• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB I PENDAHULUAN

D. Manfaat Penelitian

Melalui penelitian ini, diharapkan dapat menambah wawasan apresiasi kita terhadap periode estetis lukisan abstrak ekspresi. Adapun manfaat yang lain dari penelitian ini di antaranya:

1. Dapat mengetahui konsep penciptaan karya lukisan abstrak ekspresi karya Firman Djamil.

2. Dapat mengetahui teknik perwujudan karya lukis yang digunakan Firman Djamil dalam berkarya seni lukis Abstrak Ekspesi.

3. Dapat mngetahui kualitas estetis setiap karya lukisan abstrak ekspresi karya Firman Djamil.

4. Sebagai bahan apresiasi bagi mahasiswa, khususnya program studi Pendidikan Seni Rupa Universitas Muhammadiyah Makassar tentang periode estetis lukisan abstrak ekspresi karya Firman Djamil.

5. Sebagai referensi yang dapat menunjukkan eksistensi Firman Djamil sebagai salah seorang Senirupawan (seni lukis).

6. Dapat menambah literatur Perpustakaan Universitas Muhammadiyah Makassar.

6 BAB II

TINJAUAN PUSTAKA DAN KERANGKA BERPIKIR

A. Tinjauan Pustaka

Tinjauan pustaka ini dimaksud sebagai landasan dan pedoman dalam melaksanakan penelitian. Di bawah ini dikemukakan beberapa pengertian dan teori yang berhubungan dengan Periode Estetis Lukisan Abstrak Ekspresi Karya Firman Djamil adapun yang dimaksudkan di sini yaitu:

1. Pengertian Seni Lukis

Sebelum lebih lanjut membahas tentang seni lukis terlebih dahulu kita akan membahas tentang seni.

Kata seni berasal dari bahas Melayu yakni kecil. Dalam bahasa Inggris seni atau “Art” berarti keahlian dan keterampilan manusia dalam mengekspresikan dan menciptakan hal-hal yang indah serta bernilai bagi kehidupan baik untuk diri sendiri maupun untuk masyarakat umumnya. Dalam bahasa Sangsekerta seni berasal dari kata “sani” yang berarti pemujaan, pelayanan, permintaan atau pencarian dengan hormat dan jujur. Kemudian dalam bahasa Belanda “genie”

yakni jenius. Selanjutnya dalam bahasa latin pada abad pertengahan “Ars” yaitu ketangkasan dan kemahiran dalam mengerjakan sesuatu. Adapun beberapa defenisi seni yang dikemukakan oleh para tokoh/ahli yaitu:

Seni adalah “segala yang berkaitan dengan karya cipta yang dihasilkan oleh unsur rasa” (Kamus Ilmiah Populer, 2006: 431).

Seni adalah “keajaiban transendental yang senantiasa mengungkap kualitas emosional dan pada akhirya menemukan hakikat kebenaran” (Muh. Faisal, 2011).

Seni adalah “kreativitas, ekspresi dan proses” Gothe, 1773 (dalam Benny Subiantoro, 2011:11). Soedarso SP mengatakan bahwa seni lukis adalah

“suatu pengucapan pengalaman artistik yang ditumpahkan dalam bidang dua dimensional dengan menggunakan garis dan warna”.

Dari uraian di atas, maka kita dapat memberikan asumsi bahwa seni lukis adalah hasil cipta manusia atas dasar pengalaman artistik yang dituangkan dalam bidang dua dimensional dengan penekanan garis dan warna.

Karya lukis sebagai cabang seni rupa memiliki berbagai aliran maupun corak. Paul Klee (dalam Soedarso SP, 2000: 85), mengatakan bahwa seni adalah

“interpretasi, dan seni adalah simbol, dan dari pangkal tolak tersebut lahirlah bermacam aliran baru dalam seni”.

Aliran yang dimaksud tersebut di antaranya sebagai berikut:

a. Impresionisme

Impresionisme adalah “sebuah aliran yang berusaha menampilkan kesan-kesan pencahayaan yang kuat, dengan penekanan pada tampilan warna dan bukan bentuk”. Namun kalangan Akademisi ada yang justru menampilkan kesan garis yang kuat dalam Impresionis. Aliran Impresionis muncul dari abad 19 yang dimulai dari Paris pada tahun 1860-an.

