah erupsi.
e. Saliva sebagai antimikroba dan dapat mengontrol mikroorganisme rongga mulut secara spesifik misalnya dengan sIgA dan non spesifik misalnya dengan adanya lisozim, laktoferin dan sialoperoksidase.
2.2.4 Komposisi Saliva
Saliva terdiri atas 99,5% air, 0,5% komponen organik dan komponen anorganik (Skema 1). Komponen organik saliva yang utama adalah protein. Di samping itu, masih ada komponen lain seperti lipid, urea, asam amino, glukosa, amoniak dan vitamin.
Sedangkan komponen anorganik saliva terutama adalah elektrolit dalam bentuk ion seperti Na+, K+, Ca2+, Mg2+, Cl- , SO42- , H2PO4 dan HPO42. Konsentrasi ion-ion tersebut bervariasi dari waktu ke waktu, dan pada kondisi istirahat atau saliva yang terstimulasi.43,44
Dalam keadaan normal, komponen-komponen tersebut akan memengaruhi fungsi dari saliva dalam mempertahankan kondisi di rongga mulut. Komposisi saliva dapat dipengaruhi oleh rangsangan yang diterima, misalnya melalui makanan atau minuman yang dikonsumsi. Komposisi saliva juga dipengaruhi oleh laju alir saliva.45
Skema 1. Komposisi saliva.43
2.2.4.1 Protein Saliva
Protein merupakan komponen organik utama pada saliva. Protein saliva merupakan makromolekul yang berfungsi untuk membersihkan perlekatan mikroorganisme rongga mulut yang berkontribusi pada pembentukan plak. Aksi antibakteri tersebut diperoleh dari immunoglobulin dan enzim. Komponen tersebut terdapat dalam jumlah kecil dan bervariasi sesuai dengan perubahan laju alir saliva.
Protein yang terdapat dalam saliva dapat menciptakan viskoelastisitas dan memberikan lapisan pada permukaan mukosa rongga mulut. Lapisan tersebut sangat penting untuk menjaga kesehatan mulut dan mengatur mikroorganisme rongga mulut. Total protein saliva merupakan komponen yang sangat penting dan terdiri dari protein kaya prolin, musin, amilase, imunoglobulin, statherin, dan faktor antibakteri yang bertanggung jawab atas sebagian besar fungsi saliva.9,46
Penelitian yang dilakukan pada mahasiswa di Cina dengan pemberian teh hitam menunjukkan kandungan protein saliva lebih tinggi setelah minum teh.21 Selain itu, penelitian di New Delhi mendapatkan hasil total protein pada kelompok bebas karies terdapat 3,06 g/dl dan kelompok karies 1,86 g/dl. Hasil tersebut menunjukkan total protein pada kelompok bebas karies lebih tinggi dibandingkan kelompok karies.47 Sedangkan pada penelitian di Myanmar memperoleh hasil bahwa keberadaan inflamasi meningkatkan konsentrasi total protein secara signifikan. Hasil penelitian ini menunjukkan respon total protein terhadap inflamasi yang terjadi dalam rongga mulut.
Peningkatan konsentrasi protein dapat disebabkan oleh proses inflamasi yang mengaktifkan sistem simpatis untuk meningkatkan sintesis dan sekresi beberapa protein, sehingga meningkatkan potensi protektif saliva terhadap penyakit.48
2.2.4.2 Lisozim
Lisozim merupakan protein saliva yang berperan penting pada innate immunity (sistem pertahanan tubuh non spesifik). Lisozim adalah protein dasar dengan berat molekul 14 kDa yang ditemukan pada sekresi beberapa cairan tubuh seperti plasma/serum, air mata, cairan amnion, saliva dan sedikit di urin, empedu dan CSF (cerebrospinal fluid). Enzim ini mempunyai kemampuan sebagai agen antibakteri dari
gram positif. Pada rongga mulut, lisozim disekresikan dari kelenjar saliva mayor dan minor, GCF (Gingival Crevicular Fluid), dan leukosit saliva. Lisozim mempunyai aktifitas muramidase, mampu menghidrolisis ikatan β-1,4-gikosida antara N- asetylmuramide acid dan N-asetylglucosamine pada peptidoglycan lapisan dinding sel bakteri. Lisozim menghidrolisis polisakarida dinding bakteri, sehingga terjadi hipoosmolarisasi. Sebagai protein kationik yang kuat, lisozim menjadi media aggregasi dan perlekatan bakteri untuk mengaktifkan autolisin bakteri sehingga merusak dinding sel bakteri. 49