Awalnya dikutip dari lukisan Claude Monet, "Impression, Sunrise"

("Impression,soleil levant"). Kritikus Louis Leroy menggunakan kata ini sebagai sindiran dalam artikelnya di Le Charivari (Kusrianto, 2011: 119).

8

Berikut contoh lukisan Impresionisme:

Gambar .1. Sunrise, Claude Monet 1872/1873 History of Art (Kusrianto, 2011: 119)

b. Ekspresionis

“Ekspresionisme adalah suatu aliran yang berusaha melukiskan aktualitas yang sudah didistorsikan dalam bentuk dan warna untuk melahirkan emosi ataupun sensasi dari dalam” (Soedarso SP., 2000:99).

Salah satu tokoh dari aliran ini adalah Vaincent Van Gogh.

Berikut contoh lukisan Ekspresionis:

Gambar. 2. Malam Penuh Bintang, Vincent Van Gogh, 1989 (Soedarso SP. 2000: 78)

c. Dadaisme

Dadaisme merupakan produk dari perang dunia I. Wujud karyanya kelihatan acak-acakan, tidak beraturan. Sinisme dan ketiadaan ilusi adalah ciri khas dadaisme yang diekspresikan dalam bentuk main-main, mistis atau sesuatu yang menimbulkan kejutan.

10

Berikut contoh lukisan Dadaisme:

Gambar. 3. Fountain, Marcel Duchamp, 1917 (Sejarah Perkembangan Seni Rupa Modern, 2000: 128)

d. Surrealisme

Dalam kreativitas seninya, kaum Surrealis membebaskan diri dari kontrol kesadaran, menghendaki kebebasan besar sebebas orang bermimpi.

Aliran ini seakan mengungkapkan kejadian yang ada di alam mimpi.

Berikut contoh lukisan Surrealisme:

Gambar . 4. “Rape”, Rene Magritte, 1934 (Sejarah Perkembangan Seni Rupa Modern, 2000: 132)

e. Realisme

Realisme adalah suatu aliran yang ingin menangkap realitas seperti apa adanya, tanpa ilusi dan tanpa tambahan apa-apa. Yang ingin dicari senimannya adalah kewajaran. Namun dalam perkembangannya bukan lagi kewajaran, melainkan cenderung melahirkan yang jelek-jelek misalnya kemelaratan, penderitaan dan sejenisnya.

12

Berikut contoh lukisan Realisme:

Gambar .5. Raskin 20 Kg, Komunitas Pelukis Borobudur (bakulseni.com)

f. Naturalisme

Naturalisme dan realisme adalah dua aliran yang agak sukar dibedakan corak lukisannya. Dalam hasil karya lukisan kedua-duanya mengambil kepersisan bentuk dari alam, baik anatomi, proporsional, warna dan sebagainya. Namun jika dilihat dari perkembangan coraknya ternyata masih terdapat perbedaan. Kalau dalam realisme memilih objek yang jelek-jelek misalnya kemelaratan, maka dalam naturalisme memilih objek yang indah – indah. Seandainya objek lukisan kurang indah, maka ia menambah indah. Ada usaha mengidealisir keadaan alam yang sudah ada.

Berikut contoh lukisan Naturalisme:

Gambar .6. Kakak dan Adik, Basuki Abdullah, 1978 (id.wikipedia.org)

g. Romantisme

Romantisme adalah gaya atau aliran seni yang menitikberatkan pada curahan perasaan, reaksi emosional terhadap fenomena alam, dan penolakan terhadap realisme. Dalam seni lukis gerakan ini menghasilkan kebebasan baru dalam menata komposisi, melahirkan citra goresan kuas terbuka, pembaharuan dan tingkatan warna yang lembut, hampir tidak kentara. Gerakan rimantik pertama ditemukan di dalam seni sastra sekitar tahun 1780 dan terus bertahan sampai abad ke-19.

14

Berikut contoh lukisan Romantisme:

Gambar. 7. Kapal Dilanda Badai, Raden Saleh – 1837 (galeri-nasional.or.id/collection/067.kapal-dilanda-badai)

h. Abstraksionisme

Pada aliran – aliran sebelumnya, seniman masih bertolak dari kenyataan optis, maka pada aliran abstrak yang sangat banyak jenisnya, seniman berusaha menggali suatu kenyataan yang ada dalam batin para seniman. Mungkin dapat disebut dengan istilah fantasi, imajinasi kreatif, intuisi, tau istilah lainnya. Disebabkan hadir dari dunia batin, dunia dalam, maka akan muncul bentuk yang tidak ada identifikasinya dalam dunia optis yang orang lain bias mengontrolnya. Jika suatu lukisan abstrak masih menyisakan bekas – bekas dengan alam, maka disebut semi abstrak atau semi impresionis. Sedangkan abstrak murni tidak sedikitpun dapat

diidentifikasi dengan alam yang dibagi menjadi dua. Yaitu: abstrak ekspresionis dan abstrak geometris. (Nooryan Bahari, 2008: 126).

Berikut contoh lukisan Abstraksionisme:

Gambar. 8. Girl Before a Mirror, Pablo Picasso – 1932 (Files.wordpress.com)

Seni Lukis Abstrak dalam Perkembangannya Terbagi atas dua sebagai berikut:

1. Abstrak Ekspresi

Ekspresionis abstrak atau abstrak ekspresi adalah lebih menekankan pada ekspresi seniman bebas, tidak terikat ruang. Abstrak ekspresi adalah sebuah gerakan seni pasca perang dunia 2 di Amerika Serikat. Gerakan ini merupakan gerakan Amerika pertama yang memiliki

16

pengaruh keseluruh dunia dan menempatkan New York City sebagai pusat dunia seni Barat setelah sebelumnya di tempati Paris.

Meski sebutan “ekspresionisme abstrak” pertama ditetapkan pada seni Amerika tahun 1946 oleh kritikus seni Robert Coates, sebutan ini pertama di gunakan di Jerman tahun 1919 di majalah Der Strum, mengenai ekspresionisme Jerman. Di Jerman AS Albert Barr adalah orang pertama yang memakai sebutan ini pada tahun 1929 merujuk karya karya Wassily Kandinsky. Pelukis keturunan Jerman Amerika Hans Hofmann adalah salah seorang yang memiliki andil besar dalam terbentuknya aliran Abstrak Ekspresionisme. Pelukis ini menggunakan cat pigment yang kental dan seringkali melukiskan catnya pada kanvas tebal tebal dan kuat hingga menonjol membentuk permukaan yang tidak rata.

Begitu juga dengn Jackson Polloce dengan contoh lukisannya di bawah

ini.(sumber:sikatxdesign.blogspot.com/2012/11/aliran-abstract-expresionisme.html).

Berikut contoh lukisan Jackson Pollock:

Gambar 9 Alchemy

Jackson Pollock – 1947

Gambar. 9. Alchemy, Jackson Pollock – 1947 (4.bp.blogspot.com)

2. Abstrak Geometris

Abstrak Geometris adalah suatu bentuk dari seni abstrak yang menggunakan bentuk geometrik simpel yang diletakkan di tempat yang tidak ilusionis dan digabungkan dengan komposisi non-objektif. Abstrak geometris diusulkan agar berfungsi sebagai solusi untuk para pelukis modern yang menolak karya ilusionistik. salah satu seniman dari seni abstrak geometris adalah Piet Mondrian.

18

Berikut contoh lukisan Piet Mondrian:

Gambar. 10. Composition in Blue, Yellow, and Black, piet Mondrian – 1936 (id.wikipedia.org)

2.