Hasil hidrolisis ikatan glikosidik akan menyebabkan terjadinya pori-pori kecil di dalam dinding sel bakteri sehingga bakteri akan mati. Lisozim dapat secara mandiri melisiskan bakteri gram positif seperti Streptococus mutans, namun dalam hal ini lisozim perlu bekerja sama dengan sIgA dan beberapa komponen lain untuk dapat melisiskan bakteri gram negatif. Bakteri gram negatif umumnya kurang sensitif terhadap lisozim karena kandungan murein di dinding sel hanya 10%, sedangkan pada gram positif 50%. Aktivitas antibakteri lisozim terbatas terhadap strain gram positif, ini disebabkan pada bakteri gram positif kandungan peptidoglikannya lebih banyak dibandingkan dengan bakteri gram negatif. Lisozim dibagi menjadi beberapa jenis berdasarkan urutan kesamaan dan struktur tiga dimensinya: 1. Tipe C (chicken-type lysozyme) ; 2. Tipe g (goose-type lysozyme) ; 3. Tipe i (invertebrata-type) ; 4. Lisozim T4 phage (phage-type) ; 5. Lisozim bakteri; 6. Lisozim tanaman. Lisozim manusia termasuk dalam tipe c.7,50
2.2.4.3 Fungsi Protein Saliva
Protein saliva memiliki sifat protektif, antimikroba, pelumas dan berperan dalam sistem pencernaan serta memainkan peran penting dalam memodulasi kolonisasi mikroorganisme pada gigi dan jaringan lunak. Protein saliva juga dapat meningkatkan remineralisasi enamel dan memperlambat demineralisasi. Selain itu, dapat mencegah perlekatan mikroorganisme ke enamel dan menghambat pertumbuhannya. Protein saliva diperlukan karena dapat mencegah pertumbuhan mikroorganisme yang berlebihan dan mempertahankan ekosistem yang stabil di rongga mulut.51,52
2.2.5 Laju Alir Saliva
Laju alir saliva adalah jumlah saliva yang diproduksi oleh kelenjar saliva dalam jangka waktu tertentu, biasanya dinyatakan dalam mililiter per menit atau gram per menit (ml/menit atau g/menit). Laju alir saliva normal yang distimulasi mencapai 1- 3 ml/menit, dengan nilai terendah mencapai 0,7-1 ml/menit, sedangkan laju aliran saliva normal tanpa stimulasi berkisar 0,25-0,35 ml/menit dengan nilai terendah 0,1-0,25 ml/menit. Laju alir saliva dapat dipengaruhi oleh keadaan saliva dengan stimulasi atau tanpa stimulasi. Laju alir saliva terstimulasi dapat dilakukan dengan stimulus mekanik dan stimulus kimia. Kelenjar submandibular berkontribusi terhadap saliva yang tidak distimulasi sekitar 60%. Ketika laju alir saliva distimulasi, kontribusi kelenjar parotis meningkat.53,54
Penurunan laju alir saliva akan menurunkan kapasitas buffer sehingga akan mengubah pH saliva menjadi asam, hal ini disebabkan komponen bikarbonat dalam saliva yang bergantung pada laju alir saliva. Konsentrasi bikarbonat merupakan sistem penyangga paling penting, bikarbonat berdifusi ke dalam plak dan berperan sebagai penyangga untuk menetralkan asam yang dihasilkan oleh plak. Adanya laju alir saliva yang rendah selain menyebabkan pH saliva menjadi asam juga akan memudahkan pertumbuhan bakteri asidogenik penyebab karies berupa Lactobacilus dan Streptococcus mutans bertambah.55
2.2.6 pH Saliva
Potential of hydrogen (pH) adalah ukuran konsentrasi ion hidrogen dengan keasaman dan kebasaan yang relatif pada suatu larutan yang dinyatakan secara rasio dari 1 sampai 14. pH saliva merupakan salah satu faktor penting yang berperan dalam pencegahan karies gigi, demineralisasi gigi, dan penyakit lain di rongga mulut. Nilai normal pH saliva adalah 6-7, dan bergantung pada laju alir saliva.56,57 Sifat asam di dalam rongga mulut akibat konsumsi makanan kariogenik seperti sukrosa, dapat dinetralisir oleh saliva. Saliva merupakan unsur penting untuk menetralisir pH dan mencegah terjadinya karies karena adanya sistem buffer pada saliva, pH akan kembali netral setelah 20 menit terpapar karbohidrat yang berkonsistensi cair dan 40-60 menit
pada karbohidrat yang berkonsentrasi padat.24. pH saliva dapat dipengaruhi oleh kecepatan sekresi saliva. Menurunnya pH saliva (asam) dan jumlah saliva menunjukkan resiko terjadinya karies yang tinggi.58
2.2.7 Cara Pengumpulan Saliva
Jumlah saliva yang disekresi dapat dihitung dengan menggunakan empat metode pengumpulan saliva. Metode tersebut adalah metode draining, spitting, suction dan absorbent.59
1. Metode Draining: saliva dibiarkan menetes melalui bibir bawah ke dalam sampling tube. Subjek diinstruksikan untuk meludah pada akhir durasi pengumpulan.
Pada tube dapat dilengkapi dengan funnel agar memudahkan pengambilan saliva.
Jumlah saliva ditentukan dengan weighing atau menimbang (dengan asumsi gravitasi 1 g/cm3) atau dengan membaca skala pada test tube. Metode draining method merupakan metode yang paling efektif untuk mengumpulkan saliva dan sering
Jumlah saliva ditentukan dengan weighing atau menimbang (dengan asumsi gravitasi 1 g/cm3) atau dengan membaca skala pada test tube. Metode draining method merupakan metode yang paling efektif untuk mengumpulkan saliva dan sering