Pengertian Konsep dalam Seni Lukis

Ide adalah inspirasi atau konsep yang dimiliki yang akan dituangkan menjadi wujud karya seni, sedangkan konsep merupakan kemampuan untuk berkreasi atau daya mencipta. konsep pencipta adalah unsur – unsur kejiwaan yang dimiliki oleh seniman, yang mendorong baginya untuk menciptakan sebuah karya sesuai yang tertuang di dalam idenya. konsep penciptaan itu bisa berkaitan dengan isi atau apa yang diungkapkan, maupun cara ungkapannya yang berkaitan dengan teknik dan bahan yang digunaka atau materi lainnya dalam lukisan.

Seorang seniman menunjukkan sikap melalui media yang tersedia, timbul ide

dengan mencetuskan kepribadian yang ditunjang dengan kreativitas untuk menciptakan suatu karya yang jelas, hidup dan berarti. Melahirkan sesuatu yang baru atau orisinil, kreativitas dapat pula dilihat sebagai proses aktualisasi diri atau adanya penemuan – penemuan baru serta kapabilitas yang ditunjukkan oleh kehadiran suatu ciptaan karya lukis. Karya seni lahir atas cetusan hasil pengekspresian diri senimannya secara utuh dan murni. Dalam hasil karya tersebut terlihat gaya dan watak secara jelas dan nyata yang dapat mewakili senimannya.

3. Beberapa Teknik dalam Melukis

Ketika seniman mempunyai gagasan, maka perlu dipikirkan bagaimana cara mewujudkan idenya tersebut, atau cara mentransformir wujud yang idiil menjadi sensuil, sehingga sebuah karya seni seni bias bernilai tinggi. Teknik untuk mewujudkan sebuah karya, antara lain dalam bentuk pengolahan bahan dengan cara – cara khusus, seperti teknik basa (menggunakan kuas), teknik kering (menggunakan pensil), teknik palet dan teknik sapuan jari. Beberapa teknik dalam melukis sebagai berikut:

a. Teknik Basa (menggunakan kuas)

Teknik basa merupakan teknik lukis dengan mengencerkan cat minya terlebih dahulu dengan menggunakan minyak cat, baru kemudian dipoleskan di atas permukaan kanvas. Dalam teknik ini menggunakan kuas yang panjang bulunya. Teknik basa ini biasanya digunakan untuk melukis secara rata (flat) atau anpa kesan volume. Kelebihan dari teknik ini adalah

20

akan cepat memblok warna, lukisan terlihat bersih dan cemerlang, hanya membutuhkan cat minyak yang relative sedikit, serta cat minyak yang menempel dipalet masih tetap bias digunakan.

b. Teknik Kering (menggunakan pensil)

Melukis dengan menggunakan teknik kering berarti melukis tanpa menggunakan minyak cat (linseed oil). Teknik ini menggunakan kuas dalam keadaan kering dan tidak berminyak. Oleh karena itu, sebaiknya menggunakan cat yang baru dikeluarkan dari tube. teknik kering ini cocok untuk melukis dengan kesan volume dan keruangan, seperti realism, naturalism dan surealisme. Adapun kelebihan dari teknik kering ini adalah mudah membentuk objek dan kesan keruangan, mudah mengontrol proses pendetailan, lebih mudah menghapus warna dengan cara menumpuk dengan warna lain. Selama melukis pendangan tidak akan terganggu dengan factor cat yang mengkilat, serta cat akan lebih cepat kering.

c. Teknik Palet

Teknik Palet merupakan teknik melukis dengan menggunakan pisau palet. dari penggunaan alat tersebut menghasilkan tekstur cat yang lebih tebal dibandingkan dengan menggunakan kuas.

d. Teknik Sapuan Jari

Teknik sapuan jari adalah teknik melukis dengan menggunakan jari – jari, apakah dengan menggunakan jari – jari tangan atau jari – jari kaki.

Dengan teknik ini seniman memiliki kebebasan berekspresi dengan menuangkan idenya di atas kanvas dan hasil karya yang dihasilkan akan menimbulkan bekas – bekas jari – jari dari siseniman.

4. Kualitas atau Nilai estetis sebuah karya lukisan

Kualitas atau nilai estetis merupakan nilai keindahan yang dapat diserap oleh segenap jiwa apresiator terhadap lukisan yang diamati baik dari segi bentuk – bentuk garis dan warna, susunan warna, proporsi komposisi maupun hubungannya dengan ide atau konsep penciptaan. “Apa yang kita nikmati dari hasil karya seni rupa tidak lain adalah perwujudan secara utuh dan total. kita tertarik atau menggetarkan perasaan kita tetapi kadang – kadang kita tidak sanggup menerangkan mengapa kita tertarik. jika kita menganalisa suatu hasil karya seni yang sedang kita nikmati maka di situ terkandung beberapa unsur antara lain:

bentuk, isi dan medium”. (A. Kahar Wahid / Pangeran Paita Yunus, 2014: 87).

5. Estetika dalam karya lukis

Estetika adalah filsafat tentang nilai keindahan, baik yang terdapat di alam maupun dalam aneka benda seni buatan manusia. Estetika muncul di lingkungan kebudayan Barat, dimulai sejak zaman Yunani Kuno, yakni sejak Plato, Aristoteles, dan Sokrates. Pada mulanya estetika ( yang istilanya baru lahir pada

22

abad ke-18 di Jerman) merupakan bagian dari pemikiran filosofis seorang filsuf.

Estetika pada pertengahan abad ke-19 mulai memasuki babak baru, yakni masuknya disiplin ilmu ke dalamnya. (Jakob Sumardjo, 2000: 33).

Memasuki abad ke-20, estetika menggunakan pula psikologi untuk menentukan hakikat seni. Dalam perkembangan abad ke-20 muncul suatu perkembangan baru dalam kajian filsafat seni, yakni munculnya teori kritik atau metakritik yang berdasarkan pemikiran filsafat. Teori sikap estetik ini memiliki tiga sasaran utama. (1) teori mengisolasi dan mendeskripsikan factor psikologis yang membentuk sikap estetik. (2) mengembangkan konsepsi objek estetik sebagai objek sikap estetik. (3) menjelaskan pengalaman estetik dengan memandangnya sebagai pengalaman yang didapat dari sebuah objek estetik.

(Jakob Sumardjo, 2000: 307).

6. Biografi Firman Djamil

FIRMAN DJAMIL, lahir di Bukaka, Bone tanggal 5, Februari, 1964. Tamat SD tahun 1974, melanjutkan sekolah menengah pertama (SMP) di SMP 2 Watampone dan selesai tahun 1980. Kemudian melanjutkan sekolah menengah atas (SMA) di SMA 1 Watampone selesai tahun 1983. Selanjutnya melanjutkan studi di IKIP Ujung Pandang yang sekarang kita kenal dengan nama Universitas Negeri Makassar (UNM) dari tahun1983 – 1988. Di daerah penghasil gerabah dan batu . Sejak masih SD Firman Djamil sudah bisa membuat gerabah. Firman Djamil adalah anak dari Muhammad

Djamil. Sejak SMP mulai terbiasa melukis dengan cat air dan menggambar dan sering mengikuti lomba menggambar dan selalu jadi juara, Setelah tamat SMA dia bercita-cita menjadi seniman, kemudian melanjutkan kuliah di Universitas Negeri Makassar yang dulunya IKIP Fakultas Seni dan Bahasa Jurusan Seni Rupa. Waktu kuliah sudah mulai aktif mengikuti pameran lukis dengan seniman – seniman lain.

Setelah tamat kuliah tahun 1988, Firman Djamil aktif di Benteng Somba Opu dan mulai berkesenian secara internasional tahun 1999 sampai sekarang. Di Benteng Somba Opu terdapat galeri seni Firman Djamil yang diberi nama Galeri Seni Firman Djamil.

B. Kerangka Pikir

Dengan melihat konsep yang telah disebutkan di atas maka secara skema kerangka berpikir dalam penelitian ini dapat digambarkan sebagai berikut:

Skema 1. Kerangka pikir

24

Berdasarkan skema yang telah digambarkan, maka dapat diuraikan hubungan masing-masing bagian antara satu dengan yang lain. Pengembangan teori, dimaksudkan untuk mengungkapkan teori dengan masalah yang akan diteliti sehingga dapat ditelaah literatur guna mencari teori yang mendukung seni lukis abstrak. Agar konsep, teknik perwujudan karya dan kualitas estetis karya dapat dipahami lebih jelas dan mendalam. Penciptaan karya seni lukis sekiranya dapat memberi rangsangan atau daya goda secara universal tehadap penikmatnya baik bentuk maupun isi.

Konsep merupakan kemampuan untuk berkreasi atau daya mencipta.

konsep pencipta adalah unsur – unsur kejiwaan yang dimiliki oleh seniman, yang mendorong baginya untuk menciptakan sebuah karya sesuai yang tertuang di dalam idenya. konsep penciptaan itu bisa berkaitan dengan isi atau apa yang diungkapkan, maupun cara ungkapannya yang berkaitan dengan teknik dan bahan yang digunakan atau materi lainnya dalam lukisan. Konsep merupakan salah satu penentu keberhasilan dalam mewujudkan mutu maupun kualitas suatu karya sehingga menjadi mahal untuk diapresiasi para pengamat. Berangkat konsep yang dimiliki oleh seniman, sebuah karya dapat dikatakan memiliki ciri khas. Dalam hal ini seni lukis abstrak ekspresi karya Firman Djamil, mempunyai konsep yang ditimbulkan oleh teknik dan warna dengan peranannya sehingga lukisannya mampu hadir sebagai karya lukis yang sarat makna simbolis dan berkarakter.

Teknik dan kualitas bahan yang digunakan pada karya lukis abstrak ekspresi, tidak lepas dari unsur penting seperti, alat, bahan dan warna. Hal ini terkadang dianggap sebagai persoalan teknis oleh sebagian seniman, akan tetapi

hal ini juga sangat berpengaruh dalam menentukan kualitas suatu karya lukis.

Besar kecilnya daya pikat sebuah lukisan juga ditentukan oleh sentuhan atau goresan, sementara alat atau bahan cukup berpengaruh dari segi penggarapan, ketahanan sampai pada kualitas karya lukisan. Melalui alat, bahan dan teknik yang digunakan dalam berkarya lukis abstrak ekspresi diharapkan tercipta sebuah karya seni lukis abstrak ekspresi yang berkarakter, serta berkualitas.

Kualitas atau nilai estetis merupakan nilai keindahan yang dapat diserap oleh segenap jiwa apresiator terhadap lukisan yang diamati baik dari segi bentuk – bentuk garis dan warna, susunan warna, proporsi komposisi maupun hubungannya dengan ide atau konsep penciptaan.

26

26 BAB III

METOE PENELITIAN A. Jenis Penelitian

Jenis penelitian ini bersifat “deskriptif kualitatif”, yang artinya metode penelitian yang berlandaskan pada filsafat postpositivisme yang biasanya digunakan untuk meneliti pada kondisi objek yang alamiah, dimana peneliti berperan sebagai instrumen kunci. (Sugiyono, 2008: 15).

Dalam arti lain deskriptif kualitatif ialah memberi gambaran secara objektif sesuatu dengan kenyataan sesungguhnya mengenai periode estetis lukisan abstrak ekspresi karya Firman Djamil.

B. Lokasi Penelitian

Lokasi penelitian ini terletak di Galeri Seni Firman Djamil Benteng Somba Opu. Jl. Daeng Tata, Makassar Sulawesi Selatan. Hal ini dianggap relevan dengan judul dan tujuan penelitian, sehingga memudahkan peneliti dalam melakukan penelitian.

Jl. Abd. Kadir Jl. Dg. Tata III

Jl. Dg. Tata Benteng Somba Opu

Sungai Jeneberang

Gambar 11. Lokasi Penelitian

C. Variabel dan Desain Penelitian 1. Variabel Penelitian

Variabel adalah segala sesuatu yang menjadi objek pengamatan dalam penelitian. Melihat judul tersebut maka variabel penelitian ini adalah “Periode estetis lukisan abstrak ekspresi karya Firman Djamil”. Adapun keadaan variabel-variabel sebagai berikut:

1. Konsep penciptaan lukisan abstrak ekspresi karya Firman Djamil.

2. Teknik perwujudan karya lukis yang digunakan Firman Djamil dalam berkarya seni lukis abstrak ekspresi.

3. Kualitas estetis setiap karya lukisan abstrak ekspresi karya Firman Djamil.

Penelitian ini dilakukan untuk memperoleh data tentang Ide atau konsep seni lukis abstrak ekspresi karya Firman Djamil, Teknik perwujudan karya lukis yang digunakan Firman Djamil dalam berkarya seni lukis abstrak ekspresi, nilai atau kualitas estetis setiap karya lukisan abstrak ekspresi karya Firman Djamil.

2. Desain Penelitian

Desain Penelitian merupakan rencana atau struktur yang disusun sedemikian rupa sehingga peneliti dapat mempreoleh jawaban atas permasalahan – permasalahan dalam penelitian.

28

Adapun desain penelitian digambarkan dalam bentuk skema sebagai berikut:

Skema 2. Desain penelitian

D. Definisi Operasional Variabel

Berdasarkan variable di atas maka perlu dilakukan pendefinisian operasional variabel guna memperjelas dan menghindari terjadinya suatu kesalahan. Adapun definisi operasional variabel penelitian adalah sebagai berikut:

1. Ide atau Konsep

Ide adalah inspirasi atau konsep yang dimiliki yang akan dituangkan menjadi wujud karya seni, sedangkan konsep merupakan kemampuan untuk berkreasi atau daya mencipta. Konsep pencipta adalah unsur – unsur kejiwaan yang dimiliki oleh seniman, yang mendorong baginya untuk menciptakan sebuah karya sesuai yang tertuang di dalam idenya. konsep penciptaan itu bisa berkaitan dengan isi atau apa yang diungkapkan, maupun cara ungkapannya yang berkaitan dengan teknik dan bahan yang digunaka atau materi lainnya dalam lukisan.

Seorang seniman menunjukkan sikap melalui media yang tersedia, timbul ide dengan mencetuskan kepribadian yang ditunjang dengan kreativitas untuk menciptakan suatu karya yang jelas, hidup dan berarti. Melahirkan sesuatu yang baru atau orisinil, kreativitas dapat pula dilihat sebagai proses aktualisasi diri atau adanya penemuan – penemuan baru serta kapabilitas yang ditunjukkan oleh kehadiran suatu ciptaan karya lukis. Karya seni lahir atas cetusan hasil pengekspresian diri senimannya secara utuh dan murni. Dalam hasil karya tersebut terlihat gaya dan watak secara jelas dan nyata yang dapat mewakili senimannya.

2. Teknik Perwujudan Karya

Teknik merupakan cara yang digunakan untuk menghasilkan karya seni sedangkan kualitas bahan adalah baik buruknya media yang digunakan dalam penciptaan karya seni. Adapun proses penciptaan karya ialah langkah – langkah yang ditempuh oleh pelukis untuk mewujudkan objek lukisannya di atas kanvas.

3. Kualitas Estetis

Kualitas atau nilai estetis merupakan nilai keindahan yang dapat diserap oleh segenap jiwa apresiator terhadap lukisan yang diamati baik dari segi bentuk – bentuk garis dan warna, susunan warna, proporsi komposisi maupun hubungannya dengan ide atau konsep penciptaan. apa yang kita nikmati dari hasil karya seni rupa tidak lain adalah perwujudan secara utuh dan total.

30

E. Subjek dan Objek Penelitian

Subjek penelitian adalah sesuatu yang diteliti baik orang, ataupun benda.

Subjek penelitian pada dasarnya adalah yang akan dikenai kesimpulan hasil penelitian. Di dalam subjek penelitian inilah terdapat objek penelitian. Subjek dalam penelitian ini adalah seniman Firman Djamil dan Abdul Kahar Wahid.

Objek penelitian adalah sifat keadaan dari suatu benda, orang, atau yang

Objek penelitian adalah sifat keadaan dari suatu benda, orang, atau yang

Dokumen terkait